“Jika memang sudah menjadi tekad dan takdirmu, sekarang juga berangkatlah Anakku, Bima. Mumpung hari belum pagi. Carilah Tirta Pawitrasari. Air keramat yang telah diperebutkan oleh dewa-dewa pada masa awal purwa carita jagat pewayangan ini.”
Bima yang didera kegelisahan tentang hidupnya, kemudian diperintahkan oleh gurunya mencari Tirta Pawitrasari dengan menyelam mengarungi Samudra Selatan yang berombak ganas. Di sana, Bima bertemu dengan Batara Ruci. Setelah meresapi makna Tirta Pawitrasari, Bima yang telah menjadi resi yang bergelar Resi Senalodra mengajarkan ilmu kesejatian hidup. Penduduk Jawadwipa yang tengah dirundung zaman susah sangat antusias mendalami ilmu tersebut. Kegiatan Senalodra yang mengajarkan ilmu kesejatian hidup membuat iri Batara Guru. Ia menganggap Senalodra membuat manusia melupakan para dewa. Di sisi lain, kewibawaan para dewa kian redup seiring tindakan mereka yang semakin tidak mempedulikan manusia. Bahkan, para dewa mendapat serangan dari raja raksasa, Prabu Karungkala.
Sungguh, perjalanan Bima yang penuh rintangan dalam mencari Tirta Pawitrasari, air kehidupan, sangat menarik untuk Anda simak. Sebuah proses “menggetarkan” dari laku spiritual yang layak Anda resapi.
“…Bila ingin mengetahui hidup yang langgeng, tenteram, terhindar dari kegalauan dan kekecewaan, kau harus dapat menemukan alam kesejatian. Di manakah tempatnya itu? Tidak bisa dilihat oleh mata, Bima. Namun, tempat itu hanya mampu dirasakan melalui daya ciptamu sendiri,” ucap Batara Ruci.
The thing about Wayang folktales is its complexity. Imagine it is as a Marvel or DC Universe then you'll found how complex it is. But when you remember when the Wayang tales was written, then you'll find it is not incomparable at all. . It is a story of Bima who were looking for the ultimate wisdom called "Tirta Prawitasari" deep inside the Jawadwipa Southern Sea. It is a journey when Bima aka Resi Senalodra met Batara Ruci, the name who were famous as Indonesia Navy's Cadet training tallship. . The style of Ardian's storytellings was so "retro" in a good way. It is voluminously way too descriptive, including how he described the posture of the Kahyangan's angels. When you read those lines, then Adriana Lima, Gisele Bündchen will be there dancing on your dirty mind.
Dalam cerita pewayangan, Bima Sejati atau Dewa Ruci . Dalam lakon Dewa Ruci ini lebih banyak memberikan tuntunan-tuntunan dalam menuntut ilmu seperti menuruti dan taat pada perintah guru, tidak mudah putus asa serta rela berkorban hingga titik darah penghabisan.
Diceritakan bahwa pada masa pengasingan di hutan, Bima menglami kegundahan hati. Dalam lakon yang lain diceritakan sebelumnya, bahwa karena kalah bermain dadu dengan Kurawa, Bima beserta saudara Pandawa-nya harus menjalani hukuman diasingkan ke hutan. Karena mengalami kegundahanhati, maka Bima dengan mengendap-endap menemui Resi Durna yang merupakan guru Pandawa dan Kurawa. Bima meminta agar diajarkan ilmu untuk memperoleh ketenangan hati dan mencapai keutamaan hidup. Resi Durna mengatakan bahwa ilmu itu sangat sulit dan tidak semua orang bisa mempelajarinya. Bima yang berkemauan keras dan bertekat bulat menyatakan siap menerima apapun resiko yang akan terjadi. Bima tidak mengetahui bahwa sebenarnya Resi Durna memiliki niatan tersembunyi untuk mencelakakannya. Akhirnya karena Bima sangat berkeras untuk mempelajari ilmu itu sang guru menguji kekuatan tekatnya. Ia mengatakan bahwa jika Bima ingin mempelajari keutamaan hidup dan memiliki ketenangan hati maka ia harus menemukan Kayu Gung Susuhing Angin. Untuk mendapatkan kayu itu, Bima harus menerobos hutan yang terkenal sebagai tempat tinggal bangsa raksasa. Ia juga harus bertarung mati-matian menghadapi raksasa. Namun akhirnya ia berhasil bertemu dengan Dewa Batara Indra yang memberinya pencerahan bahwa sesungguhnya Kayu yang ia cari tidak berwujud batang kayu seperti pada umumnya Kayu Gung Susuhing Angin artinya kayu berarti batang gung berasal dari kata agung yang berartu besar dan susuhinng angin berarti tempat angin bersarang. Arti secara keseluruhan bahwa jika ia ingin mencari keutamaan hidup dan mendapatkan ketenangan hati ia harus dapat menguasai nafas dalam dirinya sendiri. Setelah memberikan pencerahan itu, Betara Indra menghilang namun sebelumnya ia berpesan agar Bima kembali menemui gurunya untuk menyampaikan apa yang baru disampaikannya. Resi Durna sangat bangga karena muridnya ternyata memiliki kegigihan dalam mencari ilmu. Ia kemudian menyatakan bahwa sesungguhnya ilmu yang diinginkan Bima itu bernama Tirta Perwitasari yang berarti air inti sari kehidupan yang ada di dasar samudra yang sangat bergelomang. Karena kegigihannya, Bima tetap menjalani apa yang dikatakan gurunya. ia pergi menuju pantai dan bersiap masuk ke lautan yang bergelombang. Di dalam laut ia harus bertarung dengan raja ular yang tinggal di dasar lautan. Bima bertarung hinggga habis tenaganya. Saat berhasil mengalahkan ular itu, tiba tiba sesosok makluk bertubuh kecil muncul dihadapannya. Ia menjelaskan bahwa ia sebenarnya adalah Dewa Ruci. Perlawanan Bima terhadap ular melambangkan bahwa Bima dapat bertarung dan mengalahkan hawa nafsunya. Karena agar dapat mencapai keutamaan hidup dan ketenangan hati maka seseorang harus dapat mengendalikan hawa nafsunya. Dewa Ruci inilah yang akhirnya menengakan pada Bima mengenai Tirta Perwitasari yang memang merupakan ilmu yang sulit dan tidak semua orang dapat mempelajarinya.
Secara keseluruhan, cara penceritaan di buku ini sudah lumayan bagus. Deskripsinya juga sudah cukup gamblang sehingga memudahkan mengimajinasikan ceritanya. Untuk pemilihan kata rasanya standart sekali, dalam arti tidak ada pemilihan kata yang terlalu spesial. Tapi yang agak membuatku agak aneh waktu baca buku ini adalah ditengah-tengah cerita tiba-tiba Bima sang tokoh utama menghilang dan malah ganti menceritakan Raja dari kerajaan Nusakambangan. Walaupun akhirnya ada hubungannya juga dengan Bima, tapi tokoh utama yang sempat menghilang selama beberapa bab itu agak aneh. Tapi untuk yang mau tahu lebih tentang cerita wayang buku ini layak dibaca, karena ditulis dalam bentuk novel ceritanya jadi lebih mudah untuk dipahami. Selain layak Anda baca, novel ini juga layak untuk Anda jadikan koleksi Anda. Hal ini karena cerita yang disajikan menarik dengan nuansa yang berbeda dengan pakem aslinya dan harganya pun murah dan , hanya Rp 34.000 .Pokoknya baik lah.
Raja dewa pun juga bisa salah. keirian terhadap kelakuan bima, hingga gelap mata ingin menyngkirkannya.
Proses penyadaranpun harus dengan perang, sehingga kembali pada ajaran yang seharusnya.
Kebaikan dunia dikembalikan pada manusia. masa depan dunia, manusialah yang berperan. sebuah pesan bahwa kebaikanpun ternyata ada yang memuusuhi. semua tergantung kepentingannya.