Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kalau tak untung

Rate this book

156 pages, Unknown Binding

First published January 1, 1962

Loading...
Loading...

About the author

Selasih

7 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
48 (37%)
4 stars
38 (29%)
3 stars
30 (23%)
2 stars
9 (6%)
1 star
4 (3%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for Abie Angela.
22 reviews2 followers
January 4, 2011
Tak disangka. Ini adalah buku yang pertama kali selesai dibaca di awal tahun 2011. Buku ini adalah karya sastrawan wanita pertama Indonesia angkatan Pujangga Baru, yang dikenal dengan nama Selasih.

Berlatarkan kehidupan di suatu pedesaan di Sumatera Barat, buku ini menceritakan tentang kesukaran hidup, persoalan adat istiadat dan gambaran perempuan ideal dalam rumah tangga maupun kehidupan sosial.

Patutlah buku ini dicoba untuk memperkaya pengetahuan kita tentang sastra Indonesia.
18 reviews10 followers
April 13, 2012
Ini buku saya baca waktu di sekolah dasar. Kisah cinta yang berliku-liku dari dua sahabat dari masa kecil. Dengan latar belakang budaya Sumatera Barat. Waktu itu sebel banget sama tokoh pria nya yang mencla-mencle :D
Salah satu tulisan sastra Indonesia yang bagus, pengen baca lagi...
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 4 books105 followers
June 21, 2026
Jikalau ingin membaca novel yg ditulis perempuan tahun 1930an, mungkin bisa membaca ini. Jika ingin melihat seperti apa cowo bendera merah, plin plan, dan bikin pengin lempar sandal, bisa baca novel ini
Profile Image for Desil.
31 reviews4 followers
April 2, 2008
Buku pertama yang ana baca waktu SMP
Profile Image for Rizkana.
252 reviews29 followers
September 4, 2025
Saya tidak sengaja menemukan buku ini di salah satu toko buku di Blok M, tampaknya buku ini cetakan lama karena ejaannya pun masih ejaan lama.

Yang membuat saya tertarik adalah judulnya. Seakan mengetuk rasa penasaran, "Kalau tak untung" lalu kenapa? Ternyata ceritanya cukup menarik untuk diikuti. Mungkin bisa disebut, genre cerita ini adalah romantis karena mengangkat kisah cinta kedua tokohnya, yaitu Rasmani dan Masrul. Yang tidak saya antisipasi adalah, ternyata tipikal kisah cinta yang terjebak hubungan kakak-adik sudah terjadi sejak 1933! :')

Ok, secara karakter, hmm... saya tidak bisa berempati dengan karakter Masrul meskipun kegundahannya bisa saya pahami. Dia punya pilihan dan dia berkali-kali memilih yang salah. Wajar kan kalau ia harus menerima konsekuensi tindakannya--patah hati sepanjang hayat.
Saya juga agak sedikit kecewa dengan karakter Rasmani. Ketika ia memutuskan untuk mengajari Aminah yang adalah saingannya dalam hal percintaan, saya mengaguminya. Namun, ketika akhirnya Rasmani jatuh sakit karena di-ghosting Masrul, ah... kenapa sih penulis harus memilihkan akhir seperti itu. Kenapa tidak Rasmani menolak Masrul dan menikah dengan tokoh lain saja?

Secara latar, buku ini sarat budaya, termasuk pribahasa, dari suku Minang, benar tidak ya generalisasi saya karena latarnya ada di daerah Sumatra Barat. Mohon maaf kalau salah menarik simpulan. Biar begitu, banyak istilah, diksi, budaya, adat istiadat, dan pribahasa yang masuk menggerakkan cerita. Contohnya dalam menggambarkan 'jebakan' yang menjerat Masrul ke dalam pernikahan. Tambah lagi, ejaan buku ini masih ejaan lama. Jadi, pembaca diharapkan untuk ekstra perhatian dan tidak mengapa membaca berulang-ulang untuk memahami percakapan dan alur cerita. Bagi saya, perbedaan ejaan ini justru membuat buku ini makin menarik.

Terakhir, perihal bagaimana buku ini berdampak pada saya. Terbit pertama kali pada 1933, ada banyak pemikiran penulis yang, bisa dibilang, sudah jauh lebih maju dari eranya.

Pertama, bahwa perempuan harus mengenyam pendidikan, bisa mempelajari keterampilan-keterampilan yang membantunya dalam kehidupan, termasuk merenda, dan sebisa mungkin mandiri secara finansial.

Kedua, bahwa praktik pernikahan usia dini semestinya ditinggalkan. Dalam latar cerita, laki-laki umur 18 tahun sudah wajib dinikahkan, sedangkan perempuan usia 14 tahun sudah dianggap dewasa benar untuk dinikahkan. Bayangkan kalau masyarakat pada latar itu (1933) time traveling ke 2025, apa mereka tidak mati berdiri menyaksikan betapa banyaknya laki-laki dan perempuan yang masih melajang pada usia 30-an dan mereka semua baik-baik saja, dunia juga tidak runtuh :))

Ketiga, perempuan dukung perempuan. Keputusan Rasmini untuk mengajari Aminah, bahkan keputusannya untuk menentang memberikan saran perceraian antara Masrul dan Muslina menitipkan pesan betapa perempuan bisa mendukung perempuan. Keren sekali!

Sebagai tambahan, Selasih rupanya adalah nama samaran dari Sariamin Ismail yang dicatat sebagai novelis perempuan pertama Indonesia. Jadi, kalau ada kesempatan, bacalah!
Profile Image for Natalia.
61 reviews2 followers
July 22, 2021
Jadi beli buku ini ga sengaja gara gara scroll di tokped yg dimana toko ini kaya jual buku preloved gitu sih. Terus gua coba cari sinopsisnya, kok kayaknya seru dan anggapan soal buku balai pustaka tuh bagus-bagus, eh yaudah beli deh.

Sebenernya ini udh lama gitu di rak sekitar sebulanan dari baru ada kesempatan pengen baca sekarang.

Cerita ini sendiri berlatar di Sumatera Barat gitu, ada di bonjol, painan, bukittinggi dan padang.

Sebenernya ini tuh kisah percintaan yg cukup tragis sih, karena Rasmini sama Masrul akhirnya cuman adek-kakaan doang. Coba aja waktu itu Masrul dengerin kata Rasmini bahwa jangan menikah sama org yg ga dikenal, pasti kayaknya Rasmini gabakal meninggal.

Dan yang males disini adalah karakter Masrul seperti cowo-cowo bermulut manis gitu. Aku gatau ya, mungkin karena ini tuh zaman dahulu banget, jadi ngebaca kata-katanya Masrul serasa pengen aku tonjok, soalnya dia kaya buaya gitu wkwkwkkw....

Tapi yg aku salut disini, penulis udh menyelipkan hal-hal untuk memberikan suatu penekanan terhadap perempuan itu seharusnya bersekolah tinggi, pintar dalam segala hal, dan gaperlh menikah muda. Dalam buku ini juga terselip bagaimana orang tua Rasmani itu lebih mementingkan pendidikan dari pada harus disuruh anak-anak perempuannya menikah. Salut sih. Karena yg kita tau, bahwa hal-hal kaya gitu mungkin jarang di zama dahulu karena budaya patriarki kita lumayan tinggi. Tapi yg aku masih bertanya, kok bisa penulis ini bisa bikin novel yg begitu bagusnya? Hal apa yg membuat dia bisa seperti ini? Dan bagaimana pendidikannya ya?? Kan setau aku pendidikan zaman dahulu kebanyakan buat laki-laki aja...

Hal yang minus dari cerita ini adalah bahasanya. Jujur aku kaya bingung gitu sih sebenernya buat bacanya, karena kaya bahasanya tuh dibolak balik gitu, ditambah banyak banget peribahasa dari Sumatera Barat yang agak susah aku mengertinya.

Overall ini bisa banget buat di baca malem-malem dan bisa sampai nangis di akhirnya. Soalnya tokoh perempuannya mati.. so sad. Aku kira dia lebih bahagia sama kerjaannya dan gausah sama Masrul. Tapi ini dibuat mati.. kesal
Profile Image for Tristanti Wahyuni.
213 reviews6 followers
August 8, 2026
Kisah Rasmani dan Masrul bermula dari persahabatan sejak kecil yang perlahan berubah menjadi cinta. Namun, hubungan mereka tidak berjalan lancar karena keadaan dan pilihan-pilihan hidup yang salah, terutama pilihan yang dibuat oleh Masrul sendiri.

Memang sangat mengesalkan karakter Masrul di sini. Meskipun nasibnya juga agak kasihan, tetapi dia ini definisi cowok bingung kalau kata Gen Z sekarang. Begitu mudah membuat janji yang tidak ditepatinya sendiri. Menggantung hati perempuan dengan harapan yang berujung kekecewaan.

Sampai menyelesaikan membaca buku ini, saya masih nangisin Mani. Masrul red flag! Tapi memang, sebuah pilihan kadang bisa membawa kita pada penyesalan yang panjang. Rasakan penyesalan itu sepanjang hayatmu, Masrul!

Di samping kisah cinta Rasmani dan Masrul yang begitu menyesakkan, yang menarik dari novel ini adalah bagaimana penulis menyelipkan persoalan pendidikan perempuan dan batasan sosial pada zamannya. Rasmani digambarkan sebagai perempuan yang menghargai pendidikan dan berusaha mandiri di tengah lingkungan yang masih konservatif terhadap perempuan.

Novel ini merupakan karya dari pengarang perempuan pertama di Indonesia, ditulis puluhan tahun yang lalu sebelum Indonesia merdeka. Bahasanya pun masih menggunakan ejaan lama dan dipenuhi dengan peribahasa-peribahasa lama pula. Namun, moral yang diusung masih tetap relate sampai saat ini. Bahwa hidup ini penuh dengan pilihan, dan kita harus bijak dalam memilih. Sementara penyesalan yang datang di akhir selalu membawa kita pada sebuah pertanyaan, "Bagaimana jika dulu kita memilih jalan yang berbeda?"
Profile Image for Sapphire C.
19 reviews
October 1, 2025
Seingat-ingatanku, ini sastra klasik Indonesia pertama yang ku baca. Awalnya susah paham dengan diksi dan susunan kalimatnya karena benar-benar pakai diksi dan susunan kalimat lama, untungnya di-edisi yang ku baca ini sudah ngga pakai ejaan lama juga.

Untuk ceritanya, cukup klise, dan jangan dipertanyakan moral ini-itu nya yang bertentangan dengan zaman yang ada sekarang, mengingat cerita ini pertama publish di tahun 1933, jauh sebelum Indonesia merdeka, Jepang pun belum datang.

Penokohan-nya cukup jelas, pengembangan ceritanya pas, konflik-nya jelas dan ngga bertele-tele, endingnya juga memuaskan.

Kekurangannya mungkin karena ini dibaca berpuluh-puluh tahun kemudian dengan pengetahuan minim kepada bahasa sendiri, jujur kadang agak susah dimengerti, mengingat banyak juga dipakai peribahasa dan pepatah di dalamnya. Untuk ukuran sastra dibawah 200 halaman, cerita ini worth to read. Bacaan sekali duduk habis.
Profile Image for gab.
33 reviews
April 2, 2026
this book was honestly quite tiring to read, but in a meaningful way. it’s my second indonesian classic, and once again, it gave me a memorable experience.

the author really takes you through a range of emotions. each chapter carries a different feeling, which makes the journey feel rich but also heavy at times. the pacing is very slow burn, starting off soft and mendayu dayu, then gradually turning into something deeply sad and full of grief toward the end.

one thing i truly appreciated is how well the characters are built. the character development feels very natural and gradual, making their growth and changes throughout the story feel believable. they feel real and evoke strong reactions. i genuinely hated masrul, which says a lot about how impactful the writing is.

this is also my first romance read this year, and i’m glad to say it didn’t feel cringey at all. overall, it’s a good read, emotionally draining but worth it.
Profile Image for Zoe.
90 reviews9 followers
November 6, 2025
Harus pelan-pelan bacanya karena tata bahasanya lawas, agak sulit dipahami..

Masrul.. Masrul.. mapus lu masruuuuuullllll
kena batunya deh karena terlalu gajelas, ga tegas, suka menunda, dan mempermainkan cewe yg setia nungguin cinta yg kamu gantungin ituuuu :)

Ending yg terlalu menyedihkan. Aku berharap Rasmani bisa jadi pemenang yg bersinar & memiliki hidup yang lebih baik. Namun plot cerita berkata lain. Tapi aku tetap senang karena akhirnya Masrul mendapatkan batunya ya. Silahkan nyesek sendiri, Rul! :)
Profile Image for Ripeh.
50 reviews3 followers
July 22, 2021
Bagus, tapi Masrul, tokoh utama laki-lakinya nyebelin bgt sampe akhir cerita.

Pelajaran yg bisa diambil dari kisah Masrul dan Rasmani adalah, jodoh itu memang misteri, kita bisa lari kesana kemari, ketemu yang sangat baik sampai yang sangat nggak baik buat kita, muter-muter cuma buat balik lagi ke tempat semula, cuma buat balik lagi ke satu orang yang diawal kita temui. Itu pun kalau memang belum jodohnya ya......
Profile Image for Truly.
2,824 reviews13 followers
January 17, 2020
Buku yang saya punya ternyata cetakan kesepuluhn, tahun 1980.
Seharusnya buku seperti ini jadi bacaan wajib bagi murid-murid sekolah. Selain bisa menikmati karya salah seorang pujangga, juga mendapat informasi perihal kebudaayaan masyarakat setempat.

Sebuah kisah cinta yang indah!
Profile Image for Fatiya Amelia.
34 reviews1 follower
September 8, 2025
Buku yg sangat enak dibaca, kas minang, banyak perumpamaannya. Membaca ini ga terasa, dan pengen terus baca. Padahal ceritanya sederhana, tentang kisah cinta teman dari kecil yg muter2 untuk bersatu. Tapi malah...., ah sudahlah nanti spoiler. Intinya, aku benci Masrul. Dan Mani deserves better.
Profile Image for Intan Amran.
5 reviews
July 31, 2026
Karya novelis perempuan pertama di Indonesia tentang kisah cinta sederhana pada tahun 1930-an. Gaya bahasa jadul sangat unik walaupun sedikit sulit dibaca, jalan cerita mirip kayak yang sering diceritakan sama nenek aku jadi i like it.
1 review
Want to Read
March 31, 2020
i wan,t read this story
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Fariz Amrullah.
2 reviews
July 25, 2023
Novel ini menjelaskan bahwa menjadi perempuan merdeka/mandiri perlu kiranya tidak menggantungkan diri pada sesuatu di luar dirinya
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Wisnu Pramudya.
4 reviews1 follower
May 13, 2015
Membaca masterpiece selasih ini seperti menyelam ke perbendaharaan kata yang tak terhingga jumlahnya, penulisan kata yang disusun sangat puitis dan indah membuat pembaca seperti dihipnotis oleh sebuah karya klasik yang hidup.

Ceritanya sangat sederhana, namun membawa pesan yang besar.
Layaknya kisah yang dialami oleh tiap manusia, bagaimana kesetiaan dan penyesalan membaur menjadi satu. 2 orang yang memiliki karakter dan watak yang sungguh berlainan. Meskipun cerita ini berakhir sedih, tapi memang inilah tujuaanya agar pembaca bisa dibuat untuk berpikir lagi sebelum melakukan suatu tindakan agar tidak disesali dikemudian hari.

Bercerita tentang Rasmani dan Masrul, seiring persahabatan mereka semenjak kecil yang pada akhirnya dihinggapi perasaan sayang yang tak terungkapan. Bagaimana Masrul yang bertindak tanpa pernah berpikir dengan matang, Rasmani yang lugu namun bijak pada akhirnya harus menderita, ketulusan cintanya berujung pada maut.

Kalau dipikir meskipun bisa dibilang saya telat membaca keseluruhan cerita ini, saya ingat bahwa beberapa penggal kalimat dibuku ini sering muncul dalam pelajaran bhs. Indonesia saat di sekolah.
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews40 followers
January 29, 2014
Pedih... Pilu... Tak terderita. Seperti yang tertulis di bagian paling akhir buku ini, tiga ajektiva tersebut mampu mewakili keseluruhan alur dari buku ini. Sayangnya, saya baru membacanya sekarang. Setelah sewaktu SD saya sempat mengabaikan, dan SMP saya masih tak acuh. SMA, buku ini hilang dan akhirnya kembali menemukan setelah mencari-cari di kamar bapak. Saya sudah beberapa kali menemukan cerita semacam ini, entah di mana-mungkin di beberapa sinema tv indonesia. Overall, buku Kalau Tak Untung adalahs salah satu buku "klasik" Indonesia yang saya sukai. Selasih, saya tidak tahu banyak tentangnya. Yang paling menonjol adalah, banyak peribahasa Indonesia zaman dahulu yang saya baru tahu dan ternyata indah. Saya suka!
ps: buku ini "menyembuhkan" (saya)
Profile Image for Dae Alesti.
2 reviews
October 6, 2013
Buku ini pernah saya baca waktu SMP sekitar 11 tahun yang lalu dan yang paling saya ingat, sastra ini yang pertama kali membuat saya meneteskan air mata di tengah sepinya malam ketika selesai membacanya. Judulnya, memang kurang menarik jika belum membacanya, tapi saat menyelesaikan bacaan dan memahami yang terjadi dalam buku ini, akhirnya saya sadar bahwa judulnya benar-benar pas "Kalau Tak Untung". Penantian cinta, Pengharapan, Berujung batu nisan. T_T
5 reviews2 followers
November 20, 2007
karya sastra perempuan indonesia jaman nenek-nenek kita. hiks, sedih banget.
Profile Image for W Zaid.
11 reviews1 follower
Read
January 3, 2017
Rugi

tahun 1933, Surat jadi penghubung. tahun 2017 sekarang, Facebook, WhatsApp Wechat......Jadi perosak hubungan. Bila bercabang, banyaklah selingkuhan
Displaying 1 - 25 of 25 reviews