Anyone who hearts New York will love this illustrated homage to the city. Artist, author, and New Yorker Julia Rothman brings humor and tenderness to an eclectic assortment of historical tidbits (how the New York Public Library lion sculptures got their names), idiosyncratic places to visit (where to find the tennis courts at Grand Central Station), interviews with locals (thoughts on love from a Hasidic Jewish landlord), and personal recollections from growing up in the Bronx (fried fish at Johnny's Reef)—all illuminated in her beloved signature style. A uniquely entertaining and informative city guide, this slice of the Big Apple will delight New York locals and visitors alike.
Hello NY by Julia Rothman is offer warm and sweet story with beautiful sketches. Great collection to all dreamers that adore "The City That Never Sleeps" 🌃
Yang jadi pertanyaan besar saat membaca versi terjemahannya ini adalah kenapa buku ini dilabeli "Komik/Novel Grafis" ya? Padahal sejauh mata memandang alias membaca halaman per halaman nggak ada sentuhan fiksi di dalamnya dan gambar atau ilustrasinya juga nggak membentuk komik yang berpanel dan bercerita. Buku ini murni travelog alias kisah perjalanan pribadi penulis tentang New York. Dan semua itu nyata alias kalo dicari di Google pasti ketemu dan memang ada. Jadi, ini sebenarnya nonfiksi, menurutku. Lalu, mengapaaa?
Terlepas dari keganjilan tesebut, buku ini amat menyenangkan untuk dibaca apalagi bagi mereka yang punya mimpi ingin tinggal atau sekadar mengunjungi New York. Lalu, tebersit pikiran: siapa sih yang nggak mau ke sana? Sepertinya, New York sudah menjadi magnet bagi sebagian besar orang di dunia.
Beberapa informasi yang disajikan dalam buku ini baru alias (mungkin) belum ada yang pernah menguaknya melalui media lain atau setidaknya AKU belum tahu. Seperti pengalaman penulis di Orchard Corset saat menjajal bra dan salah satu penjaga toko mengamatinya dan merekomendasikan ukuran bra yang tepat (well, ini bacanya semalem sih tapi masih keinget sampe sekarang wqwq).
Daaan, yang paling kewl adalah buku ini mencuplik pengalaman-pengalaman dari tokoh-tokoh yang penulis temui. Seperti cerita pustakawan New York Public Library dan supir taksi imigran asal Mesir juga induk semang penulis (ini maksudnya penyewa tempat tinggal seperti kos atau apartemen kali ya?) yang menganut Yahudi Hasidim. Masih ada beberapa tokoh lainnya yang memberikan perspektif berbeda dari kota yang tidak pernah tidur ini.
Dan katanya, sang penulis buku ini terkenal melalui media sosialnya karena gambar-gambar ciamiknya ya? Tapi aku tahu buku ini dari review Goodreads-nya Anida alias Anidos alias Asamsianida alias HCN.
Yah, terima kasih Mbak Jules sudah membagikan pengalamannya tentang New York melalui buku ini! Penting nggak penting sebenarnya *plak*, tapi nggak nyesel beli karena gambar ilustrasinya yang khas.
I found the font a bit small and difficult to read. Some illustrations could also have been done better as they appeared sloppy. But the overall experience reading this was a pleasant one, and I learned some fun and interesting things about New York in the process (e.g. Dead Horse Bay, Coney Island, etc). I also liked the author's interviews with the cab driver and sommelier. The book comes across as personal yet informative.
Menyenangkan sekali baca buku ini, diajak menjelajahi New York oleh mba Julia, menemukan trivia-trivia menarik yang semakin menggelitik rasa penasaranku akan New York dan ingin mengenal lebih dalam rasanya. Ilustrasinya bagus bangettt di beberapa halaman aku sampai ter wow wow haha.
Aku tinggal di Park Slope, Brooklyn... Orang-orang di sini biasa meninggalkan buku yang telah selesai dibaca di tangga depan rumah, agar orang lain bisa membacanya.
Saat para pelancong berkunjung ke New York, menyaksikan pertunjukan Broadway kerap kali berada di puncak daftar kegiatan mereka. Meskipun... warga setempat tidak terlalu sering menonton pertunjukan itu. Semua guru balet dan jazz semasa kecilku adalah pemain Broadway.
Para pembaca yang paling mengesankan bagiku adalah mereka yang menemukan jalan kemari bukan melalui jaringan akademik, melainkan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan lain. Misalnya seorang bartender yang mencari buku resep kuno untuk menghidupkan kembali minuman cordial... Atau seorang novelis yang duduk lama ditemani naskah edisi tertentu supaya dapat mendeskripsikan aksi tokoh-tokohnya secara nyata. (Jessica Pigza, Pustakawan New York Public Library)
***
Mengasyikkan sekali menikmati New York melalui goresan komik yang diciptakan oleh warganya sendiri. Tak sekadar menyajikan gambar ini atau gambar itu, tapi dilengkapi pengalaman personal sang komikus, keluarga, teman, juga warga New York (mulai dari pustakawan, sopir taksi, perenang, seniman tato, pemilik kedai piza, pemilik museum troll, hingga sommelier (ayo, profesi apakah ini?)
Pembaca diajak menelusuri lima wilayah New York: Bronx, Brooklyn, Manhattan, Queens, dan Staten Island. Naik kereta bawah tanah (dengan kejadian unik dan aneh di peron dan di dalam kereta). Menelusuri Grand Central Station dan menemukan hal unik yang mungkin tak pernah terpikir hal tersebut ada di sebuah stasiun (lapangan tenis!). Mengunjungi beragam museum di NY, Central Park (yang sering jadi lokasi film), kuburan kapal feri dan tongkang, wisata kuliner (jajanan pinggir jalan dengan harga di bawah 5 USD), nonton bisbol, hingga menapaki manhole. Seru banget sih, meski ada beberapa ilustrasi yang agak vulgar.
Ingatan saya pun terbang hampir 14 tahun lalu, saat pertama ke luar negeri yakni ke AS. Dan tentu... ke New York, sang "Big Apple", pada perhentian ketiga. Saya masih ingat norak dan ternganganya saya keluar dari Grand Central dengan kepala mendongak, melihat pencakar langit, mendengar bunyi sirene pemadam kebakaran dan asap yang keluar dari manhole (bener-bener kayak di film), juga membaui berbagai aroma termasuk aroma sampah di dalam kantong yang menumpuk di pinggir jalan. Kagum dengan begitu melting potnya New York (ternyata Queens adalah wilayah urban paling beragam di dunia, dengan 100 kebangsaan yang bertutur dalam 138 bahasa berbeda!). Beli kebab dari penjual Muslim yang mangkal di trotoar Manhattan. Saya kaget melihat pedagang kaki lima yang menjual barang-barang kw dan kucing-kucingan dengan satpol pp, eh, polisi. Kaget dengan harga tshirt I Love NY seharga USD 10 dapat 7 :D.
Namun, bila ditanya, apakah selama di New York saya sempat mengunjungi Central Park, Patung Liberty, Library f Congress, NY Public Library, Grand Zero, Empire State Building (salah satu lokasi film Sleepless in Seattle), Metropolitan Museum of Art, Natural History Museum, atau Guggenheim yang ada di bucket list saya bila mengunjungi NY? Tentu tidak, huhuhu. Ya, begitulah... jadwal program yang padat membuat saya tak sempat berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Jadi, buku ini seperti membawa saya ke tempat-tempat yang belum saya kunjungi dalam bentuk grafis yang mengasyikkan ;)
I've never been to New York but I'm a big fan of the city and by reading this, I want to go there even more.
The book is well organized and written by Julia. Love every pieces of drawing that she made to illustrate the places and situations. I also love how this book is a mixture of travel guide, memoir, and letter with wonderful illustrations.
Only two things that I don't like, it's short and the font. I'd still be happy reading 500 pages of her writing and drawing, and there are some parts where the font is too small and curvy which made it hard to read.
Yang saya suka dari novel ini, selain gambar adalah fakta-fakta sejarah yang dihadirkan oleh penulis. Meskipun bukan sebuah sajian utama, tapi menjadi nilai lebih dari sekadar ilustrasi soal kota NY. Misal jenis-jenis apartemen dan aturan apartemen di NY, jumlah toko souvenir yang sekarang sama banyaknya dengan rumah mesum di NY kala lampau, atau peraturan pembuatan jendela di NY yang beurbah-ubah setiap masa, dan yang paling menairk tentu sejarah bahwa keluarga si penulis adalah orang Yahudi. Apik. Narasi sederhanda namun menjadi luar biasa karena gambar dan ilustrasinya....
Part memoir, part travel guide, this is a stunning look at the five boroughs of New York, told in gorgeous illustrations and lovely personal narratives by one of my illustrator-heroes. If you've ever wanted to explore NY's little-known treasures and off-the-beaten-path highlights, this book is for you.
I expected this to be a pleasant piece of nostalgic fluff, but was delighted to find it substantial and current. It comprises short and very informative pieces about various places and other features of the city. It includes famous places and quirky off-the-beaten-track places--some of which I know and some of which I wish I'd heard about before moving away from NYC last year.
Native New Yorker Julia Rothman writes and illustrates a lovely book about New York with quirky information, profiles of New Yorkers and mini reviews. I bought this to give as a gift but decided to read and keep it!
Buku #26 di tahun 2017. Novel Grafis terjemahan. 144 halaman. Bahasa Indonesia.
Sampul belakang buku ini bilang, buku ini adalah Komik/Novel Grafis. Tapi sebenarnya menurut saya buku ini lebih seperti picture-book, walaupun memang iya sih narasinya jelas terlalu banyak untuk sebuah picture-book.
Tapi terlepas dari formatnya, terlepas dari sepertinya saya juga tidak akan pernah pergi ke New York (dana saya terbatas, kalau ada dana mending untuk naik haji. belum lagi kemungkinan bagi pemerintah USA memberikan visa berkunjung ke New York kepada saya juga amat sangat kelewat kecil), saya suka buku ini. Cerita dan gambar karya seorang warga New York (yang seumur hidupnya tinggal di New York) tentang kotanya, amat sangat menarik. Tampilam tempat makan, museum, bahkan toko beha/korset :-), sangat menyenangkan untuk dibaca. Belum lagi gambarnya, sangat membantu membayangkan kemegahan kota New York. Dan berwarna (lebih dari tiga warna) :-) sesuai selera saya.
Kemudian yang juga menarik, adalah tampilan beberapa orang (tokoh nyata) yang menceritakan beberapa hal terkait New York. Ada seniman tatto, perenang open-water, ayah sang pengarang (menjelaskan tentang permainan masa kecilnya).
Jadi saya beri bintang 4. Saya tidak beri nilai sempurna, bintang 5, hanya karena sepertinya penulis memang agak melupakan kita-kita ini yang jelas tidak begitu tahu nama dan letak jalan dan tempat yang disebutkan, terlihat dengan tidak ada nya upaya lebih lanjut sang pengarang terkait hal-hal tersebut. Belum lagi halamannya cuma 144 halaman. Kurang panjang. Dan ukuran bukunya kurang besar. We want more! :-)
Oh iya satu lagi Terjemahan menurut saya oke. Hanya satu hal, terjemahan kata "post" yang seharusnya berarti "tiang gawang" permainan masa kecil sang ayah, yang di situ diceritakan menggunakan mobil yang sedang diparkir, hanya diterjemahkan sebagai "pos" yang pasti akan membingungkan para pembaca.
New York. Kota yang besar banget dengan banyak sekali isinya. Pada buku ini, mbak Julia Rothman sebagai seorang yang dari lahir sampai besar di New York mencoba memberikan gambaran New York dari sudut pandangnya. Memang tidak lengkap karena bukan ensiklopedia. Tapi cukup menarik karena dituturkan melalui cerita-cerita dan ilustrasi.
Mbak Julia tinggal di Brooklyn. Ada satu hal yg menarik di tenpat tinggalnya, yaitu kebiasaan orang-orang menaruh buku di depan pintu setelah mereka membaca. Jadi orang-orang yang lewat bisa membacanya juga. Dia bilang itu seperti perpustakaan warga yang tidak ada habisnya. Mbak Jul juga membawa kita ke tempat-tempat yang memang sudah terkenal di New York, Stasiun Grand Central yg sangat besar (44 peron) dan banyaknya ruang-ruang rahasia di sana. Juga ke museum-museum dan perpustakaan di New York (perpusnya bahkan didatangi oleh orang-orang dari seluruh dunia karena koleksi klasiknya). Dari sudut pandang orang New York asli ini kita juga dibawa ke tempat-tempat paling tidak populer di New York dan keunikan-keunikan lainnya.
Mbak Jul juga mewawancarai beberapa orang dengan latar belakangnya terkait New York. Orang tuanya yang pindah ke New York sebelum ia lahir, penjaga perpustakaan umum New York, supir taksi asal Mesir, seorang Yahudi Hasidim taat pemilik toko Bra, Pemilik toko pizza terenak di New York dan seorang dari komunitas perenang (yg biasa berenang belasan km di perairan sekeliling New York), dan beberapa profesi orang-orang di New York lainnya.
Sekali lagi meskipun tidak bisa merangkum semua informasi tentang sebuah kota, melalui buku ini, Seperti judulnya, kita seperti disapa. Selanjutnya untuk lebih kenal lagi, mungkin kita harus banyak membaca sumber-sumber lain yg lebih lengkap atau langsung mampir ke sana. Haha New York, kuy!
Ngga nyesel deh iseng ngubek-ngubek Shopee buat nyari buku ini. Karena faktor bete juga sih ga kebagian di online shop langganan dan rebutan sikut-sikutan buat dapetin buku ini aja. Berawal dari iseng berujung what a beautiful suprise! Thank you, next.
Hello NY jadi salah satu buku favoritku tahun ini dan akan selalu aku favoritin. Buku ini nggak cuma menceritakan landscaping New York aja tapi orang-orang yang terlibat dalam keseharian New York pun digambarin. Jadi kita tahu sudut pandang cerita nggak hanya dari authornya aja tapi juga orang lain.
Ilutrasinya pun cantik dengan perpaduan warna yang simple tapi menarik. Setiap halaman bikin excited sama cerita-ceritanya.
Harta karun! Tidak sengaja menemukan novel grafis ini di rak fiksi. Julia Rothman menulis dan menggambarkan New York dari perjalanan hidupnya. City Island tempatnya dilahirkan, cerita masa remaja ayahnya, toko-toko yang ada sampai nenek Julia yang datang dari Ceko untuk bermigrasi. Memoar yang sekaligus bisa jadi panduan perjalanan. Tidak sabar membaca seri lain dari Rothman. Semoga diterbitkan juga oleh POP, imprint KPG.
novel HELLO NY ini, bagi gue sendiri, merupakan penyegaran atau hiburan ketika (waktu itu) gue sedang bosan dengan kebanyakan novel yang isinya tulisan semua. dengan membaca novel grafis ini mata gue seolah dimanjakan oleh ilustrasi-ilustrasi penuh warna, serta cerita-cerita yang julia tulis terasa begitu hangat dengan gaya penulisan yang ringan dan sederhana.
I found this little book in a little free library, and it looked really fun, so I picked it up. I have such mixed feelings. The presentation and style is absolutely five stars. She touches on some famous aspects but many more obscure places. However, there were some stories and accompanying illustrations that were definitely TMI. However, that is an authentic depiction of NYC. :P (I live in NYC and I love it, so I'm not being a hater, just a realist.)
I am a lover of New York, having been there a few times and countless times in movies and tv shows, I can never get enough of that famous city. This book is full of unique tidbits of New York history, culture and lore. It is a quick read, beautifully illustrated and it made me want to travel back to New York, thanks Julia Rothman!!
Buku ilustrasi terjemahan tentang New York City. Bagus sekali karena menyentuh sisi-sisi humanis New York. Namun tidak saya rekomendasikan sebagai buku petunjuk bagi mereka yang baru akan pertama kali ke New York. Omong-omong, membaca buku yang New York banget dalam Bahasa Indonesia bikin saya sedikit kikuk 😂
This was a surprise find. New York City is one of my favorite places in the world, and this "graphic memoir" is a sweet reminder of most everything I like about the city. Sketches of favorite neighborhoods, odd little eateries, museums well known and obscure, and some of the people. If you love NY, you will like this book.
I loved this! I typically buy books, read them, and then put them out in my Little Free Library, but this one must be kept. It has to live with me.
I've only been to New York City one time, yet this book made me want to move there. What a love story. I feel like it's the book Helene Hanff would have written had she been born 50 years later and been an illustrator.
When I bought this book, I had no idea that this would be a fun book to read about NYC. What makes it even special is the illustration. Writer takes you on an exploration in NYC from her point of view, and with a short history here and there, makes this book a good read over the weekend.
I don’t think I know enough about class in the United States to really form an opinion on this. It reminded me of one of Lucy Knisley’s books. I liked it and found it easy to read and engaging but it reeked of privilege.