Momoye adalah salah satu potret buram seorang perempuan dari Yogyakarta yang dipaksa menjadi "rangsum jepang" pada masa pendudukan Jepang di Indonesia th 1942. Mardiyem, demikian namanya kecilnya, harus menanggung derita panjang selama menjadi Jugun Ianfu di Asrama tentara Jepang, Telawang Kalimantan Selatan. Ia disiksa, dianiaya, dipaksa melayani nafsu seks tentara Jepang pada umur yang masih sangat muda 13 th, bersama 24 orang perempuan lainnya, yang berasal dari berbagai daerah di pulau Jawa.
Buku ini diterbitkan di tahun 2007. Jelas perlu menggali informasi terbaru untuk lebih mengetahui update berita tentang jugun ianfu. Dari buku ini aku baru tahu kalau bahkan perempuan Belanda dan keturunan Belanda yang ada di Indonesia di masa pendudukan Jepang pun tak lolos dari takdir untuk menjadi jugun ianfu. Diperkirakan ada sedikitnya 200.000 perempuan dari Korea Selatan, Korea Utara, Cina, Taiwan, Filipina, Belanda, Malaysia, Timor Leste, dan Indonesi yang menjadi korban. Mereka tak hanya diharuskan melayani pasukan militer, tapi juga kalangan sipil. Para tamu harus membeli "karcis" untuk mendapatkan pelayanan mereka, tetapi jugun ianfu sendiri tidak dibayar. Mereka harus menjalani pemeriksaan dokter secara rutin dan jika hamil akan dipaksa menggugurkan kandungan. Ketika melayani tamu, mereka mendapat perlakuan yang kasar dan tidak manusiawi.
Sebelum membaca buku ini, kukira semua pihak Jepang benar-benar menutup-nutupi tentang jugun ianfu. Dan memang ditutupi pemerintah sampai empat puluh tahun. Kasus ini pertama kali terkuak pada tahun 1991. Kim Hak Soon dari Korsellah yang dengan lantang bersaksi soal kekejaman militer Jepang yang menjadikannya budak seks. Sejak itu para korban yang selama ini bersembunyi akhirnya berani bicara. Misalnya Rosa Hanson di tahun 1992 dari Filipina. Tuminah (1992) dari Solo. Dan Mardiyem (1993) dari Yogya.
Sebelum militer Jepang kalah di tahun 1945, Seiryo Okuno yang saat itu menjabat sebagai perwira Urusan Dalam Negeri memerintahkan untuk membakar dokumen-dokumen yang penting dengan seijin Rikugun dan Kaigun. Dokumen-dokumen itu termasuk yang memuat bukti mengenai ianjo dan kejahatan kemanusiaan lainnya.
Pemerintah Jepang selama ini bersikeras bahwa ianjo (kamp jugun ianfu) didirikan dan dikelola oleh pihak swasta tanpa campur tangan militer. Baru pada tahun 1991, surat kabar Asahi Shimbun memberitakan penemuan mengejutkan dari Profesor Yoshimi Yoshiaki, sejarawan dari Univ Chuo Jepang, yang berhasil menggali dokumen-dokumen resmi pemerintah Jepang di perpus Agen Pertahanan. Dalam temuannya, Yoshimi mengatakan bahwa pada dokumen komando militer 1938 yang ditandatangani Kepala Komando Militer Jepang di Cina Utara secara jelas menyebutkan bahwa ianjo perlu didirikan di setiap wilayah komando militer.
Temuan ini diperkuat oleh kesaksian dua veteran militer Jepang yang pernah ditugaskan ke Cina Utara pada tahun 1940, Kaneko Yasuji dan Suzuki Yoshio. Keduanya mengaku melakukan perkosaan brutal terhadap perempuan-perempuan Cina di jalan-jalan. Pemerintah Jepang selama ini mengatakan bahwa ianjo diperlukan agar para tentara Jepang tidak memerkosa penduduk. Namun, Kaneko mengatakan bahwa keberadaan ianjo tidak mengurangi pemerkosaan terhadap perempuan Cina. Itu karena masuk ianjo harus bayar, sedangkan memerkosa itu gratis.
Sebenarnya dalam tradisi militer Jepang, mereka yang ketahuan memerkosa akan dihukum minimal 7 tahun penjara. Tapi mereka tetap memerkosa karena menganggap orang Cina lebih rendah. Saat akan melakukan pemerkosaan, inilah yang ada dalam pikiran mereka, "Toh pada akhirnya orang Cina akan kami bunuh. Apa salahnya kalau diperkosa dulu?"
Sebuah tim khusus pun dibentuk. Setelah penyelidikan 6 bulan, ditemukan 127 dokumen dari empat instansi Pemerintah Jepang. Di situ terungkap bahwa korban mereka tidak hanya perempuan Cina, tapi juga dari Korea, Taiwan, Filipina, dan Indonesia. Meskipun dokumen resminya sudah terbongkar, Pemerintah Jepang mengingkari tanggung jawab hukum dalam masalah ganti rugi secara individual. Mereka selalu menyatakan bahwa masalah ini sudah selesai saat perjanjian damai di San Fransisco pada 1951.
Namun, begitu fakta ini terkuak, ternyata masih ada beberapa kalangan orang Jepang yang peduli dan mengusahakan bantuan untuk para mantan jugun ianfu di Indonesia. Pada April 1993, sejumlah anggota Federasi Asosiasi Pengacara Jepang datang ke Indonesia menemui Mensos Inten Suweno. Mereka mengatakan akan membantu jugun ianfu Indonesia menuntut kompensasi kepada Pemerintah Jepang. Dalam bulan yang sama, LBH Yogyakarta melakukan pendataan terhadap jugun ianfu.
Lalu ada alm. Yayori Matsui, feminis Jepang yang memperjuangkan nasib jugun ianfu Asian dan Belanda bersama organisasinya, VAWW-NET Japan (Violence Against Women in War-Network Japan). Eka Hindra, penulis buku ini sendiri bisa menemui Mardiyem, jugun ianfu yang kisahnya diceritakan dalam buku ini, dengan bantuan salah satunya dari Koichi Kimura dari Forum Resistence of Military Violence Against Women.
Ada dua tuntutan utama jugun ianfu. Pertama, Pemerintah Jepang bertanggung jawab secara hukum yang bersifat resmi kenegaraan yang terhadap kebijakannya di masa lalu karena telah mengadakan sistem perbudakan seksual. Kedua, Pemerintah Jepang harus memasukkan masalah jugun ianfu ke dalam sejarah Jepang agar diketahui oleh generasi muda. Pemerintah Jepang telah meminta maaf, tapi baru dalam konteks moral, bukan dalam pertanggungjawaban hukum. Permintaan maaf itu telah disampaikan oleh Perdana Menteri Tomiichi Murayama di tahun 1995, kemudian diulang lagi oleh PM Hashimoto, dan PM Junichiro Koizumi juga meminta maaf pada tahun 2001, yang kemudian diulangi lagi pada tahun 2005.
Padahal, para jugun ianfu mengalami masalah:
1) Kesehatan yang buruk, akibat kekerasan fisik, psikologis, dan seksual. Sebagian besar sudah meninggal karena kurangnya perawatan kesehatan yang memadai.
2) Trauma akibat perbudakan seks di usia yang sangat muda.
3) Tertekan secara sosial karena masyarakat menganggap mereka sebagai bekas pelacur dan manusia kotor.
4) Tertekan secara psikis karena perasaan bersalah telah menjadi jugun ianfu, dan
5) Sebagian besar dari mereka miskin karena ditolak bekerja di tengah masyarakat gara-gara dianggap sebagai bekas pelacur.
Sudah begitu pemerintah dan masyarakat Indonesia sendiri tidak terlalu perhatian pada jugun ianfu. Hingga buku ini ditulis, pemerintah belum pernah membicarakan tuntutan para jugun ianfu Indonesia kepada Pemerintah Jepang. Pemerintah juga tidak memberikan tunjangan kesehatan dan kehidupan yang dibutuhkan.
*
Jugun ianfu yang kisahnya diabadikan secara personal dalam buku ini adalah Ibu Mardiyem, satu dari ribuan perempuan Asia yang selamat setelah menjalani nasib yang mengerikan di kamp pemerkosaan di Telawang, Kalimantan Selatan. Mardiyem menjadi pecandu rokok karena sejak di Telawang, dia mendapatkan pasokan 1,5 pak rokok setiap bulan. Rokok jugalah yang menolongnya menenangkan diri dalam menjalani kisah hidupnya yang pahit. Saat menjadi jugun ianfu, Mardiyem pernah hamil dan dipaksa menggugurkan kandungan hingga rahimnya jadi rusak. Mardiyem pernah beberapa kali ke Jepang untuk urusan yang berkaitan dengan jugun ianfu.
Yang pertama pada tahun 1995 menghadiri International Forum on War Compensation for The Asia Pasific Region, Tokyo. Pertemuan ini adalah jalan pembuka bagi masalah jugun ianfu Indonesia di dunia internasional. Pertemuan ini disambut hangat oleh berbagai media massa Jepang. Di sana untuk pertama kalinya Mardiyem bersaksi di forum internasional. Dalam pertemuan itulah PM Tomiichi Murayama menyampaikan permintaan maafnya secara pribadi.
Kemudian pada tahun 1996 Mardiyem kembali mengunjungi Jepang atas undangan seorang dosen di Jepang. Mardiyem diajak melakukan kunjungan ke kampus-kampus untuk sosialisasi sejarah jugun ianfu. Rupanya sebagian besar mahasiswa adalah cucu para serdadu Jepang yang pernah berperang di Indonesia dari tahun 1942-1945. Setelah mendengarkan kisah Mardiyem, para mahasiswa itu minta maaf atas kesalahan nenek moyang mereka. Bahkan ada yang sampai bersujud dan mencium tangan Mardiyem.
Kemudian Mardiyem kembali mendapat undangan ke Jepang untuk melakukan kampanye demi menuntut hak-hak jugun ianfu kepada pemerintah Jepang. Selama seminggu di Tokyo, Mardiyem sempat bertemu dengan pijak Asia Woman Fund, lembaga yang didirikan Pemerintah Jepang untuk mengumpulkan uang masyarakat guna membayar uang kompensasi jugun ianfu Asia. Kemudian di Sapporo, Hokkaido, Mardiyem berkeliling ke sekolah-sekolah SMA untuk kampanye masalah jugun ianfu dan dirinya mendapat dukungan dari para guru sekolah itu. Para guru bahkan meminta murid-muridnya menulis surat dukungan untuk jugun ianfu dan diserahkan ke Pemerintah Jepang.
Setelah itu Mardiyem ke Filipina untuk menghadiri pertemuan Asian Women's Solidarity Conference bersama Dewi Novirianti dari LBH Yogyakarta. Di sana Mardiyem bertemu dengan para jugun ianfu dari negara-negara lain. Di Filipina, para jugun ianfu-nya mendapat perhatian dari para pemerintahnya sehingga kondisinya lebih baik daripada korban di Indonesia
Setelah itu masih di tahun yang sama, Mardiyem menghadiri seminar tentang jugun ianfu selama 8 hari di Kapal Awani Dream. Ia didampingi oleh Budi Hartono dari LBH Yogyakarta.
Lalu di tahun 2000, Mardiyem dan beberapa kawan jugun ianfu lainnya ke Jepang lagi untuk bersaksi di Pengadilan Rakyat Perempuan Internasional untuk kasus perbudakan seksual militer Jepang yang digagas oleh VAWW-NET Japan dengan dukungan dari negara-negara korban seperti Indonesia, Korut, Korsel, Taiwan, Malaysia, Timor Leste, Filipina, Cina, dan Belanda. Acara ini diadakan saat musim dingin dan itu tidak menyurutkan ribuan orang untuk mendatangi Gedung Kudan Kaikan. Pengadilan ini berlangsung selama enam hari. Tim penuntut Indonesia mengajukan nama para tokoh penting yang dianggap bersalah atas pendirian kamp-kamp perkosaan dan pembiaran terjadinya sistem perbudakan seksual selama Jepang menjajah Indonesia pada tahun 1942-1945. Mereka adalah Kaisar Hirohito, Hideki Tojo, Rikichi Ando, Hata Shunroku, Seishiro Itagaki, Seizo Kobayashi, Iwane Matsui, Yoshijiro Umezu, Hisaichi Terauchi, Tomoyuki Yamashita, dan Pemerintah Jepang.
Namun, pengadilan ini menimbulkan reaksi keras dari kelompok sayap kanan yang menolak keras masalah jugun ianfu. Berkali-kali kelompok ini melakukan aksi protes di depan gedung saat pengadilan berlangsung. Meski kelompok mereka kecil, tapi mereka begitu gigih berdemonstrasi. Mereka menyebarkan selebaran berisi gambar porno dan spanduk yang menyatakan bahwa jugun ianfu adalah pelacur komersial yang dilakukan kelompok bisnis. Dengan kurang ajarnya mereka bahkan berorasi bahwa Indonesia tidak tahu terima kasih pada Jepang yang sudah mengakhiri kolonialisasi Belanda yang sudah berabad-abad dan sudah memberikan kemerdekaan bagi Indonesia. NGUAWUR! WUASEM! Semoga para demonstran itu diazab! Mangkel aku.
Di akhir persidangan, Hakim Ketua Gabrielle Kirk McDonald menyatakan bahwa Kaisar Hirohito terbukti bersalah atas terjadinya sistem perbudakan seksual yang terjadi selama Perang Asia Pasifik. Mereka membacakan rekomendasi yang berisi bahwa Pemerintah Jepang harus meminta maaf kepada setiap korban, memberikan kompensasi perang kepada setiap korban, dan membuka kembali dokumen militer yang berkaitan dengan masalah jugun ianfu. Hasil keputusan pengadilan akan diajukan kepada PBB untuk segera digelar pengadilan kejahatan perang yang sesungguhnya.
Pada tahun 2002 di Pyongyang, Korut, COCOPA (Committee on Measure for Compensation to the Comfort Women for Japanese Army and Pacific War Victim) menggelar pertemuan bertajuk "Asian Regional Symposium Demanding Liquidation of The Past of Japanese". Pertemuan ini membahas penyelesaian masalah jugun ianfu di Asia yang belum juga direspons dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Jepang, juga membahas tindakan diskriminasi warga Korea yang tinggal di Jepang berkaitan dengan masa lalu Jepang-Korea. Dalam pertemuan ini, hanya Pemerintah Indonesia, Jepang, dan Filipina yang belum mendukung masalah jugun ianfu secara resmi. Sedangkan negara lainnya telah mendapatkan dukungan penuh dari pemerintahnya, sehingga mereka didampingi parlemen negara masing-masing.
Pada tahun 1996, penulis Fumiko Kawada menulis buku tentang korban perkosaan tentara dan sipil Jepang di Indonesia. Di tahun yang sama, Kenichi Arimitsu, ketua LSM Jepang, Citizen's Fund for Redress of II Victims in Asia and the Pasific (CFR) membantu dana kesehatan untuk membeli obat-obat bagi Mardiyem dan teman-temannya yang mulai sakit-sakitan di usia tua. Sesuatu yang seharusnya diberikan oleh Pemerintah Jepang. Bantuan dana itu diterima selama dua tahun.
*
Awal mula didirikannya ianjo adalah dari insiden Nanjing Rape, yaitu ketika para prajurit Jepang membunuhi dan memerkosa secara brutal orang-orang Cina. Mereka yang paling banyak membunuh orang Cina akan mendapat medali. Tapi gara-gara itu, banyak prajurit Jepang yang kena penyakit kelamin dan itu melemahkan pasukan mereka. Pemerintah Jepang mengutus dokter spesialis bernama Aso Tetsuo untuk menyelidiki mengapa banyak prajurit yang kena penyakit kelamin. Dialah yang mengusulkan agar ianjo didirikan supaya para tentara bisa mendapatkan perempuan bersih untuk menyalurkan kebutuhan seksual mereka.
Konsep ianjo ini terinspirasi dari kosho sedo, pelacuran yang disahkan kekaisaran Jepang dalam undang-undang pada tahun 1900-an untuk mengontrol aktivitas pelacuran di Jepang. Kebanyakan perempuan muda yang bekerja di sini berasal dari keluarga miskin di desa, yang digadaikan sebagai barang tebusan atau untuk membayar utang. Masyarakat saat itu menganggap perempuan sebagai barang.
Akibat terbongkarnya bukti-bukti tersebut, pemerintah Jepang melalui Departemen Pendidikan setuju untuk mencantumkan masalah jugun ianfu ke dalam kurikulum pendidikan sejarah di Jepang. Aku jadi penasaran bagaimana isinya. Dan bagaimana tanggapan para murid Jepang setelah tahu negaranya pernah melakukan kejahatan kemanusiaan separah itu.
*
Lalu ternyata lebih dari 2000 tentara Jepang yang tidak meninggalkan Indonesia dan ambil bagian dalam perang kemerdekaan Indonesia untuk melawan sekutu itu melakukannya sebagai perwujudan pemberontakan mereka kepada pemerintah kekaisaran Jepang yang menyuruh mereka menyerahkan diri kepada negara-negara sekutu. Tapi ada buku sejarah Jepang yang tidak mengajarkan mengenai pemberontakan rakyat Jepang terhadap Tenno Heika.
kita berhutang kepada rahim-rahim mereka yang telah berani dan tabah menjalani kehidupan yang teramat perih. Eka Hindra
Buku ini mengisahkan perjuangan Ibu Mardiyem yang merupakan salah satu korban budak seks militer Jepang atau yang disebut Jugun Ianfu di Indonesia tahun 1942-1945. Buku ini menceritakan awal mula dan pembeberan perbuatan-perbuatan tidak layak dari tentara jepang di jaman kaisar Hirohito.. Saya sangat salut dengan perjuangan ibu Mardiyem yang berani mengangkat topik yang merupakan luka lamanya ke hadapan publik
Mardiyem lahir sebagai anak seorang abdi dalem Pekatik bangsawan Yogyakarta yang bernama Kanjeng Raden Tumenggung Suryotaruno pada 7 Februari 1929. Ayahnya bernama Irodjoyo dan mereka terlahir sebagai empat bersaudara. kakak-kakaknya bernama Jainem, Kardiyem, Ngatini dan barulah Mardiyem sebagai anak bungsu. Ibu mereka meninggal ketika Mardiyem berusia 3 bulan. Perbedaan usia yang sangat jauh dengan ketiga mbakyunya membuat Mardiyem lebih dekat kepada ayahnya ketimbang kakak2 perempuannya
Pada tahun 1939, Ayah Mardiyem meninggal di usia 60 tahun dan ia tidak mungkin tinggal dengan kakak2nya yang untuk hidup saja sudah sulit sehingga menumpang-numpang tinggal dengan orang lain dan akhirnya pada suatu hari ada rombongan orkes yang menarik hatinya. Mardiyem mencoba mengatakan keinginannya kepada Zus Lentji dan memutuskan akan menjadi penyanyi di Borneo. DI borneo tepatnya di Kota Telawanglah perjalanan hidup Mardiyem yang menyakitkan dimulai..
"Aku diberi nama Momoye dan menempati kamar nomor 11. Sejak saat itu semua orang memanggilku dengan nama itu. Nama Mardiyem telah hilang di Telawang - Mardiyem
Saya tidak tega meneruskan cerita review saya.. Betapa tragis dan kejamnya nasib Momoye di Asrama Kota Telawang.. Sesampai disana ternyata sudah ada rumah bordil yang akan berisi 21 orang wanita yang akan dijadikan budak seks tentara militer jepang.. Momoye yang masih berusia 13 tahun dan belum mendapat datang bulan dipaksa melayani nafsu bejat tentara2 jepang sebanyak 10-15 orang setiap harinya! Sempat hamil namun di usia kandungan 5 bulan disuruh digugurkan paksa hingga akhirnya ibu Mardiyem yang setelah Jepang pergi dari Indonesia menikah dengan pria Indonesia bernama Amat Mingun hanya sanggup melahirkan satu anak laki-laki bernama Mardiyono namun setelah itu kandungannya telah rusak berat akibat perbuatannya di masa lalu..
Masa lalu sebagai penghuni asrama Telawang membuat aku trauma dengan laki-laki. Aku sama sekali tidak menginginkan seks lagi. Rasa itu telah mati - Mardiyem
Masyarakat masih mencap kami sebagai pelacur dan perempuan nakal, meskipun peristiwa itu telah terjadi puluhan tahun yang lalu. Penderitaan fisik masih aku rasakan sampai sekarang. Tulang punggungku remuk, kaki kiriku mengecil dan di kepalaku ada gumpalan darah.. Mardiyem
Saya membaca Ibu Mardiyem menuntut tiga hal ini kepada pemerintah jepang ketika melakukan kesaksian di Jepang : 1. Pemerintah Jepang harus mengakui bersalah dan meminta maaf kepada setiap Jugun Ianfu 2. Pemerintah jepang memulihkan denganjalan melakukan rehabilitasi nama baik setiap Jugun Ianfu dan menyebarluaskan masalah Jugun Ianfu kepada generasi muda melalui kurikulum pendidikan sejarah di Jepang 3. Memberikan uang kompensasi sebagai korban perang kepada setiap Jugun Ianfu
dan yang berhasil ditanggapi nomor 1 dan nomor 3 (meski tidak seberapa).. saya angkat topi atas perjuangan Ibu Mardiyem membela haknya yang pernah ditindas dengan tidak layak! Buku ini saya berikan 3,9 dari 5 bintang!
Finally I finished this book!! Wow.. amazing story!! I really caught myself into it, like taking me back in 1942-1945 when Japanese possessed Indonesia.
Buku ini ceritain detail banget gimana serdadu2 Jepang itu memperlakukan perempuan2 muda Indonesia ini sebagai barang bukan manusia!!! Ibu Mardiyem, as the focal point and the main source of this book, described with her own language (without being edited) how she got through this terrible experience, and it remained. Gak heran, beliau sampai memperjuangkan nasibnya dan rekan2nya utk mendapat pengakuan negara sebagai pahlawan!!
buku sejarah..... buku ini adalah buku sejarah yang diset seperti novel, karena memang ini adalah kisah nyata, Momoye (Mardiyem) adalah sejarah hitam penjajahan jepang di Indonesia.
Cerita tragis untuk seorang gadis berumur 13 tahun, tapi untungnya sosok yang diangkat novel ini adalah seorang gadis yang pemberani, ga cengeng, jadi waktu bacanya ada banyak rasa yang kita rasakan, bangga campur sedih....
tapi berhubung dari dulu gw mang agak susah dipelajaran sejarah, jadi bab pembuka dan penutup novel ini (kisah bu mardiyem sekarang ini) yang disampaikan mirip buku sejarah agak mengganggu gw... hehehehe....Tapi gw tetep mengikuti kata-katanya Pak Sukarno loh, bahwa Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya, nah gw menghormati pahlawan Indonesia seperti bu mardiyem, tapi ga demen ma buku sejarah hehehehe
Kisah kelam ttg seorang wanita Jawa bernama Mardiyem.. Mardiyem menjadi salah satu korban budak seks tentara Jepang pada tahun 1942-1945. Ia diambil paksa oleh tentara Jepang dan dimasukan ke kamp paksa..
apa hubungannya dengan Momoye ?? (Baca sajaaa...) Bagaimana hidupnya selama di kamp? (Baca jugaaa...)
tapi salut dengan Mardiyem.. meskipun ia punya masa lalu yg kelam.. dia tetap berani menjalani hidupnya.. bahkan berani mencari keadilan bukan hanya untuk dirinya sendiri... tapi buat kaum wanita yg bernasib sama spt dia..
Perang.. memang menakutkan.. Orang2 jadi tidak beradab...
Mardiyem berusia 13 tahun ketika ditipu seorang perempuan sebangsa sendiri. Dia dijanjikan bekerja digrup sandirwara di Borneo (Kalimantan). Ternyata disana dia disimpan diasrama yang di pintu kamarnya tertulis nama barunya "Momoye". Sejak itu Mardiyem berubah nama menjadi Momoye. Hari pertama Mardiyem yang belum pernah haid langsung dipaksa melayani nafsu seksual dengan tidak berprikemanusian oleh tentara jepang brewokan. Setelahnya langsung disusul oleh beberapa tentara jepang, sampai Mardiyem berdarah berhari-hari. satu lagi bukti kekejaman jepang terungkap
Jugun Ianfu, istilah yg digunakan untuk para budak seks militer jepang pada masa penjajahannya dulu. Banyak wanita indonesia yg jd korban, bahkan sampai saat ini ada beberapa dr mereka yg msh hidup & msh hrs menghadapi masalah sprti, kesehatan yg buruk akibat kekerasan yg dialami selama mereka menjadi jugun ianfu, trauma akibat nasib yg hrs mereka jalani smasa masih sgt muda & perlakuan masyarakat yg tdk menerima keberadaan mrk krn dianggap kotor
Inilah satu kepingan dari mata rantai sejarah Indonesia yang hilang. Fakta sejarah yang hingga kini masih ditutup-tutupi oleh pemerintah Indonesia, bahkan terkesan dibantahkan. Melalui perjalanan penelitian yang panjang, Eka Hindra berhasil merampungkannya dalam biografi Mardiyem, salah seorang mantan jugun ianfu yang hingga akhir hayatnya terus berjuang merebut hak-haknya yang hilang, terutama hak moralnya yang terus ternafikan.
Novel kisah nyata tentang perempuan-perempuan Jugun Ianfu pada jaman penjajahan Jepang hingga saat ini, diceritain langsung sama penulisnya (Eyang Mardiyem)yang udah jadi eyang putri. Di novel ini kita bisa bener2 ngerasain tekanan batin sang penulis. Trus juga disertai gambar2 arsip sejarah, sampai foto2 dokumentasi penulis.
Judul : Momoye – Mereka Memanggilku 2009 sewaktu kelas 2 SMP, aku menemukan buku ini di rak kakakku yang dulu masih kuliah. Buku yang dipinjam dari teman katanya. Cukup dark untuk bacaan anak kelas 2 (yang benar saja)
Aku tidak akan membahas detil isi buku ini. Karena sebagian besar sudah direview oleh para reviewer di goodreads.
Aku sangat respect dengan penulis @eka.indra @ekahindra (semoga ga salah mention) bagaimana cara ia menuturkan ulang dari wawancara dengan Alm Bu Mardiyem waktu itu. Aku membayangkan Alm Bu Mardiyem menggunakan full bahasa jawa, lalu penulis mengemasnya menjadi bahasa indonesia yang mudah dipahami oleh umum.
Dan yang lebih aku respect lagi buku ini adalah buku sejarah, namun dikemas seperti novel. Aku juga jadi mengetahui fakta sejarah yang tidak tertulis dalam buku pelajaran sekolah . Tidak membosankan dari awal sampai akhir membaca. Kemudian layaknya buku sejarah yang tertera tahun kejadian, buku ini sangat detil menggambarkan adegan demi adegan. Bahkan denah ruangnya di gambar detil ilustrasinya.
Aku harap generasi muda Indonesia, khususnya perempuan membaca buku ini. Wajib mengetahui sejarah kelam perjuangan wanita dimasa penjajahan Jepang kala itu. Seperti yang dikatakan penulis di dalam buku ini, “Kita berhutang kepada rahim-rahim mereka yang telah berani dan tabah menjalani kehidupan yang teramat pedih.”
Beli dimana? Sayangnya buku ini cukup langka. Ini saja aku dibantu meminjamkan lagi dari teman kuliah kakak. Sempat ku tengok toko oren dan hijau harganya sudah sampai Rp 250rb. Barusan aku cek akun @solilokuibuku @kumajas.jb mereka menjual harga lebih miring
Buku ini menuliskan dengan sangat baik bagaimana kehidupan Msrdiyem saat dipaksa menjadi jugun ianfu di Borneo. Jujur saya harus berkali-kali berhenti membaca,mengambil jeda, lalu membaca lagi karena horor pemerkosaan dan kekerasan yang dialami Mardiyem sangat kejam, sampai rasanya saya sendiri yang ada di sana dan menyaksikan semua itu. Salut sekali dengan EkaHindra yang mampu menuliskan pengalaman Mardiyem dengan sangat detil juga memberikan insight yang dalam tentang sejarah praktik jugun ianfu dan pengalamannya dalam advokasi isu ini.
Saat selesai membaca, yang paling tidak habis saya pikirkan adalah pemerintah Indonesia sendiri yang ingin mengubur dalam-dalam fakta praktik perbudakan seksual ini. Mereka tidak ada usaha sedikit pun untuk membantu para korban mendapat keadilan, berbeda sekali dengan pemerintahan Korea Selatan atau Filipina. Berapa menyedihkan. Betapa disayangkan.
sedih banget dan kaya di koyak-koyak selama baca buku ini apalagi melihat paragraf terakhir rasanya mau nangis sampe banjir.... aku sangat sangat dan lebih rekomendasi buku ini jika memang teman-teman disini pengen lebih tau lebih dalam tentang topik ini! dari pada buku nya pram karena menurut aku pribadi yang ditulis dalam buku ini sangat detail dan banyak hal yang memang tidak dibahas atau mungkin belum kebahas di dalam buku beliau.
Berani! Berani membuka masa lalu untuk menceritakan kepada kami lagi generasi penerus bangsa yg terkadang lupa sejarah bangsanya sendiri. Its worth to read. I wrote this on my homepage as well as my point of view after reading this book
kelar baca nih buku langsung hampa bgt, apalagi karena bukan novel hisfic tp bener-bener diambil dari kisah nyata yang diceritakan langsung oleh ybs. gabisa ngebayangin gimana sakitnya berjuang ngelawan semua hal yang dipaksa jadi takdir kita:”
Adalah Mardiyem, seorang mantan Jugun Ianfu yang menjadi tokoh sentral buku biografi ini. Cerita tentang perjuangan Mardiyem dalam usahanya memperoleh keadilan atas tindakan rezim militer Jepang saat menjajah Indonesia di tahun 1942 sampai 1945 itu diceritakan secara langsung oleh wanita sepuh beranak satu ini.
Ju = ikut, Gun = militer/bala tentara, Ian = penghibur, Fu = perempuan, sehingga bisa diartikan bahwa Jugun Ianfu adalah “Perempuan penghibur yang ikut militer”. Penyebutan ini sengaja digunakan pihak Jepang untuk menutupi kenyataan sebenarnya tentang profesi para perempuan tersebut yang sebenarnya digunakan sebagai budak seks oleh para tentara Jepang, bukan perempuan penghibur yang sukarela menjajakan tubuhnya kepada para tentara tersebut.
Mardiyem adalah bungsu dari empat bersaudara yang lahir dari seorang abdi dalem pekatik bangsawan Yogyakarta, Irodjoyo, dan istrinya, Waginem pada tanggal 7 Februari 1929. Waginem meninggal saat Mardiyem baru berusia tujuh bulan sehingga sejak kecil gadis itu menjadi sangat dekat dengan sang ayah. Mardiyem sendiri tidak terlalu akrab dengan ketiga kakaknya, Jainem, Ngadiyem, dan Kartini, karena jarak usia mereka yang terlampau jauh.
Mardiyem diberi kesempatan oleh ayahnya untuk bersekolah di sekolah rakyat, sebuah hal langka pada masa itu. Didikan ayahnya membuat Mardiyem menjadi gadis yang pemberani, bebas berpendapat, berkeinginan teguh, dan tak segan-segan melawan apabila menerima perlakuan tidak adil atau ditindas teman. Sifat ini terbawa hingga dia berusia 13 tahun dimana di usia tersebut dia sudah memutuskan untuk menjadi seorang penyanyi dan pemain sandiwara.
Sejak kecil Mardiyem memang sudah sangat menyukai kesenian, dia bisa membatik, gemar menonton film di gedung bioskop, pertunjukan ketoprak, dan juga wayang. Ketertarikannya terhadap seni pertunjukan inilah yang nantinya memberi peluang Mardiyem untuk menghasilkan uang sepeninggal ayahnya dan sekaligus membawa bencana untuknya di kemudian hari.
Keinginan Mardiyem untuk bergabung di grup sandiwara Pantja Soerya di Borneo tidak berjalan seperti yang dia bayangkan. Bukannya menjadi seorang pemain sandiwara seperti yang diinginkannya, Mardiyem bersama teman-teman seangkatan yang didatangkan dari Jawa dipaksa menjadi budak seks Jepang, yang kemudian dikenal dengan nama Jugun Ianfu. Mardiyem yang kemudian diberi nama Jepang Momoye mengalami penyiksaan secara fisik dan mental di Asrama Telawang, Kalimantan Selatan tempatnya tinggal bersama teman-temannya yang mengalami nasib sama seperti dirinya.
I cried a lot after read this masterpiece. Sakit dan perihnya diperkosa dan dipukuli ketika hamil masih saya rasakan meski hanya sekadar membaca adegannya. Bahkan sampai beberapa hari setelahnya, saya masih murung dan merasa hampa. Buku ini mengulas perjuangan Ibu Mardiyem yang pada awalnya sama seperti teman-temannya yang lain, diiming-imingi mendapatkan pekerjaan, namun berakhir menjadi Jugun Ianfu di asrama Telawang, Kalimantan Selatan. Ia dipaksa melayani nafsu tentara Jepang dan nama aslinya perlahan hilang seiring panggilan 'Momoye' yang melekat padanya. Yang membuat saya bertambah sedih adalah saat itu usia Ibu Mardiyem baru menginjak 13 tahun (benar-benar masih remaja).
Buku ini menuntaskan rasa penasaran saya soal Jugun Ianfu yang di buku cetak sejarah hanya dituliskan secuil saja. Jugun Ianfu adalah salah satu dari sekian daftar panjang kejahatan kemanusiaan yang terjadi di masa lampau. Saya juga sempat ikut diskusi buku ini di salah satu platform, dan saya nggak berhenti menangis setelahnya. Kesaksian-kesaksian dari mereka yang masih hidup membuat saya sadar betapa kemerdekaan dibayar dengan pengorbanan yang sangat mahal (bahkan bisa dibilang nggak dapat terhitung lagi). Saya berharap buku ini bisa dibaca semua generasi muda Indonesia agar sejarah kelam ini tidak terlupakan; kebetulan saya juga baca buku ini karena nggak sengaja nemu di perpus sekolah.
Ianfu ada nyatanya, mereka tidak hanya Ibu Mardiyem, tapi banyak jumlahnya. Wanita-wanita yang berhak mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam hidup justru dipaksa dan disiksa. Bekerja tak kenal waktu seperti mesin. Ditambah perlakuan masyarakat yang menganggap mereka adalah orang-orang 'kotor' dan 'hina'. Sebutan 'rangsum Jepang' sudah melekat pada mereka bahkan ketika Jepang sudah kalah dan asrama Telawang sudah nggak ditempati lagi. Intinya, saya menangis dan terus menangis, terlebih karena saya juga seorang perempuan. Ini terlalu menyakitkan untuk diungkapkan. Dan saya salut pada Eka Hindra sebagai penulis. Akan ada banyak sejarah lain yang terungkap seiring dengan kemajuan zaman, saya yakin.
Fakta sejarah yang selama ini "tersembunyi" akhirnya mulai muncul ke permukaan. Buku ini cukup memberi gambaran perempuan-perempuan yang menjadi korban pada masa penjajahan Jepang di Asia pada umumnya, dan Indonesia pada khususnya. Jugun Ianfu bukanlah aib bangsa ini, tetapi mereka adalah korban perang yang seharusnya diperhatikan, bukan di pinggirkan.
buku biografi atau bisa di katakan sbg buku sejarah. Dimana kita bs mengetahui kejahatan tentara Jepang yang sgt tidak manusiawi kpd perempuan Indonesia. Baca ini banyak sekali moral khusus yang kita dapat dimana fokus dari buku ini yang adalah seorang wanita yang tegar dan tidak cengeng, saya salut dengan sifat dia. Buku ini juga memberi motivasi kpd wanita indonesia untuk semakin berkarya.
Salah satu bentuk kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Kerajaan Jepang terhadap wilayah jajahan. Kasus ini tak hanya terjadi di Indonesia, China dan Korea Selatan juga mengalami masa-masa perempuan muda dipaksa, ditipu dengan segala bujuk rayu untuk dijadikan Jugun Ianfu yang ditempatkan di garis pertahanan terdepan. Momoye: Mereka Memanggilku diangkat dari kisah nyata mantan Jugun Iafu.
this book reminds me that: - there is no nation or class should be claimed the best or the worst. God ist just. God created everything in pairs. By every ethnic there are always good people as well as bad people. - women are still deemed to be an subordinate object