Diorama Sepasang Albanna, yang menampilkan gambar seorang gadis berwajah agak Timur Tengah, yang menggunakan hijab. Bagi saya, buku itu tidak beda dengan buku-buku religius lainnya, yang isinya lebih banyak menggurui memenuhi hasrat penulisnya ketimbang pembaca bukunya.
Suatu malam, saat saya berkesempatan menyampul buku itu, saya mencoba untuk membaca beberapa halaman di bab 1 (dalam buku ini, bab disebutkan dengan persil yaitu bidang atau bagian,red). Halaman 10 terlewati, berlanjut ke halaman selanjutnya, dan selanjutnya, hingga saya pun lupa untuk menyampulnya karena keasyikan membaca hingga dini hari.
Saya terhanyut dalam buku yang bercerita tentang seorang gadis bernama Inda Maharani atau Rani, yang bekerja di PT Ken Petra Association, salah satu biro arsitek terkenal di Jakarta, biro arsitek impian Rani. Gadis yang kesehariannya menggunakan jilbab panjang, yang rela turun jabatan dari arsitek tim di kantornya yang lama, menjadi drafter di kantor barunya. Rani yang harus menghadapi atasan yang sering kali menyulitkannya, otoriter, sombong dan angkuh.
Serta teman-temannya yang tergabung dalam Tim Sembilan, dengan karakternya
masing-masing, yang menganggap dirinya orang yang berbeda, yang tak perlu dijadikan teman dekat, hanya karena selalu meluangkan waktu untuk sholat di mushala kecil kantornya dan rajin berpuasa Senin – Kamis.
Suatu kali, Ryan Fikri, atasannya yang otoriter, memberi Rani tugas untuk membuat desain rumah tinggal Islami. Rani, yang mempunyai idealisme arsitektur membangun kehidupan, bukan menghancurkan kehidupan yang sudah terbangun, dengan semangat membuat konsep desain rumah tinggal itu. Tetapi bukan pujian yang diterima Rani atas kerja kerasnya. Desainnya disamakan dengan pekerjaan mahasiswa arsitektur semester dua, bahkan setelah direvisi pun hanya meningkat ke semester empat.
Kalau tidak mengingat ibunya, yang sendirian membiayai sekolahnya hingga ke perguruan tinggi dan berharap putrinya berhasil dalam pekerjaannya, Rani yang sakit hati ingin keluar saja dari biro arsitek itu.
Rupanya Ryan punya alasan sendiri bersikap dingin dan sombong. Ia tak ingin orang lain tahu bahwa dirinya hanyalah sepotong kayu yang rapuh, yang terombang-ambing dalam sungai deras, karena berusaha mencari muara untuk mengapung dengan tenang. Ryan adalah tipe pria mandiri, yang meraih puncak kesuksesan dengan kepandaian dan usahanya sendiri. Ryan merasa dirinya tak memerlukan orang lain dalam hidupnya.
Namun fitnah yang menimpa Rani, memutuskan Ryan untuk melamar Rani sebagai istrinya. Meski sempat terganjal dengan sikap bimbang Ryan, Rani pun menjalani kehidupannya sebagai istri Ryan, si eksekutif muda. Riak-riak kehidupan pernikahan menimpa pasangan yang berbeda karakter tersebut. Terutama ketika mereka berdua mendirikan biro arsitek kecil yang diberi nama Albanna, yang sesuai dengan artinya diharapkan menjadi sang pembangun bagi kehidupan mereka, tapi justru malah memisahkan mereka berdua.
Apa yang menarik dari buku ini ? Bukankah konflik dalam rumah tangga, perbedaan idealisme, adalah hal yang biasa ditemui dalam tema-tema penulisan novel ? Apalagi buku ini mengusung agama Islam, sebagai dasar penulisan cerita.
Ya, bukan konflik yang menggigit memang, tetapi karena Ari Nur, menuliskannya dengan gaya bahasa yang runtun dan istilah-istilah dalam agama Islam yang umum dan mudah dipahami, karakter dua tokoh utama yang kuat, membuat buku ini sangat inspiratif dan tidak menggurui.