Wah, buku ini adalah karya Ratih Kumala yang pertama saya baca! Tentunya, saya sudah punya "Gadis Kretek", tapi buku itu masih dalam jajaran "TBR" saya (belum dibaca). Ternyata oh ternyata, saya sangat suka buku ini! Padahal, waktu perilisan buku ini pertama kali diumumkan, saya sama sekali tidak tertarik, apalagi klaimnya adalah cerita laga. Duh, bukan saya banget. Tapi pas lihat ada tawaran dapet tanda tangan penulis dan covernya yang cantik banget, saya jadi ikutan PO, deh, terus memutuskan untuk langsung baca....dan kesimpulannya, saya mungkin menyesal kalau baru tahu buku ini belakangan! Bersyukur banget waktu itu memutuskan untuk beli! Bukan hanya ceritanya yang super menarik, tapi juga dapet tanda tangan penulisnya!
"Saga dari Samudra" menceritakan kisah asal-usul salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Giri. Sunan Giri di sini memiliki banyak nama: Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin....hingga yang banyak disebutkan di dalam buku ini adalah, Jaka Samudra! Ingat tidak cerita-cerita dongeng berbau religi yang gemar kita baca sewaktu kecil? Buku ini benar-benar mengingatkan saya dengan cerita-cerita dongeng penuh magis dan keistimewaan, yang mungkin sulit di nalar oleh akal sehat, penuh dengan mistis dan berbau legenda - karena namanya legenda, tidak ada yang benar-benar bisa memasatikan keabsahannya.
Saya dibawa begitu saja seperti air yang melarung Jaka Samudra saat ia bayi, memasuki lembaran hidup beliau halaman demi halaman, seperti saya sedang menyaksikannya secara langsung. Kepiawaian penulis dalam bercerita sepertinya sangat menyihir saya, sehingga ketika saya membaca, saya seperti hidup di jaman di mana Jaka Samudra hidup.
Kita bisa menjadi "saksi" pertumbuhan Jaka Samudra menjadi seorang dewasa yang penuh dengan kebijaksanaan, merasakan keresahannya saat meragukan dirinya sebagai anak kandung Nyai Ageng Pinatih, kedukaannya karena kehilangan orang yang ia cintai, pergumulannya saat dibenci oleh Wajendra - anak dari Aryo Rekso yang juga membenci Nyai Ageng Pinatih, serta yang paling penting adalah perjalanan seorang "Jaka Samudra" menjadi "Raden Paku" untuk menjadi "Sunan Giri".
Walaupun memang bukan fokus utamanya, buku ini menyorot penyebaran agama Islam di Nusantara. Mungkin tahun 1400an, tidak disebutkan, tapi saya mengandalkan Google dalam hal tersebut (hehe). Selain itu, disebutkan juga kerajaan Blambangan, yang walau tidak runut, relevan secara sejarah. Seakan-akan, penulis ingin pembaca mengenal Wali Songo khususnya Sunan Giri tanpa dengan cara mendidik secara teoritis yang tentunya membosankan, tapi dengan cerita laga dengan sentuhan "berdongeng" yang membuat siapapun yang membacanya merasa seakan-akan berada di pelukan nenek mereka, yang sedang menceritakan dongeng atau legenda, sebagai pengantar sebelum mereka tidur. Benar-benar itulah yang saya rasakan, apalagi penulis memposisikan pembaca sebagai "Kisanak", yang membuat saya seperti sedang mendengarkan dongeng atau legenda dari seorang sesepuh yang menjadi saksi dari terjadinya peristiwa yang diceritakannya.
Kita dapat menyaksikan perjalanan hidup Jaka Samudra dari sekadar menjadi anak seorang syahbandar kaya raya, menjadi Raden Paku yang ternyata adalah anak dari Syek Maulana Ishak, menjadi Sunan Giri yaitu salah satu Wali Songo - yang merupakan manusia "istimewa", bertugas untuk menyebarkan agama Islam melalui dakwah, syiar, dan mendirikan pesantren/padepokan. Karena panjangnya perjalanan Jaka Samudra, tentunya kita juga menemukan banyak tokoh dan karakter baru yang menyumbang cerita, tentunya sarat makna. Ingat kan saya bilang bahwa membaca buku ini seperti membaca kisah 1001 malam? Karena di dalamnya ada banyak sub-cerita yang dapat kita petik buahnya dan jadikan pembelajaran.
Cerita-cerita tersebut seperti ada Taksa, yang menjadi karakter favorit saya di sini (yang juga membuat saya sangat patah hati), yang merupakan mantan begal yang kemudian menjadi penjaga Jaka Samudra. Lalu cerita tentang Gendewa dan Aryo Rekso serta anaknya yang menyebalkan, Wajendra. Sarikem, perempuan malang dan polos yang cukup memegang peranan penting dalam menjadi ujung tonggak yang mempengaruhi perubahan dalam hidup Jaka Samudra. Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Qasim (Sunan Drajat) yang merupakan 2 putra Sunan Ampel, yang menjadi sahabat dekat Jaka Samudra dan menjadi bagian dari cerita hidupnya. Serta kisah orang-orang di Pulau Tatas: (Lipur), Banara, Husni, Bahasyim (di sini juga ada unsur "pelecehan dan kekerasan seksual"), dan Nurin.
Di bagian buku "Hikayat Pohon Delima", yang cerita dongeng ini sepertinya pernah saya dengar atau baca di suatu tempat, kita mengenal kisah asal-usul Sunan Bungkul. Tentang perjalanannya menjadi seorang pemeluk agama Islam, saat sebelumnya bernama Ki Ageng Supo/Empu Supo - kepercayaan Prabu Majapahit untuk mempertahankan kepercayaan (non-Islam) putra mahkota (Pangeran Kusumohadi). Di sini kita juga diperkenalkan bagaimana sang pangeran Kusumohadi menjadi Ki Hasyim Alamuddin atau Sunan Bejagung Kidul yang memilih untuk menyebarkan agama Islam, dan bagaimana Sunan Bungkul belajar agama dari Sunan Bejagung Lor atau Syekh Abdullah Asy'ari (anak dari Syek Jumadil Kubro) sehingga menjadi pemeluk Islam. Di bagian "Hikayat Pohon Delima" ini kita juga mempelajari bagaimana Sunan Giri memiliki 2 istri: Dewi Murthasiah (anak perempuan Sunan Ampel/Raden Rakhmad) dan Dewi Wardah (anak dari Sunan Bungkul).
Memasuki tahap penghujung, bagian di mana Sunan Giri diberikan titah oleh ayahnya (Syekh Maulana Ishak), yaitu untuk mendirikan padepokan di atas tanah yang memiliki aroma dan tekstur seperti tanah di tanah suci, kita akan banyak mempelajari hikmah di balik "perbedaan" kepercayaan yang selama ini sering kali kita jadikan perdebatan. Pada bagian ini, kita mengenal para penganut kepercayaan Kapitayan: salah satu agama kuno masyarakat pulau Jawa. Mereka adalah Ki Waru, pandita Kapitayan, anaknya Purnami - yang memiliki ketertarikan romantis dengan Sancaka, salah satu santri ajaran Sunan Giri. Ternyata, pohon beringin yang dijadikan pusat persembahan para penganut agama Kapitayan, berdiri di atas tanah yang memenuhi kelayakan untuk berdirinya suatu padepokan yang dimaksud oleh Syekh Maulana Ishak. Di sini perdebatan tentang kepercayaan pun terjadi, terutama beberapa anak santri yang gemar mengganggu ritual sembahyang para penganut agama Kapitayan dan menyebut mereka kafir - di sini sangat dekat dengan konflik terkait kepercayaan yang sering terjadi sehari-hari. Mungkin, harus saya katakan, bab inilah yang paling berdampak untuk saya, seperti menyuarakan protes argumentatif tak nyaring namun bersuara tentang apalah arti perbedaan. Ada kata-kata Dewani, istri Ki Waru yang saya garis-bawahi:
Di kehidupan setelah mati, jalan mencari kebenaran tidak cuma satu. Tidak cuma caraku, tidak cuma caramu. Setiap manusia punya cara masing-masing, dan itu semua tidak salah, selama tujuannya adalah menguak tentang kebenaran.
(hlm. 172)
Kata-kata itulah yang menampar Ki Waru: bahwa caranya mencari kebenaran mungkin berbeda dengan cara Sunan Giri, tapi tujuannya adalah sama - yaitu menghormati dan mengakui keberadaan yang jauh lebih tinggi, sang Pencipta. "Bahwa mencari kebenaran tidak cuma satu, ada banyak cara." (hlm. 175)
Kesadaran itu sejalan dengan "persamaan" cara bersembahyang yang disadari Ki Waru, mengutip penjelasannya di halaman 156:
"Memang mereka tidak memberi sembahan pada batu, atau tungkup, atau tuk, atau tunggak, atau benda apa pun yang kita keramatkan. Tetapi mereka selalu berdoa menghadap kulon laut. Mungkin memang di arah situlah benda yang mereka percaya mewakili kekuatan Sang Hyang mereka, meskipun tak benar-benar berada di depan mereka. Selain itu, mereka juga melakukan gerakan yang kita lakukan pula meskipun tak sama persis. Mereka juga tulajeg, tungkul, tulumpak, dan tondem."
Mengutip kembali paragraf selanjutnya,
"Ketika sedang bersembahyang, kaum Kapitayan memang selalu tulajeg-atau berdiri tegak dengan tangan diangkat untuk memanggil Sanghyang Taya-, lalu tungkul - membungkuk dengan mata memandang ke tanah -, selanjutnya tulumpak - bersimpuh - dan diakhiri dengan tondem-bersujud dengan posisi badan seperti janin di dalam perut."
Bukankah hal ini sejalan dengan gerakan-gerakan sholat yang kita lakukan?
Pada halaman yang sama, saya juga menggaris-bawahi kutipan ini:
Lahan yang ada di sini cukup besar untuk kita berbagi dengan siapa pun. Tidak ada manusia yang mutlak menjadi pemilik suatu lahan, atau benda, atau bahkan nyawanya sekalipun.
Saat membaca kalimat itu berulang-ulang, saya berharap semua orang di dunia ini bisa sebijak Ki Waru.
Di bagian akhir buku, kita disuguhi cerita Syekh Maulana Ishak, yang memutuskan lari ke Pasai setelah menikah dengan Dewi Sekardadu - putri dari Prabu Menak Sembuyu yang merupakan raja kerajaan Blambangan. Blambangan kala itu dilanda wabah, yang membuat rakyatnya diare berkepanjangan dan muntah-muntah disertai demam, yang menurut hemat saya sepertinya bermasalah dengan sanitasi dan higienitas mereka serta apa yang mereka makan. Syekh Maulana Ishak berhasil menyembuhkan mereka dengan keahliannya meramu obat-obatan, dan berhasil dinikahkan dengan Dewi Sekardadu dan memiliki putra yaitu Raden Paku / Sunan Giri / Jaka Samudra. Tapi salah satu adipati (Patih Bajul Sengara) yang iri terhadap Syekh Maulana Ishak terutama karena ia merasa terancam dengan penyebaran agama yang ingin disebarkannya, beliau terpaksa lari ke Pasai dan anaknya harus dibunuh - hal inilah yang menyebabkan Jaka Samudra dilarung ibunya ke laut. Kita juga diminta berpikir kritis, apakah Dewi Sekardadu yang melarung anaknya ke laut, atau karena dibuang oleh pasukan kerajaan Blambangan? Yang kedua, menyebabkan Dewi Sekardadu meninggal tenggelam dan jasadnya ditemukan di pantai di Dusun Kepetingan - dekat dengan Gresik (tempat tinggal Jaka Samudra) dan Ampel, dibandingkan Blambangan, seolah-olah menyuarakan pilihan Dewi Sekardadu untuk ikut anaknya.
Kesimpulannya, setelah analisis yang panjang di atas, buku ini sangat layak untuk dibaca, terutama bagi siapapun yang menyukai sejarah, dengan bumbu-bumbu legenda atau cerita rakyat. Tidak hanya mengajarkan keteguhan dalam menjalankan apa yang kita yakini (dalam hal ini, penyebaran agama Islam di Nusantara yang banyak ditentang dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya), tapi juga kita mempelajari kejujuran, akibat dari sifat iri dengki serta angkuh dan sombong, berbakti kepada orang tua seperti Jaka Samudra yang berbakti kepada Nyai Ageng Pinatih walau beliau bukanlah ibu kandungnya, bagaimana memilah kebaikan di tengah keburukan, memaafkan, serta banyak pelajaran lainnya yang bisa dipetik menyangkut kebaikan, kejujuran, dan kebijaksanaan - suatu ciri khas dari cerita rakyat atau legenda/dongeng.
Buku ini cukup tipis untuk cerita yang diangkatnya, padahal kalau lebih tebal pun saya pasti akan lebih menikmatinya.
Berkat buku ini, saya jadi ingin cari tahu lebih banyak tentang asal-usul Wali Songo dan perjuangan mereka dalam menyebarkan agama Islam. Serta, sejarah kerajaan-kerajaan yang dulu pernah ada di Nusantara.
Beberapa kutipan yang saya suka:
-> "Memang tak semua orang punya keyakinan yang cukup untuk bisa menerima keajaiban, sekalipun itu terjadi di depan mata." (hlm. 124)
-> "Bukankah saat lapar kita sering lupa bahwa makanan yang berada di piring kita, pernah punya jiwa." (hlm. 188)
-> Apalah artinya nyawa melawan samudra. Jika kau berada di tengah laut, kau takkan bisa merasakan air matamu." (hlm. 192)