Tadinya gw mau kasih bintang tiga .. Tapi kemudian di akhir-akhir buku banyak kesimpulan yang menggugah, sehingga akhirnya gw berani kasih bintang empat untuk buku ini. Sebagai sebuah sekuel dari buku sebelumnya yang lumayan menghentak, tentu banyak harapan yang ditaro oleh pembaca kepada buku ini. Seperti gw yang berharap bagaimana Franz bisa memulihkan kepercayaan dirinya, setelah down berat gara-gara ditelantarkan di atas altar oleh calon istrinya.
Tetapi rupanya proses pemulihan itu lebih banyak bergulir di batin Franz. Yang diuraikan kepada pembaca lewat buku yang memiliki judul provokatif [immi mode on.. ;-)..:] lebih banyak kepada bagaimana proses cinta (love, kasih, kasih sayang, whatever) bisa tumbuh di antara manusia-manusia yang tinggal di berbagai belahan dunia, dengan kultur dan latar belakang yang berbeda-beda.
Franz bertualang menjadi life observer ke Brazil, India, Nikaragua, Cheska, Mesir (yess, Mesir yg itu), Selandia Baru, dan Botswana. Dia mengamati bagaimana cinta bisa tumbuh di antara makhluk-makhluk Tuhan yang terlahir di tiap negara, kemudian bagaimana mereka menaro persepsi tentang cinta, meletakkan harapan, menjadikan kekuatan, atau menjadikan jalan bersama. Uraian yang terlalu panjang, kadang terasa membosankan.
Jadi uraian lebih banyak ke sisi antropologis (cmiiw) misalnya bagaimana ternyata orang Brasil tidak banyak menggambarkan hal yang muluk-muluk saat menggambarkan pasangan ideal mereka. Bahasa kita, yang pasti-pasti aja lah. Atau di India, negara yang penuh dengan kasta dan golongan, segala sesuatu yang disiapkan dan direncanakan…biasanya gagal.
Bagi pembaca yang sudah kenal dengan Franz lewat buku pertamanya, tentu akan kembali menemukan kelucuan-kelucuan yang dalam lewat perenungan iseng, jenaka, tapi bermakna. Bagaimana cara dunia ini membatasi perselingkuhan ? Menurut Franz, sederhana saja : dengan tidak menyebutkan “perselingkuhan” karena ini mencerminkan pelanggaran, kejahatan. Di Perancis, hanya disebut “main mata”. Di Botswana, “dia sedang pergi dengan orang lain”. Cheska ? “Bermain di kasur lain”.
Lalu Franz menarik kesimpulan yang dahsyat di akhir buku. Gw kutip sedikit buat yg berminat :
Lebih daripada kasta dan suku, yang paling dicari oleh dunia dalam sosok seorang pasangan cinta, dari pengamatanku, adalah kekuatan. Bukan bahu bidang atau kaki pelari berdaya tahan tinggi untuk hari-hari yang panjang dan melelahkan, meskipun itu tentu juga penting. Yang kumaksud adalah kekuatan jiwa. NYALI.
Di bagian lain, Franz menulis : Dunia India dan Arab mengajariku konsep cinta yang bisa ditumbuhkan. Lupakanlah fantasi tentang belahan jiwa.
Menjelang ending, ada satu bagian yang luar biasa… penggambaran adegan ketika jantung Franz harus berdetak sangat kencang untuk mengadapi suatu moment yang membangkitkan trauma, tapi ada sisi perlawanan dari dirinya sendiri karena ia telah memiliki kepercayaan untuk itu.
Gw gak mau cerita… khawatir spoiler.. tapi ini adegan yang gila.
Adegan yang menggelitik, membangkitkan tawa, dan di saat yang sama penuh haru, sedikit tragis. Kontradiktif. Ditingkahi dengan celetukan-celetukan celaan dari teman-teman dekat Franz yang awalnya tertawa riuh, meledek gila-gilaan… lalu perlahan yang ada hanya senyap.. hening. Tercekat. Di bagian ini.. gw tertawa.. tapi tanpa terasa.. mata gw basah…
-andri-
***
Rombongan Tariq Ali gw pending dulu. Sekuel dari HWMB ini lebih menarik bagi gw, karena gw suka dengan buku yg pertama itu. Ada keraguan sih, karena apakah memiliki kesamaan 'spirit' dengan buku yg pertama. Belum lagi pandangan fait accompli kemungkinan sekuel ini hanya mendomplang kesuksesan buku pertamanya.
Tapi menyimak negara-negara yang dikunjungi oleh Franz, membuat gw memutuskan untuk baca. Semoga menambah referensi impian gw untuk someday bisa trip around the world...
-andri-