Tanggal 15 Mei 1862, kerumunan orang memadati jalanan di sekitar Pagnerre’s Book Shop, Belgia. Tak satu orang pun melepaskan pandangan pada tumpukan buku yang menjulang hingga langit-langit toko. Beberapa jam setelah toko buku itu dibuka, ribuan eksemplar Les Misérables ludes diborong massa.
Novel yang proses penyiapan dan penulisannya memakan waktu hampir 20 tahun ini bercerita tentang Jean Valjean, mantan narapidana yang dipenjara di atas kapal kerja paksa selama 19 tahun, dari masa revolusi sampai restorasi Bourbon, karena mencuri sepotong roti demi keluarganya yang kelaparan. Ketidakadilan yang dialaminya, mengubah laki-laki desa itu menjadi sosok yang dingin dan penuh curiga.
Di tengah perjalanan hidupnya, Valjean bertemu Monsieur Welcome yang menyadarkannya bahwa dalam ketidak-percayaannya terhadap otoritas gereja dan kerajaan, masih ada pihak yang bisa menjadi panutannya. Valjean pun berjumpa dengan Fantine, perempuan muda jelita yang turut menjadi korban ketimpangan sosial yang melanda Prancis. Perjumpaan yang berpengaruh besar dalam kehidupan mereka selanjutnya. Ketidakstabilan politik Prancis dan pengaruhnya yang luar biasa pada masyarakat kelas bawah, terekam jelas dalam salah satu novel terpenting sepanjang masa ini.
After Napoleon III seized power in 1851, French writer Victor Marie Hugo went into exile and in 1870 returned to France; his novels include The Hunchback of Notre Dame (1831) and Les Misérables (1862).
This poet, playwright, novelist, dramatist, essayist, visual artist, statesman, and perhaps the most influential, important exponent of the Romantic movement in France, campaigned for human rights. People in France regard him as one of greatest poets of that country and know him better abroad.
Masterpiece dari Victor Hugo. Novel ini termasuk novel kuat, bersetting Perancis 1851. Dimana saat itu kesenjangan sosial, antara masyarakat proletar dan borjuis menjadi demikian kentara. Kebobrokan institusi agama dan hukum pada saat itu. Terbalut menjadi kisah yang menceritaka Jean Valjean, uskup Myriel , Fantine, dan anaknya.
Untuk terbitan yg ini, agak terganggu dengan terjemahannya yang kadang hrs mikir dulu klo versi inggrisnya apa. Paling engga hrs compare dgn versi inggrisnya , untuk memastikan term yg cocok.
Untuk ceritanya sendiri, cerita ttg Jean Valjean lah yg menurut saya menarik. Pertemuannya dgn Uskup Myriel, almost makes me cry. its deep...ttg Jean yg berhijrah mjd orang baik karena tersentuh dgn ketulusan Uskup M, yg pada masa itu banyak pertinggi agama yg memanfaatkan kekuasaannya utk dirinya sendiri. Its about second chance to Jean, its about learning how to trust, being human..dan pada akhirnya menjadi seorang pelindung dan ayah bagi anak angkatnya.
I think its more about Jean..
of course its on the list in my "must read literature"
*fyi the movie its beautifull.. (versi Tom Hooper) the Fantine song..really tears jerking
I don't really enjoy the bishop's part, but I am most certainly in love with Fantine's story. I cried for her never-ending misery, I cried knowing that people can be so cruel because of money. I was really happy when finally Fantine got her portion of happiness but then it seems like Victor Hugo would never give a long time happiness to all his characters ;__; The Indonesian translation isn't good enough, especially at any contemplation scenes. I couldn't comprehend most of them. But at least it's still enjoyable on any other parts. Planned to read the next half in English though, hope I can enjoy it.
Sebenernya selain menulis review buku ini saya juga ingin mencantumkan review filmnya, yang sangat disayangkan gagal saya tonton beberapa waktu yang lalu, dengan kisah yang pahit sekali *nggak usah dibahas lagi*. Padahal film yang dibintangi salah satu aktris favorit saya itu memicu saya agar cepat-cepat menyelesaikan buku ini, yah mungkin belum jodoh saja, lain kali cari bajakannya #loh.
"Les Miserables mengambil latar waktu kondisi Prancis antara tahun 1815 dan 1832, tahun-tahun ketika Hugo muda mulai berkenalan dan bersingunggan dengan dunia politik, masa setelah tahun 1793. Tahun 1815 sendiri adalah tahun yang menandai kekalahan tentara Napoleon di Waterloo, melawan aliansi tentara Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya. Kekalahan Napoleon mengakhiri era "first republik" (1792-1804), dan kembalinya era kerajaan di bawah Louis XVIII. Era ini disebut dengan Restorasi Bourbon. Pada masa restorasi, gereja kembali berperan besar dalam perpolitikan Prancis, meskipun tidak seabsolut sebelumnya. Inilah masa ketika para pejuang revolusi dan kaum republik tersingkir sementara, yang pada akhirnya mengobarkan gejolak sosial tahun 1830-1832 melawan monarki."
Bercerita tentang Jean Valjean yang bebas setelah dipenjara 19 tahun hanya karena mencuri roti untuk menolong keluarganya yang kelaparan. Dia singgah di kota D untuk beristirahat dan mencari makan, tapi apa yang ia dapatkan di sana? Para penduduk mengucilkannya, tidak ada penginapan yang mau menampungnya karena dia memiliki paspor kuning (paspor para mantan narapidana) bahkan dia digigit dan dikejar anjing karena tidak sengaja merampas singgasananya, tidak ada tempat baginya. Lalu ketika dia tidur di atas batu di alun-alun ada seorang wanita baik hati yang menyarankan agar ia mengetuk sebuah rumah. Rumah tersebut milik Monsieur Bienvenu, seorang uskup baik hati yang tanpa pamrih memberiakannya tempat tinggal dan makanan enak, satu-satunya orang yang tanpa memandang status sosial Jen Valjean. 19 tahun dipenjara menajamkan sisi jahat Jean Valjean, ada perlawanan batin ketika dia melihat peralatan makan dan tempat lilin dari perak milik uskup, dia hanya memiliki sedikit uang dan barang tersebut pasti berharga tinggi, perjalanannya masih panjang dan dia butuh uang. Ketika dia sudah memutuskan apa yang dia inginkan, tidak butuh lama dia langsung pergi meninggalkan rumah uskup dengan barang tersebut, tidak lama kemudian dia kembali bersama polisi. Uskup berbohong kalau barang-barang tersebut memang diberikan kepada Jean Valjean, peristiwa itulah yang merubah hidup Jean Valjean selanjutnya.
"Dosa yang paling kecil adalah hukum yang dibuat oleh manusia. Tidak mempunyai dosa sama sekali adalah mimpi. Karena semua pasti memiliki dosa, hal ini manusiawi. Dosa itu bagaikan sebuah gravitasi."
"Jangan pernah kita takut terhadap perampok atau pembunuh. Itu semua adalah bahaya dari luar, bahaya kecil. Yang perlu kita takuti adalah diri kita sendiri. Prasangka adalah perampok yang sesungguhnya, sifat buruk adalah pembunuh yang sebenarnya. Bahaya terbesar ada dalam diri kita sendiri. Tidak masalah apa yang mengancam kepala atau dompet kita! Mari kita berpikir tentang apa yang dapat mengancam jiwa kita."
Fantine adalah gadis yang cantik jelita dan yatim piatu, ia mempunyai pacar yang tampan dan kaya raya, Fantine jatuh cinta padanya dan rela memberikan apa pun yang dia miliki.Lalu kejutan Tholomyes meremukkan hati Fantine, laki-laki itu meninggalkan Fantine dalam kondisi berbadan dua karena takut masa depannya hancur kalau bersama wanita dari kelas sosial kebawah. 'lelucon' tersebut merubah diri Fantine, dia lebih sering murung dan kecantikannya pun mulai pudar. Dia berencana kembali ke kota asalnya, Kota M. Sur M. tapi tidak bisa kalau membawa anaknya, pekerjaannya tidak memperbolehkannya. Di Montfermeil Fantine melihat seorang ibu dengan anak-anaknya terurus dengan baik, kemudian tebersit keinginan Fantine agar orang tersebut menjaga anaknya. Wanita itu adalah Thenardier dengan syarat Fantine harus mengirimkan tujuh francs setiap bulan. Fantine tidak tahu betapa liciknya keluarga tersebut, Corsette, anak Fantine diperlakukan layaknya seorang pembantu, uang yang selalu dikirim ibunya tidak pernah dinikmati Corsette, pakaiannya pun dijual sehingga dia seperti memakai baju rombeng.
Kota M. Sur M. sangat berkembang pesat, menjadi sebuah kota industri yang makmur, terlebih setelah Tuan Madeleine menjadi Walikota. Ia adalah laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang sangat perhatian dan baik. Negara berhutang banyak padanya, dia sangat sopan kepada semua orang dan mengasihi siapa pun terlebih rakyat miskin, dia adalah pahlawan. Tuan Madeleine bagaikan seorang uskup, dia melerai perselisihan, dia mencegah terjadinya perkara hukum, dia mendamaikan orang-orang yang bermusuhan. Semua kebaikannya itu tidak berpengaruh pada Javert, orang dari kepolisian. Dia seperti pernah melihat Tuan Madelaine di masa lalu, dia tidak asing baginya. Javert sering sekali mengamati tindak tanduk Tuan Madeleine, penuh kecurigaan dan dugaan. Dia adalah laki-laki yang terobsesi dengan hukum, bahkan mencapai tahap fanatik. Dia tidak akan segan-segan menangkap ayahnya kalau melarikan diri dari penjara atau dia akan melaporkan ibunya kalau melakukan kejahatan, dia tidak pandang bulu.
Fantine bekerja di pabrik milik Tuan Madeleine dan tiap bulan dia tidak pernah absen mengirim uang untuk keluarga Thenardier. lalu kabar masa lalu Fantine tercium oleh sesorang yang iri terhadap kecantikannya, Nyonya Victurnien. Dia berkata kalau Tuan Madeleine tidak membutuhkannya lagi, dan atas nama Walikota, wanita itu meminta Fantine meninggalkan wilayah itu, padahal Tuan Madeline tidak pernah tahu akan masalah tersebut. Fantine dianjurkan untuk menemui Walikota tapi tidak berani, dia masih berhutang apalagi keluarga Thernardier meminta Fantine menaikkan 'uang bulanan'. Dia rela menjual rambutnya, rela menjual giginya, dia rela menjadi pelacur agar anaknya hidup nyaman, hangat dan sehat. Dia juga sangat membenci Tuan Madelaine.
Fantine sering dihina dan dia sering mengacuhkannya, tapi ketika ada seorang pemabuk yang selain melontarkan penghinaan dia juga melempar tubuh Fantine dengan segenggam salju kemarahan Fantine tidak bisa dibendung lagi, dia langsung menerkam laki-laki tersebut, mencakar wajahnya dengan kata-kata paling mengerikan. Apa yang dia dapat? Javert melihat kejaidian itu dan Fantine dihukum enam bulan penjara! Kejadian itu juga didengar Walikota, dia meminta Javert untuk membebaskannya, sebelumnya Fantine menumpahkan semua kemarahannya karena semua kejadian ini tidak akan pernah terjadi kalau Tuan Walikota mengusir dia dari pabriknya dan dia langsung meludahi wajah Walikota. Dengan kemarahannya yang mendidih dia menceritakan semua yang terjadi dalam hidupnya. Tuan Walikota tetap kekueh agar Fantine dibebaskan, usahanya selalu berhasil.
"Hukum tertinggi adalah nurani. Saya telah mendengar perempuan ini, saya tahu apa yang saya lakukan."
Tuan Madelaine membawa Fantine ke kliniknya karena kondisi kesehatannya yang menurun, dia ingin sekali bertemu dengan Corsette, luka luarnya mungkin bisa diobati tapi tidak dengan luka batinnya. Hanya Corsette lah yang dapat menyembuhkannya. Tuan Madelaine pun meminta Corsette dibawa pulang ke ibunya, dia berharap Fantine bisa bertahan sebelum Corsette pulang.
Suatu pagi Jevert menemui Tuan Madelaine dan meminta maaf karena tuduhan selama ini yang dia lontarkan kepada Tuan Madelaine. Dia mengganggap Tuan Madelaine adalah Jean Valjean, seorang narapidana yang setelah bebas pun dia masih mencuri dan melakaukan tindak kekerasan pada seorang anak kecil. Javert sudah gatal ingin menjebloskan dia ke penjara lagi. Lalu ada kabar kalau Jean Valjean sudah ditemukan, dengan nama Champmathieu. Di sinilah sifar jahat dan baik Tuam Madelaine diuji kembali, membiarkan Champmathiaeu dihukum karena kejahatan yang tidak pernah dia lakukan atau mengaku dirinya sebagai Jean Valjean?
"Dia dapat memperbaiki sendiri pada hal yang tidak lain lebih berat, lebih rumit, lebih misterius, dan lebih tak terhingga. Ada pemandangan yang lebih megah daripada lautan, yaitu langit. Ada pemandangan yang lebih megah daripada langit, yaitu lubuk hati yang paling dalam dan tersembunyi pada manusia."
"Berlian hanya ditemukan di tempat-tempat gelap di dalam bumi, kebenaran hanya ditemukan dikedalaman pikiran."
"Kejujuran, ketulusan, keterusterangan, keyakinan, rasa tanggung jawab, adalah hal-hal yang dapat menjadi sesuatu yang mengerikan jika diarahkan dengan keliru. Namun, bahkan walaupun mengerikan, tetap hebat. Keagungannya, keagungan yang istimewa dalam hati nurani manusia, melekat pada mereka di tengah kengerian. Kegembiraan yang tulus dan tak kenal ampun dari seorang fanatik dalam luapan yang penuh atas kekejamannya menyimpan suatu sinar mulia yang menyedihkan. Tanpa menyadari kenyataannya, Javert dalam kebahagiaan yang luar biasa patut untuk dikasihani, sebagaimana setiap manusia bodoh yang memperoleh kemenangan. tidak ada sesuatu yang begitu memilukan dan begitu mengerikan dibandingkan dengan wajah ini, tempat tergambar semua yang mungkin menunjukkan sifat buruk orang-orang baik."
Membaca buku ini awalnya sangat bosan, terlalu berbelit-belit, memasuki kisah Jean Valjean saya tidak bisa berhenti membacanya. Buku ini menggambarkan bagaimana keadilan sungguh-sungguh ditegakkan sangat sangat berlebihan tanpa memandang kesalahan apa yang dilakukan, tidak ada pembelaan untuk sebuah kejahatan, walau kejahatan itu dilakukan untuk menolong keluarganya yang kelaparan. Hukum yang kebalabasan. Buku ini menggambarkan betapa status seorang narapidana sangat memalukan, mereka dikucilkan oleh masyarakat, tanpa pernah memberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun kehidupan yang baru. Buku ini menggambarkan bagaimana seorang ibu bisa melakukan apa pun demi anaknya, menjual setiap bagian tubuhnya, semua tubuhnya agar anaknya bisa hidup enak. Buku ini menggambarkan bagaimana seseorang yang terobsesi dengan hukum, siap menegakkan kebenaran kalau dia melihat ada yang salah tanpa menelusuri terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi. Buku ini menggambarkan sebaik-baiknya seseorang di masa sekarang, kalau masa lalunya sangat tercoreng maka kebaikan yang selama ini dilakukannya tidak ada artinya.
Miris, itulah perasaan saya ketika membaca buku ini. Hukum lebih berpihak kepada golongan atas, ketika golongan bawah melakukan kesalahan yang sepele hukumnya bisa sampai bertahun-tahun, tidak ada pembelaan bagi mereka. Victor Hugo memaparkan potret dan kritik sosial di masa lampau dengan begitu detailnya. Sosok Jean Valjean yang menjelma menjadi Tuan Madelaine sangat dibutuhkan di dunia ini, kasih sayang Fantine sangat diharapkan oleh semua anak, dan ketegasan yang walaupun kebablasan yang diterapkan Javert sebenarnya sangat dibutuhkan saat ini, di mana hukum sangat sangat dipertanyakan keadilannya, seperti tidak ada perubahan antara masa lalu dan masa sekarang.
"Pembaca tidak hanya akan diajak bijak menjadi bijak dengan nilai-nilai ketuhanan yang ada, tetapi juga patriotisme, kasih sayang seorang ibu, kepedulian terhadap sesama, cinta tanpa pamrih, juga intrik politik yang menggerus keadilan."
Terjemahannya tidak ada masalah, kalau melihat edisi aslinya yang beribu halaman saya yakin sekali banyak bagian yang di potong di buku ini tapi saya rasa pemotongannya sesuai, tidak mengurangi inti ceritanya, bahkan bagi saya yang tidak suka membaca cerita yang berbelit-belit sangat bersyukur, bagian yang terpenting seperti kisah tiga sosok utama menurut saya: Jean Valjean, Fantine dan Javert tergambar jelas, sehingga saya bisa mengenali karakter mereka. Soal covernya, sebenarnya saya tidak terlalu bermasalah, seandainya saja tulisannya dihilangkan, menyisakan judul dan penulisnya akan lebih simple, dengan berbagai tulisan yang sepertinya diambil dari tagline film terlalu memenuhi covernya. Dan kenapa covernya mimilih sosok Fantine? mungkin pihak penerbit lebih ingin menonjolkan pengorbanan Fantine. Kalau membaca di bagian pengantar, buku ini sebenarnya ada lima volume yang masing-masing berdiri sendiri. Dan buku ini adalah volume pertama. Dari beberapa review yang saya baca ceritanya masih panjang dan sebal sekali dengan pihak penerbit karena ceritanya tidak disuguhkan sampai akhir, padahal katanya bagian akhir sangat mengaharukan, membuat saya kecewa sekali. Buku ini bagus sekali, kaya akan pesan moral dan sayang kalau tidak disuguhkan secara penuh. Empat atau lima sayap bisa saya berikan untuk buku ini, saya berharap akan ada lanjutannya, sangat-sangat disayangkan kalau cerita hanya berhenti di sana. Saya masih menunggu perjuangan Jean Valjean selanjutnya, saya ingin melihat Corsette yang tumbuh besar, dan saya ingin tahu apakah Javert sadar akan hukum yang keterlaluan yang diterapkannya.
Novel ini merupakan salah satu masterpiece karya Victor Hugo, sastrawan Perancis terkemuka. Novel ini berkisah tentang perjuangan hidup, impian Harapan dan Cinta. Novel ini sarat dengan kritik social dengan setting Perancis di tahun 1815-1832 ketika Napoleon Bonaparte mengalami kekalahan dalam Perang Waterloo melawan Inggris dan sekutunya.
Ada tiga tokoh utama dalam novel ini yakni Tuan Myriel yang menjadi Uskup di Kota D, Jean Valjean seorang narapidana yang dihukum 19 tahun gara-gara mencuri sepotong roti, dan Fantine seorang ibu muda yang harus menanggung kehidupan anaknya karena hamil di luar nikah. Tuan Myriel digambarkan sebagai seorang Uskup yang bijak dan penuh kepedulian social. Dia merelakan rumah dinasnya yang besar untuk menjadi rumah sakit bagi orang miskin, sedangkan dia rela tinggal di rumah yang sederhana. Di tengah kehidupan birokrasi yang korup, Uskup Myriel juga menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk menyantuni orang miskin yang banyak bertebaran saat itu. Di saat banyak uang, dia mendatangi orang miskin disantuni. Di saat tidak punya uang, dia mendatangi orang kaya untuk meminta sumbangan bagi kaum miskin. Dia menjadikan rumahnya menjadi rumah singgah bagi siapapun sehingga dia juga dikenal sebagai Tuan Selamat Datang (Welcome).
Salah satu sifat bijak Uskup Myriel ditunjukkan ketika dia melindungi Jean Valjean yang ditangkap polisi dengan tuduhan mencuri peralatan dapur dan tempat lilin perak milik Uskup Myriel. Dia menyampaikan kepada polisi itu bahwa dia memberikan peralatan dapur dan tempat lilin perak yang menjadi satu-satunya barangnya yang paling berharga kepada Jean untuk bekal hidupnya. Dia hanya berpesan kepada Jean agar di masa depannya Jean selalu bersikap jujur kepada hati nuraninya. Jean Valjean sendiri merupakan pemuda dari kalangan miskin yang hidup dengan kakak perempuannya dan 7 orang ponakannya. Di tengah himpitan kemiskinan, Jean mencuri sepotong roti ketika dia tidak tahan mendengar jerit kelaparan dari keponakan-keponakannya. Jean yang dihukum 5 tahun hukuman di kapal, terus menambah waktu hukumannya hingga menjadi 19 tahun karena ulahnya yang sering mencoba melarikan diri. Ketika dilepaskan dari hukuman kapal, pandangan masyarakat yang miring terhadap narapidana membuat dia semakin tersisih. Sampai suatu saat di tengah perjalanannya dia bertemu dan dipersilahkan menginap di rumah Uskup Myriel. Di rumah ini, dia berusaha mencuri perkakas dapur dan ditangkap polisi ketika melarikan diri. Untunglah Uskup Myriel datang melindunginya.
Pengembaraan Jean Valjean berlanjut di kita M. Sur. Di kota ini dia dengan berani menyelamatkan dua orang anak yang terbakar rumahnya tanpa memperhatikan keselamatannya sendiri. Dia kemudian tinggal di kota ini dan berhasil mengembangkan inovasi usaha yang terus berkembang. Dia memakai nama Tuan Medelaine Meneladani sikap Uskup Myriel, Tuan Medelaine mempekerjakan masyarakat di sekitarnya dan rajin berderma. Sifat sosialnya yang tinggi membuat namanya harusm sehingga dia diangkat menjadi bangsawan dan diusulkan menjadi walikota M. Sur. Tapi dia menolak semua jabatan itu. Namun dia tidak berdaya ketika masyarakat luas dan kaum miskin mendesaknya untuk jadi Walikota M. Sur. Sebagai walikota, Medeline tetap bersikap adil, bijak dan peduli kaum miskin. Kota M. Sur makin berkembang dibawah pimpinannya. Pendidikan dan kesehatan kaum miskin menjadi prioritas pembangunannya.
Kota M. Sur yang berkembang menarik perhatian Fantine untuk bekerja di sana. Dia diterima sebagai karyawan di perusahaan milik Medeline. Fantine merupakan seorang perempuan cantik, miskin dan sebatang kara. Dia harus menghidupi anaknya hasil hubungan di luar nikah dengan seorang pemuda. Anak perempuannya yang masih kecil dititipkan pada seorang keluarga di desa yang kemudian sering memeras Fantin dengan dalih untuk biaya hidup anaknya. Suatu ketika Fantine difitnah dan dikeluarkan dari perusahaan Medeline, tanpa setahu Medeline. Fantine yang harus menghidupi anaknya berusaha menjual harta miliknya yang sangat sedikit, bekerja serabutan, memotong dan menjual rambut indahnya, menjual gigi serinya yang indah kepada tukang gigi, hingga menjadi pelacur. Di tengah penderitaannya, dia lakukan apapun untuk menghidupi buah hatinya yang ada di desa.
Suatu ketika Fantine ditangkap polisi karena menyerang seorang bangsawan yang menghinanya. Untunglah walikota Medeline dating melindunginya. Mendengar penuturan kehidupan Fantine yang penuh derita dan sakit paru-paru, Medeline kemudian merawat Fantine di rumahnya dan berusaha menyatukan Fantine dengan anak kesayangannya. Di saat yang bersamaan, Medeline sendiri menghadapi dilemma karena ada seseorang yang ditangkap polisi karena dituduh mencuri apel. Orang tersebut dituduh juga sebagai Jean Valjean yang sedang dicari polisi karena kasus perampokan seorang pengamen kecil beberapa tahun silam. Di sinilah pertentangan batin terjadi, karena Tuan medeline ingin menyelamatkan tertuduh, tapi di sisi lain dia tetap ingin membaktikan diri kepada kaum miskin di kota M. Sur. Akhirnya hati nurani Tuan medeline berbicara. Di pengadilan dia mengakui bahwa dialah Jean Valjean dan dia bersedia dihukum.
Ketika kembali ke rumahnya Tuan Medeline mendapatkan Fantine yang sakit paru-parunya semakimn parah. Dia terus menanyakan anaknya yang tidak kunjung tiba. Ketika dia sedang menungguin Fantine yang sedang sakit, datanglah polisi yang akan menangkapnya. Hal itu mengakibatkan Fantine shock hingga meninggal dunia. Keangkuhan polisi yang akan menangkapnya membuat Jean marah besar. Hingga dia kemudian melarikan diri. Sebelum dia melarikan diri, dia menitipkan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya kepada Pendeta untuk membiayai pemakaman Fantine dan untuk didermakan kepada kaum miskin.
Secara umum novel ini sangat indah, penuh pesan moral dan kritik social. Mungkin itu pulalah yang menyebabkan novel ini menjadi best seller. Ketika novel ini diterbitkan pertama kali tahun 1862 di Belgia, ribuan buku ini langsiung ludes dibeli pembeli.....
Direkomdasikan buat yang suka cerita yang mendetail..
Bukunya terdiri dari 8 bagian tiap bagian punya 2 - 14 Bab .. Ada 3 tokoh utama yang menjadi pusat cerita, bagian awal buku dibuka dengan cerita dari tuan Myriel seorang Uskup, terus lanjut pada tokoh Jean Valjean seorang narapidana yang baru bebas dan tokoh terakhir seorang wanita yang cantik namun malang yang bernama fantine..
Bukunya dibuat dengan narasi yang sangat mendetail,mungkin sebagian orang akan beranggapan bertele-tele. Pengenalan tokoh saja punya bab tersendiri sampai berlembar lembar, penggambaran latar,penggambaran perasaan tokoh saat bahagia ataupun penyesalanpun punya bab tersendiri. Yang masih ingat dalam kepala saat Jean valjean membuat keputusan antara mengungkap atau tidak benar² membuat capek dan engap sampai berlarut² wkwkwk..
Les Misérables by Victor Hugo told us about a social critique of the influence of all political issues and power struggles set in France in 1815 and 1832.
There is a wide gap between the rich and the poor, the working class does not receive welfare, and the law is more biased towards the upper class.
We literally learned about how unfair is life for the lower middle class.
Salah satu Literatur Perancis yang saya sukai. Novel yang ter-latar belakangi oleh peran pengarangnya langsung, dimana ketika Viktor Hugo mengalami pengasingan pada tahun 1851 setelah menjadi sosok yang memantapkan konstitusi antiparlemen terhadap pemerintahan Louis Napoleon. Sisi memoar dan biografi sosok cantik Fantine dan ketabahan pria tangguh, Jean Valjean serasa begitu dekat dan nyata. Tak heran jika Viktor Hugo disaat mempublikasikan karyanya ini di tahun 1862, ditengah-tengah dominasi kehidupan yang liar di kota Paris sendiri dan permulaan Restorasi Perancis, karya ini begitu menjadi kontroversi di kalangan masing-masing masyarakat. Dengan tanpa gentarnya, Viktor Hugo menggambarkan secara detail dan gamblang kehidupan liar kota Paris dan sekitarnya saat itu. Meskipun nama kota maupun nama tokoh-tokoh yang divisualisasikan diinisialkan, hal itu tidak mengurangi twist yang istimewa dalam buku ini.
Kalau saya perhatikan, buku ini merupakan penceritaan kembali karya Les Miserables-nya Viktor Hugo. Alur kisah dalam Les Miserables disini dimulai dengan penggambaran sosok Monsieur Myriel, sang Uskup beserta keagungan sifatnya. Lalu ia bertemu dengan seorang mantan Narapidana, Jean Valjean yang baru saja mendapatkan kebebasannya setelah dipenjara dalam sebuah kapal militer selama kurang lebih 20 tahun hanya karena mencuri sepotong roti untuk keponakannya. Kemudian berpindah ke sosok cantik Fantine, kisah cintanya dengan Tholomyses yang kemudian dia ditinggalkan begitu saja dalam keadaan hamil, mengandung anak dari Tholomyses. Fantine pun melahirkan dan mempunyai seorang gadis kecil yang cantik sekali. Cossette, nama gadis kecil itu, yang dititipkan Fantine kepada keluarga Thenardier untuk pergi mencari kerja di kota M. Sur M. Keluarga Thernardier, sebuah keluarga bajingan yang mirip dengan keluarga dari ibu tiri Cinderella. Kemudian di kota M. Sur M, Fantine bekerja di sebuah pabrik dibawah naungan Walikota M. Sur M, yang merupakan sosok Jean Valjean setelah berhasil menjadi seorang sukses di kota itu dan kemudian menjadi Walikota.
Buku ini cukup istimewa bagi saya. Buku ini merupakan interpretasi dari sebuah pencitraan diri tiap mahluk manusia. Ya, kadang saya pun merasa dekat dengan gaya penulisan ini, dimana kadang kita berbicara dengan diri sendiri mempertanyakan sana sini kikuk kehidupan yang kita jalani. Hal ini saya dapati dalam buku ini. Namun, di tiap penokohan yang digambarkan, bisa disimpulkan mereka masing-masing disini dalam mengambil keputusan hidupnya, terlalu banyak pemikiran yang begitu rumit. Well, sebenarnya pilihan kita jauh sebelum kita memutuskan pilihan itu, sebenarnya sudah terputuskan saat kita dihadapkan atas pilihan-pilihan itu. Yang terjadi hanyalah kita sebenarnya mencari-cari alasan dan argumentasi dalam menjelaskan pilihan-pilihan yang ada.
Saat sampai pada kenyataan bahwa Fantine siap menjadi pelacur untuk membiayai kehidupannya, saya langsung mengusap muka, tidak percaya! Kok bisa juga ya, dia mempercayakan orang asing untuk menasuh anaknya, Cossette selama dia bekerja di kota M. Sur M. terlebih lagi bahwa dia tidak sadari kalau dia ditipu habis-habisan. Saya cuman bisa bilang, “Dear Fantine, how poor you are, how poor your Cossette”.
Buku ini layak direkomendasikan kepada teman-teman pencinta sastra atau bagi mereka yang ingin tahu sedikit masa-masa permulaan ketika Perancis mengalami masa-masa Revolusi Industri.
The story started in an unusual way. The police caught Jean Valjean stealing bread for his nephews. In addition, owning a gun aggravated the punishment. As he was worried about his starving nephews, he tried to escape from the prison. After few failures of attempting jailbreaks, he spent more than 10 years in the prison. No one provided neither food nor bed since he was an ex-convict. However, Myriel was different. He well treated Jean Valjean but being blind with love of money, Jean Valjean stole silverware and was caught again. Myriel forgave and taught him to love and forgive. Jean Valjean renamed himself and became rich by the factory that he founded. After helping a man who was crushed by a carriage, people showed respect and therefore became a mayor. Jean Valjean became a prisoner again by saving a man who was falsely accused as him. He broke out of the prison by acting as if he fell into the sea. After, he nurtured a girl called Cosette whose parents passed away while being chased by a detective. After Cosette grew up, Jean Valjean and Cosette moved to Paris. Cosette fell in love with a man called Marius. Marius was fighting with a revolutionary army. After Jean Valjean found out the love between them, he also took part in the revolutionary army. In the battlefield, Jean Valjean rescued a detective who was chasing after him. Jean Valjean rescued Marius and told him all about his past. In the end, he passed away with a calm face surrounded by Cosette and Marius.
The most memorable part of the story was when Myriel provided Jean Valjean a shelter and food. Even though Myriel knew what Jean Valjean had done, he did not act as if he knew who Jean Valjean was. If I was in Myriel’s shoes, I would have been frightened. However, I was surprised and moved by the Myriel’s acts that he showed to Jean Valjean. Even though Jean Valjean stole bread for his starving nephews, I think that burglary is not the right act that he had done. He should have earned money own effort though it might be challenging and difficult.
I would give 3.5 out of 5 rating for this book. People who have read or seen the musical Les Misérables and wanting to know more about the particular character Jean Valjean is strongly recommended to read this book. But it is also interesting for readers who did not know the story as it tells the life of Jean Valjean. I would not specify the readers who are not recommended to read this book since it is easy to read for any individuals who like fiction books.
This entire review has been hidden because of spoilers.
kereen... tapi bahasanya berat!! Dan yang dibahas juga lumayan serius. jadi perlu waktu agak lama untuk menyelesaikan buku ini. buku ini merupakan bagian pertama dari kisah Les Misérables. Jadi jangan kecewa kalau kisahnya tidak lengkap, karena toh masih ada lanjutannya. bab-bab awal banyak kalimat bijak nan ajaib yang mengiringi kisah seorang Uskup, yang belakangan bakal menjadi sosok penginspirasi untuk salah satu tokoh sentral dalam cerita utama untuk bertobat.
ada salah satu bab yang membuatku pusing saat membahas potongan-potongan tanpa jeda tentang kondisi politik Perancis saat itu.
Tapi overall, buku ini seperti karya klasik lainnya--buku serius yang kalimat-kalimatnya tinggi banget...
kelar. akhirnya kelar juga. teringat ucapan dosen saya di sebuah postingan di Facebook, bahwasanya tidak mudah menyelesaikan buku ini. Apalagi, beliau membaca versi lengkap berbahasa Inggris. bagi saya itu dua kali lebih berat. jadi perjuangan menyelesaikan novel ini butuh diapresiasi dengan coklat panas (hot chocolate) lol memang sudah pernah difilmkan tapi lebih asyik membacanya
Buku ini memberikan gambaran kehidupan di Perancis sebelum terjadinya revolusi. Kekejaman, penindasan dan kesemena-menaan para kaum burjois dalam mempermainkan kaum proletar terjadi setiap saat.