Bagi setiap perantau sepertiku, rindu adalah hantu yang paling menakutkan. Tak ada yang tahu bagaimana ia mendatangiku setiap waktu. … begitu menyiksa, menggeretakkan tulang-tulang ketabahan.
Karang Asam, Samarinda, Bumi Etam. Dua tahun telah berlalu, sejak Dahlan meninggalkan Kebon Dalem. Sayangnya, merantau dan menjadi mahasiswa tidak semudah yang dibayangkan. Perkuliahan berlangsung melenceng jauh dari rencana awal, sementara kerinduan terhadap kampung halaman dan orang-orang terkasih selalu menyesakkan dadanya. Belum lagi Dahlan harus dihadapkan pada pilihan yang sulit antara janji temu dengan cinta pertama, lamaran sahabat baiknya, dan cinta baru yang dia temukan di tempat rantauan.
Dahlan muda yang penuh semangat juang berusaha untuk tidak mengalah pada rindu. Kepeduliannya terhadap negeri yang kacau balau kala itu, membuatnya memutuskan untuk mengabdi pada masa depan bangsa melalui gerakan-gerakan kemahasiswaan. Dianggap memberontak, Dahlan dan rekan-rekan mahasiwanya menjadi buronan pemerintah. Dia harus berlari dan bersembunyi dari kejaran tentara. Di tengah pelariannya, takdir mempertemukannya dengan Sayid, seorang guru sekaligus sahabat, yang mengenalkan Dahlan pada media dan memberikannya kesempatan untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Khrisna Pabichara lahir di Borongtammatea—sebuah kampung di Jeneponto, Sulawesi Selatan—pada 10 November 1975. Kumpulan cerpen debutnya, Mengawini Ibu, terbit pada 2010. Novel debutnya, Sepatu Dahlan, terbit pada 2012. Sedangkan kumpulan puisi pertamanya, Pohon Duka Tumbuh di Matamu, terbit pada 2014. Penyair yang kerap diundang sebagai pembicara dan pembaca puisi ini memulai karier kepengarangannya di dunia buku-buku seputar neurologi. Penyuka FC Barcelona ini sekarang bekerja sebagai penyunting lepas dan aktif dalam kegiatan literasi. Bisa diajak berbincang berbagai hal, terutama #bahasaIndonesia, lewat akun twitter @1bichara dan instagramnya @khrisna_marewa.
Buku kedua ini lebih menarik karena menceritakan kisah Pak Dahlan yang menuntut ilmu hingga ke Kalimantan, berjuang demi kemerdekaan dan ketika ia pun galau ada tiga wanita yang menaruh hati kepadanya. Saya lebih menyukai buku kedua ini karena lebih banyak pertentangan batinnya Pak Dahlan :3
Terimakasih atas peminjaman bukunya Perpustakaan Kemendikbud
Sekuel kedua dari novel trilogi ini bersetting di Samarinda. Lebih banyak bercerita tentang kisah pergerakan mahasiswa yang diikuti Dahlan semasa kuliah disana. Kuliah di dua universitas tidak membuat Dahlan lantas kehilangan waktu untuk berorganisasi. Dahlan pun aktif di koran kampus. Satu hal yang menarik dari novel ini adalah tentang keberanian dahlan menentang seorang dosen killer di kampusnya yang mengharuska setiap mahasiswa memakai kemeja ketika mengikuti perkuliahannya. Demonstrasi yang diikutinya telah membuatnya dikejar kejar oleh tentara sehinnga dia sembunyi beberapa hari di rumah seorang nenek tua di tepi hutan.Namun pada akhirnya Dahlan bida selamat sedangkan 2 temannya sempat merasakan dinginnya tembok penjara karena tertangkap pasukan tentara yang mengejar mereka.
Kisah percintaan nya pun kandas dengan Aisha karena jarak dan waktu yang memisahkan mereka. Namun tanpa diduga Maryati sang teman dari kebon dalem menyusulnya ke Samarinda dan menyatakan cinta padanya. dahlan antara kaget dan tak percaya mendengarnya. Namun Dahlan tidak menaruh hati padanya. Cintanya masih untuk Aisha walaupun mereka tidak berjodoh. AKhirnya Dahlan memilih Nafsiah teman di kampusnya. Gadis anak tentara yang tomboy dan kawan di organisasi dan koran kampus. Nafsiah adalah anak tentara. Namun dengan kebulatan tekad dan cinta yang akhirnya hadir , Dahlan memutuskan untuk menikahi Nafsiah.
Di akhri-akhir cerita dikisahkan pula tentang dahlan dan keluarga yang hijrah ke Surabaya dan mulai bekerja sebagai wartawan dan akhirnya menetap sebagai wartawan Jawa Pos.
Dalam novel ini, masih banyak tulisan tulisan puitis Dahlan untuk Aisha dan Surat Aisha kepada Dahlan. Sifat Dahlan yang selalu berani dan tak gampang menyerah menjadi ciri khas karakter Dalan yang selalu menyertai perjalanan hidupnya. Nasihat sang ayah selalu dijadikan pegangan dalam kehidupannya, walau tudaik pernah bertemu namun sang ayah rajin memberi wejangan dalam berlembar lembar surat.
Persahabatan yang tulus dan tidak lekang oleh waktu terlihat dalam cerita ketika Dahlan yang sudah mempunyai 2 orang anak berkunjung ke kebon Dalem, berpuluh tahun berselang sejak dia meninggalkan kampung halamannya menemui ayahanda tercinta dan Zain adik nya. Serta merta teman teman masa kecilnya mendatangi dan menjumpainya. Aisha tidak terceritakan pada kisah pertemuan mereka. Termasuk Maryati yang akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Paijo teman di Kebon Dalem.
Kerja keras, pantang menyerah, tak takut mengatakan yang benar walaupun pahit, kisah persahabatan dan cinta yang tulus tergambar dalam novel ini.
Pantas dan layak untuk menjadi salah satu bacaan kita.
Sejuta pelukan tak kan pernah cukup Satu manyunan sudah menghempaskan diriku ke dalam duka lara yang sangat mendalam Ketika sedikit saja ada kesal di hatimu, sangat aku rasakan sesak di dada Dan satu senyumanmu sudah dapat melambungkan kebahagiaan yang tak terhingga Saat aku bisa mengusap rambut dan pipimu, berjuta kedamaian luruh mengisi hatiku wahai belahan jiwaku
Cintaku Belahan jiwaku
Sepenggal kalimat singkat melalui jalur komunikasi kita membuatku tertegun, menyadarkan diriku betapa aku sudah membuat hatimu gundah tanpa sengaja. Kadang sifat egoisku meraih kemenangan saat bertarung dengan logikaku. Semoga cintaku, belahan jiwaku sudi terus bersabar membimbingku untuk bisa lebih membuatnya bahagia.
Surat Dahlan menceritakan bagian dari kehidupan seorang Muhammad Dahlan, atau yang kini kerap disapa Dahlan Iskan. Banyak yang mengenal beliau sebagai Direktur PLN atau pun Menteri BUMN. Beliau menjadi lebih tersohor dengan merakyatnya berita tentang dukungan penuhnya terhadap mobil listrik "Selo" yang dikembangkan para mahasiswa. Sayangnya, "Selo" belum siap diterima oleh Indonesia. Namun, di balik itu semua, Dahlan Iskan adalah seorang jurnalis sejati. Membuminya harian Jawa Pos di Indonesia sedikit banyak merupakan bagian dari andil beliau. Novel ini menampilkan keteguhan pendirian Pak Dahlan dalam mengaktualisasi diri yang membawanya kepada keberanian dan totalitas meniti karir sebagai seorang jurnalis di Bumi Etam. Menyuarakan kebenaran meski tantangan di hadapan. Maka, nilai-nilai yang ia peroleh semasa mudanya itulah yang sedikit banyak membawa Pak Dahlan cemerlang pada waktunya, sejak jadi CEO Jawa Pos, Direktur PLN, Menteri BUMN, hingga kini Harian Disway miliknya menjadi salah satu wacana yang banjir pembaca setia.
Novel ini menyajikan poin-poin penting dalam masa muda pak Dahlan dengan runtut. Dibingkai dalam kisah hidup remaja yang tak lepas dari rasa cinta tentu menarik usia sejawat untuk membaca. Namun bisa jadi akan sangat menarik jika plot waktu divariasikan untuk menambah rasa ingin tahu pembaca, sehingga menuntaskan bacaan ini sampai selesai dengan lebih cepat.
***
Kutipan dari "Surat Dahlan" - "Hati-hati dengan 'kendaraan'. Apa pun bentuknya bisa menyelamatkan atau membahayakan."
Judul : Surat Dahlan Penulis : Khrisna Pabichara Penyunting : Suhindrati Shinta dan Rina Wulandari Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika) Tahun Terbit : 2013 ISBN : 978-602-7816-25-1 Peresensi : Naqiyyah Syam
Harapan adalah kekuatan terbesar untuk hidup. Walau badan menderita penyakit fisik yang cukup parah, harapan sehat, sembuh dan tatapan kasih orang-orang yang mencintai kita, itulah nyala semangat. Seperti itulah yang ditularkan Dahlan Iskan. Prolog di novel ini mengisahkan saat Dahlan harus dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit liver. Dahlan harus mengalami operasi pencakokan liver dari pendonor liver yang tidak dikenalnya. Saat divonis untuk tidak bergerak 24 jam, Dahlan menyambutnya dengan senyum. Tak mengeluh, tak juga menyerah.
Novel ini terdiri dari 31 Bab dengan 376 halaman. Ditulis oleh Khrisna Pabichara, pemuda kelahiran Makassar, 10 November 1975. Penulis yang dikenal dengan sapaan Daeng Marewa ini sebelumnya telah menulis 16 buku baik fiksi maupun puisi. Penghargaan nasional juga telah diraihnya, seperti 10 besar Katulistiwa Literary Award (KLA) 2012. Novel Surat Dahlan ini adalah sekuel dari novel pertamanya, Sepatu Dahlan (Naura Books, 2012).
Secara keseluruhan, inti dari kisah novel ini menurut saya terbagi dalam 3 bagian. Bagian pertama berkisah tentang Dahlan muda dengan kerinduan terhadap kampung halamannya. Saat harus merantau dari Kebon Dalem nun pelosok Pulau Jawa menuju Samarinda untuk menuntut ilmu. “Bagi setiap perantau sepertiku, rindu adalah hatu yang paling menakutkan” (hal : 17).
Dahlan muda sempat terombang-ambing dengan kisah cinta masa remajanya. Surat-surat cinta kerap datang dari gadis bernama Aisha. Namun, Dahlan tak pandai menjadi lelaki romantis, tapi bukan juga penggombal cinta. Disimpannya asa untuk memperistri gadis pujaannya itu tanpa membalas surat Aisha. Dahlan muda sibuk dengan kuliah di dua kampus dan jatuh cinta pada organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Di PII Dahlan muda menemukan jiwa nasionalismenya. Jiwa mudanya bergelora. Bersama temannya, Dahlan menyusun demonstrasi menentang kebijakan pemerintah. Tugu Nasional menjadi saksi perjuangannya, hingga Dahlan dianggap sebagai pemberontak dan menjadi buronan pemerintah.
Dahlan muda, tidaklah kaya, tidak juga memiliki kecerdasan rata-rata. Entah mengapa, Maryati anak jurangan Akbar begitu menaruh harap padanya. Lalu, ada Nafisah rekan sejawatnya di PII yang tomboi, tapi merdu suaranya saat membaca Al-Quran juga diam-diam menaruh simpati padanya. Dahlan terjebak pada cinta segitiga. Siapakah yang akan dipilih Dahlan? Cinta masa remajanya Aisha, Maryati yang terus mengikutinya sampai ke Samarinda atau Nafisah anak seorang tentara yang sangat diseganinya? Benar kata pepatah, dibalik kesuksesan pria, ada wanita di belakangnya. Dahlan muda didukung penuh oleh Mbak Atun kakak kandungnya. Ada Nenek Saripa sang penolongnya kala sekarat di tengah hutan selain ketiga wanita yang menaruh harap padanya.
“Kita memang dilahirkan bersama rasa takut, Tapi kita tak boleh gentar menjadi apa pun.” Nasehat Nenek Saripa (Hal : 218).
Lalu, ada istri yang setia yang penuh kesabaran. Mengasuh anaknya sendiri dikala Dahlan memilih konsetrasi penuh pada pekerjaannya. Namun, novel ini tidak banyak mengangkat siapa dan bagaimana ibu Dahlan, karena ibunya telah meninggal. Novel ini lebih menceritakan semangat bapaknya Dahlan, Iskan. Inti kedua pada novel ini tentang dongeng yang dikisahkan apik oleh bapaknya kepada Dahlan. Potongan-potongan dongeng yang bijak menjadi pemacu Dahlan muda untuk terus maju. “Aku mengusap wajah. Menyesal diri. Tiba-tiba lesap ke dalam kalbu pesan Bapak seusai bercerita tentang konyol kera yang kehilangan kacang itu. Kata beliau, “Kadang kita luput mensyukuri anugerah yang kita terima. Mungkin karena rahmat itu kita anggap kecil atau memang sesuatu yang lumrah, lantas kita lalai menjaganya.” (Hal : 263).
Dongeng yang diceritakan Bapak Iskan menjadi benang merah dalam tiap kisah antara kehidupan Dahlan muda di Samarinda dengan kisah di kampung halamannya. Dongeng-dongeng itulah yang melekat pada diri Dahlan untuk melangkah. Menjadikan Dahlan sebagai lelaki yang kuat.
Inti ketiga yang menarik dalam novel ini adalah sebuah idealisme seorang Dahlan muda. Sejak kuliah, Dahlan muda berani, Ia pernah menentang dosennya yang tidak memperbolehkannya ikut kuliah karena Dahlan memakai baju kaus.
Dahlan muda protes dengan menulis di selembar kertas : “TOLONG KULIAHI KAMI, PARA KEMEJA!” (hal : 71).
Kehidupan Dahlan mulai berubah sejak bertemu dengan Sayid yang menawarinya menjadi seorang wartawan. Dahlan akhirnya berkarir di dunia jurnalistik dari nol. Dahlan muda pembelajar sejati, walau berita pertamanya tidak layak di muat, Dahlan tak patah arang. Di sini kisah perjuangan makin indah ketika mengetahui dibalik alasan mengapaDahlan menuliskan namanya menjadi Dahlan Iskan dan bukan nama aslinya. Dengan modal minat dan kesungguhannya, karir Dahlan beranjak cepat. Dari wartawan biasa di Mimbar Rakyat, lalu menjadi wartawan lepas di Tempo, hingga menjadi Ketua Satuan Tugas Pelaksana di Jawa Pos.
Tak kaget melihat Dahlan dengan lancar menuliskan berita. Selain minat dan kesungguhan, Dahlan muda rajin menulis di buku harian. “Hari pertama setelah menikah, aku serahkan tiga buah buku harian : buku yang mengawetkan banyak kenangan, yang menyembunyikan banyak rahasia, yang melipatkan rapi masa lalu ( hal:287)
Novel ini juga mengisahkan kisah Dahlan yang tak luput dari kelemahan sebagai pria, suami dan seorang bapak. Adegan haru saat anaknya, Rully yang masih berusia lima tahun berteriak lantang : “Ayah lebih sayang kolan dali Ully!” (hal : 328). “Pekerjaan memang bisa membuat seorang ayah, tanpa sengaja, lupa kepada anak-anaknya.” (Hal : 332).
Novel ini sangat rapi dari soal pengeditan dan tata letak. Ditunjang dengan kualitas kertas, hingga tak bosan membacanya. Menurut saya, novel ini akan semakin indah jika dideskripikan lebih totalitas mengenai Samarinda. Lokalitas dalam novel ini masih sekilas dan belum mendalam, misal nama jalan, rumah, keadaan alam, belum menyatu secara sempurna. Entah karena Dahlan berasal dari Jawa, sehingga penulis tidak terlalu mengeksplor Samarinda atau lebih memilih menonjolkan kisah keberhasilan Dahlan mengelola Jawa Pos. Terlepas dari itu semua, novel ini sangat inspiratif. Dapat dinikmati oleh remaja yang memiliki mimpi untuk menjadi orang sukses.
Tidak bisa dipungkiri, cinta memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, karena cinta adalah landasan kehidupan itu sendiri. Tetapi masalah cinta bisa juga berubah menjadi masalah yang pelik, banyak orang yang kemudian galau dan putus asa memikirkannya. Hal itulah yang juga dialami oleh Dahlan Iskan saat mengecap pendidikian sebagai mahasiswa PTAI di Samarinda.
Sudah 3 tahun lamanya, Dahlan melewati hari-hari di Samarinda, menuntut ilmu jauh dari Bapak dan teman-temannya. Selama itu pula Aisha, wanita yang sejak lama mengisi hati Dahlan, selalu mengirim surat kepadanya setiap tengah bulan, sekedar memberitahu kabar dirinya, teman-temannya dan segala yang terjadi di Kebon Dalem. Tak jarang surat dari Aisha malah membuatnya bertanya-tanya, apakah ia sanggup menepati janji dengan Aisha?
Tak hanya dipusingkan oleh Aisha, Dahlan juga semakin galau tersebab kedatangan Maryati, teman masa kecil yang mengaku mencintai Dahlan dan rela menyusulnya ke perantauan. Dahlan tentu saja menolak cinta Maryati, apalagi Maryati sudah lama tahu kepada siapa hatinya ia berikan.
Keadaan ini membuat Dahlan semakin sakit kepala. Terlebih rasa bosannya pada kampus yang hanya mengajarkan teori tanpa melihat realita, dan tidak adanya kebebasan berpendapat saat itu membuat semangat kuliahnya semakin mengendur. Dalam keadaan seperti itu, ia semakin jarang masuk ruang kuliah, dan hanya menghabiskan waktu ruang sekretariat PII.
Sebagai aktivis kampus, Dahlan dan rekan-rekan PII-nya merasa gerah dengan kebijakan presiden masa orde baru dan berencana membuat sebuah unjuk rasa untuk menyampaikan gagasan mereka. Malangnya, unjuk rasa tersebut membuat Dahlan dan rekan-rekannya dikejar-kejar tentara dan menjadi buronan nomor satu dengan tuduhan mengancam stabilitas negara.
Selama masa persembunyiannya, Dahlan dibantu oleh nenek Saripa, seorang janda yang ditinggal suami dan anaknya yang juga tentara. Persembunyian Dahlan disana ternyata diketahui oleh teman perempuannya di PII, Nafsiah, gadis tomboy anak tentara dari Loa Kulu yang berpendirian kuat, tetapi memiliki suara merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Walaupun tahu bahayanya mengunjungi Dahlan, Nafsiah tetap nekat mengantarkan makanan setiap hari kesana. Dari nenek Saripa, Dahlan mengetahui fakta bahwa ternyata Nafsiah mencintainya.
Di rumah Nenek Saripa jugalah, Dahlan dipertemukan dengan Sayid, keponakan nenek Saripa yang mengajak Dahlan menjadi wartawan di Mimbar Masyarakat, langkah awal yang nanti mengantarkannya menjadi Pemimpin Redaksi surat kabar Jawa Pos di Surabaya. Setelah lama bersembunyi dan tak lagi menjadi buronan, Dahlan bersiap meninggalkan rumah nenek Saripa yang telah banyak membekalinya dengan pelajaran hidup untuk mengejar cita-cita dan cintanya.
Novel Surat Dahlan merupakan novel kedua dari Trilogy Novel Inspiratif Dahlan Iskan karya Khrisna Pabichara. Sebelum menulis Trilogi ini, Khrisna Pabhicara telah menulis 16 buku, baik fiksi maupun nonfiksi diantaranya, Gadis Pakarena yang masuk 10 besar KLA 2012. Sedangkan Novel Sepatu Dahlan (Noura Books, 2012) termasuk dalam 5 Besar Anugerah Pembaca Indonesia 2012, dan telah terjual lebih dari 100.000 buku dan hingga saat ini sudah mencapai 8 kali cetakan.
Dari novel sebelumnya, Sepatu Dahlan, penulis berhasil menginspirasi pembacanya melalui kehidupan masa kecil Dahlan Iskan dalam meraih cita-citanya: memiliki sepatu dan sepeda. Di serial kedua ini penulis mencoba menginspirasi pembaca dengan menuliskan kisah Dahlan muda dalam mencari jati diri dan cinta sejatinya. Penulis dengan apik merangkai romatika kisah cinta Dahlan dengan tiga wanita, perlawanan mahasiswa terhadap kepemimpinan orde baru, hingga kisah Dahlan saat meniti karir menjadi wartawan. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan novel pertamanya, novel ini kalah inspriratif. Tampaknya kesulitan hidup yang dialami Dahlan kecil meraih cita-citanya lebih menggugah dibanding kegalauan Dahlan muda tersebab cinta di novel sekuelnya ini.
Alur ceritanya yang mengalir dengan apik membuat novel ini enak dibaca. Berbagai konflik batin yang dialami Dahlan dalam menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa di PTAI dan juga kisah cintanya yang penuh lika-liku pun terselesaikan dengan baik. Hanya saja ada beberapa pemenggalan paragraf yang tidak dieksekusi dengan baik dan kurang redaksional, sehingga antara satu paragraf dengan paragraf lain terkesan melompat. seharusnya penulis bisa memberikan keterangan lebih sebelum memulai paragraf baru, atau memberikan satu paragraf kosong tanda mulainya cerita baru.
Novel ini ditulis dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Minimnya typo dan font tulisan yang pas membuat novel ini enak dibaca berlama-lama. Namun, ada beberapa penggalan cerita yang tampaknya kurang dieksplor oleh penulis. Salah satunya adalah cerita ketika dahlan menjadi buronan nomor satu, setelah beberapa waktu bersembunyi, akhirnya Dahlan dinyatakan bebas dari tuduhan, tetapi disana tidak diceritakan kenapa Dahlan bisa bebas, apakah ada yang menolongnya? Apakah Sayid dan Nafsiah yang membebaskan? Bagaimana perlakuan masyarakat pada Dahlan dan rekan-rekannya setelah sekian lama bersembunyi? Apakah mereka dianggap pahlawan atau sebaliknya? Mungkin hal ini perlu menjadi perhatian penulis agar novel ini menjadi lebih baik.
Sesuai judulnya, Trilogy Novel Inspiratif Dahlan Iskan, di novel ini memang banyak terdapat pesan moral dan pelajaran hidup yang menginspirasi dan memotivasi. Hal itu tak hanya tercermin dari sikap Dahlan Iskan yang pantang menyerah, bertanggung jawab, dan berani mengatakan kebenaran, tetapi juga terdapat dalam petuah-petuah yang diberikan oleh ayah Dahlan Iskan dan Nenek Saripa.
Terlepas dari kekurangan dan kelebihan di atas, novel Surat Dahlan ini sangat layak mendapatkan tempat di rak buku Anda. Terlebih untuk anda yang menyukai novel-novel inspiratif dengan banyak pesan moral dan pelajaran hidup.
Pertama kali baca buku tentang Ahmad Dahlan ketika masih duduk di bangku SMP, setelah bertahun-tahun lamanya saya bersyukur akhirnya bisa melanjutkan membaca novel ini. Surat Dahlan, adalah lanjutan novel dari Sepatu Dahlan. Sebelumnya saya kurang begitu tertarik dengan perpolitikan apalagi sampai hafal menteri-menteri terkait, tetapi melalui novel ini akhirnya saya bisa mengenal salah satu dari mereka. Setidaknya ini menyadarkan saya bahwa tekad adalah kunci utama untuk mencapai apa yang dicita-citakan, mau apapun latar belakangnya, miskin atau kaya itu hanya keadaan. Tetapi sayang, karena nila setitik menjadikannya nampak berbeda. Keep spirit Mr. Dahlan :)
Menceritakan seorang Dahlan remaja yang sedang mencari jati dirinya pada saat dia berada di Pontianak yang masih di bangku kuliah. Tentang pemberontakan, masalah asmara Dahlan remaja, hingga pelariannya ke hutan.
Novel ini merupakan buku kedua dari Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan. Kalau dalam buku Sepatu Dahlan (buku pertama) dikisahkan tentang masa kecil Dahlan Iskan yang menjadi kuli seset di perkebunan tebu hingga lulus SMA, maka dalam buku Surat Dahlan ini dikisahkan tentang perjuangan Dahlan Iskan yang merantau ke Samarinda untuk mengejar cita-citanya agar bisa berkuliah. Di samarinda, Dahlan tinggal bersama Mbak Atun yakni kakak kandung perempuan yang sudah lebih dulu merantau ke Samarinda.
Dahlan yang sederhana memperoleh beasiswa sehingga dia bisa kuliah di Perguruan Tinggi Agama Islam dan sekaligus kuliah di Universitas 17 Agustus. Di masa kuliah ini, Dahlan sempat terombang-ambing karena rindu kepada kekasihnya yakni Aisha yang ditinggalkan di Jawa. Aisha sendiri sendiri dengan penuh kesabaran berusaha menunggu kedatangan Dahlan untuk menyuntingnya. Persoalan bertambah rumit ketika rekan sekampung dan teman masa kecil Dahlan yakni Maryati nekat menyusul Dahlan dan menyatakan cintanya kepada Dahlan, walaupun sebenarnya Dahlan tidak mencintai Maryati.
Dalam perkuliahan, Dahlan sempat bersitegang dengan seorang dosennya yang tidak membolehkan mahasiswanya berkuliah dengan memakai kaos. Bagi Dahlan yang miskin, kaos merupakan barang kesayangannya karena dia tidak mempunyai kemeja. Dia melakukan demo terhadap perlakuan dosen itu dan berujung pada aksi mogok mengajar oleh si dosen. Namun demi masa depannya, Dahlan akhirnya meminta maaf kepada sang dosen yang kemudian bersedia memaafkannya.
Dunia kuliah, juga membawa Dahlan aktif dalam organisasi Pelajar islam Indonesia (PII). Di organisasi ini banyak dilakukan diskusi masalah social termasuk diskusi membahas investasi asing yang menyerbu Indonesia. Peristiwa Malari di Jakarta yang merupakan demo anti investasi asing, juga digalang PII di Samarinda. Dalam demonstrasi ini demos tran menghadapi militer yang sangat represif. Demonstran dikejar-kejar sampai Dahlan mengalami kecelakaan jatuh ke jurang dan ditolong oleh Nenek saripah yang merupakan seorang janda dari Sulawesi dan berpofesi sebagai dukun beranak dan tukang urut. Selama dalam persembunyian, Dahlan dirawat dengan telaten sampai sembuh oleh Nenek Saripa. Di sinilah Dahlan bertemu Sayid seorang wartawan Mimbar Masyarakat yang kemudian mengajaknya masuk ke dunia jurnalisme.
Sebulan di rumah Nenek Saripa, militer dan pemerintah daerah memberikan ampunan kepada demonstran. Dahlanpun kemudian pulang ke rumah Mbak Atun. Kuliah Dahlan terbengkelai. Oleh karenanya Dahlan kemudian masuk bekerja di mingguan Mimbar Masyarakat. Dahlan harus menjalani proses dan bimbingan keras untuk menjadi wartawan kakaknya. Namun kerja kerasnya tersebut berakhir manis karena tulisan Dahlan sering dimuat dan banyak diapresiasi public. Saat mulai bekerja ini kegalauan cinta Dahlan mulai berkembang lagi. Setelah menyadari Dahlan tidak mencintainya, Maryati kemudian menikah dengan Paijo. Adapun Aisha dilepaskan oleh Dahlan untuk menerima pinangan dari seorang pria di kampungnya. Dahlan sendiri kemudian merajut cinta dan menikah dengan Nafsiah, teman aktivis di organisasi PII. Selama bekerja di Mimbar Masyarakat ini, Dahlan akhirnya mempunyai putra yang kelahirannya dibantu oleh Nenek Saripa dan Mbak Atun.
Karir Dahlan yang cukup cemerlang di Mimbar Masyarakat kemudian membawa Dahlan untuk masuk menjadi kontributor di majalah Tempo. Perjuangan masuk menjadi contributor Tempo juga tidak mudah karena standar kualitas penulisan di Tempo yang sangat tinggi. Namun perlahan-lahan Dahlan mampu memenuhi tuntutan itu. Bahkan Dah;lan kemudian ditawari memimpin Majalah Tempo Biro Jawa Timur di Surabaya. Kondisi kantor Tempo biro Surabaya yang masih memprihatinkan membuat Dahlan yang sedang membangun karir sering bekerja hingga larut malam, mengalami dilemma karena dia kurang mempunyai waktu untuk anak-anaknya. Sedikit demi sedikit persoalan itu teratasi, hubungan denagn anak-anaknya yang masih kecil semakin hangat. Dahlanpun bersama istri dan anaknya akhirnya bisa mengunjungi ayah yang telah ditinggalkan selama 10 tahun lebih di Madiun.
Karir cemerlang di Biro Surabaya, kemudian membuat petinggi Tempo memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengelola harian Jawa Pos yang baru diakuisisi. Harian Jawa Pos sebelumnya merupakan Koran local yang cukup berpengaruh di Jawa Timur. Namun mengalami kemerosotan karena miss management. Grup Tempo yang jeli kemudian berhasil membeli Harian tersebut dan Dahlan lah yang kemudian dipercaya untuk mengelolanya.
Itulah synopsis dari buku Surat Dahlan. Buku ini sarat dengan pesan moral tentang perlunya KERJA KERAS.,…KERJA KERAS….KERJA KERAS!!!! Kerja keras, pantang menyerah, totalitas, loyalitas, kesetiaan, kerendahhatian, mau belajar merupakan kunci kesuksesan. Buku ini ditulis dengan mengalir dan beberapa bagian membuatku meneteskan airmata (terutama perjumpaan Dahlan dengan sang ayah yang dicintainya serta ). Buku yang laik dibaca dan perlu……
Surat Dahlan merupakan sekuel buku Sepatu Dahlan. Berbeda dengan Sepatu Dahlan yang menggambarkan kehidupan masa kecil pak Dahlan di Kebon Dalem, Surat Dahlan menceritakan perjuangan hidup Dahlan Iskan di perantauan. Lulus Aliyah Dahlan merantau ke Kalimantan. Di Samarinda, Ia menumpang di rumah kakaknya, Mbak Atun, dan mulai kuliah. Selain kuliah ia juga aktif di organisasi PII. Selama di perantauan itu surat Aisha terus berdatangan. Surat yang jarang dibalas Dahlan itu menceritakan teman-teman di masa kecilnya, juga perasaan dan harapannya. Tentang perasaan Aisha itu Dahlan masih gamang dalam menanggapi. Walaubagaimana Aisha dan harapan-harapan yang pernah mereka ukir adalah alasannya merantau. Tetapi di sisi lain ia masih meragukan masa depannya bersama Aisha. Situasi makin pelik bagi Dahlan ketika Maryati datang menyusulnya dan mengungkapkan perasaaan yang tidak bisa dibalas oleh Dahlan. Teman-temannya di PII justru asyik menggodanya dengan Nafsiah, putri tentara yang juga aktif di PII. Sementara itu di luar pelik urusan hatinya, situasi politik juga tidak menentu. Kesewenang-wenangan penguasa membuat Dahlan dan kawan-kawannya di PII melawan. Dahlan sempat menjadi buronan tentara setelah menggelar sebuah aksi demonstrasi. Beruntung ia diselamatkan oleh nenek Saripa yang kemudian memperkenalkannya pada Sayid, seorang wartawan yang berjasa membawanya ke dunia jurnalistik. Ketika situasi membaik, Dahlan mencoba peruntungan menjadi wartawan. Kuliahnya di dua kampus tidak pernah selesai. Dahlan tidak pernah menyesal untuk itu. Perlahan Dahlan mencoba melupakan Aisha. Mereka saling merelakan melepas harapan masa lalu dan meraih masa depan masing-masing. Maryati memutuskan menerima lamaran Paijo setelah mendapatkan kepastian Dahlian tidak membalas perasaanya. Dahlan sendiri meyakinkan perasaannya pada Nafsiah, lalu memutuskan melamar putri tentara itu. Karir Dahlan sebagai wartawan terus menanjak. Ia menjadi redaktur pelaksana Mimbar Masyarakat dan merupakan kontibutor tulisan untuk majalah Tempo. Selanjutnya ia memboyong keluarganya pindah ke surabaya karena ia diangkat menjadi kepala biro Tempo di kota itu. sayangnya meski telah tinggal di Surabaya, karena kesibukannya Dahlan tidak sempat pulang ke kampung halamannya di Kebon Dalem. Barulah pada tahun kelima, atas rengekan anaknya, rindu yang menyesak di hatinya, dan mimpi kupu-kupu di atas makam ibunya, Dahlan memutuskan pulang. Bagi saya inilah klimaks novel setebal 376 halaman ini. Dahlan pulang setelah sepuluh tahun merantau. Disinilah titik mengharukan itu terjadi. Dahlan pulang kampung bersama istri dan kedua anaknya. Ia mendekap erat bapaknya, Zain adiknya, berziarah ke makam ibunya, dan berjumpa kembali dengan teman-teman lamanya. Cerita ditutup dengan berkumpulnya Dahlan bersama teman-temannya, duduk mendengarkan kisah penuh hikmah yang dituturkan bapaknya. Disepanjang buku ini kita juga akan menemukan beberapa kisah yang sarat makna. buku ini cocok dibaca oleh semua perantau yang gigih berjuang di perantauan dan selalu merindukan pulang.
Seperti novel Sepatu Dahlan, novel inipun mencoba menginspirasi pembacanya melalui kehidupan masa muda Dahlan Iskan. Dengan menarik penulis merangkai kisah masa muda Dahlan baik itu romatika kisah cintanya dengan tiga wanita, hiruk pikuk dan menegangkannya demonstrasi mahasiswa di tahun 70-an hingga bagaimana Dahlan meniti karirnya mulai dari menjadi wartawan sebuah koran lokal di Samarinda hingga akhirnya dipercaya mengelola sebuah koran besar di Surabaya yang saat itu nyaris bangkrut dan ditinggalkan pembacanya.
Jika dibandingkan dengan sepatu Dahlan, novel ini sepertinya kalah menggugah dibanding Sepatu Dahlan. Kesulitan hidup yang dialami Dahlan kecil lebih isnpriratif dan menggugah dibanding novel sekuelnya ini. Peristiwa demo dan masa-masa pelarian Dahlan dan kawan-kawannya dari kejaran aparat adalah bagian yang menarik sayangnya ketika situasi sudah aman dan Dahlan bisa kembali ke rumah kakaknya penulis tidak mengisahkan lebih lanjut bagaimana trauma atau dampak psikologis Dahlan dan teman-temannya sebagai mantan pelarian yang dituduh akan melakukan makar, semua berlalu begitu saja padahal kalau bagian ini dieksplorasi lebih dalam lagi tentunya novel ini akan semakin menarik.
Selain itu bagian yang juga menarik adalah ketika Dahlan meniti karir sebagai wartawan. Lewat pengalaman Dahlan kita akan melihat bahwa mencari berita agar bisa dimuat tidaklah mudah, walau saat itu Dahlan adalah kontributor resmi sebuah media namun itu semua tidak menjamin bahwa apa yang ditulisnya akan dimua karena selain harus bersaing dengan kontributor lainnya semua berita yang masuk akan diseleksi oleh redaktur senior.
Di bagian ini juga kita akan mengetahui rintisan karir Dahlan yang tadinya hanya seorang wartawan di harian lokal kecil akhirnya bergabung dengan majalah Tempo. Juga akan terungkap bahwa ketika Dahlan telah bekerja di majalah Tempo, Tempo membeli Jawa Pos yang saat itu sudah hampir bangkrut. Menarik karena mungkin banyak dari kita yang tidak mengetahui bagaimana proses pengambilalihan manajemen Jawa Pos ke Majalah Tempo dan peran Dahlan dalam proses tersebut.
Dari segi pengisahan seperti novel sebelumnya, novel ini ditulis dengan kalimat sederhana, enak dibaca tanpa mengurangi keindahan sastrawinya sehingga novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Ending dari novel ini cukup menggugah dimana terjadi reuni kecil antara keluarga Dahlan dan ayahnya lengkap dengan nasihat-nasehat bijak dan isnpiratif dari sang ayah yang bersahaja.
Sebagai sebuah novelisasi kehidupan Dahlan Iskan tampaknya novel ini bisa mewakili latar belakang apa yang membuat Dahlan Iskan menjadi seperti sekarang.
Dahlan's second book from Sepatu Dahlan. Continuing Dahlan's journey as an active student who participates in various political activities. And, long story short, Dahlan has a family. LITTERALY CRYIN AND BAWLING MY EYES OUT IN THE LAST CHAPTER UGH. Can't handle this father-son relationship. Super wort it to read. And I'm still tryin to find Kursi Dahlan book.
"Dan, aku sadar, memilih bukan perkara mudah. Selalu ada ketakutan. Semacam perasaan cemas yang mengintai setiap waktu. Cemas yang selalu diawali oleh kalimat "jangan-jangan aku salah pilh". --hal.17
"Alangkah naif jika hidup hanya berkisar pada sekolah, tumbuh meremaja, kuliah, dan dapat gelar sarjana, lalu kawin dan punya keturunan." --hal.27
"apa yang kita yakini benar belum tentu dianggap benar oleh orang lain," --hal.75
"Kita hidup dari apa yang kita dapatkan dan kita bahagia dari apa yang kita berikan." --hal.84
"Sepanjang hidup, aku akan berjuang melawan lupa. Aku tidak ingin membuang ingatan-ingatan." --hal.151
"Memang, cinta memastikan bahwa kehilangan dan kebahagiaan adalah dua sisi yang niscaya ada. Kehilangan adalah dunia tersendiri di samping kebahagiaan. Sebab terlalu kerap kehilangan, aku harus lebih gigih apabila menginginkan kebahagiaan." --hal.255
"Sayang sekali, kata "seandainya" ditemukan hanya untuk memberati sesalan." --hal.260
"Namun, tak ada penyesalan yang bisa membalikkan waktu yang sudah berputar." --hal.263
"Betapa "pergi" atau "datang" selalu bisa menyesakkan dada." --hal.305
Paragraf-paragraf pembuka di prolognya cukup menggoda. Aku suka diksi-diksi yang dipakai penulis, puitis sekaligus bersahaja. Sekuel novel Sepatu Dahlan ini berkisah tentang perjalanan hidup Dahlan muda setelah merantau ke Samarinda, tentang lika-liku kehidupan cinta dan karirnya, mulanya jatuh cinta dengan berita hingga dipercaya membenahi harian Jawa Pos. Alurnya agak sedikit bikin aku tak sabar di bagian "galau karena perempuan", kebanyakan monolog hati euy. Mengingatkanku pada novelnya Andrea Hirata, Padang Bulan, saat Si Ikal galau kebangetan karena cinta: bosaaan, hehe... Namun setelah macet di situ, lalu lintas bacaku jadi lancar kembali, lampunya kembali hijau hingga tak terasa sudah sampai di penghujung halaman. Yaah... Kok selesai? Padahal aku penasaran bagaimana cerita pembenahan Jawa Pos itu dan episode-episode sesudahnya. Hmm...
Yah, secara keseluruhan aku menyukainya. Selain tulisannya yang puitis, nilai-nilai yang terselip di sana-sini juga inspiratif. Baiklah, kalau ada sekuelnya lagi, sepertinya masih akan tertarik baca :).
Seperti novel sebelumnya-Sepatu Dahlan-, Khrisna Pabichara sanggup menyampaikan kisah hidup Dahlan Iskan dengan kata-kata indah nan menarik.Sesuai dengan judulnya "Surat Dahlan", cerita di dominasi oleh surat-surat yang ceritanya di dapatkan oleh Dahlan Iskan dari teman-temannya di Kebon Dalem, terutama Aisha.
Cerita dalam novel di dukung oleh perjuangan seorang Dahlan Iskan dalam masa kuliahnya hingga berkeluarga. Di dalam novel "Sepatu Dahlan" yang menarik dan membuat saya membacanya berulang-ulang adalah cerita bijak serta nasehat dari Bapak Iskan sayangnya tidak terlalu banyak terdapat pada novel kedua ini. Namun dari segala sisi, novel ini memang benar-benar menginspirasi para pembaca. Tinggal menunggu novel ketiga yang berjudul "...... Dahlan" (E-N-U-S-Y-M Dahlan)
Rasa-rasanya baru kemarin saya terbuai dengan rangkaian kalimat-kalimat yang di tulis oelh Khrisna Pabichara. Saya suka kosakata yang digunakan. Begitu beragam dan mendayu. Penceritaannya juga mengalir. Ini tentang Dahlan muda. Bukan tentang orang lain. Dan dalam buku ini Khrisna hanya menyorot Dahlan. Ya..ya..ya Nafsiah memang ada, begitu pula dengan Mbah Atun. Namun masih kurang kuat dibanding porsi Dahlan. Ahiya... ada Nenek Saripa. Ia mencuri perhatian saya dengan cerita hidupnya yang semula misterius. Membaca buku kedua ini saya diserang romantis yang hebat.Kalimat-kalimat sederhana yang menceritakan suasana, gejolak dan rasa dari tokoh- tokoh yang ada; walaupun memang sedikit berbau sinetron /terinspirasi review sebelah :)
Lagi-lagi, terlepas dari siapa sosok yang dibahas oleh penulis, buku ini sangat bagus dibaca oleh mahasiswa yang sedang menimba ilmu di perantauan agar senantiasa menjaga idealismenya. Ada banyak pesan moral yang saya tangkap ketika membacanya. Dibumbui dengan beberapa potong kisah cinta tokoh Dahlan dan bagaimana ia menikmati hasil perjuangannya yang tidak mudah. Cocok untuk mengisi pundi-pundi semangat ketika mulai luntur. Ada petikan kalimat yang membuat saya tersentuh, rasanya seperti saat pertama kalinya saya menempuh pendidikan di Bintaro, jauh dari kampung halaman saya. "Bagi setiap perantau sepertiku, rindu adalah hantu yang paling menakutkan. Tak ada yang tahu bagaimana ia mendatangiku setiap waktu.… begitu menyiksa, menggeretakkan tulang-tulang ketabahan."
Buku kedua trilogi novel "Dahlan Iskan" ini berkisah tentang perantauan nya di Samarinda setelah lulus MA. Hal yang paling saya sukai adalah sewaktu si Dahlan berkirim surat dengan Aisha yang sebelumnya mereka berdua memang telah membikin semacam "perjanjian". Terlepas dari kisah cinta menye-menye itu buku ini memberi sisi lain tentang bagaimana pergerakan mahasiswa dalam menentang pemerintahan Orde Baru dan perjuangan si Dahlan dalam mengarungi kariernya yang bermula dari jurnalis rendah di Surat Kabar lokal hingga akhirnya di "ending" buku ini telah sukses diangkat menjadi kepala Surak Kabar yag cukup besar di Surabaya.
Buku ini merupakan kelanjutan dari buku sepatu dahlan. Sama dengan buku terdahulunya, buku ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang Dahlan. Pada awal dan akhir cerita ada prolog dan epilog, yang digunakan untuk menyambungkan cerita masa sekarang dgn masa lampau yang telah terlewati. Kalau saya, pada buku ini justru lebih penasaran dengan cerita pada prolog dan epilog. Judul pada buku kedua ini kurang mengena, bila dibandingkan dengan buku pertama.
Buku kedua dari trilogi sepatu Dahlan ini menceritakan awal mula dahlan terjun ke dunia media dan kisah pertemuan Dahlan dengan istrinya, Nafsiah.
Bila dibandingkan dengan buku seri pertama, saya lebbih suka yg #2. Karena permasalahan yg dihadapi lebih kompleks sehingga tdk membosankan. Dan di buku ini banyak kata2 bijak yg bisa dijadikan motivasi hidup.
Oleh karena itu saya beri 4 bintang untuk buku ini.
Rabu, jam 9 pagi aku baru terima paket buku ini. Besoknya kamis jam 3 sore aku sudah selesai membacanya. Tersengal.. Sampai terbawa mimpi dan aku jadi wartawan. Hahaha... Sampai sekarang masih berasa capeknya *agak lebay ini* serasa habis marathon *lebaynya full*
Latar belakang membaca buku ini karena gue sudah pernah membaca buku pertama dari trilogi ini. Tapi entahlah, gue gak dapet feel yang sama dari buku ini dengan buku pertamanya. Agak sedikit membosankan di awal-awaln dan gak bikin gue penasaran. Tapi gue gak kehilangan gaya menulis dari Khrisna Pabichara yang manis dan mengalir.
Novel yang ingin menggugah anak - anak muda bangsa ini dengan melihat kehidupan masa muda Dahlan. Tetapi, jujur saya lebih suka buku pertamanya. Lebih inspiratif dan lebih ngena di hati :)
sedikit hal yang ingin saya tuliskan setelah membaca buku ini adalah banyak kata-kata keren (sederhana tapi indah) dalam buku ini yang menjadi poin lebihnya. sedangkan menurut saya di akhir buku cerita berjalan cepat, namun tetap saja buku ini keren..!!
Masih tetap Sederhana meski hidup terus berubah termasuk perasaannya terhadap sang wanita, wanita pujaan nan jauh disana terganti dengan dia yang selalu ada disampingnya. Witing Trisno jalaran Saka Kulino sekali hukum ini terbukti. gak sabar menanti
ini keren, cuma secara pribadi gua sih gak terlalu suka drama ala korea yg dikemas dgn setting jaman dulunya Indonesia. heheeeee.... gua paling suka bagian2 yg nyeritain dimana pak Dahlan berstatus sbg aktifis PII
BUku kedua dari trilogi #Dahlan ini menceritakan tentang kisah dahlan selepas SMP yang mengikuti kakaknya merantau di kalimantan hingga kesuksesannya menjadi pimred sebuah majalah di Surabaya
ada banyak kisah "nakal" dalam bukuini, kenakalan yang berpayung pada idealisme. Cukuo menginspirasi.
Aku rasa penting untuk setiap orang menemukan "dunianya". Dunia yang mampu membuatnya benar-benar merasa hidup, bukan hanya menjalani hidup. Karena jika tidak, maka dunia yang akan mempermainkan kita.