“Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit.” Pagi itu, 19 Desember 1948, Panglima Besar bangkit dan memutuskan memimpin pasukan keluar dari Yogyakarta, mengkonsolidasikan tentara, dan mempertahankan Republik dengan bergerilya.
Panglima Besar sudah terikat sumpah: haram menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah Soedirman menolak bujukan Sukarno untuk berdiam di Yogyakarta. Dengan separuh paru-paru, ia memimpin gerilya. Selama delapan bulan, dengan ditandu, ia keluar-masuk hutan.
Di medan gerilya, Panglima Besar dipercaya bisa bersembunyi dari kejaran Belanda. Mampu menyembuhkan orang sakit dan—konon—menjatuhkan pesawat terbang dengan meniupkan bubuk merica. Aktivis Hizbul Wathan, mantan guru, dan peletak dasar kultur TNI yang ironisnya dulu sempat berkata, ”Saya cacat, tak layak masuk tentara.” Dialah Soedirman: panglima, martir.
Buku ini tentang Pak Soedirman, yang tiap bagiannya diambil dari banyak wawancara ke narasumber yang kontak langsung dengannya ( kek buku Seri Tempo lain). Dari awal buku diberi tahu kalau nama beliau dianggap terlalu ditinggikan oleh orba, jadi tujuan buku ini ya untuk memanusiakan beliau lagi.
Walaupun banyak simpang siur, di buku ini beliau diceritakan lahir di Purbalingga dari seorang buruh pabrik gula. Beliau pindah ke Cilacap sama keluarga angkatnya yang masih kerabat untuk disekolahkan. Ayah angkatnya punya jabatan di Rembang sebelum pensiun jadi beliau bisa masuk HIS dan MULO. Sempat setengah jalan ke sekolah keguruan, beliau jadi guru juga akhirnya di sekolah Muhammadiyah... bahkan sempet jadi kepsek. Beliau terkenal disiplin dan berwibawa sejak masih remaja karena aktif di organisasi, terutama Hizbut Wathan (mirip rohis remaja gitu). Dari sini beliau ketemu calon istrinya, yang kelak akan melahirkan sembilan anak. Karena beliau udah mentereng di Cilacap waktu Jepang dateng, Jepang milih dia buat jadi PJ badan pangan gitu buat diambilin upeti. Tapi beliau ngeyel nggak mau ngasih hasil tani warga ke pihak Jepang, biar kalo ada makanan disimpen sama warga desa aja agar tidak kelaparan. Jadi weh beliau dilempar ke Bogor buat ikut jadi PETA karena nggak nurut. And the rest is history...
Sebelum baca buku ini gue nggak tau beliau itu dulu guru. Guru jadi guerilla strategist is a twist. Volatile banget ya kemampuan manusia secara umum hehe. Gue seneng baca seri ini setelah seri tentang Pak Douwes Dekker yang 3/4 bule dan Pak Sjahrir + Pak Hatta yang lulusan perguruan tinggi Belanda. Pak Dirman kalo boleh dibilang Jawa banget, mengontras tokoh-tokoh itu tadi. Dari sini jadi tau kalo jalan yang ditempuh buat memerdekakan Indonesia dan mempertahankannya itu banyak, beda-beda, dan berlapis-lapis.
Di sini juga dijelasin seberapa carut marutnya tentara RI dulu waktu masih seumur toge. Ada beda antara lulusan PETA dan KNIL pasca 1945, dan gimana itu bisa bikin konflik gara-gara mereka harus nyatu di bawah satu panji tentara RI. Dan despite itu semua mereka harus antisipasi Agresi Belanda... Belom lagi polarisasi paham komunisme, Islam, sama diplomatisnya dwitunggal di dalem tentara itu sendiri yang jadi biang separatis. Kondisi ekonomi yang waktu itu defisit yang akhirnya ngebuat Pak Hatta nyuruh personil kurang berpendidikannya dikurangin aja juga sempet bikin sensasi. Sisanya cenderung berbau politik, main kubu-kubuan. Dan di sela-sela ini ada kisah-kisah pribadi Pak Dirman; sisi klenik, kebapakan, kesuamiannya(?) beliau, dan penyakitnya.
Overall menurut gue baca seri Tempo dari kumpulan seri militernya ngasih sudut pandang yang baru. Jadi nggak sabar baca kumpulan serinya yang lain! Dan ini bagusnya dianggap mirip Wikipedia, semacam referensi pertama aja. Biar nantinya bisa baca buku lain kalau mau baca lebih dalem lagi.
Buku ini merupakan salah satu dari seri buku TEMPO tentang tokoh militer Indonesia. Buku ini bercerita tentang peran dan sepak terjang Penglima Besar Jendral Sudirman dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Soedirman dilahirkan tanggal 24 Januari 1916 di Bodas, Karangjati, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Masa kecilnya dihabiskan untuk belajar di HIS (setara SD) dan MULO (setara SMP jaman Belanda) di Cilacap Jawa Tengah. Soedirman merupakan murid yang tekun, rajin, disiplin, cerdas dan suka menolong temannya. Dia aktif berorganisasi dalam kepanduan Hizbul Wathan dan Pemuda Muhamadiyah. Lulus dari MULO, tahun 1934 Soedirman juga sempat mengenyam pendidikan Kweekschool (Sekolah Guru Bantu) di Solo walaupun tidak tuntas. Meski tidak lulus sekolah Guru, keaktifannya di Muhamadiyah membuat Soedirman berhasil menjadi guru di HIS Muhamadiyah Cilacap. Pada tahun 1936, Soedirman menikahi Alfiah yang juga merupakan aktivis Pemudi Muhamadiyah. Sekolah HIS Muhamadiyah Cilacap ditutup oleh Belanda tahun 1941-1942.
Pada saat jepang mulai masuk Indonesia, Soedirman kemudian mencari ladang pengabdian yang lain dengan mengembangkan koperasi untuk membantu perekonomian masyarakat yang mulai krisis. Soedirman kemudian juga mendirikan Badan Pengurus Makanan Rakyat yang bertugas mengumpulkan dan mendistribusikan makanan bagi warga yang membutuhkannya. Kepemimpinan Soedirman tersebut membuatnya menjadi tokoh yang disegani di Cilacap. Pada tahun 1943 Jepang kemudian mengirimnya ke Bogor untuk mengikuti pendidikan daidancho atau komandan battalion Pasukan Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Soedirman sendiri semula tidak percaya diri masuk ke militer karena kakinya agak cacat (bekas terkilir) dan mata kirinya agak kabur. Setelah pendidikan, pada tahun 1944 Soedirman dilantik jadi daidancho dan ditugaskan di Kroya-Cilacap, Jawa Tengah. Prestasi Soedirman di Cilacap ini antara lain berhasil melucuti tentara Jepang secara damai di wilayah Banyumas, setelah negaranya menyerah kepada Sekutu.
Setelah Indonesia merdeka, lascar-laskar perjuangan dihimpun dalam wadah Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dalam persidangan Markas Tinggi TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih sebagai Panglima Besar TKR dengan suara terbanyak. Soedirman merupakan salah satu tokoh kharismatik yang berusaha mempersatukan elemen TKR yang berasal dari KNIL (tentara Hindia Belanda), Peta (yang dibentuk jaman Jepang) dan berbagai lascar lainnya. Beberapa prestasi gemilang Soedirman di bidang militer antara lain: (1) memenangkan pertempuran Palagan Ambarawa melawan tentara Sekutu, (2) menumpas Pemberontakan PKI Madiun 1948 walaupun hal ini menjadi beban pikiran bagi Soedirman yang sedih melihat bangsanya saling berbunuhan, (3) melakukan gerilya sewaktu Aksi Polisionil Belanda Pertama dan Kedua, walaupun kondisinya sedang sakit sehingga perlu ditandu. Keberhasilan Soedirman di bidang militer tersebut, didukung oleh adanya tim yang kuat dibelakangnya seperti TB Simatupang, Oerip Soemohardjo, Tjokropranolo, Latief Hendraningrat, Soepardjo Rustam, Soeprapto dan AH Nasution. TB Simatupang merupakan salah seorang perwira yang mengembangkan system gerilya (Wehkreise). Buku tentang system gerilya yang ditulis AH Nasution bahkan kemudian dijadikan buku pedoman bagi tentara AS sewaktu bertempur di Vietnam.
Soedirman merupakan seorang pejuang sejati yang tanpa kompromi (merdeka 100% atau tidak sama sekali). Sehingga beliau lebih dekat dengan politisi kalangan militant (non kooperasi) seperti Tan Malaka dan kurang dekat dengan politisi lobby seperti Amir Sjarifuddin atau Sjahrir. Meski demikian Soedirman sangat menghormati konstitusi sehingga sebagai panglima militer, beliau tetap tunduk pada keputusan pemerintahan sipil Soekarno – Hatta (walau setelah melalui perdebatan sengit). Beliau tidak mau memanfaatkan kekuatan pasukannya untuk merebut tahta.
Soedirman merupakan sosok kharismatik yang dihormati dan dicintai oleh pasukkannya dan masyarakatnya. Perjuangan gerilya yang dilakukannya sukses karena memperoleh dukungan dari masyarakat di sekitarnya. Soedirman merupakan sosok sederhana, teguh dan penuh pengabdian kepada Negara. Beliau meninggal tanggal 29 Januari 1950 dalam usia 34 tahun. Semoga amal perjuangan beliau menjadi bernilai ibadah. Semoga nilai-nilai luhur yang beliau ajarkan senantiasa tertanam kuat di dalam dada TNI di masa kini dan masa mendatang….
Buku ini secara umum mudah dicerna atau dipahami. Meski demikian saya rasa terdapat pengulangan isi dan keruntutan alurnya kurang terjag, walaupun hal itu tidak terlalu mengganggu…
> Dengan membaca buku ini saya bisa paham mengapa patung Soedirman yang didirikan di Jakarta dengan pose menghormat ke rakyat, walau tetap tidak setuju juga.
> Jadi lebih paham dinamika setelah kemerdekaan dan adanya berbagai faksi juga "kudeta" militer awal tahun 1946, dan jadi tahu mengapa setelah mangkatnya beliau jadi kultus Orde Baru
> Pemimpin muda yang sesungguhnya dengan pendirian yang kuat tapi tetap taat pada negaranya.
Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit
Buku ini hadir sebagai bentuk reproduksi edisi khusus Koran Tempo yang membahas tentang Bapak Pendiri TNI ini. Melalui kehadiran buku ini, pembaca disajikan beberapa keterangan yang "disembunyikan" oleh konstruksi sejarah orde baru. Dengan demikian, buku ini merupakan dekonstruksi atas konstruksi imajiner Jenderal Besar Soedirman versi Orde Baru. Pembaca dihadapkan pada satu sosok utuh seorang Panglima Besar Soedirman. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Sejarah sebuah bangsa yang baru merdeka tergambar dalam buku ini. Batu landasan pendirian Tentara Nasional Indonesia diletakkan oleh seorang Soedirman muda yang berumur 29 tahun. Sudah tentu bukan hal yang mudah, integrasi laskar-laskar rakyat sebagai kekuatan sayap militer dengan tentara republik eks Peta-KNIL, seringkali menimbulkan gesekan bagai kerikil tajam dalam tubuh Republik muda,
Dengan kharisma yang dimilikinya, Panglima Besar Soedirman berhasil meredam konflik dan meletakkan dasar fondasi penting untuk Tentara Nasional Indonesia. Dalam kondisi sesulit apapun, ia tetap tunduk pada kepemimpinan sipil Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Usaha penerbitan kembali kisah sejarah bangsa semacam ini patut mendapatkan apresiasi. Penulisan profil para perwira militer penting Indonesia membutuhkan ketekunan. Militer tetap mempertahankan aura ketertutupan yang sulit ditembus. Alhasil, pembacaan kembali sejarah ke belakang, pembaca diharapkan mampu menilai sendiri dan melakukan rekonstruksi sendiri atas fakta sejarah negeri ini.
Buku ini merupakan salah satu dari beberapa seri Buku yang Tim Tempo terbitkan. Dan untuk buku berjudul "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" ini, adalah seri buku tempo edisi Tokoh Militer.
Isi dari buku ini sangat konsisten membahas tentang militer Indonesia khususnya sang tokoh utama "Panglima Besar Soedirman" di masa-masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Padahal, banyak tokoh-tokoh lain dalam buku ini yang cukup menarik untuk dieksplor, namun TIM TEMPO sepertinya cukup serius dalam mengupas kisah sang Pemimpin Gerilyawan ini. Akan tetapi, bukan berarti melulu tentang Soedirman saja. Itulah menariknya buku ini. Di samping membahas kisah, sifat, serta perilaku Soedirman, "orang-orang" Soedirman yang setia pun ikut disentuh - dengan porsi yang tidak berlebihan. Karena segala yang telah diraih oleh Sang Panglima Besar tidak lepas dari kemahiran para pasukannya.
Gaya bahasa dalam buku ini sangat khas jurnalistik sekali. gaya-gaya khas media yang memang sesuai dengan penerbit buku. isi dan ceritanya yang diambil berdasarkan wawancara, kajian buku, serta penelitian langsung ke lapangan, menjadikan reliabilitas dari isi buku ini.
Dan satu lagi, buku ini berhadiah poster lho... jadi lumayan juga untuk mengisi dinding ruang kamar. Hehehe... Untuk isi dari posternya sendiri adalah mengenai Strategi Gerilya Jenderal Soedirman melawan Operasi Gagak Jenderal Spoor
Secara keseluruhan saya suka dan menikmati sekali.
Jenderal Soedirman adalah seorang panutan di dalam medan laga, juga bisa menjadi panutan di dalam keluarga. Ia sangat menyayangi keluarganya. Soedirman menikah dengan Alfiah.
KISAH KETUA DAN BENDAHARA Di dalam organisasi Muhammadiyah di Cilacap yang bernama Perkumpulan Wiworotomo, Soedirman didaulat menjadi ketua. Sebagai ketua, ia memilih Alfiah sebagai bendahara.
Ayah Alfiah adalah orang kaya sekaligus pengurus Muhammadiyah. Oleh karena itu, meski banyak pemuda yang menaksir Alfiah, tak ada yang berani mendekatinya karena segan kepada sang ayah.
Soedirman, sebagai pengurus Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah, beberapa kali melakukan koordinasi internal dengan ayah Alfiah. Dari situlah, Soedirman bisa lebih dekat kepada keluarga Alfiah.
KISAH ASMARA YANG DITENTANG SANG PAMAN Seorang paman Alfiah yang bernama Haji Mukmin tidak setuju dengan rencana pernikahan Soedirman dan Alfiah. Haji Mukmin adalah seorang saudagar pemilik hotel. Ia mengharapkan Alfiah menikah dengan orang kaya. Pada saat itu, Soedirman hanyalah anak seorang ajudan wedana yang bergaji kecil.
Akhirnya, nenek Alfiah yang menyiapkan semua ongkos pernikahannya secara diam-diam. Hal itu dilakukan agar Soedirman tidak disepelekan oleh keluarga besar pihak Alfiah.
Setelah menjadi Panglima Besar, Haji Mukmin mulai menghormati dan menghargai Soedirman. Bahkan, Haji Mukmin ikut berdiri di pinggir jalan saat arak-arak Jenderal Soedirman lewat. Soedirman yang melihat Haji Mukmin di pinggir jalan, segera menghentikan mobil lalu mengajak pamannya itu naik mobil bersamanya.
KOSMETIK DAN PAKAIAM UNTUK SANG ISTRI Soedirman adalah orang yang memperhatikan penampilan. Selain, penampilannya sendiri yang selalu terlihat rapi, Soedirman juga memperhatikan penampilan istrinya. Bahkan, keperluan kosmetik dan pakaian istrinya dibelikan langsung oleh Soedirman.
"KAN AKU SUDAH PUNYA KAMU" Selain selalu berusaha berpenampilan rapi dan tampak berwibawa, Soedirman juga jago berpidato. Suatu kali, Soedirman berpidato di hadapan putri-putri Keraton Solo. Para putri itu tampak kagum pada penampilan dan pidato Soedirman. Hal itu membuat cemburu Alfiah.
"Kamu senang, ya?" seloroh Alfiah. "Kalau begitu mau lagi?" Soedirman langsung menjawab, "Ya tidak, kan aku sudah punya kamu."
Ternyata sebelum Soedirman, Soekarno sudah menunjuk seorang Panglima Besar bernama Soeprijadi yang memiliki jabatan sebagai komandan peleton (Shodancho). Entah apa alasan Soekarno menunjuk beliau? Tidak ada yang tau, yang jelas, Soeprijadi hilang entah kemana, ada yang bilang mati dibunuh jepang, yang pasti jenazahnya pun tidak pernah ditemukan. Setidaknya, sosok Soeprijadi ini dijadikan sebagai bahan oleh Eka Kurniawan dalam novel fiktifnya, cantik itu luka, seorang Shodancho yang gagah perkasa dan ditakuti musuh musuhnya.
Cukup memberikan pencerahan mengenai siapa Pak Dirman yang kebapakan. Guru di sekolah Muhammadiyah yang juga penggemar keris dengan segala kesaktiannya. Panglima perang gerilya yang dicintai oleh anak buah dan juga rakyat. Bergerilya dengan paru-paru (atau paru) yang sisa sebelah saja.
Tapi aku kurang cocok dengan penuangan isi buku yang bergaya artikel majalah ini. Enggak runut dari awal sampai akhir tapi maju mundur dan banyak perulangan peristiwa.
I was hoping to find a more human, down-to-earth and relatable side of him like I did with Sjahrir's Tempo biography, but this is quite nice. First half of the book is boring, though.
Bagus sih karena informatif. Namun sayang, penulisannya tidak runut dan kurang menyentuh seperti buku biografi lainnya, sehingga kurang mendalami pemikiran (dan sisi emosi(?)) dari sang Panglima.
Buku ini adalah satu dari seri buku tempo yang membahas tokoh-tokoh militer Indonesia. Berbeda dengan narasi besar pemerintahan orde baru yang mengkultuskan sosok beliau, di buku ini Jenderal Soedirman dikisahkan kembali dengan lebih membumi.
Menurut saya, usaha Tim buku TEMPO untuk "memanusiakan" kembali Jenderal Soedirman justru akan lebih meningkatkan apresiasi anak-anak bangsa akan beliau. Cerita perjalanan hidup beliau sebagai seorang guru di sekolah Muhammadiyah, penyakit TB yang diderita beliau, dan kisah-kisah sederhana lain justru akan menyadarkan masyarakat bahwa sosok besar seperti Jenderal Soedirman bisa lahir dari kalangan masyarakat kebanyakan, dan bukan hanya "milik" sekelompok elit militer nasional.
"lebih baik kita diatom(bom atom) dari pada merdeka kurang dari 100 persen"
Bagi Soedirman kemerdekaan harus diperjuangkan, kemerdekaan adalah 100 persen, dan tentara tidak kenal menyerah. Semangat itulah yang mungkin terus menggerakkan Soedirman untuk terus berjuang bagi kemerdekaan Indonesia, meskipun dalam kondisi sakit parah dan harus ditandu beliau terus memimpin pergerakan, bergerilya untuk mengusir Belanda dari tanah Indonesia.
Biasanya saya menghindari buku dengan topik sejarah karena saya mudah bosan, namun buku ini disajikan dengan bahasa yang ringan dan tidak berbelit-belit.
Panglima Soedirman, siapa tak kenal namanya? Siapa tak tahu kisah perjuangannya? Namun ternyata sosok sang panglima tetap saja menyimpan misteri. Buku ini berusaha menguak beberapa cerita yang tak banyak diketahui orang Indonesia. Berbagai kisah menarik yang tak kita temukan di buku sejarah dibeberkan secara gamblang di buku ini. Mulai dari pandangan politik sang panglima, gaya kepemimpinannya, perjalanannya memimpin perang gerilya, hingga pertentangannya dengan Presiden Sukarno.
aku suka banget sm jenderal soedirman. Dan merasa sangat bersyukur menemukan buku ini di toko buku serta berhasil membelinya. sebuah buku yg menaril karena membahas jenderal soedirman dari lahir hingga meninggal beserta konflik-konflik yang pernah terjadi dalam hidupnya. Menurut aku, buku ini bisa menjadi alternatif lain untuk belajar sejarah perjuangan RI
4 dari 5 bintang! selalu suka sama novel2 yang menceritakan tokoh pahlawan di indonesia!
paling suka saat sipil dan militer tidak bertemu. ada ketidakcocokan antara soedirman dan pemimpin (soekarno/hatta) tapi beliau tetap menjaga sebaik-baiknya amanat yang diberikan untuk menjaga persatuan indonesia.
cuma kasian Pak Soedirman meninggal di usia 34 tahun karena sakit paru-paru.. :'(
Buku biografi yang dibuat seperti novel, rasanya jadi ada di dalam 'cerita' itu. Ditambah data yang lumayan lengkap dari berbagai sumber. Penceritaan dari awal kemerdekaan hingga eksploitasi dirinya oleh Orba.