What do you think?
Rate this book


452 pages, Paperback
First published December 1, 2012
Sebagai penyuka Hailstorm, novel terdahulu yang Fachrul terbitkan, aku sempat bertanya-tanya karya terbarunya ini, Redfang, bakalan kayak gimana. Masih berlatar di semesta Vandaria, masih berlatar di wilayah Blackmoon yang kelihatannya telah ditetapkan sebagai latar pilihannya, ini enggak mungkin hanya sekedar sebuah kisah petualangan aksi horor lagi ‘kan?
Aku tahu adegan-adegan aksi sama horor telah menjadi salah satu ciri khas tulisan Fachrul. Tapi aku juga enggak ngerasa dia jenis orang yang cuma bakal sekedar ngulang formula yang sama dalam sebuah cerita yang baru pula.
Ajaibnya, waktu Redfang baru mulai ditulis, Fachrul sempat berbaik hati ngasih kisi-kisi soal ceritanya bakalan tentang apa. Dia menyinggung sesuatu soal bagaimana masalah ‘kedaulatan’ yang di angkat kali ini adalah ‘perang sipil’ (ngomong-ngomong, Redfang ini juga masih berlatar di era Kristal Merah). Tentu aja, aku sempat terpana, karena sesuatu dengan skala segede ‘perang sipil’ jelas beda dari petualangan horor + aksi kayak pendahulunya. ‘Damn,’ pikirku, ‘Orang ini udah berkembang lagi!’ Tapi lalu pada suatu titik, Fachrul tiba-tiba aja cerita kalau tema ceritanya dibanding ide awalnya jadi agak berubah. Dia terpengaruh sesuatu dari Shakespeare. Entah apa. Dan serta merta dalam hati aku kayak langsung, “Hah? Seriusan elo?” sebab tahu-tahu saja, dari tentang intrik pengembangan senjata-senjata rahasia, temanya jadi soal supernatural dan balas dendam.
Ya, aku tahu ini masih khas Fachrul sih. Cuma, aku juga dengar kalau soal intrik soal senjata rahasia itu enggak akan dihilangin. Makanya, aku agak… bingung dia bakalan masukin semuanya gimana.
Fachrul lalu sempet nunjukin draft awalnya ke saya. Lalu karena berhubung kayaknya ini kesempatan yang tepat, aku mau sekalian bikin pengakuan dan permintaan maaf juga.
King, kalau kau baca ini, SORIIIII! Sebenernya itu draft ga pernah kubaca ampe abis!
Aku ngerasa draftnya agak-agak berbau komik-komik shoujo gitu (moi langsung ‘wadefak’ pas ngerasa gini). Lalu aku jadi takut sendiri buat ngebaca lanjutannya. Takut kalau ntar pas aku baca versi cetaknya, imej para tokohnya bakalan udah kelanjur ‘kecemar’ ama versi yang ada di draft awal.
Sebenernya, mungkin ini cuma aku aja sih. Dan bedanya di segi konsep dibanding versi cetak juga sebenernya enggak jauh-jauh amat. Tapi aku ngerasa kayak gitu, jadi, yah, apa boleh buat.
Eniwei, balik soal ceritanya sendiri, buku ini rame. Kalau kamu suka Hailstorm, aku sangat nyaranin buat beli buku ini.
Beberapa tahun sebelum cerita dimulai, Cassius Redfang telah membunuh adik kandungnya sendiri untuk merebut tahta wilayah kebangsawanan yang dia rasa udah menjadi haknya. Sesudah melewati masa kecil yang bisa dibilang enggak bahagia, Cassius seakan ngedapetin semua yang didambakannya. Kekuasaan, kehormatan, dan bahkan gadis pujaannya sebagai istrinya—yang sebenernya adalah mantan tunangan sang adik.
Tapi masalah mulai timbul saat suatu hari, sang istri—yang menjadi agak sakit jiwa semenjak itu—lewat mimpi kemudian membawa Cassius untuk menemui sosok sang adik, yang entah gimana nampaknya telah hidup kembali. Lalu sosok sang adik kemudian mulai meneror kakaknya demi memperoleh tahta yang dia rasa sebenarnya adalah haknya.
Redfang berkisah tentang segala daya dan upaya Cassius dalam mengungkap misteri tentang kemunculan kembali adiknya ini. Masalahnya, adiknya itu muncul di saat yang sangat enggak tepat bagi Cassius. Sebab keluarga bangsawan Hailstorm di wilayah utara secara perlahan tapi pasti seakan hendak memakan wilayah kekuasaannya. Lalu timbul banyak desas-desus tentang telah munculnya deimos, makhluk-makhluk terkutuk yang dulu diusir dari alam pada masa penciptaan Vandaria. Sebuah perang sipil benar-benar ada di ambang mata, dan Cassius berada di posisi yang menentukan hasilnya.
Tertekan oleh rumitnya situasi sekaligus beban rasa bersalahnya sendiri, Cassius mendapati dirinya semakin kesulitan menemukan orang-orang yang bisa ia percayai. Keadaannya diperparah dengan berbagai visi dan mimpi buruk aneh yang belakangan kerap dilihatnya…
Apa kemunculan kembali Velius, adik Cassius yang karismatik ini, ada kaitannya dengan desas-desus soal deimos? Apa ini siasat suatu keluarga bangsawan lain yang hendak merebut wilayah keluarga Redfang? Ataukah ini semua hanya secuil dari ‘sesuatu’ yang lebih besar lagi?
Redfang memang paling enak dibaca sesudah Hailstorm. Tapi andaikata kau pembaca baru di dunia Vandaria yang mau langsung mulai dari Redfang juga enggak terlalu masalah. Toh sama-sama tetap ada beberapa hal minor yang tak terjelaskan hingga akhir cerita, yang juga kurang dipahami oleh mereka yang telah membaca (ehemakuehem) Hailstorm sekalipun.
Kualitas cetak maupun tata letak isinya bagus. Lalu ilustrasi dalam yang dikerjakan Nona Happy Mayorita menurutku beneran pas dengan suasana macabre cerita.
Soal kekurangan, aku sempat nemu beberapa salah ketik. Bukan salah eja; cuma kayak maksudnya mau mengetik A, tapi jadinya enggak sadar malah mengetik B. Kekurangan yang sangat minor. Lalu dari segi ceritanya sendiri, ini cerita bertempo cepat yang sangat ‘streng’ dari seperempat pertama cerita hingga akhir. Jadi mungkin agak bikin capek kalau dibaca sekaligus.
Terlepas dari semuanya, ini cerita seru dengan misteri dan beragam adegan ‘aneh’ yang membuat waswas sekaligus penasaran hingga akhir. Lalu mesti aku bilang kalau akhirnya ceritanya memang lumayan ngejutin. (Aku beneran bersyukur versi draft awalnya itu enggak ampe kubaca.)
Sayang, ini emang bukan jenis cerita yang bakal cocok buat semua orang. Seperti Hailstorm, ada sejumlah adegan berdarah yang bisa bikin orang-orang tertentu enggak sreg. (Tapi emang ada cerita yang cocok buat semua orang? …Oke, mungkin emang ada.) Tapi ini cerita yang terbilang unik, dengan jenis ide yang jarang ada sebelumnya. Rasanya sayang aja kalau enggak coba baca. Fachrul menurutku salah seorang penulis populer Indonesia yang one-of-a-kind. Dan lagi segi berdarah-darahnya itu IMO sebenarnya enggak terlalu parah kok.
Aku kasih 4.2 dari 5. Tapi berhubung ada sejumlah adegan mention dan cameo yang beneran bagus, aku kasih bonus 0.5 jadi 4.7, dibulat jadi 5. Dengan kata lain, sekaligus dengan mempertimbangkan apa-apa yang sebelumnya kukenal dari Fachrul—aku tahu masih ada beberapa kelemahannya, kayak soal hal-hal kecil yang enggak dijelasin tadi—but yeah, it was awesome.
"Oh, halo, Kakak."
Sosok itu menolak untuk menghilang. Dia tetap di sana, menatap Cassius sambil menyeringai kejam. Cassius pun merasa dirinya hampir pingsan. Ia memang tengah berhadapan dengan adiknya.
"Karena emosi kalian yang tak stabil. Bukankah terkadang manusia bisa dipermainkan oleh persepsinya sendiri? Terutama kalau kalian menyimpan rahasia buruk.