Buku tentang cerita ironi kehidupan sepasang suami istri yang kawin lari, mirip Rome Juliet, karena alasan permusuhan keluarga, tapi minus bunuh diri. Mungkin alurnya aneh luar biasa, tapi isinya mengharukan (juga luar biasa mengharukannya). Saya sampai terharu membacanya. Ini kejujuran seorang pembaca awam (bukan sastrawan). Tapi, meminjam istilah seorang kawan tentang sebuah buku karya penulis lain, bahasnya aneh (untuk saya), meskipun menurut suami saya itu sah dalam dunia sastra. Penulis sering menuliskan tanda tanya "tidak pada tempatnya" dan membuat tekanan kita membacanya menjadi "aneh" dan itu sangat mengganggu saya waktu mencoba menikmati ceritanya. Sekali lagi itu menurut saya.
Buku ini secara mengejutkan menimbulkan rasa perih, ketika membaca kisah sepasang kekasih yang kawin lari, yang kemudian ternyata hanya menemukan makna satu sama lain lewat sebuah cara yang bukan kata-kata. Perih, ketika membaca realita kehidupan di kawasan kumuh, yang terancam digusur sewaktu-waktu. Tentang anak, yang kadang lahir jadi sasaran malang orangtua.
Kekurangan buku ini adalah susunan kalimatnya terlalu kelewat panjang. Saya beberapa kali harus meletakkannya untuk mengambil napas, sebelum melanjutkan lagi. Penyajian ceritanya menarik.
Saya baru belajar memasukkan data buku secara manual. Di kotaknya tertulis (pada bagian bawah) "description"... semacam itulah... dan saya sudah menuliskan review saya disana.
Lalu saya klik. Dan... Keluar kolom ini dengan kotak "my review" Ha ha ha! ... dan ketika saya klik balik dengan "back", tulisan yang sudah saya tulis itu raib entah kemana (bisakah dilacak lagi?)
Saya sudah kehabisan kata sekarang =)
Yang jelas: Isinya mengharukan, meski ditulis dengan sebuah gaya bahasa yang "aneh" menurut saya. Saya sangat terganggu dengan cara penulis meletakkan banyak tanda tanya yang menurut saya seringkali "tidak pada tempatnya". Begitulah...
Sebuah cerita tentang perjuangan sepasang suami istri yang dari keluarga kaya yang kemudian rela menjadi miskin untuk memperjuangkan cintanya. Walaupun kemudian kebahagiaan yang diimpikan akhirnya tidak kunjung tiba. Novel sederhana yang disajikan dengan gaya “orang ketiga” asedang bercerita. Pilihan kata-katanya cukup berbobot namun karena disajikan dengan gaya “orang ketiga” maka subyektifitas orang ketiga seolah lebih dominan, dan kurang bisa mencerminkan alur pikir dari tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Tidak terlalu banyak pesan moral yang bisa dipetik dari novel ini.
great book. saya suka dengan gaya berceritanya Arie MP Tamba, yang bagi saya sangat unik di kalangan novel-novel abad 20-an. saya harap saya bisa menemukan karya-karyanya yang lain.