Saya mulai merasa kehilangan diri saya sendiri. Saya sempat bertanya-tanya apa pilihan saya ini benar? (Andry)
Dan ternyata, memang sebuah sapaan sesimpel ‘halo’ dalam berbagai bahasa merupakan jurus yang sangat ampuh untuk membuka pembicaraan, dan juga jalan pertemanan dengan orang-orang dari berbagai negara. (Fei)
Jika ada yang memiliki mesin waktu dan bertanya apakah saya ingin kembali ke masa lalu, saya akan meminta kembali ke masa 100 hari di Korea ini. Bukan untuk mengubahnya, melainkan untuk menikmatinya lagi. (Lia)
***
Sendirian menjelajah negeri orang yang bahkan mereka tidak fasih bahasanya. Itulah yang dialami Lia, Fei, dan Andry pada awalnya. Mereka berangkat bermodalkan nekad dan memulai petualangan sebagai siswa bahasa di Seoul, Shanghai, dan Tokyo. Penuh kekhawatiran, namun juga penuh kegembiraan dan rasa penasaran yang meluap. Berulang kali Lia, Fei, dan Andry terus menantang diri sendiri untuk melakukan hal-hal baru. Proses yang membawa mereka berkenalan dan menemukan sahabat-sahabat baru, hingga pada akhirnya, semuanya itu membawa mereka kembali, berdamai dengan diri sendiri.
1. My Cousin is Gay (2006) 2. Pretend tobe Nice (2007) 3. Benang Jodoh (2007) 4. The Secret (2007) 5. Sven (2008) 6. Seoul Cinderella (2008) 7. Non fiksi: Ga Gi Gu Gigi (2009) 8. Marrying AIDS (2009) 9. Non fiksi: Gokilboy/Gokilgirl (ditulis bersama Andikobe)(2009) 10. Dentistory (2010) 11. SeoulMate (2011) 12. Khokkiri (2011) 13. Bubble Love (ditulis bersama Fei) (2011) 14. Non fiksi: SeoulVivor (2011) 15. Oppa&I ((ditulis bersama Orizuka 2011) 16. SeoulMate is You (2012) 17. Non fiksi:(Not) Alone in Otherland ((ditulis bersama Fei & Andry Setiawan 2012) 18. Oppa&I: Love Missions (ditulis bersama Orizuka 2012) 19. Paper Romance (2013) 20. Good Memories (2013) 21. Oppa & I: Love Signs ((ditulis bersama Orizuka 2013) 22. This is How I Do (Oktober 2014) 23. Intertwine (FLOCK, 2014) 24. SeoulMate (cetak ulang, November 2016) 25. Oppa & I Series (cetak ulang) (ditulis bersama Orizuka Desember 2016) 26. Jackson (Januari 2018)
Pertama saya membacanya, saya lalu mencoba memutuskan, sebenarnya buku ini bergenre apa? Karena secara keseluruhan buku ini seperti diary ketiga penulisnya saat berada di 3 negara berbeda dalam kurun waktu tertentu. Lalu diselipi kisah petualangan saat melakukan perjalanan pula oleh dua penulisnya. Hingga akhirnya saya menyimpulkan bahwa buku ini bergenre personal literature.
Adalah Korea Selatan, China, dan Jepang yang menjadi latar belakang tempat ketiga penulis ini menuliskan kisahnya. Dan benang merahnya adalah kisah mereka saat belajar bahasa di tiga negara tersebut. Bagaimana Lia mengisahkan proses belajar bahasa Korea di Seoul, Fei memahami tentang bahasa mandarin di Shanghai, dan Andry yang memulai kehidupan panjangnya di Jepang dengan belajar bahasa tersebut di Tokyo.
Bahasa hanyalah satu hal yang kemudian membawa ke banyak hal lainnya yang juga membawa mereka ke dalam petualangan-petualangan seru di 3 negara ini. Bagaimana berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai bangsa yang tentu saja lintas bahasa, dan juga dituntut beradaptasi dengan cepat dengan kebudayaan-kebudayaan baru di sekitar mereka.
Cara bertuturnya seru, gaya penulisan yang berbeda tidak akan membuat kita bosan. Alurnya pun bisa diikuti dengan baik. Saya merekomendasikan buku ini jika kita ingin variasa bacaan non fiksi dari yang sudah-sudah, sekaligus menambah pengetahuan kita tentang ketiga negara tersebut, karena di bagian akhir buku juga dipaparkan banyak trivia unik tentang Korea Selatan, China, dan Jepang.
Resensi lengkap dan uraian saya tentang masing-masing bagian cerita bisa dibaca di sini:
(Not) Alone in Other Land Lia Indra, Fei, Andry Setiawan 2012, Cetakan Pertama 276 Halaman.
***
Suka buku perjalanan? Suka mengeksplor negara-negara lain melalui tulisan? Saya rasa buku ini sangat rekomendasi untuk penyuka topik perjalanan semacam itu. Dan sebagai catatan pribadi, ketiga penulis buku ini adalah penulis favorit saya, hehe.
Pertama kali membacanya ketika saya duduk di bangku SMA, di mana saat itu Korean Wave sedang hits di Indonesia. Lia Indra, Fei, dan Mas Andry merupakan tiga penulis yang masing-masing seingat saya pernah menulis novel dengan latar negara-negara yang mereka kunjungi: Korea, Tiongkok, dan Jepang. Dan, kebetulan (lagi), saya meyukai ketiga negara tersebut.
KELEBIHAN ISI BUKU
Buku ini memiliki gaya bahasa yang mengalir. Tidak bertele-tele, mampu memperkenalkan budaya, dan tidak membosankan. Meskipun masing-masing penulis sedang menceritakan pengalaman mereka saat berada di luar negri, dimulai dari bagaimana mereka memutuskan ke negara tersebut dan apa saja yang ada di negara tersebut; sekali lagi, benar-benar nyaman dibaca.
Bahkan karena buku ini, saya memiliki wawasan mengenai spot menarik yang ada di negara-negara tersebut, terutama Jepang. Karena saya senang menulis juga, saya pun jadi dapat menggunakan buku inii sebagai referensi untuk tulisan saya.
Bagaimana cara penulis tinggal di negara-negara tersebut pun menurut saya sangat menarik dibaca. Saya jadi tidak hanya sekadar menerka, mengawang, tentang bagamana orang-orang tinggal di negara tersebut. Yang mana pada tahun-tahun itu (sekitar 2012-2016) internet belum semasif sekarang dan masih banyak informasi mengenai ketiga negara tersebut yang kurang.
Bahkan, penulis menyematkan situs untuk mencari universitas ke luar negeri saat itu. Keren banget pokoknya.
Dan yang paling menyentuh perasaan saya, bahwa saya pun bisa berkuliah dan pergi ke mana pun saya mau. Dan semuanya diawali dengan cita-cita. Jangan takut memiliki cita-cita.
Karena ketiga penulis buku ini merupakan novelis juga, gaya menulis buku ini sangat-sangat nyaman dibaca.
KEKURANGAN
Untuk gambar-gambar yang disuguhkan, sayangnya buku ini masih hitam-putih dan belum berwarna. Kalau saja bukunya tidak memakai hitam putih untuk foto-foto spot di negara tersebut, mungkin buku ini akan terasa lebih hangat.
Bercerita tentang pengalaman 3 penulis saat belajar bahasa di 3 negara berbeda, Korsel, Tiongkok, dan Jepang. . Lia Indra Andriana, memutuskan belajar bahasa Korea di negara asalnya. Memilih Seoul sebagai tempat tinggal dan Sungkyunwan University tempatnya belajar bahasa Korea selama 3 bulan. Ceritanya berkisar tentang teman-teman dari berbagai negara yang ikut belajar Korea demi alasan bermacam-macam, salah satunya, ngefans berat terhadap idol di sana 😅. Lia juga menceritakan bagaimana cara guru-guru Korsel mengajarkan para murid asing agar lancar berbahasa dan hubungan yang sangat dekat antara murid dan guru di sana. Ga heran, di hari-hari terakhirnya, sangat berat untuk meninggalkan kampus dan semua yang sudah membuat betah. . Fei, penulis kedua yang menceritakan serunya dia saat belajar bahasa Mandarin di salah satu universitas di Shanghai. Kehidupan para pelajar di Tiongkok yang sangat kompetitif, dan kesulitannya dalam menguasai bahasa di awal-awal tiba. Fei juga menuliskan cerita saat dia dan seorang teman mencoba liburan backpacking saat libur sekolah. . Terakhir, ada Andry Setiawan yang menuliskan kisah-kisah seru ketika dia diterima beasiswa untuk belajar di Jepang, sampai akhirnya memutuskan kerja pada perusahaan informatika di Tokyo. Dibanding 2 cerita sebelumnya, cerita pengalaman Andry selama di negara matahari terbit, paling menarik buatku. Apalagi momen-momen saat dia traveling ke Kagoshima ketika masa golden week. Tempat-tempat yang dia kunjungi, langsung masuk dalam bucket listku😍! . Belajar bahasa merupakan jalan buat kita mengerti tentang budaya bangsa lain. Dengan menguasai dan mengerti bahasanya, perdamaian juga lebih mudah tercipta. Tidak ada misunderstanding hanya karena cara bicara, logat dan aksen yang berbeda, atau salah mengartikan ucapan-ucapan yang mengandung banyak arti. Dan jangan pernah lupakan, ucapan simple seperti Hai atau Hallo, terkadang jadi jalan termudah untuk membuka percakapan dengan siapapun, termasuk orang asing.... Yang dibutuhkan hanyalah, keberanian dan percaya diri untuk memulai 😊
akhirnyaa..berees juga baca buku ini. buku ini berisi tentang pengalaman ketiga penulis di masing2 tempat menempuh pendidikan bahasa, Lia di korea, Fei di China, dan Andry di Jepang. ceritanya cukup menarik, cuma dibeberapa kalimat penyampaiannya kurang begitu saya sukai. entahlah, selera membaca saya mungkin yang sudah berubah, maklum ini buku terbitan 2012. sudah 8 tahun yang lalu... mungkin jika saya membacanya saat tahun pertama terbit, saya akan sangat excited dengan buku ini. apalagi saat itu sedang tren korean hallyu wave. wahh,siapa sih yg tidak tahu kpop seperti Super Junior, DBSK, BigBang, SNSD, WG, saat itu meledak bgt di pasar internasional, termasuk indonesia. sebuah kebanggan tersendiri saat itu jika punya koleksi yang berhuhungan dengan korea, karena pd saat itu sangat jarang sekali merchandise yg bisa didapat secara mudah. yah, intinya buku sejenis ini sudah bukan cangkir teh saya lagi. hal yang menarik bagi saya mengenai buku ini adalah pesan-pesannya. yang mana belajar bahasa asing itu akan sangat efektif jika kita bisa mempraktekkannya secara langsung, terjun bersosialisasi dengan orang lain, itu adalah pelajaran yang sangat tak ternilai harganya.
Aku lupa kapan beli buku ini. Mungkin sekitar tahun 2013an. Waktu itu bacanya gak sampe kelar. Tahun ini berniat mencoba lagi. Tapi ternyata butuh perjuangan untuk nyelesein buku ini.
Buku ini terbagi menjadi tiga bagian yang berisi masing-masing pengalaman penulis saat belajar di luar negeri: Korea Selatan, Shanghai, dan Jepang. Isinya kurang lebih seperti diary, menceritakan pengalaman sehari-hari selama di sana. Dari ketiga bagian tersebut, aku lebih suka baca yang bagian terakhir, yaitu pengalaman Andry Setiawan saat mendapatkan beasiswa di Jepang, serta saat dia bekerja di salah satu perusahaan informatika di sana. Story tellingnya lebih menarik dan tidak membosankan.
Ada beberapa informasi terkait beasiswa dan sekolah di ketiga negara tersebut yang diselipkan di buku ini. Tapi gak tahu deh, apakah masih relate sampai sekarang apa gak, berhubung buku ini terbitan tahun 2012. Bagi kalian yang mungkin memiliki rencana untuk stay di salah satu negara tadi, buku ini bisa dijadiin referensi tipis-tipis.
Buku ini tuh seru banget kayak semacam perjalanan 3 negara yang aku bisa dapetin dalam 1 buku.Bener-bener seru banget.Di bagian penyampaiannya juga ringan.Setiap cerita rata rata 80-100 halaman gitu.Emang ga terlelu banyak sih.Tapi,perjalanan nya tuh buat aku mau baca dan penasaran.Dari awal sampai habis diakhir yang aku dapat itu bener bener sebuah perjalanan yang seru banget.Aku paling suka yang bagian Jepang itu seru parah.pokoknya kalian wajib baca ini kalau mau ke salah satu negara China, Korea,Jepang.Kalian juga bisa pilih salah satu cerita yang menurut kalian mau baca.Gak harus dari halaman pertama.Aku rekomendasiin untuk kalian yang mau pergi ke tiga negara tersebut.
Thank you🙏
This entire review has been hidden because of spoilers.
Hampir 10 tahun buku ini terbit dan saya baru baca sekarang haha. Buku non-fiksi yg menceritakan kehidupan mahasiswa Indonesia yg belajar bahasa di 3 negara Asia, yaitu Korea, China dan Jepang. Saya suka buku ini karena banyak sekali informasi yg di dapat tentang ketiga negara ini, ya walaupun untuk website dan nilai mata uang nya sudah tidak relevan di tahun 2022 ini haha. Tapi bukunya sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang negara-negara itu. Berhubung saya lagi tertarik pada ketiga negara ini baik itu film, musik dan karya tulisnya saya jadi semangat membacanya. Banyak juga kosa kata (Korea, dan Jepang) baru yg saya dapatkan dari buku ini. Pengalaman perjalanan penulis sangat menginspirasi.
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2022
3,4 dari 5 bintang!
Setelah aku menyelesaikan buku Funiculi Funicula: Kisah-Kisah Yang Baru Terungkap yang membuat perasaanku bercampur aduk akhirnya aku memutuskan selanjutnya membaca buku ini karena diharapkan untuk meredakan perasaanku yang gak baik-baik saja. Ternyata keputusanku tepat untuk membaca buku ini karena aku senang bisa membaca kisah perjalanan Ci Lia, Ko Andry dan Ci Fei dalam belajar bahasa asing di negaranya langsung.
kalo Ci Lia menceritakan bagaimana perjalanannya dalam belajar bahasa korea di Universitas Sungkyungkwan selama 3 bulan yah. Kita jadi merasakan bagaimana belajar bahasa, bagaimana mencoba belajar keluar dari zona aman dan juga mau belajar sosialisasi dengan teman-teman yang bukan orang Indonesia. begitu juga dengan Ci Fei yang belajar bahasa mandarin di universitas Shanghai dan Ko Andry yang belajar bahasa Jepang di Jepangnya juga.
Semuanya memiliki persamaan benang merah mereka berhasil keluar dari zona aman dan berhasil belajar menguasai bahasa asing yang mereka ingin pelajari
Terima kasih Ci Lia, Ko Andry dan Ci Fei untuk sharing pengalamannya di buku ini!
Buku ini menceritakan perjalanan yang ditulis oleh ketiga penulis, Lia Indra Andriana, Fei dan Andry Setiawan ke 3 negara yang berbeda yaitu Korea, China, dan Japan. Bukan hanya sekedar menuturkan perjalanan mereka, tetapi para penulis juga menceritakan perjuangan mereka dalam belajar bahasa, berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda kewarganegaraan, dan juga budaya yang mereka pelajari selama berada dinegara tersebut. Diantara ketiga cerita tersebut, aku paling menyukai cerita Lia Indra Andriana - Korea. Bagiku ceritanya paling menarik, simpel / tidak bertele-tele, dan sarat makna.
Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat. Meskipun kesalahan kosakata sering terjadi, tetapi justru kesalahanlah yang membuat kita lebih cepat belajar.
Adakalanya saya merasa ragu dan takut. Namun ketika saya sadar bahwa yang menghalangi saya untuk maju adalah diri sendiri, maka saya coba singkirkan jauh-jauh pikiran itu.
Secara keseluruhan, sebagai referensi buku ini cukup informatif. Dan bagian yang paling kusuka adalah Random Things About Korea, China and Japan. Saya suka mempelajari bahasa dan budaya. Kedua hal tersebut berkaitan erat dan tak dapat dipisahkan. Mengapa? Karena ketika kita mempelajari bahasa dari sebuah negara, kita secara otomatis juga belajar budaya yang ada pada negara tersebut, begitu juga sebaliknya ketika kita ingin mendalami budaya suatu negara, secara tidak langsung kita akan mempelajari bahasa negara tersebut untuk dapat berkomunikasi dengan penduduk disana.
Belajar bahasa adalah langkah kecil untuk mulai mengerti budaya bangsa lain dan memicu persahabatan dan perdamaian dengan bangsa tersebut. Karena itu, belajar bahasa tidak akan bisa cukup hanya dengan belajar dan menghafal kata-katanya saja. Belajar bahasa membutuhkan kesabaran dan pengertian akan budaya si empunya bahasa tersebut.
Saat ini bahasa yang benar-benar ingin kukuasai adalah Korea, Mandarin dan Thai. Namun, tentu saja untuk menguasai sebuah bahasa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh tekad yang kuat, dedikasi dan dibarengi dengan rasa sabar yang tinggi. Dan saya pribadi belumlah mencapai tahap itu.
Ada satu saat dimana ketika saya sedang berwisata di Bangkok, ketika selesai berbelanja disebuah toko, saya mengucapkan kata terima kasih dalam bahasa Thai yang langsung disambut dengan senyum dan anggukan puas dari pemilik tokonya. Hanya kata simpel tapi bisa menciptakan senyum dan perasaan senang dari orang Thai tersebut bagiku adalah suatu nikmat yang luarbiasa.
Banyak hal yang mendasari seseorang untuk mempelajari sebuah bahasa, misalnya karena setelah nonton drama Korea jadi ingin belajar bahasa Korea, atau seperti di Thailand yang penduduknya rata-rata tidak bisa berbahasa inggris, maka jika kita sedang berlibur disana, alangkah baiknya jika kita bisa sedikit berbicara bahasa mereka, sehingga tidak perlu susah-susah menyewa guide yang tentunya akan menambah biaya pengeluaran selama disana, dsb.
Pengalaman seperti mereka pernah saya alami. Meskipun bukan perjalanan bahasa, namun saya juga merasakan bagaimana rasanya keluar dari zona nyaman dan berusaha hidup mandiri, dan saya akui, itu tidak mudah. Kata “hemat” selalu tergiang-giang di benak saya kala saya tinggal jauh dari orang tua. Dan saat itu, buku inilah yang menemani hari-hari saya disana. Urm..well..rasanya seperti menemukan kekuatan dalam buku ini.
Banyak pengetahuan baru yang saya dapat setelah membaca buku ini. Tentang hal menarik yang ada di Korea, bahwa hubungan guru-murid yang dekat. Banyak professor / guru disana yang sering mengundang murid-muridnya untuk makan bersama dan saya tidak pernah menemukan fenomena tersebut di Indonesia. Juga hal menarik tentang Coffee Shop di Korea. Kamu boleh duduk berjam-jam meski kopi yang kamu pesan sudah habis. Dan kamu bisa menemukan coffee shop setiap 100 meter.
Hal menarik yang saya temukan di Shanghai adalah memesan air minum gallon yang praktis. Apalagi beberapa merek convenient store juga melayani pembayaran rekening listrik, air dan gas. Dalam bab yang ditulis kak Fei saya menemukan fakta perbedaan untuk urusan sekolah antara orang Asia dan orang Eropa. Banyak siswa Asia sekolah demi mengejar ijazah dan nilai bagus supaya bisa cepat kerja. Sebaliknya, kebanyakan orang Eropa cukup santai dalam urusan sekolah. Bagi kebanyakan orang Eropa, sekolah memang bukan semata tentang belajar mengejar nilai dan ijazah, tetapi mengejar pengetahuan itu sendiri.. mereka tidak buru-buru ingin lulus, namun juga tidak terus menunda-nunda.
Sementara di Jepang saya menemukan hal menarik tentang penggunaan toilet di Jepang. Penggunaan toilet Jepang perlu penjelasan khusus, karena salah-salah kamu akan merasakan sakitnya. Ada juga tentang kebiasaan orang Jepang tentang garam. Untuk mengembalikan kadar garam dan air dalam tubuh, orang Jepang sering menggunakan garam untuk dicolek dengan semangka agar lebih manis. Nggak percaya? Coba aja deh, tapi jangan kebanyakan garam ya #hehe.
Ini buku non-fiksi yang memberikan saya pengetahuan dan banyak hal di luar sana yang belum saya ketahui. Terimakasih untuk ketiga kakak hebat yang menuliskan pengalaman mereka untuk dibagi ke pembaca. Selain menambah wawasan, buku ini juga memberitahumu bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Teman, sahabat adalah kebutuhan primer manusia saat ini. Tanpa mereka, menurut saya pribadi, masa-masa kita di kehidupan ini tidak ada artinya. Merekalah pewarna kehidupan ini.
Awalnya, sedikit ragu untuk membeli buku non-fiksi. Yah, tapi karena menurut saya, saya harus mempunyai ilmu tambahan, jadinya saya beli :D
cerita dimulai dari perjalanannya Lia ke korea. Berhubung saya emang suka dengan korea, jadi yang ditulis oleh Lia, sangat tidak asing lagi, saya malahan merasa yang menjadi mbak Lia nya hehehe
cerita kedua, dari perjalanannya Fei ke cina. Kali ini, kota yang dikunjungi Fei sedikit asing bagi saya, jadinya ketika dibaca, saya banyak pengetahuan baru lagi tentang kota itu :D Pengalaman Fei ini, mengingatkan saya akan pengalaman saya ketika belajar bahasa mandarin ._. hehehe
cerita ketiga, menceritakan pengalaman penulis ke Jepang. Sungguh menyenangkan bisa mendapatkan beasiswa ^^
Secara keseluruhan, buku non-fiksinya sungguh menyenangkan ^^
Dulu, saya pernah membaca buku ini. Saat itu, setelah membacanya saya langsung menyukainya. Tetapi, sebelumnya saya tidak mengetahui tentang Penerbit Haru. Ketika saya mulai mengenal penerbit ini, saya terkejut saat mengetahui kalau buku ini adalah terbitan Penerbit Haru. Saya pun memutuskan untuk membaca ulang bukunya. Kemudian, saya mencoba untuk membuat resensi dari buku yang berjudul ‘(Not) Alone in Other Land’ ini. Tetapi, resensi itu tak kunjung selesai, hingga akhirnya terlupakan. Ketertarikan pada isi buku ini membuat saya akhirnya menyelesaikan resensi buku 'Not Alone in Other Land'.
5 bintang full untuk penulis-penulis buku ini :D Kak Lia, Kak Fei dan Kak Andry menurutku traveller sejati yang sekaligus penutur cerita yang bagus juga. Dari awal keberangkatan mereka ke negara tujuan mereka masing-masing sampai akhirnya mereka pulang kembali ke Indonesia, aku benar-benar seperti ikut traveling bareng mereka dan dari setiap halaman ke halaman aku jadi semakin dapat mengerti sifat dan sikap masing-masing dari setiap penduduk di Korea, Cina, dan Jepang dan tentunya sikap dan sifat ketiga penulis itu juga terlihat jelas di setiap cerita mereka. Pokoknya cerita ini Daebak ! ^^
Bukunya bagus :) Berkisah tentang perjalanan ketiga penulis di negara tempat mereka berkuliah masing-masing (Lia;Korea Selatan, Fei;China, Andri; Jepang) Ada rekomendasi web serta tempat untuk kuliah.. Ketiga penulis itu juga menceritakan kehidupan mereka disana serta kebiasaan hidup di negara masing-masing..
So, why 3 of 5 stars?
Karena saya masih belum bisa sepenuh hati membaca buku non-fiksi entah kenapa...
Overall, bukunya bagus, recommended banget buat kamu-kamu (baca: siapa aja)
Buku terbitan Haru yg pertama kali kubaca.Sebenarnya udah kubaca ulang/ re-read. Menceritakan 3 penulis Lia, Fei, dan Andry yang bersekolah bahasa di 3 negara mereka masing-masing. Yaitu, Korea, China, dan Jepang. Bagaimana untuk beradaptasi di negeri asing dan cara untuk mencari teman-teman yang juga berasal dari negara yang berbeda, semuanya telah mereka tuliskan dengan apik. Untuk review lengkapnya di blogku >>>> http://surgabukuku.blogspot.com/2014/...
You know what??? Novelnya recommended banget! beneran!!! Aiihhh X3 This is the first time i love nonfict. May be it's because the authors have a nice style to write cause we don't bored. Penulisan ceritanya juga daebak banget! Penulisnya seolah-olah beneran curhat kepada pembaca. Penulisnya menceritakan perjalanan dengan meluapkan apa yang benar2 ada di hati. Ya ampun... Lewat buku ini aku bisa belajar tanpa merasa bosan. Thanks to Eonni Lia, ko Fei dan ko Andry :D
Keren! Padahal sebelumnya aku ga suka Korea, malah jadi suka dan pengen kesana XD Biasanya juga aku ga mau peduli sama bahasa Korea atau sebangsanya, dan ketika membaca ini entah kenapa jadi tertarik belajar bahasa-bahasa tersebut. Udah gitu ada beberapa "pelajaran" yang bisa diambil. Jadi pengen ke Jepang, Korea, sama China! X)))
Tampilan buku ok bgt covernya lucu dan unik dengan kertas yg unik jg. Isinya bagus banyak memberikan pencerahn terutama dari sudut pandang kebudayaan, kebiasaan dll. Tp mikir2 lg kyaknya sayang bgt ya pergi ke 3 negara yg dicritain cuma utk kursus bahasa, ngliat biayanya yg slangit ??
Sudah lama sekali rasanya aku tidak membaca buku seperti ini. Pengalaman perjalanan baru, pengetahuan baru. Review lengkapnya bisa lihat di http://aizaturr.blogspot.co.id/2015/1...