Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kafir Liberal

Rate this book
Setuju dengan komentar2 Emha tepatnya, tentang bagaimana orang harusnya memandang agama. Ini baru yang disebut melintas agama tanpa kuatir ekstrim kanan.

Emha bicara jujur apa adanya dan lugas. Tapi dalam.

56 pages, Paperback

First published January 1, 2006

16 people are currently reading
440 people want to read

About the author

Emha Ainun Nadjib

93 books485 followers
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
47 (48%)
4 stars
24 (24%)
3 stars
15 (15%)
2 stars
5 (5%)
1 star
6 (6%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
6 reviews
September 15, 2023
Menyoal terkait pluralitas dan menekankan bahwa Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya penting dibagian persatuannya namun juga di perbedaannya.

Tulisan berdasarkan pengalaman ziarah cak nun di dataran eropa (utamanya vatikan) yg di saat bersamaan wafatnya paus
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for A2n.
11 reviews
Read
September 6, 2007
"sMua buKu-nya Cak Nun tu ba9us-ba9us....TermasUk y9 saTu ini...baCa aj..."
Profile Image for Faishal.
Author 3 books
April 2, 2010
Pluralisme vs Singularisme: Penjelasan paling jelas tentang hakikat liberalisme.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.