Jump to ratings and reviews
Rate this book

Derai-derai Cemara

Rate this book
SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

132 pages, Paperback

Published January 1, 1999

11 people are currently reading
282 people want to read

About the author

Chairil Anwar

26 books298 followers
Chairil Anwar was one of the famed figures of the “1945 Generation,” that group of luminaries who brought heat and light to Indonesian literature in the formative years of the new nation.

Through his poetry, Chairil Anwar succeeded in infusing Indonesian verse with a new spirit and bringing a new enthusiasm to Indonesia’s cultural arena. He also provided friends and acquaintances with never-ending tales to tell of his personal eccentricities, including his hobby of stealing books from the shops, his tendency to plagiarize from foreign poets, his many lovers, his numerous ailments, and his bohemian lifestyle.

Born on July 22, 1922 in Medan, North Sumatera, Chairil attended the Hollands Inlandsche School (HIS), a Dutch elementary school for “natives.” He then continued his education at the Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, a Dutch junior high school, but he dropped out before graduating. At the age of nineteen, after the divorce of his parents, Chairil moved with his mother to Jakarta where he came in contact with the literary world. Despite his unfinished education, Chairil had an active command of English, Dutch and German, and he filled his hours by reading an international selection of authors, including Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff and Edgar du Perron. These writers became his references, directly influencing his own poetry and later helping him shift the gaze of Indonesian literature to fall upon Europe.

This westward turn was one of the major differences between Chairil’s “1945 Generation” peers and the previous cohort of Indonesian writers, the “New Authors Generation” of the 1930s, who were more oriented toward traditional verse forms. Chairil’s poetry was not only topically fresh, it struggled with individual and existential issues, in contrast to the writers of the “New Authors Generation” who were more concerned with giving voice to nationalist enthusiasm.

Chairil began to gain recognition as a poet with the publication of “Nisan” (“Gravestone”) in 1942. At that time, he was only twenty years old. He had apparently been shocked by the death of his grandmother, which awakened him to the fact that death could at any moment tear one away from life. Most of the poems he wrote after this point referred, at least implicitly, to this awareness of death. All of his poems—the originals, the adaptations and those suspected of being plagiarisms—have been collected in three books: Deru Campur Debu (“Roar Mixed with Dust,” 1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (“Sharp Pebbles The Seized and the Severed,” 1949); and Tiga Menguak Takdir (“Three Tear Open Fate,” 1950, a collection of poems with Asrul Sani and Rivai Apin).

Chairil’s poetic vitality was never in balance with his physical condition, which grew weaker as a result of his chaotic lifestyle. Before he could turn twenty-seven, he had already contracted a number of illnesses. On April 28, 1949, Chairil Anwar passed away at the CBZ Hospital (now R.S. Ciptomangunkusomo) in Jakarta. And indeed, he was buried at Karet Cemetery the next day. In memory of the words he left behind, April 28th is now celebrated as Literature Day in Indonesia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
75 (39%)
4 stars
66 (34%)
3 stars
39 (20%)
2 stars
5 (2%)
1 star
4 (2%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Johnny Wirjosandjojo.
2 reviews5 followers
September 14, 2012
Saya mendapatkan buku ini dari seseorang yang bermukim di Batam. Tidak saya tawar harganya, saya langsung deal saja karena sudah lama saya buru buku ini, hasilnya: saya kecewa.

Bajingan betul!

Dalam "Pengantar Penerbit" dikatakan: Horison (penerbit) bekerjasama dengan Evawani Alissa, puteri kandung penyair ini, membuat sesuatu mengenang almarhum... bla bla bla...

Hell, tidak ada hal baru kecuali apa-apa yang diangkat dalam kata pengantar-kata pembuka-kata penutup.

Jika pingin bikin suatu kenangan, kenapa gak ada foto-foto Chairil, foto-foto keluarga Chairil, puisi-prosa terjemahan Chairil? Mana terjemahan Datang Dara, Hilang Dara? Mana terjemahan Huesca? Kenapa tidak ada kajian yang mendalam?

Kenangan mustinya dibikin secara serius, bukan cuma suruh Evawani bikin kata pengantar, minta Asrul bikin kata pembuka, minta Agus R. Sarjono bikin kata penutup sebagai tambahan puisi-prosa Chairil yang tinggal disalin saja. Apalagi di bagian belakang malah ada "Bibliografi Mengenai Chairil Anwar dan Karyanya" yang ada tanda bintangnya dengan keterangan: Dari Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang (editor Pamusuk Eneste) bla bla...

Kalau mau serius, salin juga semua artikel (setidak-tidaknya potongan artikel) lalu gabungkan ke buku ini, sama rekaman suara Chairil juga (kalau ada)...

Kalau kenangan mustinya Horison mengumpulkan semua bagian dari Chairil yang tersisa...

Ini sih cuma dolanan, kenang-dolan-an... Gak ada seriusnya!

Profile Image for Ahmad.
Author 8 books37 followers
February 1, 2010
sebagai buku kumpulan Chairil Anwar, "Derai'Derai Cemara" adalah yang paling lengkap menurut saya. Di buku ini ada puisi, esai, dan semacam pidato Chairil Anwar. Bahkan, pembaca disuguhkan pada cerita nostalgia Asrul Sani dan anak dari Chairil Anwar sendiri.

Ya, setidaknya, saya mengerti kisah di balik "Aku" yang sebenarnya bukan puisi patriotik. Bahkan, saya baru melihat dengan jelas bahwa "Diponegoro" tak benar-benar keluar dari hati Chairil Anwar. Pas untuk dibaca, seperti yang dibilangnya sendiri pada istrinya, "Jika aku mati muda, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku." Buku ini boleh jadi adalah batu nisannya.
Profile Image for Ageng Indra.
119 reviews24 followers
December 18, 2018
Pembacaan ulang saya pada puisi-puisi Chairil secara intens ternyata memakan waktu sampai setengah tahun lebih. Tampaknya saya terlanjur tidak punya kepekaan puitis, laporan Tempo tentang Chairil dan Aku-nya Sjumandjaja jelas lebih banyak mempengaruhi batin saya ketimbang membaca puisinya secara langsung.
Profile Image for Nanny SA.
343 reviews41 followers
May 11, 2014
Buku ini selain memuat puisi-puisi juga memuat prosa-prosa karya Chairil Anwar, di samping itu pengantar dari anaknya : Evawani Allisa Chairil Anwar dan kata pembuka dari Asrul Sani sangat mencerahkan untuk mengetahui karakter dan sejarah Chairil Anwar sebagai seorang seniman. Begitupun kata penutup dari Agus R Sarjono menambah pengetahuan tentang puisi dan bagaimana Chairil bisa menjadi legenda dalam perpuisian di Indonesia.Sketsa yang bernada muram oleh Herry Dim, serta lukisan cover yang unik dari Jeihan Sukmantoro, menambah nilai bagi buku ini.

Derai-derai Cemara diterbitkan pertamakali kali tahun 1999 untuk mengenang setengah abad wafatnya Chairil Anwar, yang meninggal pada tanggal 28 april 1949 ( 1922 -1949 ).

- Dimulai dengan kata pengantar dari anaknya Evawani Allisa Chairil Anwar :Kenangan Menderai sampai Jauh Chairil Anwar meninggal ketika Eva masih berumur 10 bulan. Pertamakali mengetahui bahwa Chairil Anwar adalah ayahnya ketika kelas 3 SR (Sekolah rakyat) thn. 1955, gurunyalah yang memberitahu sambil menunjukkan buku H.B. Yasin yang di dalamnya selain memuat foto Ch.A juga ada foto dirinya, tapi ibunya membantah. Baru ketika duduk di kelas 5 dia deberitahu yang sebenarnya. Rupanya keluarga sebelumnya tidak memberitahukan mengenai hal ini karena menjaga perasaannya yang masih kecil, tidak ingin memberi trauma punya ayah tiri, karena saat itu dia telah mempunyai ayah tiri yang baik pak Achmad Natakusumah.

-Kata Pembuka dari Asrul Sani: Suatu Sore Gerimis di Bogor,28 april 1949 Pertama kali mendengar kabar kematian Ch.A. saat Asrul tinggal di Bogor

Asrul berteman dengan Ch.A. sejak masih belia, pertemuan pertama waktu masih zaman Jepang di sebuah toko buku bekas d Pasar Senen. Mereka bersama-sama berkembang dalam dunia kepenyairan . Asrul menceritakan proses dan alasan pembuatan sajak AKU yang legendaris dan sajak Diponegoro yang menurutnya jauh di bawah ukuran sajak-sajaknya yang lain.
Mereka berdua saling mempengaruhi, tidak jarang karena masalah puisi mereka bertengkar hebat, tapi tidak lama selalu berbaikan lagi bahkan menjadikan mereka semakin akrab (hal.xvi). Pada waktu itulah bersama Rivai Apin mereka bertiga melahirkan kumpulan puisi yang melegendaris Tiga MenguakTakdir, sayang ketika buku ini diterbitkan Balai Pustaka 1950, Chairil Anwar telah tiada. Mereka bertiga lah pelopor Angkatan '45.

- Karya-karya Chairil Anwar

1. Sajak-sajak 1942 - 1949
Beberapa sajaknya yang terkenal :

* AKU
Menurut Asrul Sani sajak AKU ( dibuat Maret1943 )yang selalu dibawakan berapi-api dengan kepalan tertinju, bukanlah sajak pemberontakan, tapi sebuah pamitan yang getir dari ayahnya yang mencoba membujuk dia untuk kembali ke Medan tinggal bersama ayahnya. ia menolak dan memilih kehidupan yang jauh dari berkecukupan. (hal. xiii),

* Cintaku jauh di Pulau dibuat thn. 1946. Pernah diangkat ke layar lebar dan dibuat musikalisasinya.

* Sajak Doa yang syahdu ini dibuat tanggal 13 November 1943


* Derai-derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum ada akhirnya kita menyerah - ( 1949 )



2-sajak-sajak saduran : 2 buah sajak saduran yaitu "Kepada Peminta-minta, dan "Kerawang-Bekasi" yang termasuk sajak yang terkenal dan diperkenalkan disekolah-sekolah

3- Prosa 1943 - 1949
Tadinya saya berharap bisa 'mengerti' prosa-prosa yang ditulis oleh Chairil Anwar ini tapi ternyata bahasa nya terlalu tinggi buat saya, jujur kurang bisa memaknai mungkin karena ketidakmengertian saya.

- Kata penutup dari Agus R Sarjono: Chairil Menderai Sampai Jauh
Agus mengajak kita untuk menilik kehadiran Chairil di tengah jamannya, tentu dia bukan tumbuh di ruang kosong .- Chairil tumbuh di masa 'revolusioner' masa peralihan dari yang terjajah menjadi merdeka. -saat itupun tumbuh berbagai pemikirian dan ideologi.- Dia tumbuh dalam sebuah komunitas diskursif modernitas awal yang menolak ketentraman lama. Tapi sastrawan yang menulis pada zaman itu bukan hanya Ch.A, namun mengapa diantara banyak nama justru Ch.A. yang mengemuka. Jadi pasti ada sebab lain.

Pada dasarnya karya sastra terbagi dua :
1. Sastra Mimbar : Merupakan karya sastra yang bertema zamannya dengan cara menghadirkan tokoh hero (Prosa) atau akupublik (dalam Puisi ) dalam upaya memberi jawaban atau tanggapan bagi tema-tema yang bersangkutan. Mendapatkan kepenuhan maknanya jika ditulis dan dibaca dalam kesadaran akan kebersamaan dengan banyak orang. Jadi berkehendak pada sosialisasi
2. Sastra Kamar :menggarap tema-tema keseharian, tokoh-tokohnya diambil dari sosok yang ada sehari-hari.memiliki alur yang cair. Mendapat kepenuhan maknanya jika ditulis dan dibaca dalam kesadaran akan kesendirian..Berkehendak pada individulisaasi.
Agus mengibaratkan : Sastra Mimbar seperti shalat akbar, shalat Ied atau shala Istisqo, yang mendapat kepenuhan makna ketika kita sadar bahwa kita tengah bersama banyak orang. Sedang Sasta Kamar ibarat shalat Istikharah atau tahajud yang mendapat maknanya jika kita sadar bahwa kita tengah sendiri.
Nah..seandainya Ch.A. hanya menuliskansajak yang bermutu tinggi namun berjenis sastra kamar, seperti : 'Senja di Pelabuhan Kecil', ' Derai-derai Cemara' atau 'Dalam Kereta', dipastikan bahwa namanya tidak akan sebesar sekarang. nama Ch.A. nampaknya besar oleh karena saja-sajaknya yang berjenis sastra Mimbar seperti : 'Aku,' 'Kerawang Bekasi', Perjanjian dengan Bung Karno', dll.

Sajak-sajak Ch.A. yang berjenis Mimbar menjadi andil besar bagi kehadirannya menjadi popler dan melegenda. Penyair generasi berikutnya yang populer dengan sastra Mimbar nya adalah W.S. Rendra..

Walaupun saya tidak pandai mengapresiasi puisi tapi saya bisa menikmati walaupun tidak paham atau kenikmatan dalam ketidakpahaman (semoga kalimat ini tidak membuingungkan) dan anehnya saya lebih menyukai sasta kamarnya :)


Riwayat
Chairil Anwar lahir di Medan tgl. 26 Juli 1922, Ayahnya bernama Toeloes berasal dari 50 kota,Sumatra Barat menjadi Bupati Indragiri kepilauan Riau. Ibunya Saleha berasal dari Kota Gadang, Sumatrera Barat. .Bersekolah Belanda dari HIS sampa tingkat MULO (setingkat sekolah menengah pertama) ketika itu dia sudah menampakkan kecerdasan dan berbakat menulis. Ketika kelas dua hijrah ke Jakarta mengikuti ibunya sebagai protes terhadap ayahnya yang menikah dan bercerai dengan ibunya. Sebagai pelajar MULO, Ch.A. menguasai 3 bahasa yaitu Belanda, Inggris dan Jerman. pada masa putus sekolah banyak mengisi waktunya dengan banyak membaca sastra dunia.. Ch.A. menikah dengan Hapsah Wiradiredja asal Sukabumi, Jawa Barat mempunyai seorang anak Evawani Alisa yang lahir 17 Juni 1948.
Semasa hidupnya Ch.A. telah mnerbitkan tiga kumpulan puisi yaitu, Deru campur Debu (1949 ), Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus ( 1949 ), Tiga Menguak Takdir (1950) bersama Asrul Sani dan Rivai Apin. Chairil Anwar meninggal tanggal 28 April 1949 ketikaberusia 26 tahun 9 bulan karena penyakit paru-paru. Seperti dalam salah satu bait puisinya d i Karet (daerahku y.a.d) , dia dikebumikan di pemakaman Karet, Jakarta

Chairil Anwar telah mampu mengilhami kita untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan estetika dalam bahasa Indonesia yang penuh tenaga (hal.120)
6 reviews
February 16, 2025
Buku yang tidak sengaja aku temui di rak perpustakaan sekolah, kebetulan waktu itu aku masih di sekolah menengah pertama. Puisi-puisi yang melankolis tapi jadi refleksi paling mendalam. Sebagai pembaca, aku melihat buku ini sebagai contemplation of time, the inevitability of change, and loneliness. Bahasa-bahasa sederhana yang digunakan Anwar sangat kaya akan makna, membuat setiap bait puisi-puisinya terasa sangat nyata.
Profile Image for Samil.
4 reviews
October 24, 2025
AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu ribu tahun lagi


Puisi dia atas merupakan puisi favorit saya, dari pengarang Chairil Anwar.
Profile Image for zivana’s.
3 reviews
October 17, 2025
i love how chairil anwar wrote ‘Cinta Jatuh di Pulau’ & ‘Dari Dia’ ⭐️
Profile Image for Betri arisa.
20 reviews6 followers
October 30, 2007
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

dalam kumpulan puisi dengan title:derai2 cemara ini,Puisi terbaik chairil menurut gw "derai2 cemara" dan "cintaku jauh di pulau"...
dua puisi yang memaparkan keputusasaan sang penyair, akan hidup..yang terasa kian dekat pada kematian, gambaran rasa sakit yang sederhana.tidak mendayu tetapi tragis..
Profile Image for free.
61 reviews21 followers
August 16, 2009
bagi saya, bagian yang paling menarik dari buku ini adalah kata pembuka dari Asrul Sani, Suatu Sore Gerimis di Bogor, 28 April 1949, terutama pada cerita tentang pertengkaran hebat mereka...

"Pernah kami bertengkar hebar di jalan raya. Dia berteriak dari Jalan Gajah Mada dan saya membalas teriakannya dari seberangnya, di Jalan Hayam Wuruk. Kedua jalan itu dipisah oleh Kali Ciliwung.
Dia marah karena saya menulis artikel yang mengeritik sajaknya di Mimbar Indonesia. Saya bilang, isi sajaknya kosong. Terlalu emosional. Tapi sesampai di ujung jalan, amarah kami mereda. Kami bersalaman, berbaik lagi, dan kemudian jadi semakin akrab."
(hal. xvi)

membaca bagian tersebut seakan membawa kita pada zaman di mana perbedaan pemikiran, perbedaan ide, perbedaan pandangan bukanlah hal yang luar biasa. kita boleh berbeda, tetapi pertemanan tidak akan hilang.

di luar puisi-puisinya, tulisan-tulisan lain di buku tersebut lebih menarik karena tidak mudah mendapatkannya. berbeda dengan puisi-puisinya yang sudah menjadi bacaan wajib di sekolah (bukan berarti puisinya tidak penting).
Profile Image for Ayu Welirang.
Author 17 books93 followers
March 18, 2012
Ketika menjelang hari raya, saya menyempatkan diri untuk meminjam buku ini dari seorang kakak sekaligus senior di organisasi pecinta alam. Beberapa puisi kakak saya itu memang terilhami dari Chairil Anwar. Setelah puas membaca "Aku Ini Binatang Jalang", saya jadi tertarik untuk meminjam buku puisinya lagi. Hehe.

Saya memilih ini untuk teman bacaan selama bulan puasa. Bisa sekaligus bermuhasabah juga, meski tak jarang menemui keambiguan bahasa atau ketidakjelasan profil Chairil Anwar sendiri. Tapi itu bisa dikesampingkan karena sesungguhnya, dengan membaca ini saya jadi sadar kalau Chairil Anwar memang mencoba menangkap refleksi diri, kecintaan-kecintaannya akan sesuatu, dan kehidupannya yang dijelaskan secara kasat mata dalam puisi-puisinya yang memiliki ambiguitas tinggi.
Profile Image for Mahadewi.
9 reviews2 followers
September 23, 2014
Sebuah anekdot tentang Chairil Anwar daripada satu-satunya puterinya. Membaca naskhah membuat saya rasa dekat dan kenal Chairil Anwar seperti saudara sendiri. Kompilasi sajak dalam 'Derai-derai Cemara' membuat saya jadi lebih melankolik daripada berbahagia. Aduhai, sedih itu ubat hati saya, rupanya.
Profile Image for Mochammad Taufik.
60 reviews2 followers
January 5, 2016
....
Hidup hanya menunda kekalahan.
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah.
Dan tahu, ada yang tetao tidak diucapkan.
Sebelum pada akhirnya kita menyerah.

(Derai-Derai Cemara, 1949)

Salah satu puisi paling akhir Chairil beberapa bulan sebelum ia meninggal. Seperti isyarat bahwa ia akan pergi untuk selama-lamanya.
Profile Image for Amelia.
32 reviews32 followers
September 5, 2012
Saya ngebaca buku ini (mungkin) sekitar kelas 1 SMP. Buku ini yg pertama kali ngebuat saya jd jatuh hati sama yg namanya sastra. Bahkan, setelahnya saya jadi rajin nulis-nulis puisi di buku harian. Ah, tapi sayang bgt, sekarang bukunya raib entah kemana. :(
Profile Image for Hanif Amin.
11 reviews
June 2, 2015
Terlepas dari pengenalan - pengenalan mengenai Chairil Anwar dan lain-lain, saya kira karya - karya Chairil benar - benar indah dan berkualitas.

Bagi saya, dia bisa menyajikan puisi berkualitas yang mengalir. Serta juga kumpulan prosa dan pidatonya yang menarik.
Profile Image for Hana Ahmad.
57 reviews27 followers
July 20, 2013
Percintaan, kelahiran, kematian, kesepian, matahari dan bulan, ketuhanan - inilah pokok-pokok yang berulang-ulang telah mengharukan seniman - Chairil Anwar
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.