Anta Samsara adalah penderita skizofrenia yang mendengar suara-suara yang mengejeknya.
Ia mengalami ujian hidup semenjak ia masih dalam kandungan. Ia coba digugurkan oleh ibunya karena kemiskinan, akan tetapi adalah kehendak Tuhan yang membuatnya terus tumbuh dan lahir ke dunia.
Ia mengalami gejala awal skizofrenia semenjak masa sekolah, termasuk berusaha bunuh diri karena kecewa dengan perlakuan orang-orang di sekelilingnya yang tidak memahami keadaan dirinya.
Perjalanan jiwa dan ketidakmengertian keluarga membuatnya terombang-ambing dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
Ia kerapkali gagal dan terkadang menyerah. Ia tidak pernah sembuh secara sempurna, namun pada suatu hari ia menemukan filosofi yang membuatnya bangkit untuk menghadapi semua tantangan, yang membuatnya menjadi pribadi yang berbeda dengan sebelumnya.
Ia menemukan bahwa "derita bukanlah bencana, akan tetapi merupakan pengalaman bermakna".
Membaca psikomemoar ini akan membuat Anda menyadari bahwa perjalanan penderita skizofrenia tidaklah selalu berakhir buruk.
Ternyata ada sisi baik dari gangguan jiwa, yang mungkin tidak dialami oleh semua orang.
Bagi Anta Samsara kini, dunia punya arti yang lain sama sekali, tidak dalam makna negatif seperti dahulu.
Ia menyadari bahwa ada makna positif luar biasa yang dapat dipetik dari semua yang telah dijalaninya.
Editor’s Note Penulis berani menceritakan secara blak-blakan, bahkan sisi tergelapnya sekalipun.
Psikomemoar yang apik. Membahas gangguan jiwa skizofrenia dari sudut pandang pengalaman seorang Anta Samsara. Selama membaca sedikit banyak jadi ikut merasakan pergolakan jiwa yg merundung Anta. Betapa ia melalui hari-hari yang sulit sedari kecil hingga dewasa. Dibalik perjuangan Anta untuk sembuh, melawan pikiran buruk dan rasa takutnya, ternyata ia juga harus melawan stigma yang melekat di mata publik yang memandang bahwa penderita gangguan jiwa hanyalah rakyat kelas tiga yang tidak layak diperlakukan dengan baik.
Membaca buku ini menyadarkan saya bahwa in the end of the day, please just be mindful to others. Sebisa mungkin berbuat baik dan berkata baik ke orang lain yuk! Karena kita tidak tahu perjuangan apa yang sedang ia alami.
Entah kenapa topik yang diceritakan sangat berat, tetapi saat membacanya saya merasa ringan. Psikomemoar yang bikin saya memikirkan kondisi mental orang-orang sekitar saya yang mungkin tidak baik-baik saja, yang harus bertahan memerangi stigma. Saya cuma pengen bilang terima kasih manusia hebat, terima kasih sudah bertahan.
Saya menyesal karna terlambat baca ini, Gelombang Lautan Jiwa, Benar benar sebuah medan kontemplasi, betapa briliannya anta samsara seorang dengan penderita skizofrenia bisa survive dan berjuang dalam kehidupan ditengah keterbatasan mental, Psikomemoar yang dia tulis setiap hari ini bisa membuka mata hati kita meihat orang dengan gangguan jiwa ternyata tidak seburuk apa yang dikira, Dia sama memiliki kehidupan juga seperti kita, punya rasa sakit hati, cinta dan segala macam bentuk emosi, terbukti ketika dia sampai dua kali gagal ekspedisi bunuh dirinya dan diselamatkan Tuhan, hari demi hari lembaran lembaran pahit terlewati sehingga sampai pada suatu titik dia menemukan tentang makna hidup yang sebenarnya, ibarat sebuah harapan ditengah tengah keputus’asaan. Hellen Keller pernah Berkata:” Ada orang yang mendengar, tetapi tidak memperhatikan, melihat tetapi tidak menangkap makna yang dilihat, dan merasakan tetapi tidak menghayati, Aku menyadari bahwa orang yang buta adalah orang yang buta mata hatinya, bukan penglihatannya” great.
Note: Di salah satu catatannya dia mengungkapkan keinginannya untuk siapa saja harus mengadakan sebuah Inovasi Psikoterapi yang berbasis Islam, Insya Allah itu jadi PR bagi saya dan siapa saja yang ingin terlibat dalam bidang Kesehatan Mental.
Sekilas melihat cover, tadinya kupikir judul ini adlh sebuah novel, namun ketika menemukan tulisan 𝐭𝐫𝐮𝐞 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 ternyata judul ini berisi tentang catatan memoar penulis yg berjuang hidup di tengah ˢᵏⁱᶻᵒᶠʳᵉⁿⁱᵃ yg dialami.
Mengapa dan bagaimana ˢᵏⁱᶻᵒᶠʳᵉⁿⁱᵃ bisa dialami, serta bagaimana perjalanan berjuang penulis diceritakan berdasarkan Dinten (buku harian penulis). Apa yg dituliskan cukup jelas menggambarkan bagaimana waham dan halusinasi bisa terjadi kepada penulis dan teman² yg ia temui di beberapa tempat ikhtiarnya untuk sembuh. Melalui kisahnya, sangatlah membuka mata bahwa gangguan kejiwaan memang bisa dialami siapa saja terlepas dari seseorang itu rajin salat atau pun beribadah, karena memang ada beberapa faktor yg bisa mempengaruhinya.
Di buku ini penulis menuturkan bagaimana keluarga dan orang sekitar bereaksi atas sakit yg dialami penulis, membuka mata bahwa masyarakat kita memang masih perlu belajar banyak tentang kesehatan mental agar bisa memahami gangguan kejiwaan yg dialami seseorang sehingga bisa membantu proses penyembuhan bukan malah menambah luka dan menjadikan sakit yg dialaminya menjadi kronis. Maka penting utk membawanya kepada yg ahli dibidangnya (psikolog atau psikiater), bukan hanya kepada sosok yg mampu mengisi dari segi spiritual.
Pada akhirnya, penulis memang belum berhasil sembuh sepenuhnya, gejala ˢᵏⁱᶻᵒᶠʳᵉⁿⁱᵃ masih ia jumpai selayaknya gelombang yg pasang dan surut. Namun yg menarik dari kisahnya, penulis akhirnya mampu menemukan hal yg berharga dibalik derita yg Allah beri sehingga ia mampu bangkit dan tidak merasa kalah lagi dalam menjalani kehidupan.🌻🤍
Melalui buku ini, penulis mengajak kepada pejuang ˢᵏⁱᶻᵒᶠʳᵉⁿⁱᵃ utk tdk menyerah, bahwa keadaan sulit pasti akan terlewati dan pada akhirnya bisa menjalani kehidupan seperti manusia lainnya juga. 🌻🤍
#jejak_sibuku
This entire review has been hidden because of spoilers.
Anta mengajak ku untuk mengenali kehidupannya yang sulit karna Skizofrenia paranoid yang dideritanya. Buku ini banyak mengajarkanku untuk lebih banyak menyukuri kehidupan.
Ini adalah salah satu kalimat yang kusuka didalam buku ini : "Manusia boleh terluka saat ini tapi di masa depan mungkin ia akan menjadi manusia yang paling bahagia.-Anta Samsara"(hal 193)
This entire review has been hidden because of spoilers.
rasanya seperti ikut merasakan derita yang dialami Anta sebagai pengidap skizofrenia. penggambaran nyata lingkungan dan keluarga terhadap seseorang dengan gangguan jiwa benar-benar mencerminkan situasi sesungguhnya; stigma, pengobatan ‘alternatif’, mahalnya biaya pengobatan dll. sebagai seseorang yang mengalami depresi, sedikit banyak saya bisa relate dengan tulisan di buku ini.
Sebuah psikomemoar penyintas skizofrenia yang membuat saya salut kepada sang penulis karena bisa kuat melalui ini semua. Saya jadi memahami apa yang Ia rasakan. Begitu banyak memang yang salah menangani masalah kejiwaan dengan cara-cara yang malah menambah parah. Dukungan keluarga dan orang sekitar sangatlah diperlukan bagi mereka.
Buku ini sangat bagus untuk dibaca baik buat mereka yang berkecimpung di bidang pemulihan kesehatan mental maupun orang awam. Buku ini bernarasi dari sudut pandang orang pertama penderita skizofrenia yang berkebangsaan Indonesia. Melalui buku ini kita dapat mendapatkan gambaran kehidupan penderita skizofrenia, bagaimana proses pemulihatan kesehatannya dan tantangan serta problem apa yang masih dihadapi para penderita skizofrenia di Indonesia dalam rangka bisa pulih kembali baik dari segi institusi maupun dukungan dari pihak keluarga.
anta samsara, seorang penderita skizofrenia mampu menuliskan kisah hidupnya dalam buku gelombang lautan jiwa. kisah hidupnya dituliskan berdasarkan buku harian yang dimilikinya.
sungguh,,,seperti itukah penderitaan yang dirasakan oleh penderita skizofrenia. merasakan halusinasi yang sangat kuat seolah-olah itu semua adalah kenyataan. membaca tulisannya seperti membaca skenario hidup yang berliku yang diciptakan Tuhan untuknya. membuat pembaca merasakan bagaimana kisah hidup seorang penderita skizofrenia karena anta samsara menggunakan kata-kata "aku" untuk menyebutkan dirinya.