Jump to ratings and reviews
Rate this book

Equinox Classic Indonesia

Arit dan Bulan Sabit: Pemberontakan Komunis 1926 di Banten

Rate this book
"Alongside the crescent, the star of the Soviets will be the great battle emblem..." - Tan Malaka

Twice in this century the people of Banten have risen in revolt against those they considered to be their oppressors. On both occasions the leadership of the revolts was largely religious and yet at the same time announced to all that it was Communist. The revolutionary leadership successfully portrayed their ideology as both past and future. In 1926 and again in 1945, revolt was to be the harbinger of freedom from colonial rule and the dawn of a new era of social justice and prosperity. These are familiar themes of Communist-inspired revolt, but the Bantenese revolutionaries also delved deep into their past history to proclaim that the advent of Communist revolt would also lead to the restoration of the Sultanate of Banten.

The Banten region illustrates strikingly that the movement from "archaic" to modern forms of political protest is not lineal but dialectical. As Geertz has perceptively remarked, "there is in such matters no simple progression from 'traditional' to 'modern,' but a twisting, spasmodic, unmethodical movement which turns as often toward repossessing the emotions of the past as disowning them." This dialectical connection between future, present, and past was evident not only in the ideology of the two main revolts, but also in the social composition of the revolutionary leadership. In both uprisings descendants of the former Sultans of Banten, called tubagus, and others holding noble titles they had borne from old, played a prominent role. Indeed one of the very first actions of the Indonesian Communist Party (PKI) branch in 1925 was to demand compensationand pensions for all who bore the title tubagus from a sultanate abolished nearly a century before. They rubbed shoulders in the revolutionary leadership with other traditional leaders of peasant revolt, such as the Islamic teachers, the ulama, and the local men of violence, the jawara, but also with more "modern" revolutionaries such as artisans, printers, journalists, and trade unionists. In short, the uncompromising insistence on modernity that was to be a hallmark of the PKI after 1951 was certainly not a prominent feature of the movement in the 1920s or in 1945.

175 pages, Paperback

First published July 1, 1982

5 people are currently reading
62 people want to read

About the author

Michael C. Williams

20 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (8%)
4 stars
5 (41%)
3 stars
5 (41%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (8%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Willy Alfarius.
96 reviews9 followers
June 14, 2023
Komunisme dan Islam, yang dalam pemahaman umum di Indonesia dalam setengah abad terakhir, nampak bagai minyak dan air sehingga keduanya tidak mungkin berpadu; nyatanya pernah amat saling lekat dan berkelindan satu sama lain ketika berjuang untuk melawan kolonialisme Belanda. Michael Williams melalui buku ini menunjukkan bagaimana proses pemberontakan, angkat senjata, untuk melawan dan menjungkalkan otoritas kolonial di Banten (dan Hindia Belanda secara umum) digerakkan oleh Partai Komunis Indonesia dengan berbagai macam latar belakang agama, etnis, dan berbagai preferensi lainnya; yang mana dari beragamnya latar belakang tersebut lantas bersatu untuk memberontak. Meski percobaan pemberontakan oleh PKI ini gagal, sebagaimana yang terjadi di seluruh Hindia Belanda, ia tidak serta-merta menguap begitu saja. Saya menilai, Pemberontakan 1926-1927 ini bisa menjadi salah satu titik mula berkobarnya semangat perlawanan (fisik) yang nantinya berujung pada Proklamasi 1945.

Dengan menggunakan metode sejarah, didukung sumber-sumber arsip primer sezaman, dan tak kalah pentingnya wawancara terhadap pelaku sejarah yang terlibat dalam aksi tersebut, Williams dengan amat rinci memaparkan bagaimana pemberontakan disiapkan, latar belakang sosial-politik Banten ketika itu, pelaksanaan pemberontakan itu sendiri, sampai kemudian kegagalan dan pemenjaraan yang menyertainya. Detail yang disajikan sangat kuat, dan dari sini kita dapat melihat dan mempelajari mengapa kemudian pemberontakan ini tidak bisa mencapai tujuannya, dan berakibat dilarangnya partai oleh pemerintah kolonial sampai akhir masa kekuasaan mereka.

Hanya saja, penerjemahan buku ini kendati sudah dilakukan dengan cukup baik, nampaknya luput melalui proses penyuntingan hasil terjemahan. Di sana-sini masih terdapat beberapa kalimat yang tidak utuh maupun rancu, meski pada dasarnya masih dapat dipahami maksudnya. Semoga saja buku ini dapat diterbitkan ulang dan diracik kembali proses terjemahannya sehingga literatur tentang gerakan anti-kolonial di masa-masa pergerakan nasional ini dapat terus terdistribusikan, mengingat cetakan asli buku ini sudah sangat sulit ditemui di pasaran.
Profile Image for Nanto.
702 reviews104 followers
Want to read
September 27, 2009
belum dibintangi karena belum tuntas dibaca. sejauh halaman yang terbaca, interpretasi islam dan komunis berlawanan total hanyalah pada saat ini. Atau itu terjadi pada tingkat ekstrimitas ideologis masing-masing pihak. Ketika komunisme berpegang teguh pada dialektika materialisme, yang bisa jadi adalah antitesis dari metafisika abad pertengahan dan kejumudan (mediocre) filsafat kontinental, ia menafikan sisi metafisika/idealitas. Sedangkan ketika islam dipahami sebagai agama keselamatan yang operasionalisasinya malah cari selamat yan berujung pada pro-status quo atau kompromi atas penindasan yang ada.

Namun berdasarkan pembacaan atas buku ini, ada yang mengikat kelompok yang kemudian diidentifikasi oleh Pemerintah Kolonial sebagai pelaku pemberontakan: mereka adalah orang yang terbilang paham akan ajaran agama dan muak terhadap penindasan. Hal yang perlu dipertajam dengan menuntaskan bacaan dan menyimpan catatan di samping buku saat membaca.

Yang menarik lagi, seingat saya, buku ini disusun saat pemerintah Orde Baru berkuasa. Pengumpulan datanya dilakukan dengan wawancara dengan salah satu kerabat dan pelaku yang tersisa. Salut buat kemampuan membuat mereka bicara!
Profile Image for Hidayatullah Ibrahim.
128 reviews2 followers
November 7, 2019
Pandangan yang mencerahkan dalam memahami basis komunisme di Indonesia di masa pra kemerdekaan, dimana salah satu alasan anggotanya ada yang mengaku bahwa "hidupnya sudah semakin sulit" sehingga dirinya terpangaruh
Profile Image for Sudi.
76 reviews7 followers
October 6, 2007
Kelihatan banget, bagaimana sikap kaum kiri terhadap Islam. Uniknya, pemberontakan PKI 1926/1927, yang notabene adalah pemberontakan nasional anti-kolonial pertama, justru meletup di basis-basis santri: Sumatera Barat dan Banten. Penggeraknya: kaum santri juga. Jadi kenapa kemudian sekarang Islam dan kaum kiri saling berhadap-hadapan?
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.