Jump to ratings and reviews
Rate this book

Berguru Kepada Allah

Rate this book

Ada banyak sekali pertanyaan pada diri kita. Sebagian dari pertanyaan ini mungkin kelihatan mudah dan jelas sekali bagi kelompok orang dan dapat dijawab dengan mudah. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hukum (fiqh) serta ilmu pengetahuan, jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dilengkapi dengan bukti-bukti yang kuat, yang membuat kita menjadi jelas dan tidak ragu-ragu lagi atas kebenaran yang diberikan. Namun masih banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya amat mendasar, tetapi tidak pernah mendapat jawaban yang konkret, antara lain adalah :

Apakah ada shalat khusyu' itu ?
Mugkinkah orang awam bisa melakukannya ?
Bagaimana Allah menjawab setiap doa ?
Mengapa perbuatan jahat lebih mudah dilakukan sedangkan perbuatan baik memerlukan upaya yang besar untuk melaksanakannya ?

Barangkali kita sudah mendengar dan memperoleh jawaban untuk hal-hal tersebut. Tetapi karena jawaban tersebut tidak diberikan bersamaan rasanya (Dzauq), maka penjelasan itu hanyalah sebuah impian yang tidak pernah kunjung dirasakan dan akhirnya menganggap khusyu' itu hanyalah milik para wali dan para Nabi yang terdahulu, lalu kita menempatkan diri menjadi orang awam selamanya.

Mungkin sebagian dari kita sulit untuk mempercayai bahwa jawaban atas pertanyaan itu bisa terjadi dan dirasakan oleh kita secara langsung, yaitu merasakan kehadiran Allah dalam setiap gerak kita, sebagaimana Sabda Rasulullah : An ta'budallaha ka annaka tarahu fainlam takun tarahu fainnahu yaraka (Engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, apabila tidak mampu melihat-Nya sadari bahwa Dia selalu melihat engkau).

First published January 1, 2006

34 people are currently reading
465 people want to read

About the author

Abu Sangkan

5 books14 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
54 (47%)
4 stars
35 (30%)
3 stars
13 (11%)
2 stars
5 (4%)
1 star
7 (6%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Safitri.
16 reviews
March 25, 2011
Meskipun penuh kontroversi karena banyak ulama yang mencap hasil pemikiran Abu Sangkan ini sebagai bid’ah, namun buku ”Berguru Kepada Allah” yang pertama kali dicetak pada tahun 2002 ’lulus’ penilaian publik sehingga dicetak sampai sebelas kali hingga 2009 ini. Buku laris pasti memiliki suatu ’tawaran’ yang menarik. Hukum itu berlaku juga pada karya Abu Sangkan ini. Tagline ’Menghidupkan Kecerdasan Emosional dan Spiritual’ yang terdapat di cover buku mungkin memberi gambaran mengenai apa yang ingin dibagi pada pembaca. Namun menurut saya pribadi, apa yang ingin disampaikan Abu Sangkan terutama adalah pencarian manusia terhadap kebenaran yang ada pada dirinya, yaitu pengakuan akan ke-Esaan Allah. Tauhid dari lubuk jiwa.
Latar belakang Abu Sangkan berpengaruh besar dalam pencapaian dan pemahamannya akan Islam. Bisa dikatakan bahwa ia berupaya mencari ilham sepanjang hidupnya demi mencapai Iman. Abu Sangkan pernah menggeluti ilmu agama di beberapa pesantren seperti Al Ihya’ di Bogor, Al Ghazaly di Bogor, Al Baqiyyatush Shalihat Bekasi serta mengikuti pendidikan ilmu Filsafat di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Apa yang ia cari justru berasal dari perenungan-perenungannya selama menggeluti dunia bisnis dan pengembaraan spiritualnya dalam kontemplasi malam yang ia lakukan. Mengenai pencapaian tersebut, saya tidak berani memberi komentar, biarlah Allah yang menilai upaya manusia-Nya dalam upaya mendapatkan Ridha-Nya.
Konsep menarik yang dikemukakan Abu Sangkan di sini adalah adanya bagian jiwa manusia yang pada dasarnya mengakui adanya Allah, mengajak kepada kebaikan, dan menegur perbuatan dosa yang dilakukan insan. Dalam QS. Al Qiyamah, 75 ayat 14, ia disebut sebagai bashirah, diri sejati yang tidak tidur dan tidak lalai, mengendalikan nafas dan prosedur badani manusia yang lain. Ia berbisik halus kepada manusia untuk mengingatkan agar menghindari dosa dan mengajak pada kebaikan. Konsep ini didukung oleh berbagai penelitian psikologi dan penelitian terhadap kinerja otak manusia (temuan ”God Spot” oleh Danah Zohar dan Ian Marshall yang notabene adalah ilmuwan barat). Namun terkadang manusia mengabaikan ’bisikan halus’ tersebut dan terus berbuat maksiat di muka bumi. Untuk mengembalikan manusia pada kehidupan yang penuh kebaikan, mendapatkan ketentraman, dan mengabaikan emosi untuk mendapatkan esensi pemikiran yang lurus, Abu Sangkan berpendapat bahwa kita harus bisa terus mendengarkan ’bisikan halus’ dari bashirah yang mengajak pada kebaikan tersebut. Untuk itu, hendaknya manusia menjalani kehidupan dengan sikap ”Takwa” (menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya) disertai sikap ”Ihsan” (seakan-akan melihat Allah, jika tidak mampu melihat-Nya sesungguhnya ia melihat kalian). Namun untuk mencapai tataran tersebut, memang terasa sangat berat karena sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah dalam beberapa Surah Al Qur’an, iman dan kesadaran manusia itu diberikan oleh Allah sendiri pada hati manusia yang Ia kehendaki. Lalu bagaimana untuk mendapatkan ilham keimanan tersebut? Kuncinya adalah pasrah. Abu Sangkan berpendapat bahwa yang dimaksud pasrah bukanlah bersikap pasif dan menerima semua yang terjadi atas dirinya sebagaimana yang dibayangkan oleh banyak orang selama ini. Namun konsep pasrah adalah melakukan segala upaya yang mungkin dilakukan di dunia sesuai dengan perintah Allah untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan menyerahkan hasilnya pada Yang Maha Kuasa. Jadi bukannya pasrah dengan tidak melakukan apa-apa dan hanya terus beribadah, bahkan dengan menjalankan laku mengharamkan kemodernan dengan harapan ingin mengembalikan kehidupan seperti zaman Nabi Muhammad SAW, namun memanfaatkan kemodernan untuk menjalankan Islam sesuai dengan Fitrah-nya.
Untuk mendukung upaya mencapai sikap pasrah ini, Abu Sangkan menawarkan suatu metode zikir (inilah yang sering dianggap bid’ah oleh para ulama). Karena sesuai dengan konsep zikir, yaitu ’ingat’, zikir akan membangkitkan kesadaran diri bahwa kita selalu diawasi oleh Allah. Zikir akan memperkuat dan memunculkan bashirah yang selama ini kita abaikan.
Kalau metode ini dianggap mengada-ada, mungkin perlu dibaca testimoni-testimoni dari masyarakat yang sudah membaca dan mencoba mengamalkan isi buku ini. Saran saya, apabila anda memandang hal tersebut positif, mungkin dapat dicoba dan dimanfaatkan untuk keluar dari ’kemacetan’ hidup di dunia modern ini. Berguru Kepada Allah, bagi Abu Sangkan bukanlah dimaksudkan sebagai suatu kepongahan, akan tetapi kerendahan hati manusia untuk kembali pada Fitrahnya dan ingin mencintai Sang Pencipta dengan penuh keikhlasan.


1 review
May 19, 2019
💕🖤
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Asep Setiawan.
8 reviews1 follower
May 28, 2011
The book which is need to be read slowly has revealed some important issues such as ihsan. The central theme of the book that Allah is The Mighty. We and all being and universe belong to Allah. We created by Allah and we are going back to Allah.

To understand that we are truly going back to Allah means that we worship to Allah with overall effort physically and spiritually. And this understanding not only by knowledge, by reading only but also with consciousness.

This means, as Abu Sangkan explain using one hadist that we worship to Allah as Allah watch us and even tough we don't see Allah but Allah watch us.

With dzikrullah, this understanding that we are going back to Allah can be achieved with Allah help. Allah is source of everything. Yes we learn from ulama both ultimately Allah who make us fully understanding.

That why Abu Sangkan put the tittle is Berguru kepada Allah, Learning from Allah.

With Pelatihan Shalat Khusyu by Abu Sangkan, a reader will have more understanding why ultimately knowledge is from Allah. Our destiny has decided by Allah. Allah is determining everything.

In one of the chapter, Abu Sangkan explain how a Muslim will feel Ihsan as Rasulullah explaining in one hadits.
Profile Image for Bete -chan.
7 reviews1 follower
August 9, 2007
Belum selesai baca, da rada rumit isina teh, tapi buku nya gak pake teh loh :P
Profile Image for Ikhsanun Pratama.
Author 6 books33 followers
June 30, 2021
sungguh, buku yang luar biasa. buku yang bertipe sharing :)
khusus bagi anda yang merasa dan ingin merasakan mencintai Allah seutuhnya :)
2 reviews1 follower
November 5, 2019
Sip
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
Read
March 30, 2009
Assalamualaikum...

I've read the book and found it really wonderful. To be honest
I ever experienced certain stages but I have no idea what to do next.
All these happened after one year practice zikir. compared to zikir-tarikat there are no obligation but before practiced it must be received through a Khalifah or Mursyid.

I learned how to perform prayer better and it is effected. The way we learned so simple, we already have the knowledge but never experience naturally and feel Allah always with us not only by the time of curtain ritual or prayer under going.

Thanks to Allah s.w.t

Simple way to be a good Muslim.From a Muslim we are the real Mukmin.
From Mukmin we can achieve Mokhsin. The highest rank of Mukminin and Mukminat. Huallahuaalam.
Profile Image for Sidharta Taha.
1 review
September 26, 2009
From the book I learned most that defencelessness is not a passive state where we gave up our fate to Almighty God, Allah Swt, but we have to try hard doing all we can as long as it doesn't create a sin. Obeying God's order and avoiding God's prohibition are efforts to reach purity, and to keep ourselves aware, we should do 'dzikir'. Then if we could listen our deepest soul whispering of kindness, we could reach a better life in this world. My other review about this book could be read in

http://id.shvoong.com/WebAgents/Redir...

Generally, this book offer a method to return our pure soul. The soul who aware of God's Almighty Power.
Profile Image for Anita.
6 reviews2 followers
September 17, 2009
Buku yang pada dasarnya bagus untuk dibaca, khususnya bagi mereka yang sedang memperbaiki diri. Sampai saat ini saya belum sempat menyelesaikannya sampai habis , mungkin karena banyak menggunakan kata-kata yang saya kurang pahami, makanya jadi tersendat-sendat bacanya.

Hati adalah tempat dimana Allah menjatuhkan pandangan-Nya dan juga tempat Allah membisikkan petunjuk-petunjuk-Nya. Hati adalah sumber dari segala yang ada dalam diri manusia.

Semoga kita bisa setiap saat membersihkan hati kita dari berbagai kotoran, agar sinar Ilahi dapat tembus sampai ke hati kita yang terdalam. Aamiin ya Mujiib.
Profile Image for Reni.
16 reviews1 follower
November 1, 2008
Sebetulnya buku ini sudah beberapa tahun yang lalu dibeli, tapi belum selesai juga bacanya. Buku ini menggabungkan ilmu pengetahuan dan AL Qur'an.
3 reviews
November 14, 2008
bukunya cukup bagus, buat ngejelasin makna/hakikat kita beribadah,walaupun gak semua isinya saya setuju.
Profile Image for ff.
2 reviews
Currently reading
September 15, 2009
harus dibaca beberapa kali utk dpt mengerti maksudnya....
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.