Bagaimana Cara Menulis Ulasan Singkat yang Baik dan Kurang Menarik
Mula-mula, siapkan beberapa jenis emosi yang perlu kau angkut selama nanti kau menulis. Sebab, dalam beberapa titik, kesadaran itu diperlukan dalam rangka menjadikan tulisanmu terasa 'hidup' dan menyentuh beberapa pembaca yang belum kunjung menemukan apa yg ingin diutarakan.
Lalu, siapkan pujian. Ini penting. Segala hal baik perlu dipajang di muka. Tidak ada pembaca yang ingin membaca ulasanmu kecuali jika kau membuat suatu pernyataan yang disepakati. Dan tidak ada yang tidak menyepakati suatu pujian.
Tuliskan saja, misal, kau senang dengan beberapa sudut yg dibawa dengan betul-betul menarik. Dengan bagaimana mula-mula adalah premis (yg sangat kuat) perihal mati dalam keadaan bersih, lalu membayangkan ruwetnya kota dengan kejadian-kejadian yg berada di badanmu, lalu bayangan bahwa jika kau mati dalam keadaan 'morbidly obese' maka orang-orang yg kelak mengangkutmu harus memotongmu dalam beberapa bagian agar dapat digotong mayatnya. Ketiga bayangan, dalam tiap kali saya baca ulang, itu sudah lumayan bikin saya bergidik.
Pada tahap ketiga, dan ini terkadang membuat orang yang 'menyukai' karya yang akan kau ulas ini bisa kesal, adalah melemparkan pertanyaan retorika terhadap isi dari karya yang telah kau baca. Tidak apa untuk terlihat sok tahu dan biar dikata menantang 'status quo' yang telah dibuat-buat, sebab itu tidak penting. Hanya kau dan karya yang kau baca. Itu yang terpenting.
Dalam tahap ini, kita bisa mengawailnya dengan, entahlah, bilanng saja bahwa kau tidak tahu, apakah syarat naskah DKJ harus sependek ini. Lalu, kau menantang narasi di dalamnya. Seperti, jika karakter 'kamu' di novel ini diberikan waktu untuk memperhatikan kejadian-kejadian yg menimpanya dengan lebih mendalam, saya rasa akan lebih menarik.
Tadi, yang baru saja kau tulis, hanya menumpuk baranya terlebih dahulu. Kemudian bawalah bensin. Itu tahap keempat.
Misal, coba saja buat seakan-akan kau memahami bagaimana caranya menulis yang setara dengan peraih nobel, lalu buatlah suatu 'koreksi'.
Cukup asal melempar saja. Misal, bahwa persoalaan obesitas bisa diperdalam di dalam diri (mengenai sebab akibat psikologis yg memiliki rentang kompleksitas yg rumit), atau diperluas di luar diri (ke dalam sistematik segala hal menyebabkan kita, manusia, tengah dimotori realitas kali ini, entah ekonomi atau sosial atau politik, yg memaksa kita untuk terjebak dalam perilaku 'obesitas' ini). Selebihnya, hal yg sebetulnya sudah disinggung, macam mengenai manusia dan media, manusia dan presepsi, realitas televisi dan bagaimana orang 'obesitas' dipandang di dalamnya, dan beberapa ide lainnya terasa masih dangkal dan hanya menyentuh bagian yang sudah-sudah saja. Oh, iya. Kepenulisannya ga se-'wah' itu yang seperti orang-orang katakan. Biasa aja. Dan juga beberapa dialognya terasa kering jadi agak mengganggu.
Pada tahap terakhir, sekaligus sebagai penutup, dengan padamkan sedikit api yang tengah kau tanam itu dengan sedikit kembali pujian. Biasanya ini berhasil untuk membuat dirimu agak 'selamat'. Tapi kau tidak butuh selamat hari ini. Kau hanya butuh mengulas.
Dan penutup yang baik, bisa jadi ditulis dengan kalimat ini: selebihnya, ini novel sekali duduk yg seru, dan, pada beberapa kesempatan, bisa jadi dapat merubahmu.
Nah. Baru saja kau menulis ulasan baik yang kurang menarik. Sekarang, tinggal makan mie ayam aja.