Jump to ratings and reviews
Rate this book

Saga dari Samudra

Rate this book
Hidup Nyai Ageng Pinatih berubah saat dia menemukan bayi kecil di tengah laut yang dengan magis menghentikan kapal dagangnya. Bayi ini ia beri nama Jaka Samudra. Kelak, bocah ini tak cuma mengubah hidup ibu angkatnya, lebih dari itu, juga dunia yang disentuhnya. Sementara, Jaka Samudra sendiri selalu mempertanyakan tentang asal-usulnya.

Lewat novel Saga dari Samudra, Ratih Kumala akan mengajak Kisanak mengunjungi tanah Jawa pada abad ke-15. Saat hidup lebih sederhana, rasa takut lebih nyata, keberanian punya harga, dan Sang Pencipta punya banyak rencana.

200 pages, Paperback

Published May 1, 2023

13 people are currently reading
183 people want to read

About the author

Ratih Kumala

19 books215 followers
Ratih Kumala, lahir di Jakarta, tahun 1980. Buku pertamanya, novel berjudul Tabula Rasa (Grasindo 2004, GPU 2014), memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Novel keduanya, Genesis (Insist Press, 2005). Kumpulan cerita pendeknya, Larutan Senja (Gramedia Pustaka Utama, 2006). Buku keempat berjudul Kronik Betawi (novel/GPU, 2009) yang sebelum terbit sebagai buku juga terbit sebagi cerita bersambung di harian Republika 2008. Buku kelimanya berjudul Gadis Kretek (GPU, 2012) dan buku keenamnya adalah Bastian dan Jamur Ajaib (GPU, 2015). Novelnya Gadis Kretek (GPU, 2012) masuk dalam Top 5 kategori prosa Khatulistiwa Literary Award 2012, dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris –Cigarette Girl (GPU, 2015), bahasa Jerman – Das Zigarettenmadchen (culturbooks publishing, 2015), dan tengah diterjemahkan ke Bahasa Arab untuk diterbitkan di Mesir.

Selain menulis fiksi, Ratih juga menulis skenario untuk televisi dan film layar lebar. Saat ini ia tinggal di Jakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
34 (21%)
4 stars
64 (40%)
3 stars
54 (33%)
2 stars
7 (4%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 48 reviews
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
June 11, 2023
Kovernya cakeeeeepppppp banget banget banget, dan saya amat sangat menikmati ceritanya sekali. Cumannn, yah, tulisannya kayak nggak sempat diedit. Kesalahan ejaan dan semacamnya bukan hanya sekali dua kali saya temukan, melainkan BANYAK, dari awal sampai akhir. Jadi kesannya kayak masih mentah dan nggak diapa-apain di meja editor.

Saya berharap banget ini jadi catatan untuk redaksi/penerbit. Buku udah mahal, masa pembaca dikasih tulisan yang apa adanya? Sekalian dibagusin dong harusnya. Lagian sayang banget kovernya udah cakep, ceritanya bagus, tapi ketikan Magrib sama Maghrib aja nggak konsisten, banyak kata ulang yang nggak ada tanda strip/hyphen-nya, banyak kata berimbuhan kurang satu huruf. Itu kesalahan-kesalahan sepele, lho, yang harusnya bisa dicegah saat editing/proofreading :(

Anyway, sebenernya bisa 5 bintang untuk ceritanya, tapi saya nggak bisa menoleransi tulisan berantakan yang kayak nggak sempat diedit ini. Moga aja nanti cetak ulang, supaya dibenerin di edisi berikutnya :)))
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,044 reviews1,965 followers
July 5, 2023
Pernah ngerasain serunya belajar sejarah lewat baca novel fiksi-sejarah? 🙆‍♀️

Alm Kakekku punya lukisan potrait Wali Songo di ruang kerjanya. Sejak kecil kalau lebaran ke rumah beliau, pasti aku "bertemu" mereka. Meskipun begitu, hingga sebesar ini pengetahuan & wawasanku soal para wali tersebut nol besar. (I know, ayah pasti bakal menertawakanku habis-habisan jika ia tahu hal ini). Maka, membaca Saga dalam Samudra tanpa banyak punya informasi rupanya membawa pengalaman yang menyenangkan.

Seorang bayi terombang-ambing di lautan kemudian diasuh dengan cinta kasih oleh Nyai Ageng Pinatih. Tumbuh besar, bergurulah ia kepada Sunan Ampel.

Novel ini bukan sembarang novel. Sudah tampak sejak terbaca pada halaman sampul kalau Saga dari Samudra adalah sebuah cerita laga. Dengan gerakan intens dan aksi-aksi, membuat cerita Jaka Samudra tergolong tidak biasa.

Karena pada mulanya aku tak punya basic information terkait siapa itu Jaka Samudra dan Raden Paku, membaca novel ini bak menonton film. Penuh keseruan dan rasa deg-degan. Ada perkelahian, ada rasa iri-dengki sikut-sikutan, tapi ada pula keajaiban bak mukjizat.

Membaca novel ini membuatku kagum pada sosok Nyai Ageng Pinatih. Seorang syahbandar perempuan yang bermukim di Gresik. Tidak gentar terhadap ancaman yang mengintai namun memanusiakan semua pekerjanya. Berkat asuhannya, Jaka Samudra menjadi sosok yang dikenang sejarah perkembangan Islam di Indonesia dengan terhormat.

Novelnya tidak hanya tulisan saja. Melainkan juga dilengkapi dengan ilustrasi yang apik, disajikan dengan penuh warna. Ah, aku jadi menyesal mengapa tidak ikut prapesannya kala itu (padahal ada bonus book jacket yang cantik sekali).

Aku rasa, jika kamu ingin menjajal membaca cerita laga dan saga, bisa coba novel terbaru dari mbak Ratih Kumala ini. Begitu pula jika kamu ingin tahu bagaimana cerita Wali Sembilan, barangkali kamu bisa mulai lewat Saga dari Samudra.
Profile Image for Boyke Rahardian.
347 reviews22 followers
August 19, 2023
Menghibur, tapi nggak lebih dari itu. Tadinya berharap jalan ceritanya lebih kompleks atau paling tidak laga kanuragan-nya bertebaran dan mendebarkan. Sayangnya keduanya tidak didapatkan di sini. Konfliknya relatif sederhana dan laga kanuragan-nya sedikit serta cepat terselesaikan. Pula, terlalu banyak kebetulan dan keberuntungan yang membantu tokoh utama, sehingga perkembangan karakternya nggak terlalu menarik diikuti.
Profile Image for Kezia Nadira.
60 reviews6 followers
July 3, 2023
Wah, buku ini adalah karya Ratih Kumala yang pertama saya baca! Tentunya, saya sudah punya "Gadis Kretek", tapi buku itu masih dalam jajaran "TBR" saya (belum dibaca). Ternyata oh ternyata, saya sangat suka buku ini! Padahal, waktu perilisan buku ini pertama kali diumumkan, saya sama sekali tidak tertarik, apalagi klaimnya adalah cerita laga. Duh, bukan saya banget. Tapi pas lihat ada tawaran dapet tanda tangan penulis dan covernya yang cantik banget, saya jadi ikutan PO, deh, terus memutuskan untuk langsung baca....dan kesimpulannya, saya mungkin menyesal kalau baru tahu buku ini belakangan! Bersyukur banget waktu itu memutuskan untuk beli! Bukan hanya ceritanya yang super menarik, tapi juga dapet tanda tangan penulisnya!

"Saga dari Samudra" menceritakan kisah asal-usul salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Giri. Sunan Giri di sini memiliki banyak nama: Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin....hingga yang banyak disebutkan di dalam buku ini adalah, Jaka Samudra! Ingat tidak cerita-cerita dongeng berbau religi yang gemar kita baca sewaktu kecil? Buku ini benar-benar mengingatkan saya dengan cerita-cerita dongeng penuh magis dan keistimewaan, yang mungkin sulit di nalar oleh akal sehat, penuh dengan mistis dan berbau legenda - karena namanya legenda, tidak ada yang benar-benar bisa memasatikan keabsahannya.

Saya dibawa begitu saja seperti air yang melarung Jaka Samudra saat ia bayi, memasuki lembaran hidup beliau halaman demi halaman, seperti saya sedang menyaksikannya secara langsung. Kepiawaian penulis dalam bercerita sepertinya sangat menyihir saya, sehingga ketika saya membaca, saya seperti hidup di jaman di mana Jaka Samudra hidup.

Kita bisa menjadi "saksi" pertumbuhan Jaka Samudra menjadi seorang dewasa yang penuh dengan kebijaksanaan, merasakan keresahannya saat meragukan dirinya sebagai anak kandung Nyai Ageng Pinatih, kedukaannya karena kehilangan orang yang ia cintai, pergumulannya saat dibenci oleh Wajendra - anak dari Aryo Rekso yang juga membenci Nyai Ageng Pinatih, serta yang paling penting adalah perjalanan seorang "Jaka Samudra" menjadi "Raden Paku" untuk menjadi "Sunan Giri".

Walaupun memang bukan fokus utamanya, buku ini menyorot penyebaran agama Islam di Nusantara. Mungkin tahun 1400an, tidak disebutkan, tapi saya mengandalkan Google dalam hal tersebut (hehe). Selain itu, disebutkan juga kerajaan Blambangan, yang walau tidak runut, relevan secara sejarah. Seakan-akan, penulis ingin pembaca mengenal Wali Songo khususnya Sunan Giri tanpa dengan cara mendidik secara teoritis yang tentunya membosankan, tapi dengan cerita laga dengan sentuhan "berdongeng" yang membuat siapapun yang membacanya merasa seakan-akan berada di pelukan nenek mereka, yang sedang menceritakan dongeng atau legenda, sebagai pengantar sebelum mereka tidur. Benar-benar itulah yang saya rasakan, apalagi penulis memposisikan pembaca sebagai "Kisanak", yang membuat saya seperti sedang mendengarkan dongeng atau legenda dari seorang sesepuh yang menjadi saksi dari terjadinya peristiwa yang diceritakannya.

Kita dapat menyaksikan perjalanan hidup Jaka Samudra dari sekadar menjadi anak seorang syahbandar kaya raya, menjadi Raden Paku yang ternyata adalah anak dari Syek Maulana Ishak, menjadi Sunan Giri yaitu salah satu Wali Songo - yang merupakan manusia "istimewa", bertugas untuk menyebarkan agama Islam melalui dakwah, syiar, dan mendirikan pesantren/padepokan. Karena panjangnya perjalanan Jaka Samudra, tentunya kita juga menemukan banyak tokoh dan karakter baru yang menyumbang cerita, tentunya sarat makna. Ingat kan saya bilang bahwa membaca buku ini seperti membaca kisah 1001 malam? Karena di dalamnya ada banyak sub-cerita yang dapat kita petik buahnya dan jadikan pembelajaran.

Cerita-cerita tersebut seperti ada Taksa, yang menjadi karakter favorit saya di sini (yang juga membuat saya sangat patah hati), yang merupakan mantan begal yang kemudian menjadi penjaga Jaka Samudra. Lalu cerita tentang Gendewa dan Aryo Rekso serta anaknya yang menyebalkan, Wajendra. Sarikem, perempuan malang dan polos yang cukup memegang peranan penting dalam menjadi ujung tonggak yang mempengaruhi perubahan dalam hidup Jaka Samudra. Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Qasim (Sunan Drajat) yang merupakan 2 putra Sunan Ampel, yang menjadi sahabat dekat Jaka Samudra dan menjadi bagian dari cerita hidupnya. Serta kisah orang-orang di Pulau Tatas: (Lipur), Banara, Husni, Bahasyim (di sini juga ada unsur "pelecehan dan kekerasan seksual"), dan Nurin.

Di bagian buku "Hikayat Pohon Delima", yang cerita dongeng ini sepertinya pernah saya dengar atau baca di suatu tempat, kita mengenal kisah asal-usul Sunan Bungkul. Tentang perjalanannya menjadi seorang pemeluk agama Islam, saat sebelumnya bernama Ki Ageng Supo/Empu Supo - kepercayaan Prabu Majapahit untuk mempertahankan kepercayaan (non-Islam) putra mahkota (Pangeran Kusumohadi). Di sini kita juga diperkenalkan bagaimana sang pangeran Kusumohadi menjadi Ki Hasyim Alamuddin atau Sunan Bejagung Kidul yang memilih untuk menyebarkan agama Islam, dan bagaimana Sunan Bungkul belajar agama dari Sunan Bejagung Lor atau Syekh Abdullah Asy'ari (anak dari Syek Jumadil Kubro) sehingga menjadi pemeluk Islam. Di bagian "Hikayat Pohon Delima" ini kita juga mempelajari bagaimana Sunan Giri memiliki 2 istri: Dewi Murthasiah (anak perempuan Sunan Ampel/Raden Rakhmad) dan Dewi Wardah (anak dari Sunan Bungkul).

Memasuki tahap penghujung, bagian di mana Sunan Giri diberikan titah oleh ayahnya (Syekh Maulana Ishak), yaitu untuk mendirikan padepokan di atas tanah yang memiliki aroma dan tekstur seperti tanah di tanah suci, kita akan banyak mempelajari hikmah di balik "perbedaan" kepercayaan yang selama ini sering kali kita jadikan perdebatan. Pada bagian ini, kita mengenal para penganut kepercayaan Kapitayan: salah satu agama kuno masyarakat pulau Jawa. Mereka adalah Ki Waru, pandita Kapitayan, anaknya Purnami - yang memiliki ketertarikan romantis dengan Sancaka, salah satu santri ajaran Sunan Giri. Ternyata, pohon beringin yang dijadikan pusat persembahan para penganut agama Kapitayan, berdiri di atas tanah yang memenuhi kelayakan untuk berdirinya suatu padepokan yang dimaksud oleh Syekh Maulana Ishak. Di sini perdebatan tentang kepercayaan pun terjadi, terutama beberapa anak santri yang gemar mengganggu ritual sembahyang para penganut agama Kapitayan dan menyebut mereka kafir - di sini sangat dekat dengan konflik terkait kepercayaan yang sering terjadi sehari-hari. Mungkin, harus saya katakan, bab inilah yang paling berdampak untuk saya, seperti menyuarakan protes argumentatif tak nyaring namun bersuara tentang apalah arti perbedaan. Ada kata-kata Dewani, istri Ki Waru yang saya garis-bawahi:

Di kehidupan setelah mati, jalan mencari kebenaran tidak cuma satu. Tidak cuma caraku, tidak cuma caramu. Setiap manusia punya cara masing-masing, dan itu semua tidak salah, selama tujuannya adalah menguak tentang kebenaran.
(hlm. 172)

Kata-kata itulah yang menampar Ki Waru: bahwa caranya mencari kebenaran mungkin berbeda dengan cara Sunan Giri, tapi tujuannya adalah sama - yaitu menghormati dan mengakui keberadaan yang jauh lebih tinggi, sang Pencipta. "Bahwa mencari kebenaran tidak cuma satu, ada banyak cara." (hlm. 175)

Kesadaran itu sejalan dengan "persamaan" cara bersembahyang yang disadari Ki Waru, mengutip penjelasannya di halaman 156:

"Memang mereka tidak memberi sembahan pada batu, atau tungkup, atau tuk, atau tunggak, atau benda apa pun yang kita keramatkan. Tetapi mereka selalu berdoa menghadap kulon laut. Mungkin memang di arah situlah benda yang mereka percaya mewakili kekuatan Sang Hyang mereka, meskipun tak benar-benar berada di depan mereka. Selain itu, mereka juga melakukan gerakan yang kita lakukan pula meskipun tak sama persis. Mereka juga tulajeg, tungkul, tulumpak, dan tondem."

Mengutip kembali paragraf selanjutnya,

"Ketika sedang bersembahyang, kaum Kapitayan memang selalu tulajeg-atau berdiri tegak dengan tangan diangkat untuk memanggil Sanghyang Taya-, lalu tungkul - membungkuk dengan mata memandang ke tanah -, selanjutnya tulumpak - bersimpuh - dan diakhiri dengan tondem-bersujud dengan posisi badan seperti janin di dalam perut."

Bukankah hal ini sejalan dengan gerakan-gerakan sholat yang kita lakukan?

Pada halaman yang sama, saya juga menggaris-bawahi kutipan ini:

Lahan yang ada di sini cukup besar untuk kita berbagi dengan siapa pun. Tidak ada manusia yang mutlak menjadi pemilik suatu lahan, atau benda, atau bahkan nyawanya sekalipun.

Saat membaca kalimat itu berulang-ulang, saya berharap semua orang di dunia ini bisa sebijak Ki Waru.

Di bagian akhir buku, kita disuguhi cerita Syekh Maulana Ishak, yang memutuskan lari ke Pasai setelah menikah dengan Dewi Sekardadu - putri dari Prabu Menak Sembuyu yang merupakan raja kerajaan Blambangan. Blambangan kala itu dilanda wabah, yang membuat rakyatnya diare berkepanjangan dan muntah-muntah disertai demam, yang menurut hemat saya sepertinya bermasalah dengan sanitasi dan higienitas mereka serta apa yang mereka makan. Syekh Maulana Ishak berhasil menyembuhkan mereka dengan keahliannya meramu obat-obatan, dan berhasil dinikahkan dengan Dewi Sekardadu dan memiliki putra yaitu Raden Paku / Sunan Giri / Jaka Samudra. Tapi salah satu adipati (Patih Bajul Sengara) yang iri terhadap Syekh Maulana Ishak terutama karena ia merasa terancam dengan penyebaran agama yang ingin disebarkannya, beliau terpaksa lari ke Pasai dan anaknya harus dibunuh - hal inilah yang menyebabkan Jaka Samudra dilarung ibunya ke laut. Kita juga diminta berpikir kritis, apakah Dewi Sekardadu yang melarung anaknya ke laut, atau karena dibuang oleh pasukan kerajaan Blambangan? Yang kedua, menyebabkan Dewi Sekardadu meninggal tenggelam dan jasadnya ditemukan di pantai di Dusun Kepetingan - dekat dengan Gresik (tempat tinggal Jaka Samudra) dan Ampel, dibandingkan Blambangan, seolah-olah menyuarakan pilihan Dewi Sekardadu untuk ikut anaknya.

Kesimpulannya, setelah analisis yang panjang di atas, buku ini sangat layak untuk dibaca, terutama bagi siapapun yang menyukai sejarah, dengan bumbu-bumbu legenda atau cerita rakyat. Tidak hanya mengajarkan keteguhan dalam menjalankan apa yang kita yakini (dalam hal ini, penyebaran agama Islam di Nusantara yang banyak ditentang dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya), tapi juga kita mempelajari kejujuran, akibat dari sifat iri dengki serta angkuh dan sombong, berbakti kepada orang tua seperti Jaka Samudra yang berbakti kepada Nyai Ageng Pinatih walau beliau bukanlah ibu kandungnya, bagaimana memilah kebaikan di tengah keburukan, memaafkan, serta banyak pelajaran lainnya yang bisa dipetik menyangkut kebaikan, kejujuran, dan kebijaksanaan - suatu ciri khas dari cerita rakyat atau legenda/dongeng.

Buku ini cukup tipis untuk cerita yang diangkatnya, padahal kalau lebih tebal pun saya pasti akan lebih menikmatinya.

Berkat buku ini, saya jadi ingin cari tahu lebih banyak tentang asal-usul Wali Songo dan perjuangan mereka dalam menyebarkan agama Islam. Serta, sejarah kerajaan-kerajaan yang dulu pernah ada di Nusantara.

Beberapa kutipan yang saya suka:

-> "Memang tak semua orang punya keyakinan yang cukup untuk bisa menerima keajaiban, sekalipun itu terjadi di depan mata." (hlm. 124)

-> "Bukankah saat lapar kita sering lupa bahwa makanan yang berada di piring kita, pernah punya jiwa." (hlm. 188)

-> Apalah artinya nyawa melawan samudra. Jika kau berada di tengah laut, kau takkan bisa merasakan air matamu." (hlm. 192)
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,030 reviews64 followers
October 1, 2025
Cerita laga dengan latar belakang sejarah Sunan Giri. Cukup menikmati walaupun alurnya cepat sekali, jadi kayak 'dikejar-kejar'. Terus agak kagok bacanya kalau naratornya muncul buat reminder 😆😆 sepanjang baca, jadi bertanya-tanya, apa penulisnya lagi mencoba bereksperimen ya?

Pengetahuanku soal Wali Songo, sangat sangat sangat sedikit dan di dalam buku ini juga ada sedikit kisah dari Sunan lainnya, seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, dll. Kisahnya memuat tentang sisi keIslaman yang menjadi ajaran yang mereka bawa, meskipun untuk menyerap pemikiran dalam buku ini, harus pandai-pandai dalam menyaring.
Profile Image for Akaigita.
Author 7 books238 followers
June 28, 2023
Saga dari Samudra; cerita laga.

Wait, cerita laga?

Kayaknya lebih tepat disebut… cerita spiritual. Laganya duikit.

Aku suka cerita ini nggak punya struktur formulaic kayak cerita-cerita pop, jadi kisahnya ngalir sekaligus lompat-lompat antara satu karakter ke karakter lain, tergantung apa keperluannya di cerita ini. Awalnya kupikir ada apa banget gitu sampai dilabeli rating 21+, ternyata ada nganu…

Tipis sih novelnya, sekali duduk kelar kali, kalau nggak harus ngedongeng buat mini me juga. Aku nggak tahu soal akurasi cerita ini atau apakah ada yang anakronik. Memulis cerita sejarah, terutama sejarah yang teramat lampau, itu sulit. Bisa meramunya jadi kisah yang mengalir dan enak diikuti lebih sulit lagi.
Profile Image for Rizkana.
248 reviews29 followers
November 16, 2024
"Jika nama adalah identitas, maka apakah berarti dirimu orang yang berbeda jika namamu diganti?"


Saya pikir, cerita ini hanya cerita laga--dengan tokoh fiksi dan latar historis, sedikit bumbu fantasi dan warna budaya. Ternyata, makin lembarannya di balik, makin terlihat bahwa ini lebih dari cerita laga. Mungkin, bisa dibilang ini semacam retelling biografi dari salah satu tokoh besar, yang benar-benar hidup pada masa lalu, dan jalin-menjalin dengan perjalanan tokoh besar lainnya. Kalau saya sebut, nanti jadi beberan (spoiler). Jadi, lebih baik baca sendiri saja.

"Tak apa terganggu, asal kau tahu cara menghilangkannya. Jangan kau pelihara dan menjadi dendam."


Dari sisi penokohan, ada banyak tokoh-tokoh menarik. Saya sudah jatuh hati pada karakter Nyai Ageng Pinatih yang di mata saya terlihat kuat dan lembut secara bersamaan, tangguh dan anggun juga di saat bersamaan, baik dan tetap manusiawi--dalam arti, ia bisa juga merasa takut, khawatir, enggan, dan ragu-ragu karena melibatkan kepentingan pribadinya. Ia digambarkan sebagai perempuan yang patut dikagumi.

"Baginya, melihat tanaman tumbuh adalah keajaiban kecil yang terus mengingatkannya akan siklus kehidupan."


Satu lagi yang saya sukai, penggalan-penggalan latar cerita yang menggambarkan kehidupan zaman dahulu--ketika bintang di langit cerah terlihat, tanah tercium debunya, laut terasa megah, dan orang-orang tampak sederhana, sibuka memikirkan hal-hal esensial saja. Singkatnya, sebelum gedung kokoh bermunculan.

"Meski kita bukan keluarga yang bisa hidup bermewah-mewah, tapi hidup dengan ibumu membuatku selalu merasa kaya."


Terakhir, ada juga beberapa kutipan yang menarik dan menjadi catatan bagi saya. Berikut beberapa di antaranya.

"Tetapi satu hal yang aku tahu pasti di kehidupan setelah mati, bahwa jalan mencari kebenaran tidak cuma satu. Tidak cuma caraku, tidak cuma caramu. Setiap manusia punya cara masing-masing, dan itu semua tidak salah, selama tujuannya adalah menguak tentang kebenaran."


"Tapi bukankah saat lapar kita sering lupa bahwa makanan yang berada di piring kita, pernah punya jiwa."


"Aku telah mengambil kesimpulan, bahwa dunia ini memang penuh keajaiban."
Profile Image for — Prbw.
31 reviews
August 27, 2023
Epos berlatar abad 14 ini membawa kita ke hikayat seorang lelaki yang masa mudanya mencoba menjadi pelaut—mengikuti jejak ibu angkatnya—bernama Raden Paku, dan memilih masa tuanya menjadi penyiar agama Islam dengan nama yang cukup melegenda: Sunan Giri.

Lewat hikayat ini, Ratih seolah ingin mengajak kita menyelami ragam masalah sosial di masa lalu yang sebenarnya masih sering terjadi masa kini.

Rivalitas antar keyakinan dan polarisasi agama menjadi bahasan yang diberi porsi cukup besar dalam novel ini. Salah satu fragmennya muncul saat Sunan Giri mencari lahan untuk pondok pesantren yang ingin dirintis guna mendukung proyek penyebaran agama Islam, namun berbenturan dengan agama lokal yang sudah turun-temurun berada di sana: Kapitayan.

Ia adalah salah satu agama tertua di Pulau Jawa, yang dalam ritus kesehariannya mensakralkan sebuah pohon besar sebagai medium utama. Di mata murid-murid Sunan Giri, para penganut Kapitayan dianggap sesat dan mengganggu. Ratih ingin mewanti-wanti kepada kita: praktik mengafirkan dan menggusur mereka yang berbeda itu sudah terjadi sejak zaman baheula.

Di sisi lain, novel ini bukan tanpa catatan. Yang menurut saya patut disorot adalah minimnya elaborasi cerita tentang dunia laut dan perairan itu sendiri. Dalam novel setebal 198 halaman ini, mungkin fragmen yang bercerita soal laut maupun yang berlatar di perairan hanya sekitar 30-40 persen saja. Sisanya adalah cerita daratan.

Menurut saya, ini agak mengherankan mengingat ilustrasi yang dijadikan sampul adalah ombak biru, dengan diksi “samudra” yang dipakai sebagai judul. Seorang calon pembaca yang berharap mendapat banyak kisah tentang laut dan perairan bisa jadi akan kecewa.

Padahal menarik untuk dielaborasi lebih jauh lagi bagaimana nasib pelabuhan Gresik yang dipimpin Nyi Ageng Pinatih usai Sunan Giri mulai menyiarkan Islam yang makin menjauh dari laut.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,445 reviews73 followers
February 21, 2025
"Jadi, kapan kita akan mengusir mereka, Ki?"

"Kalau perlu, besok!" sahut salah satu dari mereka.

"Ya! Besok!" Yang lain ikut mendukung. "Lebih cepat, lebih baik."

"Jangan. Kita beri mereka kesempatan sekali lagi," cegah Ki Waru.

"Ki, engkau terlalu baik."

"Sanghyang Taya mengajarkan kita untuk berbiat baik, bukan untuk mencari musuh," ujar Ki Waru. "Lagipula... apa kalian tak memperhatikan cara mereka menyembah Sanghyang Pencipta mereka? Mirip seperti kita."

"Mirip bagaimana? Berbeda, Ki. Entah apa yang mereka sembah. Mereka tak pernah memberi sesembahan pada pohon, sungai, batu, atau tanah yang memberi kita kehidupan. Jangan-jangan mereka tak menghargai atau lebih parah --tak menyadari bahwa kekuatan Sang Hyang Taya berada pada benda-benda ciptaanNya di sekitar kita. Tak pernah kuliha seserahan yang mereka persembahkan untuk Sang Hyang Taya mereka."

Ki Waru tersenyum kecil, "Ternyata kalian tak benar-benar memperhatikan, ya? Ya, memang mereka tidak memberi sesembahan pada batu atau, tungkup, atau tuk, atau tunggak. atau benda apa pun yang kita keramatkan. Tetapi mereka selalu berdoa menghadap kulon laut. Mungkin memang di arah situlah benda yang mereka percaya mewakili kekuatan Sang Hyang mereka, meskipun tak benar-benar berada di depan mereka. Selain itu, mereka juga melakukan gerakan yang kita lakukan pula meskipun tak sama persis. Mereka juga tulajeg, tungkul, tulumpak, dan tondem.

Mereka melihat satu sama lain dengan penjelasan Ki Waru itu. Ketika sedang bersembahyang, kaum Kapitayan memang selalu tulajeg --atau berdiri tegak dengan tangan diangkat untuk memanggil Sanghyang Taya--, lalu tungkul --membungkuk dengan mata memandang ke tanah --, selanjutnya tulumpak--bersimpuh --dan diakhiri dengan tondem--bersujud dengan posisi badan seperti janin di dalam perut.

(halaman 155 dan 156)
Profile Image for nisaa.
85 reviews8 followers
September 11, 2023
dulu pas jaman sekolah belajar tentang wali songo rasanya capek dan gak tertarik sama sekali. tapi baca buku ini bikin tertarik dan mengulik jauh tentang wali songo. walaupun gak semua wali songo disebutin disini— tapi buku ini berhasil buat aku searching-searching tentang sunan sunan terutama Sunan Giri san Sunan Ampel!!

buku ini sendiri mengisahkan tentang Jaka Samudra/Raden Paku/Sunan Giri yang dibuang kelaut (saat bayi) dan ditemukan oleh awak kapalnya Nyai Ageng Pinatih. lalu Jaka di asuh oleh Nyai. nantinya buku ini akan mengisahkan perjalanan si Jaka mencari jati dirinya— dari ia kecil sampai menjadi Sunan Giri.

so far aku suka sama ceritanya yg ngalir gitu aja dan narasinya juga enak buat dibaca. walaupun masi ada beberapa kesalahan penulisan dibuku ini tp masi bisa aku tertoleransi lah. dibuku ini aku suka sama karakter Taksa. tapi sedih sama nasib beliau :( buat kalian yg lagi reading slump, mungkin bisa coba baca buku ini krna buku ini sangat menarik. ayo semuanya baca Saga Dari Samudra!!

its 4.5 from me, tp kayaknya lebih cocok dibuletin kebawah >.<
Profile Image for Shinta_read.
303 reviews13 followers
June 19, 2023
Judulnya bagus, tidak terlalu tebal, dan penulisnya Ratih Kumala. Tiga hal itu yang membuat aku membeli buku ini. Mengira ini semacam cerita silat, ternyata ini kisah dari Jaka Samudra alias Raden Paku alias Sunan Giri sedari beliau ditemukan, diangkat anak, sampai menjadi Sunan. Meski disebut “cerita laga” (laga artinya perkelahian) tetapi sebenarnya tidak sebegitu banyak ya adegan pertarungannya. Bukan berarti bukunya tidak menarik, justru buku yang tipis dan bisa dibaca sekali duduk ini mengandung banyak cerita yang baru kuketahui. Ratih Kumala mengisahkannya dengan mengalir enak begitu saja, cukup menimbulkan emosi bergejolak di beberapa adegan. Rasanya kalau dibuat lebih panjang pun barang 100 halaman lagi akan masih enak. Mungkin akan ada yang kedua?



Profile Image for Millenysm .
68 reviews3 followers
July 3, 2023
Sebuah retelling kisah hidup dari Sunan Giri also known as Jaka Samudra, dan jika kisanak berekspektasi akan menyaksikan pelbagai kisah laga dan pertarungan yang mendebarkan jiwa, maka sayang sekali kisanak harus menggugurkan ekspektasi tsb, karena cerita pada novel ini lebih kental akan unsur perjalanan spritualitas, pencarian jati diri, dan gambaran kecil persebaran agama Islam di Nusantara.
Untuk kepenulisan cerita sendiri terasa terburu², typo cukup bertebaran, banyak pembabaran fase kehidupan tokoh yang terkesan hanya sebagai pelengkap atau hanya numpang lewat saja, padahal banyak sisi yang bisa digali lagi. Sepertinya penulis sudah dalam keadaan kurang bergairah dan mungkin ingin cepat² menyelesaikan buku satu ini, sehingga terasa kurang jika dibandingkan novel beliau sebelumnya, yaitu Gadis Kretek yang lebih candu nan memikat.
Profile Image for Rima.
26 reviews
September 25, 2023
Buku kedua Ratih Kumala yang aku baca setelah Gadis Kretek.

Awalnya aku nggak berekspektasi apa-apa, tapi aku yakin kalau karyanya Ratih Kumala pasti bagus dan sesuai sama seleraku — ternyata benar! Seingetku ini cerita laga pertama yang aku baca. Kayaknya Mbak Ratih ini spesialis historical fiction ya? Soalnya kok jago banget nulisin novel yang berlatar belakang sejarah. Aku nggak expect kalau cerita tentang para sunan bakalan SESERU INI. Rasanya jadi kayak belajar dengan media yang super seru buatku: cerita fiksi.

I am enjoying Saga dari Samudra so much. Harusnya sih bakalan ada buku keduanya (ketiga, keempat, kelima, pokoknya sampai semua sunan ditulis) sih hehe. Aku siap membaca lagiiii ~
9 reviews
November 29, 2023
Selamat datang di babad tanah Jawa. Di era kesultanan, kerajaan, dan permulaan penyebaran agama Islam. Kita akan berkenalan dengan si tokoh utama, Jaka Samudra yang nanti akan berganti nama menjadi Raden Paku. Membaca buku ini tak ubahnya seperti perjalanan spiritualis karena alurnya membawa kita menikmati semua kejadian yang ada. Tentang kehilangan dan secercah harapan. Jika kau menyangka bahwa ini buku laga, lalu berharap adegan demi adegannya hanya ada pertikaian saja, maka kau salah besar Kisanak. Karena di sini kita akan diajarkan untuk tetap berkepala dingin serta bersangka baik.

Ah mentutaskan buku ini seperti di dongengi nenek kala masih kecil. Membayangkan orang-orang jaman dulu dengan segala atributnya. Kepolosan, keluguan serta angkara murka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nukleofil Lia.
52 reviews1 follower
February 9, 2025
Aku memang pecinta genre sejarah, fiksi atau non-fiksi.
Terakhir kali membaca buku bertema fiksi sejarah adalah ketika membaca "inferno" (Tidak terlalu sejarah memang, tapi banyak ref-nya) yang sangat menggugah, dan sebuah buku dari penulis lokal akhirnya membangkitkan kenangan itu lagi. Kali ini tentu saja mengangkat sejarah di bumi "nusantara" (Ah, karya2 Leila pun ttg sejarah, pahit tapi, awal NKRI).
Tidak disangka, buku yang berceritakan 193 halaman ini mampu membuatku tak bisa berhenti membaca dalam 1 waktu. Ceritanya mengalir dengan "crispy", disisipi kata-kata penuh ilham, untuk yang mau mengambil pelajaran.
Baca tanpa ekspektasi apapun, akan membawamu menikmati setiap jilid buku ini.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
July 13, 2023
Saga dari Samudra merupakan novel karya Ratih Kumala yang menceritakan sebuah kisah laga di tanah jawa pada abad ke-15. Dimana diceritakan tentang kisah perjalanan hidup Jaka Samudra (Raden Paku) sedari bayi hingga ia menjadi seorang Sunan di kemudian hari.

Mungkin cerita laga ini bukanlah satu-satunya yang dikisahkan dalam bentuk novel. Namun saya rasa, untuk penulis di era sekarang ini masih cukup sedikit yang menuliskan kisah-kisah laga sejenis ini. Oleh sebab itu, novel Saga dari Samudra buat saya merupakan pengalaman membaca yang menyenangkan. Pembaca akan disuguhi adegan silat yang menegangkan, perampokan yang bengis, patriarki yang berkelindan, relasi kuasa yang memuakkan serta ajaran-ajaran kehidupan yang meneduhkan. Selain itu, adanya ilustrasi berwarna di beberapa halaman di dalamnya membuat cerita yang ada semakin menarik untuk terus diikuti hingga akhir.
Profile Image for Ringsang.
25 reviews
September 16, 2023
Novel yang menghibur walo kurang meninggalkan kesan mendalam. Menghiburnya kalo udah masuk ke adegan duel.

Abis biasanya cerita laga kubaca dlm bentuk komik. Kalau novel jarang banget, terakhir baca cerita laga tuh apa ya, Musashi? Mahabarata? Niskala? Akar?

Lucu banget gimana satu novel membuat kita ingat novel lainnya dan ingin baca ulang lagi.

Ceritanya fiktif walo beberapa tokohnya beneran ada di dunia nyata, seperti sunan ampel.

Dan karena ada sunan ampelnya maka jalan cerita gak jauh dari penyebaran agama islam zaman kerajaan. Tapi bukan agamanya yang jadi inti cerita, melainkan hubungan anak-ibu, guru-murid, dan kehidupan yang sering bolak-balikin perjalanan hidup manusia.
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books50 followers
June 15, 2024
Sepenuhnya kisah tentang Raden Paku atau Sunan Giri. Perjalanan hidupnya sejak ia ditemukan di tengah laut sebagai bayi, hingga punya santri dan padepokan/pondok sendiri. Di buku ini, melalui berbagai peristiwa, akan kita simak pembentukan karakter Jaka Samudra, lalu berganti jadi Raden Paku yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri (karena berdakwah atau mendirikan padepokannya di Desa Giri).

Terlepas dari saltik dan beberapa hal yang mestinya lebih diperhatikan editor, buku ini cukup menghibur. Selalu menarik menyimak kisah dakwahnya Walisongo, ya. Apalagi dikemas dalam bentuk novel tipis seperti ini. Semoga ada lagi.
Profile Image for Siti Robiah A'dawiyah.
174 reviews23 followers
June 17, 2023
Saya suka dengan cara penuturan Ratih Kumala mengenai kisah Jaka Samudra yang tak disangka ternyata adalah kisah salah satu sunan yang terkenal di Jawa. Kecuali dari buku-buku yang sering ditemui di tempat-tempat ziarah dengan minim kisah dan terkesan hanya ringakasan, maka Saga dari Samudra adalah kisah laga (cerita laga seperti yang tertulis di bagian judul), menambal kisah-kisah antara yang bolong (Taksa, Sanacaka, Wajendra, Gandewa, Bahasyim) juga tidak menghilangkan unsur magis yang selalu dihadirkan dari kisah para wali.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Adhit.
251 reviews7 followers
July 27, 2023
Buku ini menceritakan asal usul salah satu tokoh wali songo yg ada di Indonesia. Wali songo ialah penyebar agama islam pada jaman kerajaan nusantara.

Ceritanya bergerak maju dan ada beberapa flashback yang digunakan memperkuat cerita.

Narasi dan gaya menulis Ratih Kumala udah gak diragukan lagi ya, bagi yang udah baca Gadis kretek pasti tau.

Hanya saja ceritanya disini kurang banyak laganya, padahal ditulisnya genre laga untuk novel ini. 3 dari 5 bintang karena hal itu. Overall buku ini masih enak dan layak dibaca.
Profile Image for Lia Untari.
73 reviews
August 13, 2023
Genre fiksi-sejarah jadi salah satu genre favorit ketika baca buku, karena belajar tentang sejarah entah kenapa jadi lebih seru.

Awal membaca Saga dari Samudra, tidak memiliki basic knowledge apapun tentang apa dan siapa yang akan dibahas dan setelah baca jadi banyak belajar tentang sejarah baru yang sebelumnya gak pernah tau sama sekali.

Novel Saga dari Samudra adalah cerita laga jadi ketika baca serasa kayak lagi nonton film karena bener-bener packed with actions!

Plus points-nya cover-nya cantik banget dan ada banyak ilustrasi di dalamnya. Recommended!
10 reviews
March 11, 2024
Buku ini selesai saya baca kurang dari sehari. Awalnya saya memutuskan membeli buku ini karena ilustrasi covernya yang cakep banget (yang ternyata menghiasi beberapa halaman di buku ini juga).

Buku ini seru! Saya suka sekali dengan caranya bercerita, pemilihan alur yang sesekali mundur kebelakang tanpa merusak flow membaca. Yang bikin saya mantap kasih bintang 5 adalah bagaimana ending dari buku ini adalah awalan dari buku ini juga. It ends where it starts. Menurut saya itu ide brilian, ditambah dua sisi kemungkinan yang diutarakan untuk bagian tersebut (this is cherry on top!)
Profile Image for Muthia Amanda.
6 reviews5 followers
September 4, 2024
Cover dan ilustrasinya cantik banget!
Buku ini menceritakan kisah hidup Raden Paku a.k.a Sunan Giri dengan sentuhan fiksi. Sebagai penikmat historical fiction, saya pribadi suka dengan cerita dalam Saga dari Samudra.
Akan tetapi, saya berekspektasi akan banyaknya laga dalam buku ini (karena di covernya ada tulisan "Cerita Laga") ternyata di dalamnya tidak terlalu banyak perkelahian hehe.
Ada beberapa bagian yang mengharukan dan mendebarkan. Rasanya tidak membosankan sama sekali karena buku ini tergolong tidak tebal.
Profile Image for Rafidah Estri.
42 reviews
December 4, 2023
4.4⭐️

Sebetulnya "Laga" dari buku ini bukanlah "laga" yang brutal dan detail dan klimaks. Justru "laga" nya dikemas dengan sangat sederhana dan tanpa deskripsi yang bertele-tele.

Tetapi justru kesederhanaan itu lah yang saya suka. Mengangkat tema sejarah salah satu Wali terkenal di Indonesia, cara Mbak Ratih bercerita sangat mudah dipahami dan tidak membuat pembaca cepat bosan. Buku-buku sejarah sejenis ini perlu dibuat lebih banyak untuk menarik minat pembaca, terutama pada anak-anak muda
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
January 3, 2025
Buku pertama yang selesai dibaca tahun 2025. Numpang baca di Perpustakaan Jakarta yg rame bocil di musim libur semester. Numpang baca karena saya kena suspensi setahun gak boleh pinjam buku buat dibawa pulang, hahaa.

Ceritanya lancar, walau ada penggunaan kata yg kurang selaras dengan zaman yg menjadi latar. Ya, garis besarnya ini adalah saga seorang Raden Paku, alias Sunan Giri, salah satu Wali Songo, ulama penyebar ajaran Islam di Pulau Jawa.
Profile Image for Ratna Ayu Budhiarti.
57 reviews3 followers
Read
April 4, 2025
Cerita laga yang gak laga-laga amat. "Kisah dakwah" tentang perjalanan hidup Sunan Giri.
Pada bab-bab awal, terasa filmis dengan adegan laga dan baku hantamnya, juga adegan berantem di desa dekat pelabuhan tempat kapal dagang mereka mampir untuk berniaga. Konfliknya tidak terlalu rumit. Sayanya ada sedikit "ganjalan" di halaman 5 dan 98 ada nama tokoh yang tertukar. Barangkali luput saat edit saking serunya cerita.
Profile Image for Mor.
210 reviews7 followers
June 29, 2023
•[⭐ 3/5 ⭐]•



When you thought it's an epic, high fantasy, action-based historical fiction but it's actually a novel about penyebaran Islam 😅 It was interesting and insightful but feels kind of rushed? Dan scene yang seharusnya bikin kita sedih atau terharu pun terasa underwhelming. . . Overall, it's an okay read, nilai plusnya ada di ilustrasi yang sangat amat memanjakan mata ✌️
Profile Image for Vaneissya Purwanto.
24 reviews
September 11, 2023
Buku ini berkisah tentang salah satu sunan di Pulau Jawa yang ternyata memiliki keterkaitan satu sama lain dengan walisanga yang ada di Pulau Jawa. Buku ringkas, tentu tidak dapat mencakup kisah yang mendetail mengenai kisah hidup sunan tersebut. Tetapi, cukup untuk memberikan gambaran dan silsilah sunan-sunan yang ada di Pulau Jawa.
Profile Image for Indah Purwanti.
124 reviews1 follower
April 12, 2024
Dari segi narasi saya sangat menikmatinya. Ada beberapa typo di dalam penulisan,tapi tidak terlalu menggangu. Ceritanya sangat sederhana namun gaya bernarasinya sekali lagi bagus. Mungkin saya akan menambah 1 bintang jika ada plot twist yang mengejutkan atau ditambah narasi historikalnya. Misal pada tahun brp dan keadaan kerajaan-kerajaan saat itu.

Anyway, good job mba Ratih 😁👍
Displaying 1 - 30 of 48 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.