"… Cerek bersiul, jadi Joan membuatkan teh untuk mereka semua, Bob memanggang keju, dan mereka semua duduk nyaman di sekitar tungku. Dunia di luar adalah tempat yang sulit, tapi keju panggang dan cinta serta karya seni cukup untuk membuat mereka aman."
Pria tua itu menutup buku di pangkuannya. Ia bersandar di kursinya yang berbantalan empuk, dan memandangi cucu-cucunya yang duduk diatas permadani dihadapannya sambil tersenyum. Mereka menatap sang kakek dengan kagum.
"Bagus sekali ceritanya, kakek," seru Nora, cucu perempuannya yang paling tua.
"Aku suka sekali dengan bagian dimana putri Aurelia menyelamatkan si bocah tikus," ia melanjutkan sambil membenahi pita putih besar yang tersemat dirambutnya. "Aku akan menjadi seanggun dia bila besar nanti."
"Aku suka pada bagian dimana si bocah tikus membuat keonaran di sekolah. Itu lucu sekali!" Michael, adik Nora tertawa tergelak. "Kadang-kadang aku merasa si bocah tikus itu mirip sekali denganku. Aku suka mengunyah pensilku tanpa sadar. Yah, kalau pelajaran aritmatikanya susah sekali.. Rasanya cukup menyenangkan mengunyah sesuatu sambil berpikir.."
Michael terdiam saat menyadari pandangan Nora yang tertuju padanya. Nora menatapnya jijik, "kau bisa sakit perut, tahu. Pensil itu kan kotor. Banyak bakterinya. Setidaknya itulah yang aku pelajari di kelas Ms. Anabelle disekolah. Bak-te-ri," Nora mengucapkan kata 'bakteri' itu dengan nada puas. Seolah-olah ia menjadi begitu terpelajar karena mampu mengucapkan kata itu dengan tepat.
"Ya, kan kalau pelajarannya susah saja.." Michael merajuk.
"Jangan terlalu sering. Kakakmu benar, kau bisa sakit nanti kalau terlalu sering mengunyah pensil. Padahal kan ibumu selalu membawakan biskuit manis untuk camilan makan siangmu," kakeknya menggoda. Michael tersenyum.
"Kakek, apa yang terjadi dengan putri Aurelia kemudian? Namanya sama dengan sang ratu, ya? Nama pangeran di dalam cerita itu juga sama dengan nama sang raja.." tanya Nora kemudian.
"Yah, seperti juga sang ratu dan sang raja, putri Aurelia dan pangeran Richard menjadi raja dan ratu yang bijaksana. Yang dicintai rakyatnya," kakeknya menjawab.
"Apa yang terjadi dengan Mr. Tapscrew?" tanya Michael penasaran.
"Bisnis pasar malamnya bangkrut. Ia akhirnya memutuskan untuk membuka toko kelontong di pasar," jawab kakek.
"Tidak mungkin! Aku tahu seorang pemilik toko kelontong di pasar yang namanya juga Mr. Tapscrew! Apakah mereka orang yang sama?" mata Nora membelalak terkejut. Dan penasaran.
"Mungkin saja. Kita kan tidak pernah tahu," kakeknya tersenyum simpul.
"Lalu apa yang terjadi dengan Billy selanjutnya?" tanya Michael lagi.
"Billy diangkat anak oleh Earl dan Countess Ditchwater. Billy sebenarnya anak yang pintar, kau tahu. Dan pasangan Ditchwater juga tahu mengenai hal itu. Mereka mendidiknya dengan baik sehingga beberapa tahun kemudian Billy menyelesaikan pendidikannya di akademi kepolisian dengan nilai memuaskan. Dan mungkin, beberapa tahun setelahnya ia akan menjadi kepala polisi di kota tersebut," kakek menjelaskan dengan panjang lebar.
"Billy? Pasangan Ditchwater? Aneh sekali.. Pagi ini aku melihat poster yang tertempel di papan pengumuman kota, bahwa walikota akan melantik kepala polisi yang baru. Dan namanya adalah.. Billy Ditchwater!" kali ini Nora tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Lalu apa yang terjadi pada si bocah tikus? Kakek, cepat ceritakan pada kami!"
"Si bocah tikus hidup dengan bahagia. Ia menjadi seorang pembuat sepatu yang handal. Memiliki toko yang bagus di pasar. Tak lama kemudian ia menemukan wanita yang dicintainya. Setelah menikah, ia memiliki tiga orang anak," kakek menjawab sambil tersenyum.
"Aku merasa ada yang aneh dengan cerita ini, kakek. Si bocah tikus bernama Roger, dan orang tua yang mengangkatnya bernama Bob dan Joan. Itu kan.." kalimat Nora menggantung di udara. Pintu ruang belajar dibuka dari luar.
"Halo, apa yang sedang kalian lakukan disini?"
"Ayah! Ayah sudah pulang? Kakek baru saja selesai menceritakan kisah tentang si bocah tikus'" Michael menghambur ke pelukan ayahnya. Ayahnya tersenyum dan bergabung bersama mereka.
Kemudian masuklah ibu mereka, Marie, sambil menggendong Andrew, si kecil yang baru berusia 8 bulan, "Makan malam sudah siap. Kalian tidak lapar?"
Marie tersenyum. Ia meletakkan Andrew di pangkuan sang ayah. Sang ayah tersenyum sambil memain-mainkan mobil-mobilan kayu di hadapan Andrew.
"Nora, Michael, bereskan dulu buku-buku dan puzzle ini. Jangan meninggalkan ruangan dalam keadaan berantakan," Marie menutup tirai di jendela besar ruang belajar. Di luar sana hari mulai gelap. Anak-anak membereskan mainan mereka, kemudian pergi ke ruang makan.
"Bagaimana keadaan toko hari ini?" tanya kakek.
"Baik-baik saja. Hari ini sama sekali tidak ada masalah. Serena Wartington kembali lagi dua kali dalam sehari untuk mencoba sepatu berkudanya. Putri kecil itu terlihat begitu tidak sabaran," ayah tersenyum sambil mengingat hal itu.
"Ayolah bapak-bapak, makan malam sudah siap. Nanti keburu dingin," Marie memotong pembicaraan mereka. "Astaga Andrew! Berhenti menggerogoti mobil-mobilan malang itu!" Marie merebut mobil-mobilan yang sedang digigiti oleh Andrew. Bayi kecil itu menangis dan berusaha menggapainya. Marie menggendongnya dan membawanya ke ruang makan.
Kakek tersenyum pada ayah, lalu berkata, "ternyata anak-anak lelakimu menuruni kebiasaan burukmu waktu kecil, Roger. Bagaimana cara menghilangkannya?"
"Akan hilang sendiri, ayah. Jangan khawatir."
Mereka berdua menutup pintu ruang belajar, kemudian menuju ruang makan.