Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kritikus Adinan

Rate this book

292 pages, Paperback

First published January 1, 2002

25 people are currently reading
118 people want to read

About the author

Budi Darma

44 books180 followers
Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Semasa kecil dan remaja ia berpindah-pindah ke berbagai kota di Jawa, mengikuti ayahnya yang bekerja di jawatan pos. Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.

Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggris—kini Universitas Negeri Surabaya—sampai kini. Di universitas ini ia pernah memangku jabatan Ketua Jurusan Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan Rektor. Sekarang ia adalah guru besar dalam sastra Inggris di sana. Ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.

Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Jauh kemudian hari sekian banyak cerita pendek ini terbit sebagai Kritikus Adinan (2002).

Budi Darma memperoleh gelar Master of Arts dari English Department, Indiana University, Amerika Serikat pada 1975. Dari universitas yang sama ia meraih Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novel” pada 1980. Di kota inilah ia menggarap dan merampungkan delapan cerita pendek dalam Orang-orang Bloomington (terbit 1980) dan novel Olenka (terbit 1983, sebelumnya memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 1980).

Ia juga tampil sebagai pengulas sastra. Kumpulan esainya adalah Solilokui (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Harmonium (1995). Setelah Olenka, ia menerbitkan novel-novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu. Cerpennya, "Laki-laki Pemanggul Goni," merupakan cerpen terbaik Kompas 2012.

Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut-tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (15%)
4 stars
64 (41%)
3 stars
49 (31%)
2 stars
17 (10%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 28 of 28 reviews
Profile Image for gieb.
222 reviews78 followers
June 2, 2009
mbokne ancuk. orang tua satu ini selalu berhasil mengaduk sisi terliar saya sebagai menusia. pun sekaligus sisi tersantun saya sebagai manusia. orang tua ini selalu menulis dengan kesabaran yang nyaris sempurna. dia memperkenalkan tokohnya dengan detail dan lamban. bahkan diulang-ulang. pembaca seperti diingatkan lagi bahwa memang ada tokoh semacam gumirin, bambang subali, juminah, dan lain-lain.

cerita dalam kerangka pikir orang tua ini selalu menjadi surealis. -sebagian besar cerita dalam buku ini ditulis tahun 1973-. sebuah periode ketika orang tua ini memang tekun dan istiqomah dengan gaya surealis kultural. dibutuhkan kesabaran dan ketelitian untuk membaca cerita dalam buku ini. ada beberapa cerita yang bahkan melelahkan. misal kritikus adinan. pergolakan dalam identifikasi tokoh sang kritikus benar-benar menguras keringat. tapi kewl.

beberapa cerita mengingatkan akan cerita iwan simatupang. duh. benar-benar memanjakan dunia hiper yang penuh kepalsuan ini. membaca budi darma seolah dingatkan bahwa kita masih bisa menggunakan akal dan pikiran kita untuk menciptakan dunia reka yang kita bebas mengekspresikan segala hal. tidak ada batasan baik dan buruk. karena tidak ada keterbatasan yang menelan. semua berlangsung dengan cepat. sublim. subtil. sekaligus indah. begitu. tanpa aturan.

akhirnya: suatu ketika, diucapkan selamat tinggal kepada kutuk yang mengetuk: mabuk engkau dengan kata!

imaji bertanggalan. di waktu yang menghentikan tiktaknya.


kamu mau baca tak?
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
September 22, 2017
Cerpen-cerpennya bau Kafka. Cerpen yg dijadikan judul utama, saat saya baca, terasa sekali aroma The Trial. Seperti dalam Orang-Orang Bloomington, tokoh-tokoh utamanya kebanyakan seorang medioker dan hidup lempeng, bahkan antisosial. Norma dan kepantasan sosial menciptakan si tokoh itu, dan manusia-manusia di sekitarnya jadi orang tertib aturan dan baik, secara hipokrit. Budi Darma mengupas soal kemunafikan manusia dalam cerpen-cerpennya, sekaligus mengupas kemunafikan si pembacanya ini .
Profile Image for Naim al-Kalantani.
283 reviews17 followers
February 19, 2021
Absurd. Aneh. Cerpen-cerpen dari meastro sastera Indonesia ini memang gila!

Berbaur Murakami, terkadang Kafka. Teringat pada Azriq, terkenang pada Roslan Jomel.

Ada beberapa cerpen yang penat untuk dibaca. Dan ada juga yang menarik. Mula-mula baca, tak faham sih apa benda Budi Darma tulis ni. Perlu baca dengan tenang dan berhati-hati, baru dapat rentak tu. Cerpen yang menjadi tajuk buku ni, Kritikus Adinan, memang power.
Profile Image for Irwan.
Author 9 books122 followers
June 26, 2009
Jika inti kemanusiaan adalah sebuah labirin tiga dimensi, dengan lorong-lorong panjang-pendek berliku yang berakhir di sudut-sudut di berbagai penjuru, maka karya ini adalah sebuah kunjungan pada sudut-sudut gelap dari lorong-lorong yang suram panjang berliku itu. Penulisnya datang dengan membawa lentera, berjalan perlahan-lahan menuntun kita ke jalan-jalan yang biasanya kita hindari, jalur-jalur yang menakutkan, yang membuat bergidik atau tak terperikan dalam norma sosial yang dipatrikan di benak kita sejak kecil.

Pengarang gaek ini menampilkan gelimang darah tanpa ketergesaan huru hara, memperdengarkan sebuah gelegar tanpa jeritan histeria. Seringkali dia berhenti di tengah jalan, mengangkat lenteranya tinggi-tinggi dan membiarkan kita terus berjalan sendiri menuju ke kegelapan lorong yang tak tersentuh cahaya lentera. Dugaanku, dia melakukannya dengan sengaja.

@Gieb: Thanks for the great reading experience!

===========================
24/06/09
Krematorium Itu untukku: sebuah pembuka ke alam surealis yg cukup menggelegar!

Kritikus Adinan: wow! Jiangkriiikk!!!!

Laki-Laki Setengah Umur: betapa terganggunya saya dengan frase 'laki laki setengah umur' setelah membaca cerpen ini, sembari terkagum-kagum atas karya surealis ini

Perjalanan ke/dari Gothenburg kali ini diisi dg orgasme tekstual!

---------------
25/06/09
Bambang Subali Budiman: wuih, liarnya. One of my favorites! Cerita yang bisa dibaca-maknai dari berbagai segi. Mengingatkanku juga pada Eyes Wide Shut.

Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian Itu: surreally grotesque. I love the circularity.

Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
August 7, 2017
Kumpulan cerita pendek absurd dari pengarang absurd dengan jalan pikirannya yang liar, tanpa teralu, dan tanpa pagar pembatas. Cukup membaca saja, jangan dipahami dalam-dalam jikalau seorang pembaca baru, tapi nikmati saja, entah mengerti atau tidak. Gaya penulisan dan pilihan bahasanya membuat karangan si bapak dosen ini patut ditaruh berjajar di rak buku bersama Stephen Hwaking.
Profile Image for Yuli Hasmaliah.
71 reviews1 follower
August 30, 2021
Tutur kata dalam kumpulan cerpen ini mengingatkan saya ketika membaca karya Orang-Orang Bloomington nya; pengamatan yang dalam, misterius, menarik perhatian dan bukan sebuah bacaan ringan -karena mesti berpikir untuk mendapatkan inti/pesan ceritanya-. Saya suka, terasa seperti nostalgia.

Terima kasih Budi Darma atas karya-karya nya. Selamat jalan.
Profile Image for Fadlir Nyarmi Rahman.
19 reviews
March 28, 2021
Cerpen yg dijadiin judul buku ini menarik, sih. Tapi, sulit buat tahu untuk awam sepertiku sampai pada pemahamannya, sementara untuk sekadar dinikmati rasanya percuma sebab ini karya maestro.

Cerita paling menarik buatku adalah yg berjudul "Dua Laki-Laki" karena bikin gregetan. Dan, masih relate sampai sekarang, bagaimana orang-orang bodoh memperdebatkan hal remeh. Seperti di dalamnya, dua orang lelaki yang sampai menyerahkan waktunya untuk mencari tahu keyakinan siapa yg benar. Laki-laki pertama percaya bahwa presiden mati di dalam mobil, dan yang kedua di pesawat. Sampai akhir keduanya hanyalah korban, seperti kita.

Cerpen lain yang juga cukup menarik yaitu "Penyair Besar, Penyair Kecil". Seperti menyindir kesusastraan indon yg selalu remuk. Wqwqwq.

Selebihnya, aku cuma manggut-manggut dan sedikit takjub sebab sadar bahwa sampai mati aku tak akan mampu menulis cerpen, sekalipun itu cerpen yang buruk. Bajingan.
Profile Image for Fifi Alfiah.
20 reviews
June 10, 2022
Menyenangkan sekali membaca cerita pendek yang memiliki premis dan setting yang unik. Tapi dibanding itu semua, pembawaan penulis, menurut saya, adalah unsur yang jauh lebih krusial.

Buku ini, lagi-lagi menurut saya, adalah kombinasi yang apik dari tiga unsur tersebut. Transisi antara satu bagian cerita dengan bagian cerita lainnya dipoles dengan halus dan mudah dicerna. Nuansa sureal dan absurd yang diselipi beberapa kritik sosial bisa dikemas dengan baik oleh Budi Darma, terutama atas kemampuannya untuk mengobservasi dengan cermat.

Pilihan kata beliau sederhana dan efisien. Jarang beliau memberikan detail yang memusingkan, sehingga untuk cerpen-cerpen yang panjang sekali pun, saya masih merasakan pengalaman membaca yang nyaman. Komponen ceritanya juga terasa utuh dan tersusun dengan baik.

Cerpen favorit saya di antologi ini adalah Laki-laki Lain, Senapan, Tiga Laki-laki Terhormat, dan tentu saja Kritikus Adinan. Kritikus Adinan, entah kenapa, mengingatkan saya kepada novel The Stranger milik Camus (yang pada dasarnya juga merupakan bagian dari pujian).

Secara keseluruhan, cerita di antologi Kritikus Adinan ini kebanyakan memiliki open ending. Beberapa cerita seperti sengaja dimaksudkan sebagai teka-teki yang harus diselesaikan sendiri oleh pembaca, sedangkan beberapa cerita lainnya terasa lebih kasual dan tidak memerlukan 'jalan keluar'.

Dan yang paling penting, sang penulis bukan tipikal yang mendikte pembacanya, sehingga kesan dikotomis —yang sering saya takuti setiap membaca buku baru— tidak saya temui di buku ini.

Mungkin ulasan ini terdengar terlalu mengelu-elukan. Entah karena memang begitulah buku ini, atau semata karena buku ini adalah tipikal buku yang saya-banget.
Profile Image for Noep.
49 reviews28 followers
January 25, 2018
Membaca Kritikus Adinan adalah menertawakan borok- borok keadilan yang berusaha diangkat Budi Darma. Karakter Adinan yang luhur membuatnya diburu bahkan ditenggelamkan dalam kehidupan manusia; seolah- olah kehidupan masyarakat hanya diisi oleh orang- orang korup, bejat, penyandra keadilan, dan bobrok- bobrok lainnya. Cerpen Kritikus Adinan sendiri adalah tamparan moralitas yang benar- benar membuat kita ternganga: masyarakat maupun pemerintah kita sebegitu buruknya?

Sepanjang satu cerita dari sekian cerita pendek dalam buku tersebut, saya banyak menemukan nilai- nilai kehidupan yang perlu direfleksikan, baik dalam konteks individu maupun konteks masyarakat. Budi Darma banyak menelanjangi kehidupan dengan tabiat- tabiat manusia yang kompleks sekaligus menggelikan.
Profile Image for Wahyudha.
444 reviews1 follower
November 25, 2023
Selesai.betul cerpen dalam buku ini puanjang-puanjang.Dan buat saya masih panjang walau cerita sudah habis. Sebab bagiku masih meninggalkan tanda tanya. Ceritanya tidak biasa, tidak mudah disentuh oleh pemahaman. Tokohnya orang-orang baik yang karena situasi lantas menjadi aneh. Ya benar membaca kumpulan cerita pendek yang ini itu melelahkan.Syukur masih ada komitmen untuk menyelesaikan. Rata2 Cerita dibuat akhir tahun 1980.tapi tidak membahas situasi di tahun itu. Ini cerita betul-betul obsesi pengen nulis aja dari penulisnya.

Cerita yang berkesan buatku judulnya
1.Krematorium itu untukku
2. Kritikus Adinan
3. Bambang Subali Budiman
4. Pengarang Rusman
5. Senapan

Meski masih belum tahu betul maksudnyaaaa
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews9 followers
February 17, 2018
Agak berat dibanding Orang-orang Bloomington,hanya saja yang ini lebih menunjukkan kematangan si penulis dalam meramu cerita yang sebagian besar absurd dalam hal konflik batin yang secara psikologis mengingatkan saya akan karya Kafka. Kebanyakan cerita bertema problematika hidup,percintaan,tentang keadilan. Kritikus Adinan,cerita yang dijadikan judul kumpulan ini menawarkan absurditas tentang apa yang dimaksud adil,di mana semua orang di dalamnya nampak idiot tak terlihat punya daya hidup setelah satu per satu diadili pengadilan atas kesalahan yang tidak mereka ketahui.
Selebihnya beberapa cerita lain terasa rumit kadang pula terasa berkesan dengan pesan-pesan yang disampaikannya.
Profile Image for Rosul Jaya.
27 reviews1 follower
July 7, 2025
Dalam buku ini, Budi Darma berhasil membawakan kisah dengan gaya penceritaan yang khas: lambat tapi tak membosankan dengan kalimat-kalimat yang mudah diikuti tapi pada saat yang sama juga rumit.

Penokohan yang dibangun juga sangat kuat menyentil sisi-sisi terdalam manusia yang tak waras: menyentuh perkara paling jujur dari jiwa manusia yang selalu terhalangi topeng kemunafikan. Tokoh-tokoh dalam cerpen di buku ini merupakan representasi dari manusia semurni-murni yang dipenuhi kebanalan.

Dua cerpen yang sangat saya sukai dalam buku ini adalah: Bambang Subali Budiman dan Kritikus Adoinan.
Profile Image for Putu Sita Witari.
276 reviews8 followers
February 15, 2018
Kumpulan cerita pendek yang cukup aneh. Untung 2 cerpen terakhir membuat saya berpikir mungkin tidak ada salahnya kalau saya baca karya beliau yang lainnya. Karena 2 cerita tersebut lebih dapat menyuguhkan kesederhanaan dan keluguan orang biasa yang sarat hidup bersahaja, dan tentunya lebih berarti untuk dipetik pesan moralnya.
Profile Image for Fauziannisa Latief.
2 reviews
November 12, 2019
'Bapak Budi Darma ngomong apa sih??'

begitulah saat saya pertama kali membaca cerpennya. Apakah kau juga? Lalu saya lanjutkan membaca lagi dan lagi, barulah saya mengerti hakikat manusia dari kisah-kisah sederhana. Bagaimana manusia bersengkongkol dengan kejujuran, kebaikan, kekuasaan bahkan kewarasan. Maestro Sastra Indonesia ini memang menjadi andalan. Loved ittt!!
Profile Image for Ryan Augi.
1 review
December 19, 2020
Kumpulan cerpen yang sangat aneh menurut saya. Cerita ceritanya terlalu panjang, bertele tele dan cukup melelahkan. Bahkan dari satu cerpen ke cerpennya yang lain saja, sangat lambat bagi saya untuk menyelesaikannya. Mungkin ini bukan tipe cerpen kesukaan saya. Cerita yang tak tertebak dan tak tahu kemana harus diarahkan. Mungkin cuma sang pengarang yang paham.
13 reviews
January 12, 2022
Seperti biasa Budi Darma konsisten untuk terlihat berterus-terang dengan maksud tokoh-tokohnya, dengan cerita-cerita yang absurd dan memiliki logikanya sendiri yang berlawanan dengan logika sosial, serta akhir yang terbuka untuk lanjutan dan tafsir pembacanya sendiri tanpa Budi Darma berupaya selesaikan sendiri.
45 reviews1 follower
January 29, 2023
Seperti cerita-cerita Budi Darm di buku lainnya, cerpen di buku ini absurd disertai gaya bercerita yang unik namun konsisten.

3 cerpen yang paling berkesan untuk saya:
-Kritikus Adinan
-Dua Laki-Laki
-Bambang Subali Budiman
Profile Image for Ratih.
209 reviews17 followers
October 12, 2018
as good and as surrealistic as usual.
Profile Image for Melati Ekasari.
141 reviews11 followers
April 20, 2019
Dari 15 cerpen, cuma 1 aja yang ceritanya nggak menggantung. Sisanya aku bahkan ga tau mau diarahkan ke mana... Mungkin buku ini nggak cocok untukku...
Profile Image for J. Fisca.
33 reviews3 followers
May 31, 2019
Ide-idenya luar biasa, tapi gaya tulisannya bukan selera saya.
Profile Image for Rafi abiyyu.
13 reviews4 followers
February 25, 2022
Apa jadinya jika tiga orang cacat memperebutkan janda yang berbayi cacat?
Profile Image for Niskala.
94 reviews1 follower
September 11, 2020
Lebih absurd dari kafka. Kebanyakan cerita tidak bisa dipahami dengan akhir yang tidak jelas apa maksudnya. Sepertinya hanya budi darma yang tau maksudnya.
Cerpen terakhir bagus, itu saja.
Profile Image for Irene Angelina.
24 reviews2 followers
September 30, 2012
Jarang-jarang baca kumpulan cerpen, biasanya saya lebih tertarik membaca novel sastra. Namun yang satu ini cukup menarik. Penuturan khas Budi Darma yang tidak bertele-tele dan mudah dicerna, berpadu dengan alur cerita yang "semau gue", bahkan beberapa cerita seperti mengandung magis, bagaikan membaca kumpulan nightmare sang penulis, dan inilah yang menjadi daya tariknya. Jujur, membaca buku ini buat saya sedikit menakutkan, dan menimbulkan sedikit efek paranoia
Profile Image for Qonita .
307 reviews100 followers
October 14, 2024
aside from his brilliant narratives and peculiar twists, his dark-hyperbolic-deadpanned sense of humor is so ahead of its time that, even as a millennial, i found this book greatly enjoyable and funny in a contemporary sense when most of the stories were written in the '70s. Pengarang Rasman is my favorite, i'm still low-key cackling to it even now honestly, it's been 3 days :')
Displaying 1 - 28 of 28 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.