Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Delapan tahun silam, Cassius Redfang menghabisi adiknya demi menyandang gelar warisan sang ayah. Sekarang, dipandu mimpi ganjil istrinya, Cassius menemukan fakta mengejutkan, sang adik telah kembali mewujud di dunia. Dilanda kebingungan, Cassius mulai mencoba menyingkap teka-teki di balik kebangkitan adiknya. Mukjizat para Vanadis-kah? Tipuan? Ataukah.... orang itu justru berhubungan dengan hawa gelap yang menyeruak perlahan di negeri Blackmoon? Segalanya serba gelap...

452 pages, Paperback

First published December 1, 2012

12 people are currently reading
136 people want to read

About the author

Fachrul R.U.N.

6 books47 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
55 (42%)
4 stars
42 (32%)
3 stars
21 (16%)
2 stars
7 (5%)
1 star
4 (3%)
Displaying 1 - 30 of 46 reviews
Profile Image for Ivon.
Author 1 book21 followers
December 30, 2012
Bila ada yang penasaran: bagaimana bisa, penulis review ini, sudah membaca buku yang bahkan baru diluncurkan di satu toko buku hari ini? Well, aku hanya bisa menjawab bahwa dengan tinggal di dalam bayang-bayang dan punya koneksi dengan penghuni alam kegelapan, punya banyak keuntungan tak terduga. Tapi itu cerita lain. Sekarang, kita bahas buku fantasi-horor dengan gambar sampul yang kick-ass ini dulu.



Aniwai, di sampul itu kita bisa melihat dua tokoh yang berdiri tegak saling berbalik. Satunya berambut panjang, berpipi cekung, dengan pandangan mata yang menyiratkan rasa ketidak-amanan yang tinggi. Satu tangannya mencengkram jubah yang ia pakai, seolah takut sewaktu-waktu dirampok seseorang atau apa. Satunya berambut pendek, memiliki senyum serta mata yang bersinar penuh kepercayaan diri di wajahnya. Satu tinjunya terkepal dan menempel pada telapak tangan satunya. Ia tampak bugar dan siap menghadapi tantangan apapun. Dilihat secara keseluruhan, kedua sosok itu tampak kontras-- satu sehat dan percaya diri, satu lemah dan seolah selalu butuh perlindungan.

Namun ada aspek yang sama pada mereka berdua. Jubah merah dengan tepian berbulu putih yang sama-sama mereka kenakan, dan rambut mereka yang sama-sama merah tembaga.

Kesimpulan yang bisa ditarik dari sampul tersebut: buku ini mengisahkan perebutan takhta antara dua kakak-beradik yang berbeda jauh, baik dalam sifat, pola pikir, dan penampilan fisik mereka.

Baca sebentar, dan aku harus berhenti untuk mengagumi diriku sendiri karena tebakanku memang tepat

... but, wait. Ada apa ini.

Aku baru masuk halaman prolog dan ... si adik, Velius, mati dibunuh Cassius, si kakak?

What is this bizzare twist? Have mine eyes wronged me, again?

Ternyata memang tidak. Si adik mati, dan si kakak mendapatkan kedudukan yang seharusnya si adik miliki, selama delapan tahun ke depan. Bahkan mantan kekasih si adik juga diambil oleh si kakak, dijadikan istrinya. Dan kita semua tahu, memperistri seorang wanita yang baru patah hati karena kehilangan kekasihnya itu tidak menjamin pernikahan yang bahagia. Tak lama menikah, sang istri masuk dalam keadaan setengah linglung. Ia sering melamun dan menggumam-gumam menyebut nama Velius, kekasihnya yang sejati. Cassius tidak peduli-- atau tepatnya, berusaha tidak peduli-- karena ia tidak main-main-- ia menjaga wanita tersebut karena ia memang tulus mencintainya sebagai istrinya, bukan wanita hasil rebutan dengan sosok yang lebih superior darinya.

Well, aniwai, masa pemerintahan sang kakak berlangsung tanpa gejolak. Keamanan kota terjamin, kehidupan kota stabil, dan sang kakak menikmati hidup sebagai penguasa negeri Canivius.

Namun karena penulisnya pun tidak setuju Cassius enak-enakan jadi raja tanpa sedikitpun menuai karma yang ia perbuat, kedamaian yang ia pelihara tidak berlangsung lama.

Suatu hari sang istri berkata pada sang kakak. Ia mendapat mimpi, bahwa Velius ada dalam hutan Antipia. Ia ingin mencarinya sendiri ke sana. Cassius tidak setuju, selain ia tahu bahwa intuisi yang berasal dari mimpi itu kebanyakan mengada-ada, hutan tersebut adalah tempat ia membunuh Velius. Bukan ia takut pada hantu atau apa, tapi ia bukan psikopat-- tidak mudah untuk memendam rasa bersalah atas perbuatan biadab membunuh saudara kandung sendiri. Namun, alas, ia mencintai istrinya. Demi menyenangkan sang istri (dan mengurangi perasaan bersalah-- penyebab kesintingannya separuh gara2 Cassius juga, y’know), sang kakak setuju untuk membawa mereka berdua ke sana.

Dan di sana, entah hasil putaran roda takdir atau tuaian karma, Cassius dan istrinya bertemu dengan seseorang yang tak terduga.

“Oh, halo, kakak.”

Velius berdiri di sana, tersenyum menyambut Cassius, kakak kandung yang membunuhnya delapan tahun yang lalu.

Kolega pembaca .... saya serahkan sisanya kepada anda sendiri untuk menemukan jawaban yang langsung berkecamuk dalam pikiran Cassius : WHAT THE HELL IS GOING ON HERE?!

Yang sudah membaca Hailstorm, atau lebih jauh lagi, pernah membaca cerita-cerita pendek yang penulisnya buat, tentu punya premonisi tersendiri atas cerita dalam novel ini. Dan dugaan kalian memang tidak jauh-- Dude King Fachrul RUN *plakh*kali ini kembali dengan cerita dengan genre horor. Dan kali ini, alih-alih survival horor, King Dudes mengambil percabangan lain dari genre horor, yaitu psychological horrror.

Dan siapa tokoh sial yang menjadi sasaran kesenangan kita membaca kali ini? Yep, tepat: Cassius, sang kakak yang sejak awal nyalinya memang tidak sebesar Klan HatiSinga, akan tersiksa sepanjang sisa cerita, untuk menemukan apakah sosok itu memang Velius; atau apakah ia akan mati dibunuh dalam tidur, kalau-kalau Velius masih ingat apa yang ia perbuat padanya; dan untuk mencegah agar sang istri tidak kabur dari rumah untuk mengejar cinta sejati yang dulu hilang dan kini kembali padanya.

... uh, y’know what? Abaikan saja yang terakhir itu.

Dan, seperti novel Dude King yang sebelumnya, kali ini kita mendapatkan beberapa halaman ilustrasi (karakter-karakter + beberapa adegan klimaks + satu adegan fanservice), yang semuanya mengikuti nuansa cerita tersebut. Lumayan berhasil. Ilustrasi dikerjakan oleh adik sang penulis sendiri, Happy Mayorita, dan diam-diam aku berharap keduanya ada saling bekerja sama membuat grafis novel. Pasti akan keren hasilnya.

Aniwai, setelah sampul, ilustrasi, dan cerita dalamnya sudah kukomentari ...

Sekarang saatnya protes.

Ada apa ini; ada apa dengan banyaknya halaman kosong yang sepertinya disengajakan taruh agar semua awalan bab berada di bagian kanan halaman? Dan apa ini-- margin yang lebar ini, dan header yang nampaknya berada di sana untuk membuat isi halaman jadi sempit begini-- *hfff* *hfff* *hfff*

Well, ujung-ujungnya memang enggak pengaruh ke keasyikan membaca sih. Hanya ... segala hal yang kuprotes di atas sana itu, memberi kesan bahwa buku ini sengaja ditebalkan, agar bisa dijual lebih mahal. Mungkin aku salah (dan besar kemungkinan aku memang salah), but really ... I may say, is cheap trick, kalau itu betul :v aku suka buku, aku suka membaca buku yang isinya bagus, dan terkadang, aku mengoleksi mereka. Tapi, sungguh, ada batas kewajaran untuk pengemasan cerita dalam buku agar jilid tersebut bisa nampak ramah pada kantong dompet segala jenis calon pembeli buku tersebut.

Rupiah semakin turun, damnit. #irrelevant,Iknow

Yah ... itulah kurang lebih rangkuman kesan dan pesan yang kudapatkan setelah selesai membaca buku ini.

Apakah aku menikmati perjalananku di sana? Well, sometimes, the ride was bouncy, and the end’s was kind of ... unsatisfying, tapi aku tidak berbohong kalau aku menikmati waktuku di dalam Redfang. Sebagai penulis, aku mendapat berbagai pelajaran tentang “menyimpatikan karakter yang tidak simpatetik” (danse macabre, wooo~), dan sebagai pembaca, hasrat gelapku untuk mendapatkan suguhan menarik di dalam buku ini ... lumayan terpuaskan.

Kalau saja pengaturan isinya lebih tipis ... sigh. Ah, well, hope you enjoyed this review, and enjoy the story as much as I am. Best of luck for the author and his sister’s next works; and be seeing you on the next interesting book.

Ohiya, sebelum lupa. Di buku ini juga ada frameless, dan sejauh ini, penggambaran sifat mereka adalah penggambaran sifat frameless paling “sukses” yang bisa aku dapat dari ras makhluk unik tersebut.
Profile Image for Manikmaya.
99 reviews40 followers
March 10, 2013
Redfang! Sebuah novel karya King of Awesomeness Fachrul Razi! Pertama kali saya lihat covernya saya langsung mikir ... ini novel apa kartu poker? Kok bentuknya kayak kartu King atau Jack? Tapi nama Fachrul Razi membuat saya melupakan keraguan itu dan memutuskan untuk memesannya langsung pada pengarangnya.

Sejak membaca prolog, saya tahu bahwa buku ini akan menyuguhkan saya sebuah cerita yang keren dan tidak biasa. Untungnya itu benar, ekspetasi saya tidak dikhianati! Prolog dan bab-bab awalnya, pertengahan, hingga bab akhir menyuguhkan sebuah jalinan cerita yang memukau dan membuat saya tidak bisa berhenti membacanya selama 4 jam non-stop!

Ilustrasinya gelap dan bergesan gothic tapi itu sangat cocok dengan alur cerita buku ini yang memang menyuguhkan sisi-sisi gelap manusia. Di sini putih dan hitam tidak dipisahkan oleh sebuah dinding pembatas, di sini putih dan hitam bersatu dalam satu warna : abu-abu.

Membaca buku ini membuat saya teringat akan beberapa kata bijak :

Siapa pria yang berkuasa, ialah yang berhak atas wanita. Dengan segenggam emas dan sekantong permata berkilau seorang wanita dapat terbeli.
Yak! Ungkapan di atas tepat sekali untuk menunjukkan bagaimana seorang Cassius Redfang bisa menggaet seorang wanita pujaannya yang sebenarnya lebih mencintai saudaranya. Tapi karena sekarang Cassius yang berkuasa, andaikan Velius masih hidup sekalipun, Avenia pasti akan dipaksa Silus Mordino untuk menikahi Cassius. Sebuah kenyataan pahit dari wanita-wanita yang hidup di zaman feodal.

King Fachrul benar-benar menggambarkan kondisi ini dengan baik sekali. Seorang Avenia bahkan sampai dibuat ‘gila’ dan ‘sinting’ oleh King Fachrul sehingga tampak sekali menegaskan betapa beratnya penderitaan batin yang diderita oleh Avenia.

Tahta dan harta dapat membuat anak dan ayah saling benci, dan sesama saudara saling bunuh.
Ungkapan di atas ditunjukkan pada awal-awal buku ini. Cassius yang seorang kakak seharusnya mencintai adiknya yang merupakan saudaranya sendiri. Tapi atas dasar nafsu untuk berkuasa, ia memutuskan mengakhiri nyawa adiknya. Lebih parahnya lagi ia melakukannya dengan cara yang tidak kesatria, yang mana ia membutuhkan bantuan banyak orang komplotan untuk menghabisi nyawa adiknya itu.

Penguasa itu bagaikan setumpuk gula yang selalu dikerumuni semut. Orang-orang di sekelilingnya kebanyakan adalah penjilat , tapi ia laksana benda mati – tak kuasa melawan ataupun menyingkirkan mereka.
Kebanyakan penguasa akan menghadapi masalah semacam ini. Dan Cassius adalah tipe penguasa tipikal yang lebih memperhatikan administrasi dan ‘kenyamanan hidupnya’ daripada bertemu dengan rakyatnya. Tipe penguasa semacam ini rentan ‘dikeroyok’ oleh penjilat dan itulah yang terjadi. Silus Mordino selalu membayang-bayangi keputusan Cassius dan selalu membuat Cassius gamang akan berdiri di pihak Silus ataukah di pihak pamannya, Tiberius. Ia tak mampu melawan satu pun dari mereka karena itu akan salah satu dari antara mereka menjadi musuhnya, dan menimbulkan permusuhan antar orang dekat bukanlah cara yang bijak dalam berpolitik.


Politik itu bukan soal benar atau salah, melainkan soal menang atau kalah.


Ikatan persaudaraan yang dijalin bertahun-tahun tak dapat tergerus begitu saja oleh satu hari penuh badai.
Meski Cassius dahulu membunuh Velius demi sebuah tahta, tapi dalam tahun-tahun berikutnya rasa bersalahnya muncul kembali, terlebih setelah kemunculan sosok Velius yang tampak hidup kembali di Hutan Antipa. Ingatan masa kecilnya bersama Velius kembali terlihat sebagai halusinasi. Halusinasi akan kemunculan jenazah Velius juga menerornya, mengingatkan ia kembali akan kesalahannya dahulu. Ia memang sempat merasa bersalah atas tindakannya itu, tapi atas nama ‘harga diri’ ia berkali-kali menyangkal apa kata hati nuraninya – menolak membebaskan diri dari beban rasa bersalah yang sudah ia panggul selama bertahun-tahun.

Dunia ini bukan sebuah negeri dongeng; dan seandainya dunia ini adalah negeri dongeng, dunia ini bukanlah dongeng yang selalu berakhir bahagia.
Oke ... apakah Cassius bahagia dengan tahtanya? Tidak! Ia selalu dibebani oleh istrinya yang sakit jiwa, mertuanya yang merongrong dirinya, dan puncaknya kemunculan kembali adiknya yang sudah pernah ia bunuh. Cassius adalah contoh bagus bagaimana seorang yang mengejar kebahagiaan bak negeri dongeng akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa kebahagiaan yang ia kejar justru membuatnya terperosok ke dalam jurang ketidakbahagiaan.

Akhir kata buku ini layak dibaca bagi siapapun yang menyukai jalan cerita ‘yang tidak biasa’ dan cenderung mengarah ke ‘noir’. King of Awesomeness Fachrul Razi sekali lagi berhasil membuktikan kualitasnya, bahkan kali ini berhasil membuktikan keabsahan dari gelarnya yang lain yakni, Ruler of Nightmare .


P.S. : Saya bukan kritikus atau reviewer yang baik. Tulisan ini hanya ungkapan perasaan dan pendapat pribadi saja.
Profile Image for Putra Wira.
10 reviews1 follower
January 8, 2013
Redfang. Vandaria yang selama ini selalu berputar di dunia fantasi terjun ke luar, dan masuk ke salah satu genre paporit saya, psychological horror. Reaksi pertama jerit2 kegirangan ala fanboy. Reaksi selanjutnya lebih jinak: Skeptis. Yep. Saya super duper skeptis awalnya, apa bisa experimen pertama ini langsung berhasilmenguasai genre tersebut?

Kita liat setelah yang satu ini. Yok, mulai repiunya.

*SPOILER ALERT!!**SPOILER ALERT!!**SPOILER ALERT!!**SPOILER ALERT!!**SPOILER ALERT!!**SPOILER ALERT!!**SPOILER ALERT!!*

Oke, mulai.

- Alur. Benar-benar kampret. Ekspektasi saya ditipu!! Awalnya sudah super skeptis dan kalut bahwa karya ini bakal gagal n jatuh ke jurang. Jadinya malah bagus, benar-benar bagus.

Di buku Bung FachRUN sebelumnya, Hailstorm, saya sudah oke dengan kerealistisan ceritanya. Realistits, bukan berarti ceritanya menyerempet kenyataan, tapi adanya AKSI-REAKSI di sini. Ada sebab dan akibat dari seluruh kejadian dan membentuk suatu kisah yang solid dan berkesinambungan. Di Redfang ini sayangnya ada beberapa plothole yang terjadi, sehingga kesinambungan pun agak patah.

Untungnya finishing combo terakhir di akhir cerita yang menampar di akhir cerita. Ini benar2 tak terduga. Saya sudah yakin sekali Velius palsu ini sebenarnya asli, dibangkitkan dengan kekuatan Deimos atau ditarik dari alam Reigner atau sejenisnya. Kampret, ternyata beneran palsu. Aku ditipu!

Sayang, sayang banget, ntah kenapa saya merasa atmosper dark psychological horror nya sendiri kurang menohok jleb to the heart. Ini murni pendapat pribadi, tapi saya benar benar bilang bahwa semestinya atmosper dark psychological horror ini bisa lebih menusuk saya dengan lebih dalam dan menyakitkan.

Satu lagi kekurangannya: konflik politik disini kurang nancep dan banyak f**k logic disini. Beberapa contoh: Bagaimana mungkin banyak yang tak tahu kalau Velius adalah ahli waris sebenarnya, padahal surat wasiat sang ayah sudah pernah dibacakan di hadapan beberapa orang penting? Cassius bunuh Velius, kenapa ngga ada penjelasan mengenai ketiadaan protes mereka yg pastinya curiga sama Cassius? Kenapa nggak ada penjelasan yang jelas perihal popularitas Velius dan Hailstorm?
Tapi berhubung saya sendiri kurang suka dengan genre politik, kekurangan2 ini pun saya abaikan (<-woi!!)


- Tokoh. Mantap. Sumpah, mantap. Cassius, sang hipster protagonist. Setelah berapa kali membaca novel Vandaria dan diberikan protagonist ganteng nan jagoan macamnya Deus dan Cervale, Cassius langsung menyegarkan saya. Dia tokoh favorit saya di buku ini. Karakter Cassius sangat manusia. Pathetic, lemah, gampang terpengaruh emosi, namun keras kepala dan tak mudah menyerah. Tiap alasan dan perbuatannya benar benar manusia, amat meyakinkan. Karakter di buku-buku lain semakin menguat seiring cerita berjalan. Cassius beda sendiri, dia makin lemah dan menyedihkan seiring jalan.

Sang tokoh pendukung utama, Ninh, pun menjadi faktor amat penting untuk chara setting Cassius. Cassius dikhianati oleh seluruh prajuritnya dan anggota keluarganya. Iya, saya baru sadar, Cassius ini benar-benar dikhianati dan ditinggalkan oleh semua orang. Kecuali Ninh. Ironisnya, satu2nya pengecualian ini malah tewas. Kematiannya juga bagus lagi. Sampai akhir pun dia tetap setia pada Cassius.

Sayang, justru alasan kesetiaan Ninh bertahun2 ini ngga dijelaskan. Sumpah ini sayang banget. Kalau alasan yang satu ini diperjelas, kombo Ninh dan Cassius bakal terasa perfect buat saya.

Akhir hidup Cassius pun keren dan mantap sekali. Kehilangan satu2nya pilar pendukung hidupnya, dia 'melepaskan' diri dan menggorok leherya sendiri. Ini ending yang 'ending'. Bukan 'sad' maupun 'good' ending. Hanya ending saja. Pas, nggak neko-neko. Realistis, ngga muluk-muluk. Sebuah ending yang pas dan sesuai dengan karakter Cassius.

Untuk karakter2 pendukung lainnya. Velius. Hmm, karakternya sudah lumayan digali. Settingnnya pun pas. Namun ntah kenapa saya tak merasa dia pas sebagagai sang Big Boss Badass Antagonist (disingkat B3A *plak*) yang utama. Ntah kenapa malah terlihat biasa.

Avenia. Oh, pantesan Velius rada datar... ternyata masih ada Hidden Antagonist yang tak terduga. Velius sendiri cuma sekadar pengalih perhatian yang meriah untuk menutupi the real bad guy, sang istri. Karakternya dibuat lemah dan tak penting, tapi di akhir malah jadi Last Boss. Lagi-lagi aku ditipu!

Sekalipun begitu, minimnya screen time sang Ibu n Istri memang memberikan surprise di akhir cerita, namun juga membuat revelationnya jadi agak sedikit lumayan AGAK maksa. Sekali lahi ah, AGAK. DIkit banget, tapi tetap saya AGAK kurang sreg dengan Avenia. Tidak jelek tapi masih bisa lebih baik.

Velius palsu sayangnya penjelasannya agak maksa. Solusi yang saya pikirkan mengenai operasi Velius adalah sihir, karena nggak mungkin banget metode fisik bisa menciptakan kembaran sesempurna itu. Satu hal yang selalu kurang dari semua novel Vandaria (iya semua) adalah mekanisme sihir. Sihir merupakan jalan pintas ajaib untuk berbagai macam plothole. Tak pernah dijelaskan bagaimana sistem, proses, maupun konsekuensi dari sihir. Makanya ketika dijelaskan pengubahan Velius palsu (yang notabene anak angkat), saya agak skeptis apa iya segampang itu. Sekali lagi, sihir kurang penjelasan dan menjadi jaln pintas ajaib.

Karakter pendukung lainnya, semacam Silus n Tiberius sudah cukup didevelop untuk porsi karakter utama. Ditambah dengan hubungan dengan karakter2 di Hailstorm.

Penjejak Hitam. Bingung saya. Mereka ini apa? Awalnya terkesan kumpulan assassin, lalu mereka maju menyerbu Ledios dengan agak terang-terangan. Assassin atau prajurit? Plus, penggunaan mereka oleh Silus dan pemecahan fraksi di dalamnya oleh Avenia memberikan masalah baru: WHY? Sekali lagi, kurang penjelasan.

Dan ngomong2 soal Hailstorm... Justina a.k.a. Merryweather muncul! Banzaii!! Tentunya dilengkapi dengan Amurdad a.k.a. Amurzhid a.k.a. Bung Ami Raditya (maksa). Disini sudah tak jelas batas antara Merryweather maupun Ami-chan. Atau malah batas itu sudah lebur sama sekali? Hmm, ada bau2 hidden boss ini. Yakin dah dia muncul lagi belakangan.

Satu lagi yang wajib muncul lagi adalah Irina. Development dan penjelasan charanya di Redfang cuma dijelaskan lewat narasi dan bukannya lewat cerita. Yah, namanya juga karakter pendukung, malah merusak kalo porsinya kebanyakan. Tapi saya beneran ingin si dingin seksi ini muncul lagi, dengan pengenalan yang lebih matang.



- Ending. Hmm, beberapa penjelasan diterapkan dengan singkat, namun memang tidak penting dan kepanjangan kalau malah diceritakan secara terperinci. Namun tetap masih bisa lebih jelas.

Ending buku ini pun sama saja dengan Hailstorm, bukan sebuah impactful ending, namun sebuah penghubung dan awal untuk buku berikutnya. Atau dengan kata lain, cliffhanger. Sungguh suatu taktik ekonomi yang fantastis untuk membuat kami para pembaca membeli buku berikutnya!! *plak*

Anyway, sama sekali bukan ending yang mengecewakan, bagus malah. Ending yang 'ending', namun juga bukan ending. Anda bingung? Sama, saya juga. Ngga bisa ngomong banyak soal endingnya. Pokoknya, tinggal tunggu buku berikutnya.



- Ilustrasi. Hmm, ilustrasinya terasa lebih mengejar ke arah artistik dibandingkan ke arah 'ngomik'. Jujur, ini ilustrasinya masih kurang. Illustrasi yang baik adalah yang bisa mendukung, menyatu dengan cerita, namun tak menenggelamkan cerita itu sendiri. Ilustrasi masih bisa lebih dipermak lagi.

Ilustrasi sampulnya sudah keren, memberikan dua sisi dari koin yang sama. Namun kesannya masih 'terang' dan fantasi, bukan dark psychological horror . Nggak cocok jadinya. Menurut saya lebih cocok kalau warna dan atmosfer sampul Redfang dibuat gelap dan kelam.

Sedikit tambahan pribadi : Doyan saya sama berbagai ilustrasi kematian tokoh. *<-anak psycho, jangan ditiru*



- Satu lagi kekurangan berdasarkan pendapat pribadi saya. Pembawaan cerita, buat saya adalah faktor paling penting sebuah buku, agar bisa menarik pembaca ke dalam dunia buku dan enjoy. Plus harus smooth dan wajar, serta natural. Nah, genre kali ini, dark psychological horror lebih nyusahin lagi, karena pembaca tak boleh sekedar enjoy, namun juga harus ikut merasa tegang dan seram. Bukan berarti perasaan itu tak ada, namun saya pribadi masih ingin ditusuk oleh atmosper dark psychological horror lebih dalam lagi. Mungkin karena ini pertama kalinya Bung FachRUN menulis buku dengan atmosper dark psychological horror ? Yah, yang jelas, masih bisa dipermak lagi. Masih bisa lebih tajam dan menohok lagi.

Ke 'smooth' an pembawaan cerita dan narasi pun masih bisa dipermak lebih baik lagi. Beberapa adegan masih ada yang narasinya terasa agak janggal dan kurang natural.



- Habis. *Yaa, abiss...*


Anyway, by the way, busway, novel yang baik adalah adalah novel yang nikmat dan enak dibaca, dan novel dark psychological horror harus lebih dari sekedar membuat pembaca enjoy. Kami harus dibuat takut, kelam, bahkan sampai depresi oleh buku ini. Redfang sudah cukup sukses dalm membuat saya enjoy, tapi masih bisa menyayat saya lebih dalam lagi.

Review Redfang ini murni pendapat saya sebagai pembaca dan konsumen, dan pastinya berbeda dengan pendapat orang lain. Bila ada yang sakit hati, mohon dimaafkan karena saya tak bermaksud.

Sekian dulu, peace out.
Profile Image for Anindito Alfaritsi.
65 reviews7 followers
August 18, 2014

Sebagai penyuka Hailstorm, novel terdahulu yang Fachrul terbitkan, aku sempat bertanya-tanya karya terbarunya ini, Redfang, bakalan kayak gimana. Masih berlatar di semesta Vandaria, masih berlatar di wilayah Blackmoon yang kelihatannya telah ditetapkan sebagai latar pilihannya, ini enggak mungkin hanya sekedar sebuah kisah petualangan aksi horor lagi ‘kan?

Aku tahu adegan-adegan aksi sama horor telah menjadi salah satu ciri khas tulisan Fachrul. Tapi aku juga enggak ngerasa dia jenis orang yang cuma bakal sekedar ngulang formula yang sama dalam sebuah cerita yang baru pula.

Ajaibnya, waktu Redfang baru mulai ditulis, Fachrul sempat berbaik hati ngasih kisi-kisi soal ceritanya bakalan tentang apa. Dia menyinggung sesuatu soal bagaimana masalah ‘kedaulatan’ yang di angkat kali ini adalah ‘perang sipil’ (ngomong-ngomong, Redfang ini juga masih berlatar di era Kristal Merah). Tentu aja, aku sempat terpana, karena sesuatu dengan skala segede ‘perang sipil’ jelas beda dari petualangan horor + aksi kayak pendahulunya. ‘Damn, pikirku, ‘Orang ini udah berkembang lagi!’ Tapi lalu pada suatu titik, Fachrul tiba-tiba aja cerita kalau tema ceritanya dibanding ide awalnya jadi agak berubah. Dia terpengaruh sesuatu dari Shakespeare. Entah apa. Dan serta merta dalam hati aku kayak langsung, “Hah? Seriusan elo?” sebab tahu-tahu saja, dari tentang intrik pengembangan senjata-senjata rahasia, temanya jadi soal supernatural dan balas dendam.

Ya, aku tahu ini masih khas Fachrul sih. Cuma, aku juga dengar kalau soal intrik soal senjata rahasia itu enggak akan dihilangin. Makanya, aku agak… bingung dia bakalan masukin semuanya gimana.

Fachrul lalu sempet nunjukin draft awalnya ke saya. Lalu karena berhubung kayaknya ini kesempatan yang tepat, aku mau sekalian bikin pengakuan dan permintaan maaf juga.

King, kalau kau baca ini, SORIIIII! Sebenernya itu draft ga pernah kubaca ampe abis!

Aku ngerasa draftnya agak-agak berbau komik-komik shoujo gitu (moi langsung ‘wadefak’ pas ngerasa gini). Lalu aku jadi takut sendiri buat ngebaca lanjutannya. Takut kalau ntar pas aku baca versi cetaknya, imej para tokohnya bakalan udah kelanjur ‘kecemar’ ama versi yang ada di draft awal.

Sebenernya,  mungkin ini cuma aku aja sih. Dan bedanya di segi konsep dibanding versi cetak juga sebenernya enggak jauh-jauh amat. Tapi aku ngerasa kayak gitu, jadi, yah, apa boleh buat.

Eniwei, balik soal ceritanya sendiri, buku ini rame. Kalau kamu suka Hailstorm, aku sangat nyaranin buat beli buku ini.

Beberapa tahun sebelum cerita dimulai, Cassius Redfang telah membunuh adik kandungnya sendiri untuk merebut tahta wilayah kebangsawanan yang dia rasa udah menjadi haknya. Sesudah melewati masa kecil yang bisa dibilang enggak bahagia, Cassius seakan ngedapetin semua yang didambakannya. Kekuasaan, kehormatan, dan bahkan gadis pujaannya sebagai istrinya—yang sebenernya adalah mantan tunangan sang adik.

Tapi masalah mulai timbul saat suatu hari, sang istri—yang menjadi agak sakit jiwa semenjak itu—lewat mimpi kemudian membawa Cassius untuk menemui sosok sang adik, yang entah gimana nampaknya telah hidup kembali. Lalu sosok sang adik kemudian mulai meneror kakaknya demi memperoleh tahta yang dia rasa sebenarnya adalah haknya.

Redfang berkisah tentang segala daya dan upaya Cassius dalam mengungkap misteri tentang kemunculan kembali adiknya ini. Masalahnya, adiknya itu muncul di saat yang sangat enggak tepat bagi Cassius. Sebab keluarga bangsawan Hailstorm di wilayah utara secara perlahan tapi pasti seakan hendak memakan wilayah kekuasaannya. Lalu timbul banyak desas-desus tentang telah munculnya deimos, makhluk-makhluk terkutuk yang dulu diusir dari alam pada masa penciptaan Vandaria. Sebuah perang sipil benar-benar ada di ambang mata, dan Cassius berada di posisi yang menentukan hasilnya.

Tertekan oleh rumitnya situasi sekaligus beban rasa bersalahnya sendiri, Cassius mendapati dirinya semakin kesulitan menemukan orang-orang yang bisa ia percayai. Keadaannya diperparah dengan berbagai visi dan mimpi buruk aneh yang belakangan kerap dilihatnya…

Apa kemunculan kembali Velius, adik Cassius yang karismatik ini, ada kaitannya dengan desas-desus soal deimos? Apa ini siasat suatu keluarga bangsawan lain yang hendak merebut wilayah keluarga Redfang? Ataukah ini semua hanya secuil dari ‘sesuatu’ yang lebih besar lagi?

Redfang memang paling enak dibaca sesudah Hailstorm. Tapi andaikata kau pembaca baru di dunia Vandaria yang mau langsung mulai dari Redfang juga enggak terlalu masalah. Toh sama-sama tetap ada beberapa hal minor yang tak terjelaskan hingga akhir cerita, yang juga kurang dipahami oleh mereka yang telah membaca (ehemakuehem) Hailstorm sekalipun.

Kualitas cetak maupun tata letak isinya bagus. Lalu ilustrasi dalam yang dikerjakan Nona Happy Mayorita menurutku beneran pas dengan suasana macabre cerita.

Soal kekurangan, aku sempat nemu beberapa salah ketik. Bukan salah eja; cuma kayak maksudnya mau mengetik A, tapi jadinya enggak sadar malah mengetik B. Kekurangan yang sangat minor. Lalu dari segi ceritanya sendiri, ini cerita bertempo cepat yang sangat ‘streng’ dari seperempat pertama cerita hingga akhir. Jadi mungkin agak bikin capek kalau dibaca sekaligus.

Terlepas dari semuanya, ini cerita seru dengan misteri dan beragam adegan ‘aneh’ yang membuat waswas sekaligus penasaran hingga akhir. Lalu mesti aku bilang kalau akhirnya ceritanya memang lumayan ngejutin. (Aku beneran bersyukur versi draft awalnya itu enggak ampe kubaca.)

Sayang, ini emang bukan jenis cerita yang bakal cocok buat semua orang. Seperti Hailstorm, ada sejumlah adegan berdarah yang bisa bikin orang-orang tertentu enggak sreg. (Tapi emang ada cerita yang cocok buat semua orang? …Oke, mungkin emang ada.) Tapi ini cerita yang terbilang unik, dengan jenis ide yang jarang ada sebelumnya. Rasanya sayang aja kalau enggak coba baca. Fachrul menurutku salah seorang penulis populer Indonesia yang one-of-a-kind. Dan lagi segi berdarah-darahnya itu IMO sebenarnya enggak terlalu parah kok.

Aku kasih 4.2 dari 5. Tapi berhubung ada sejumlah adegan mention dan cameo yang beneran bagus, aku kasih bonus 0.5 jadi 4.7, dibulat jadi 5. Dengan kata lain, sekaligus dengan mempertimbangkan apa-apa yang sebelumnya kukenal dari Fachrul—aku tahu masih ada beberapa kelemahannya, kayak soal hal-hal kecil yang enggak dijelasin tadi—but yeah, it was awesome.

4 reviews
January 9, 2013
REDFANG, Physcology Dark Horror Thriller ala Vandaria Saga

Kenapa saya menggunakan judul demikian? Karena saya pengen review ini dipajang pada Newsletter Vandaria hehehehe berharap boleh ‘kan.

“Beli buku ini!”, begitu kata Zen Horakti pada reviewnya di Youtube. Tidak heran beliau mengatakan demikian karena memang buku ini sangat bagus. Bisa dibilang paling bagus dan berkualitas. Saya pun tak ragu memberikan bintang lima pada Redfang. Kualitasnya ceritanya sangat luar biasa, begitu juga dengan tahap mencari novelnya. (Saya mau jawab pernyataan dari bang Zen Horakti: “saya sudah beli bukunya langsung dari penulisnya kekekekeke)

Dikarenakan satu dan hal lain maka sang penerbit men-delay perilisan novel ini dalam waktu yang cukup lama sehingga saya harus berjuang untuk menghubungi sang penulis untuk mendapatkan novel ini. Tidak cukup dengan itu, saya pun harus bersabar menunggu dua hari setelah perilisan untuk mendapatkan novel Redfang secara langsung. Kesabaran dan rasa keinginan membaca yang besar itu pun terbayar karena cerita Redfang sangat bagus.

Tidak sepantasnya saya menspoilerkan seluruh isi novel ini disini karena akan mengurangi rasa excitement para pembaca sekalian. Jadi review ini saya buat secukupnya demi sang penulis.

Bagi saya Redfang adalah novel Physcology Dark horror thriller. Gabungan antara misteri – horor – teka-teki – ketegangan pisikologis – suasana kelam dan gelap. Sebuah genre yang belum ada di novel Vandaria manapun, begitu juga dengan novel-novel fantasi yang pernah saya baca sebelumnya. MemangHailstorm bergenre mystery dan thriller juga, tetapi lebih menonjolkan aksi sihir mana di sana-sini, monster di sana-sini serta setting tempat di Reigner atau bisa disebut alam lain. Tapi Redfang lain … Redfang berlatar-belakangkan tanah Vandaria, tanah dimana manusia-frameless hidup berdampingan. Redfang tidak menonjolkan sihir-sihir. Redfang menunjukan satu kata: manusiawi. Ya, manusiawi! Karena tokoh-tokoh penting di Redfang mayoritas adalah manusia, dan manusia itulah yang diuatk-atik oleh Fachrul The Awesome King. Sifat manusiawi inilah yang membuat saya menaruh bintang lima, yup … sifat manusiawi yang belum saya temukan di novel vandaria mana pun.

Untuk urusan karakterisasi, saya harus bilang two thumbs up, karena pembagian porsi karakternya sangat pass! Porsi Cassius, Ninh, Silus, Velius, Avenia, Justina, dan Irina sangat sempurna, tidak ada yang tumpang tindih, tidak ada yang lebih dan kurang. Hanya saja ada satu yang menurut saya kurang, yakni hubungan Cassius dan Avenia. Penggambaran Cassius dan Avenia kurang memperlihatkan kasih sayang Cassius yang berlebihan, padahal dia sayang sekali dengan istrinya. Seharusnya Cassius – Avenia digambarkan dengan penuh keromantisan dan juga hasrat cinta dari Cassius. Namun dari semua karakter, saya paling suka dengan hubungan Cassius dan Ninh. Sebagai pembaca, saya melihat Cassius itu lebih intim dengan Ninh ketimbang Avenia yang notabene istri sang Duke sendiri. Hubungan Cassius – Silus sangat bagus, terlihat kelicikan dan kepicikan dari si mertua ke menantunya. Timing kemunculan Velius sendiri sangat sempurna, begitu juga dengan peran Irina sang Irvana yang saya rasa cukup dan tidak terlalu dominan, begitu pula dengan Justina. Avenia sang mastermind kurang banyak memperlihatkan peran pada awalnya, dan hanya berlagak gila saja, hanya saja penyelesaian akhirnya membuat saya puas dan gak bisa komplain apa-apa.

Banyak yang bilang ending sulit ditebak, dan memang sih … sulit, tapi sebenarnya saya bisa memunculkan beberapa kemungkikan ending, tapi yah … memang sulit untuk ditebak. Endingnya sangat berkelas dan memaksa saya untuk membuka setiap halaman tanpa henti sampai akhir untuk mengetahui siapa Velius yang muncul tiba-tiba dan siapa dalang dibalik semua itu. Ending yang baik meskipun tidak sampai “BANG!”, namun masih memberikan tamparan yang cukup keras bagi pembaca pada saat mengetahui ending-nya. Andaikata relationship Avenia – Cassius dibangun dengan intim dan intense dari pertama, mungkin akan menjad “BANG!” ending.

Plot cerita sangat epic. Halusinasi-halusinasi horror yang dialami oleh Cassius dapat di-visualisasikan, dan bicara halusinasi itu memang signaturenya King Awesome, yang ada juga dalam Hailstorm. Babak tiap babak tergambar dengan baik, setiap misteri dikupas dengan baik, rencana-rencana licik di eksekusi dengan sempurna, terutama pada bagian pengadilan Valta, juga dengan deskripsi perang di Irynthium dan Ledios digarap dengan baik. Last Battle juga. Permainan tempo yang baik, kadang cepat, kadang lambat, kadang cepat sekali dan kadang-kadang mem-flash back dan tiba-tiba klimaks. Berkelas!

Penulisan cerita sendiri mengalami peningkatan dari pada Hailstorm, dan dibanding seluruh Vandaria Series, Redfang memiliki kualitas penulisan yang sangat friendly read, bahkan lebih jauh pemilihan kata-kata di novel ini sangat berkelas. Top class for the awesome king.

Ilustrasi … wow horror banget! Bagaikan kaca patri yang indah menghiasi gereja, begitu juga dengan ilustrasi dalam Redfang. Gothic Horror, pas untuk novel dengan genre seperti ini. Kombinasi yang baik dari King Awesome dan sang adik (apa nih namanya? Awesome Queen?). Untuk sampul depan, seperti kartu remi. kombinasi yang bagus dan sangat menggambarkan isi dari novel itu sendiri.

Kalau mau dibilang stand alone novel, sebenarnya membaca Redfang lebih bagus kalo sudah membaca Hailstorm. Ini karena ada Justina Effect nya. Siapa Justina? ya baca aja di Hailstorm

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan novel ini, Saya sangat puas dengan pencapaian Vandaria sampai dengan Redfang. Dengan awal yang sangat baik di awal tahun dan akhir yang “BANG!” di akhir/awal tahun 2013. Kick off yang sangat indah dari Masa Elir, dan goal yang menawan pada Redfang, meskipun ada U-Turn dibeberapa novel, tapi sampai saat ini, Vandaria Saga masih berada di jalur yang tepat. Viva Vandaria! Dan semoga review ini terpajang di newsletter.
My last word: “BELI BUKU INI!” –Zen Horakti

Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
March 11, 2013
Wow, sungguh sebuah cerita yang tidak main-main dan benar-benar tidak nanggung. Itulah impresi saya setelah merampungkan membaca seri Vandaria terbaru Redfang ini. Menggambil setting kerajaan Valta di masa ketika Kerajaan Nirvana berkuasa dan baik frameless maupun manusia memiliki kedudukan yang setara, Redfang masih menyoroti tema yang sama dengan karya penulis sebelumnya, Hailstorm. Cerita masih berkutat tentang ambisi, tapi dalam Redfang ambisi itu telah begitu politis dan luar biasa absurb sehingga menjadikan masalah yang muncul semakin membesar. Semakin ke belakang, keadaan tidak bertambah baik dan cenderung memburuk. Persis seperti dalam buku Hailstorm, buku ini benar-benar mengumbar darah dan kematian. Jika dihitung, entah ada berapa banyak darah yang tumbah atau tokoh yang menjumpai maut sepanjang cerita. Sadis mungkin, tapi penulis benar-benar konsisten dalam menyusun ceritanya. Kentara sekali bahwa ia mampu menjaga alur dan penokohan, sehingga pembaca (walau eneg dengan segala unsur negatif dalam kisah ini) tanpa sadar ikut larut dalam jalannya kisah.

Semuanya berawal dari makar Cassius Redfang yang demi ambisi pribadinya telah rela menghabisi adik kandungnya sendiri Velius. Ketika tahta tidak jatuh ke tangannya, secara licik ia mengundang adiknya dalam duel maut untuk menentukan siapa yang berhak. Dan, sebagaimana politik pada umumnya, yang culaslah yang menang. Cassius berhasil membunuh Velius lewat kecurangan dan pertarungan yang tidak adil. Hilang sudah sikap ksatria dalam dirinya. Cassius pun diangkat menjadi raja di Canivius dan pemerintahannya berjalan hampir tanpa insiden apapun. Kemudian, semuanya berubah ketika entah bagaimana sang adik tiba-tiba hidup kembali dari alam kubur. Bukan hanya hidup lagi, tapi ia juga mengincar sang kakak dan terus menerus membayanginya, membunuhi antek-antek dan orang-orang kepercayaan Cassius.

Memang, semua yang didapatkan lewat cara yang culas tidak akan pernah memberikan ketentraman atau kemenangan sejati. Cassius memang berhasil merebut tampuk tahta, namun dirinya goyah dan tidak tenang karena merasa telah melakukan kesalahan yang tak terampunkan. Bahkan, istri dan harta serta jabatannya tidak mampu memberikan kepuasan batin. Masalahnya semakin bertambah dengan kehadiran kembali Velius yang diduga telah tewas. Orang itu benar-benar kuat dan merongrong baik jiwa dan raga Cassius, membuat sang raja menjadi gila secara perlahan-lahan.

Kemudian, perang pun pecah. Dan, Cassius seperti telah kehilangan kewarasan maupun tahtanya. Intrik-intrik politik antara keluarga kerajaan berkelindan di sekitarnya, begitu kotor dan memuakkan, dengan satu rencana makar dan bertumpanng tindih dengan rencana makar lainnya. Tanpa disadari, ada sebuah sekenario besar tengah berlangsung hendak mengguncang Kerajaan Valta. Berkaitan dengan pemujaan terhadap deimos, senjata-senjata tak terkalahkan, hingga manusia-manusia kuat yang sepertinya tidak memiliki keinginan lain kecuali bertarung. Di penghujung cerita, akan terkuak siapa sebenarnya dalang dibalik semua masalah tersebut, sebuah alur makar yang disusun ecara cermat dan halus sekali, dan berhasil memukul secara telak kekuasaan Cassius Redfang secara telak.

Membaca Redfang, pembaca harus siap menjumpai pertarungan yang berlangsung dengan sangat sengit sekaligus berdarah-darah. Tubuh yang hancur, tangan yang patah, hingga tubuh yang remuk; semuanya disajikan secara gamblang oleh penulis. Terlihat benar bahwa penulis tidak mau setengah-setengah dalam menggarap novel ini. Alurnya juga cepat, dengan deretan misteri serta makar politik kotor yang saling berjalinan. Bisa dibilang, Redfang mengikuti Hailstorm dari segi pengemasan cerita dan juga karakterisasi, yang diciri dengan tokoh petarung yang kuat, alur cerita yang muram, dan juga kematian di mana-mana. Ini adalah seri Vandaria yang keras, Tabir Nalar apalagi Trilogi Elir jauh lebih lembut jika dibandingkan dengan Redfang. Namun demikian, ceritanya telah dijalin rapat dan utuh, mengalir lancar serta konsisten. Yang jelas, masih akan ada kelanjutan dari seri keluarga bangsawan ini.

Kita tunggu bersama apakah buku ketiga akan segera rilis dengan judul nama keluarga bangsawan lagi? Mordino? atau judul lain?

*anteng nunggu
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
July 29, 2013
Judul: Redfang
Penulis: Fachrul R.U.N.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 452 halaman
Terbit: Desember 2012

Delapan tahun silam, Cassius Redfang menghabisi adiknya demi menyandang gelar warisan sang ayah. Sekarang, dipandu mimpi ganjil istrinya, Cassius menemukan fakta mengejutkan, sang adik telah kembali mewujud di dunia. Dilanda kebingungan, Cassius mulai mencoba menyingkap teka-teki di balik kebangkitan adiknya. Mukjizat para Vanadis-kah? Tipuan? Ataukah.... orang itu justru berhubungan dengan hawa gelap yang menyeruak perlahan di negeri Blackmoon? Segalanya serba gelap...

Review

Buku ke-3 dari seri Vandaria Saga. Setelah sebelumnya menjelajahi Vandaria lewat Sang Penantang Takdir dan Takdir Elir, kali ini saya bertamu ke tanah Vandaria lewat Redfang.

Sejauh ini, dari 3 buku Vandaria yang sudah saya baca, buku inilah yang paling menarik. Hal ini terbukti dari jumlah bintang yang saya berikan. Yang tertinggi untuk seri Vandaria sejauh ini.

Saya suka dengan karakter-karakter yang ada. IMO, Cassius adalah salah satu tokoh paling menarik di dunia fikfan dalam negeri yang pernah saya baca. Saya suka pergulatan mentalnya, khususnya di bagian akhir cerita. Saya suka bagaimana penulisnya menggunakan tokoh "hitam" sebagai protagonis cerita dan mampu membuat saya bersimpati padanya. Saya juga suka dengan keputusan pengarang untuk "membunuh" salah satu tokoh utama dalam cerita.

Walau soal karakter ini, saya sempat agak bingung juga sih. Saya pertama kira si Justina itu tokoh utama dari "Hailstorm" loh :))
Maklum, saya belum baca bukunya. Jadi pas lihat nama belakangnya, saya main asal tebak saja. Terus si Irina juga saya kira tokoh utama dari "Tabir Nalar". Habis saya ingatnya tokoh utama di "Tabir Nalar" bisa baca pikiran, terus si Irina juga bisa. Saya kira ada semacam crossover tokoh :))

Hmm... Saya bingung mau komentar apa lagi. Secara keseluruhan narasi, plot, dan karakternya ok banget. Kovernya juga keren.

Mungkin cuma endingnya yang terasa agak, hmm... kurang greget. Khususnya di bagian bab terakhirnya yang gantung itu.

Thanks buat Kastil Fantasi yang sudah kirim buku ini sebagai hadiah.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2013 New Authors Reading Challenge
- 2013 What's in A Name Reading Challenge
- 2013 Indonesian Romance Reading Challenge
Profile Image for Alex.
Author 7 books11 followers
January 4, 2013
414 pages. 83.000? Totally worth my money and time!

Fachrul has surpassed his own limit by writing Redfang (2013) after his work, Hailstorm (2012). I thought Hailstorm was already gruesome, hellish, disoriented enough and then.. Redfang pooped out and it has really opened my eyes that fantasy and gruesome thriller can definitely be merged into a dazzling plot.

The main anti-hero, Cassius, is the only pitiful main character in all of Vandaria's novels I've read so far. Fachrul really did his homework well by creating this 'Cassius'. His motives, desires, fears and mostly his schizophrenia episodes woven into this overflowing plot which I could simply define as gushing torrents of pain and mysteries. But no, this is not just a mystery novel, this is a thriller novel using mystery and fantasy as its plot core.

Cassius' episodes of 'imagination' were well-put and I don't know why but I can imagine (and compare)such of the Otherworld concept from Silent Hill franchise, that, and other hellish themed world orientation. I love and hate Cassius at the same time. I despise him for his visible weaknesses, but I also pity his fate throughout this novel. He is an anti-hero turning into a tragic hero..

Frankly speaking, I don't really like politics but I do love the intrigues Redfang gave.. they were decent. Well done! However I do admit I wonder about some 'casualties' occurred in the novel but somehow, they were supposedly there and without those 'casualties' this will not be a Redfang, I believe.

My favorite parts would be from Chapter 33 until almost epilogue, I don't want to spoil anything but the concept of masquerade party in a town at night thrilled me. Great job!

Overall, after reading Redfang I am officially pleased with it and will definitely waiting for another 'kingdomly named' novel (perhaps)from Fachrul.

FYI, there are some lovely cameos from several previous Vandaria novels.. and if you read carefully you may find that Fachrul was inserting a hint or two regarding the basic of Vandaria's lore (maybe). Again, I don't want to spoil but, I do recommend you read carefully, especially near the ending :)

To sums up... Fachrul, King of Awesomeness...

Great job!
2 reviews
January 2, 2013
Sebuah sequel dari Hailstorm, dilihat dari sudut pandang karakter lain. Begitu kesan yang saya dapat setelah melahap habis cerita epik ini. Dengan tema utama yang berbeda dari novel-novel Vandaria lainnya, kali ini pembaca disuguhkan oleh cerita kebangsawanan yang penuh plot dan politik.

Berbeda dari Hailstorm yang mengisahkan tentang petualangan sekelompok manusia ke alam Deimos, Redfang menceritakan tentang kisah hidup seorang 'kinslayer', bangsawan yang membunuh adiknya sendiri demi posisi ayahnya yang telah wafat. Keseluruhan cerita digarap dengan baik sekali, menyisakan pertanyaan demi pertanyaan di akhir tiap Chapter buku ini.

Hal yang menarik untuk saya pribadi adalah munculnya kembali beberapa tokoh dari novel sebelumnya, bahkan dari Harta Vaeran karya Pratama Wirya yang menunjukkan sebuah keterikatan antara cerita dari novel tersebut. Tentu, beberapa tokoh yang pernah diperkenalkan di Hailstorm kembali disebut-sebut, bahkan ada yang mendapat porsi cerita yang cukup banyak. Elemen misteri yang disajikan pun memaksa saya untuk terus menerus membaca novel ini hingga habis. Dan tentu saja, yang membuat saya suka dengan karya sang penulis adalah, Fachrul tidak segan-segan 'membunuh' tokoh-tokohnya sendiri. Artwork dari novel ini juga menarik untuk saya, karena memiliki gaya yang berbeda dari artwork novel Vandaria lainnya (yang mungkin belum terlahap oleh saya).

Ada hal yang menarik, ada pula hal yang mengecewakan. Ada bagian dari cerita yang justru menjadi spoiler tentang adegan yang akan terjadi berikutnya. Beberapa plot akhir juga tidak sekontroversial Hailstorm, bahkan mungkin terlalu 'normal' untuk sebuah novel fantasi. Juga terlalu banyaknya politik yang disuguhkan membuat saya ingin buru-buru untuk membaca adegan berikutnya, karena toh saya memang tidak berminat pada politik.

Akhir kata, novel ini bagus sekali, saya rekomendasikan kepada Anda, para penggemar serial Vandaria, atau penikmat Hailstorm. Also, I demand more Justina in the future!

Cheers!


Profile Image for Dan T.D..
12 reviews
January 13, 2013
Random thoughts :

-Covernya bikin gue orgasme.
-Ilustrasi meskipun kadang agak kedodoran tapi penempatannya sangat apik. Sayang adegan Ninh nyukur jenggotnya Cassius kurang intens di tulisan (baca : gue berharap ada benih-benih cinta disitu... yeah, I'm shipping here) padahal ilustrasinya bagus disitu :p
-Gaya penulisan di awal agak 'eksesif', tidak redundan, tidak banyak pengulangan, tapi eksesif. Dunno why. Tapi makin ke akhir perasaan eksesif di diri gue makin hilang. One thing I'm sure of though, penulisannya agak mirip novel terjemahan (ga, gue ga bilang penulisan yang gitu jelek. Biasa aja).
-Cerita dari awal sampe akhir bisa bikin gue engaged. Niiiice, belum pernah gue baca novel fantasi bikinan anak bangsa yang seseru ini (FYI gue belum baca Hailstorm, rencananya mau tukeran sama temen).
-Twist-twist yang ada kena semua. Yang terakhir agak bikin kaget, karena sang Raja Narsis menaruh 'jebakan' berupa teori deimos di awal.
-Justina's amusing, really.
-Karakter entah kenapa agak bikin kecewa. Kurang dalam karakternya, really. Agak seperti plot device. Serius, mungkin gue pengen lebih banyak emosi negatif yang keluar dari dirinya. 12 tahun disekap dan dilatih membabi buta emangnya ga bikin dendam dan angst yang gede ya? *lirik Guts dari Berserk*
-Epilog agak datar. Conversation antara Justina dan di akhir terlalu... gimana ya...
-Raja Narsis sukses bikin Cassius despicable tapi masih bisa bikin orang simpati. At least for me.
-
-Frameless disini bener-bener Frame less. My favorite.

Sekian random thoughts dari orang yang males bikin review berbentuk paragraf. 3,8 bintang. Sebenarnya kalau gue tega bisa turun karena 'plot device' itu bener-bener major issue.

EDIT : keaknya gue terlalu baik kemaren :p abis baca ulang, major issue yang satu itu bener2 mengganggu :/ 3 stars.
Profile Image for Erwin Adriansyah.
Author 3 books6 followers
January 7, 2013
Peringatan: Resensi ini penuh dengan SPOILER, dan penulis resensinya terlalu malas untuk memberi tag spoiler. Silakan dibaca kalo berkenan dengan spoiler dan menginginkan penjelasan detail kenapa penulis resensi hanya memberikan satu bintang kepada Redfang.


Sampul

Cassius dan Velius, ditampilkan ala kartu raja. Waktu pertama liat di internet, terus terang saya “Ugh, kok gitu amat sih?” Entahlah, seolah ada unresolved sexual tension antara mereka. Atau menyiratkan masalah kepribadian ganda. Dan setelah liat dalam bentuk dan ukuran aslinya, emang masih terasa UST dan MPD sih, tapi setidaknya sampulnya kelihatan lebih baik, tapi tetap menurut saya sampul Hailstorm dengan segala kesederhanaannya tuh lebih menarik daripada Redfang.


Cerita

Dan sayangnya, cerita Hailstorm lebih superior daripada Redfang. Terlepas dari berbagai permasalahan Hailstorm (dialog jelek), ceritanya simpel: rombongan pergi ke neraka (or Reigner or whatever) dan ngalamin neraka seneraka-nerakanya. Nggak pernah sekalipun dia ngebohongin dirinya bahwa dia lebih dari itu. Dan itu yang bikin Hailstorm enjoyable. Hal yang sama kurang lebih berlaku untuk Sang Penantang Takdir dengan segala aksi pembantaian naganya.

Redfang … beda. Di satu sisi dia psychological thriller, di satu sisi dia drama politik. Di tangan yang benar, perkawinan genre psychological thriller dan political thriller akan jadi porno sastra yang luar biasa manjur. Tapi tidak di Redfang. No, not by a long shot.

Sebagai psychological thriller, Redfang tuh udah di jalan yang benar. Masalahnya, dia dipadukan dengan political thriller yang jauh dari memuaskan. Alhasil, Redfang seolah bingung menemukan jati dirinya. Psychological thriller yang menawankah? Ataukah political thriller yang, ahem, jelek?

Mari kita mulai pembahasan yang lebih mendalam. Tadi saya sudah bilang bahwa sebagai psychological thriller, Redfang tuh udah di jalan yang benar, atau kalau boleh saya perjelas, menawan. Pembaca dapat merasakan pergeseran kewarasan Cassius secara perlahan-lahan, a slow descent to madness. Penggambaran deteriorasi mentalnya superb. Halusinasi, mimpi buruk, dan lain sebagainya, lengkap, pol, komplet. Dan tingkah polah sosok Vel yang seolah bangkit dari kematian menjadi pemanis yang sedap, menghasilkan cerita thriller yang nggak akan malu-maluin genre thriller.

Sayangnya, begitu kegilaan Cas mulai merembet ke ranah politik, keindahan ceritanya menurun jauh. Hal itu dikarenakan aspek politik cerita ini tuh basic banget. Penuh hal-hal yang nggak masuk akal. Cerita bermula dari kematian Duke Claudius Redfang, ayah Cassius dan Velius. Dalam wasiatnya, Claudius menunjuk Velius sebagai penerusnya. Dari sinilah ceritanya mulai berantakan.

Tadi saya sudah sebut bahwa wasiat sang ayah menunjuk Vel sebagai pewaris kekuasaan. Beberapa hari berikutnya Cas membujuk Vel untuk menyerahkan tampuk kekuasaan. Beberapa hari. Vel menolak dan akhirnya mereka memutuskan untuk duel di tempat terpencil di mana Cas menyergap Vel dengan pasukannya. Pasukan.

Ini kutipan dari halaman 3:

“Pengusutan menghilangnya Velius dilakukan dengan gencar, apa lagi setelah tersiar kabar bahwa pemuda itu adalah ahli waris sesungguhnya.”

Sekali lagi itu dari halaman 3. Prolog + 3 halaman udah keliatan nggak benernya. Oke, supaya bener-bener jelas, saya akan menjelaskan sejelas-jelasnya. Pertama, wasiat itu udah dibacakan. Tidak disebutkan siapa-siapa yang hadir dalam pembacaan wasiat itu, tapi logikanya adalah cukup banyak orang yang hadir mengingat ini merupakan peralihan kekuasaan. Logikanya pula bahwa pengumuman ini akan disebarluaskan kepada khalayak ramai.

Dan berhari-hari kemudian Cas membujuk Vel. Logikanya, selama beberapa hari tersebut kabar pengangkatan tersebut sudah tersebar luas ke mana-mana.

Yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa Cas ngajak Vel pergi gitu aja secara diam-diam untuk dibunuh dan setelahnya Cas bisa lolos begitu aja dari penyelidikan. Kalo ada apa-apa terhadap pemimpin sah, dalam hal ini Vel, Cas tuh otomatis jadi tersangka utama. Belum lagi mengingat fakta bahwa dia bawa pasukan pula.

Balik lagi ke kutipan halaman 3 di atas. Kenapa pula kayaknya rakyat baru tahu belakangan bahwa Vel tuh pewaris resmi? Itu administrasi pemerintahan ngapain aja selama beberapa hari? Kok pengangkatan Vel sebagai pewaris sah nggak diumumin?

Terus cerita ini seolah maksain bahwa Vel tuh lebih baik atau superior, setidaknya dari Cas. Masih di awal cerita, digambarkan bahwa rakyat miskin begitu memuja Vel sampe-sampe bikin patung segala. Padahal apa jasa Vel terhadap mereka? Sejauh ini Vel digambarkan sebagai pemuda yang beringas, all brawn and no brains. Fakta, dia sampe terbunuh. Itu artinya dia nggak cerdas-cerdas banget toh. Belum lagi soal patung. Seriously, bikin patung tuh susah mampus. Kalo sekadar poster atau tulisan “Velius Lives!” di tembok, mungkin lebih masuk akal. Belum lagi mengingat Vel nggak pernah berkuasa. Kalo dia udah pernah jadi pemimpin dan mimpin rakyatnya, boleh deh dikultusin seperti NU ngultusin Gus Dur atas segala prestasi dan pencapaian dia.

Next, segala intrik politik yang terjadi berikutnya juga nggak memuaskan. Gini, Cas bunuh Vel dengan bantuan pasukan Penjejak Malam yang dipinjemin oleh Silus Mordino. Tapi cek kutipan dari halaman 51:

Ia tidak pernah menolak terang-terangan karena ia takut Silus malah akan memanfaatkan Penjejak Malam untuk mencemarkan namanya.

Dan halaman 55:

Silus semakin berang, “Aku sudah memberikan banyak bantuan untukmu, Bocah. Siapa yang menyapu jejakmu ketika kau mengambil alih kota ini? Aku. Siapa yang membiarkanmu menikahi putriku? Aku. Tunjukkan terima kasihmu. Bantu aku di saat aku membutuhkanmu.”

Jelas banget, Cas dan Silus tuh sama-sama nggak ngerti permainan politik. Cas harusnya sadar bahwa masalah terbesarnya bukan pencemaran nama baik. Simpel aja, Penjejak Malam udah bunuh Vel. Apa alasan mereka nggak akan bunuh Cas juga?

Dan Silus tuh bener-bener buta soal political leverage. Dia sama sekali nggak sadar bahwa dengan political leverage yang dimilikinya saat ini, dia tuh bener-bener mampu jadi penguasa de facto dan jadiin Cas boneka sejak awal. Granted, pada akhirnya emang Cas jadi bonekanya Silus, tapi terus terang bukan pencapaian impresif mengingat udah 8 tahun berselang dan lebih karena Cas udah gendeng.

Tiberius pun setali tiga uang. Lengkap dengan kalimat brilian di halaman 177 sebagai berikut:

Tiberius menggeleng. “Untuk orang yang seharusnya begitu cerdik dan licik, kau kurang ahli dalam memilih kata-kata. Ucapanmu barusan itu bodoh sekali.”

The pot calling the kettle black. No tact, no wit, no nothing, just plain good ol’ first graders’ insult.

Ini sayang, padahal taktik hit and run Vel dalam psychological warfare melawan Cas tuh keren abis. Jujur saja, saya jadi bertanya-tanya, tegang dan terpesona di saat yang sama, sekaligus terus membalik halaman secara antusias.

Irina dan Nimh juga memainkan perannya dengan baik. Mereka memajukan jalan cerita tanpa mencuri sorotan dari para pelakon utama. Keduanya juga nggak memperburuk kualitas cerita. Terus terang, Irina dan Nimh bukan karakter menarik, but they get the job done.

Lalu sampailah kita pada pengujung cerita. The reveal. Momen saat Scooby Doo, Shaggy dan kawan-kawan menyingkap topeng monster yang dikenakan sang antagonis. Sekali lagi sayang, Redfang tampil buruk di bagian ini.

Mari mulai dengan sang model sampul, Velius. Di pengujung cerita dijelaskan bahwa dia adalah anak angkat Avenia yang digembleng habis-habisan dan dicekokin obat. Well, kecuali kalo cerita menyebutkan bahwa Vel menjalani operasi plastik dan kursus voice actor, I don’t buy it. Not. One. Bit.

Pertama, dia bukan anak kandung Vel yang asli. Avenia mungut itu bocah 7 tahun lalu, pas dia umur 12 tahun. Saya sangat meragukan Avenia bisa mengingat seperti apa Vel asli di usia 12 tahun, kecuali Avenia dan konco-konconya nyari bocah yang mirip Vel 12 tahun sambil bawa foto. Dan saya sangat yakin itu bukan perkara mudah. Dan lagi, semirip-miripnya dia sama Vel asli di usia 12 tahun, tuh bocah masih 12 tahun, masih dalam masa pertumbuhan. Nggak otomatis dia akan tumbuh seperti Velius remaja.

Belum lagi soal suara. Meski bentuknya sama, pita suara kita tuh menghasilkan suara yang berbeda-beda. Untuk bisa niru orang lain dengan sempurna, kita harus punya bahan referensi, yaitu sampel suara orang tersebut. Kita harus dengerin cara dia bicara, pelafalan kata, intonasi suara, modulasi, aksen, karakteristik khusus misalnya cadel atau nggak, dll, dsb, dst. Artinya mereka harus punya rekaman suara Vel asli. Si duplikat juga mesti latihan keras soal itu karena meski Avenia kenal Velius asli, Cas tumbuh besar bersama Velius asli serta mengenalnya jauh lebih baik dibandingin Avenia. Sayang, keberadaan rekaman dan proses latihan itu tidak disinggung sama sekali.

Ditambah fakta bahwa anak itu dihajar habis-habisan dan dicekokin obat, saya sangat sulit untuk menerapkan apa yang orang bule bilang sebagai willing suspension of disbelief. Bagaimana tidak? Hal-hal tersebut seharusnya malah membuat si bocah jadi makin berbeda dari Velius asli. Coba bayangkan, seseorang bisa jadi juling bila dipukul cukup keras di bagian kepala. Dia juga dijadikan bahan eksperimen obat-obatan atau racun. Lah, efek sampingnya gimana? Obat yang teruji saja punya efek samping, apalagi obat eksperimental. Dan setelah semua perlakuan tersebut, cerita ini mengharapkan saya percaya itu bocah tumbuh menjadi duplikat sempurna Velius asli? Yeah, no.

Belum lagi bahwa kayaknya di bagian ending, si penulis menukar karakteristik Vel dengan Nimh. Bukankah yang senang mencari lawan tangguh itu Nimh?

Tidak dijelaskan juga bagaimana Avenia bisa merebut loyalitas Penjejak Malam. Secara teknis Avenia nggak punya apa-apa untuk ditawarkan kepada Penjejak Malam. Soooo, yah, satu lagi bolong cerita dan bagian di mana cerita bilang, “Udah, lu percaya aja sama gue,” kepada pembaca. Again, no.

Sutralah. Baru bagian cerita dan udah empat halaman Word. Lanjut? Lanjut dong.


Penulisan

Dari total tiga novel Vandaria yang sudah saya baca, Redfang memiliki kualitas penyuntingan terburuk. Beberapa salah ketik muncul di sana sini. Penulis juga sering salah menggunakan kata-kata seperti “menghiraukan”, “mengabaikan”, dan “mengacuhkan” dan ini lolos dari pengawasan penyunting.

Penulis juga gemar menuliskan dialog yang terasa seperti hasil terjemahan tanpa mengindahkan konteks. Contoh:

“Tidak buruk,” gumam Velius lemah. Terlihat dari seringainya betapa ia tak memedulikan ajal yang menjemput. “Sama sekali tidak buruk. Ternyata kau punya nyali, Kak.”

Itu dari Prolog, halaman XXII-XXIII. Cek bagian “tidak buruk” dan “tidak buruk sama sekali. Secara tata bahasa tidak salah, cuma saya melihatnya sebagai terjemahan jelek dari “Not bad, not bad at all.”


Ilustrasi

Saya sebenarnya selalu menganggap ilustrasi sebagai bonus dalam sebuah novel. Tapi mengingat sepertinya ilustrasi sepertinya sudah menjadi hal lazim bagi novel fantasi lokal, terutama novel Vandaria, maka saya akan memasukkan sebagai kategori penilaian yang dapat menambah atau mengurangi kualitas novel tersebut.

Dan itulah yang terjadi di Redfang. Seluruh ilustrasi di novel ini dihias bingkai dan elemen-elemen yang sepertinya bertujuan untuk menampilkan unsur seni dan artistik. Sayangnya, sebagian besarnya menampilkan gore. Awalnya cool, tapi begitu saya sampai di ujung cerita, kesan yang saya dapat malah beralih dari “dark and edgy” menjadi “trying too hard”. Kualitas ilustrasinya sendiri, entahlah, saya merasa bahwa ilustrator cenderung ke gaya anime ketimbang gaya yang realistik, tapi yaaa anatominya kadang terasa nggak betul.


Lain-Lain

Redfang memberikan bonus berupa pembatas buku dan peta. Petanya sendiri cukup memberikan gambaran tentang wilayah-wilayah yang menjadi latar cerita ini.


Kesimpulan

Dengan sangat menyesal saya harus menyatakan bahwa Redfang gagal memenuhi ekspektasi saya. Aksi-aksi Vel sempat membuat saya menggebu-gebu membaca dan berharap bahwa kegilaan Cas, plot twist dan ending akan menutupi lemahnya konflik politik di cerita ini. Sayang, plot twist dan endingnya malah menjadi momen terjun bebas bagi Redfang. Hal ini pada akhirnya justru mengangkat kelemahan-kelemahan lainnya di mata saya terutama dalam hal ilustrasi dan penulisan.

Di sisi lain, saya tidak akan menyangkal bahwa ekspektasi saya bisa jadi terlalu tinggi gara-gara Hailstorm itu merupakan titik awal yang baik sekali. So, yeah.

Apa pun jua, demikianlah penilaian saya, satu bintang. Saya sungguh berharap resensi ini dapat bermanfaat bagi penulisnya. Ayo, Bung, berkarya yang lebih baik lagi :) .
Profile Image for Ratna.
2 reviews1 follower
January 15, 2013
Hohoho, setelah berhasil mengentak para Vandarian dengan survival horror-nya yang super dahsyat di Hailstorm, ia sekarang mencekam para Vandarian dengan psychologycal horror-nya di Redfang.

Dan ngomong-ngomong, review lebih lengkapnya ada di blog saya di http://bukumaniak.blogspot.com/2013/0...
Kurang-lebih sama di bagian kritik, tetapi review itu lebih untuk pembaca umum.

Berbicara tentang hal yang teknis yah (waw, saya juga nggak ahli di sini!), saya merasa abang Fachrul memang selalu selangkah lebih maju secara teknis dari penulis Vandaria lain. Wuih, no offense, maksud saya adalah keunikan dalam teknik kepenulisan yang agak berbeda. Saya belum mau komen untuk Hailstorm (tapi yang pernah baca pasti paham), tapi di Redfang kita dapat sesuatu yang baru: tokoh utama yang lebih ke arah anti-hero (bener nggak sih istilah ini??)

Saya jadi ingat waktu menyampaikan kekhawatiran ini di grup FB Vandaria Saga. Karakter tokoh utama yang agak berbeda (baik itu protagonis-villain ato lebih ke anti-hero) punya potensi menghasilkan dua hal: epic failure ato epic success. Sista Melody Violine menjamin epic success dan bang Ami Raditya menyatakan high risk, high return. Betul semua itu. Redfang benar-benar berhasil mencekam dan membuat ngilu dengan sudut pandang Cassius yang kita paham jelas lebih ke arah anti-hero. Jadi, penggunaan anti-hero di sini sukses untuk kisah Redfang secara keseluruhan.

Huh, ada "tapi"-nya di sini. (Saya minta ampun dulu, bang!)

Beberapa review Redfang yang pernah saya baca menyatakan simpati yang besar pada Cassius. Oke dia emang brengsek. Sudah membunuh saudaranya sendiri masih yakin bahwa itu hal yang benar. Tapi semua hal itu ternyata menyiksanya. Dan tekanan di sepanjang kisah membawanya mengambil keputusan untuk, well, begitulah (nggak mau spoiler). Sangat pantas untuk mendapat simpati, tapi entah saya yang emang hati batu atau apa, I don't care at all. Aku nggak peduli apa yang ia rasakan atau bagaimana nasibnya. Jangan tanya kenapa, aku juga sulit menjelaskan.

Mungkin aku tidak suka karakter Cassius karena ia sangat lemah. Iya bang, aku paham bahwa memang itu mungkin memang karakter yang ingin abang tampilkan, tetapi nggak berarti aku harus menyukainya 'kanJika ia punya nyali untuk membunuh adiknya, seharusnya ia tidak down segampang itu 'kan. Mungkin akan lebih nyaman jika depresinya lebih terasa bertahap. Bukannya simpati, aku malah "eneg' sama dia, sungguh. Jangan tanya aku bagaimana pendapatku dengan caranya melarikan diri; menciptakan bayangan Ninh untuk menenangkannya. Menurutku, itu adalah cara depresi orang yang pengecut. Tapi, aku tetap mengakui penggambaran Cassius yang sangat manusiawi sekali ini pas banget.

Oh yah mumpung lagi ngomong masalah teknis, izinkan saya protes tentang sebuah logika yang tidak bisa saya terima. Jadi, penjabaran tentang siapa sebenarnya Velius itu terasa sangat ..... datar. Oke deh, pake logika saja, masak iya Avenia dapat menciptakan sebuah sosok yang begitu mirip Velius. Mungkin secara psikologis, tetapi secara fisik apakah itu mungkin. Kecuali ada sihir di sini, tetapi itu tidak dijelaskan sama sekali. Yang ada cuma bahwa proses pembentukannya itu berat sekali.

Bagian selanjutnya yang aku kurang suka, pertikaian politik di sini sangat kental ya. Biasanya aku suka politik tapi entah kenapa di sini aku merasa agak boring dan men-skip beberapa bagian di dalam buku. Tetapi, tentunya bukan bagian sidang Tiberius. Ho-ho, mustahil men-skip bagian yang ada the one and only, Justina Hailstorm. Jadi, kita langsung lompat ke bagian yang aku suka.

Justina! That freaky woman is awesome. Hanya saja, aku merasa dia sangat berbeda dengan karakter dirinya sebelumnya di Hailstorm (agak menghindari spoiler di sini), walaupun sifat seenaknya itu masih tersisa sih. Mungkin perbedaan ini terasa karena sudut pandang di Redfang adalah tokoh-tokoh yang tidak mengenal Justina sedalam itu yah. Pokoknya, lebih banyak Justina di karya-karya selanjutnya, bang. Terutama dengan semakin dekatnya kita menuju Pandora arc. Btw, apa sekarang masih ada bedanya dia dengan Amurdad yah? Jika kita main detail, Justina mengunjungi Lavinia (akhir Hailstorm) pada 213 IV, dan epilog Redfang iu sekita 219 IV. Selama 6 tahun ini bagaimana yah perubahannya?

Sekalian ingin bertanya deh.

Hmm, soal ilustrasinya memang dilematis. Berbeda dengan novel vandaria lain, aku tidak memperhatikan ilustrasinya (jadi beneran cuma baca). Tapi, aku tetap merasa ilustrasinya yang lebih berkesan abstrak ini pas banget dengan tema Redfang. Justru, ilustrasi itu makin menegaskan kekelaman dan tragedi pada novelnya. Kurang-lebih begitu deh.

Karakter Irina. Nah lo, kenapa justru di novel ini penggambaran karakter frameless terasa unik dan berbeda yah. Mungkin karena akhirnya kita dapat penggambaran frameless yang lumayan detail dimana ini murni dari sudut pandang manusia yang tidak punya hubungan (nggak suka, malah!) dengan frameless. Well, setidaknya kita dapat memiliki bayangan bahwa menurut orang-orang yang tidak kenal frameless dengan dekat, semua anggapan bahwa frameless itu berbeda dengam manusia, mampu mengendalikan emosi, dll memang tepat.

Ending dan plot twist!!!! Ini bang Fachrul jadi aku bakalan nggak bakalan protes mulai dari ending yang WTF sampe akhir yang WTH. Itu ending yang paling pas untuk Cassius, dan sungguh saja, hanya sekali itu aku merasa simpati untuk Cassius dan merasa lega di akhirnya terbebas dari semua penderitaannya. Lalu masalah epilog (atau apalah itu) dimana kita ketemu Justina lagi. Serius, itu beneran ngejamin orang-orang ngatri buat baca novel selanjutnya. Secara resmi BUKAN sekuel, tapi oh ya ampun aslinya toh tetap begitu. Strategi pemasarannya oke nih.

Terakhir, masalah covernya. Sudah tradisi semua novel Vandaria bahwa cover novelnya adalah tokoh yang muncul. Sekali lagi, novel ini membuat gebrakan berbeda. Tetap dengan tokoh sebagai cover, tetapi uniknya itu loh, mengambil inspirasi dari kartu yah? Penggambaran Cassius dan Velius di situ pas banget. Kita juga terasa mendapat makna simbolis dari cover itu (apa? cari saja sendiri!). Yah, saya tidak heran dengan kelebihan cover ini setelah kepo siapa yang ada di belakang pembuatan cover ini, lol.

Huff, sekian protes saya.

Empat jempol dan 4,5 bintang Goodreads buat novel yang satu ini!!
Profile Image for Han Asra.
60 reviews26 followers
March 12, 2013
Hanya beberapa buku Vandaria Saga yang sudah saya abca sebelum ini. Ada tiga yang telah saya tulis reviewnya secara tidak matang yakni Takdir Elir, Masa Elir, dan Hailstorm. Kedua novel pertama yang saya sebutkan tidak terlalu memuaskan. Namun yang terakhir, Hailstorm, terlepas dari kekurangannya sungguh memberikan harapan bagi saya untuk tetap mengikuti dunia Vandaria.

Berasal dari penulis yang sama, Fachrul R.U.N, dia tetap menghindari archetype standar yang biasanya menjebak penulis fantasi di Indonesia yang entah mengapa gemar membawakan cerita fantasi model heroic quest. Dia kali tetap sama membawakan cerita yang akan mendalami dunia Vandaria lebih jauh. Redfang memberikan kita konflik internal seorang bangsawan atau aristokrat yang terbelit oleh politik dan ambisinya sendiri.

Sepanjang cerita, perubahan personal yang dibawakan oleh penulisnya pada karakter utama kita, Cassius Redfang, dilakukan dengan ciamik dan sangat baik. Perkembangan karakternya betul-betul terasa. Terlepas dari penggunaan kata dan frasa yang aneh mengingat settingnya, Redfang bisa dikatakan sebagai pembalik halaman yang sangat baik begitu memasuki konfliknya. Alunan benang konflik yang akan terangkai menjelang akhir cerita dan pseudo-klimaks yang ada.

Satu idea tau elemen yang sangat sukai dan saya dapat di bagian akhir cerita adalah penggambaran yang dilakukan pada sosok yang saling bersebrangan yakni Vanadis dan Deimos. Penulis memaparkan tanda-tanda samar menarik yang ingin saya lihat ide sesungguhnya dibalik tanda-tanda tersebut.

Masalah yang paling besar dan yang paling banyak menghantui Redfang adalah bagaimana banyaknya konflik yang menarik tersebut terasa ringan dan tidak terasa bobotnya. Tidak ada yang menjadi dasar yang kuat, tidak ada grounding of conlict disini sehingga ketika suatu konflik selesai dan muncul yang baru semua terasa bagai angin lalu padahal setiap konflik disajikan sesungguhnya menarik dan eksekusinya pas.

Ini mungkin disebabkan oleh gaya penulisnya yang terlalu hemat diri. Memang worldbuilding yang berlebihan dan keterlaluan sering menghantui cerita-cerita fantasi, namun apabila terlalu kurang, maka dampaknya juga akan sama buruknya. Ini semakin diperparah mengingat ceritanya yang banyak menonjolkan sisi psikologis dan juga politik. Sisi politik disini, gara-gara kurangnya grounding of conlict menjadi seperti tempelan belaka dan nampak seperti dieksekusi dengan buruk dan terlihat cacat.

Kurangnya grounding of conlict juga menimbulkan masalah besar bagi plot twist yang akan muncul menjelang akhir cerita. Plot twist yang muncul tersebut membuatnya nampak seperti sekedar dilakukan demikian karena rule-of-cool saja tanpa mengindahkan kaidah logika. Saya pribadi mengingat, bahwa dunia ini merupakan sesuatu yang tidak dapat diprediksi dan berbagai bisa terjadi. Hanya saja kurangnya grounding of conlict dan sekarang ditambah grounding of reality membuat plot twist dimata saya ini tampak cacat, walau secara eksekusi bukan secara prinsip dari idenya tersebut.

Permasalahan yang sangat tampak ini begitu fundamental namun tidak menampik bahwa eksekusi yang disajikan secara keseluruhan dilakukan denga menarik sehingga saya waktu saya tidak terbuang begitu percuma. Jika ada buku yang akan mendapat manfaat dari halaman lebih, maka bisa dibilang Redfang adalah salah satunya. 200 halaman tambahan untuk membuat lebih banyak grounding akan membuat ide cerita yang jauh lebih grandiose dari Hailstorm mengkerdilkan novel tersebut. Sayangnya, minimnya grounding di tengah ide yang grandiose membuat Redfang jauh lebih kerdil dibandingkan dengan Hailstorm yang lebih sederhana.

Sedikit catatan akhir, saya melihat beberapa hal yang dipersoalkan terkait plot twist dan lainnya yang muncul dicerita ini. Namun karena kebijakan ulasan saya itu sekarang adalah menuliskan yang umum sebisa mungkin dan spoiler free, maka saya mengajak diskusi bagi yang sudah membaca dan merasa aneh dengan hal tersebut.

Dan satu lagi. Saya awalnya kagum di Hailstorm gak ada cewe dengan baju yang strippfied tapi apa nyana disini Ninh pakaiannya seperti itu. Kalau gak digambar gak masalah karena saya gak tahu. saya tunggu sampai akhir cerita tapi gak ada penjelasan yang memuaskan atas pakaiannya dia kecuali keahlian beladirinya.
Profile Image for Re Len.
2 reviews
January 4, 2013
Novel buatan Fachrul R.U.N. yang kedua, sekuel dari Hailstorm, dan juga buku Vandaria Saga yang menjadi penutup di tahun 2012 ini benar-benar berbeda dari berbeda dari novel-novel vandaria yang sebelumnya, novel kali ini akan menceritakan tentang perebutan kekuasaan oleh dua bersaudara dengan dibumbui oleh genre psychology dan unsur politik yang kental.

Walau dibilang sekuel, tapi plot Redfang ini berbeda dari Hailstorm yang tentang perjuangan sekelompok manusia ke alam Reigner demi mendapat kekuatan, Redfang mengisahkan tentang perebutan kekuasaan oleh kedua saudara. Tapi, ada yang aneh.... Velius dibunuh oleh sang kakak, Cassius di bagian prolog???!!!

Memang benar kalau Velius terbunuh di bagian prolog. Sang kakak mendapatkan segala yang dimiliki oleh sang adik, kekuasaan dan cinta-lah yang direbut dari sang kakak dari sang adik. Delapan tahun-pun telah berlalu sejak sang kakak mulai berkuasa dan awalnya semuanya baik-baik saja menurutnya, hingga sang istri mulai mendapatkan mimpi-mimpi tentang adiknya yang telah dibunuh dan juga istrinya mulai mengigau-ngigau tentang adiknya. Kejadian aneh ini mulai mempengaruhi sang kakak kalau ada sesuatu yang aneh hingga sang istri memintanya untuk mengunjungi suatu tempat dimana tempat itu adalah tempat terbunuhnya sang adik di tangan sang kakak. Sebelum mencapai tempat itu, sang kakak mulai mendapatkan halusinasi yang aneh dan ditambah sang istri mulai berlari ke tempat terbunuhnya sang adik. diluar dugaan yang ditemuinya adalah sosok yang sama saat delapan tahun yang lalu.

"Oh, halo kakak."

Sang adik sudah berdiri disana menyapa sang kakak yang telah membunuhnya delapan tahun yang lalu.

Yak, sisanya saya serahkan pada para pembaca...

Untuk ilustrsainya menurut gue rasanya pas sama jalan ceritanya dan gaya penggambarannya ini sangat pas dengan dipadukan oleh karya Fachrul yang merupakan genre Fantasy-Horror. ilustrasinya juga berbeda dari novel-novel vandaria yang sebelumnya juga. Ada kesan abstrak kalo menurut gue.

Adanya unsur elemen poitik di dalam novel ini mungkin akan menjadi nilai tersendiri buat novel ini. Tidak banyak adegan pertempuran di novel ini tapi ada lumayan adegan debat antara politikus satu dengan yang lainnya. Serta yang bikin gue heran adalah Fachrul tega ngebunuh karakter buatannya satu demi satu dalam novel ini dan hanya sedikit yang akan menjadi kunci ending di Redfang ini.

Terakhir, tepuk tangan buat kak Fachrul R.U.N. karena ceritanya yang mantep ini dan memberikan gue rasa penasaran abis bagaimana akan endingnya yang sama sekali gak bisa gue tebak sama sekali, juga maap kalo review-an gue ada kata-kata yang gak enak diliat. Terima kasih.
Profile Image for Rizal Kusumawijaya.
6 reviews
January 7, 2013
Jujur setelah tanggal rilis pas bulan Desember langsung aja nyamber toko buku, dan saya agak frustasi ampe penghujung tahun nih buku belom nongol juga. Akhirnya di tahun dan awal bulan ini dapet juga Redfang. Kalo boleh jujur, pas tau siapa yang nulis buku ini (Mas Fahrul) saya jadi menanti-nanti kan dengan sangat ampe bolak-balik toko buku, Mas Fahrul menyajikan cerita kelam yang begitu nyata seakan kita tersedot masuk ke alam yang penuh kengerian dan kejanggalan (kalo ini pas di Hailstrom sih).

Ok ada pepatah mengatakan, 3 hal yang bisa menjatuhkan seorang pria
1. Harta
2. Wanita
3. Tahta

Mas Fahrul saya acungi 4 jempol yang saya punya karena ketiga unsur itu dimasukan kedalam Redfang dan menjadi epik yang luar biasa (menurut saya), walau akhir dari ending Redfang sudah mulai tercium dari pertengahan cerita. Jalan cerita dimulai dengan tema umum konflik di sebuah kerajaan, yaitu perebutan kekuasaan. Namun kebolehan Mas Fahrul ini saya pikir didalam pengolahan karakternya, yang begitu kuat. Problematika yang disajikan begitu kelam menurut saya dibandingkan dengan Hailstrom, hal ini mampu bikin saya menahan nafas beberapa kali setiap membaca adegan-adegan tertentu. Penghianatan, tekanan psikologis yang dahsyat, kematian yang banyak, politik busuk, koalisi yang rapuh, propaganda yang tersebar, serta dosa besar masa lalu mampu diramu dengan bagus. Beberapa tokoh dalam novel sebelumnya juga dikaitkan dan jujur ini juga yang saya suka. Hal ini menunjukan bahwa Vandaria itu terhubung kesemua cerita, yah walau dunia Vandaria sudah menghubung semua sih tapi keterkaitan kasus, maupun tokoh dari beberapa novel sebelumnya itu penting menurut saya.

Untuk ilustrasi saya rasa ini adalah ilustrasi yang paling kelam dari semua novel Vandaria yang telah terbit, menambah kesan kelam dan mematikan yang ditulis oleh Mas Fahrul. Berbeda dengan ilustrasi novel vandaria yang dibuat begitu indah, mendetail dan sedikit kejepangan (terutama di Tabir Nalar), di Redfang tema gothiknya kerasa banget menurut saya, jadi inget kayak film-film horor yang pernah saya lihat. Salut buat sang Ilustratornya, berhasil membawa Redfang menjadi kelam lagi tapi menarik. Sekali lagi saya salut.

Jujur saya sedikit penasaran, Mas Fahrul sudah menulis Hailstrom dan Redfang akankah ia menulis juga tentang keluarga ketiga? Mordino (kalo gak salah namanya itu, kalo salah tulis maaf). Keluarga ke tiga yang masih berhubungan dengan Hailstrom dan juga Redfang yang mendiami Valta? Saya berharap demikian loh mas, biar lengkap.
Profile Image for Ardani Subagio.
Author 2 books41 followers
May 7, 2013
Well, George is being George. Awesome. Again.

Setelah Hailstorm, George melanjutkan cerita dengan sedikit beralih ke keluarga bangsawan baru, Redfang, yang juga berada di daerah Valta. Tak jauh dengan wilayah keluarga Hailstorm. Terdapat dua aktor utama dalam keluarga ini, Cassius sang kakak, dan Velius sang adik. Sebagai yang lebih tua, Cassius menganggap sudah menjadi haknya untuk melanjutkan kepemimpinan Redfang setelah sang ayah meninggal, tapi ternyata sang ayah lebih memilih Velius sebagai penerus.

Cassius pun menantang Velius berduel untuk menentukan penerus yang sah, Velius menerimanya, tidak menyadari niat licik sang kakak. Dengan tipu muslihat, Cassius pun membunuh adiknya. Ia memimpin keluarga Redfang selama delapan tahun lebih menjadi keluarga yang makmur dan berkuasa. Sampai akhirnya sang adik mendadak muncul kembali dan meminta hak atas takhta yang seharusnya miliknya.

Jika saya bilang, ada perkembangan besar sekali dari segi penulisan pada Redfang dibandingkan Hailstorm. Adegan2nya lebih terasa kuat dan tajam. Dialog2nya lebih lancar, mengalir, dan menarik diikuti. Ancaman dan misteri yang ditampilkan pun terasa jauh lebih berbahaya dan menegangkan.

Di Redfang ini, George menampilkan jenis rasa takut yang berbeda dengan Hailstorm. Jika di sana pembaca akan di bawa menuju alam Reigner dan berbagai kengerian khas neraka, maka pada Redfang pembaca akan banyak disuguhi konflik psikologis dari Cassius. Bagaimana ia menghadapi kemunculan kembali adiknya yang seharusnya sudah mati, sembari menghadapi tekanan politik dari paman dan mertuanya yang gila perang. Lama kelamaan semua ini membuat Cassius menjadi gila, tak lagi mampu membedakan khayalan dan kenyataan.

Dan George pun dengan pandai menyelipkan berbagai petunjuk dan foreshadowing tentang jawaban dari semua misteri. Plot twist yang dihadirkan berulangkali seakan mencoba membuktikan bahwa tebakan dan perkiraan pembaca sebelumnya adalah keliru, dan malah memberikan pertanyaan baru. Semuanya saling bertumpuk dan berkait hingga akhirnya semuanya terjawab dengan akhir yang tidak terduga.

Novel ini menyuguhkan sesuatu yang tidak dimiliki banyak novel lain, yakni horror psikologis yang terasa nyata dan tersampaikan dengan baik kepada para pembaca. Suatu variasi yang menyegarkan di tengah novel2 horror yang lebih banyak menyuguhkan monster menyeramkan. Jenis bacaan apa pun yang Anda suka, Redfang mampu menyuguhkan hiburan dan kisah yang tidak biasa.

Btw, my personal favorite, Justina masih suka minum meadar biarpun udah jadi wanita bangsawan. XD
Profile Image for Dennis Rentian Christian.
3 reviews
January 8, 2013
Epic, Thriller, Twist.. itu yang mewakili Redfang! jujur saya kaget pas di tweet kalo Fachrul R.U.N ngerilis buku kedua.. otomatis yang ada dibenak saya adalah lanjutan pengalaman terror deimos!



Harapan akan kenikmatan sewaktu membaca Hailstrom terkabulkan di Redfang!!
dan kekecewaan pada Redfang adalah..


Can't wait till the next story!! XD
6 reviews
February 4, 2015
Haaah, selesailah mbaca buku ini.

Entah cuman di buku saya apa gimana, tapi saya nemu banyak salah ketik gitu. Kayak font size yang 1 kalimat beda sama yang lain di beberapa halaman. Terus ada juga yang depan kalimat ada tanda petik, tapi bukan kalimat langsung.

Tapi itu bukan masalah! MUAHAHAHAHA!

Saya puas sama ceritanya. Keren maksimal. Semua tokohnya punya sisi hitam dan putih. Apalagi udah tau dari awal tentang si Justina dari Hailstorm, jadi nggak ada pikiran jahat pas baca namanya.

Profile Image for owleeya.
307 reviews100 followers
March 9, 2013
Bisakah kamu membunuh saudaramu sendiri untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan?

Cassius Redfang bisa. Setelah ayahnya meninggal dan mewariskan banyak hal untuknya dan Velius, adiknya, yang Cassius inginkan hanyalah kekuasaan atas wilayah Canivius. Kekuasaan yang dulunya berada di tangan ayahnya. Pembacaan warisan ayahnya mengejutkannya. Velius lah yang mewarisi kekuasaan ayahnya, meskipun Cassius adalah anak sulung.

Bisakah kamu membunuh saudaramu sendiri dan menyembunyikannya, meskipun itu berarti membuat rakyatmu geram dan wanita yang kamu cintai menjadi gila? Bisakah kamu membunuh saudaramu sendiri dan berhadapan dengannya, di saat kamu mengira dia sudah mati?

"Oh, halo, Kakak."
Sosok itu menolak untuk menghilang. Dia tetap di sana, menatap Cassius sambil menyeringai kejam. Cassius pun merasa dirinya hampir pingsan. Ia memang tengah berhadapan dengan adiknya.


Oops, the writer did it again.

Yah, sejujurnya saya gak mengharapkan apa-apa pas baca ini, apalagi karena sebelumnya sudah membaca novel perdana bang Fachrul, Hailstorm, dan juga cerpen-cerpen beliau yang ada di Fantasy Fiesta 2011 dan 2012. Iya, yang horror itu, yang membuat saya mengerti kenapa beliau juga diberi gelar Ruler of Nightmare (yang saya ketahui dari biodata penulis di novel-novelnya.) Tapi saya harus mengakui Redfang lebih matang dibanding Hailstorm, mungkin karena:

1. Penulisan yang lebih baik dibanding di Hailstorm. Dialognya tidak datar, penulisannya lebih luwes dan tidak kaku, seperti di Hailstorm. (Meskipun saya setuju juga sama review ini yang bilang penulisannya kayak novel terjemahan.

2. Plot yang seru dan membuat saya menghabiskan waktu 1-2 hari untuk membacanya. Mulai dari bertanya-tanya sendiri kenapa Velius bisa hidup sendiri, sampai orang di balik semua itu.

3. Cassius cukup membuat pembaca (oke, saya) bersimpati meskipun dia sudah membunuh adiknya sendiri, merebut warisan dan tunangannya.

4. Irina Irvana. Mungkin setelah ini saya bakal baca Tabir Nalar, karena penasaran sama mentornya Irina itu.

5. Ilustrasi. Waktu beli novel ini sama teman, dia nanya, kenapa ya kalau novel fantasi lokal cover-nya kayak anime. Setuju, sih, karena saya sendiri bukan penggemar anime. (Komik yang masih dibaca sampai sekarang cuma Detective Conan, Hai Miiko, sama Doraemon. Serius.) Dan ternyata, ilustasi buatan adiknya bang Fachrul, yang bernama Happy Mayorita yang juga temannya teman saya yang menemani saya beli Redfang (iya dunia memang sempit), itu lebih disukai. (Meskipun ada beberapa ilustrasi adegan sadis yang membuat saya harus menutupinya dengan... pembatas buku. I hate seeing blood. =_=)

Yang saya gak suka:

1. Justina. Err, padahal saya lumayan suka loh sama dia di Hailstorm. I found her not as amusing as she used to be. :|

Selain karena novel ini lebih bagus dibanding yang pertama, saya menambahkan 1 bintang karena... beralur cepat. Hehehe. Saya baca ini setelah selesai ujian praktik, karena takut challenge gak kekejar karena that damn UN, saya pengen baca novel yang tipis atau kalaupun yang tebal, yang beralur cepat kayak ini.

"Karena emosi kalian yang tak stabil. Bukankah terkadang manusia bisa dipermainkan oleh persepsinya sendiri? Terutama kalau kalian menyimpan rahasia buruk.


4/5
3 reviews85 followers
February 28, 2013
padahal baru aja mengenal vandaria lewat buku Hailstorm , buku karya pertama kak fachrul ,,
ehh blum sempet selesai "Terpana" dengan Hailstorm , dah muncul lagi novel keduanya ini .. hahaha :p

bagi yg dah baca Hailstorm , pas liad novel ini pasi ada pertanyaan2 di benak ttg cerita,tokoh, dll,,
mungkin banyak yg mengira buku Redfang ini ada hubgannya/mirip2 dengan Hailstorm,,,
well stidaknya itu yg saya pikirkan (kalo2 ada yg sama jga :P )

apalagi ditambah rasa penasaran pas baca simpulan crita di bagian blakang buku (memang deh nih yg nulis bsa aja buat org penasaran wkwkwkwkkwkwkw)

setelah dibeli n dibaca dengan seksama, ternyata ..... (awas spoiler!)

kita mulai reviewnya dari sini ya :P yg tdi pengenalan dlu hahaa
nahhh , menurut pendapat saya tentang buku ini,

secara overall memang tindakan yg cocok untuk mengambar isi buku ini adalah dengan mengacungkan 2 jempol !
awalnya kukira Redfang bakal sama theme ceritanya kaya hailstorm , yakni petualangan, ehh ternyata salah besar !
Redfang lbih condong kearah politik dan psikologi , sangat berbeda nuansa dengan hailstorm, sehingga memiliki daya pikat tersendiri ,

salah satu unsur utama dalam novel ini yg benar2 membuatnya begitu menarik adalah ke"rahasia"annya,,
bener2 cerita nya membuat kta penasaran bgt, ditambah lagi dengan "Serangan2" Psikologi yg diterima tokoh utama yg secara gak lansung (tapi disengaja oleh penulis :P ) ikut kena ke kita selaku pembaca ,
terus terang aja wktu baca novelnya, pas di tengah2 gtu, dah bnyak bgt pkiran yg muncul mengenai akhir cerita novel ini, kebenaran yg sesungguhnya, tpi jujur aj ternyata apa2 yg saya pikirkan/tebak ternyata meleset lumayan jauh wkwkwkkkwkwkwk

tpi ada beberapa hal jga yg mengganggu pikiran saya, yaitu,
yg pertama, tokoh "Irina Irvana" yg cukup misterius,
gak dikasi tau dy itu sapa sebenrnya ato crita2 ttg dy , tpi cma dibilang dy murid cervale irvana (liad Tabir Nalar) n anggota dari badan intelegent , agent majelis raja Tunggal, n tiba2 lansung ambil peran yg ckup penting di Redfang.
terus terang ini membuat saya sedikit "sedih" jga sih (karna diantara skian tokoh di vandaria , Marga Irvana adalah tokoh favorit saya! :D )

yg kedua adalah tokoh "Justina Hailstorm" yg nama aslinya Merryweather (liad Hailstorm)..
menurut saya ada perbedaan yg cukup senggang antara justina di Hailstorm n di Redfang (meskipun ada kesamaannya juga) , yakni di redfang dy tampil lebih dingin,kaku n arogan smentara di Hailstorm tampil dengan ceria,menyenangkan n friendly .. apakah wataknya memang berubah karna perputaran waktu (dari hailstorm ke redfang) ? ato karena semejak pulang dari alam reigner ? o_O

meskipun ada hal2 tadi yg menganggu pikiran saya, tpi tetap saya sangat menikmati berkelana ruang dan waktu bersama Redfang !
ada kepuasan tersendiri setelah membaca buku karangan The Awesome, kak Fachrul ...
yg jelas siap2 aj dehh kalo mo baca buku REDFANG ini,,
DIJAMIN sekali dah baca dikit aja, gak bakal bisa berenti sampe akhir, pasti dihantui rasa penasaran trur menerus XD
Selamat membaca bagi yg belum , dan selamat menanti buku selanjutnya Kak Facrul bagi yg sudah :D
Profile Image for Jessica Vanlatte.
26 reviews
February 20, 2013
Hm... Ini pertama kalinya saya membaca vandaria.
Komentar saya..., ceritanya bagus, unsur politiknya kerasa (walaupun sebenarnya saya tidak suka->benci mungkin dengan unsur politik karena terllau berbelit-belit), tapi karena berhubungan dengan sihir dan fantasy membuat cerita bertema politik sekalipun terkesan menarik dan berwarna bagi saya. Ingat, bagi saya lho.

Karakter

Classius, karakter yang cocok dan pas untuk sebuah cerita bertema politik seperti ini. Tiberius dan Silus juga pas dijadikan sebagai tokoh yang membuat si tokoh utama menjadi bingung.

Hanya saja, masalah Ninh... Cukup disayangkan tidak ada penjelasan mendetail mengenai masa lalunya. (ok, saya akui ini tidak terlalu penting tapi saya suka mengetahui dengan jelas latar belakang tokoh)Tampaknya Ninh juga sangat disayangkan, meninggal di tengah-tengah jalan cerita. Tapi itu membuat konflik semakin menjadi! So, that's good.

Velius palsu, sifat aslinya gak kerasa. Meniru sifat Velius asli tapi masih ada kejanggalan. Di akhir cerita saya bertanya-tanya, Bagaimana sifat Velius palsu yang asli?

Avenia, tidak ada kekurangan, mungkin ia adalah tokoh kedua terperfect dalam cerita ini setelah Classius.

Cerita

Sangat disayangkan, penjelasan tentang cara pembuatan atau bagaimana mereka mendapat rune untuk alat sihir tersebut tidak dijelaskan.Lalu, bagaimana nasib Fabius? Menggunakan senjata sihir itu untuk menyerang (sebenarnya dia jadi pakai senjatanya gak sih?).

Manusia-manusia (atau prajurit?) yang dijadikan binatang buas atau apapun yang membuat mereka kebal. Tidak dikasih tau semua orang di festival tidak jelas itu jadi kayak gitu semua?
Walaupun mereka sudah diberikan semacam kekuatan oleh Justina, tapi kenapa semua penduduk kota seperti itu?

Anak kecil yang membawa jam.....(???) Itu asalnya darimana ya?


Kesuluruhan sudah baik. Ending bagus dan unik. Unsur politiknya terasa nyata dan memang kerasa politik banget. Horror-nya juga ada. Sudah bagus.

Satu hal...ada beberapa kata yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terkadang menyulitkan saya untk mengerti maksudnya.

Yah, mungkin hanya ini pendapat dari seseorang yang baru pertama kali membaca novel Vandaria.
2 reviews
January 5, 2013
Yap, dalam segi penulisan kelihatannya Redfang udah lebih nyaman daripada Hailstorm.

Dalam penokohan juga lebih bagus. Karakter Cassius Redfang berhasil menarik simpatiku, walau dia itu jahat, labil, sinting, dan kejam. Karakter Avenia dan ayahnya, Silus Mordino juga memorable bagiku

Cuma karakter Velius Redfang saja yang sepertinya kok kurang. Aku bahkan ngak ngerti mengapa si Velius dicintai oleh rakyatnya dan sampai dibuatkan patung. Karena siapapun dia, Velius bukan Soekarno. Dia tidak tidak mempunyai karisma seperti yang dimiliki oleh para pemimpin karismatik di dunia ini. Dan sepertinya Velius juga ngak punya jasa apa-apa terhadap bangsa dan negara. Setidaknya sama sekali ngak disebut-sebut di cerita.

Irina Irvana, secara sekilas terkesan seperti Typical Frameless. Wajahnya mengingatkanku pada model Frameless-Frameless pasaran yang sering aku lihat di novel ato website Vandaria Saga. Tapi sayangnya, Frameless di cerita ini berbeda dengan Frameless-Frameless lain dari kisah Vandaria Saga yang sudah ada. Mereka kaku, dingin, logical, dan terkesan angkuh dan tinggi. Pendapat Cassius tentang Frameless di cerita ini bahkan menguatkan kesan "Superior, elite, dan capable" dari kaum Frameless; sehingga kesan manusiawi dari kaum ini menghilang; tergantikan dengan bayangan "Ras ala Vulcan" di film Star Trek. Karena itu ngak heran, kalo karakter Frameless bernama Irina Irvana yang typical Frameless ini jadi ngak tipical lagi dan unik. Dari yang awalnya aku merasa "Ah Frameless", jadi "WOW Frameless"

Sayang sebagus-bagusnya sebuah karya, tetap saja masih ada beberapa kekurangannya. Terutama di bagian politik novel ini. Tapi aku tidak akan mempersoalkannya, Karena paling tidak, semua itu sudah ditutup dengan para karakter yang "Memorable" bagiku
Profile Image for Feby.
Author 3 books19 followers
December 21, 2014
Well, cover nya bagus. Itu yang saya pikir waktu pertama kali lihat buku ini. Sekilas lihat, udah tahu bahwa buku ini isinya cerita tentang dua orang ini. Warna2nya sih kelihatan cerah, tapi saya nggak bakalan ketipu, karena tahu persis siapa penulisnya.

Kesan kedua, saya dapat di prolog. DARK! Suram! Buset, baru awal aja sudah ada yang mati dibunuh oleh sang antihero. Well, mengenai si antihero ini, salah satu hal yang membuat saya attach dengan buku ini dari awal sampai akhir. Siapa sangka, Fachrul mengangkat karakter schizofrenia jadi tokoh utama, membuat beberapa adegan menjadi rancu antara nyata dan halusinasi, yang tentunya untuk alasan yang positif.

Kesan ketiga, saya dapat pada pertengahan buku. Ribet! Tetapi saya tidak bisa memungkiri jalinan intrik yang cukup menarik sekalipun ada beberapa keganjilan.

Terakhir, ending nya di luar dugaan walau sedikit maksa, imho. Juga masih ada yang hal yang jadi misteri dan tokoh yang nggak bisa terpecahkan hingga akhir. Sehingga saya ada kesan, Fachrul barangkali lupa dengan nenek-nenek setengah frameless yang mati dibunuh di bagian2 tengah.

Overall, saya merasa Redfang lebih bagus dari Hailstorm. Tapi entah gimana, saya lebih suka dengan Hailstorm. Sama-sama gelap, tapi mungkin saya lebih senang berada dalam kepala emak-emak beranak satu daripada dalam kepala aristokrat gila.
Profile Image for Asakura Hizaki.
8 reviews2 followers
February 4, 2013
Setiap manuisa memiliki rasa penasaran.
Rasa penasaran ini dapat dimanipulasi sehingga manusia akan terus memikirkan suatu hal yang membuatnya penasran.

Kisah awal buku ini dipenuhi dengan misteri dan tanda tanya.
Kematian karakter kunci membuat pembaca bertanya-tanya, "ada apa gerangan?"
Semakin jauh halam buku dibalik, semakin banyak kenyataan yang terselubung terungkap.
Semakin banyak kenyataan muncul ke permukaan, semakin banyak pula kejutan tak terduga yang muncul.
Sulit untuk berhenti memikirkan kenyataan di balik misteri buku ini setelah memulai membaca.
Profile Image for Klaudiani.
Author 4 books23 followers
February 20, 2013
I have to admit that I'm in the middle of those rating stars.
The plot, twist and psychological thingy were good, but I had to force myself to get in the flow, for many disturbances along reading process. Perhaps 1st or 3rd limited POV would be useful to keep the 'secrets' well hidden. But thanks for writing Redfang, I learned a lot.

PS: I wonder why the author said Avenia's hair was black, but the illustrator pictured her blond/light-coloured.
Profile Image for Melody Violine.
Author 27 books45 followers
March 14, 2013
warning: Raja Tega melampiaskan hasrat kejamnya kepada tokoh2nya di novel ini

(review menyusul)
Profile Image for Putri.
21 reviews
March 4, 2013
Ceritanya keren! Bikin penasaran dari awal baca sampe rasanya nggak tega melepas buku ini bentar aja

Aku suka sama cerita novel ini, deh, pokoknya!
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,431 reviews72 followers
January 13, 2023
Huah, akhirnya selesai juga novel kelam ini. Memang nggak sekelam Hailstorm, tapi tetap saja, membacanya bikin perasaan nggak nyaman. Iya seru, tapi duh... gelapnya.

Nggak ada yang benar-benar terpuji di novel ini. Sejujurnya aku kagum dengan cara Fachrul Rozi membuat novel fantasi aksi tanpa adanya tokoh yang benar-benar layak disebut sebagai hero. Cassius, tokoh utama dalam cerita ini adalah tokoh sinting yang kejam, dan aku sungguh menunggu-nunggu nasib tragis menimpanya.

Tapi Velius, meski dia dizalimi oleh Cassius, pun bukan tokoh yang dirancang untuk jadi hero dengan sikap-sikap terpuji. Jadi ya gitu, hitam semua tokohnya.

Mungkin cuma Irina yang bisa dibilang lumayan lurus. Sayang sekali nasibnya berakhir tragis justru karena kemampuan membaca ingatannya.

Cerita ini punya hubungan langsung dengan novel Hailstorm. Linimasanya terjadi setelah event di Hailstorm. Tanpa mengetahui hal itu sebelumnya, aku beruntung karena bisa membacanya sesuai dengan urutan yang tepat.

Misteri soal Velius yang bisa tiba-tiba hidup lagi adalah alasanku membaca novel ini sampai selesai. Tapi begitu dibuka rasanya sungguh antiklimaks. Ngomong-ngomong orang bukan keluarga bisa semirip apa dengan orang lain, ya?
Profile Image for Jurnalis  Palsu.
48 reviews1 follower
January 10, 2019
Jujur saya tentu sangat-sangat telat membaca buku ini di tahun 2019. Namanya Mahasiswa kere ya nabung beli bukunya memang agak lama. Jujur ekspektasi saya terhadap buku ini tinggi karena Saat saya SMA pernah baca buku dengan penulis yang sama berjudul Winterflame.
Dalam Redfang, tidak Terlalu banyak adegan pertempuran/battle tapi saya benar-benar menikmati setiap konfliknya. Lembar demi lembar saya telan sampai habis. Jika saya ditanya, isi buku ini tentang apa?
Jawabannya cuman satu : Kekuatan Intelejen. Seluruh konflik dalam buku ini berawal dan dibawa oleh kelompok Pejejak Malam.
BTW, rencananya saya mau bikin grup konspirasi di WA dengan nama yang sama.
Displaying 1 - 30 of 46 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.