Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
In Jendela-Jendela (The Windows) the main character is June, a Javanese woman who has experience cultures outside her traditions. Tell a story how life is not like walking in the park, how marriage life is not a happily ever after story. More important, how things are different in other countries. Set in different places, such as Indonesia, Singapore and USA, this novel tries to unfold human relationship stories.

152 pages, Paperback

First published July 1, 2001

38 people are currently reading
461 people want to read

About the author

Fira Basuki

35 books152 followers
Fira Basuki (born June 7, 1972) is a well-known Indonesian novelist. Arguably her most famous work is her trilogy debut consisting of Jendela-Jendela (The Windows), Pintu (The Door) and Atap (The Roof). The trilogy concerning the journeys of Javanese brother and sister Bowo and June; from graduating high school, studying abroad in the US, their meta-physical experiences (especially Bowo's "second sight" and aura-reading capabilities), relationships with people of different nationalities (especially June's Tibetan husband), and their return home to Indonesia.

Her novel, Brownies, was adapted to a movie which was nominated for Best Picture at the 2005 Indonesian Film Festival, eventually losing out to Gie (though Brownies did earn a Best Director Citra award for Hanung Bramantyo). She recently launched to widespread media acclaim a popular biography on media person Wimar Witoelar, her first work in non-fiction.

Her latest novel, scheduled to be published July 2007, is entitled Astral Astria. As per August 2007, she works as Chief Editor at the Indonesian edition of Cosmopolitan Magazine.

(http://en.wikipedia.org/wiki/Fira_Basuki)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
176 (10%)
4 stars
382 (23%)
3 stars
717 (43%)
2 stars
303 (18%)
1 star
76 (4%)
Displaying 1 - 30 of 95 reviews
Profile Image for Neeta.
4 reviews
June 4, 2013
I tried to read it several times but still couldn't grab anything than a shallow reading. This is what i called a low quality novella. Takjub juga melihat buku dengan kualitas seperti ini mendapat pujian dari nama2 beken seperti Arswendo Atmowiloto dan Sapardi D. Damono...entahlah
Profile Image for Lila Cyclist.
856 reviews71 followers
April 17, 2015
Pernah membaca buku absurd? Saya pernah beberapa kali. Pernah membaca buku aneh yang ditulis penulis terkenal? Baru kali ini. Membaca buku aneh oleh penulis baru, buat saya tak jadi soal. Tapi kalo yang nulis adalah pemilik nama kondang macam Fira Basuki, dengan endorser penulis beken Arswendo Atmowilo dan Sapardi Djoko D, disitu saya terkadang menjadi merasa aneh...

Awalnya saya pikir ini adalah tulisan seputar pengamatan si aku di buku ini tentang para tetangga dari kacamatanya yang dilihat dari kaca jendela apartemen murahnya. Ternyata saya salah, saudara saudara. Cerita di buku ini berputar di keliling si aku. Dari mulai bagaimana ia terdampar di Apartemen murah di Singapura, bagaimana perkenalan ia dengan suaminya yang berasal dari Tibet, bagaimana ia pernah berpacaran dengan anak konglomerat dan mendapat perlakuan kasar, bagaimana ia bisa menjadi seorang istri yang boros yang hobi menjual ini itu dan mendapat maaf dari suaminya yang baik hati, bagaimana seorang sahabat tiba-tiba naksir dirinya dan sempat bersenang senang secara seksual, bagaimana sengitnya ia dengan teman kantornya yang narsis (dan ia juga narsis, karena dirinya, dirinya terus yang ia ceritakan), dan bagaimana bagaimana yang lain. Selama membaca, saya menunggu sesuatu yang 'epic' hingga membuat buku ini mendapat endorsement dari dua penulis kawakan tadi, ternyata ga ada yang istimewa. Informasi tentang ini itu yang terasa nyempil nyempil dipaksa menjadikan buku semakin terasa aneh sebagai buku pertama dari seri Jendela Jendela. Cerita tentang dirinya dan informasi ini itunya terasa tumpang tindih tak jelas. Kalo misal ingin membuat cerita seputar drama tentang dirinya, kenapa ada pendapatnya tentang reformasi 1998 dan kecintaannya membaca buku Jayabaya sekaligus menyitir syair di dalam bukunya lengkap dengan terjemahannya, kekerasan dalam rumah tangga yang dialami seorang teman, hingga sakit yang ia alami secara aneh hingga butuh perawatan seorang 'pintar'. Sebenarnya si aku ini mau ngomong apa sih, hingga bercerita tak keruan begini? Maksudnya mungkin ingin membuat buku ini kompleks dengan isyu isyu di sekitar dan cara pandangnya terhadap sekitar, tapi buat saya itu malah membuat buku terasa 'ajaib', ajaib dengan memutar mata, bukan ajaib membelalak takjub.

Ah, sudahlah. Sepertinya saya sudahi saja review ajib saya ini juga. Perkenalan pertama dengan penulis kondang tidak berkesan baik, jadi bakal butuh waktu lama untuk melanjutkan perkenalan berikutnya dengan bukunya yang lain. Ngga fair juga jika saya menilai buku satu untuk mutu buku-bukunya yang lain. Tapi yang jelas ngga saat ini :))
Profile Image for Femmy.
Author 34 books539 followers
August 10, 2007
Banyak yang menyukai gaya bertutur Fira Basuki yang seperti mengobrol, tapi aku pribadi merasa tulisannya jadi melantur ke mana-mana, sehingga penceritaannya tidak fokus dan tidak padu.

Selain itu, aku risih juga membaca tentang tokoh cerita Indonesia yang mempraktikkan seks bebas, lalu berselingkuh pula, dan sepertinya tanpa penyesalan. Secara umum aku memang tidak menyukai cerita tentang perselingkuhan, meskipun ada juga satu-dua yang kusukai, jika ditulis dengan baik, seperti misalnya Supernova 1-nya Dee.

Anyway, berhubung aku kurang suka isi ceritanya maupun gaya berceritanya, aku jadi tak bisa menikmati buku ini.
Profile Image for Arif Ferdian.
10 reviews
December 1, 2010
Buku terbaik fira basuki menurut saya... pertama baca langsung suka, karena dijamannya masih sedikit pilihan buku indonesia yang bagus, kecuali buku2 remy silado, ayu utami dan beberapa yang lain nya [tapi gak banyak ya...... *lupa duluan fibas apa dee ya??]
sempat ga sabaran nunggu pintu dan atap, begitu baca pintu mulai kecewa, gak se'enak' jendela2, tetap beli atap dan saya bosen.... lanjut biru dan saya menyerah.... jadi dari 4 buku fira basuki yang saya baca, jendele-jendela jagoannya... seperti dengerin curhat temen cewek...
Profile Image for Prima Prima.
11 reviews
June 16, 2016
Lah ini baru buku Menyeramkan. Sedikit diksi membingungkan, mutlak orisinil. Perselingkuhan dan tetek bengek masalah keluarga mewarnai klimaksnya; ditengah-tengah entah mengapa mencoba mensisipkan falsafah mbah Ranggawarsita dan politik Indonesia pra-pasca reformasi yang menurut saya tidak penting sama sekali--tapi tetap saja buku ini Menyeramkan! Tidak sabar untuk melanjutkan Pintu dan Atap, tapi saya mohon maaf 1Q84 dan Pulang sudah saya endapkan terlalu lama "minta ditamatkan".

Novel Menyeramkan! Mbak Fira, mana yang lain?
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
October 13, 2009
Buku pertama Fira Basuki yang aku baca, buku ini merupakan buku pertama dari trilogi Jendela-jendela, Pintu, dan Atap. Menceritakan tentang June dan suaminya dengan kisah-kisah diseputar lingkungan tempat tinggal mereka. Hubungan antar manusia dan perbedaan kebudayaan menjadi beberapa hal yang banyak diungkapkan.
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews112 followers
November 30, 2012
Suka sama Jigme. Entah ya aku pikir ini lebih banyak cerita soal June-Jigme tapi ternyata lebih banyak kehidupan June.

Cerita soal Amerika, Singapura dan Indonesia. Kurang cerita Jigme-nya. Tapi penerimaan Jigme atas June ini hebat lah.
Profile Image for Abduh Khoir.
7 reviews
July 20, 2025
Sebenarnya ini triologi pertama yang saya baca saat di bangku SMP. Di usia sekarang, membaca ulang cerita ini seperti kilas balik ke masa dulu. Tetapi dengan bantuan konteks. Artinya saya bisa tahu bentuk 'lucky charms' Tibet, khatag dan kidung-kidung yang disempilkan dalam cerita yang melebar.
Buku ini menurut saya seperti diari pribadi. Penulis berusaha mendekatkan realita ke dalam karya tanpa meninggalkan 'rutinitas' apa yang sedang terjadi. Saya membaca ulang buku ini sebagai pribadi yang baru, tetapi masih bisa menemukan jiwa SMP saya yang labil dan FOMO dengan novel-novel berbau 'luar negeri' di jaman itu
Profile Image for Antin Aprianti.
46 reviews1 follower
July 26, 2020
Aku nggak paham ini buku mau cerita tentang apa. Gaya penulisnya yang seolah sedang bercerita malah bikin cerita nggak jelas ke mana-mana, tapi nggak ada intinya.

Dan berakhir dengan menggantung. Paham sih ini buku trilogi tapi aku pribadi nggak tertarik dan penasaran sama buku selanjutnya.
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
March 16, 2014
Semuanya bermula saat June. S menyapa langit Singapura. Kepindahannya ke HDB (Housing Development Board), rumah susun yang memang dibangung oleh pemerintah Singapura, membuatnya memperhatikan jendela-jendela para tetangga. June tinggal bersama dengan Jigme, suaminya yang seorang Tibet. Keduanya bertemu saat June menuntut ilmu di Pittsburg, negara kecil yang katanya akan terlibas dalam satu kerjapan mata. Mulanya June merasa hidupnya sempurna, baik, tidak seperti bayangan mamanya, tapi semenjak krismon yang melanda, June mulai khawatir, kalau hidupnya, yang tergolong kosumerisme, akan membuat keluarga kecilnya kian terpuruk.



"Jendela-Jendela" memang agak sulit jika ingin diterjemahkan ke dalam sebuah sinopsis. Lingkup plotnya luas, terlebih dengan cerita yang dibungkus layaknya sebuah memoar. Prolognya bergerak, menanjak, menghadapi konflik, namun, belum yang satu selesai, koflik baru kembali melahap, begitulah cara Fira Basuki menuturkan cerita seorang June. Pembagian babnya seperti membias, tidak berkubu, seperti halnya buku-buku lain.

Kalau boleh berkomentar, sesungguhnya "Jendela-Jendela" mengambil ide cerita yang sederhana. Ide tentang seorang ekspatriat yang baru saja menikah dan hijrah ke negeri Singapura. Namun, Fira Basuki berhasil membawa ceritanya dengan begitu bernyawa. Bukan hanya dari narasi seorang June. Mirip dengan "Winter's Dream" karya Maggie Tiojakin, Fira Basuki juga kerap menyelipkan berbagai informasi menarik tentang masa-masa kuliah seorang June dan mantan-mantan kekasihnya terdahulu, berikut tabiat-tabiatnya yang kepalang unik. Ada Aji, Didit, Jigme, dan terakhir adalah Dean.

Konfliknya tidak mengada-ada. Sebagaimana seorang perempuan normal, berdebatan internal, sekaligus permasalahan perempuan juga dituturkan tanpa ditutup-tutupi. Fira Basuki berhasil menyampaikannya dengan gaya bahasa yang menarik, tidak menjenuhnya, dan terasa inspiratif.

Alur ceritanya bergerak cepat. Cerkas. Dan enak untuk dinikmati. Yang paling gue suka adalah bagaimana cara Fira Basuki dapat mengajak pembaca untuk bolak-balik menilik masa lalunya dengan sangat mengalir. Sering dalam sebuah flashback, penulis kurang piawai dalam menggiring pembaca, akibatnya flashback terasa mengganjal, namun dalam "Jendela-Jendela", Fira Basuki sengaja memanfaatkan serba-serbi cerita sisipan itu sebagai sebuah bumbui yang merupakan adisi pas bagi ide cerita sederhananya.

Fira Basuki juga tidak melewatkan isu-isu politik. Kendati berlatarbelakangkan sebuah HBD di Singapura, namun, dengan kacamata seorang ekspatriat Indonesia, June. S kerap mengomentari permasalahan politik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun itu. Fira Basuki berusaha menjejalkan segala macam masalah hidup ke dalam deretan kata yang dirangkainya secara sederhana. Tak lupa dialog yang tetap menarik untuk disimak, sekilas, sebelum membuka buku secara sengaja, dan membaca skimming, gue kira, Fira Basuki akan mengangkat dialog-dialog ringan mirip Metropop, mengingat kebiasannya mengangkat "slang words" ke dalam konversasi sehari-hari. Akan tetapi, menghadapi itu, gue rasa, Fira Basuki memang sengaja meramu keduanya (dialog ringan dan konflik yang kompleks) menjadi semua mahakarya yang menarik.

Secara keseluruhan "Jendela-Jendela" ingin mengafirmasikan pembacanya untuk tahu sebuah kesulitan hidup. Bukan secara eksternal, namun secara internal dengan kacamata seorang perempuan. Dari lima, gue beri bintang empat setengah. Menarik. Mendidik. Inspiratif. Sekaligus menghibur :)
Profile Image for Itja.
195 reviews48 followers
December 5, 2012
jen.de.la / jendela / n 1 Lubang yang dapat diberi tutup, umumnya berbentuk segi empat, dan berfungsi sebagai tempat keluar masuk udara; tingkap; 2 Lubang angin. (KBBI)

Novel Jendela-jendela ini merupakan bagian pertama dari trilogi "Jendela-Jendela", "Pintu", dan "Atap". Bercerita tentang pasangan muda beda kewarganegaraan yang tinggal di Singapura, mereka adalah Jigme dan June. June adalah wanita Indonesia yang menikah dengan pria Tibet. Hubungan mereka terjalin semenjak June memutuskan transfer sekolah dari Pittsburg ke Wichita State University usai ia mengakhiri hubungan cintanya dengan Aji Saka. June yang biasa hidup serba kecukupan, setelah menikah mengikuti sang suami yang bekerja di Singapura dan hidup prihatin disebuah rumah susun kumuh.

Sebenarnya saya penasaran membaca novel-novel Fira Basuki setelah ngobrol dengan seorang kawan yang pengagum berat novelis satu ini, jadi Jendela-jendela merupakan yang pertama saya baca.
Awalnya saya suka dengan gaya bahasa penulisnya, tapi lama-lama saya jadi sebal dan gemas pada karakter June yang tidak tegas. Disaat ekonomi keluarga pasangan muda ini mulai meningkat (Bisa tinggal di apartemen layak dan June mendapat pekerjaan), June malah tergiur pada pesona Dean yang tak lain adalah sahabat sang suami. Setelah Dean dengan santai meninggalkanya bagai pel kotor, barulah June berterus terang pada Jigme. Saya rasa betapa bodohnya seorang June yang memiliki suami begitu sabar dan setia, terpesona pada lelaki macam Dean.

Setting cerita terjadi pada saat awal krisi moneter. Di novel ini sedikit banyak Fira Basuki bercerita tentang gonjang-ganjing perekonomian Indonesia yang berdampak terhadap Singapura.
Ada bagian cerita yang saya rasa dipaksakan yaitu "Si Pengagum Rahasia" June yang sering mengirim email kepadanya. Membuat saya terfokus penasaran kira-kira siapa gerangan? Aji Saka, Didit (mantan pacar june saat SMU), atau Dean?

Novel ini sangat ringan dan mengalir, enak sebagai selingan bacaan santai. Satu lagi, dalam novel ini menyebut-nyebut The Wizard of Oz dan The Phantom of the Opera (sewaktu pertamakali baca, saya belum familiar dengan keduanya dan membuat saya penasaran berat, hehe)

Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
February 18, 2015
Entah karena baca duluan, gw lebih suka Pintu daripada buku pertama ini. Karena
1). gw gak gitu paham dengan analogi jendela di sini. Apakah jendela yg dimaksud June menggambarkan apartemen dan suasana hati serta konfliknya saat dia tinggal di sana? Entahlah. Mungkin kebegoan gw yg bikin gw gagal-paham akut

2.) affair dan kehidupan free sex June. Ok, gw tau kalo yg kayak gitu emang hak masing-masing orang. Tapi, nggak nyaman aja mbayanginnya.

3). penuturan dalam buku ini suka melebar kemana-mana sampe kadang gw bingung, ini awalnya ngomong apa sih kok mendadak nyampe sini?

4).endingnya nggantung!! *bejek-bejek X-Man*. Semoga kejawab di buku terakhir (yang entah kudu minjem di mana, berhubung di sini nggak ada).

Karena buku ini mungkin bercerita tentang periode jenuh seorang June Larasati Subagio, jadi gw sabar-sabar aja baca kalimat-kalimat JUne yg isinya sumpek, bosen, bete, de es be de es be. Dua bintang full gw berikan buat pengenalan budaya Tibet-nya. Jujur, bapak gw adalah pecinta budaya Tibet dan daratan Cina, jadi mungkin ke-influence dikit (padahal ya gw nggak ngerti apa-apa). Tapi via Jigme (atau mungkin Tuan Palden Tenzing Galang), gw disuguhi sebuah budaya kuno dengan kepercayaan-kepercayaannya yang menarik. Terima kasih untuk itu, Mbak Fira Basuki :)
Profile Image for Yusrina Nur Dini.
8 reviews
January 8, 2015
Saya membaca Jendela-Jendela karena saya suka Astral Astria. Saya kira ceritanya akan seperti 'apa'. Ternyata 'tidak apa-apa'. Saya pikir ceritanya akan 'bagaimana'. Ternyata 'tidak bagaimana-bagaimana'.

Pertama, saya tidak mengerti hubungan antara judul dengan isinya. Mungkin cuma saya yang tidak mengerti, tapi entahlah. Memang setiap pindah tempat tinggal, June membicarakan jendela. Tapi sebentar dan selewat saja. Mungkin cuma saya yang tidak mengerti, tapi entahlah.

Kedua, saya lebih suka jika karakter tokoh dituliskan tersirat. Sayangnya June menceritakan Saskia dengan menyebut karakternya, lalu menjelaskan alasannya. Aji Saka juga begitu. Saya lebih suka interaksi bu Fatimah dan June yang terasa natural.

Ketiga, gaya bercerita yang disebut kekuatan unggul dari novel ini malah membuat saya bingung sebenarnya cerita ini mau dibawa kemana. Terlalu banyak cabang sampai saya bingung, saya terjebakkah? Ternyata Aji Saka, Nina, Dean, Didit, Maryam, Saskia, Kunti, bu Fatimah semua ada hubungannya?

Tapi tetap ingin baca Pintu, sih hahaha. Sepertinya menarik.
Profile Image for Kiki.
22 reviews5 followers
May 22, 2008
Setelah trilogi jendela, pintu dan atap, plus sedikit rojak...akhirnya saya menyerah dan "mutung" dengan karya-karya Fira Basuki (maafkeun ya mbak Fira).

Sejak buku pertama, saya membatin apa yang salah dengan perasaan saya terhadap buku ini? karena sebenarnya cara F.B bercerita cukup mengalir dan runut. jadi, meskipun agak bosan di awal-awal, saya paksakan diri untuk berjuang menyelesaikannya. tapi, semakin ke belakang rasanya makin tidak fokus. Rasanya ada yang nggak pas dengan penokohannya. Bilamana ia digambarkan cukup relijius (saya bahkan membaca seolah dia cukup rajin beribadah), saya agak bingung dengan kenyataan dia begitu bebas secara seksual. sudah lama sekali saya baca buku ini, tapi kalau tidak salah, dia sempat "bobo2" dengan pacarnya yang abusif, lalu surprisingly dengan seorang (wartawan kalau tidak salah) yang baru sekali ditemuinya. whalaaa...

cuma karena nggak mau dituding judgemental, saya masih paksain baca buku2nya yang lain dan walhasil mutung. hehehe.
Profile Image for Maria Tarisa.
29 reviews
September 27, 2012
Hari ini ketika saya menenggelamkan diri di toko buku, saya temukan sebuah paket trilogi milik Fira Basuki. Setelah berdebat dengan batin sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk membelinya. Setelah itulah kisah bermula.

Jendela-jendela membawa saya kembali kepada masa silam. Tahun 1997, ketika usia saya masih sangat muda. Tokoh June yang menjadi fokus cerita punya kisah yang menarik untuk diikuti. Kehidupannya di Pittsburg, Jakarta, dan Singapore sangat menarik. Kisah cintanya dengan para laki-laki di buku itu menjadi salah satu nilai plus tersendiri dari buku ini. Jendela-jendela membawa saya pada sebuah perjalan lintas benua, membuat imajinasi saya terangsang, membayangkan setiap adegan yang ada di dalamnya. Jendela-jendela terasa begitu jujur bagi saya, dengan kata yang sederhana, ringan dan mengalir.
Profile Image for Nia.
486 reviews24 followers
February 24, 2009
Sebel sama tokoh June...tidak yang seperti saya harapkan :-(
Diawal-awal, sih suka. karena orangnya nerimo dengan keadaan suami, Jigme yang sangat sederhana.
Ditambah lagi ternyata Jigme mulai memperdalam agama Islanm dengan mengikuti pengajian dan bekerja keras untuk membahagiakan June. Tapi June malah bermain selingkuh dengan teman baik suaminya, Dean...

Dan June baru menyadarinya ketika ia dicampakkan begitu saja oleh Dean dan menderita sakit pada lehernya. Hingga akhirnya dia pulang ke tanah air untuk berobat dan sembuh.

Sepulang daru tanah air, June mengajak Jigme untuk pindah ke apartement yang baru untuk melupaka semua kejadian yang dialaminya.

Sekali lagi..jendela baru telah terbuka...dan menunggu June & Jigme.....
Profile Image for Nana.
62 reviews
November 15, 2008
pertama-tama agak sedikit membingungkan sih baca buku ini (mb fira mau cerita apa&siapa ya?)...tapi setelah selesai membacanya, aku baru paham maknanya.
ternyata menikah dengan orang bukan dari negeri kita sendiri alias orang luar ternyata tak selalu hidup serba kecukupan&selalu bergaya hidup mewah, ya salah satunya june dalam tokoh ini dia menikah dengan orang warga kebangsaan Tibet..june mendapatkan pengalaman yg unik,bahagia,sedih,menyusahkan saat hidup di negeri seberang,bahkan affair pun pernah dialaminya..mungkin ini bisa dijadikan pengalaman untuk seseorang yg ingin hidup&menikah dengan orang luar negeri(bule)..hehehe
tapi buku ini baik untuk dibaca, apalagi untuk orang yg sudah menikah =)..
Profile Image for Angdamdewi.
24 reviews45 followers
March 14, 2010
Overall it was ok, tapi saya sebagai perempuan agak mikir aja ko ada ya perempuan sesetia Putri yang meski Bowo udah pergi jauh dan bukan cuma pergi tapi sempet ketemu perempuan lain dan akhirnya mau nikah. Hebat sih, he he. Mungkin saya punya pikiran kaya gini karena saya belum nemuin orang yg bisa bikin saya punya perasaan kaya Putri. Soal tema yaa memang tentang cinta sih tapi yang saya suka dari Fira Basuki adalah sisipan traveling nya, he he! Setting di novel-nya yang ngambil banyak tempat dan sisipan budaya nya juga bikin saya selain baca novel tapi sambil belajar sedikit demi sedikit tentang antropologi budaya:) But you may love this or loathe this, up to you! Soalnya ga semua buku ngasih pesan tersurat yang biasanya diharapkan sama pembaca kebanyakan.
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
January 22, 2014
Baiklah ini kesalahan yang ke-sekian. Saya tidak ingat lagi karena membeli buku trilogi namun memulainya dari buku kedua. Tidak begitu tertinggal jauh memang, tapi setelah itu saya penasaran dengan kelanjutan Mr. X-Men.

Saya suka dengan narasi Fira Basuki, tidak begitu bertele-tele, namun menyajikan banyak kosakata yang simple namun mudah dicerna.

Tapi issu tentang wanita yang berselingkuh dan sebagainya ini, sedikit meresahkan. Merasa takut sendiri tiba-tiba. Karena nothing's immpossible in this world when Allah say yes.

Jadi sedikit merinding juga dengan kehidupannya. Tapi sempat salut dengan tokoh Jigme yang totally menerima apa adanya sang istri. Hmm...sounds soo romatic si Jigme ini.
Profile Image for Vini Hujan.
5 reviews
December 8, 2014
Awalnya sangat tertarik sekali membaca buku ini justru setelah membaca buku Fira Basuki yang lain seperti '140 Karakter' dan 'Fira-Hafez', tapi karena sulit mencari versi yang boxset agak terlupakan juga sih. Sampai secara mengejutkan suami memberikan boxset novel ini sebagai hadiah.

Setelah membaca satu dua halaman ternyata jauh sekali dari ekpektasi saya terhadap novel ini. Saya kira ceritanya 'berat' ternyata ringan sekali dan mudah dipahami. Meskipun begitu saya suka gaya bercerita Fira yang begitu jujur dan apa adanya seperti adanya kisah di novel ini yang juga sangat jujur dan apa adanya.

Meskipun jauh dari ekspektasi tapi tanpa terasa menyelesaikan novel ini hanya beberapa jam saja. Saya suka karakter June dan Jigme :)
Profile Image for Irene Angelina.
24 reviews2 followers
October 18, 2012
Menceritakan tentang June, wanita Indonesia yang tinggal di Singapura bersama suaminya yang berasal dari Tibet. Awalnya terasa sedikit monoton karena berkisar tentang kehidupan sehari-hari yang dibumbui masalah rumah tangga pada umumnya. Konflik mulai terjadi saat Junr berselingkuh dengan sahabat suamninya sendiri. Sempat membuat heran karena sebagai novel sastra, dimana letak kesusasteraannya saya tidak merasakan. Akhir cerita menggantung, karena tidak diketahui siapa yang mengirimkan ilmu hitam dan surat kaleng pada June. Jawabannya mungkin akan ditemukan di buku kedua dari trilogi karya Fira Basuki ini; yaitu 'Pintu'
Profile Image for s..
123 reviews4 followers
February 27, 2012
Ini buku pertama Fira Basuki yang saya baca. Kesan pertama... mengalir dengan cerita kehidupan sehari-hari. June--tipikal manusia sejati. Kerap melakukan kesalahan, tapi akhirnya luluh dengan perhatian dan cinta kasih dari orang yang mencintainya. Lupa sejenak pada Tuhan, dan ingat sepenuhnya ketika mendapat kesulitan. Hidup dengan tidak bersyukur dan terus-menerus tidak puas dalam sesuatu. Bukankah itu wajah kita? Mbak Fira menuliskannya dengan sangat wajar.

Saya juga suka mbak Fira menuliskan Singapura dari sudut pandangnya, sangat... berbeda.

Terakhir, saya suka Jigme.
Profile Image for Adek.
195 reviews4 followers
July 25, 2013
Ringan. Fira begitu lancar bercerita. Meski ini adalah urutan pertama dari trilogi Jendela-Pintu-Atap, tapi gw baca ini sesudah Pintu.

Jika di Pintu, cerita dari sisi Mas Bowo, di sini, Fira bercerita dari sisi June. Dan kenapa penokohan June mirip sekali dengan kehidupan Fira: sekolah dari SMU hingga kuliah di Amerika dan kehidupannya di Singapura.

Seperti halnya Pintu, Jendela punya kisah cinta yang hampir mirip dengan novel sebelumnya itu: drama keluarga, ada cinta, bosan, hingga affair.

Moral of the story: jangan terlalu mengagungkan western, lah. :D
Profile Image for Denna.
70 reviews28 followers
January 5, 2014
Menemukan buku ini di salah satu rak di Perpusda Yogyakarta dan secara impulsif mengambilnya lalu membacanya sampai tuntas dalam waktu tiga jam saja. Seperti rating dari saya, it was ok... Sebenernya belom terlalu ngerti korelasi judul buku ini sama isi ceritanya. Apakah jendela-jendela di sini itu maksudnya masing-masing menceritakan fragmen hidup June atau bagaimana, entahlah. Tetapi kalau untuk sekedar mengisi waktu luang seperti yang saya lakukan, ya masih terbilang lumayan lah. Ceritanya yang mengalir cenderung memberikan perasaan nyaman pada pembacanya, I think.
Profile Image for Pulung.
68 reviews12 followers
August 9, 2007
Ini buku pertama karya Fira Basuki yang saya baca. Lumayan, kok. Ringan tapi nggak kosong.

Ceritanya sederhana, soal anak muda Indonesia yang belajar hidup mandiri di negeri tetangga dengan keadaan penuh perjuangan.

Saya sedang mencari kesempatan untguk membaca buku Fira Basuki yang lain, tapi belum rejeki, belum ketemu bukunya. He he he...

(Kecuali kalo saya lupa bahwa sudah membaca suatu buku, yang ternyata karyanya Fira Basuki)

-Ria-
Profile Image for Dita.
361 reviews17 followers
July 16, 2020
Saya bukan penggemar Fira Basuki, walaupun hampir semua bukunya saya baca. Entah ini perasaan saya saja, atau apa, tapi hampir semua ceritanya mirip dengan kisah hidupnya. Ya gapapa sih. Setting, emosi sampai ke cara bertuturnya yang renyah. Dia pintar mengajak ngobrol pembaca. Tapi mungkin saya lebih suka pembicaraan yang penuh humor. Hehe. Dari semua karya Fira Basuki, saya palig suka Jendela-jendela. Buku ini.
Profile Image for Dhini.
96 reviews15 followers
December 3, 2008
membaca kisah dalam buku ini, memang seperti saat "membuka jendela"..- paling tidak menurutku, tentu - ada bentangan cakrawala yang terlihat begitu luas, kesibukan arak2 awan, atau lalu lalang burung2 yang terbang tinggi..

nah gambaran seperti itu, terwakili oleh suasana kehidupan rumah tangga baru di Singapura yang diceritakan dari kacamata June Subagyo, dengan sesekali mengenang masa-masa kuliahnya di kota kecil Wichita di USA..

Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
June 5, 2011
583rd - 2011

Sejak membaca novel Danielle Steel yang berjudul Perfect Stranger, paling sebal sama tokoh utama cewek, istri dari laki-laki yang sangat baik, tapi malah selingkuh, dengan alasan apapun yang kadang tidak bisa diterima akal sehat. Hm... selingkuh memang biasanya nggak melibatkan akal sih.

(Weh, kalau suaminya bukan laki-laki yang baik, memangnya tokoh utama boleh selingkuh?)

Displaying 1 - 30 of 95 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.