Everyone has a plane story to share, but no one tells it better and funnier than the one who sings the “Chicken-or-beef, Sir” rhapsody. In this humorous collection of airplane anecdotes that shows you a wild kaleidoscope of tales trawled from a crazy sky.A narrow cabin aisle turns into a wrestling ring when two burly men throw their fists and vulgarities around. An egocentric VIP with a face like an Amazonian bullfrog creates a stir when he yells, “If I can buy a plane, I can buy that girl!”A couple indulges in horny entertainment when they succumb to mid-air copulation inside a loo.An intoxicated man cause huge fury after mistaking the cockpit door for a public urinal. For a quirky exposé and a slew of charades from flyers around the world, read further as Yvonne narrates ad infinitum the follies and foibles encountered at 35,000 feet. For a ride that’s rife with drama, welcome aboard“No boarding pass required, seatbelt optional”
“Anda pramugari? Tentu glamour! Betapa bagusnya dapat melancong dan membeli-belah di kota raya mewah seperti Paris, London, dan New York!” Begitulah tanggapan ramai terhadap pramugari dan pramugara yang bertugas di langit biru. Yvonne memaparkan adegan-adegan yang mencuit hati dan aneh di kalangan penumpang yang kali pertama menaiki pesawat hinggalah penumpang ternama. Ini semua adalah pengalaman gokilnya ketika bertugas sebagai pramugari.
------------ salah satu buku dengan pengarang orang malaysia yang akhirnya tidak selesai dibaca.. satu bintang untuk covernya saja, bukan isinya. pertama liat buku ini jujur aku tertarik dengan covernya yang lucu, dan sinopsis dibelakang yang lucu juga keliatannya.. (eh.. yang cover versi Indonesia belum ada yak di gutrit) aku belilah buku ini... meskipun sudah beli tapi tidak langsung dibaca karena waktu itu masih banyak buku di rak yang sudah berteriak teriak minta dibaca.. ketika aku sempatkan membaca buku ini,, aku kecewa.. kecewa sekali.. karena ternyata buku ini tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia alias asli bahasa melayu.. mungkin ceritanya bakalan lucu dan membuat aku tertawa terbahak bahak kalau aku bisa mengerti bahasanya,,, hanya saja aku butuh waktu mencerna arti bahasa melayu itu ke bahasa ibu.. dan itu membuat aku terlambat untuk tertawa dan tampak begitu bodoh *meskipun aku memang bodoh sih :P* karena jelas otakkku kurang encer dalam menelaah bahasa melayu.. *sempet heran juga.. padahal penerbitnya indonesia,,* sempat menyesal juga kenapa waktu beli tidak langsung dibaca,, kan bisa minta tukar kalau ga' suka *ini promo kalau belinya di Toga Mas lho,, buku boleh ditukar dengan buku lainnya max 1 hari sesudah pembelian* yaahh.. apa boleh buat..akhirnya buku ini hanya dipajang begitu saja di rak buku tanpa sempat dibaca semua..
ps: lha wong liat kartun ipin upin aja aku baca teks indonesia... kekekekeeekkkkk....
Saya nggak begitu mengerti kenapa penerbitnya tidak mengalihbahasakan buku ini. Alasannya biar pembaca tidak kehilangan "kelucuan" cerita karena dialihbahasa. Padahal menurut saya tidak juga kalau mau sedikit usaha. Meski bahasa Indonesia dan Melayu memiliki akar yang sama, tetap saja ada kosakata yang tak familier, dan yang lebih penting "rasa bahasa"nya memang beda. Tapi dengan usaha keras, lumayan juga saya nangkep ceritanya, efek Upin-Ipin dan sering transit di LCCT, haha.
Oh ya, bukunya sendiri berisi pengalaman Yvonne menjadi kru kabin sebuah maskapai. Dari rute domestik hingga internasional, Yvonne menemui banyak kejadian heboh, lucu, juga nyebelin. Lebih banyak cerita tentang kelakuan penumpang memang. Dari penumpang yang banyak minta ini-itu, yang mabok, berantem sampai nodong pisau di kabin, hingga penumpang kacrut.
If I could vote for ZERO star, then I'd do it gladly.. gue bahkan ga tertarik untuk baca buku ini ampe selesai, boro2 sampe selesai, sampe chapter 2 aja gue ogah. buku ga jelas, sebenarnya buku asing terjemahan atau buku Indonesia, atau mungkin lebih tepatnya this book is imported from Malay. bukannya gue sensi atau gimana sama negara itu, cuma yah tolong donk kasi penjelasan yang bener kalau the language used in this book is BAHASA, instead of Indonesian language. Ini namanya penipuan konsumen. Memang sih disebutkan kalau buku ini best seller di Malaysia, tapi seluruh bagian di cover buku ini mengindikasikan kalau ini adalah buku Indonesia, using Indonesian Language, dan sudah di export ke Malay. Bukan justru sebaliknya..
I really had no idea why my dad bought this for me when I asked him to buy me Indonesian-translated novels. Maybe he was just looking at the writer's name and found out that it doesn't look like any Indonesian name. Yvonne Lee. The book was quite entertaining, though. But because of some Melayu words, I somehow got lost in some stories. Though it's not so different if it's compared to Indonesian, still, it confused me.