Menyerahnya Belanda kepada Jepang pada bulan Maret 1942 telah dianggap sebagai titik terakhir dari kekuasaan kolonialnya di Indonesia yang telah berlangsung selama tiga abad. Namun tanpa peristiwa itu pun sesungguhnya awal dari proses runtuhnya kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia telah nampak sejak permulaan abad ini ketika benih-benih nasionalisme Indonesia modern mulai menampakkan dirinya. Proses itu makin nyata pada pertengahan 1920-an hingga awal tahun 1940-an dengan munculnya aspirasi gerakan-gerakan nasionalis yang dengan tegas menuntut kemerdekaan Indonesia. Situasi internasional yang ditandai oleh Perang Dunia II, melalui mana Jepang mengambil alih kekuasaan Belanda di Indonesia selama tiga setengah tahun, hanyalah merupakan faktor yang mempercepat proses keruntuhan tersebut yang sudah berakar jauh sebelumnya.
Dalam buku ini, DR Onghokham mengurai proses tersebut dengan menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik faktor dalam negeri Indonesia maupun faktor-faktor internasional, termasuk juga perkembangan politik di Negeri Belanda sendiri.
Kekayaan informasi dan analisis kritis yang terkandung di dalamnya, membuat buku ini perlu dibaca oleh mereka yang ingin mempelajari suatu periode yang sangat menentukan dalam sejarah bangsa Indonesia
Onghokham (Ong Hok Ham) adalah seorang sejarawan dan cendekiawan Indonesia. Ia sering menulis pada kolom sejarah di majalah Tempo. Kumpulan tulisannya di majalah ini selama tahun 1976-2001 diterbitkan pada tahun 2002 dengan judul Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang.
Sebagai sejarawan, Ong Hok Ham menulis banyak artikel mengenai kaum peranakan Tionghoa Indonesia. Lima belas dari puluhan artikelnya yang pernah diterbitkan Star Weekly kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa.
Ong Hok Ham juga merupakan mantan dosen di Universitas Indonesia. Disertasinya selesai ditulis tahun 1975 dengan judul The Residency of Madiun; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century dan gelar Doktor diraihnya dari Universitas Yale, Amerika Serikat. Buah pemikiran Ong diabadikan dalam wujud pusat pelajaran sejarah Ong Hok Ham Institute di Jakarta Timur. Ia pensiun dari Universitas Indonesia pada tahun 1989.
Ong Hok Ham meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 2007 karena stroke. Sebelumnya ia juga pernah terkena serangan stroke pada tahun 2001. Namun hal ini tidak mengganggu semangatnya untuk menulis, meskipun hanya dengan tangan kanannya.
Sebagai bukan penggemar buku sejarah, saya berikan bintang 4 untuk buku ini. Tak lain dan tak bukan (apa coba ^_^) karena gaya bertutur penulis yang tak membuat saya merasa jenuh. Segala hal diuraikan dengan cara yang enak untuk disimak. Andai semua buku sejarah dibuat seperti ini.
Banyak hal yang dipungkiri dalam buku ini. Per harapan pernah Belanda kepada Jepang karena mereka mengatakan perang dengan dua sekutu Belanda,
Pada halaman 287 tertulis, " Di Banyumas dan terutama di Surakarta terjadi kemarahan rakyat terhadap simbol-simbol asing selama satu minggu yang penuh keseraman. Penduduk Belanda banyak yang dibunuh atau disunati, dipaksa masuk Islam. Semboyan dari lakon Umarmoyo, yang mengatakan bahwa orang-orang beragama Islam berhak melakukan hal-hal tertentu terhadap orang kafir, dihidupkan kembali biarpun lakon-lakon Umarmoyo telah dilarang selama penjajahan Belanda."
Ketemu sama buku ini pas masih SMP. Buku ini sering jadi bacaan pengantar tidur waktu itu. Some interest of history. Tapi, baca ulang lagi karena udah lupa beberapa poin dari buku ini. Hihi {}
Buku ini ngasih jawaban ekstra jelas, kenapa Hindia Belanda bisa dengan mudah diserahkan ke Jepang dengan tanpa syarat oleh Sekutu. Bahkan, beberapa periode sebelum Runtuhnya Hindia Belanda juga ikut dijelaskan dalam buku ini.
Satu hal yang bikin saya jadi lebih excited, karena impressed yang ditransfer ke pembaca benar-benar nyata. Bukunya hidup. Juga, karena bisa jadi ini adalah satu-satunya buku pada zamannya yang menggunakan sudut pandang dari sisi Belanda. Buku yang pada awalnya sebagai skripsi dari penulis ini benar-benar HEBAT. EXO!
Pembaca buku ini akan disungguhkan kejadian - kejadian penting sebelum kejatuhan Hindia Belanda sebelum perang dunia ke 2. Disini akan terjawab, mengapa Belanda begitu cepat menyerah kepada Jepang. Juga akan menjawab, mengapa begitu lambannya Belanda kembali ke Indonesia (Hindia Belanda) setelah kekalahan Jepang.
Dari buku ini kita akan menjadi paham bahwa kemerdekaan Indonesia memang selayaknya didapatkan dan bukan merupakan suatu pencurian kesempatan ditengah hiruk pikuk perang dunia ke 2.
Semoga buku ini bisa menjadi penambah patriotisme akan negara kita.