An exploration of the family as a cultural, historical, and political construction in New Order Indonesia. The linkage of family life to politics was an integral part of Suharto's New Order ideology. With extensive fieldwork and research into education, family dynamics, politics, and the media, Shiraishi's work presents an in-depth view of the intricacies of Indonesian society.
[note: I wrote a version of this short summary review in 2004!] This is easily one of my favorite ethnographies about New Order Indonesia! If John Pemberton's book On The Subject of "Java" is an implicit critique of Clifford Geertz's Religion of Java, then Saya Shiraishi's book Young Heroes is in turn a similarly implicit response to Hildred Geertz's The Javanese Family. Drawing upon the ideas in Philip Aries' book Centuries of Childhood, Shiraishi writes: "To understand the Indonesian family, it is also important to guard against taking such common-sensical notions as father, mother, and child/children for granted." (12) Aries argues that the modern conception of 'childhood' as a domain separate from 'adult' society emerged in Europe along with bourgeois notions of family, home, privacy, and individuality; in turn Shiraishi contends that an independent Indonesia imagined politically in familial terms must take into account the history of the imported family concept from Europe during the colonial era and its subsequent "Java"nization by Dutch-educated nationalist intellectuals who used it to develop an Indonesian model for education and government. The modern Indonesian family and its basis for the formulation of the Indonesian state represent the normative institutions of Indonesian society that set the rules for proper and moral Indonesian citizenship. What strikes me about Shiraishi's analysis of the Indonesian family and politics is the tolerance afforded to so-called "noise." In the classroom, for example, the parent-teacher figure controls the classroom and instills a dual function for language on his/her children-students: there is the teacher's official discourse which disciplines students to speak proper Indonesian when called upon, and then there is the students' "noise," likened to quacking ducks, tolerated but ignored during the daily lessons: "Order is maintained not by suppressing all the voices, which would require enormous energy and high efficiency… but by guarding the border that separates the two spheres." (164) If we are to believe Shiraishi's conclusion, then we have an interesting twist on Mary Douglas' thesis in Purity and Danger. Instead of policing the boundaries between what constitutes clean and dirty, proper and immoral, and then casting out the transgressors who dare to cross, in Indonesia the boundaries are policed and then transgressors are ignored with benign and patronizing neglect. What poses a real threat, at least during the New Order era when Shiraishi wrote her book, is when "noise" gets translated into proper bureaucratic Indonesian discourse where it has no business (see Chapter 7, "Ambivalent Youth," pp.149-161). One could argue that after the New Order, the boundary between familial discourse and noise has disappeared, weakened, or reconfigured, or that the consequences of transgression have changed. That would be a useful follow-up investigation!
Jika orang tua kita hidup di masa pemerintahan orde baru, masa pemerintahan Soeharto sebagai presiden ke-2 Indonesia, dan membandingkannya dengan masa pemerintahan presiden-presiden setelahnya, maka sebagian dari mereka akan mengatakan bahwa era Soeharto lebih enak. Entah apa yang menjadi indikator mengapa mereka mengatakan enak.
Saya Sasaki Shiraishi memberikan penyajian fakta etnografis yang berbeda. Shiraishi membuka pendahuluan buku ini dengan menghubungkan konsep keluarga di Indonesia dengan pemerintahan Soeharto. Persepsi mantan penguasa 32 tahun di Indonesia itu tentang para pengawal, menteri, ajudan, atau pembantu-pembantu dekatnya disebut 'anak' oleh Soeharto. Dan sebaliknya, Soeharto akan disebut 'bapak' (Supreme Father) oleh 'anak-anaknya'.
Konsep keluarga yang dijelaskan oleh Shiraishi dalam buku ini adalah keluarga dalam arti hierarki. Dengan menganggap diri sebagai bapak, Soeharto menciptakan makna sebagai orang yang berkuasa atas anak-anaknya dan wajib untuk dipatuhi. Apa pun yang dikatakan oleh Soeharto, wajib untuk diikuti. 'Anak-anak' Soeharto kemudian dididik menggunakan prinsip kepemimpinan ABRI yang sekarang disebut TNI, yaitu Tut Wuri Handayani.
Tut Wuri Handayani yang diadopsi dari Ki Hajar Dewantara coba untuk ditafsirkan lain oleh Soeharto. Arti semboyan ini sebenarnya mengarah pada kebebasan setiap orang untuk mengembangkan diri namun ditafsirkan lain oleh Soeharto demi mewujudkan 'penertiban melalui penguasaan dan paksaan'. Beberapa prinsip pokok ajaran Ki Hajar Dewantara diperkenalkan oleh Soeharto untuk melembagakannya dalam sistem pendidikan 'benar' untuk diterapkan.
Dari kata 'keluarga' yang terdiri dari orang tua, kakek-nenek, kakak, adik, serta keluarga hingga kenalan menegaskan makna relasi kuasa. Bapak sebagai kepala keluarga disebut sebagai orang yang memiliki kuasa lebih besar. Konsep kuasa yang dilekatkan pada bapak dalam keluarga di Indonesia mengacu pada konsep bapak orde baru yang diinginkan Soeharto.
Hubungan dalam keluarga kemudian ditafsirkan sebagai relasi yang harus dipatuhi, ditaati, diikuti, sebagaimana model kepemimpinan ABRI atau TNI. Ini sangat jelas mengapa digunakan, untuk mewujudkan sesuatu yang tertib, dibutuhkan suatu paksaan.
Begitu pula di sekolah. Mengapa kita harus taat dan patuh pada Ibu/Bapak Guru di sekolah, yah...karena mengadopsi sistem ini. Jika kita mau merenung sejenak, yang harus dipikirkan, mengapa dalam konsep pendidikan kita patuh dan taat? Sebenarnya kepatuhan dan ketaatan kita untuk siapa?
Untuk apa para guru di sekolah membutuhkan kepatuhan kita? Kita harus mendefinisikan arti sekolah yang sesungguhnya. Jika sekolah hadir untuk mencetak manusia seragam, maka sistem komando itu dibutuhkan. Namun jika sekolah hadir untuk melahirkan manusia yang cerdas maka sistem komando tidak tepat digunakan.
Namun, inilah yang hadir hari ini di Indonesia. Empat generasi presiden yang memimpin Indonesia tak ubahnya Soeharto dalam hal pendidikan. Konsep Bapak/Ibu masih juga digunakan dalam arti perintah. Sekolah seperti sebuah cetakan besar untuk menghasilkan manusia pesuruh. Haruskah kita berhenti atau menarik diri dari sekolah?
Jika 'anak' melawan 'bapak', Shiraishi tak lupa pula menjelaskan bagaimana mahasiswa pada zaman itu diculik, disekap, dibunuh, hingga dimutilasi oleh rezim pemerintahan Soeharto karena mereka angkat bicara
Bahasa nasional membuat kaum muda menjadi bisu. Mereka digambarkan menjadi generasi bungkam yang tak tahu mengungkap pengekangan pada mereka. Bahasa nasional disebut tidak memilikinakar hanya karena sebagai bahasa perantara saja.
Soeharto memang dikenal memerintah dengan tangan dingin. Suara dibungkam, pelarangan karya Pramoedya Ananta Toer salah satunya menjadi contoh karya yang dilarang beredar oleh 'bapak'.
Mungkin, orangtua kita tidak sadar atas praktek sistemik yang diwariskan oleh rezim orde baru. Yang mereka tahu, hidup mereka sejahtera padahal tersiksa.
"Coba kecam raja-rajamu, belum habis kata-katamu berakhir menggeletat kau sudah akan roboh terkena mata pedang..." (Pramoedya Ananta Toer)
Shiraishi teached me how to get know my own people, the Indonesian. I knew Soeharto, but Shiraishi recognized him better than me. She told me how Soeharto was ruling my country, Indonesia, in such a very clever way, so we did not realized that he educated us in a wrong way. There are "kekeluargaan," "gotong royong," "kenalan," "toleransi" and lot of other nice words in actual meaning becoming "dirty" ones because they are linked to corruption, collusion, and nepotism. This book is actually her dissertation to Connel University, however it is a very worth reading books, even though for us, Indonesian. To remomirize how Soeharto ever ruled this country.... "successfully"
Buku penting untuk memahami alam pikiran Orde Baru. Di sini kita bisa melihat asal-usul pembentukan ciri-ciri negatif yang melekat pada mayoritas masyarakat Indonesia seperti bapakisme, nepotisme, kecenderungan pada konformitas, dan ketergantungan pada kenalan, koneksi, atau orang dalam ketika ingin meraih tujuan. Salah satu poin menarik adalah bagaimana Soeharto menggeser makna tut wuri handayani dari Ki Hadjar Dewantara, yang berarti membimbing dari belakang sambil membiarkan anak-anak belajar secara bebas dan mandiri sesuai ketertarikannya masing-masing, menjadi sesuatu yang serupa dengan slogan Orwellian “big brother is watching you”, yaitu mata yang mengawasi dari belakang sambil melihat apabila ada yang melanggar dan membuat keonaran untuk kemudian diberi hukuman. Penelitian dalam buku ini dilakukan sekitar tahun 1989-1990 dan kemudian terbit pertama kali menjadi buku pada 1997, ketika Orde Baru masih berkuasa, tetapi kalimat terakhirnya yang pahit, “Sistem kekeluargaan dalam politik bukanlah fenomena eksklusif Orde Baru, dan akan tetap tinggal sebagai persoalan dan kekuatan penting, bahkan setelah rejim Orde Baru tiba pada akhir riwayatnya,” seperti sebuah dugaan yang menjadi kenyataan, meskipun jika melihat kondisi masyarakat saat itu sepertinya memang hal itu tidak sulit untuk diperkirakan.
Era Orde Baru ternyata telah melahirkan sebuah karakter masyarakat Indonesia yang baru, sebuah karakter yang benar-benar berbeda dengan era sebelumnya. Era itu disebut era bapak-isme atau family-isme. Dimana presiden selaku pemimpin tertinggi bertindak sebagai bapak yang bermuka dua (lembut sekaligus keras) terhadap anak-anaknya. Segala hubungan dan koneksi antar manusia dibangun diatas fondasi hubungan 'keluarga'. Di Indonesia, jika kau adalah bagian anggota keluarga atau berhasil masuk dalam lingkaran keluarga, maka dipastikan kau akan mendapat banyak sekali kemudahan-kemudahan dalam segala hal. Kata 'keberhasilan' pada masa itu tidak diukur dari kerja keras dan kemampuan pribadi seseorang, tapi diukur dari seberapa cakap/mampu kau membangun koneksi terhadap pimpinan/atasanmu. Maka jangan kaget, pada masa itu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merajalela dimana-dimana. Sebuah ironi memang.
Buku ini walaupun membahas mengenai kondisi pada era Orde Baru yang telah lampau, tapi nyatanya masih bisa berlaku pada kondisi zaman saat ini. Karakter manusia Indonesia yang telah dibangun oleh Orde Baru telah melekat kuat dan sulit digerus begitu saja. Semoga ini bukan kutukan sejarah.
Buku ini merupakan hasil riset Shiraisi tentang relasi politik di Indonesia. Menurut Shiraisi, masyarakat Indonesia terbedakan antara 'kenalan' dan 'bukan kenalan'. Melalui pembedaan ini Shiraishi mencoba mengurai persoalan yang sekarang masih mencekerama kehidupan masyarakat Indonesia, yaitu: korupsi, kolusi dan Nepotisme.
Dengan menganalisa teks sastra, media masa dan ruang-ruang publik seperti sekolah pada masa Orde Baru, Shiraisi mengarah pada kesimpulan bahwa relasi masyarakat indonesia menganut ideologi 'Bapakisme'. Nilai ini diturunkan dari nilai-nilai jawa. yaitu nilai yang menekankan pentingnya 'kestabilan' politik. Yang kemudian dipraktekan oleh pemimpin politik Jawa yang telah beberapa kali memimpin Indonesia.
Membaca buku ini seperti melihat ke arah cermin. Kebanggaan akan kegotongroyongan, ramah-tamah, dan saling menolong antara keluarga ternyata menjadi persoalan serius bagi kehidupan politik modern yang lebih mementingkan keterbukaan dan profesionalitas.
Satu dasawarsa telah berlalu sejak buku ini pertama kali diterbitkan, dan keluhan-keluhan yang sama—penyelewengan, korupsi, sistem pendidikan yang tidak beres, pelarangan buku—masih sering kita jumpai di Indonesia, dengan berbagai wujud yang berbeda, dan penelitian Shiraishi bisa jadi terlihat sedikit sebagai isu lama. Tapi buku ini memaparkan dengan sangat informatif dan sederhana, bertahap, bagaimana identitas dikonstruksi dari keseharian kita yang paling remeh temeh—bahasa, perilaku, bacaan populer (majalah Bobo, novel, buku teks sekolah). Dengan membaca buku ini, kita dapat sedikit mengerti, memahami, dan mungkin, satu bekal untuk mulai merubah hal-hal kecil di sekitar kita.
Dari waktu ke waktu saya membacanya dan terkagum-kagum bagaimana Shiraisi membuat saya melihat Jakarta dengan cara yang tidak sama seperti sebelumnya--jalanan, perjalanan, relasi dan interaksi di jalanan dan dalam perjalanan. Shiraisi berhasil merekam amatannya terhadap Jakarta dalam bentuk yang 'ramah' bagi pembaca, dengan gaya semi-akademik dicampur esei ringan, yang selalu menyenangkan untuk dibaca dan dibaca lagi.
Saya pertama kali membaca buku ini saat masih kuliah dulu. Saya terkagum-kagum dengan strategi Shiraishi dalam menulis, cita rasanya, kepekaannya dalam mengamati masyarakat Indonesia Orde Baru. Sampai sekarang pun, ketika saya membuka-buka kembali buku ini, gema isi buku ini masih terasa bahkan untuk masyarakat Indonesia pasca-Orde Baru.