Jump to ratings and reviews
Rate this book

Aruna dan Lidahnya (Indonesian Edition) by Laksmi Pamuntjak

Rate this book
In this exhilarating culinary novel, a woman’s road trip through Indonesia becomes a discovery of friendship, self, and other rare delicacies.Aruna is an epidemiologist dedicated to food and avian politics. One is heaven, the other earth. The two passions blend in unexpected ways when Aruna is asked to research a handful of isolated bird flu cases reported across Indonesia. While it’s put a crimp in her aunt’s West Java farm, and made her own confit de canard highly questionable, the investigation does provide an irresistible opportunity.It’s the perfect excuse to get away from corrupt and corrosive Jakarta and explore the spices of the far-flung regions of the islands with her three a celebrity chef, a globe-trotting “foodist,” and her coworker Farish.From Medan to Surabaya, Palembang to Pontianak, Aruna and her friends have their fill of local cuisine. With every delicious dish, she discovers there’s so much more to food, politics, and friendship. Now, this liberating new perspective on her country—and on her life—will push her to pursue the things she’s only dreamed of doing.

Paperback

First published November 13, 2014

1419 people are currently reading
2003 people want to read

About the author

Laksmi Pamuntjak

20 books254 followers
Laksmi Pamuntjak is a bilingual Indonesian novelist, poet, food writer, journalist and co-founder of Aksara Bookstore. She works as an art and food consultant and writes for numerous local and international publications including opinion articles for the Guardian.

She is the author of two collections of poetry (one of which, Ellipsis, appeared in the 2005 Herald UK Books of the Year pages); a treatise on the relationship between man and violence based on the Iliad; a collection of short stories based on paintings; five editions of the best-selling and award-winning Jakarta Good Food Guide; two translations of the works of Indonesian poet and essayist Goenawan Mohamad; and two bestselling novels.

Amba/The Question of Red, Pamuntjak’s first novel, won Germany’s LiBeraturpreis in 2016, was short-listed for the 2012 Khatulistiwa Literary Award, appeared on the Frankfurter Allgemeine Zeitung’s Top 8 list of the best books of the Frankfurt Book Fair 2015, and was named best work of fiction from Asia, America, Latin America, and the Caribbean translated into German on the Weltempfaenger (Receivers of the World) list. The novel is a modern take on the Hindu epic Mahabharata set against the backdrop of the Indonesian mass killings of 1965 and the Buru penal colony, and has been translated into English, German (Alle Farben Rot, 2015) and Dutch (Amba of De Kleur Van Rood, 2015). It also appeared in De Bild's Top 10 Books of the Frankfurt Book Fair 2015, and the ORF Kultur Top 10 List for November 2015.

Pamuntjak was selected as the Indonesian representative for Poetry Parnassus at the 2012 London Olympics. Her prose and poetry have been published in many international literary journals. She currently divides her time between Berlin and Jakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
147 (8%)
4 stars
397 (22%)
3 stars
703 (39%)
2 stars
380 (21%)
1 star
149 (8%)
Displaying 1 - 30 of 338 reviews
Profile Image for  Δx Δp ≥ ½ ħ .
389 reviews159 followers
January 11, 2021
Terakhir kali saya membaca karya fiksi nasional, saya diliputi kekecewaan mendalam karena karya-karya tersebut tak sesuai harapan. Novel lokal terakhir yang saya baca yakni Inteligensi Embun Pagi dan Lelaki Harimau di tahun 2016 yang keduanya saya berikan nilai satu bintang.

Layu dengan kekecewaan itu, saya memutuskan untuk berhenti sementara membaca novel-novel buatan lokal lainnya. Dan seharusnya saya teguh dengan keputusan tersebut. Tapi ya namanya juga godaan hidup. Selain juga bukunya terlampau lama mengendap dalam daftar belum terbaca, saya akhirnya mencoba novel lokal lagi. Sebuah kesalahan besar.

Karena temanya tentang pandemi wabah flu unggas yang mematikan dan mengganas (yang tentu saja membuat saya tergoda karena relevansinya dengan situasi sekarang), saya memutuskan membaca buku Aruna dan Lidahnya. Tema kulinernya (yang karena pandemi masih berlangsung sehingga saya mengharapkan menjadi obat rindu karena tak bisa melakukan banyak perjalanan apalagi sekedar kulineran) adalah janji hampa yang saya banyak menaruh harapan terhadap buku ini pada mulanya.

Kedua topik tersebut (pandemi flu unggas dan kuliner) digarap sedemikian tipis dan sekenanya saja sebagai kamuflase inti utama cerita romantisme picisan, yang tidak bekerja sama sekali dan sekedar tempelan. Mungkin seperti adegan murahan orang yang sakit kanker lalu dirawat di rumah sakit dalam sinetron lokal, yang selain tak akurat karena riset dan deskripsi lemah juga karena terlihat terlalu dipaksakan dan bisa dicopot dari adegan utama.

Saya rasa saya tak perlu membahas plot cerita romantismenya yang amat tipis dan dipaksakan itu. Salah satu yang membuat saya menghela nafas dan nyaris menghentikan pembacaan adalah saat si tokoh utama yang konon seorang epidemiologist (ahli wabah) dalam rangka melakukan penyelidikan kasus penyebaan kasus flu burung, tapi dengan begitu entengnya setelah melakukan penyelidikan ke peternakan unggas terduga terpapar virus malah tanpa beban menikmati kuliner berbahan unggas di kawasan terjangkit pandemi.

Memang WHO sudah mengonfirmasikan jika mengonsumsi unggas matang tidak akan menjadi media penularan (atau kecil sekali kemungkinannya). Tapi sebagai seorang epidemiologist, harusnya si tokoh tetap peka dan waspada. Tidak semua tempat makan mengolah unggas dengan baik dan benar, bisa jadi ada bagian unggas yang belum matang sehingga virus masih aktif. Atau bisa jadi si penjual kuliner terpapar duluan karena penanganan selama mengolah unggas yang tak hati-hati. Sikap waspada yang harusnya dimiliki si tokoh epidemiologist ini tak tercerminkan dalam novel ini sehingga saya tidak hanya mempertanyakan motif si tokoh tetapi juga kapasitas si penulis dalam melakukan pengumpulan materi bahan cerita.

Buku ini saya baca di akhir tahun 2020, setelah saya melewatkan banyak bacaan menarik dan berkesan lainnya. Keputusan membaca buku ini sebagai penutup memang sebuah kesalahan besar karena menghapus kenangan menyenangkan dari bacaan sebelumnya. Membaca buku ini bisa jadi sebagai pertanda jelas jika tahun 2020 adalah tahun yang mengecewakan.
Profile Image for Melanie.
560 reviews276 followers
February 4, 2020
I really do not understand the low overall ratings for this book. I guess, I loved it so much because I love food, don’t like people all that much, found the insight into Indonesia fascinating and I do at times really love a novel of ideas.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
November 5, 2021
Kalau disuruh menyimpulkan novel ini dalam satu kalimat, saya akan tulis: "Cerita tentang Aruna, seorang wanita yang melakukan wisata kuliner sambil menjalankan tugas kantornya untuk menyelidiki masalah flu burung".

Cerita utamanya, seharusnya, tentang Aruna, seorang "ahli wabah" (alias konsultan epidemiologi) yang diutus oleh kantornya yang bekerja sama dengan Direktorat Penanggulangan Wabah dan Pemulihan Prasarana, yang merupakan bagian dari Kementerian Kemakmuran dan Kebugaran Rakyat, untuk menyelidiki kasus flu burung yang terjadi di beberapa daerah. Dalam perjalanannya, dia ditemani oleh Farish, teman kantornya, serta dua orang sahabatnya yang menjadi "penumpang gelap" dalam perjalanan itu, Bono yang seorang chef, serta Nadezdha, seorang penulis perjalanan dan kuliner. Hanya saja dalam perkembangannya, "Aruna & Lidahnya" ini justru menjadi sebuah travel-lit kuliner fiksi yang nyambi bicara tentang konspirasi flu burung, politik, kekerasan, hingga agama.

Saya awalnya suka dengan semua selipan tentang makanan dan filosofinya yang ada di buku ini. Bagian-bagian itu ditulis dengan detail dan cermat. Laksmi Pamuntjak betul-betul menampilkan kepiawaiannya dalam menulis tentang kuliner di sini. Hanya saja, lama-lama semua bagian itu jadi terasa kebanyakan dan tidak terlalu penting bagi ceritanya. Jadilah saya banyak melewatkan semua bagian yang sudah mulai bicara tentang bahan makanan, tekstur, dan kuliner segala rupa di bagian pertengahan hingga akhir buku ini.

Kalau melihat nama dirjen dan kementerian di buku ini, saya langsung merasakan aura satirenya. Hal ini diperkuat oleh narasi seperti ini:

Aku dengar perkara ini (perkara korupsi di pabrik vaksin flu unggas -B) membuat Menteri Mabura demam tinggi, sesak napas, batuk-batuk, muntah-muntah, dan tidak mau makan. Juga sakit kepala, diare, dan radang tenggorokan. (hal. 23)


Hal ini membuat saya bertanya-tanya. Apakah semua bagian kuliner di buku ini memang sengaja dibuat untuk mengontraskan masalah flu burung dan penyelidikan Aruna? Hal yang awalnya terlihat sebagai fokus utama, dan melibatkan nyawa manusia, sebenarnya sesuatu yang kalah penting dari urusan perut. Hal itulah yang saya rasakan dari novel ini. Aruna dan rombongannya lebih ribut soal makan di mana selanjutnya daripada soal penyelidikan flu burung.

Untuk karakter-karakternya, yang paling menarik cuma Nadezdha yang agak mengingatkan saya pada Diva di Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Interaksinya dengan Aruna juga seru. Untuk kedua karakter cowoknya, Bono dan Farish, tidak begitu meninggalkan kesan. Bono yang awalnya terlihat seperti pemain utama di buku ini, justru akhirnya hanya jadi pajangan di pinggir cerita. Walau, saya akui, cara Laksmi Pamuntjak menulis tentang Bono membuat saya yakin kalau dia memang seorang chef papan atas. Untuk Aruna sendiri, it was ok. Tidak seberapa berkesan, tapi juga tidak begitu tawar hingga membosankan.

Secara keseluruhan, saya belum bisa bilang kalau saya suka dengan novel ini. Masih dalam batas dua bintang Goodreads-lah. Deskripsi tentang kulinernya sangat mengagumkan, tapi plotnya terasa terabaikan dengan karakter-karakter yang tidak begitu mengesankan.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
Profile Image for audrey.
695 reviews74 followers
February 16, 2018
Oh how I very much wanted this book to be better than it was.

Note how that doesn't say I didn't enjoy it, because I did, but there's really no denying that it's a hot mess of a novel basically redeemed by lyrical and passionate food writing.

As other reviewers have mentioned, trying to tie a culinary road trip around Indonesia with a subplot about avian flu epidemiology and government corruption is weird at best, and never fully gels. At one point the characters take a detour for a luscious duck confit meal in a squalid restaurant before going to visit a patient who has come down with avian flu in the midst of an "epidemic".

One of them looks at all the other people waiting in line for duck and remarks how odd it is that they're so concerned with eating duck in the midst of the avian flu epidemic and neither he nor anyone else in his party makes the connection with themselves.

Spoiler: two of them are epidemiologists specializing in avian flu. Which you can apparently do by not going anywhere near avian flu patients. That's correct: they never actually make it to see the patient, but they do wind up having like, eight more meals in and around the city.

Such a mess.

The meals themselves are glorious riots of description, with lots of inline descriptions for those of us who don't speak Indonesian. I have a passing knowledge of Malaysian cooking and much of the vocabulary transfers over: nasi, goreng, soto, sate, pecel, roti. But this page was super helpful to have open in a tab at hand. And the characters gorge themselves, not just on food but on restaurants and travel and culinary discovery. So gorgeous.
...he slices so evenly, almost without effort, various fruits and vegetables -- jicama, sweet potato, kuini, pineapple, kedondong, papaya, mango, cucumber -- into a large basin. Then, with a mortar and pestle, he grinds together palm sugar, red chilies, shallots, roasted peanuts, several large-seeded slices of the stone bananas, and two other types of fruit that positively elude me: something that resembles a kawista -- a wood apple -- and another fruit that looks like a salak, a snakeskin fruit.
But whenever the characters stop eating, the reader has to deal with them as characters and that is another big problem.

The protagonist seems like a spectator in her own life, and her frequently described dreams are more compelling than her interactions with the other characters, even her love interest. She gets bizarrely emotional about the death of one flu patient she meets for ten minutes and the dude she had a crush on at work, but then the rest of the time barely reacts to any of her friends or her new lover. Everything is described as very external to her; the novel contains very little in the way of describing her interactions with people, just with food.

("I was an unworthy woman. Because I wasn't a woman. I was popcorn." Okay, girl. Sure.)

That all could be fine except that and I call super shenanigans on that nonsense, especially for a book that so clearly celebrates eating and enjoying eating.

Still, I picked up a few new recipes to try, and I did enjoy the descriptions of all the food and towns and restaurants.




There is also a lot of animal harm talk. One of the epidemiologists specialized in wildlife conservation (which is a thing you can do? It's never really explained) and tells stories about Indonesia's problems with poaching. Another character who mysteriously disappears from the text 20 pages after his introduction, never to be heard from again also works in wildlife conservation and loathes animal abuse because of a weird uncle who abused animals. It's all just a lot.
Profile Image for Sri.
897 reviews38 followers
October 3, 2018
** spoiler alert **

Pertama, Aruna bukanlah tokoh yang gampang disukai. Nyinyirnya luar biasa. Bahkan kepada makanan. Padahal dia mengaku sebagai pecinta makanan.
Yang asalnya super nyinyir ke rekan kerjanya lalu tiba-tiba dia bobok bareng gitu aja? Memang wajar ada yang bernama witing tresno jalaran soko kulino, dan juga gething nyanding. Tapi ini prosesnya ga keliatan. Kalau iya Farish cinta, sejak kapan? Kok orang yang dulunya sangat mengganggu sehingga yang (merasa) terganggu jadi anti pati, eh lama-lama simpati, dan empati, terakhirnya jatuh hati? Hahaha.

Dan Aruna itu, kayak yang idealis dalam bekerja tapi ga keliatan tu dia semangat dalam bekerja. Selalu ogah-ogahan. Lain dengan Farish yang dari awal juga udah paham bahwa proyek mereka cuma buat abang-abang lambe doang.

Dengan kata lain, Aruna itu selalu setengah-setengah. Bilang cinta makanan tapi ternyata tak terlalu. Bilangnya mau kerja tapi ternyata tak kelihatan kerjanya. Bilang naksir Leon tapi ternyata tak terlalu. Bilang merasa dikhianati Irma tapi ya ga terlalu sakit hati. Tinggal lah pembaca bingung, sebingung ketika baca soal keluarga Aruna. Dibilang bermasalah ya keliatannya tak terlalu bermasalah. Dibilang tak bermasalah tapi ya enggak harmonis. Dan juga sebingung saat baca dialog-dialog Nadz, wkwk duh maafkan daku mb Nadz karena daku kurang intelek, tak melek peradaban dunia yang sophisticated.
Jadi, cerita soal wabah flu burungnya serasa ga tuntas, kisah cintanya juga ya gitu-gitu aja: nikah enggak, pisah juga kagak. Katanya pengin jadi ibu dari seorang anak yang lucu eee tapi juga ga yakin mau punya anak apa kagak. Cerita soal makanannya juga ga dahsyat-dahsyat amat.

Kalau diliat sepotong-sepotong, kalimat-kalimat penulis ini cerdas-cerdas tapi secara keseluruhan bagai masakan yang bumbunya tak menyatu. Ga peduli sebagus apa pun kualitas bahannya tapi rasanya tetap cemplang.
Profile Image for Andrea.
1,084 reviews29 followers
November 24, 2024
Apart from being just a little bit too long, this was a really interesting read. It could almost sit on the the 'quirky girl' bookshelf, except that there is nothing unusual about the way Aruna looks or the way her brain works. She's just a very singular character! The food focus was superb (I read with my ipad by my side to find images of all the different dishes), introducing me to loads of new dishes to look out for when I dine Indonesian. I think if I'd read this before the pandemic I may not have appreciated the other side of this story (Aruna's professional expertise as an epidemiologist specialising in avian flu outbreaks), I may even have found it boring. But now I think people working in this field are rockstars and I actually would have liked to see this side of the story developed further.

Translation by Tiffany Tsao was seamless.
Profile Image for Nagisa Paramita.
86 reviews4 followers
January 1, 2015
Saya pertama kenal dengan Laksmi Pamuntjak karena novel Amba dan saya jatuh cinta jungkir balik dengan Amba, dengan cara menulis Laksmi Pamuntjak melalui Amba. Maka saya tidak tunggu macam-macam ketika novel ini dirilis, langsung saya beli. Terjun dengan penuh keyakinan.

Tapi mungkin saya berharap terlalu tinggi atau memang Laksmi Pamuntjak ingin menampilkan sesuatu yang berbeda di novel yang ini. Mungkin juga soal selera.

Pertama dengar soal Aruna & Lidahnya, saya memang langsung mengerti kalau novel ini akan membahas makanan. Covernya aja udah begitu kan. Dan itu bikin saya penasaran, apa yang akan dibuat dengan makanan kali ini. Tapi sayangnya saya dihantam kecewa demi kecewa, apalagi saya memilih bertahan membaca sampai selesai padahal didorong kekuatan untuk berhenti di tengah-tengah.

Menurut saya, ini yang bikin saya kurang sreg dengan Aruna & Lidahnya.
1. Fokus ceritanya apa? Soalnya kalau bahas makanan, ya begitu aja. Makanan dicicip di daerah berbeda-beda, dideskripsikan, lalu berlalu. Kalau mau bahas masalah politik avian flu dengan tetek bengek kepentingannya di Indonesia, nggak berasa juga, tanpa greget kalau menurut saya. Kalau kisah cinta, nggak terasa juga cerita cintanya. Itu bikin saya garuk-garuk kepala. Soalnya saya jadi bingung. Ini apa ya fokusnya?
2. Karakternya tidak menonjol, bahkan karakter tokoh utama, si Aruna. Bahkan saya lupa nama teman baiknya sampai detik terakhir saya baca. Bono dan siapa? Nadhe? Nadheeza? Cerita serasa berjalan tanpa imprint apa-apa dari mereka. Ya udah, mereka teman Aruna. sama-sama suka makanan, tapi mereka tidak menyajikan pandangan apa-apa soal makanan. Nadheeza hanya memamerkan seleranya yang selangit, Bono cukup banyak diam tanpa banyak cerita sepanjang kisah. Karakternya nggak membekas, itu masalahnya. Aruna bahkan cenderung membosankan dalam dialog dan kisahnya.

Sekali lagi, ini mungkin masalah selera, masalah tuturan kisah yang berbeda atau malah bisa saja ketidakmampuan saya untuk mengerti alur novel dan kisah di dalamnya.
Jadi jangan jadikan review saya sebagai patokan.
Untuk saya, Aruna dan Lidahnya seperti restoran yang digembor-gemborkan luar biasa tapi saat dicoba ternyata biasa saja. Buat orang lain, mungkin saja seleranya pas!
Saya nggak akan kapok membaca buku karya Laksmi Pamuntjak.

Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
January 5, 2017
Sudah lama pingin baca ini, murni karena gw pernah baca Amba dan karena buku ini membicarakan tentang traveliner (traveling sambil kuliner). Buku ini...gimana ya....gw sama sekali nggak menyangka bahwa gw bakal disuguhi kasus Avian Flu! Jadi, mbak Aruna --yg bekerja di One World--, bersama Bono dan Nadezhda -- sahabat-sahabatnya--, serta Farish --kolega pada awalnya--, menjelajahi beberapa wilayah di Indonesia dimana terdapat suspect H5N1, yg anehnya, menjangkiti 8 wilayah dalam waktu yg bersamaan. Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, mereka berempat (awalnya bertiga, in the end, Farish joined the club) yg mana adalah foodie, menjalankan tugas luar kota ini sembari wisata kuliner. Jujur ya, untuk referensi dan penggambaran kulinernya TOP abis (gw sampe beberapa kali googling untuk lihat penampakan makanannya, ngiler dengan sukses sama bihun bebek ).

Buku ini termasuk page turner, namun gw hanya bisa ngasih tiga bintang. Karena gw nggak berhasil menemukan korelasi si flu burung dengan kegemaran makan-makan Aruna cs. Begitu juga "goal"-nya. Atau, mungkinkah kedua topik tersebut adalah tempelan untuk pembebas rasa bersalah dan kisah cinta Aruna? Atau mungkin ada penjelasan yg lebih baik lagi daripada ini? Yg jelas gw gak kapok baca bukunya Laksmi Pamuntjak :)

Terima kasih iJak atas peminjaman bukunya
Profile Image for heidi.
973 reviews11 followers
September 3, 2022
Honestly, I would give 3 to 3.5 stars with that half star added because this book helped me go through covid quarantine — thanks to its descriptions of various Indonesian dishes that allowed my mind to forget about being sick and stuck in bed. Unfortunately I have no idea what the book was actually about other than Indo cuisine being mouthwatering, delicious, heavenly. The bird flu “main plot” barely made any dent to the entire storyline; it might as well not exist 🤷🏻‍♀️

Basically: an easy-ish novel that is part travelogue, part dream diary. Author probably should not have bothered making her protagonist an epidemiologist because it made little difference in the end.
910 reviews154 followers
January 26, 2018
This book was almost a "DNF" (Did Not Finish) for me. The English translation is solid. The tone is snarky, in fact, very snarky, but overly artificial and uncomfortable. Flippant but not witty. (Was the author or the translator trying to do a poor imitation of Carrie Bradshaw or Samantha Jones from "Sex in the City"?) Aruna, the main character, seems like an adolescent with displaced or misplaced anger.

The main reason I read this book and slogged through it was because of its focus on Indonesian foods. The premise of NGO internal politics and a possible avian flu outbreak was tiresome AND flat AND uninteresting.

Sadly, given my experience with this book, I might not read her other book, The Question of Red, which received a great review from someone I respect.
Profile Image for Salem.
611 reviews17 followers
January 9, 2021
The food writing wasn't particularly evocative, at least for me. Do you need to be deeply fluent in Indonesian cuisine? Perhaps. Despite that, the food writing was the best part of the book. What do the characters care about? We'll never know. What is the protagonist's actual body of knowledge? What insight does she provide to avian flu investigations? We'll never know. What are the major plot points? They leave on an investigation, and then it's canceled but they keep traveling around to eat food. Why are they roaming around eating food? Nobody knows, but it doesn't seem to have anything to do with hunger.

*sigh*

Not an auspicious start to my reading year.
Profile Image for Peter Baran.
863 reviews63 followers
January 16, 2018
So my second Read Harder book and I am initially unsure of how to classify it. I think it would like to be literary fiction, and I initially thought it would be a culinary infected thriller about bird flu in Indonesia. It actually is a romance, both of the standard type and one of food - the heroine is a bird expert travelling Indonesia with her stuck up colleague trying to help cure or quarantine the 2011 SARS outbreak. Joining her are her best male and female friends, a chef and a food writer - which is then an excuse to go to different parts of Indonesia and eat different food. This started well, the food and travelogue integrated nicely, but about halfway the book fails to convince of the culinary diversity of Indonesia (which I am sure exists), the romance becomes obvious and the corruption and medical meta-texts never really gel. I'm counting it as my Romance novel by AND about a person of colour (though I could knock off a few more here).
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews45 followers
September 1, 2018
Hal yang paling menarik di novel ini (sesuai judulnya) adalah cara Laksmi Pamuntjak menceritakan tentang makanan. Jelas sih, tambahan “gelar” Penulis The Jakarta Good Food Guide di covernya terbukti. Aduhai sekali, bikin air liur menetes dan lapar. Narasi tentang kulinernya, dari makanan (dan warungnya) yang sudah sangat familiar sampai yang namanya saja susah disebutkan pun yang tidak disukai oleh karakter-karakternya, membuat penasaran ingin mencicipi. Kecuali pembahasan tentang wine yang agak kurang nyambung dengan otak saya, memang diperuntukkan pembaca yang kehidupan sosialnya ada di atas saya, sepertinya.

Ceritanya, tentu saja, bukan hanya tentang Aruna dan lidahnya. Tapi juga dengan pikirannya, mimpinya, kesepiannya, ketidakpeduliannya, keinsecure-annya, pokoknya semua kehidupannya. Sayangnya, kerumitan Aruna ini kurang terasa terjalin menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. Masing-masingnya seperti berdiri sendiri-sendiri saja: Aruna saat menikmati makanan, Aruna saat menjadi ahli wabah dan pekerjaannya yang dibayangi konspirasi, Aruna saat menjadi manusia dengan kisah hidupnya, Aruna saat bersama teman-temannya. Malah tiga terakhir itu seperti menjadi pelengkap saja. Juga banyak informasi (dan banyak opini) yang terkesan dilempar acak begitu saja, hanya untuk disampaikan tanpa menambah plot.

Entah karena ceritanya kulinernya yang sangat menonjol sehingga yang lain terasa sebagai pemanis saja, atau memang terlalu ingin menyampaikan banyak hal dalam satu waktu? Atau bahkan sebetulnya saya bingung sendiri inti cerita novel ini apa. Mungkin Aruna dan lidahnya saja memang sudah cukup.

Aruna ini sebetulnya seperti orang kebanyakan jadi mudah untuk dimengerti. Setelah menghilangkan image Dian Sastro sebagai Aruna tentunya (iya, buku ini mau difilmkan —atau sudah tergantung kalian baca review ini kapan, dan seperti Nicholas Saputra yang bukan Bono sekali, Dian Sastro pun bukan Aruna sekali.) Tapi ya itu, sayang tidak bisa membayangkan fraksi-fraksi kehidupan Aruna menjadi karakter yang penuh. Tapi tetap suka pilihan kata Laksmi Pamuntjak. Dan saya tetap ingin menonton filmnya.
Profile Image for Marie.
135 reviews
February 4, 2018
I have a lot of ambivalence about this book because I think that if I were more familiar with Indonesia (geography, food, culture), the book would hold more resonance for me. Importantly, I don't think that it is necessarily a novelist's job to familiarize me with a new place; writers are perfectly free to write from within a culture to readers within that culture, and such work is quite often beautiful and powerful. As an outsider, though, reading this novel felt like "looking through a glass darkly" - like there was something here I was missing because the food and the places were all unfamiliar and the novel didn't bridge the gap. And like many novels I've read lately about characters in their 30s, the people here seemed a bit flat; I kept sensing interesting layers underneath, but I had a hard time surfacing them. I will say that the avian flu premise that sparks the characters' travel around the country seemed more like a poorly executed McGuffin than anything else - it wanted to mean something, I think, but never quite got there. "Never quite got there" is how I felt as I read - I never quite got to where Pamuntjak was trying to take me. But I don't know, honestly, if that is my own ignorance or something in the novel itself. I kept feeling like it was a book that either I should like more than I did or that should be better than it was.
538 reviews
January 11, 2018
1 Star and a DNF designation (Did Not Finish).

I was drawn to the story line. I like epidemiological mysteries and I enjoy food writing. It seemed an intriguing combination.

I made it through 40% and could not read any more. The writing is good, but drawn out and laborious. There were several chapters that developed characters, which I thought could have been significantly condensed without losing the plot.

The author seems to be forcing together several disparate items together, i.e. champagne and popcorn. Then, of course the whole premise of the book, an epidemiologist sent to investigate an avian flu outbreak, who brings two friends along and plans to eat at the finest restaurants in all the places she is investigating. I found the investigation of a potentially life-threatening disease and a focus on gourmet eating to be to disturbing and decided to not finish the book.
Profile Image for Ninnasi M.
28 reviews1 follower
July 1, 2017
Sampai ke beberapa halaman terakhir masih dibuat bosan saat membaca novel ini, bertahan karena penasaran semacam "serius nih gini doang? duuhh mana deh klimaksnya, mana deh serunya?". lalu kemudian mengendalikan diri sendiri dan meyakinkan bahwa tak semua novel atau tulisan yang masuk best seller harus SERU. di beberapa halaman terakhir mood saya yang sudah kebosanan terselamatkan oleh beberapa quote di buku yang yaah bisalah di-share. yap!! ragam kulinernya juga sungguh terbatas menurut saya, berkutat di mie, pun konflik di bidang pekerjaan Aruna juga kurang greget menurut saya. tapi yaaahh kembali lagi kepada selera tiap orang pastinya, yang jelas bagi saya, saya tidak akan merekomendasikan novel ini kepada rekan atau teman saya.
Profile Image for Wilman Wilson Lumbantoruan.
31 reviews
September 22, 2018
Premis sangat menjanjikan. Kemasan menarik. Cerita mengalir. Detail sangat mewah. Kerenlah pokoonya. Cerita tentang dunia kuliner tentu akan membuat lapar pembaca sastra kita. Hanya......


Hanya saja, harus ada unsur politik ya dalam karya sastra? Kenapa harus ada isu dlu burung? Memang flu burung menyimpan trauma di meja makan. Tapi sebenarnya kedalaman konflik semua tokohnya sudah sangat sastrawi. Barangkali benar, kalau buku sastra mau dihargai di luar negeri harus ada unsur cerita politiknya. Sayang. Meja makan yang sudah tertata hidangan lezat jadi jadi kurang menyelerakan dengan ambisi berbau hal hal yg disukai penerjemah luar negeri itu #pendapatsubyektif
Profile Image for Paskalis Damar.
38 reviews7 followers
June 10, 2018
I read ‘Aruna & Lidahnya’ in anticipation to the upcoming movie directed by one of the finest Indonesian directors. I had the pictures of the characters in my mind and I had known the synopsis a little before going through the book.

‘Aruna & Lidahnya’ revolves around a gastronomical journey around the most exotic cities of Indonesia, which goes hand in hand with an expedition to unravel a strange Avian flu epidemic—with a hint of conspiracies. Aruna, the main protagonist, mostly becomes an observer to whatever happens around her—be it with enticing description of foods and the taste; the Avian flu jingle jangles; or the dynamics within her small group.

The book barely has an arc or, honestly, plot. It almost feels like a travel journal and “the plot” is only attached here and there. And, there’s this dream sequence in every beginning of each chapter—which sometimes is related to whole chapter, but mostly digs deeper to Aruna’s character, explaining how she’s an overthinker. No matter how well written it is, it’s a little hard to finish this.

It should’ve gone with ‘Aruna & Lidahnya & Pikirannya yang rumit’ title instead. Now I wonder how the movie will be.
Profile Image for Balya Sulistiyono.
54 reviews5 followers
September 23, 2024
Saya lumayan suka buku ini. Karakternya agak seperti karikatur, yang menurut saya cocok karena memang kita akan diajak mondar-mandir dan melihat makanan dari lensa hiperbolis yang berbeda: dari foodie yang cari pengalaman baru, koki yang cari inspirasi untuk berekspresi, kritikus makanan yang makan untuk menilai, dan mas-mas dan mbak-mbak biasa yang hobi makan botok pakis.

Bukunya mengajak saya jalan-jalan keliling kulineran yang mengingatkan saya ketika saya lomba ke Medan dan makan soto di tempat yang banyak PNS. Jalan-jalan mereka memang tujuannya bisnis, tapi duduk di kursi belakang mobil travel mereka, saya merasa perjalanan ini sangat meditatif.

Plot utama tentang survei wabah diselesaikan dengan cara yang mirip dengan tahu bulat kelamaan—panas di awal, kemudian mengempis. Kita diberi “plot twist” soal konspirasi tapi bagi saya kurang nendang. Pun resolusinya kurang berasa.

Meskipun gitu, saya cukup menikmati buku ini. Saya baca cukup lama, tapi saya pikir mungkin memang buku soal jalan-jalan perlu dibawa santai saja.
Profile Image for Ayu Lestari Gusman.
121 reviews
July 26, 2018
Hampir dapat 5 bintang. Tapi menuju halaman akhir, ada yang membuat saya berubah pikiran.
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews123 followers
November 25, 2018
Euforia film Aruna & Lidahnya yang sebentar lagi akan tayang di bioskop membuat saya tertarik untuk membaca novelnya. Sebenarnya saya sudah tahu akan keberadaan novel dengan sampul mangkok ayam ini jauh sebelum filmnya dibuat. Namun pada saat itu belum ada ketertarikan sama sekali untuk membacanya. Dan saya sangat menyesal baru mencicipi buku yang sangat mengenyangkan ini. Ahli wabah, flu unggas, kuliner, dan romansa merupakan bahan baku dari cerita Aruna & Lidahnya. Premis yang ditawarkan penulis sangat menjanjikan dan menggoda. Bisa dibilang Laksmi Pamuntjak memberikan sesuatu ide yang baru dan segar melalui Aruna & Lidahnya yang wajib kita cicipi dan rasakan kenikmatannya.

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya Aruna & Lidahnya memiliki tema yang campur aduk, tapi fokus utamanya tetap pada dunia kuliner. Meskipun bisa dibilang pekerjaan Aruna sebagai ahli wabah di sini hanya sekedar tempelan, tapi saya cukup menikmati dunia kuliner yang dieksplor oleh penulis. Dari judulnya saja sudah terlihat jika novel ini memang lebih menjurus ke tema kuliner daripada tema lainnya. Saya sendiri sebenarnya merasa jika penulis masih bingung dalam menentukan arah cerita apakah ingin mengeksplor tentang flu unggas, kuliner, atau romansa antara Aruna dan Farish. Kebingungan penulis ini berdampak pada hampanya jalan cerita yang terkesan nanggung dan kurang kuat. Padahal premis yang ditawarkan penulis sudah menarik, tapi sayang eksekusinya terkesan membingungkan.

Tokoh Aruna digambarkan sebagai wanita dewasa berkepala tiga yang masih belum menikah. Pekerjaannya sebagai ahli wabah mengharuskannya untuk pergi ke berbagai daerah. Selain itu Aruna juga memiliki obsesi tersendiri terhadap makanan. Aruna memiliki sifat yang pendiam dan introvert, tapi jika berbicara soal makanan dia akan sangat bersemangat. Kemudian ada tokoh Farish yang merupakan seorang dokter hewan sekaligus rekan sekantor Aruna. Farish memiliki watak sok tahu dan menyebalkan. Lalu ada tokoh Bono sang chef yang memiliki sifat pendiam dan sangat passionate dengan dunia kuliner. Terakhir ada Nadezhda yang anggun, cantik, sekaligus liar. Nadezhda merupakan seorang penulis dan blogger kuliner. Semua tokoh yang ada dalam novel ini terbilang cukup kuat dan berkarakter. Saya bisa merasakan perbedaan karakter setiap tokohnya. Mulai dari Aruna yang suka makan hingga Nadezhda yang berselera tinggi.

Alur cerita dalam novel ini terbilang cepat, tapi karena gaya bahasanya yang rumit jadi terkesan lambat dan bertele-tele. Gaya bahasa penulis dalam Aruna & Lidahnya terbilang rumit dan ruwet. Dengan pemikiran dan mimpi-mimpi Aruna yang sedikit absurd, mulai dari ingatan akan ayahnya, rasa rendah dirinya akibat keberadaan Nadezhda, hingga pandangannya tentang agama dan politik. Sebenarnya sah-sah saja jika penulis ingin terlihat berbeda melalui gaya bahasanya, namun sayangnya menurut saya gaya bahasa dalam Aruna & Lidahnya terlalu berbelit-belit. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama melalui tokoh Aruna. Melalui sudut pandang ini saya bisa melihat pandangan dab kekhawatiran Aruna akan nasibnya. Satu hal yang saya suka adalah diksi penulis yang sangat kaya menambah pengetahuan saya.

Tidak terjadi konflik yang berarti dalam Aruna & Lidahnya. Bahkan bisa dibilang tidak terjadi konflik sama sekali dalam jalan ceritanya. Saya merasa bingung sebenarnya di mana letak konflik dalam novel ini, karena terdapat dua hal yang menurut saya masih membingungkan untuk disebut sebuah konflik. Pertama kejanggalan kasus flu unggas dan birokrasi yang korup. Kedua keresahan hati Aruna akan perilaku Farish yang mendadak perhatian terhadapnya. Sisanya yang saya rasakan hanya perjalanan wisata kuliner yang terkesan terlalu lempeng dan datar. Meskipun konfliknya tidak terlalu terasa, saya salut dengan pengetahuan penulis akan kuliner Indonesia yang sukses bikin saya lapar.

Membaca Aruna & Lidahnya seperti merasakan kuliner Nusantara dalam satu kali suap. Laksmi Pamuntjak terbilang berhasil mengangkat tema kuliner yang memang masih jarang ada di Indonesia. Aplagi selain kuliner, premia yang ditawarkan penulis seperti ahli wabah dan flu unggas pun terhitung baru dan menarik. Selain bisa menikmati ceritanya, saya dibuat kenyang dengan berbagai deskripsi kuliner dalam buku ini. Akan tetapi sayangnya saya masih merasakan kebingungan penulis dalam menentukan arah cerita. Di mana di satu sisi kasus flu unggas bisa dibilang menarik, tapi di sisi lain penulis juga ingin menonjolkan kuliner dalam ceritanya. Padahal jika penulis bisa lebih seimbang dalam memberikan porsi antara kasus flu unggas dan kuliner, saya jamin ceritanya akan lebih kompleks. Secara keseluruhan Aruna & Lidahnya tak hanya menyajikan kekayaan kuliner Indonesia, tapi juga pandangan penulis akan agama, politik, dan birokrasi pemerintah di tanah air yang masih jauh dibilang baik.

Selengkapnya : https://www.facebook.com/notes/fahri-...
Profile Image for Ddnreads.
403 reviews6 followers
August 11, 2022
Buku pertama mbak Laksmi yang saya baca. Judul, teaser film, dan cover terlihat sangat menjanjikan. Namun sayangnya, buku ini bukan termasuk selera saya.

Buku ini berkisah tentang Aruna Rai, perempuan berusia 35 tahun yang 'menggeluti' makanan, dan juga seorang epidemilogist atau ahli wabah. Bersama 3 temannya yang lain, kita akan dibawa ke berbagai macam topik obrolan, isu2 terkait pemerintahan, penyebaran virus, dan tentu saja kulineran di berbagai daerah di nusantara, serta berbagai pengetahuan tentang kuliner luar negeri.

Buku ini mempunyai pattern yang solid untuk setiap babnya. Latar belakang setiap karakter dilentakkan rinci di bab2 awal, dan pada bab-bab berikutnya kita akan dihadirkan oleh mimpi2 Aruna dengan makna tersirat, kunjungannya ke setiap daersh, makanan apa yang ada disitu, serta bagaimana kondisi rumah sakitnya. Terus berulang hingga akhir, disisipi2 nuansa romansa dan dinamika dialog seputar persahabatan.

Saya suka dengan karakter utama yang sangat jujur dan apa adanya serta deskripsi fisik yang tidak sesuai dengan beauty standard di masyarakat. Hidup curvy main character!!!😂 sebagaimana manusia pada umumnya, karakter Aruna tidak dibuat penuh dengan sifat2 yang menyenangkan. Ada kecemburuan dan konflik2 pikiran yang membuatnya terasa normal. Not fairy godmother good kind of trait. Oiya, saya juga suka perkembangan karakter Aruna untuk membuka diri dan menerima cinta.

Alur di buku ini tidak terlalu lambat, namuuun, minimnya konflik membuat saya sering bosan dan menghabiskan waktu yang lama untuk menyelesaikan buku ini. Buku yang menurut saya datar2 saja.

Perwabahan yang dibawa dituliskan di buku ini lebib bersifat sosial daripada saintifik. Aruna sebagai seorang epidemologist pun tidak memberikan insight yang signifikan. Karakter dia sebagai epidemologist jadi tidak relevan.

Deskripsi makanan cukup menggiurkan tapi tidak sampai super mouth watering. Untuk buku bertema makanan, jadi kurang berasa feelnya.

Jadiiii
Apakah buku ini bagus dan layak dibaca? Bagus. Tapi bukan buku pilihan pertama yang akan saya rekomendasikan ke orang-orang.
Profile Image for Jite.
1,313 reviews74 followers
August 10, 2018
A Love Letter to Indonesian Food!

I started this novel believing it was going to mostly be about food and a bit about avian flu and possibly the conflict between being a “foodist” (nod to Nadezhda) and the dangers the food industry presents. I was wrong. There’s only a sprinkle of avian flu in this novel- it’s at least 80% food and travel, so that assumption was correct. That said, I was blindsided by a book that is a lot about food (the food porn!!!) but also a lot about an imperfect protagonist and all her insecurities and imperfections and doubts and pretentions that make her not entirely likable but eminently real!

Aruna, the main character, is a storyteller, a dreamer, a food lover, a duty shirker, a procrastinator, a people hater, a deep thinker, a pessimist, a realist, and like all of us desirous of being loved whilst not feeling very deserving of it. Aruna is an everywoman, not in the sense that we can all relate with cute habits and humor, but in the way that we are all whiners and complainers and have moments where we’re just not very likable.

The author is obsessed with food- the taste, the the texture, the discourse, the comparison, the smell... oh the smell of it particularly intrigued her. You know how in romance novels or even non-romance novels, heroes smell of “salt and sand and clean air and mountain breezes and warm musk”, whilst heroines smell of “lavender and summer and wildflowers, fruit or exotic dusks...,” ambiguous smells that sound attractive but we can’t always quite imagine what those smells are on a person? Well Aruna has got you- the hero smells like coffee and wood and cheese (... 👀👀👀) and the heroine (Arun) herself smells like cream, oyster and fish .... make of that what you will. The smells and tastes are earthy and real and there’s no pussyfooting around the reality and pungent nature of the smells of food and love. Like imperfect Aruna, the depictions of her attraction and love are realistic and earthy and a little uncomfortable, but all the more real because of that.

This novel is more or less a love letter to Indonesian food, so it does tend to go on describing the most obscure differences between regional cuisine. The actual love story itself is unexpected. If you’re someone who loves food, you’ll probably be able to relate to Aruna who struggles to understand love and human connection, but is intimately comfortable and understanding of every aspect of food.
Profile Image for Lisa Mahardika.
24 reviews4 followers
March 15, 2018
Ini buku yang sangat ingin aku baca ketika pertama kali terbit. Konsepnya terbilang megah; menggabungkan kekayaan kuliner nusantara, politik, konspirasi. Terlebih profil si penulisnya memang menjanjikan bahwa karya ini enggak bakal kopong--dan memang tidak.

Sayangnya, terlalu padat rupanya juga tidak baik. Ambisi untuk membuat karya yang padat rupanya malah bikin ini buku jadi semacam jalinan infodump; belum sempat menghayati satu hal, eh mendadak pindah ke hal lain.

Aku lebih merasa kayak baca travelogue, atau potongan-potongan artikel, halaman demi halaman. Hasilnya, beberapa bab sudah jalan enak..., terus tiba-tiba dragging, terus tiba-tiba twist. Kayak misalnya hubungan si protagonis dan Farish yang kira-kira 3/4 buku dia sebelin setengah mampus, tiba-tiba mabuk kepayang setelah beberapa hari bersama dan melihatnya terlihat ganteng di sebuah bar. Atau konspirasi flu unggas di kantornya yang sebenarnya bisa digodok dengan cara yang lebih... subtle?

Aku ingin suka karya ini, sebab beberapa bagian memang bagus dan bisa jadi lebih bagus, stellar. Peletakan karakter Aruna si "perawan tua" yang medioker dibanding kawan-kawannnya yang serba sukses, serba atraktif (insecurity), isu flu burung yang memang sempat santer dan bagi orang awam masih engga jelas ini bener apa engga (bikin aku jadi tertarik cari tahu juga), ditambah konflik-konflik daerah kayak musabab tragedi Sampang serta efek badai tsunami di Aceh (dia mendeskripsikam orang Lamno, tanpa menyebut, which I applaud).

Sentimentalitas makanan yang berpadu dengan daya gerak dan sejarah manusia, urban dan kampung, kini dan dulu, biasa dan tidak biasa--saking banyaknya yang berusaha penulis ulas, aku rasa solusi supaya novel ini jadi lebih bagus cuma satu: panjangkan, buat jadi sebuah serial, sekuel. Karena pemampatan konten ini terasa serakah banget, setidaknya buat saya.
Profile Image for Abiyasha.
Author 3 books14 followers
June 7, 2018
Saya punya ekspektasi tinggi dengan novel ini mengingat Amba adalah salah satu novel paling luar biasa yang pernah saya baca. Namun, Aruan & Lidahnya terbukti sebagai novel follow-up yang cukup mengecewakan. Premisnya cukup menarik, tapi eksekusinya buat saya kurang rapi. Saya berharap isu flu burung justru dihilangkan dari buku ini dan fokus novelnya adalah perjalanan Aruna beserta Farrish, Nad, dan Bono mengeksplorasi makanan di tiap daerah. Tanpa isu flu burung yang menurut saya cuma jadi tempelan karena nggak ada penyelesaiannya, novel ini akan jadi novel yang utuh.

Lalu soal mimpi-mimpi Aruna di awal tiap bab. Apakah ini punya maksud tertentu? Karena saya jelas nggak liat korelasinya apa dengan alur cerita. Ataukah saya yang memang nggak paham? dari segi karakter, saya justru lebih suka Nad daripada Aruna. She's a rounded character to me. Novel ini seperti naik motor di jalan yang nggak rata, tapi masih ditambah polisi tidur yang nggak karuan banyaknya. Mbak Laksmi seperti bingung mau ngebawa cerita ini, yang jatuhnya jadi setengah-setengah dan nggak full. Dibanding Amba, novel ini sangat mengecewakan meski secara diksi, saya tetep angkat topi.
Profile Image for Puty.
Author 8 books1,381 followers
September 1, 2018
Saya akhirnya penasaran untuk benar-benar membaca buku ini karena akan difilmkan. Saya suka dan tidak kecewa membacanya. Novel ini memenuhi ekspektasi saya karena sesuai sekali. Beginilah kalau seorang Laksmi Pamuntjak menulis novel tentang makanan: realistis namun lezat. Bagi saya, menggambarkan makanan lewat kata-kata sampai kita seperti bisa merasakannya ada di depan mata dan terasa di lidah adalah kejeniusan yang harus diimbangi jam terbang. Sampai detik ini, liur saya terbit mengingat deskripsi soal Gula Puan. Glek.

Mungkin bagi sebagian orang ini pretensius atau sok pintar dengan segala detil soal chef dan restoran kelas dunia dan wine-wine mahal. Namun saya melihat bahwa penulis memiliki gairah yang jujur pada mencicip makanan dan minuman.

Namun harus diakui kalau alur cerita di buku ini sangat sederhana. Konfliknya tipis, itupun politis. Namun romansanya bikin saya tergelitik. (Mungkinkah karena bisa langsung membayangkan Farish sebagai Oka Antara???)

Saya akan merekomendasikan novel ini, tapi mohon diingat, ini bukan novel pop. Aruna bukan Dian Sastro. Bono buka Nicolas Saputra. :)
Profile Image for Ayu Welirang.
Author 17 books94 followers
April 7, 2020
Saya sesungguhnya mau kasih novel ini bintang 5++ kalau saja tidak mendapati akhir yang terkesan diburu-buru.

Dari awal cerita, hingga menuju beberapa puluh halaman sebelum akhir, sebenarnya saya masih menikmati kisah investigasi Aruna sambil berkuliner. Setiap penuturan Mbak Laksmi dari sudut pandang Aruna, bisa memberikan saya gambaran bahwa Aruna memang:
1. Cerdas.
2. Cerdas tapi tidak suka banyak omong.
3. Humoris juga dan cenderung impulsif dalam melempar humornya itu.

Hal-hal inilah yang saya suka, apalagi ketika sedang ngobrol dengan teman "alien" yang ia sayangi, Bono. Chef yang obsesif terhadap makanan dan surga baru makanan.

Saya suka sekali, sampai saya mendapati perjalanan yang mulai dari Aceh sampai akhir novel, seperti terlalu mengebut. Padahal, Farish juga kan ikut Aruna dan rombongan sejak awal novel, tapi kenapa letupan itu baru muncul menjelang akhir ya?

Ah, jadi kecewa nih. Tapi, secara garis besar sih saya suka. Suka sekali.

Ulasan lengkap ada di: https://lib.ayuwelirang.com/2020/04/b...
Profile Image for Magen - Inquiring Professional Dog Trainer.
882 reviews31 followers
did-not-finish
July 28, 2018
Did not finish. While some reviewers indicated that this book would be enjoyable for non-foodie's, it is way to heavy on detailed descriptions of food dishes to keep my interest. Maybe if I had a better sense of the dishes described, I would be more interested, but mostly, I'm not interested enough in food culture to invest more time in a book I didn't connect with 2 hours into an 11 hour audiobook.
Displaying 1 - 30 of 338 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.