Jump to ratings and reviews
Rate this book

Fatimah Chen Chen

Rate this book
Setiap orang mempunyai kenangan pahit dan indah dalam hidupnya, sebagaimana juga Chen Chen yang kini lebih dikenal sebagai Fatimah Chen Chen binti Ali Asghar.

Chen Chen pernah terdampar di Peitou, kota kecil yang lebih dikenal sebagai kota pelacuran. Di kota inilah lahir pelacur-pelacur muda yang harus menjual diri pada usia 12 hingga 15 tahun, di mana usia paling muda dibayar mahal di hotel-hotel kota Taipei. Ia dibawa oleh mereka yang disebut “Anjing Taipei”—gerombolan pemuda berandal yang umumnya anak-anak orang kaya. Chen Chen terseret pesta mabuk-mabukan dan seks bebas yang mengerikan di sebuah hotel samaran.

Siapa sangka, Chen Chen kini telah menjadi seorang ustadzah, pemimpin sebuah pesantren putri. Lika-liku dan pahit getirnya kehidupan, serta proses berislamnya ia, telah membentuk Chen Chen menjadi seorang Muslimah yang kuat dan tegar, bahkan setelah ditinggal mati suaminya.

*****

Novel islami karya novelis besar ini sarat akan lika-liku perjalanan hidup serta konflik batin tokoh-tokohnya. Fatimah Chen Chen adalah salah satu karya terbaik Motinggo Busye, yang pada tahun 1990 diakui sebagai salah seorang di antara para penyair kelas dunia. Dalam novel ini tampak sekali warna puitis bahasanya. Tak heran apabila karyanya ini mendapat banyak perhatian dan pujian istimewa dari para kritikus kaliber internasional, seperti H.B. Jassin, Prof. Dr. Teeuw, dan Jakob Sumardjo.

258 pages, Paperback

First published January 1, 2002

9 people are currently reading
170 people want to read

About the author

Motinggo Busye

93 books52 followers
Motinggo lahir dari pasangan Djalid Sutan Raja Alam dan Rabi'ah Ja'kub yang berasal dari Minangkabau. Ibunya berasal dari Matur, Agam dan ayahnya dari Sicincin, Padang Pariaman. Sedangkan kakeknya dari pihak ayah adalah kepala nagari Matur terkenal sebagai menantu dari Sentot Alibasyah Prawirodirdjo, tokoh terkenal dalam Perang Diponegoro.

Setelah menikah, orangtuanya pergi merantau ke Bandar Lampung. Di sana ayahnya bekerja sebagai klerk KPM di Kupangkota, sebuah kelurahan di Telukbetung Utara, sedangkan ibunya mengajar agama dan Bahasa Arab. Ketika usianya mendekati 12 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Sepeninggal orang tuanya, Motinggo diasuh neneknya di Bukittinggi hingga ia menamatkan SMA di sana. Motinggo kemudian melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, tetapi tidak tamat, karena lebih aktif melibatkan diri dengan para sastrawan di Yogyakarta dan mengikuti kegiatan teater bersama Kirdjomuljo, Nasjah Djamin, Subagio Sastrowardoyo, dan WS Rendra.

Motinggo merupakan nama pena Bustami yang berasal dari Bahasa Minang: mantiko. Kata tersebut memiliki makna antara sifat bengal, eksentrik, suka menggaduh, kocak, dan tak tahu malu. Namun "mantiko" dalam diri Motinggo bukanlah berkonotasi negatif. Untuk itu dia menambahkan kata bungo (bunga) di belakang nama samarannya itu, sehingga lengkap tertulis Mantiko Bungo (MB). Dari inisial MB inilah akhirnya berkembang nama Motinggo Busye. Selain nama pena dan nama pemberian orang tua, sesuai Adat Minangkabau, Motinggo juga memiliki nama dewasa (gelar) yaitu Saidi Maharajo.

Awal karier Motinggo dalam dunia tulis menulis, dimulai ketika perwira Jepang Yamashita datang ke rumahnya memberi mesin ketik. Mesin itu akhirnya menjadi sahabat Motinggo untuk mencurahkan ide-idenya. Selain itu, persentuhannya dengan buku-buku sastra Balai Pustaka, telah menumbuhkan minatnya untuk terjun di dunia sastra. Dramanya, Malam Jahanam (1958), mendapat Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama Bagian Kesenian Departemen P & K tahun 1958 dan cerpennya, "Nasehat buat Anakku", mendapat hadiah majalah Sastra tahun 1962. Karya-karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa asing, antara lain Bahasa Ceko, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Korea, Jepang, dan Mandarin. Motinggo banyak menulis novel pop yang belum lazim pada masa itu sehingga banyak menerima kecaman dari masyarakat.

Sebagai penyair, karya-karyanya masuk dalam antologi penyair Asia (1986) dan antologi penyair dunia (1990). Sepanjang hidupnya Motinggo telah menulis lebih dari 200 karya yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, D.C. Pernah menjadi redaktur kepala Penerbitan Nusantara (1961-1964) dan Ketua II Koperasi Seniman Indonesia. Selain terlibat dalam dunia sastra dan drama, Motinggo juga menyukai melukis. Pada tahun 1954, sebuah pameran lukisan di Padang pernah menampilkan 15 lukisan karya Motinggo. Selain dikenal sebagai penulis naskah drama, pelukis, penyair, cerpenis, dan novelis, Motinggo juga adalah seorang aktor dan belakangan ia juga terjun sebagai sutradara film.

sumber:
Wikipedia
Riwayat Hidup di Cover Buku "Dosa Kita Semua"

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
39 (30%)
4 stars
36 (27%)
3 stars
34 (26%)
2 stars
14 (10%)
1 star
7 (5%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Nurul Inayah.
118 reviews13 followers
April 6, 2014
Buku yg salah. Aku salah memilih. Bukan seleraku. Kubaca sampai halaman 70 an, hemmm ngambang..dan bertentangan dg keyakinanku (poligami). Rasanya tak perlu menuliskan adegan2 tak pantas, kukira novel islami nggak akan begitu. Tak pantas..jangan dikasihkan ke anak sekolah atau adik atau anak yg msh di bawah umur.
3 reviews1 follower
December 22, 2020
Kupunya buku ini sejak tahun 2005 dan sedang kubaca kembali. Memang banyak skenario yang bertentangan dengan agama islam namun begitu banyak ilmu agama yang juga diajarkan... Tapi begitulah karya sastra menurutku. Kata-kata yang indah dan romantis menghanyutkanku dalam suasana dari setiap lembar yang terlewat. Always nice to read again.
Profile Image for Adinda Putri.
75 reviews
July 5, 2021
Setiap orang mempunyai kenangan pahit dan indah dalam hidupnya, sebagaimana Chen Chen yang kini lebih dikenal sebagai Fatimah Chen Chen binti Ali Asghar. Sebagaimana juga Belinda Liu, kakak perempuannya, jika mengenang masa silamnya di Taipei - Taiwan pada masa remaja mereka. Semua itu ada pahitnya, ada indahnya.
- Fatimah Chen Chen, hlm 7


Chen Chen Margaretha Liu, itulah namanya sebelum ia memeluk Islam. Sebelum menjelma menjadi seorang Fatimah Chen Chen, ia adalah seorang perempuan Cina yang merupakan putri dari seorang jutawan yang gemar "keluyuran". Keluyuran yang dimaksud yaitu Chen Chen sempat berkelana di Indonesia dan bekerja di Konsulat China Formosa, lalu juga bertualang dan mengunjungi pemukiman masyarakat muslim di Thailand. Namun semuanya berubah ketika ia jatuh cinta pada Dira Alwin yang sayangnya bertepuk sebelah tangan. Saking patah hatinya ia kemudian terdampar dalam pelukan para "Anjing Taipei" dan ganasnya miras. Dalam keterpurukannya itulah di mana ia akhirnya dipertemukan oleh cahaya Islam, sekaligus belahan jiwanya yang sejati.

Ini adalah karya dari almarhum Motinggo Busye yang pertama saya baca. Gaya penceritaan beliau yang puitis namun sederhana menjadikan novel ini page-turner yang ampuh. Dengan nama Fatimah Chen Chen sebagai judul dari novel ini, tapi sebenarnya novel ini terbagi menjadi dua bagian dan dua sudut pandang. Yaitu Chen Chen dengan kakaknya, Belinda. Perjalanan Chen Chen untuk menjadi seorang mualaf mungkin masih bisa diterima. Tetapi beda ceritanya dengan kakaknya, karena dalam kisah kakaknya mengangkat isu "poligami" yang tentunya cukup kontroversial bagi kalangan tertentu. Jadi saya hanya berharap supaya pembaca sekalian bersikap bijak dalam membaca novel ini.

Saya sangat menyukai selipan-selipan dakwah Islam yang menghiasi isi cerita dalam novel religi ini. Terutama konsekuensi yang harus dihadapi oleh tokoh Dira Alwin ketika memilih untuk berpoligami atas dukungan Belinda demi memperoleh keturunan dan penggambaran Belinda yang rela diduakan meski hati kecilnya menjerit menurut saya cukup realistis dan menyayat hati (me: siapa juga yang mau diduain? hikss :")). Meskipun demikian, perubahan drastis Chen Chen dalam detik-detiknya menjadi seorang mualaf menurut saya kurang alami dan terlalu tiba-tiba.

Fatimah Chen Chen adalah karya sastra islami yang berbobot dan penuh dengan pelajaran hidup yang berharga khususnya dalam hidup berumah tangga. Maka dari itu novel ini tidak diperuntukkan bagi pembaca di bawah umur dikarenakan terdapat unsur dewasa beserta bahasa yang vulgar.
Profile Image for Meirna Fatkhawati.
137 reviews3 followers
December 6, 2024
tampaknya buku ini lebih cocok jika dikategorikan sebagai buku religi ya.
inti ceritanya adalah proses dan lika liku keluarga Taipan (chen chen sekeluarga) dalam kehidupannya memeluk agama islam

judulnya fatimah chen2. tapi agaknya lebih banyak bercerita tentang kehidupan kakaknya (Belinda Liu).

kata-kata yang digunakan tergolong baku ya. saya merasanya begitu. tapi tetap seru untuk dibaca. karena halamannya 269 halaman, dan bukunya kecil. sehingga, bisa dibaca sehari saja. itu pun kalau tidak banyak kerjaan ya. hehe.

buku ini tidak sesuai harapan saya. judulnya fatimah chen chen, tapi lebih banyak bercerita tentang rumah tangga kakaknya.

pendalaman karakter chen-chen kurang banyak. seharusnya bisa lebih eksplorasi ceritanya chen chen. kehidupan pesantren seperti apa, bisa ditambah dengan konflik warga disana.
Profile Image for Truly.
2,802 reviews13 followers
April 26, 2020
Saya lupa apakah pernah membaca kisah ini. Tapi nama besar Motinggo Busye dan kisah Fatimah Chen Chen sepertinya cukup akrab ditelinga saya. Tak ada salahnya dibaca ulang, apa lagi dalam daftar buku yang sudah saya baca, tidak terdapat buku ini. Aneh.

Beberapa bagian kisah agaknya tidak cocok dengan saya. Hanya karena penulis cukup canggih meracik kisah hingga saya bisa menamatkan buku ini. Begitulah kehidupan, kita tak akna pernah tahu apa yang akan terjadi kelak.
Profile Image for Rizka Ramadhani.
5 reviews
March 2, 2020
ketika saya duduk di bangku SMP Ibu saya pernah menyebutkan nama seorang penulis, yaitu Motinggo Busye, jadi sejak SMP saya sudah tidak asing dengan nama beliau. namun Ibu saya mengatakan saya belum boleh membaca karya beliau. dan saya pun menurut. selanjutnya saya tidak pernah menjumpai atau berusaha mencari karya Beliau, namun saya selalu mengingat namanya.

waktu berjalan. belasan tahun kemudian. saya menemukan Fatimah Chen Chen pada katalog sebuah toko buku onlen. ketika membaca nama penulisnya, seketika saya teringat nama Motinggo Busye dalam kenangan saya dan muncullah rasa penasaran. hingga seminggu kemudian Fatimah Chen Chen sampai di tangan saya. tepat sehari sebelum penghujung tahun.

saya mulai membaca si akhir tahun 2016 dan selesai di awal tahun 2017. dan setelah saya selesai menbaca barulah saya tahu mengapa Ibu saya dulu melarang saya membaca karya Motinggo Busye. Fatimah Chen Chen memang terkesan seperti novel islami karena tokoh-tokoh yang religius dan banyak mengutip ayat-ayat dari Al-Quran dan hadist-hadist Nabi Muhammad namun, dalam novel ini juga ada beberapa adegan suami isteri yang diceritakan dengan cukup berani dan bahasa yang "panas". walaupun terkesan islami namun bagi saya novel ini bukanlah novel islami. islam hanya menjadi setting cerita yang telah di riset dengan baik.

selain itu novel ini juga mengangkat isu tentang poligami yang dilakukan tokoh di dalamnya. oleh karenanya pasti banyak yang kurang menyukain Fatimah Chen Chen. bagi saya sendiri, poligami bukan hal yang salah. bahkan saya suka merasa kagum pada wanita-wanita yang dipoligami. saya kagum akan kebesaran hati dan keikhlasan mereka. namun bukan berarti saya mau dipoligami (!).

Fatimah Chen Chen adalah novel pertama yang saya bac dari rentetan karya Motinggo Busye. sebagai perkenalan Fatimah chen-chen cukup membuat saya penasaran dengan "anak" dari Motinggo Busye yang lain.

Terimaksih sudah menemani pergangian tahun saya.
Profile Image for Yuan Astika Millafanti.
316 reviews7 followers
February 22, 2024
06.04.21⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Judul buku: Fatimah Chen Chen⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Penulis: Motinggo Busye⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Penerbit: Edelweiss⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Tahun terbit: cetakan pertama, 2014⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Jumlah halaman: 280⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣
⁣Chen Chen seorang gadis anak jutawan yang kerap keluyuran. Ia terpuruk karena berita bahagia Belinda--kakaknya--akan menikah dengan Dira--lelaki yang disukainya. Chen Chen terdampar dalam ruang disko. Parahnya lagi, dia terseret pesta mabuk-mabukan di salah satu hotel kota ⁣Peitou--kota kecil tempat lahirnya pelacur muda.⁣

Tiba-tiba Chen Chen mendapati kamarnya disinari cahaya terang. Kenangan akan kehidupannya saat menumpang pada keluarga muslim di Pattani berkelebat dalam pikiran. Di sanalah ia pertama mengenal dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan perihal keislaman. Ini mendorongnya untuk belajar Islam lebih giat lagi pada Zainal Abidin dan Ibrahim Tanaputi. Chen Chen jatuh hati pada gurunya, ustaz muda Ibrahim Tanaputi yang berasal dari Indonesia.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Chen Chen dan Belinda mengikuti suami mereka pulang ke Indonesia. Mereka beruntung bersuamikan lelaki yang mendukung evolusi perjalanan keislaman mereka, tanpa doktriner. Terpisahkan pulau, Belinda merasa kesepian di negeri orang. Dia mulai akrab dengan Soel--tetangga sebelah yang juga cinta masa lalu Dira. Soel menghasut hingga Belinda rela Dira menikahi Soel lantaran Belinda tak kunjung hamil. Sementara Chen Chen sibuk mengurus pesantren bersama suaminya di desa.⁣⁣
⁣⁣
Saya, seorang muslim yang mendapatkan Islam sebagai salah satu warisan keluarga, merasa takjub dengan perjuangan Chen Chen dan keluarganya dalam hal keislaman mereka. Banyak kalimat yang mengutip Al-Qur'an disampaikan pada buku ini sebagai jawaban takterbantah atas segala tanya. Buku ini memancing saya untuk memahami isi kitab lebih baik lagi.⁣

Menarik, penulis mampu menyampaikan pesan tanpa sedikit pun kesan menggurui. ⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
==
Profile Image for New2n.
71 reviews27 followers
August 1, 2007
Setiap orang mempunyai kenangan pahit dan indah dalam hidupnya, sebagaimana juga Chen Chen yang kini lebih dikenal sebagai Fatimah Chen Chen binti Ali Asghar.

Chen Chen pernah terdampar di Peitou, kota kecil yang lebih dikenal sebagai kota pelacuran. Di kota inilah lahir pelacur-pelacur muda yang harus menjual diri pada usia 12 hingga 15 tahun, di mana usia paling muda dibayar mahal di hotel-hotel kota Taipei. Ia dibawa oleh mereka yang disebut “Anjing Taipei”—gerombolan pemuda berandal yang umumnya anak-anak orang kaya. Chen Chen terseret pesta mabuk-mabukan dan seks bebas yang mengerikan di sebuah hotel samaran.

Siapa sangka, Chen Chen kini telah menjadi seorang ustadzah, pemimpin sebuah pesantren putri. Lika-liku dan pahit getirnya kehidupan, serta proses berislamnya ia, telah membentuk Chen Chen menjadi seorang Muslimah yang kuat dan tegar, bahkan setelah ditinggal mati suaminya.

*****

Novel islami karya novelis besar ini sarat akan lika-liku perjalanan hidup serta konflik batin tokoh-tokohnya. Fatimah Chen Chen adalah salah satu karya terbaik Motinggo Busye, yang pada tahun 1990 diakui sebagai salah seorang di antara para penyair kelas dunia. Dalam novel ini tampak sekali warna puitis bahasanya. Tak heran apabila karyanya ini mendapat banyak perhatian dan pujian istimewa dari para kritikus kaliber internasional, seperti H.B. Jassin, Prof. Dr. Teeuw, dan Jakob Sumardjo.
Profile Image for Rakhmania.
14 reviews
April 12, 2015
Reading Time : +/- 3 hours
Buku ini termasuk karya sastra angkatan 90-an tapi ngebacanya fresh banget. Banyak suguhan nilai-nilai Islam didalamnya. Bagaimana ujian yang dihadapi oleh Fatimah chen chen yang seorang mualaf dalam menghadapi persoalan hidup terutama dalam hal rumah tangga. Masa lalunya tak membuat ia menyerah.
Tiga pesan menarik yang bisa diambil dari buku ini yakni, dalam menjalani persoalan kehidupan, kenali terlebih dahulu, yang pertama; Tuhanmu, yang kedua; dirimu dan manusia yang lain, dan yang ketiga; lingkungan sekitar mu.
Ceritanya juga unexpected gitu, gak ketebak akhirnya gimana.
Kalau minus nya sih ada 5 halaman yang typo di beberapa kata. Overall aku suka sebagai kickstart di bulan April #SalamPena
-Iqra' dan Nun-
Profile Image for Wisnuardi17 Dewoto.
17 reviews
February 15, 2008
Ini karya kedua Motinggo Busye yang saya baca, walaupun agak membosankan tapi secara keseluruhan ceritanya enak dibaca, tp kenapa tokoh cowo nya (lupa namanya) mutusin buat poligami, padahal klo dia tetap dengan satu istri fatimah chen-chen nya pasti lebih bahagia (membayangkan klo terjadi dalam kehidupan nyata)
Profile Image for Muhammad Gauzal.
19 reviews7 followers
July 22, 2010
Buku kecil ini dapat selesai dibaca setengah hari saja. Motinggo adalah salah satu sastrawan senior terkenal jadi wajar saja bila bahasanya bagus dan ceritanya mengalir.
Ini novel percintaan yang indah, kontroversial maupun klise karena mengandung unsur poligami, tapi pelajaran tentang kepasrahan dan cinta cukup membekas. Saya ingat pernah menangis ketika membaca bagian-bagian akhir novel ini.
Profile Image for Rita.
53 reviews6 followers
March 22, 2008
buset deh, ngajarin poligami
9 reviews1 follower
Read
June 18, 2009
Poligami mudah di teori dan lisan tp berat prakteknya .. Percaya deh .. Tak kan mudah membelah hati ..
Profile Image for Lelly.
13 reviews
August 21, 2009
Cerita Motinggo yang Islami. bercerita tentang kesabaran dan ketabahan seorang perempuan Cina moslem. dengan multiple cobaan.

Bagus, deh !
Profile Image for Chaniago.
104 reviews16 followers
March 5, 2012
memberikan pencerahan tentang berbagai jenjang dalam meraih takwa. Bagus!
Profile Image for Irul Hudonegoro.
10 reviews13 followers
April 2, 2015
Kisah yang cukup menarik. Sangat kental dengan Islam, namun agak terlalu vulgar untuk bumbu percintaannya.
3 reviews
September 2, 2016
karakter tokohnya dibuat sungguh terlalu. Ada yg terlalu baik, ada yg trlalu menyebalkan. bahasa yg digunakan juga terlalu vulgar ketika menceritakan kegiatan suami istri
Displaying 1 - 19 of 19 reviews