Jump to ratings and reviews
Rate this book

Aku Ingin Jadi Peluru

Rate this book
Hanya satu kata, Lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenal ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan. (Munir, Alm)

223 pages, Paperback

First published June 1, 2000

86 people are currently reading
1864 people want to read

About the author

Wiji Thukul

7 books130 followers
Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak dari keluarga Katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada 1980.

Di Solo, Thukul dibesarkan di kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Rentenirpun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu menggelisahkan para penghuni kampung.

Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkah sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah menjadi tukang koran, tukang semir mebel, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan.

Keterlibatan Thukul dalam teater dan kesenian di Sala dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul di berbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak-sajaknya pun muncul dalam Antologi 4 Penyair Solo. Kumpulan puisi Suara diproduksinya sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya: ”Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi.”

Awal 1990-an terlibat dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) yang menjadi anak organisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai independen yang didirikan oleh kaum muda dan mahasiswa sebagai partai oposisi rezim Orde Baru.

Tahun 1995 Thukul nyaris kehilangan penglihatannya akibat kebrutalan polisi saat ia memimpin pemogokan buruh-buruh tekstil Sritex. Pasca kerusuhan 27 Juli 1996, di mana PRD dikambinghitamkan sebagai biang kerusuhan oleh pemerintahan Orde Baru, Thukul bersama anggota-anggota sentral PRD harus bersembunyi. Kontak terakhir dengan rekan-rekannya masih terjalin pada 1998. Sejak itu keberadaannya tidak diketahui, dan Thukul dikategorikan sebagai "orang hilang", korban-korban penculikan pemerintahan militer Orde Baru.

Tahun 2002 Thukul secara in absentia menerima Yap Tiam Hien Award atas perjuangannya di bidang penegakan HAM.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
369 (50%)
4 stars
208 (28%)
3 stars
118 (16%)
2 stars
20 (2%)
1 star
13 (1%)
Displaying 1 - 30 of 81 reviews
Profile Image for gieb.
222 reviews77 followers
May 22, 2009
bila disuruh memilih; perempuan telanjang dan buku ini. niscaya aku pilih buku ini. tapi tetap perempuan telanjang jadi pilihan nomor dua. tabik.

semalam saya menerima sms dari kawan saya. kira-kira isinya begini: gieb, ingat sophia latjuba? kalau ingat masa-masa itu aku jadi tertawa sendiri. juga kalau dengerin reza dan syaharani harus sembunyi-sembunyi. gara-garanya sederhana: biar cap marxisnya tidak hilang.

demikianlah. saya dan beberapa kawan, pada tahun 90-an harus sembunyi-sembunyi demi menyantap peradaban. makan secuil burger pun harus sembunyi. nonton di bioskop pun harus rela 'dandan' agar tidak dikenali orang. hahaha.

buku ini, bagi saya dan beberapa kawan tadi, ibarat kitab suci. sebuah petunjuk untuk membawa hidup kami lebih baik. bukan secara materi, tentu saja. tetapi secara manusia. makanya, buku ini masih saya simpan rapat-rapat di lemari. dan saya buka dan kembali baca ketika romantisme masa lalu itu menghantui saya kembali.

sms teman saya tadi malam membawa romantisme masa lalu itu kembali datang. entah sebagai apa. kesederhanaan puisi wiji thukul, menurut saya, menohok betul kemanusiaan saya. apa sebenarnya yang tersisa dari sebuah puisi? selain ketidaksengajaan pikir yang membawa kita larut di dalam untaian kata-kata.

bahkan, ketika itu, kami memaknai wanita -yang dicitrakan dengan sosok sophia latjuba- sebagai 'musuh' yang melenakan. hingga harus sembunyi untuk menikmatinya. takut ketahuan dengan kawan yang lain. tapi anehnya, selalu saja ada momen ketika kami harus tertawa getir karena kami tak 'tangguh' seperti yang kami citrakan. ceritanya begini:

sebut saja kawan saya bernama bangkong. demikian saya memanggilnya. jago ngomong soal marxis, dkk. suatu hari, saya memergoki dia lagi ikut antri nonton film titanic. wajah bangkong langsung memerah. tak karuan dia coba menyembunyikan wajahnya di sela rambutnya yang gondrong itu. saya semakin bergairah untuk menggoda dia. "katanya marxis, kok nonton titanic. mending bawa pacar. lha ini sendirian," ejek saya.

saya bisa memergoki bangkong karena waktu itu saya juga ikut antri. bwohahaha. cuma beda jalur antri.

Profile Image for Roos.
391 reviews
September 4, 2007
Paling suka puisi :

AKU MASIH UTUH DAN KATA-KATA BELUM BINASA

aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk buat
penguasa

puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk sepi
ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka

kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
kau masih hidup

aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa

( 18 Juni 1997 )

Bahasa sastra yang sederhana dan tidak tinggi hati, mudah dipahami bahkan oleh awam yang tidak mengerti sastra, tapi sangat menggugah inspirasi untuk selalu memahami kondisi yang terjadi sekarang ini.

Wiji Thukul menyatukan puisi dengan apa yang terjadi pada dirinya dan keadaan sekitarnya, jadi sangat setuju apabila ia diangkat sebagai Bapak Sastra Indonesia sekarang ini. Selain belum ditemukan jejaknya tapi perjuangan kata-katanya melahirkan Wiji Thukul-Wiji Thukul muda.

Teruslah berjuang-Terus LAWAN!
Profile Image for Ramok Lakoro.
4 reviews
July 20, 2007
Buku ini sangat unik, kalau bukan ironis. Penulis dan yang memberi pengantar adalah korban. Wiji Thukul adalah aktivis demonstrasi jaman Soeharto yang tidak pernah absen bicara untuk corong kaum terinjak, masuk dalam daftar orang yang hilang di masa demo. Si pengantar, Cak Munir adalah aktivis HAM yang dihilangkan nyawanya dan kasusnya masih remang samapai sekarang. Jika masih hidup dan duduk satu meja, aku yakin keduanya akan saling melontar salut. Cak Munir nampak sangat terkesan dengan bentuk perlawanan yang mengalir dari setiap laku, ucap dan ekspresi puisi Wiji Thukul. Simak apa yang ditulis Cak Munir untuk Wiji Thukul: "Tampaknya dia sama sekali tidak peduli apakah itu dimulai dari kedahsyatan ekspresi perlawanan dalam sebuah puisi, atau dia memang memilih bergerak secara fisik dalam gelora gerakan rakyat."

Wiji Thukul sendiri tidak perlu dipertanyakan keberpihakannya pada semua aktivitas yang menuntut keadilan. Semua puisinya adalah lukisan gap sosial yang pura-pura tidak kita lihat. Seperti teriakannya pada penguasa, cumbu rayu pada istrinya atau saat mengenang ibunya, semua dialiri gelora perlawanan kelasnya. Siapa tak kenal dengan puisi berikut, yang menurut Munir lebih terkenal daripada Wiji Thukul sendiri:

PERINGATAN

jika rakyat pergi/ketika penguasa pidato/kita harus hati-hati/ barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi/dan berbisik-bisik/ketika membicarakan masalahnya sendiri/ penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh/ itu artinya sudah gawat/ dan bila omongan penguasa/ tidak boleh dibantah/ kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang/ suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan/ dituduh subversif dan mengganggu keamanan/ maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo,1986

Larik terakhir adalah teks wajib di kaos setiap demonstran. Dan buku ini mungkin jadi satu-satunya jejak perlawanan Wiji Thukul sejak dia dihilangkan penguasa karena aksinya. Ketika membaca ini, aku adalah darah yang mengalir deras dan panas. Dan siapapun akan kembali mengucapkannya lamat-lamat: LAWAN!!!
Profile Image for danies.
25 reviews3 followers
May 2, 2016
"Apa guna punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli

Apa guna banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu"
Profile Image for Haifa Balkis.
24 reviews1 follower
July 1, 2016
Wiji Thukul, seorang aktivis dan penyajak lantang yang menghasilkan karya-karya kritikan ke atas kerajaan korup di zaman beliau. Diangkat sebagai pahlawan bangsa yang memperjuangkan kebebasan dan keadilan status sosial, puisi-puisi beliau meneriakkan kebenaran menakutkan bagi mereka yang berkhianat kepada bangsanya sendiri.

Antara sajak kegemaran saya ialah Peringatan, Kidung Di Kala Sedih, Puisi Menolak Patuh, dan Aku Masih Utuh Dan Kata-Kata Belum Binasa.

"Penjara sekalipun tak bakal mampu mendidikku jadi patuh."
Profile Image for phazleeanna.
249 reviews2 followers
November 24, 2015
Jujurnya, saya hanya mendengar cerita tentang hebatnya Wiji Thukul. Saya tidak begitu mengenali beliau, dan saya tidak pernah membaca karya-karyanya.

Sebelum buku ini dijamah, saya terlebih dahulu membaca tentang kisah pemuisinya. The fact yang beliau merupakan salah seorang individu yang terlibat dalam 'Involuntary Disappearances' kerana hasil tulisannya, sudah cukup untuk membuat saya tertanya-tanya apakah yang sudah ditulis oleh seorang lelaki kecil yang wajahnya biasa-aman-tenang ini yang mampu menggetarkan sebuah kerajaan?

Setelah selesai helaian terakhir, ternyata, sebatang pena sememangnya lebih ampuh sifatnya daripada sepucuk pistol atau sebilah parang. Karyanya yang berkisar tentang kehidupan sehari-harian di bumi Indonesia yang tertindas sedikit sebanyak mampu menimbulkan sedikit, jika tidak banyak, semangat ingin bangun dan tentang. Untuk hak dan tanah yang ditidakkan -- iaitu elemen-elemen kehidupan yang maha asas.

Puisi Wiji berjudul 'Peringatan' telah menjadi 'Epitome' kepada semua para pejuang hak -- bait-bait pendeknya menikam, dan meninggalkan kesan pantas yang mendalam terhadap para pembaca.

"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan menggangu keamanan
Maka hanya ada satu kata: LAWAN!"

Wiji yang satu.
Profile Image for hans.
1,160 reviews152 followers
December 30, 2015
Tulisan-tulisan Wiji buat saya sukakan puisi dan sajak-sajak. Seniman dan aktivis yang mengangkat maruah dan hak dalam bahasa puisi yang tegas. Banyak yang saya suka di buku ini-- barangkali kesemuanya. Puisi-puisi Wiji banyak mengajar hal menuntut keadilan, kata semangat dan kebangkitan jiwa-jiwa yang teraniaya kerana kurang ajar penguasa.

Bagaimana Wiji mampu menulis berpuluh-puluh puisi dan kata-kata, melontar ide dan harapan serta membangkang kelahapan politik di zamannya adalah sesuatu yang mengagumkan saya.

"Aku bukan artis pembuat berita,
tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa.

Puisiku bukan puisi tapi kata-kata gelap,
yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan,
ia tak mati-mati meski bola mataku diganti,
ia tak mati-mati meski bercerai dengan rumah,
ditusuk-tusuk sepi ia tak mati-mati,
telah kubayar yang dia minta,
umur-tenaga-luka.

Kata-kata itu selalu menagih padaku,
ia selalu berkata kau masih hidup.

Aku memang masih utuh,
dan kata-kata belum binasa."

Sesuai sekali dengan judulnya Aku Ingin Jadi Peluru (malang sekali lelaki ini hilang tanpa kesan). Semoga Wiji terus jadi 'peluru', walau cuma di helaian puisi :)
Profile Image for Stephany Efflina.
118 reviews1 follower
May 20, 2015
Puisi yang paling aku suka :

Ucapkan Kata-Katamu

Bila kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan apa maumu
terampas

kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput

atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian

jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu

jika kau menghamba kepada ketakutan
kita memperpanjang barisan perbudakan

-Wiji Thukul-
Profile Image for Aini Akmalia.
100 reviews70 followers
July 31, 2015
Nama Wiji Thukul bukanlah suatu nama yang asing di kalangan pembaca di Indonesia. Namanya cukup dikenali sebagai antara barisan penyair kontroversi, malah kisah hidupnya juga banyak yang misteri. Aku Ingin Jadi Peluru merupakan kumpulan puisi pertama beliau yang saya pernah baca. Memang padanlah puisi-puisi Wiji Thukul dikatakan kontroversi. Puisinya sangat membakar, dan membangkitkan semangat revolusi dan demonstrasi.
Profile Image for Hana Ahmad.
57 reviews27 followers
April 16, 2015
Tentang 'perlawanan' yang ditulis oleh orang yang kini sudah hilang.
Profile Image for Ku Syafiq.
10 reviews3 followers
August 17, 2017
Puisi Wiji tidak berat untuk difahami, apatah lagi jika pembaca punya latar hidup yang dekat dengannya. Walaupun kata Wiji dia tidak menulis untuk rakyat sebaliknya diri sendiri, suaranya tetap mewakili rakyat kerana dirinya sendiri merupakan rakyat terbanyak.
Profile Image for Luthfi Ferizqi.
454 reviews14 followers
dnf
April 9, 2024
Found this book online but it seems the poetry was not complete.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
July 18, 2014
Judul: Aku Ingin Jadi Peluru
Penulis: Wiji Thukul
Penerbit: Indonesia Tera
Halaman: 176 halaman
Terbitan: Juni 2000

Tidak sengaja bertemu buku ini di salah satu tempat saya pinjam buku. Sempat lihat buku ini beberapa kali di Goodreads. Akhirnya berjodoh juga dengan "Aku Ingin Jadi Peluru" ini.

Bahasanya mudah dipahami dan puisi-puisinya sarat akan perlawanan terhadap penindasan oleh pemerintah.

Beberapa puisinya yang saya suka:

Ucapkan Kata-Katamu

Bila kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan apa maumu
terampas

kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput

atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian

jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu

jika kau menghamba kepada ketakutan
kita memperpanjang barisan perbudakan

Batas Panggung
kepada para pelaku

ini daerah kekuasaan kami
jangan lewati batas itu
jangan campuri apa yang terjadi di sini
karena kalian penonton
kalian adalah orang luar
jangan rubah jalan cerita yang telah kami susun
jangan belokkan jalan cerita yang telah
kami rencanakan
karena kalian adalah penonton
kalian adalah orang luar
kalian harus diam

panggung seluas ini hanya untuk kami
apa yang terjadi di sini
jangan ditawar-tawar lagi
panggung seluas ini hanya untuk kami
jangan coba bawa pertanyaan-pertanyaan berbahaya
ke dalam permainan ini
panggung seluas ini hanya untuk kami
kalian harus bayar kami
untuk membiayai apa yang kami kerjakan di sini

biarkan kami menjalankan kekuasaan kami
tontonlah
tempatmu di situ

Rumput Ilalang

hijau hijau
tumbuh lagi
walau kaubabat berulang kali
walau kaubakar berulang kali
hijau hijau
tumbuh lagi
sudah seratus kali kaucabut
kausemburkan api kerusuhan
hijau hijau
tumbuh lagi
harapanku
menaklukkan
ketakutan
yang kauternakkan
lewat pidato
dan laras senapan

aku melihat ilalang
o siasialah
kekuasaan memasang
palang penghalang
ilalang
tetap hidup tumbuh
dan menang

walau seratus kali digaru

dan masih banyak lagi sebenarnya ^^.
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
July 30, 2007
Kalau hidupmu tidak mudah, keras, penuh tekanan, kejam dan hampir-hampir kau tak tahu harus berbuat bagaimana, maka menulislah puisi.

Kalau hidupmu terjepit, kau dikejar-kejar, kau bersembunyi, kau berganti kaos, celana, sandal bahkan nama, sampai-sampai kau nyaris alpa dirimu sendiri, maka menulislah puisi.

Puisi apa yang kau tulis?Apa pun itu, puisi akan melembutkan pikiranmu, setidaknya jemarimu sendiri.

Membaca Aku Ingin Jadi Peluru adalah membaca dunia Thukul dalam bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti; lugas, tidak berbunga-bunga, dan tidak banyak tafsir. Thukul bukan menulis puisi untuk dikulum diam-diam melainkan diteriakkan. Ya, puisi Thukul adalah puisi protes. Protes terhadap kelaliman rezim Orba, hukum yang bengkok, dan kemiskinan. Ada tiga tema Wiji Thukul dalam puisi-puisinya, yakni: (1)melawan penguasa lalim, yang merupakan perhatian pada wilayah politik, (2) kisah kemelaratan, yakni perhatian pada wilayah lingkungan hidupnya sendiri, dan (3) minat pada Tuhan, yakni wilayah kerohanian. Hanya satu kata, lawan! Tagline mashyur ini mungkin akan jadi jejak terakhir penyair yang sudah tak pernah lagi kembali ke rumah sejak peristiwa politis '98.

PERINGATAN

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!






Profile Image for Hasanuddin.
254 reviews16 followers
July 1, 2008
Kumpulan puisi Wiji Thukul, menggunakan bahasa yang ringan, jarang menggunakan kiasan personifikasi. Karena bahasa yang dipakai adalah bahasa sehari-hari dan merakyat. Wiji Thukul, mungkin juga W. S. Rendra, Taufik Ismail hingga pemusik Iwan Fals, di era 80an hingga 90an banyak mengungkap kritik sosial. Ketidakadilan penguasa, kebijakan yang prematur, kemiskinan dan derita kaum terpinggirkan berbaur dengan kelaparan dan hukum yang tidak jelas penerapan kerap disinggung. Dan tema ini sebenarnya tak lekang oleh waktu. Hanya saja selepas reformasi, suara-suara sumir tentang tatanan sosial dan kebusukan sistem menjadi hambar. Entah mengapa? Apakah sudah terlalu banyak yang menyuarakan? Atau sudah jenuh mendengar? Disinlah peran media. Wiji Thukul sudah menyinggungnya, pandangan media terhadap "kadar" permasalahan akan menentukan suara-suara tersebut akan diperhatikan atau tidak. Akan menjadi berita atau hanya sekedar bank data saja. Namun bagi Wiji, segala ketipmpangan sosial hanya ada satu kata yangs sesuai, Lawan!
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
August 26, 2024
Perkenalan saya dengan puisi Wiji Thukul pertama kali adalah melalui Majalah HAI. Sesudah membaca puisi itu baru kenal puisi yang paling populer, "Hanya ada satu kata: Lawan!" Tapi saya suka puisi "cinta" Widji thukul untuk istrinya. Baju Bekas kado untuk istrinya. Romansa ala Widji Thukul.

***

Menemukan jejak catatan puisi yang pernah dipublikasikan di Majalah Hai (1987)

Sketsa II

Semuanya musti dibalik
agar Cermin mau mengatakan
siapakah yang tersenyum di depan mataku
semuanya musti dibalik
agar tidak terbalik
semua tulisan harus dibalik
agar bisa terbaca
sajak musti dibaca dari dalam

https://www.tinemu.com/temu-serasi/pr...

Entah berapa puisi Wiji Thukul yang dikirimkan ke redaksi, mengapa 2 puisi itu yang muncul? Apakah belum ada puisi-puisi pamflet ala buku ini? atau kedua puisi itu sebuat tawar menawar di era rejim "massa mengambang"
18 reviews3 followers
August 31, 2011
Penyair haruslah berjiwa 'bebas dan aktif'. bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya. maka belajar terus-menerus adalah mutlak, memperluas wawasan dan cakrawala pemikiran akan sangat menunjang kebebasan jiwanya dalam berkarya. dan fanatik gaya atau tema bisa dihindarkan sehingga proses kreatif tak terganggu. belajar tidak harus di bangku kampus atau sekolah tetapi bisa dimana-mana dan kapan saja: di perpustakaan atau membaca gelagat lingkungan atau apa sajalah pokoknya yang bisa mempertajam kepekaan penyair terhadap gerak hidup dirinya dan hidup di luar dirinya juga.


====>> salah satu buku yang sangat ingin saya baca, sudah mencari ke mana-mana tapi belum juga nemu, klo ada yang punya boleh kah saya pinjam untuk di fotocopy (kebiasaan anak kuliah--red) atau klo ada yang bisa memberitahu toko buku yang menjual nya juga ga masalah deh.
Profile Image for Dian.
64 reviews8 followers
September 21, 2007
WT adalah Sang Maestro, sang Penggagas kata-kata lugas.
Tak perlu mengerutkan kening membaca lontaran makna puisinya.
Tanpa perlu mencaci memaki, kita terseret dalam pusaran arus emosi bara.... bertalu-talu, sekian kali, sekian ribu kati.
WT menampilkan dan merefleksikan sekian banyak kejadian, keadaan, dan tektek bengek dalam puisinya. Menyadarkan kita pada kebengisan, penguasaan ***** dalam suatu tirani. Dan dia yang tak tergoyahkan. WT adalah cerminan kebebasan yang menuntut hak akan pencarian kebenaran.
Hanya ada satu kata, lawan!

Menurut aku puisinya yang "Aku masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa" menyajikan suatu wacana yang lebih terang benderang, meski semua puisinya aku suka lho.
Keep in fight....!!! Aca, aca Fighting Blue Rose...!!!
Profile Image for Farah Fitria Sari.
228 reviews10 followers
January 16, 2018
"[...]
kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk

kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak"
-Tujuan Kita Satu Ibu

7/5
Profile Image for Nadia Fadhillah.
Author 2 books43 followers
December 1, 2012
Buku Puisi Terbaik Indonesia Sepanjang Masa.

Meski aku baru sedikit baca buku puisi, bagiku ini yang terbaik. Dan kehebatannya akan jadi standarku membaca buku puisi kedepannya.
Profile Image for Nisrina Zulfa.
6 reviews
March 25, 2025
"Penjara sekalipun tak bakal mampu mendidikku jadi patuh".

Membaca ini di tahun 2025 membuatku semakin mual.
Oh, Pak Wiji Thukul. Penyair (dan pejuang) hebat yang benar-benar tak takut mati. Selama membaca kumpulan puisinya, mulai dari tahun 80-an hingga menyentuh huruf-huruf terakhir sebelum tragedi, satu kata yang bisa kuambil; TUMAN! Ya, belum ada perubahan yang signifikan bagi tanah air kita dari puluhan tahun lalu hingga sekarang. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin sengsara. Yang berkuasa semakin besar, yang kecil semakin sukar!
Pak Thukul, aku sungguh penasaran, goresan apa yang akan engkau ukir di atas dinding, di mana pun Bapak berada, jika Bapak tahu apa yang sedang terjadi sekarang.

"jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!"

Istirahatlah, Kata-Kata.
Profile Image for Alistya Dewi Esty.
21 reviews2 followers
August 28, 2018
Buku ini termasuk kumpulan puisi yang cukup sedikit dan bisa diselesaikan dalam sekali baca. Namun, tak ada satu puisi pun yang tak menohok dalam buku ini. Itulah yang saya suka dari Widji, tulisannya sangat liar dan berani, tetapi menguak realitas.

Sebagaimana ia pernah berkata;
"Puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan
mencari jalan
ia tak mati-mati"
Profile Image for Nana.
55 reviews
January 11, 2026
loveeee this. how the book explore anger, hope, and resistance, later show them in a shape of poetry, that is raw, direct, and fiercely political. this book carries the weight of social injustice in Indonesia, giving voice to the marginalized and oppressed. reading this make me feel both energizing and sobering, a reminder that art can ignite consciousness and challenge the structures of power.
Profile Image for Moch Zamroni.
3 reviews2 followers
August 26, 2020
Pernah punya buku ini dan akhirnya saya donasikan untuk Perpustakaan Jurusan. Isi bukunya menggambarkan kondisi permasalahan hidup Wiji Thukul dalam puisi-puisi yang realis dan sederhana.
Profile Image for Tibatibacaaa.
25 reviews
May 25, 2022
Tidak ada puisi karya beliau yang tidak menyentil semangat juang dalam diri.
2 reviews
October 18, 2022
Dimanakah wiji thukul..
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ann. .
70 reviews
October 25, 2025
Menyumpal fakta, menampar jantung, membakar semangat.

Paling suka dengan puisi; Catatan Hari Ini, Apa Yang Berharga Dari Puisi ku, Nonton Harga.
Displaying 1 - 30 of 81 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.