Dr. Wahyu Wibowo dilahirkan di Kampung
Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 8
Maret 1957. Setelah menamatkan S-1 dalam
Ilmu Sastra dan S-2 dalam Ilmu Manajemen,
ia merampungkan S-3 dalam Ilmu Filsafat
di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah
Mada Yogyakarta dengan disertasi mengenai Filsafat Bahasa
dan relevansinya terhadap etika pers nasional.
Minatnya berorganisasi, berkesenian, dan berjurnalistik
tumbuh subur selama menjadi mahasiswa FSUI kampus
Rawamangun, Jakarta (1976-1984). Sebagai aktivis, ia adalah
pendiri Ikatan Keluarga Sastra Indonesia (gaya baru) FSUI
(1978) dan penggagas berdirinya Ikatan Keluarga Mahasiswa
Sastra Jawa FSUI (1979). Wahyu Wibowo pernah aktif
sebagai sekjen BPM FSUI (1978), ketua Bengkel Sastra Ibu
Kota (1980), dan anggota MPM-UI (1983). Sebagai penyair,
ia dikelompokkan ke dalam Sastrawan Indonesia Angkatan 2000. Sebagai kritikus, ia membidani Aliran Kritik Sastra
Sawo Manila di Kampus Universitas Nasional, Jakarta (1988).
Sebagai jurnalis, Wahyu Wibowo adalah penerima Sertifikasi
Wartawan Utama dari Dewan Pers (2011). Ia pernah pula
memeroleh Sastra Award sebagai dosen terbaik Fakultas Bahasa
dan Sastra Universitas Nasional, Jakarta (2004 dan 2008).
Karier jurnalistiknya berangkat dari pers kampus, yakni
sebagai redaktur majalah kebudayaan Tifa Sastra (1976-1984),
kontributor koran Salemba (1979-1980), dan redaktur majalah
kebudayaan Bende (1977-1985), kemudian terjun ke pers
umum menjadi reporter majalah berita umum Fokus (1982-
1984), redaktur majalah musik IHE (1984-1985), redaktur
majalah Video (1985-1987), redaktur majalah remaja Monalisa
(1987-1989), redaktur majalah berita ekonomi Prospek (1989-
1992), wakil pemimpin umum/pemimpin redaksi tabloid
Paron (1992-1997), redaktur pelaksana harian umum ABRI
(1998-1999), wartawan senior majalah Solusi Investasi (sejak
2003), dan penasihat manajemen majalah Hortiku (sejak 2008).
Selama kariernya Wahyu Wibowo sudah berkeliling Indonesia
dan juga sudah melanglang jagat ke sejumlah negara Asean,
Asia, Eropa, dan Australia. Sementara itu, karier akademiknya
dibangun sejak 1985 dengan mengajar di sejumlah PTS Ibu Kota
dalam mata kuliah, di antaranya Bahasa Indonesia, Penulisan
Kreatif, Kemahiran Menulis, Manajemen Pers, Filsafat Ilmu
Pengetahuan, dan Filsafat Bahasa.
Karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya kumpulan
puisi (bersama Hendry Ch. Bangun) Ken Mokar Ikan dalam Kaca
(IKSI-FSUI, 1980); Katarsis: Kumpulan Esai Sastra (Nusa Indah,
1984); Menyingkap Dunia Kepenyairan Subagio Sastrowardoyo (Balai
Pustaka, 1984); novel Merajut Angan-angan (Serajaya, 1986);kumpulan puisi Liang Luka (Serajaya, 1989); kumpulan puisi
Cinta Batu, Batu Cinta (Serajaya, 1992); Mitos Bahasa (Paronpers,
1994); Konglomerasi Sastra (Paronpers, 1995); Model Waktu
dalam Perahu Kertas Sapardi Djoko Damono (Balai Pustaka, 1997);
kumpulan cerpen Glasnots (Balai Pustaka, 1999); Manajemen Bahasa
(Gramedia Pustaka Utama, 2001), Otonomi Bahasa (Gramedia
Pustaka Utama, 2001); Enam Langkah Jitu Agar Tulisan Anda Makin
Hidup dan Enak Dibaca (Gramedia Pustaka Utama, 2002); Sihir Iklan
(Gramedia Pustaka Utama, 2003), Membangun Kultur Perusahaan
Melalui Kesadaran Komunikasi Adab (Gramedia Pustaka Utama,
2004), Berani Menulis Artikel Jurnalistik (Gramedia Pustaka Utama,
2006), Menjadi Penulis & Penyunting Sukses (Bumi Aksara, 2007),
Piawai Menembus Jurnal Terakreditasi (Bumi Aksara, 2008); Menuju
Jurnalisme Beretika (Penerbit Kompas, 2009); Tata Permainan Bahasa
Karya Tulis Ilmiah (Bumi Aksara, 2010); Cara Cerdas Menulis Artikel
Ilmiah (Penerbit Kompas, 2011); kumpulan puisi Pangeran Katak
& Sang Putri bersama Hendry Ch. Bangun dan Frieda Amran
(Pustaka Spirit, 2011), dan Linguistik Fenomenologis John Langshaw
Austin: Ketika Tuturan Berarti Tindakan (Bidik-Phronesis Publishing,
2011). Buku yang tengah dipersiapkan dan segera diterbitkan
oleh BPP adalah tentang revitalisasi teori Framing dan Filsafat
Ilmu Pengetahuan.