Dalam pembahasan sedekah sering timbul anjuran bahwa bersedekah itu harus ikhlas total, yang ikhlasnya tanpa ada permintaan apa pun kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Namun dalam buku ini Ust. Yusuf Mansur menganjurkan, justru ketika kita menginginkan kekayaan, menginginkan kebahagiaan, menginginkan rezeki bertambah, Allah memang sudah menyediakan berbagai jalan yang mudah bagi kita untuk mencapai perkara-perlara tersebut di atas, salah satunya adalah dengan jalan sedekah. Lebih baik lagi jika sedekah tersebut diiringi dengan serangkaian ibadah lainnya. Hal itu memang diperintahkan dan dianjurklan oleh Allah Swt.
Contoh, kita semua tentu sudah mengenal teori matematika sedekah, bahwa siapa yang bersedekah satu, pasti Allah akan membalas sepuluh. Tapi itu tidak menjadi ilmu buat kita.
Dan karena kita bi dunil 'ilmi (tanpa ilmu), kita menganggap itu hanya kebetulan belaka. Kalau itu sudah menjadi ilmu dan metode buat kita, insya Allah luar biasa! Insya Allah enggak pernah dalam hidup kita, kita mengalami kekurangan uang dan mengalami kesempitan rezeki. Enggak pernah! Karena kita tahu bagaimana caranya mengatasi kesempitan rezeki dan permasalahan-permasalahan lainnya.
Ustadz Yusuf lahir dari keluarga Betawi yang berkecukupan pasangan Abdurrahman Mimbar dan Humrif’ah dan sangat dimanja orang tuanya. Lulusan terbaik Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat, tahun 1992 ini pernah kuliah di jurusan Informatika namun berhenti tengah jalan karena lebih suka balapan motor.
Pada tahun 1996, dia terjun di bisnis Informatika. Sayang bisnisnya malah menyebabkan ia terlilit utang yang jumlahnya miliaran. Gara-gara utang itu pula, Ustadz Yusuf merasakan dinginnya hotel prodeo selama 2 bulan. Setelah bebas, Ustadz Yusuf kembali mencoba berbisnis tapi kembali gagal dan terlilit utang lagi. Cara hidup yang keliru membawa Ustadz Yusuf kembali masuk bui pada 1998.
Saat di penjara itulah, Ustadz Yusuf menemukan hikmah tentang shodaqoh. Selepas dari penjara, Ustadz Yusuf berjualan es di terminal Kali Deres. Berkat keikhlasan sedekah pula, akhirnya bisnis Ustadz Yusuf berkembang. Tak lagi berjualan dengan termos, tapi memakai gerobak, Ia juga mulai punya anak buah.
Hidup Ustadz Yusuf mulai berubah saat ia berkenalan dengan polisi yang memperkenalkannya dengan LSM. Selama kerja di LSM itulah, Ustadz Yusuf membuat buku Wisata Hati Mencari Tuhan Yang Hilang. Buku yang terinspirasi oleh pengalamannya di penjara saat rindu dengan orang tua. Tak dinyana, buku itu mendapat sambutan yang luar biasa.
Ustadz Yusuf sering diundang untuk bedah buku tersebut. Dari sini, undangan untuk berceramah mulai menghampirinya. Di banyak ceramahnya, ia selalu menekankan makna di balik sedekah dengan memberi contoh-contoh kisah dalam kehidupan nyata.
Karier Ustadz Yusuf makin mengkilap setelah bertemu dengan Yusuf Ibrahim, Produser dari label PT Virgo Ramayana Record dengan meluncurkan kaset Tausiah Kun Faya Kun, The Power of Giving dan Keluarga.
Konsep sedekah pula yang membawanya masuk dunia seni peran. Melalui acara Maha Kasih yang digarap Wisata Hati bersama SinemArt, ia menyerukan keutamaan sedekah melalui tayangan yang didasarkan pada kisah nyata.
Ustadz Yusuf juga menggarap sebuah film berjudul KUN FA YAKUUN yang dibintanginya bersama Zaskia Adya Mecca, Agus Kuncoro, dan Desy Ratnasari. Film ini merupakan proyek pamungkas dari kegiatan roadshow (ceramah keliling) berjudul sama selama Januari-April 2008.
Melalui Wisata Hati, ia menyediakan layanan SMS Kun Fayakuun untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang ada. Ia juga menggagas Program Pembibitan Penghafal Al Quran (PPPA), sebuah program unggulan dan menjadi laboratorium sedekah bagi seluruh keluarga besar Wisatahati. Donasi dari PPPA digunakan untuk mencetak penghafal Alquran melalui pendidikan gratis bagi dhuafa Pondok Pesantren Daarul Quran Wisatahati.
Meski tak sempat menuntaskan kuliah, Ustadz Yusuf bersama dua temannya mendirikan perguruan tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Cipta Karya Informatika.
Buku ini membahas tentang boleh engga nya ngarep dalam bersedekah. Intinya, Ustad Yusuf Mansur lewat buku ini, bilang kalo ngarep balasan itu boleh. Memang ada hadist-hadist dan ayat al-qur'an tentang balasan bersedekah, tapi menurut saya pribadi, sebaiknya tidak berharap balasan, ditakutkan mengurangi keberkahan sedekah itu sendiri, bahkan yg lebih ditakutkan lagi kalau balasan sedekah karena ngarep itu karena istidraj (penundaan hukuman). Maksudnya, dikasih dulu deh balasan sama Allah di dunia, tapi di akhirat? Ditakutkan kalo sampe dicampakkan sama Allah ke neraka (Na'udzu billah).
Anggap saja dengan membaca buku ini, jadi bertambah pengetahuan tentang sedekah, kalo soal ngarep nya, ikhlaskan saja. Terserah Allah mau balas berupa apa.