saya adalah salah satu orang yang menikmati kota tempat tinggal saya ini dengan bersepeda.
sebagai orang yang bukan asli yogya, dan ketika dikasih teman sebuah sepeda kuna, maka itu berkah luar biasa bagi saya. saya manfaatkan benar-benar.
semula, hanya jarak pendek saja saya susuri bersama sepeda tua saya ini. sekitar kampung, persawahan dan perdesaan di daerah bantul yang landskapnya membentang nyaman untuk mata dan pernafasan. setelah yakin dengan kekuatan sepeda itu, maka saya pun membawanya ke kota yogya. seminggu 2-3 kali ke kantor yang berjarak 10km dari rumah saya jalani dengan sepeda itu. melewati berbagai jenis ruang yang berbeda, berbagai kualitas permukaan jalan dan polusi udara.
lain dari itu, kota yogya juga berbeda bila diamati dari sepeda.
sama seperti kesaksian buku ini, ruang-ruang kota jadi kontinu bila disusuri dengan sepeda, katimbang jalan kaki. berjalan kaki cenderung memilih tempat yang berada dalam keteduhan, keluar masuk emperan toko dan bangunan, sedangkan bersepeda itu berkendaraan seperti kendaraan lain: di luar, di jalanan, sehingga fasad bangunan dan skala serta proporsinya lebih terlihat obyektif karena berjarak.
buku ini ingin membaca ruang kota, lewat sarana mobilitas penduduknya: sepeda.
penulisnya mengulas dan menandai identitas kota-kota itu secara subyektif: amsterdam dibicarakan di dalam bingkai "practical", kota portland dalam bingkai "cool", new york dalam bab tentang "political", sydney dalam tajuk "prestigious", chicago dengan "green" dst.
subyektifitas penulisnya justru berharga. dan cocok dengan sepeda yang menjadi wahana pergerakannya. karena sepeda itu masih seperti kepanjangan kaki orang berjalan. bukan tunggangan yang punya otonomi sendiri seperti mobil sedan.
biasanya, buku-buku terbitan 010 dari NAi itu bagus-bagus disainnya. tapi yang ini jelek. typografinya saya gak sukak blas... banyak halaman berwarna yang dicetak di kertas "biasa". tapi ya gak apa-apa.
masih enak dilihat dan dibaca.
secara garis besar, buku ini menempatkan bersepeda sebagai pilihan yang harus diperjuangkan. di banyak kota tidak semuanya seragam dalam mengapresiasi sepeda. bahkan di amsterdam yang datar dan induk bagi para pesepeda, pun di sana orang akan lebih memilih yang gak capek-capek. hanya karena mahalnya ongkos parkir kendaraan sajalah maka mereka memilih bersepeda.
setahu saya, di jepang pun demikian. seorang penduduk saya tanyai mengenai ini, menjawab: "kalau peraturannya gak ribet, saya pilih naik mobil saja." naik sepeda motor dan mobil memang [dibikin] ribet oleh polisi dan pemerintah: entah ijin SIMnya susah, entah parkirnya amat dibatasi. wahana yang paling mudah dan praktis ternyata sepeda.
dan itu berlangsung karena kekuatan PEMDA yang bisa memaksa penduduknya untuk tidak bermotor/mobil di jalanannya.
bersepeda, adalah tindakan politis yang harus diperjuangkan!