Kumpulan Cerita Pendek: Rumah Ibu • Harris Effendi Thahar • 148 hlm. • Penerbit Buku Kompas • 2021
Baca di iPusnas
.
Terdapat 12 cerita dalam kumpulan cerpen ini. Keseluruhan kisah di dalamnya memotret ttg perjuangan seorang ibu dari berbagai sudut pandang. Setiap cerita memiliki ending yg terasa menggantung tapi bikin mikir, bikin merenung.
Cerita pembuka berjudul Anak Panah. Mengisahkan perjuangan seorang ibu membiayai keluarganya, bahkan mampu menyisihkan sedikit uang bulanan utk anak tercintanya yg berkuliah di kota namun tidak kunjung menjadi sarjana meski sudah tujuh tahun berselang. Tidak pernah ada kabar berita yg didapat sang ibu ttg si anak, tidak pula berupa kabar bahwa uang bulanan telah diterima setiap bulannya. Sang ayah pun menganggap anaknya sbg anak durhaka. Kabar yg ditunggu akhirnya datang juga, berupa surat singkat yg mengabarkan bahwa si anak telah menjadi anak panah, melesat meninggalkan keluarganya, bahkan mengabaikan kehadiran sang ibu ketika menjenguknya di perantauan. Setelah membaca surat itu, jiwa sang ayah pun pergi tanpa pesan apa-apa, melesat bagai anak panah yg lepas dari busurnya.
Cerita favoritku berjudul Kacamata Emak. Seperti kita tahu, seorang ibu akan selalu mengutamakan kepentingan anak-anak dibandingkan kepentingannya sendiri. Di cerita ini, Emak membutuhkan kacamata baru untuk membaca Al Qur'an. Namun, beliau tdk ingin merepotkan anak-anaknya. Dengan dalih hapalannya masih kuat, beliau pun menyatakan bahwa tidak terlalu membutuhkan kacamata. Ketika sang anak mendapat rezeki lebih, dia bermaksud membelikan kacamata utk Emak. Namun, takdir berkata lain. Rezeki tsb justru digunakan utk membiayai opname sang ibu hingga akhirnya mengembuskan napasnya yg terakhir.
"Sebagai anak yg telah dewasa dan telah menjadi bapak pula, kehilangan Emak tidaklah terlalu luar biasa. Tapi, bukan kematian benar yg membuatku sedih. Hanya sebingkai kacamata saja, aku tak dapat memenuhi permintaan beliau di saat akan pergi." - hlm. 57.
Penulis aktif memublikasikan cerpen, puisi, dan esainya melalui media koran dan majalah sejak 1971. Sepuluh cerpennya masuk dalam sepuluh kumpulan pilihan Kompas. Pantas saja gaya berceritanya mirip spt cerpen yg dimuat di koran besar.
Sedih, haru, dan yg pasti membuat perasaan pembaca thdp sosok ibu semakin membuncah. Antologi cerpen ini berhasil kutamatkan dalam sekali duduk saking nagihnya.