Takdir telah mempertemukan kami, seorang manusia biasa dengan lima anak kecil yang pernah menjadi manusia. Menjalin hubungan lebih dari sekadar persahabatan. Darah kami berbeda, jasad kami berbeda, langkah kami tak sama, namun sebuah benang telah mengikat hati kami menjadi taak terpisahkan.
Aku merasa persahabatan aneh antara aku dengan mereka ini menjadi kian rumit. Terlalu banyak perasaan yang terlibat di dalamnya. Seharusnya, aku tak perlu mengurusi hal seperti ini, karena masih banyak masalah realistis yang perlu kuselesaikan. Ingin rasanya berani bicara, "Tempat kalian bukan di sini, pulanglah ke tempat yang seharusnya, di mana pun itu". Tapi, aku tak tahu harus menjawab apa jika mereka bertanya, "Kami harus pulang ke mana?"
Judul: Maddah Penulis: Risa Saraswati Penerbit: Rak Buku Tebal: 246 halaman Rating: ★★★
---
Maddah adalah buku kedua dari trilogi kisah Peter cs, kembali Risa Saraswati menceritakan dunianya yang menyenangkan bersama kelima sahabatnya, dan juga dua sahabat barunya, Marianne—si gadis galak yang sembrono namun bisa berteman baik dengan Peter karena kesamaan watak yang mereka miliki, dan Norma—gadis cilik yang cantik dan baik dan sempat membuat pertengkaran di antara William dan Hendrick.
Ada beberapa kisah yang dituliskan, sama seperti buku sebelumnya—Danur—setiap kisah tentu menceritakan pengalaman Teh Risa dengan “mereka-mereka” yang baru ditemuinya, “mereka-mereka” yang tidak saja hanya menuang memori dalam buku ini, tapi juga menjadi awal perkenalan pembaca dengan setiap elemen yang ada. Yeah, you know what I mean.
Ada kisah Adam dan Biyan, sepasang kekasih yang tak lama lagi akan melangsungkan janji pernikahan. Namun, sebagai seorang calon pengantin, tidak heran jika Biyan menginginkan sesuatu yang spesial dari calon pasangannya, sebuah sepatu hitam yang dipesannya kepada seorang teman. Sepatu hitam dengan manik-manik hitam berkilauan yang menghiasi seluruh bagiannya itu kini akan jadi milik Biyan, namun sayang cerita ini berakhir ketika takdir memaksa sebuah tragedi terseret arus sungai menimpa pasangan kekasih itu. Jiwa mereka berpisah, namun cinta mereka bersama, bahkan setelah kematian sekalipun.
Ada lagi Ivanna, seorang perempuan jahat yang suka mencelakai orang lain. Keadaan yang memaksanya begitu. Ivanna adalah musuh besar Elizabeth, perempuan yang menjadikan perpecahan dalam keluarga Ivanna hanya karena ia mencemooh Dimas—adik Ivanna, hanya karena namanya yang sangat Indonesia. Maka, dari kisah ini, terciptalah lagu Ivanna milik Risa Saraswati.
Penari itu adalah Canting, perempuan yang rela meninggalkan sekolah dan keluarganya hanya karena dirinya jatuh cinta pada sang pelatih, Farid. Perjalanan cinta mereka sangat menarik, Farid bisa dikatakan orang yang baik, yang dapat memikat hati seorang perempuan bernama Canting. Suatu kecelakaan terjadi, Canting meminta Farid untuk sesegera mungkin menikahinya sebelum perutnya benar-benar membesar tanpa seseorang di sampingnya. Semua berjalan tidak seperti yang diharapkannya. Farid pergi meninggalkan Canting yang masih hamil karena ternyata ia sudah berumah tangga, Farid pergi untuk kembali ke keluarganya. Hidup seorang diri, berjuang dalam masa kehamilan, hingga melahirkan seorang anak lelaki, adalah pengorbanan yang harus Canting lakukan untuk melahirkan seorang anak manusia bernama Buih. Buih dititipkan kepada nenek dan kakeknya—Bapak dan Ibu Canting, karena Tuhan telah meminta Canting kembali sesaat setelah melahirkan Buih.
Ada lagi kisah sepasang kekasih yang ceritanya menyayat hati, Ladira dan Ardiga. Keduanya saling mencintai satu sama lain, perbedaan yang ada tidak membuat mereka merasa risi terhadap pandangan orang banyak mengenai perbedaan keyakinan. Dira adalah seorang Kristen Tionghoa, sedangkan Diga adalah laki-laki muslim anak dari seorang Kiai. Cinta mereka berakhir menyedihkan, memaksa keduanya berpisah karena perbedaan yang jarang bisa diterima banyak orang. Perbedaan untuk status seperti umur, sosial, ras memang bukan suatu hal yang besar, tapi apakah itu sama berlakunya dengan perbedaan agama diantara dua insan yang saling mencinta?
“Jika kau memang mencintaiku... kau harus percaya...” (hal. 168)
Tidak hanya itu, cerita lainnya juga dituang Teh Risa dari segi pandangnya yang menarik. Selipan cerita tentang kawan-kawannya ia kemas dengan caranya sendiri. Apa saja yang ditulisnya? Baca selengkapnya di Maddah.
***
Bukan hal yang mudah buatku menulis ulasan buku yang satu ini. Selain karena tersendat waktu dan peristiwa yang darurat, aku kadang takut juga kalau menulisnya di waktu tertentu, ketika sendiri atau malam menjelang. Hehe, asumsi bodoh sebenarnya, dan lebih bodoh aku melakukannya hingga kini memberanikan diri menulis review di malam hari.
Setiap cerita dalam Maddah diceritakan cukup panjang, namun tetap berkesan. Tetap ada kisah Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen, kelima sahabat astral Teh Risa, namun dengan cerita yang lain—tentu saja—dengan buku Danur (Danur lebih bercerita kepada perkenalan dan masa lalu setiap karakter). Ada juga surat-surat yang menjadi sisipan di tiap jeda antara satu cerita ke cerita lainnya. Kadang tidak berkaitan, tapi kalau sudah baca Danur setidaknya, kita bisa paham kok.
Dari banyaknya cerita, aku suka kisah Ladira dan Ardiga. Dua sejoli yang memiliki akhir kisah menyedihkan karena sebuah perbedaan. Aku meyakini satu hal, perbedaan itu ada, perbedaan itu seperti air dan minyak—tak pernah bisa bersatu, namun tetap bisa berdampingan. Kisahnya juga cukup familiar ya apalagi kalau dikaitkan dengan kisah dari Dwi**sar* tentang Cinta Tapi Beda. Hm.
Ah ya, aku suka cara Teh Risa menuliskan judul dari setiap kisah, bahasa yang digunakan jarang bahkan baru aku tahu penulisan katanya. Mungkin bahasa Indonesia zaman dahulu, atau bahasa arkais yang aku sendiri nggak tahu apa maknanya. Apalagi, kata-kata itu bakal kamu temukan lebih banyak dalam Sunyaruri. See? Maddah membawaku pada ingatan tentang acara Léngkah Maddah yang beberapa waktu lalu diadakan di Bandung, dan tentunya beberapa kali aku senang memutar track Ivanna hanya karena suara jeritannya yang jadi candu.
Buku kedua setelah "Danur" dan karya pertama Teteh Risa Saraswati yang saya baca.
Kisah nyata yang unik tentang persahabatan Teh Risa dengan kelima sahabatnya yang berbeda dunia. Overall, seru! Ga nyangka, cerita yang sebetulnya termasuk ke dalam genre misteri atau horror ini bisa jadi sebuah kisah yang segar untuk dibaca. (Saya seperti membaca kisah 5 sekawan karya Enid Blyton. Lol.)
Kepolosan kelima sahabat (maaf, mereka tidak suka disebut hantu) Teh Risa yang masih anak-anak ini, malah membuat saya jadi ingin bersahabat dengan mereka juga. Hahaha. Saya jadi berpikiran bahwa ternyata kehidupan 'lain' itu tidak se-menakutkan yang saya kira. Tapi ada juga kisah sampingan dari makhluk lainnya yang membuat saya sedikit sedih dan miris ketika membacanya. Dan sedikitnya saya menjadi tahu bahwa, "Ternyata seperti inikah keadaan arwah yang penasaran..." (Wallahualam Bishawwab)
Maddah.. buku sequel langsung dari gerbang dialog Danur, tbh lebih seru dari buku yg pertama dengan bentuk narasi langsung (karna sebelumnya dalam format sebuah Diary) serta perkembangan cerita dari buku sebelumya yg seru banget (ya timeline nya saat risa udh dewasa + banyak sosok baru dengan background yg cukup mengandung history)
Akhirnya beres juga buku ini dalam hitungan 2 hari kalo tidak salah :D
Buku ini adalah buku kedua dari Mba Risa Saraswati, buku ini bisa dibilang adalah lanjutan dari kisah2 Risa Saraswati dengan kelima teman Belandanya, Danur. Akhir dari buku Danur adalah akhirnya mereka berkumpul kembali dan buku ini menceritakan kisah selanjutnya.
Dalam buku ini tokoh utama bertambah 2 "orang" yaitu Marianne dan Norma, selain Risa, Peter, William, Hans, Hendrik dan Janshen tentunya. Tema utama dalam buku ini yang dapat saya tangkap adalah tentang mulai renggangnya hubungan Risa dan kelima sahabatnya karena kehadiran Marianne dan Norma. Kisah mereka diselingi dengan kisah2 hantu lainnya.
Risa yang sudah dewasa memiliki kesibukannya sendiri di dunia nyata. Peter yg merupakan "pemimpin" di bagi empat teman lainnya bertemu dengan Marianne yg memiliki watak keras dan egois. Hendrik yang sedang menyukai seorang gadis bernama Norma yg sayangnya gadis ini malah mendekati William, Janshen yg memiliki 2 teman baru. Semua memiliki kesibukan masing2 dan hanya Hans yg merasa merindukan suasana2 dahulu saat mereka masih bersama. Risa pun akhirnya mulai merasakan hal yang sama dengan Hans dan mulai mencara cara untuk memperbaiki semuanya sebelum benar2 terlambat.
Risa mulai mencari cara untuk menyelesaikan permasalahan ini. Risa mulai mengunjungi tempat baru kelima temannya yang merupakan sekolah tua. Ia mulai berkenalan dengan Marianne, Norma dan beberapa hantu di sekolah itu yang sekiranya dapat membantunya. Akhirnya Risa memang berhasil menyatukan mereka kembali, bahkan dengan tambahan dua orang lagi di dalam group mereka.
Kalau boleh jujur sebenarnya buku ini bisa dibilang lebih romantis dari Danur, karena isinya lebih banyak tentang kisah2 drama yang memang berkaitan dengan masalah yg sedang mereka hadapi yaitu pertemanan mereka. Berbeda dengan buku Danur yang diselingi cerita2 seram tentang hantu. Jadi bagi yang takut hantu tapi ingin baca buku ini silakan saja. Bintang 3 untuk buku Mba Risa yang satu ini.
Maddah Judul : Maddah Penulis : Risa Saraswati Penerbit : OMUPRESS Tahun terbit : 2012 - Oktober Jumlah halaman : 246 halaman Harga buku : Kategori : Novel
Peter, Will, Hans, Hendrick, Janshen, Marianne, Norma.
Yang menarik dalam novel ini: Norah-sosok wanita Belanda yang menjadi panutan. Mungkin jika dikondisikan pada sekolah manusia, posisi Norah adalah sbg ibu asrama, kepala sekolah, sekaligus guru di gedung sekolah tua yang dihuni oleh mereka, para hantu Belanda.
Kecemburuan Hendrick terhadap Norma-sosok hantu perempuan cantik yang disukai Hendrick- yang lebih memilih William.
Kedekatan Marianne (Anne) dengan Peter.
Kelinci peliharaan Janshen
Ilustrasi yang sangat menarik, selaras dengan untaian kata yang ditulis oleh Risa menjadi kelebihan tersendiri dalam lanjutan novel “Danur” ini. Risa berhasil membawa saya-dan mungkin para pembaca yang lain- masuk ke kehidupannya yang unik nan menarik. Risa memperkenalkan seluruh nama baru dalam novel ini dengan lengkap, cara Risa mengenal para hantu plus menceritakan cara kematian mereka, yang lebih dominan karena “kekejaman Nippon”. Kekurangan. Sosok hantu yang lain-selain hantu Belanda- terkesan hanya selintas, sehingga para hantu Belanda lebih mendominasi novel ini.Membuat penasaran. Sekolah tua yang mana yang dihuni para hantu Belanda yang diceritakan Risa.
Novel ini memberi pelajaran bahwa persahabatan itu tidak ada batasnya. Walau berbeda darah, jasad dan langkah.
Ingin rasanya berani bicara, “Tempat kalian bukan disini, pulanglah ke tempat yang seharusnya, dimana pun itu.” Tapi, aku tak tahu harus menjawab apa jika mereka bertanya, “Kami harus pulang kemana?” -Risa Saraswati-
. "Tuhan, bisa tidak hidupku ini dibuat lebih normal saja?" (hlm. 259) . Di buku keduanya ini, kak Risa bercerita tentang permasalahan yang mulai dihadapi kelima sahabat kecilnya, Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen. Kak Risa dibuat pusing dengan perubahan yg terjadi pada mereka. Sedih banget mereka semua nggak kompak lagi. Aku jd sebel dengan Marianne dan Norma. Gara-gara dua hantu kecil itu, Peter dijauhin oleh empat temannya, sedangkan Hendrick bermusuhan dengan William. Apalagi sosok Marianne ini angkuhnya minta ampun, bahkan dia insecure banget dengan Peter. Peternya juga mau aja sih. Bukannya memihak keempat temannya yang sudah dianggapnya saudara. Sebeeeelll 😣 . Awalnya aku lebih respect ke Norma sih. Tapi setelah tahu alasan di balik sikap jelek Marianne itu, aku jadi lebih iba pada dirinya. Kehadiran dua hantu cilik ini semakin membuat persahabatan mereka lebih berwarna. Yah, kak Risa jadi nggak yang paling cantik lagi nih di antara mereka 😜 . Secara keseluruhan, aku lebih menyukai buku kedua ini. Cerita yg disungguhkan oleh kak Risa lebih tertata. Kisahnya jg lebih mengharukan. Selain kisah tentang kelima sahabatnya, kak Risa juga menceritakan kisah hantu lainnya yang lebjh inspiratif, jadi banyak hikmah yang bisa diambil dalam kisah mereka itu. Oh ya, di buku ini juga dibeberkan beberapa rahasia loh yg bs kamu ketahui kalau kamu baca buku ini 😌 Ada juga 20 fakta dari masing-masing sahabat kecil kak Risa. . Pokoknya aku suka sekali dgn buku ini. Ah, jadi makin penasaran gmn visualisasinya saat di biokop nanti ya (kaya berani aja 🙈)
Kesan sebelum membaca ini adalah kisah dari dua hantu teman Teh Risa. Dilihat dari cover, ada dua wanita yang saling berhadapan. Kukira mereka yang akan diceritakan. Ternyata eh ternyata, dalam buku Maddah ini banyak kisah yang teh Risa tulis.
Ada kisah teman hantu teh Risa yang baru, ada funfact tentang sahabat Teh Risa, dan lain sebagainya. Asik sih kalau ada beberapa kisah yang diceritakan. Tapi lebih banyak bingungnya. Kadang setelah cerita tsb, nggak ada penjelasan bahwa Teh Risa tahu cerita mereka dari mana, apa dari hantunya sendiri atau dari sahabat Teh Risa atau siapa? Dan terkadang setelah cerita tamat, malah disambung dengan funfact 5 sahabatnya. Kurang cocok sih ...
Tapi sejauh ini aku suka kok. Dalam buku ini, terasa sekali lebih santai saat membaca, karena kisahnya ringan. Jadi kenal sahabat Teh Risa yang baru deh. Apalagi bab akhir-akhir, terharu bangeeet. Sampai aku bayangin, andai aku punya sahabat kayak Teh Risa. Tapi nggak yang hantu lho ya...
Aku beli novel ini entah cetakan ke berapa yang covernya sudah berwarna hitam itu bukan yang seperti di gambar ini.
Maaf udah lama bacanya tapi baru memberikan ulasannya sekarang, Maddah adalah novel horor yang kata Risa Saraswati adalah berdasarkan kisah nyata dan alasan inilah yang membuatku penasaran dengan ceritanya.
Di bab yang menceritakan dua calon pengantin meninggal itu membuatku merinding apalagi saat membaca itu, aku juga akan melangsungkan pernikahan, dan merasa terharunya di alam yang telah berbeda dari manusia itu kedua calon pengantin itu masih bertemu dan belum menyadari jika mereka telah meninggal, dan masih banyak lagi kisah menyentuh lainnya terlepas dari inti cerita yang menceritakan kecemburan salah satu hantu anak Belanda itu.
Ini adalah novel horor dengan level yang berbeda bukan untuk menakuti, namun untuk menyampaikan informasi bahwa kita hidup di dunia ini memang bersanding dengan 'mereka' ceritanya menarik, bahasanya lugas dan alurnya page turner sekali.
Tidak cukup dengan lima teman hantu? Pada buku ini 'teman-teman' Risa Saraswati nambah dua biji lagi! Entah kenapa aku merasa buku ini malah menjadi ajang Fan Service, terutama untukku yang gemar Middle Grade! Memang selain anak-anak hantu ajaib itu, masih ada cerita-cerita lain. Namun, sekali lagi ... memberi genre horor pada buku ini rasanya kurang tepat. Tapi aku sendiri bingung kalau disuruh taro buku ini di genre mana. Habis, ceritanya kok gak ada yang serem sama sekale!
the sequel of gerbang dialog danur, and i personally like this one more. why? maybe because in this book, there's a lot new “ghost” like marianne & norma, and ofc more INTERESTING drama. like i'm genuinely surprised knowing that they be fighting because some new “ghost” girl 😦 also in this book, there's a little story about ivanna and elizabeth; the one who's madly in love with human, and the one who's full with anger. i love this.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Seperti buku Teh Risa yang lain, buku ini "mengalir". Tapi agaknya membosankan di bagian tengah buku. Terlebih saat semua merasa putus asa dan sedikit bosan.
Dua tokoh wanita baru dalam buku ini juga menambah rasa tersendiri, menjadikan bukunya layak dibaca. Apalagi bagi yang sudah membaca Danur.
Hampir semua buku yang ditulis Risa Saraswati memiliki alur yang sederhana dan tidak rumit. Sangat mudah untuk dipahami, cocok untuk menjadi selingan bahan bacaan yang berat. Banyak nilai kehidupan yang bisa diambil dari buku ini. Risa berhasil membawa emosi pembaca sehingga pesan dari buku ini dapat tersampaikan dengan baik.
3.5/5. ada beberapa bagian cerita yg tidak penting.
perempuan selalu menjadi sosok utama dalam setiap cerita dan setiap buku (danur, ivanna, senjakala, dan sekarang maddah). agak membosankan sebenarnya. oh ya, senjakala menurutku yg paling mengerikan sejauh ini!
Dalam buku ini. Risa tidak hanya menceritakan lima sahabat kecilnya, namun juga beberapa tokoh baru. Dalam buku ini saya paling suka dengan tiga cerita yaitu tentang Dira dan Diga, Buih, dan saat lima sahabat Risa bergantian menulis secarik surat untuk Risa.
Masih sama seperti buku Danur. Buku ini juga memberikan pengetahuan sejarah masuknya Belanda dan Jepang ke Indonesia. Setiap kisah dari para "makhluk" yang diceritakan juga selalu membuat sedih, dan imajinasi saya juga selalu bermain ketika saya membaca tiap bagiannya.
Suka dengan karakter-karakter baru yang bermunculan di buku ini, juga kisah-kisah mengharukan di dalamnya. Tapi aku cukup terganggu dengan font huruf bersambung yang dipakai dalam penulisan surat, agak menyiksa mata sih menurutku. Oh ya, beri aku lebih banyak Jansheeeeeen💜
Berhasil menyelesaikan buku kedua dari Risa Saraswati. Di buku kedua ini, sebagai pembaca kita bisa lebih mengenal berbagai sosok yang ada di dalam buku pertama dengan lebih details. Latar belakang banyak karakter dan perkembangan hubungan di antaranya juga cukup diceritakan dengan baik.