Sangat jarang penulis Indonesia yang berani menggarap genre fiksi ilmiah, dan itu adalah salah satu alasan kenapa saya memutuskan untuk membaca buku ini. Saya salut dengan Mashuri karena berani membahas tema yang langka.
Saya tidak jago fisika, namun saya juga sedang menulis novel fiksi ilmiah. Jadi saya sempat membaca beberapa teori fisika yang Mashuri tuliskan, seperti multidimensi (dimensi nol adalah titik, dimensi satu adalah garis, dsb). Meski saya tidak tahu bagaimana implementasinya untuk mengakses dimensi-dimensi yang lebih tinggi, seperti dimensi 5 dan 6. Kalau para PhD professor mungkin bilang, we know nothing that's why we are so excited about it.
Terlepas dari itu, sebagian besar kritik dari saya adalah terkait novel ini sebagai karya sastra.
Kurangnya riset dan backstory dari karakter
Saya bingung, apa sih yang membuat Ilyas dipandang begitu hebat dan terkenal di Indonesia? Dia lulus summa cum laude, sidang penelitiannya juga mengesankan para profesor, dan dia mahasiswa terbaik. Namun saya rasa itu semua tidak cukup untuk menjadikannya terkenal. Saking terkenalnya Ilyas hingga dia lulus saja masuk berita. Selain itu, beritanya mungkin dipakai untuk pengalihan isu korupsi.
Saya alumni S2 di kota New York (NYU). Dua semester terakhir saya mendapat A di semua mata pelajaran & lulus magna cum laude. Padahal saya biasa2 saja. Setahu saya, lulus cum laude menjadi kewajiban di beberapa jurusan kampus ternama. Nilai dibawah B+ artinya mengulang mata pelajaran dan summa cum laude bukan lagi hal yang istimewa. Saya merasa banyak mahasiswa di Columbia Univ memiliki prestasi tinggi dan IPK bagus, tapi mereka tidak terkenal.
Ilyas yang populer dari awal akan lebih meyakinkan kalau dia sudah menciptakan banyak groundbreaking innovation yang sudah terasa pada masyarat banyak. Kalau di drama Korea Sisyphus The Myth, tokoh utama laki-lakinya adalah pendiri perusahaan teknologi. Atau karena Ilyas masih mahasiswa, dia bisa telah mempublikasi banyak penelitian di jurnal ilmiah. Sayangnya tidak dituliskan seperti itu. Itu pun, hasil penelitian selalu perlu dikaji dan dikritisi oleh para peneliti lain.
Saya paling banyak mengkritik Ilyas karena saya seharusnya bisa relate sebagai lulusan Amerika. Tapi tidak hehe. Selain itu minim juga backstory dari karakter yang lain, seperti Alisa. Bagaimana Ilyas dan Alisa saling jatuh cinta, apa yang menjadikan Alisa begitu berharga bagi Ilyas dan lain sebagainya? Semua karakter-karakter ini seperti tempelan dan alat plot. Bukan bagian dari cerita itu sendiri.
Penulis perlu mampu membedakan dan menyeimbangkan antara plot dan cerita
Plot is physical. Story is emotional.
Plot is your protagonist’s physical journey.
Story is your protagonist’s emotional journey.
Plot = action.
Story = reaction.
Karena plot adalah aksi, cerita adalah reaksi. Jadi banyak penulis umumnya menggunakan plot sebagai alat untuk menyetir emosi pembacanya. Namun sayangnya, Mashuri terbalik dalam hal ini. Mashuri menggunakan emosi menjadi alat untuk menciptakan plot.
Sebagai contoh, banyak dari penumpang pesawat yang merasa sedih karena kehilangan keluarga mereka. Namun bagian emosi dari para penumpang ini mendapatkan porsi sangat sedikit, hanya dua tiga halaman mungkin. Setelah itu, Ilyas memutuskan akan menciptakan mesin waktu kembali ke tahun 2015. Lalu 75% dari novel ini fokus kepada teori dan prosedur bagaimana Ilyas dkk menciptakan wormhole. Pada akhirnya, pembaca lebih banyak membaca teori dan prosedur ilmiah dibandingkan cerita yang mengundang emosi. Meski saya menyukai fiksi ilmiah, bagian-bagian teori ini banyak saya skip karena terlalu banyak dan in my opinion, tidak perlu. Pendekatannya juga agak sulit dipahami masyarakat awam.
The biggest plot hole in my opinion
Disini saya jujur kaget ketika Ilyas berkata bahwa dia ingin menciptakan wormhole agar bisa kembali ke tahun 2015, karena saya tidak melihat ada urgensinya. Ujug-ujug dia membuat keputusan seperti itu. Anehnya semua penumpang pesawat setuju, semua terkesima, semua tepuk tangan. Padahal itu artinya mereka mengambil risiko yang berbahya, membahayakan nyawa mereka sendiri. Dua tiga penumpang ditanyai, mereka setuju karena mereka semua kehilangan anggota keluarga secara fisik atau mental. Tapi itu tidak menggeneralisasi ratusan penumpang memiliki kasus yang sama. Lalu semua orang di dunia setuju, NASA, dan pemerintah Indonesia. I mean, seriously? Padahal bisa berbahaya, karena bisa mengubah masa depan dunia.
Contoh selain itu, ada penumpang yang bilang bahwa cucu-cucunya sudah punya anak. Emangnya dia gak bahagia melihat cicit-cicitnya di masa depan? Atau kenapa cucu dan anak-anaknya gak mencegah si penumpang agar tidak kembali ke 2015? Karena kalau orang tua mereka kembali, semua skenario bisa berubah. Mereka bisa nikahin orang yang berbeda, atau melakukan hubungan seks dengan pasangan di waktu yang berbeda. Terus mereka yang tadinya punya anak A, malah jadi punya anak B. Emangnya gak sedih?
Pergantian antara adegan yang cepat dan minim konflik
Sebenarnya ini merujuk ke yang sebelumnya sih, bahwa karena penulis ingin fokus pada penjabaran teori dan prosedural ilmiah, banyak sekali yang dikorbankan. Seperti saat Ilyas meminta tolong untuk mengumpulkan seluruh penumpang pesawat dalam satu ruangan konferensi, lalu di hari yang sama, semua penumpang sudah terkumpul. Literally, di hari yang sama. I was like, what? Padahal mereka seharusnya gak tinggal di satu daerah yang sama di satu negara Indonesia. Perpindahan antara adegannya sangat cepat.
Rujukan-rujukan yang tidak ilmiah
Disini beberapa tokoh sering merujuk pada karya novel atau film fiksi ilmiah, seperti Supernova atau Inception. Lalu mereka menginterpretasikan apa yang sedang terjadi pada Ilyas berdasarkan film-film tersebut. Lalu Ilyas mengiyakan. Padahal seharusnya, seorang lulusan terbaik lembaga akademik lebih banyak merujuk kepada karya-karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dialog dan narasi yang cheesy
Beberapa dialog yang harusnya fokus berbicara fisika, malah dikaitkan dengan emosi yang jadinya cringey. Kayak misalnya lagi diskusi tentang massa benda, tiba-tiba Alisa berkata, "Kalau massa untuk menggambarkan 'aku cinta kamu' itu ada nggak?" sambil terkikik.
Atau ada adegan yang harusnya mengedapankan pada emosi, malah dikaitkan dengan fisika. Jadinya lucu. Saat Ilyas bilang "Kami seorang lelaki manusia biasa. Punya perasaan bahkan hingga dalam proton dan neutron kami. Dan ya artinya, aku bisa kangen kamu." Padahal adegan ini harusnya emosional banget sih, cukup bilang kalau dia kangen. Tapi selalu dia kaitkan dengan proton, neutron, elektron, tarikan gaya, dsb haha.
Ilyas kayak jadi tukang gombal. Kapanpun dan dimanapun.
Kesalahan-kesalahan minor lainnya
Sebagai contoh, di awal dituliskan usia Ilyas saat lulus dari Columbia University adalah 21 tahun. Namun di tahun 2040, saat memberikan pidato setelah Alisa, dia berkata usianya adalah 20 tahun. Ini minor banget sih, tapi ini basic banget dan berpotensi bikin bingung pembaca. Dan lain sebagainya. Editornya kayak emang gak teliti juga sih.
Last words from me
Anyway, mohon maaf kalau panjang banget. Karena ini fiksi ilmiah dan saya sangat menyenangi karya-karya bergenre ini. Jadi kritiknya juga panjang. Pohon ditendang karena banyak buahnya :)
Sebenarnya tadi mau saya kasih bintang dua dari segi karya sastra. Tapi karena saya ngerasa cukup banyak riset tentang teori-teori fisika (meski saya juga gak jago dan belum tahu implementasinya bagaimana), saya menambahkan satu bintang lagi. Saya sedang menulis novel fiksi ilmiah, dan menulis genre yang satu ini wonderfully annoying! Harus menguras pikiran banget haha. Good job for Mashuri!