HIGHLY RECOMENDED
banyak yg kusuka dari bukunya mas Pandji ini
dimulai dari daftar isinya :
-belajar politik
-belajar hukum
-belajar ekonomi
-memahami Indonesia
-bersatu bukan jadi satu
-menciptakan perubahan
-mendunia
-beraksi
bahasanya sederhana.....satu-satu mas Pandji mengupas masalah Indonesia dg gaya ringan.
dari kuliah, saya udah tertarik ingin menjadi pengamat. tapi meliat keruwetan bahasa di koran2 / internet / buku jadi mengundurkan niat #eh
tapi membaca buku ini, mengingatkan diriku kembali
bahwa kita sebagai generasi pemuda ga bisa aja membiarkan masalah yg terjadi di sekitar kita. minimal tau apa masalahnya.jadi jika ditanya ngga kosong2 banget
yang paling mengusik saya ada di bab belajar politik. dari dulu, saya menganggap politik itu ribet..bet...bet...ampe ogah mw baca berita politik.
tapi oleh mas pandji dituturkan bahwa justru politik itu sederhana.dan berhubung bentar lagi daerah saya ada pemilihan gurbernur/wakilnya, saya jadi semangat mencari tahu. ini kutipan mas pandji :
Di Indonesia, nyata terlihat bahwa rakyat belum tahu apa yang terbaik untuk dirinya
Saya sebut satu contoh, memilih artis dalam pemilu legislatif
Partai-partai di Indonesia sadar bahwa majunya reformasi politik di Indonesia tidak diikuti oleh pemahaman rakyatnya. Partai mencalonkan artis dengan harapan dipilih oleh rakyat sehingga mereka bisa punya kursi sebanyak-banyaknya di parlemen. Para artis ini tidak perlu paham apa-apa. Meskipun paham, tidak akan membawa pengaruh karena jumlah kursi lebih penting bagi partai dalam penentuan kebijakan. Yang penting, semua legislator yang duduk di kursi tersebut kelak bisa satu suara. Suara partai
Kalau rakyat tahu apa yang baik untuk dirinya, tentu mereka akan memilih wakil yang kompeten, tidak hanya yang populer (walaupun nantinya juga akan muncul masalah selanjutnya, wakil-wakil tersebut enggak jelas kualitasnya)
Nggak usah jauh-jauh, deh, bukti bahwa rakyat Indonesia tidak tahu apa yang baik untuk dirinya bisa dilihat dari acara TV dengan rating tertinggi di Indonesia: Sinetron
masih banyak isu2 yang diangkat mas Pandji.membuat mataku melek dg masalah2 indonesia
seperti di bab bersatu bukan jadi satu
di bukunya, mas Pandji mengambil isu orang atheis di Indonesia. dimulai dari kejadian penganiayaan Alexander Aan, pegawai negeri yang mengaku atheis di FB, lalu dipukuli di kantor.
Saya sendiri bingung mengapa ada orang yang merasa sebal, benci, kesal, bahkan sampai menganiaya orang yang ateis
Itu kan pilihan dia
Mengapa orang-orang itu harus kesal
Mengapa harus memukuli
Rata-rata bilang, mereka khawatir kalau orang-orang atheis ini akan menyebarkan pemikiran mereka dan membuat orang lain menjadi ateis. Ada juga yang bilang bahwa orang ateis ini jangan dikasih panggung untuk bicara karena " masyarakat Indonesia masih banyak yang labil dan mudah terpengaruh
Krik Krik......
Ya, itu sih salah iman mereka sehingga labil dan mudah terpengaruh
Kalau pede dengan imannya, seharusnya tidak khawatir akan terpengaruh
Kalau takut anggota keluarga kita terpengaruh, ya, berarti fokus kita pada penebalan iman anggota keluarga kita. Bukan malah menggebuki orang yang ateis
Saya setuju seperti yang mas Pandji bilang, setelah masa Orba, di mana masyrakat mulai diberi ruang untuk hidup, tumbuh dan berkembang, baru disadari ternyata 240 juta rakyat Indonesia sangatlah berbeda. Dan, ternyata, kita tidak siap.kasus ateis dan FPI buktinya.
satu lagi yg kusuka, di tiap bab ada poin2 aksi perubahan yang bisa kita lakukan.mulai dari hal2 kecil seperti mencermati isu atau memilih bidang yang kita akan fokuskan.
beres baca, saya sadar, satu buku ini aja ga cukup untuk menambah wawasan. mas pandji juga menerangkan sedikit ttg passion. suatu hal yg blm saya temukan. menurutnya, jika kita sudah menemukan passion, maka akan lebih mudah untuk mengambil aksi berani mengubah.
jadi bagi para pembaca yg ingin termotivasi membantu Indonesia atau tidak mau dibodoh-bodohi penguasa, buku inilah jawabannya.