Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cowok Rasa Apel

Rate this book
Cowok Rasa Apel adalah sebuah cerita remaja yang dituturkan oleh seorang remaja SMA bernama Dimas. Usia remaja, gejolak pubertas, dan jiwa pengkhayal yang mungkin bisa dibilang naif, dengan semua itu dia tengah bergulat untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan klise yang rupanya tidak bisa basi untuk digumuli: CINTA. Menyukai seorang idola sekolah yang telah ia sukai sejak pandangan pertama, klise bukan? Tapi bagaimana lagi, nyatanya memang dari dulu sampai sekarang banyak orang mengalami proses cinta yang sama: pandangan pertama, kemudian tergila-gila. Bahkan ada yang gila beneran!

Nah, apakah Dimas ini juga 'gila' dengan cintanya? Gila atau tidak, yang pasti itu bukan hal yang mudah baginya, karena orang yang dia cintai... juga seorang cowok! Apa yang akan dia dapatkan dengan semua itu?

Merupakan cerita teenlit yang telah cukup banyak menghabiskan waktu di forum-forum dan juga blog, dan mendapatkan banyak apresiasi positif sebagai sebuah cerita gay-themed yang aman.

220 pages, Paperback

First published February 29, 2012

25 people are currently reading
377 people want to read

About the author

Noel Solitude

2 books9 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
43 (35%)
4 stars
33 (27%)
3 stars
27 (22%)
2 stars
10 (8%)
1 star
7 (5%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Ari.
1,040 reviews116 followers
September 1, 2013
Terima kasih buat Mba' Lelyana yang udah memperkenalkan buku ini ^^
ME GUSTA ♥♥♥♥

hemm...mulai dari mana yah ^..^

The Story
Cowok Rasa Apel adalah kisah tentang Dimas, remaja 17 tahun yang sedang kasmaran. Wajar dong, tapi yang beda adalah dia kasamaran ama temen sekolahnya sesama COWOK!

Dimas sadar akan keadaan dirinya yang lebih tertarik dengan cowok dibanding cewek ketika dia SMP. Lewat internet dia pun menemukan apa arti semua itu; dia GAY!

Menyadari dirinya seorang gay tidak membuat Dimas rendah diri, tertekan atau apalah karena dia berpikir bahwa 'everybody is unique'!

Pun demikian dengan Dimas, dia tetap menjalani hari-harinya layaknya remaja pada umumnya, termasuk dalam hal asmara. Erik, sang objek cinta Dimas adalah seorang idola sekolah dan bagai langit dan bumi dengan Dimas yang penyendiri. Tapi, emang Dimas gigih banget deh usahanya buat deketin sang idola sekolah, apa saja ditempuh buat mendapat perhatian Dimas. Mulai dari ikut audisi band sekolah (biar bisa 1 band ama Erik hihi..), komen-komen di facebook Erik (yang ujung-ujungnya dia di blok ama Erik ^^), sampai ngasih kado di ulang tahun Erik


Hingga semua terungkap pada sebuah acara study tour ke Bali...

The Characters
Dimas >> naive, manja, mesum, suka kepedean, narsis juga,gampang ditebak ^^ Tapi selain semua itu dia juga cerdas, positif dan sebenernya mudah terharu. Di sekolah suka menyendiri!

Denis >> kembaran Denis yang tinggal di Medan. Gak beda jauh karakternya ama Dimas, cuma Denis lebih terbuka, lebih esmosian. Dimas & Denis saling melengkapi. Aww I love them both >m<

Erik >> cowok ideal dan idola sekolah. Pinter, ganteng, kaya, eksis dimana-mana deh pokoknya.

****
Ok, some might say, gaya berceritanya mirip diari anak cewek smp, tanda-baca-abuser, tapi saya menikmati koq.

Ikutan senyum-senyum kalo Dimas lagi cemburu ama fans-fansya Erik, lagi kesel gara-gara dicuekin Erik, ato kalo dia lagi ngayal-ngayal mesum

Pokoknya inner monolog nya Dimas itu menghibur banget!

Tapi weitss...jangan salah, Cowok Rasa Apel tidak hanya renyah dan manis tapi juga menampilkan kenyataan pahit gay teens life di Indonesia. Accused, dikucilkan dan sendirian. Dan saya berharap gay teens seperti Dimas akan menemukan orang-orang yang mau menerima dia apa adanya.

Ganjalannya mungkin cuma satu; referensi musiknya, kurang familiar
Ok, saya tidak mengharapkan Justin Bieber atau pun Taylor Swift, tapi setidaknya lebih familiar lah #nawar
Dan juga meskipun lagunya pas dengan cerita tapi karena lagu tersebut kurang familiar malah gak dapet feel nya


Terakhir, CRA 2 nya dibuku kan juga dong, plisss, lebih asyik aja liat hardcopynya berjejer di rak buku
Profile Image for F.J. Ismarianto.
Author 4 books21 followers
March 5, 2013
Sececap Cowok Rasa Apel
Siapa yang tidak pernah jatuh cinta? Semua orang pernah jatuh cinta. Tak terkecuali Dimas. Tak tanggung-tanggung, dia jatuh cintanya pada murid paling ngetop aka idola di sekolahnya. Pintar, jago main musik, dan tampan.

Iya, tampan.

Tidak salah lagi, Dimas memang jatuh cinta pada cowok.

Cowok itu bernama Erik. Mungkin karena sinyal yang dikirim Dimas begitu kuat dia bisa merasakan perasaan Dimas dan, siapa sih yang mau diolok, diejek, dipandang hina oleh orang lain? Jadinya Erik ini selalu berusaha menghindarinya. Membuat dinding tak kasat mata di antara mereka.

Tapi semenjak pertemuan Erik dengan Denis, kembaran Dimas, di sebuah restoran cepat saji, entah kenapa sikapnya pada Dimas mendadak bersahabat. Bahkan dia mengaku pada Denis hubungannya dengan Dimas sangat akrab.

Apakah Erik menyimpan rasa yang sama seperti Dimas? Kalau tidak, kenapa dia mendadak baik pada Dimas di hadapan Denis? Atau jangan-jangan dia…

Citarasa Cowok Rasa Apel
Sebelumnya, aku ucapkan rasa terima kasihku pada Mr. S yang telah berbaik hati meminjamiku buku berjudul Cowok Rasa Apel ini.

Kesan pertama melihat bungkus sajian ini adalah lebih bagus kalau cover belakangnya yang dijadikan cover depannya. Aku tahu penulis ingin memberikan sentuhan Indonesia pada bukunya, tapi kehadiran dua wayang itu malah… Maksudnya dapet, tepat sesuai kisah, tapi menurut pendapatku terkesan aneh. Coba lihat cover belakangnya ini:

cra

Seperti biasa, dalam reviewku selalu ada bagian yang aku suka, yang rasanya manis, dan bagian yang aku tidak suka alias asam.

Kita mulai dari rasa asamnya dulu:

1) Novel Cowok Rasa Apel ini banjir tanda baca: titik, tanda seru, dan tanda tanya. Soal typo… jelas ada, lumayan sih jumlahnya, tapi bahkan di buku yang diterbitkan secara tidak self publishing juga tidak bebas dari typo.
2) Ada beberapa adegan yang bisa dipotong tanpa mengurangi esensi cerita, tapi terkadang kalau penulis mau mengubahnya dikit bisa jadi humor yang potensial mengundang tawa. Semisal adegan makan di McD.
3) Kata “aman dibaca” yang disebut oleh penulisnya. Nggak tahu ya, aku agak sebal gitu menemukan kata itu meski tujuannya baik. Apa mungkin buku glbt Indonesia selama ini tidak “aman”? Ada lho yang aman seperti Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh–tapi mungkin karena novel itu fokusnya ke banyak tokoh jadinya… Ya aman. Lelaki Terindah aku rasa juga aman karena menyembunyikan “kompor”-nya (baca: adegan kipas-kipas) dalam metafora.
4) Kurangnya tokoh cewek! Cuman ada dua doang yang “bicara”, dan itu pun tokoh yang udah tuwir. Bahkan di Boy Meets Boy, Will Grayson, will grayson yang juga “aman” memasukkan tokoh cewek yang muda dan cukup banyak kemunculannya.
5) Cover depannya. Udah aku jelasin di awal.

Lanjut ke rasa gula:
1) Penokohannya kuat dan tergambar sangat baik dan nyata. Terutama karakter Dimas. Yang menarik adalah Dimas menerima kondisi “unik”-nya tanpa sesal, tanpa mempertanyakan kenapa dia begitu.
2) Arti “penyendiri” yang dihadirkan penulis di bab-bab akhir. Bisa dibilang aku cukup tercengang dengan sudut pandang yang dihadirkannya–secara aku tak memikirkan kemungkinan itu sebelumnya.
3) Setting lokasinya yang memasukkan beberapa tempat wisata di Solo dan Bali. Lengkap dengan beberapa mitosnya.
4) Ilustrasi di dalamnya yang ciamik!

Sejak baca bab-bab awal aku tidak bisa berhenti tertawa. Apalagi sejak kemunculan kembarannya Dimas, Denis, makin heboh saja tawaku. Jujur saja, Cowok Rasa Apel ini sebuah karya yang lumayan. Kenapa tidak diajukan ke penerbit besar? Siapa tahu diterima. Toh, ada label amannya :))
Tapi, ya, itu keputusan penulisnya sih :D

P. S. Suer, aku nggak senewen sama kata amannya. Cuman sebal aja gitu :))

Original post: http://feedmebook.blogspot.com/2012/1...
Profile Image for Rendi Febrian.
Author 5 books82 followers
August 10, 2016
Pertama baca cerita ini di blog bang Noel. Awal yang menarik, konflik yang twist dan karakternya kuat. Tetapi kenapa hanya dua bintang? Entahlah, mungkin karena buku ini terlalu menggurui buat saya. Ada beberapa hal yang membuat saya agak muak kepada Dimas, tetapi di sanalah applause buat bang Noel keluar. Karena bisa membangkitkan emosi pembaca.

Satu bintang untuk isi ceritanya yang apik dan ringan.
Satu bintang untuk gaya penulisannya yang sangat remaja.

Satu bintang hilang karena isinya terlalu menggurui.
Satu bintang hilang karena sifat Dimas yang agak lemah.
Satu bintang hilang karena endingnya nggak seapik isinya.

Tapi buku ini bagus buat dibaca kala waktu senggang. Sambil minum teh dan nyetel lagunya Frank Sinatra. Hihihihi...
Profile Image for lei ♡.
11 reviews
July 16, 2024
Full review novel pertama menyusul. Intinya novel pertama ceritanya simple dan wholesome ya. Jujur bagus. Gak lebay gak berlebihan lah. Makanya gue kasih rating 3. Tapi, yang ke-2 kurang suka karena entah kenapa Dimas annoying banget kacauuuu. Gue terpaksa nge-rant di sini karena gak bisa review novel yang ke-2 di Goodreads. Jadi sorry ya, numpang review di novel pertama. Sekalian aja lah!

So, gue udah ngerangkum beberapa point penting yang mau gue bahas di sini. Seperti yang udah gue bilang tadi, gue merasa bahwa Dimas annoying di novel yang ke-2. Here’s why:

Pertama, beberapa saat sebelum taun ajaran baru di mulai Dimas sempet patah hati. Gak lama pas masuk semester baru, dia ketemu deh sama salah satu murid baru di sekolahnya. Namanya Fandy. Ini beneran ya, baru dua hari ketemu Fandy, si Dimas udah BAPER, udah deg deg serrer. Dia udah suka banget dan bahkan menggembor-gemborkan kalau itu perasaan CINTA.

IYA 2 HARI COY! padahal baru putus cinta loh, baru ditolak. Gak make sense. Udah gitu dia terlalu aggressive dan egois. Terlalu berharap dan kepedean sama Fandy. Hello? plis deh? gue sampe SKIP banyak chapter pas bagian dia ke pasar malam sama Fandy, karena jujur ngebosenin dan gue kurang suka sama Fandy. Kalau boleh jujur, Fandy bukan karakter yang memorable kalo dibandingkan Erik ataupun Ben.

Plus, si Dimas ini padahal bisa belajar loh dari pengalaman pertama ditolak. Bahkan ada salah satu siswa yang secretly gay di sekolah—si Aldo, yang nampar Dimas pake kata-kata dia. Yah, walaupun dengan cara yang kurang tepat tapi jujur apa yang diomongin Aldo 100% bener!!!

“Jangan menghayal! Jangan berharap terlalu banyak sama cowok straight! kamu bakalan jatuh! jangan permalukan diri sendiri, sebagai gay harus pinter-pinter biar gak malu-maluin!”

That’s it. Udah panjang lebar si Aldo ngomong, tapi si Dimas malah merasa paling oke. Malah ngebalikin ke Aldo, ”gimana kalau kamu yang ketahuan gay? aku sih punya temen dan saudara yang mau nerima? lah kamu? nyemplung dulu sini kayak aku!”.

Like…what? apa harus nyemplung dulu supaya kita bisa memperingati seseorang? apa harus ketauan gay dulu supaya kita bisa ngasih pemahaman yang make sense sama seseorang? kalau seandainya gue secretly gay, gue bakalan lakuin hal yang sama kaya yang Aldo suruh, main cantik kalo emang gak mau identitas gue ketahuan, gak bakal kepedean apalagi egois kaya lu Dimas. Oh my god.

Dibilangin salah sama keluarga Fandy malah ngotot gak tau diri. Padahal ibaratnya lu yang nyebelin, lu yang udah mempengaruhi Fandy, ya lu sadar kek. Pokoknya gue mulai merasa Dimas tuh bener-bener keluar sifat annoyingnya di novel ke-2, apalagi pas dia tidur dan lagi di deket Fandy, pikirannya gak sopan, ke mana-mana, ngeres. Fandy itu nganggep lu KAKAK!

Jujur gue kasian sama Fandy, anak sepolos itu tapi udah di incer mas-mas mesum kek si Dimas. Padahal Dimas baru kenal tapi udah kaya gitu. Gue malah nganggapnya itu ke arah pelecehan. Jangan lupain juga di novel pertama, pas Dimas main ke rumah Erik buat kasih kado. Waktu itu adiknya erik yg masih balita yang nemuin Dimas di depan, dan anak kecil itu gak pake celana. Kalian yang udah baca inget gak apa yang ada dipikiran Dimas? ”Aduh..kenapa bukan eriknya aja sih yang gak pake celana?”. HFTTTT.

Pertanyaan gue, kira-kira sopan gak sih kek begitu? pantes lu ditolak! Emangnya harus ya si Dimas ini mikir ke situ terus? esensi ceritanya jadi berkurang, padahal wholesome banget loh ceritanya. Sayang banget kan. Gue berharap ceritanya tuh bisa jauh dari hal-hal gak penting kek gini. Hal-hal yang gak ngaru sama inti ceritanya. Hadeh.

Satu point lagi, pas di chapter rapat dewan yang bahas artikel LGBT dilarang dimuat di mading, Dimas mandang Pak Solikhul (ketua dewan) dan keponakannya (perwakilan seksi OSIS ketaqwaan) tuh homophobic, padahal udah dikasih tau kalo itu semua karena suami dari kakak si keponakan itu SELINGKUH SAMA COWOK! plis deh seharusnya Dimas paham soal itu dan lebih bijaksana menanggapi lagi.

Apalagi Pak Solikhul walaupun menolak artikelnya dimuat, beliau tetep respect dan tetep merespon/menghargai pendapat siswa-siswanya dengan baik loh. Malahan selama ini Dimas yang selalu punya pikiran JELEK sama Pak Solikhul. Dikatain ini lah, itu lah. Hadeh. Guru loh beliau itu. Kalau kurang suka sama Pak Alexius ya pantes, karena dia gak menghargai privasi orang. Lah Pak Solikhul ngelakuin apa sampe si Dimas sebegitunya gak suka sama beliau? sampe cara ngomongnya dijulidin. Si Dimas ini emang super nyinyir dan horny. Gak tertolong lagi dia.

In the end, gue cuma bisa kasih 2 bintang untuk novel yg ke-dua. Iya, satu bintang untuk papanya Dimas, dan satu bintang lagi untuk DENNIS, kembaran Dimas. Untuk Dimas? sorry gak dulu. Gue jadi males ngelanjutin novel yang ke-3, karena jujur takut annoyingnya si Dimas kumat, apalagi dia sampe kabur segala ke Bali. What the hell?
Profile Image for Boy Simangunsong.
4 reviews
April 16, 2023
Loved it! Ceritanya yang realistis dan berhubungan dengan kehidupan membuat alurnya mudah untuk dipahami. Bahasa yang digunakan juga sederhana, sehingga mudah untuk dicerna. Sentuhan lagu-lagu yang semakin mendukung rasa dalam ceritanya. Aku bahkan membuat playlist khusus yang berisi lagu-lagu yang disebut dalam novel ini!

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini, khususnya bagi orang-orang yang memiliki orientasi seks yang sama dengan Dimas. Tentang bagaimana untuk menjadi diri sendiri pun rumit. Tentang bagaimana mencintai seseorang dalam diam, memperhatikannya dari jauh, menjaga rasa, mengungkapkan rasa, dan menerima risikonya. Tentang bagaimana mencintai diri sendiri juga penting.

Bravo, Mas Noel.
Profile Image for Fachry Mohammed.
36 reviews2 followers
December 15, 2019
Buku yang enak dibaca seharian. Cerita yang diberikan cukup menarik dengan pusat cerita bukan hanya terletak pada kisah cinta. Karakter cerita kurang diberikan pengembangan kecuali untuk Dimas dan Eric. Susunan kalimat juga seharusnya dapat lebih diperbaiki agar tidak terkesan terlalu ringan dan mengedukasi.

Buku lokal pertama yang saya baca dengan karakter utama seorang LGBT. Recommended.
Profile Image for naje’s.
4 reviews
March 24, 2023
lucuuu, ringann! Cocok buat selingan dihari yang sibuk ;)
Profile Image for Syahruli Nur Qotrunnada .
5 reviews1 follower
June 27, 2023
Aku baca pas SMP, sangat shock buat pikiranku yang belum kenal hal- hal macam ini. Tapi dari segi cerita, sepertinya aku enjoy-enjoy aja dulu pas baca.
Profile Image for Fhily.
Author 1 book44 followers
March 5, 2013
“Menurutku… Cinta monyet tetaplah cinta. Ibaratnya buah, katakanlah sebuah apel… meskipun masih mentah itu tetaplah sebuah apel… Memang yang matang lebih manis sih… Makanya, sebaiknya cinta itu menunjukkan sikap yang dewasa. Yang sudah matang…!”


Menunggu buku yang sedang dikirim saya nyari-nyari bacaan. Bingung mau baca apa. Dan tiba...tiba ini buku muncul di recent updates. Langsung dilihat. Ohh self-publishing, dan lihat preview-nya. Eh... nemu versi full-nya. Baca aja dah daripada ga ada bacaan.

Pertama... pas baca ini cerita ternyata tentang gay rada...gimana gitu. Tapi, pas lihat genre-nya teenlit. Mungkin amanlah. Lanjut...

Bercerita tentang Dimas seorang pelajar SMA yang sementara dalam pencarian jati dirinya. Bergaul dengan teknologi yang ada. Dan teknologi itulah yang membuat dia tahu akan sebuah kenyataan dirinya bahwa dia seorang...

GAY

Lebih parahnya lagi ketika dia suka pada seorang cowok populer bernama Erik. Kejadian konyol dia lakukan. Membuat diary tentang Erik dan embel-embelnya. Ngasih perhatian ke Erik lewat FB dan sebagainya. Terutama ketika Erik ulang tahun sampe bela-belain ke rumah Erik. Eh malah ketemu adiknya yang gak pake celana (sumpah LOL)
Udah nyiapin kado romantis malah kadonya ilang. Alhasil jadilah dia memberi Erik kado...apel yang dia beli satu duaribuan disebelah toko kaset.

Tambah ruwet juga karena si Dimas ini ternyata punya kembaran namanya Denis. Tapi suatu hari ketika jalan-jalan sama Denis, dia malah ketemu Erik dan membuat mereka jadi terasa lebih dekat?

Dan suatu saat... di Bali... Erik meminta Dimas untuk jujur.

Apakah Dimas akan jujur tentang perasaan pada Erik? Apa Erik akan 'menerima' Dimas yang jatuh cinta padanya padahal mereka berjenis kelamin sama? Apa yang dilakukan Denis setelah tahu kakak kembarnya ternyata seorang...Gay? Baca aja dalam Cowok Rasa Apel.

***

Well, nggak seperti bacaan-bacaan tentang Gay yang lain ini terkesan lebih ringan. Saya banyak ngakak apalagi part yang Dimas-Denis. Tapi... tetap aja saya bacanya rada aneh ._.v
Ini novel kedua yang tokok utamanya ada unsur Gay yang saya baca selain: Shit Happens Gue yang Ogah Kawin Kok Lo yang Rese
description
yaaa... two and a half stars enough
:)
Profile Image for Meliana.
141 reviews1 follower
August 20, 2014
Dimas menyukai seseorang dan bahkan mungkin bisa dibilang ngefans berat sama orang itu. Tapi setiap kali Dimas memberi perhatian, orang itu mengacuhkannya, bahkan bersikap dingin padanya. Apakah salah memberi perhatian lebih? Apakah salah mengidolakan seseorang? Apakah salah mempunyai perasaan pada Erik? Ya, Erik, cowok tampan idola di sekolah Dimas.
Dimas tahu bahwa dirinya memang berbeda dari banyak cowok pada umumnya, karena dia sama sekali tidak tertarik pada cewek. Dimas lebih tertarik pada cowok. Dimas menyimpan rapat-rapat rahasianya itu sampai pada suatu hari sewaktu tour ke Bali, Erik tiba-tiba sangat baik dan perhatian kepadanya. Erik pun meminta Dimas untuk jujur akan perasaannya. Beranikah Dimas mengutarakan cintanya pada Erik? Apakah Erik mau menerima perasaan Dimas?

--

Aku mendapat e-book ini dari seorang teman sudah dari beberapa waktu yang lalu, dan katanya cerita ini memang sebelumnya sudah ada di sebuah blog lalu dibukukan. Ini novel LGBT Indonesia pertama yang aku baca. Sebenernya aku kurang suka genre LGBT, tapi membaca cerita ini tidak membuat aku bergidik dan berkata "eeewwwhhh.." dan malah kebanyakan aku nyengir-nyengir sendiri sewaktu membaca cerita ini.
Karena diceritakan dari sudut pandang orang pertama, yaitu si Dimas sendiri, aku jadi mudah untuk bisa masuk ke dalam cerita. Rasa senang, sedih, bahkan rasa malu Dimas, aku bisa rasain karena Dimas menceritakannya secara santai dan bahasa yang ringan. Mirip membaca diary kurang lebih.
Overall, novel ini cukup menghibur dan walaupun memang menceritakan LGBT, tapi jangan underestimate dulu ya, tergolong aman kok.. hehehehe..
Profile Image for Snawta Qyrios.
5 reviews2 followers
June 12, 2016
Lima bintang untuk CRA.
Cerita anak remaja, teenfik banget deh pokoknya, dan sangat realistis. Tidak seperti cerita LGBT lainnya dengan karakter gay meet gay, CRA malahan membuka mata kita bahwa menjadi seorang gay itu tidaklah mudah. Penopengan jati diri, terjadi penolakan, pembullyan, karena gay dianggap sangat menyimpang dan menodai norma, di sinilah sisi unik dari CRA. Mas Noel menuliskan cerita yg sangat nyata dan tidak berlebihan.  Kepiawaannya dalam memainkan logika aku ancungi dua jempol. Aku merasa sosok Dimas benar-benar hidup dan benar-benar ada di dunia nyata saking cerdasnya Mas Noel dalam merangkai cerita yg jauh dari kata 'bullshit'.
Cerita ini sangat 'aman' sesuai dengan kompisisi kehidupan anak remaja yg masih takut untuk come out. Hatiku sukses tercuri dan jatuh cinta. CRA is the best banget menurut aku. Buku indie bertema gay terbaik sepanjang masa (untuk sekarang ini masih belum ada bisa yg menggeser).
Paling suka tiap baca adegan Dimas sama Denis yang saling iseng.
Profile Image for Rie.
224 reviews19 followers
September 2, 2013
Pertama-tama makasih buat kak ari yang udah minjemin buku ini (masih tersimpan rapi di rak buku saya) Buku dengan cerita cute maksimal >.< Sangat suka dengan karakter utamanya. Sepanjang membaca buku ini saya tidak berhenti tersenyum.
Saat membacanya saya diingatkan kembali betapa saya sebenarnya menyukai novel-novel remaja yang sderhana namun menggigit. Tidak ada adegan dewasa yang mungkin kebanyakan orang berpikir bahwa novel-novel LGBT itu lebih banyak memasukkan unsur "dewasa".
Buku ini hanya bercerita tentang Dimas, seorang remaja biasa dengan berbagai masalah remaja pada umumnya- jatuh cinta-patah hati-jatuh cinta lagi, yang membedakan dari novel remaja lainnya adalah Dimas jatuh cinta dengan seorang pria.

Novel manis, dengan karakter dan cerita yang manis.
Profile Image for Elfrida Nurnazmina.
5 reviews
October 24, 2014
Pertama, aku suka sama ceritanya. Tapi maaf ya bang Noel, kesini2 nya aku berasa kurang greget. Mungkin karena akunya lebih suka happy ending dan berharap kalau Dimas sama Erik pacaran. Yah, dan juga si Dimas itu naif banget waktu masih suka sama Erik and I don't like naive guy.

Tapi, waktu Dimas habis ditolak Erik itu, aku jadi suka lagi. Soalnya berasa banget sakitnya si Dimas. Ketika udah nyampe klimaks begitu, again I cant find for solving problem like I expected. Jadi ya... begitulah...
Profile Image for Eka I.
24 reviews1 follower
March 19, 2015
Awalnya agak greget baca buku ini karena banyak banget kesalahan EYD-nya. Sempet berhenti di halaman 20, tapi pada akhirnya lanjut lagi besoknya. Di pertengahan buku aku udah bisa dapet feelnya, semakin ke belakang ternyata aku makin suka narasinya.

Buku ini sederhana, apa adanya, jujur. Banyak quote yang bagus di sini, tapi ada hal yang nggak gue setuju, "Kenapa Tuhan kasih perasaan ini?" Tapi nggak usah dijelasinlah.

Sekarang, oke, bolehlah Kak Noel Solitude masuk sebagai penulis Indo pertama yang aku suka. Good Job! Aku akan baca buku ke dua kalo ada. Hehehe
1 review
January 3, 2015
suka sekali sama cerita ini. meskipun dah 3x membaca masih tetap enak ceritanya :)
24 reviews
October 14, 2015
dapet pdf gratisannya dr web, hehehe
ceritanya sederhana tp mengena. banyak terselip pelajaran2 yg bisa diambil
Profile Image for Devi Sari.
36 reviews
January 4, 2017
novel ini bikin gue geleng-geleng kepala. Sukses bikin gue sadar kalo kaum LGBT itu ga seharusnya dibenci. Mereka juga punya hati dan perasaan sama kayak manusia pada umumnya. Semua yang terjadi bukan kemauan mereka, mereka cuma bisa pasrah dan menerima dengan ikhlas. Gue salut sama penuturan kata demi kata yang berhasil mengubah sudut pandang gue.
Gue kagum sama tokoh Dimas yang walaupun di awal pas dia ceritain tentang diary-nya itu bikin gue sedikit geli. Tapi di tengah sampe akhir tokoh ini sukses bikin gue merasa kalo gay itu bukan untuk dijauhi tapi diterima kehadirannya.
Denis, gue baper nih sama dia. Gue juga pengen punya saudara yang bisa ngertiin gue.
Eka, dia juga sukses buat buka mata gue tentang fenomena-fenomena dalam masyarakat.

Pokoknya over all cerita ini wajib dibaca.
Displaying 1 - 20 of 20 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.