Appetizer Seperti salad di makanan pembuka Bambi, Mr. Kim sang pujaan hati bagaikan buah-buahan segar yang menggiurkan, sedangkan Leo, yang membuat Bambi melakukan the most embarrassing moment in her life, hanyalah selada hijau yang menjadi alas dasar piring salad. Bambi membenci Leo sang partner.
Soup Leo selalu mengingatkan Bambi pada rasa HOT tabasco yang dimasukkan ke mangkuk sup tomat. Berada di samping Leo membuat Bambi selalu penuh dengan emosi. Berbeda sekali dengan Mr. Kim si pria romantis, kejutan-kejutan indah yang diberikannya seumpama wortel dan buncis yang mewarnai sup bening Bambi.
Main Course Mr. Kim adalah kimchi jigae, sedangkan Leo adalah beef bourguignon. Bambi harus memilih salah satu menu untuk hidangan utamanya. Ia bukan wanita rakus. Tapi yang mana? Keduanya sangat enak!
Dessert Pria itu bagaikan tiramisu di hidangan penutup Bambi. Selain mempunyai rasa manis dari cream mascarpone, tiramisu juga mempunyai rasa pahit dari kopi espresso. Tiramisu adalah kue kesukaan Bambi!
“Perlukah untuk selalu memiliki impian dalam mencari pasangan hidup dambaan kita? Novel Bambina adalah kisah perjalanan seorang profesional muda dalam usahanya menemukan cinta sejati. Novel ini mengisahkan petualangan kecil berhati besar menyusuri sudut-sudut kehidupan yang sering kita take for granted. Angie berhasil memikat saya untuk terus membalik halaman demi halaman. Saya berharap setiap pembaca novel ini juga akan terhibur, sekaligus terinspirasi, seperti saya sendiri. Baca novel ini, perjuangkan mimpi Anda, dan berkaryalah untuk negara kita tercinta. Indonesia, Pasti Bisa!” –– Merry Riana; Motivator Wanita No.1 di Indonesia & Asia. Pemenang Penghargaan ‘Great Women of Our Time’. www.MerryRiana.com
satu hal yg paling jelas kejanggalannya adalah buku ini nggak ada editornya. atau ini memang nggak ada editor yg menyunting terlebih dahulu ya? saya cari di halaman depan tidak ada tercantum nama editornya.
sampulnya cantik, backcovernya yummy. tapi ceritanya... hambar sekali. sama sekali nggak ngerasain satupun tokoh yg "hidup banget" di cerita ini. nggak ada tokoh yg dibuat seunik mungkin biar keliatan beda. semuanya flat bahkan dari gaya bahasanya nggak "luwes".
banyak hal yg membuat saya jadi bertanya-tanya...
1. dari awal tidak dijelaskan Mr. Kim itu perawakannya secara detail bagaimana dan umurnya berapa. you know what? interpretasi awal saya mengenai Mr. Kim adalah beliau itu seorang bapak2 umur > 45 yg punya restoran Pasta, dan saat saya baca klo Bambina suka dg Mr. Kim, saya syok karena mengira Bambina suka sama om-om. penjelasan tentang identitas kerjaan ibu Bambina dan keterpautan umur Bambina dg Mr. Kim itu malah dicantumkan seteah halaman keberapa. sudah kejauhan, too late. -_-
2. apakah masuk akal jika seorang ibu single parent sejak anaknya SMP lalu membuka restoran China di Bali lalu membiayai anaknya kuliah di Jakarta, tinggal di apartment dan mondar mandir pake mobil Jazz? sedangkan si Bambina ini yg saya tau gada kerjaan. hobinya doang yg masak memasak itu, tapi nggak kerja di restoran atau dimana gitu untuk menunjang kehidupan sehari-harinya atau membeli bahan2 masakan, termasuk membayar upah ke Leo sebagai fotografer. atau mungkin dia masih nadah uang dari mamanya?
3. kalo dia memang berencana lanjut sekolah di Prancis dengan cara nerbitin buku resep makanan untuk biayanya, apakah itu cukup? :O
4. bagaimana kelanjutan kisah Bambina & Mr. Kim setelah Bambina batal ikut Mr. Kim ke Korea? sudah selesai sampai di situ saja? apa tidak ada penyelesaian atau permintamaafan dr Bambina atas sikapnya yg tiba-tiba dan tak ada kabar menghilang saja seperti itu?
5. tokoh Leo ini absurd sekali. langsung ceplas ceplos bilang tentang cinta. lalu si Bambina dengan mudahnya berpaling hati dr Mr. Kim ke Leo tanpa mengalami pergulatan batin, istilah bekennya mah galau, untuk menentukan kepada siapa hatinya berlabuh.
beneran nggak ada klimaksnya :( maaf ya buat penulis. no offence lho, saya hanya berusaha sejujur mungkin dengan apa yg terlintas dalam pikiran dan benak saya, supaya kedepannya si penulis bisa lebih bagus lagi karyanya :)
Seriously, gw speechless baca buku ini. selain itu kagum banget ama Bambina yang punya bakat seabreg. pintar masak, nari salsa, trus juga melukis.
belum lagi staminanya yg luar biasa. sepagian bikin cupcake buat ultah Leo, sesiangan nyari hadiah dan beli perangkat buat melukis, sesorean bikin lukisan buat Leo (selesai dalam 5 jam! gw jadi kasihan ama para pelukis yg menyelesaikan lukisannya dalam waktu berhari2 sampai berminggu2. kurang bakat itu menurut gw!), trus dilanjutin bikin masakan spesial ulang tahun dan terakhir menunggu kedatangan Leo yg seharian ga ada kabar.
kalau gw jadi Bambina, jam 8 gw udah tumbang tuh :(
dan kemudian di 13 halaman terakhir (gw hitung lho) kita dikasih drama oleh si Leo yg mau nyari mamahnya.
anehnya, kenapa mesti pergi diam2 dan mutusin hubungan sih? kalau si Leo pergi nyari perempuan idaman lain emang udah betul plotnya nih. tapi ini nyari nyokap sendiri, kok sampe menghilang bertahun-tahun. ga bisa gitu sewa detektif aja?
dan setelah bertahun-tahun ditinggal tanpa kabar akhirnya jadian setelah beberapa menit bertemu. ya ampun Bambina, coba tahan diri dikit. bikin si Leo itu sport jantung dulu sebelum diterima!
Paduan kisah cinta yang manis & masakan yang lezat. Menceritakan tentang cinta yang tumbuh dari benci, ketulusan, kepercayaan, dan kesetiaan menunggu. Desain covernya sederhana tapi memukau. I love it. Meski endingnya bisa ditebak, alur ceritanya berhasil membuat saya penasaran untuk membuka halaman-halaman selanjutnya. Sayangnya, mungkin karena ini masih cetakan pertama, saya menemukan cukup banyak kesalahan penulisan.
Bambina judul novelnya. Alasan saya tertarik beli buku ini? Karena di iklannya, ada sisipan resep masakan di buku ini. Membuat saya teringat komik Jepang yang duluuuu sekali pernah saya baca ketika kuliah tentang seorang gadis yang jago memasak, juga menyisipkan resep masakan.Ada juga novel yang bercerita tentang restoran yang yang berjudul Morning Brew, yang juga menyelipkan tips memasak dan resep masakan. Jadi, saya berekspektasi tinggi pada novel ini.
Ternyata saat paket yang berisi buku ini datang, dan melihat bukunya firasat sudah tidak enak, tipis bukunya. Padahal saya doyan novel yang tebal. Novel yang tebal itu hampir pasti menyajikan konflik yang lebih lumayan.
Oke, kita langsung ke resensinya saja ya. Ada seorang gadis bernama Bambina. Bambina ini pintar memasak. Bahkan dia akan membuat satu buku yang berisi resep masakan.
Dalam rangka membuat buku itu ia harus berkenalan dan bekerja sama dengan seorang pemuda bernama Leonardo Blanco. Namun Bambi kesal pada Leonardo ini, pasalnya pada saat janji bertemu pertama di restoran Pasta, Bambi terpaksa menanggung malu karena dia harus berteriak bertanya pada semua orang di restoran apakah ada yang bernama Leonardo Blanco. Namun hasilnya nihil. Bambi langsung meninggalkan restoran.
Leonardo meminta maaf atas kesalahannya, maka kerja sama mereka pun berlanjut. Bambi menyukai pria pemilik restoran Pasta bernama Kim Ki Seok. Sesuai namanya, Kim Ki Seok ini berasal dari Korea. Pada suatu hari mereka secara tak sengaja bertemu di supermarket yang berada di lingkungan apartemen Bambina. Dan ternyata, Kim Ki Seok ini juga menghuni apartemen yang sama dengan Bambi. Bambi di lantai 7, sedangkan Mr. Kim di lantai 18.
Ah, Bambi senang minta ampun saat Mr. Kim bersedia mengajari Bambi membuat kimchi di apartemennya. Janji pun dibuat. Saat harinya tiba, Bambi berdandan cantik. Setibanya di apartemen Mr. Kim mereka langsung membuat kimchi. Mr. Kim ternyata juga mengundang temannya yang dari Korea. Daann... Bambi patah hati ketika teman Mr. Kim datang. Tamu itu berwujud seorang wanita cantik yang begitu datang langsung mencium Mr. Kim. Bambi yang kecewa, langsung memilih pulang.
Mood Bambi berantakan. Padahal dia ada janji dengan Leo untuk membuat foto resep masakan. Leo yang mengetahui suasana hati Bambi tidak baik, langsung mengajak Bambi keluar. Ke Dufan. Mereka bermain sepuasnya. Leo ini seorang pria yang penuh kejutan.
Pada pertemuan selanjutnya dengan Mr. Kim, barulah Bambi tahu bahwa wanita yang kemarin datang ke apartemen Mr. Kim mantan pacar Mr. Kim yang sebentar lagi akan menikah. Dia mengundang Mr. Kim untuk datang. Ya ya tentu saja Mr. Kim mengajak Bambi untuk turut serta. Bambi? Ngga nolak dong.
Pada saat ulang tahun, Mr. Kim mengajak Bambi makan malam, dan menghadiahi Bambi sebuah kalung. Bambi berharap saat itu juga ia ditembak, namun harapan Bambi tak terkabul. Padahal di lain sisi, hubungan Bambi dan Leo pun semakin tidak menentu. Leo membuat Bambi tanpa sadar mulai mencintai Leo. Apalagi Leo telah berhasil menjadi orang pertama yang mencium Bambi tepat di bibir. Hal itulah yang membuat Bambi menjadi ragu, saat pertemuan dengan Mr. Kim berikutnya, Mr. Kim meminta ia jadi pacarnya. Bambi tak bisa menjawab.
Di hari keberangkatan Bambi dan Mr. Kim ke Korea, Bambi mendadak membatalkan keikutsertaannya ke Korea. Bambi jujur mengatakan tidak bisa menerima Mr. Kim menjadi kekasihnya. Mr. Kim yang memang dewasa, menerima keputusan Bambi dengan lapang dada.
Bambi melakukan itu untuk Leo. Pria yang di saat yang sama tengah terbaring sakit sendiri di rumahnya. Tak ada yang merawat, sebab orang tua Leo sudah lama bercerai, karena Mamanya meninggalkan papanya. Itu yang menyebabkan ada dendam di hati Leo pada Mamanya.
Singkatnya, Bambi dan Leo jadian. Namun pada suatu hari, Bambi dikejutkan dengan surat yang ia dapati di pintu apartemennya. Dari Leo yang mohon diri untuk pergi sampai entah kapan untuk mencari ibunya dan menuntuskan persoalannya. Leo meminta Bambi tidak mencarinya.
Bambi tentu saja sedih. Dan untuk melupakan Leo, ia pulang ke rumahnya di Bali, dan menjadi chef di salah satu hotel di sana. Bambi kembali melanjutkan impiannya untuk sekolah di Paris. Cita-citanya tercapai, sekolahnya usai. Ia menjadi manager di sebuah hotel di sana.
Pada suatu ketika, salah satu chef di restoran hotel itu mengadu pada Bambi bahwa ada seseorang yang komplain soal masakan. Ah, kau pasti bisa menebak kan? Yap, orangnya Leonardo. Ya entah bagaimana pokoknya si Leo ini berhasil menemukan Bambi. Leo melamar Bambi dan Bambi menerima. Selesai.
Hmm.. buku ini tebalnya hanya 120 halaman. Wajar saja kalau tidak ada konflik yang bisa membuatmu geram. Gak ada kejadian menyentuh yang bisa membuatmu menangis sedih atau haru. Emosi saya saat membaca novel ini datar. Novel ini cepat kok saya selesaikan. Ya karena memang ringan.
Penokohan di novel ini menurut saya terlalu sempurna. Bambina digambarkan adalah seorang gadis yang -oh tentu saja- cantik, pintar memasak, tinggal di apartemen, dan mengendarai mobil Honda Jazz saat bepergian. Leonardo Blanco, dari namanya saja ekspektasi kita pada cowok ini pasti tinggi. Iya, Leo dikiaskan sebagai bule blasteran Perancis dan Indonesia. Fotografer. Juga bisa memasak. Mempunyai motor Ninja. Kalo Mr. Kim Ki Seok? Oooh.. ganteng juga dong. Punya restoran, pastinya kaya! Mobilnya, Audi. Semua tingkah laku tokoh-tokoh di novel ini cenderung baik. Ya lurus-lurus saja sih.
Yang buat saya mengganggu sekali adalah penulisan kata-kata bahasa asingnya. Jadi di dalam buku ini ada dialog-dialog berbahasa Inggris, ada juga kata-kata yang berbahasa Korea, Inggris, Perancis dan Italia. Menurut saya, kata-kata asing tersebut cukuplah dibuat cetak miring, karena sepanjang pengalaman saya baca novel, seringnya ya begitu, kata asing cukup dituliskan dengan format italic. Tapi di buku ini, kata-kata bahasa asing dituliskan italic dan di bold. Gengges aja ada bertebaran tulisan cetak miring dan tebal di tiap halaman. Ngga indah sama sekali. Malah risih sayanya.
Oya, soal resep, penulisnya memberikan resep di akhir cerita, ada 5 resep makanan, ya lumayanlah. Secara keseluruhan, saya tidak terlalu puas dengan novel ini. Tapi itu kan dari sudut pandang saya, belum tentu hal yang sama berlaku juga padamu.
Jadi, bila kau mencari buku yang ringan untuk sekedar mengisi waktu, tak ingin konflik yang berat-berat, menyukai penokohan yang berwujud Mr. dan Mrs. Perfect, bacalah novel ini :)
Sangat disayangkan bahwa novel terbitan sekelas gramedia harus begitu banyak kesalahan; alurnya terlalu lompat2; hero dan heroinenya begitu tdk matang dlm pendeskripsian; riset yang pasti tdk dilakukan scr detail atau memang asal comot lokasi aja? Spt pergi ke dufan tp bs ngabisin wahana; kalo secara logika itu sama sekali tdk bs dilakukan kecuali lo udh d dufan dr awal buka pdhl d cerita ini si bambina sdh masak dl dari jam 10 yg prosesnya plg cepet 1 jam; kemudian d ajak makan oleh Leo yg prosesnya mgkn memakan 1-2 jam; kemudian perjalanan ke dufan yg bs memakan wkt 30 menit sampai 2 jam so pastiny mrk dsana sdh dikategorikan siang menjelang sore kan?lalu hbs itu diceritakan heroine msh masak lagi
Lalu yg dikawah putih, setahu gw yg ksana tdk ada tuh warung dsekitar sana. Satu kondisi krn belerang tdk baik utk dihirup lebih dr 20 menit dan kawah putih kadar belerangnya tdklah rendah, jadi pengelolapun tdk mengijinkan adanya warung di sekitar kawasan kawah putih tp dibagian atasnya memang ada. Jadi lsg terlihat kejanggalannya
Yg terakhir, ketika dilakukan pemotretan malam hari setahu gw umumnya itu tdk dilakukan di dalam ruangan. Sebagus apapun pencahayaan dr lampu rumah, tdk akan menangkap objek yg diphoto scr maksimal. Tp hal tsb dilakukan pd novel ini yg notabene si Leo adl photographer "pro"
Scene Ibunya heroine yg menelpon dari bali jg terkesan janggal banget, masa ibu sendiri ga dikenali suaranya even lo br bangun dari tidur dan lsg angkat telpon tanpa lihat layar utk tahu id caller yg terpampang di layar.
Eksekusi dari ending cerita jg tdk memuaskan. Segitu mudahnya heroine menerima hero yg meninggalkannya tanpa ada perlawanan krn telah dikhianati? 0.5 star buat AW,,sorry
Hmm... gimana ya kasih review buat buku ini. Untuk ukuran buku terbitan sekelas "Gramedia."
Jujur saja ya, buatku buku ini nggak masuk nominasi untuk ukuran standart di kelas Amore ataupun Metropop yang selama ini aku tahu dari terbitan Gramedia loh yaaa ( dan aku koleksi juga selain novel-novel terjemahan!!! )
Lebih cocok buat bacaan anak ABG mungkin ya, apalagi kalau aku jadi Bambina (dimana ukuran usianya adalah 24 tahun dalam buku ini).
Hmmm... I dont think Im gonna act like that around Leo and Mr. Kim.
Soal patah hati yang dirasain Bambina pada Mr. Kim, kenapa justru aku merasa Bambina lah yang terlalu GR ya ? Menurutku itu sih, perasaan Bambina itu kok nggak murni patah hati, dan nggak murni "suka" ke Mr. Kim, tapi kagum aja, sih. Habis aneh sih, ya, buatku "kesan suka" yang berusaha ditonjolkan oleh Bambina disini --Lets say, berasa hambar...
Terus kemudian, untuk ukuran budaya dan gaya hidup orang ekspatriat ( baca : BULE ), masa iya sih, ada bener ya, Bule Perancis - Spanyol yang "Se-Allay" gitunya ngejar dan PDKT Bambina. Sejauh yang aku pahami, justru mereka bukan pecinta "drama" untuk urusan cinta. Dan lebih berkesan dewasa tanpa bertele-tele, tanpa bumbu-bumbu "allay" Ini kok malah adegan tampar-tamparan dan tonjok-tonjokan ( Bukan adegan tonjokan yang "so sweet" atau yang bikin leleh gitu. Malah kaya bacaan anak kecil di umur ABG yang cemburu buta. Bule kok gitu ya? Bukannya yang lebih suka cemburu buta itu rata-rata ada dalam sinetron lokal kacangan ya? )
Yasud lah ya, buku ini juga sudah terlanjur kebeli juga. Not really recomended, as for me. Totally upset for "Amore" or "Metropop" standart from Gramedia. Aku bener-bener salah baca buku (Dan salah beli juga, sih).
Cover menarik, sinopsis menarik, dengan tema makanan. Siapapun pastri jatuh cinta dengan makanan. Hanya saja isi novel ini memang mengecewakan. Alur begitu cepat dan banyak yang gk dijelaskan secara rinci. Seperti masak bubur instan langsung jadi terus dimakan dan gk kenyang, oke sorry maksud gue kenyang. Tapi gk kenyang buat ukuran perut gue *napah jd ngebahas bubur* -__- Seperti si penulis yang ingin cepat2 menyelesaikan ceritanya saja.
Bambina, yang cinta memasak ini ingin menerbitkan buku2 resep makanan. Dengan begitu dia dipertemukan oleh Leo, sang photographer yang akan memfoto semua aktifitas masak Bambi dan juga hasil masakannya. Awal pertemuan mereka bisa dibilang gk begitu mulus. Saat pertemuan selanjutnya pun, Leo selalu membuat Bambi kesal.
Di sisi lain, Bambi menyukai Mr. Kim, sang pemilik restoran Italia. Hanya saja saat Mr. Kim menyatakan cintanya Bambi bimbang. Karena tanpa disadari dia mulai jatuh cinta dengan Leo. Hingga akhirnya mereka menyatakan perasaan masing2. Pas lagi anget2 tai kotok, tiba2 aja Leo pergi ninggalin Bambi dengan alasan mau mencari mama Leo yang selama ini ninggalin dia. Yauda saat tahun demi tahun berlalu Leo muncul lagi dan ngelamar Bambi.
Patut disayangkan dengan cerita ini. Tema mendukung, tokohnya pun mendukung dan nyenengin. Hanya aja ceritanya agak absurd. Segala lah pake acara si Leo ngilang. Andai aja penulis lebih mendeskripsikan cerita ini lebih dalam lagi, pasti gue yakin cerita ini akan digemari orang.
Sekali baca langsung sampai halaman 51 dan masih sangat hambar. Saya sudah mencapai seperempat buku dan masih "ga kenapa-kenapa". Tapi akhirnya saya tetep baca sampai habis. Hufft....
Karakternya tidak ada yang kuat dan mengena di kepala saya. Bambi yang digambarkan 22 tahun justru di kepala saya seperti 15 tahun. Sungguh sangat labil. Mungkin ini efek dari diksi dan cara menceritakannya. Mr. Kim yang Korea justru seperti 0m-om 40an tahun tapi ternyata belum ada 30 tahun usianya. Leo juga menurut saya ga kalah aneh. Setiap tokoh yang muncul bisa dengan mudah berubah sikap tanpa ada karakter yang kuat di dalamnya.
Beberapa adegan mesra di dalam buku juga terkesan membuat saya geli. Dia kok jadi gitu? Bukannya dia harusnya gini? Kok jadi menye-menye? Itulah yang beberapa kali muncul di beberapa adegan.
Ending cerita juga bikin saya gregetan. Leo dikisahkan membenci ibunya, walaupun hanya diceritakan lewat makiannya kepada ibunya saat di Dufan dan dari ceritanya langsung ke Bambi. Tapi kenapa justru rela meninggalkan Bambi begitu lama, yang katanya sudah jatuh cinta, untuk mencari ibunya. Mencari ibunya juga "hanya" untuk mengetaahui alasan mengapa dulu meninggalkannya. Sueerrr, bukan kisah cerita akhirnya Leo melamar Bambi yang nancep. Tapi justru kenapa Leo mau repot-repot nyari ibunya. Gregetan sudah.
Yang bikin saya nggak sreg dan terus menerus mengernyitkan kening : 1. Bambi punya pekerjaan nggak sih? tinggal di apartemen yang cukup bagus, kemana-mana pake mobil,kerjaannya 'main' tapi saya nggak pernah tahu dia bekerja? Yah nggak perlu yang ke kantor. setidaknya dia punya gawe apa gitu kek. 2. Ceritanya bambi mau bikin buku resep buat biaya dia kuliah di Prancis. Sampai menyewa fotografer profesional untuk memoto hasil masakannya. Tapi, saya nggak pernah tahu dia berhubungan dengan penerbit. tiba-tiba aja udah terbit itu buku. Ngambil resiko besar tuh, kalo belum ada kontrak sama penerbit. yakalo diterima, kalo enggak? 3. Saya tertarik dengan dunia fotografi, dikit-dikit aja sih. Tapi setau saya, benda2 dalam ruangan, nggak baik tuh hasilnya difoto malam-malam. Mau pake lampu seterang apa. Paling baik kalo siang dan deket jendela supaya cahaya alami masuk. Nah ini si Leo, yang ceritanya pro, moto-moto makanan malam2 di apartmennya bambi?
Usulnya sih, lebih dalam risetnya. Sayang banget udah mengusung fotografi dan masakan di sini tapi nggak total. Saya tahu ini debut penulis, saya juga ngerasain gimana susahnya nulis. Harapan saya buku selanjutnya lebih matang :))
awalnya kepincut cover, eh baca sinopsisnya bikin ngiler!! tp, sayang bangeeeet eksekusinya mengecewakan :((
Mr. Kim - Bambina - Leo cinta segitiga?? iyaa bener, tp saya ga dapet feel-nya sama sekali.
Mr. Kim sosok yg diharapkan bs membuat novel ini manis ternyata jauh dr hrpn saya. Bambina pintar masak! oke itu poinnya, dan saya suka bonus resep di akhir novel ini. Leo cukup menggemaskan di awal cerita dengan kelakuannya yg tengil, tp lagi2 saya kecewa dengan pergeseran karakternya di tengah2 cerita.
sorry, 2 bintang yg saya kasih.. jujur genre Amore mengalami penurunan akhir2 ini, ceritanya kurang 'menggigit' drpd pendahulunya. ini pendapat saya loh, atau ada yg berpikiran seperti itu juga?
Ini buku pertama sang penulis. Yang membuat aku tertarik untuk membacanya adalah sampul yang memikat dan sinopsis belakang buku yang ditulis seperti menulis urutan makanan dalam jamuan resmi. Dimulai dari appetizer hingga dessert.
Ketika awal membaca buku ini aku langsung tahu, aku tidak akan berharap banyak dari buku ini. Karena cara penyampaian sang penulis yang lebih banyak menarasikan daripada menggambarkan setiap jalinan cerita. Yang membuat alur cerita serasa cepat dan tidak mendalam.
Tapi, aku suka karena di buku ini membahas tentang beberapa cara membuat suatu menu. Sepertinya sang penulis memang expert dalam hal tata boga. Ditambah ada beberapa resep di halaman belakang buku ini.
Dissapointed. Penulisnya terlalu banyak nonton drama Korea nih pake adegan gendong-gendongan segala. Kisah cinta segitiga yang dipaksakan, bercampur dengan kisah roman ala ala yang almost unreal.
Meskipun novel berbumbu kuliner masih belum banyak, tapi ngga bisa membuat isi buku ini menarik. Cukup disayangkan, penerbit sekelas Gramedia menerbitkan buku "ecek-ecek" kaya' gini.
Bisa dibilang baca buku ini cuma untuk menghabiskan waktu dengan cerita2 ringan dan karena covernya yang lumayan. Penulisannya lumayan, tetapi ceritanya mudah ditebak dan bab-bab akhirnya rada membosankan. Poin plusnya, ada bonus beberapa resep masakan dibagian akhir.
Alur terburu-buru dengan cerita yang klise. Karakter-karakter yang tidak istimewa serta akhir cerita yang standar. Kecewa dengan Gramedia dapat menerbitkan novel ini.