Jump to ratings and reviews
Rate this book

Remember Dhaka

Rate this book
Di antara dunia baruku yang absurd, aku menemukanmu.

Di antara semerawutnya kota ini, kamu datang seperti peri.

Kurasa, kamu jadi alasan terbesarku bisa dan mau bertahan di sini.

Dhaka, tak pernah sekali pun terpikir olehku sebelumnya.

Bersama kamu, aku bisa menemukan diriku.

Karena kamu, kota ini jauh lebih hidup di mataku.

Jadi, tetaplah di sini.

Tetaplah indah seperti peri.

212 pages, Paperback

First published January 1, 2013

5 people are currently reading
69 people want to read

About the author

Dy Lunaly

15 books21 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (23%)
4 stars
13 (20%)
3 stars
28 (43%)
2 stars
7 (10%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
February 4, 2016
Waktu saya lihat ringkasan cerita novel ini di situs daring, mata saya langsung berubah menjadi hijau, sehijau lembaran dolar. I mean, Man, setting-nya di Dhaka dan pengalaman saya menonton The Amazing Race yang sudah mengunjungi Dhaka sebanyak dua kali, kota seribu rickshaw ini selalu menjadi "neraka" buat para racer . Suasananya yang kumuh, semrawut, lalu lintas yang berantakan merupakan tantangan sendiri buat mereka. Tapi, justru itulah yang membuat Dhaka begitu berkesan buat mereka. Di tengah kesusahan, mereka menemukan kehidupan masyarakat Dhaka yang penuh senyum dan rasa syukur.

Dhaka, barangkali bukan tujuan utama saya kalau saya melakukan perjalanan ke luar negeri. But, if I get a chance, I will be more than thrilled to experience the majesty of Dhaka .

Jadi, yah begitulah alasan kenapa saya beli novel ini. Lagi pula, jarang-jarang ada novel teenlit yang mengambil latar tempat di Dhaka.

Kover-nya, harus saya akui, harus saya beri empat jempol. Itu salah satu kover novel teenlit terbaik yang pernah saya lihat. Dua gajah kertas berwarna biru yang saling berhadapan (Kenapa gajah, ya, omong-omong? Setahu saya yang sotoy ini, Bangladesh enggak terkenal karena gajahnya. Sebagian besar penduduk Bangladesh beragama Islam, dan gajah enggak memegang peranan penting dalam ritual di sana) itu bagus banget. Dibingkai sama entahlah-apa-namanya-itu, benar-benar menarik perhatian. Saya suka banget sama kovernya. Soal blurb , sih, ya begitulah. Saya bukan tipe orang yang demen sama blurb semacam ini, sih, karena menurut saya, blurb semacam itu merusak esensi (halah!) dari sebuah blurb .

Jadi, novel ini menceritakan seorang remaja lelaki spoiled brat bernama Juna, anak orang kaya Alamsjah, yang kayaknya lebih beken daripada Donald Trump di dunia novel ini karena bisa menggoyang perekonomian Asia Tenggara. Karena nilai ujian akhirnya nyaris mepet enggak lulus, akhirnya "ditendang" jauh-jauh ke Dhaka buat belajar pengalaman hidup. Man , hukumannya dibuang ke luar negeri.

Papanya Juna, jadikan saya anak angkatmuuu!!!
begging

Nah, si Juna ini awalnya kesel banget karena disuruh hal-hal macam begitu. Apalagi, sebelumnya ia menganut paham hedonisme dan asal-hidup-gue-seneng-isme. Tapi, karena diancam kalau kartu kredit dan tabungannya dibekukan kalau dia enggak berangkat ke Dhaka, akhirnya si Juna ini akhirnya berangkat ke Dhaka. Begitu sampai di Dhaka, Juna mengalami banyak hal dan kenangan bersama para volunteer lainnya, seperti Emma, Patrick, Thomas, Daisy, Lee, dll, dan perlahan-lahan Juna merasakan ada perubahan dalam hidupnya.

Well , satu hal yang luar biasa mencolok dari novel ini adalah banyaknya kalimat berbahasa Inggris yang dicetak miring dan sukses membuat saya mengerang habis-habisan. Bukannya, saya enggak paham artinya apa, tapi kenapa harus menulis dengan bahasa Inggris kalau sudah ada bahasa Indonesia? Soalnya begini, saya punya prinsip, kalau bisa ditulis dengan bahasa Indonesia, kenapa harus ditulis dengan bahasa Inggris separo-separo begini? Kenapa enggak sekalian bahasa Inggris semuanya? Sudah ada trope yang namanya translation convention yang bilang kalau kita tak perlu menulis kalimat dalam bahasa asing karena sudah diterjemahkan ( Trope ini biasanya dipakai buat constructed language , tapi menurut saya, berlaku juga buat bahasa asing). Soalnya lucu aja, sih. Seperti yang saya temui pada halaman 22, si Arjuna menggunakan kata 'laman' dan 'surel' di halaman 39, tapi di halaman 23, si Arjuna menggunakan kata 'dormitori'. Kesannya, seperti salah-satu-artis-sinetron-kita-yang-gemar-mencampur-adukkan-bahasa sedang bernarasi di sini. Lagi pula, beberapa kalimat dalam bahasa Inggris, juga kurang benar tata bahasanya. Banyak banget kalimat bahasa Inggris-nya yang grammar -nya salah. Awalnya, saya pikir ini disengaja, tetapi ternyata lumayan banyak. Contohnya halaman 150:
Are you make coffee? Please make it two, I need a cup of coffee to make me still wake. Lots thing to do.
Dan halaman 45:
Anyway, I forget to introduction myself. My name Emma Frost. From Sweden. You can call me Emma and I am your advisor.
sigh

Saya akui, risetnya sudah bagus banget. Saya benar-benar menikmati bagian waktu Juna terlunta-lunta di Kalkuta. Detail-detail kotanya, seperti taksinya, suasana yang padat, dan semacamnya, mengingatkan saya waktu The Amazing Race (lagi! Hehehe) berkunjung ke Kalkuta dulu. Saya bisa merasakannya dengan membaca novel ini. Mungkin bagian blog yang menceritakan objek wisata di Kalkuta (Btw, saya lebih suka nyebutnya Kalkuta daripada Kolkata karena terdengar lebih indah di telinga) itu agak Wikipedia-ish buat saya. Akan sangat bagus kalau diceritain pengalaman Juna di sana, tapi jadinya ini malah jadi novel jalan-jalan ya :v. Meski demikian, saya masih penasaran kenapa pesawatnya harus turun di Kalkuta, sementara (seingat saya) Singapura dan Kuala Lumpur punya penerbangan langsung ke Dhaka. Mungkin buat menunjukkan kalau ada kereta dari Kalkuta ke Dhaka, ya, dan biar mendeskripsikan suasananya, yah. Tapi saya enggak masalah, sih, dan justru menambah ilmu baru buat saya. Saya baru tahu kalau ada kereta semacam itu.

Narasinya, well , oke, sih. Kebanyakan penulis cewek, agak susah kalau menggunakan PoV 1 cowok dan vice versa , tapi PoV Juna di sini lumayan cowok, sih. Sifat tengil dan manjanya cukup terasa. Si Juna baru kerasa "cewek"-nya ketika dia menulis blog-nya sementara narasi dalam cerita menurut saya sudah bagus.

Hum, satu hal yang membuat saya mengurangi banyak bintang buat novel ini ialah dialog-dialognya dan narasinya yang sangat preachy. I don't like being preached by a book. Sebenarnya amanatnya bagus. Bagus banget sebenarnya, soal menghargai hidup dan persahabatan dan hal-hal terpuji lainnya. Cukup unik buat novel teenlit sebenarnya, tapi it's too preachy for me . Saya ambil contoh halaman 97:
Tapi di sini lagi-lagi aku belajar. Belajar bahwa seluruh kehidupan adalah milik-Nya. Kerja keras yang kita hanyalah cara untuk mendapatkan kenyataan, tapi tanpa kehendak-Nya, mau kita jungkir balik seperti apa pun tidak ada gunanya.

Narasi yang menggurui dalam sebuah novel, bukan hal yang bagus, sebenarnya. Saya pernah membaca buku bagaimana menjadi penulis yang baik dan "menggurui pembaca" adalah hal yang sepatutnya dihindari dalam menulis novel. Kalau mau digurui, orang bisa mendengarkan ceramah di tempat ibadah masing-masing dan bukannya membaca novel.

Memang, sih, ada bagian yang berhasil membuat saya tersentuh waktu halaman 78-79 soal kehidupan sosial penduduk Dhaka. Mereka hidup serbakekurangan, tapi mereka bersyukur dan tetap tersenyum gembira. Dan, itu Bangladesh yang saya tahu dari The Amazing Race, majalah Intisari, cerita temennya temen saya, dan novel ini. Membuat saya menyadari bahwa betapa hidup saya sudah begitu beruntung.

Soal alur, yah, bisa dibilang kalau menurut piramidanya Freytag soal alur, nyaris datar. Nyaris seratus delapan puluh derajat. Kalaupun ada bukit yang menanjak, menanjaknya tak terlalu curam. Bagian Juna yang tak mau pergi ke Dhaka itu bisa termasuk konflik, dan juga bagian adaptasinya di Dhaka. Waktu ia bertengkar dengan Emma juga termasuk konflik. Masalahnya, klimaks dari novel ini belum berhasil saya temukan. Jadi, klimaksnya mana, nih? Mana, nih, turning point dari novel ini? Bagian akhirnya, sih, oke. Hanya saja, saya agak kurang cocok sama tulisan blog di akhir novel. Jadi, tahu-tahu Juna lulus dari Yale (Wow, Yale!), tahu-tahu Emma jadi penulis, semuanya terkesan serba-tahu-tahu dan simsalabim-jadi-apa-prok-prok-prok.

Karakterisasi Juna menurut saya sudah oke, dan cuma dia yang oke karena ia karakter paling menonjol. Tokoh lain justru karakternya tak terlalu menonjol.

Secara keseluruhan, novel ini unik. Sangat unik karena mengambil latar tempat di Dhaka. Jalan ceritanya juga berbeda dari kebanyakan novel teenlit lainnya. Yang bikin saya kurang menyukai novel ini ialah, bagian narasi dan dialognya yang terasa preachy , tapi buat orang yang suka dikhotbahi lewat novel, mungkin akan menikmati novel ini dan keindahan Dhaka yang tersembunyi di balik lembarnya.

Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
December 15, 2015
Dapat ini di bazaar waktu launching My Wedding Dress, dan mumpung ada penulisnya, sekalian minta tanda tangan. Tadinya ada tiga, buku ini, Mantan, dan NY Over Heels, tapi saya harus pilih salah satu dan ini hasilnya.

Saya suka buku ini. Idenya unik dan pemilihan tempatnya tidak pasaran. Mungkin memang ini yang jadi ciri khas Teh Dy, ditambah pesan moral yang dibalut quote. Format blog yang jadi pelengkap juga berhubungan erat dengan tone cerita. Kalau soal packaging sudah klop pokoknya.

Tentang kegiatan Juna di Dhaka, saya jadi ingat teman-teman yang bergabung di organisasi serupa (Hoy, AIESEC!). Benar banget kalau sekolah yang diajar itu minim di banyak hal, dan betul jika uang tidak menyelesaikan semua masalah. Pertengkaran Juna-Emma tentang memberi bantuan itu bagian favorit saya.

Kurangnya... kurang panjang! Karena keterbatasan syarat halaman juga sepertinya ya, sehingga tidak ada cukup ruang untuk mengembangkan karakter Juna secara perlahan, atau membentuk ikatan manis antara Juna dan Emma, atau penggambaran deskripsi tempat. Karena dibanding MWD, latar di sini masih belum bisa membawa saya merasakan ruwetnya Dhaka.

More tell than show, itu singkatnya.

Dan ya, penggunaan Bahasa Inggris. Amat disayangkan sebetulnya, padahal bisa pakai conlang, tapi entah bagaimana otak saya melihatnya betul meski penulisannya kurang. Seperti 'Is it sound great?' tapi saya otomatis membacanya 'Does it sound great?' (efek meriksa UAS anak-anak sepertinya, hehe)

Meski berbeda segmentasi, saya bisa merasakan perkembangan dari Remember Dhaka ini ke MWD yang meningkat. Apalagi soal deskripsi latarnya. Tetap saja, RD adalah sebuah novel yang pantas dikoleksi dan direkomendasikan terutama ke remaja.
Profile Image for Iklima Bhakti.
145 reviews13 followers
July 31, 2013
hei!! ini novel bagus!!! :D
the learning of life-nya ngena banget. kehidupan itu adalah sesuatu yang nyata dan perlu dicari maknanya agar menjadi manfaat bagi diri sendiri dan orang banyak :D
suka deh dengan karakter Ems alias Emma, dan Kak Agni yang mendorong Arjuna untuk berubah yang lebih baik.
dan yang bikin aku ketawa adalah, pemilihan nama dari sang karakter utama yakni 'Arjuna Indra'. hello?? kenapa harus kedua nama itu menjadi satu??
aku jadi teringat sosok di pulau komodo sana yang punya nama serupa tapi karena separuhnya adalah julukan, hahahhaha :D
astaga, aku ngomong apa? -///-
Profile Image for Risna Ristiana.
42 reviews5 followers
April 3, 2013
Salah satu hal yang menghambat seseorang untuk maju adalah karena tidak ingin meninggalkan comfort zone-nya. Menurut James Gwee, Comfort zone (zona nyaman) adalah rutinitas sehari-hari kita. Kenapa nyaman? karena kita terus melakukan hal yang sama setiap hari sehingga dengan mata terpejam pun, semua hal yang biasa kita lakukan akan selesai juga. Tetapi, bagaimana jika seseorang terpaksa harus meninggalkan zona nyamannya? Nah, tema itulah yang coba di angkat oleh Dy Lunaly dalam novelnya yang berjudul Remember Dhaka.

Meninggalkan zona nyaman memang tantangan yang sangat besar, tapi bukan berarti tak bisa dilakukan. Itulah yang sedang dialami oleh Arjuna Indra Alamsjah, seorang anak konglomerat yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Juna tidak pernah mengira bahwa dia harus keluar dari zona nyamannya, lalu mulai mencari tujuan dan makna hidup di tempat yang tak pernah terpikirkan olehnya.

Hal ini bermula ketika kakak satu-satunya, Dewi Agni Alamsjah, mengirim Juna menjadi sukarelawan bidang pendidikan di Dhaka, Bangladesh, selama satu bulan penuh. Juna tentu saja menolak, tetapi dengan ancaman bahwa ayahnya akan membekukan semua kartu kredit dan rekeningnya, mau tak mau ia harus melakukannya. Dengan berat hati juna harus meninggalkan semua kemewahan yang selama ini selalu ada untuknya.

Beberapa hari di Dhaka, Juna sudah nyaris menyerah menjalani kehidupan barunya itu. Wajar, karena ia yang terbiasa mendapatkan apa yang ia mau,tiba-tiba harus melakukan apa-apa sendirian, tentu saja juna belum siap untuk itu. Namun, ada beberapa hal yang membuatnya tetap bertahan, seperti dukungan teman-teman seperjuangan, dan kehadiran seorang peri berhati malaikat.

Novel ini sebagian besarnya menceritakan perjalanan Juna dalam menemukan jati dirinya, menemukan makna hidup dengan beranjak keluar dari zona nyamannya sendiri. Dimulai dari memutuskan berangkat ke Dhaka untuk mengikuti Volunteering Trip, menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya, mempertanyakan hal-hal yang tak pernah terpikirkan olehnya, membuka hati dan pikiran untuk membatu sesama, serta menetapkan mimpi untuk masa depannya. Di Dhaka, Juna tak hanya belajar mandiri, tetapi ia juga menemukan banyak hal; baik pelajaran hidup, persahabatan, dan cinta.

Pembaca diajak menyelusuri kisah ini melalui pemikiran dan tingkah laku Juna. Namun, perubahan drastis dari Karakter Juna yang lama menjadi Juna yang baru tampaknya kurang meninggalkan kesan kuat ke pembaca. Hal ini disebabkan karena Juna yang pada halaman awal digambarkan sebagai anak manja dan egois, yang tiba-tiba hidupnya harus berubah seratus delapan puluh derajat, ternyata tidak mengalami kesulitan berarti dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya di Dhaka. Ini aneh. Saya sebagai pembaca tentu saja mengharapkan bahwa disini Juna mengalami konflik batin yang sangat hebat, mungkin sampai ke tahap homesick, sehingga ceritanya akan menjadi lebih berkesan.

Alur yang cepat dan tidak membosankan membuat pembaca terus membalik setiap helai cerita Juna ini. Sejak awal, cerita dibangun dengan kuat, sehingga membuat pembaca penasaran bagaimana akhir kisah Juna. Namun, seperti yang saya sebutkan diatas, tidak adanya konflik internal dan eksternal yang menjadi turning point kehidupan Juna, membuat pembaca, khususnya saya, berpikir apakah memang semudah itu keluar dari zona nyaman kemudian beradaptasi secepat kilat, apalagi untuk seorang bernama Juna. Tidak hanya itu, penggambaran pekerjaan Juna sebagai sukarelawan kurang dieksplor oleh Dy. Sangat disayangkan, karena sejak awal pembaca sudah mendapat foretell bahwa Juna akan menjadi sukarelawan, namun ternyata hanya sedikit sekali porsinya sampai akhir cerita.

Cara penuturan cerita yang apik, layout yang mendukung, dan minimnya typo membuat novel ini menarik untuk dibaca. Penggambaran yang cukup menarik tentang kota Dhaka yang semrawut dengan ciri khas dan kebiasaan masyarakat setempat, makanan dan minuman khas Dhaka, tempat-tempat yang layak di kunjungi, adanya sedikit pemakaian bahasa Bangla, tentu saja menjadi nilai plus untuk Dy. Tidak hanya itu, adanya potongan-potongan blog Juna di akhir setiap bab yang membantu pembaca menyelami pemikiran Juna juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Akan tetapi, ada dua kekurangan terbesar yang menjadi nilai minus dalam novel Remember Dhaka ini. Yang pertama adalah penggunaan code mixing dalam kalimat yang cukup mengganggu. Mungkin Dy ingin menampilkan kesan keren, tapi menurut saya, hal ini malah merusak kaidah bahasa kita. Nah, membaca bab awal novel ini, saya khususnya, berpendapat seperti ini “gue udah kayak Cinta Laura nih bacanya”. Saran saya, selagi kosakata seperti volunteer, party, badge, summer break, dll masih bisa dibahasaindonesiakan, tidak ada salahnyanya kan menggunakannya. Daripada memaksa memasukkan ke kalimat yang malah membuat pembaca eneg, apalagi porsinya yang teramat banyak, hampir disetiap kalimat, malah membuat pembaca bosan.

Kekurangan terbesar yang kedua adalah penggunaan bahasa Inggris dalam hampir setiap percakapan yang porsinya cukup banyak. Ini tentu saja menyulitkan pembaca yang kemampuan bahasa asingnya tidak seberapa. Buat saya yang lulusan sastra inggris, hal ini tentu saja bukan masalah (ups,maaf). Akan tetapi yang saya sayangkan adalah English grammar-nya yang terlalu berantakan, sama sekali kacau. (saya bahkan hampir menangis melihat bahasa inggrisnya). pada bab-bab awal, saya masih menganggap kesalahan itu hanyalah typo, tapi semakin kebelakang semakin banyak kesalahan grammar yang terlihat. Kesalahan kecil, tapi banyak, dan tidak mungkin saya jabarkan semuanya disini. Mungkin, jika nanti novel ini cetak ulang, mungkin Dy bisa mencoba memperbaiki kesalahan-kesalahan kecil itu.

Disamping kesalahan-kesalan tersebut,novel ini ternyata banyak menyisipkan pesan moral yang membuat Juna, bahkan pembaca, turut merenungkannya. Salah satunya seperti yang dikatakan Juna dalam blognya setahun setelah dia kembali dari Dhaka;
"Kita nggak akan pernah tahu kemana hidup akan membawa kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berjalan mengikuti jalan-jalan kecil yang ditunjukkan oleh semesta dengan sekuat tenaga dan sebaik-baiknya. Biarkan akhir perjalanan ini mengejutkanmu. Masa depanmu." (hal.196)

Zona nyaman yang selama ini kita tinggali mungkin saja hasil dari apa yang ada pada kita sejak lahir. Seperti Juna, yang terbiasa hidup dengan kemewahan, sehingga dia seolah-olah tidak memiliki mimpi dan tujuan hidup. Kenapa? Karena semua yang dia inginkan bisa dia dapatkan dengan mudah. Disitulah peran orang lain, dalam kasus Juna, tentu saja kakaknya yang berjasa membuatnya keluar dari zona nyaman dan sehingga dia berhasil menemukan siapa dia sebenarnya dan apa tujuan hidupnya kedepan.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan di atas, novel Remember Dhaka ini cukup layak mendapatkan tempat di rak buku Anda. Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk anda yang ingin menikmati novel travelling dengan banyak pesan moral.
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
September 23, 2018
Buku lama ini saya peroleh dari zona kalapnya IIBF seminggu yang lalu, di antara tumpukan buku yang menggunung.Dan saya pilih karena saya suka tulisan Dy Lunaly.

Ternyata ini novel yang menarik, dengan tema yang juga menarik.Sayangnya karena keterbatasan halaman, karakter karakter tokoh tokohnya, juga konfliknya nggak bisa diulik maksimal.Hal positifnya, banyak pesan pesan baik yang dibagikan.Keren.
Profile Image for Titi.
37 reviews4 followers
April 18, 2020
'ada yang lebih penting daripada menemukan mimpimu, menjalani hidupmu sebaik mungkin'

Tentang Arjuna sang anak konglomerat dengan segala previlagenya dijebak sang kakak buat jadi volunteer di Dhaka, Bangladesh.

Bacaan ringan, sarat momen bijak untuk pencari jati diri. Kenapa bintang 3 karena penggambaran Dhakanya masih 'kurang' menurutku, sebagai pembaca saya gak bisa berhayal seperti apa Dhaka dari deskripsi di buku ini.
Profile Image for Muhammad Ridwan.
193 reviews25 followers
November 24, 2013
Juna adalah seorang cowok yang berasal dari keluarga terkaya di Indonesia, bahkan kekayaannya saja bisa membuat perekonomian di Asia Tenggara bergoyang duyu. Karena kondisi hidupnya yang sangat berlebih, Juna menjadi anak yang boros, semaunya, dan money oriented.

Juna berhasil lulus dari SMA-nya, dengan nilai yang sangat ngepres dengan ambang batas kelulusan. Baginya, belajar adalah sesuatu yang tidak perlu. Karena yang lebih penting adalah bersenang-senang dengan berpesta setiap malam.

Karena nilainya yang bisa dibilang buruk itulah, kakak Juna, Kak Agni, menasehatinya. Lebih tepatnya, memarahi. Seperti halnya cowok yang lain, Juna masa bodoh dan tetap mementingkan ego atas pendiriannya. Baginya, money can buy anything. Termasuk membeli kursi universitas agar dia bisa melanjutkan sekolah di sana.

Tapi, Kak Agni telah membicarakan perihal nilai yang gak bisa dibanggakan milik Juna pada Papa. Yang akhirnya Papa mengambil keputusan untuk membekukan kartu kredit dan debit yang dipegang Juna jika ia tidak mau menuruti perintah papanya yang ingin Juna belajar kehidupan.

Apakah Juna tetap ngeyel? Oh, ya jelas. Dia pun kabur dari rumah. Namun akhirnya kembali lagi karena sudah kehabisan uang sekaligus teman. Akhirnya Juna membuat perjanjian dengan papanya. Juna mau dikirim sebagai volunteer selama sebulan di Dhaka, Bangladesh, asal papanya mau menuruti apapun keinginan Juna jika dia berhasil melaluinya.

Juna pun untuk pertama kalinya seumur hidup harus menaiki pesawat yang budget airlines (kaya Lion Air lah, sering delay). Malamnya, dia tiba di Kolkata, India. Perjalannya belum selesai, karena Juna harus menaiki kereta ekonomi tak ber-AC menuju Dhaka yang butuh waktu minimal 7 jam perjalanan.

Sesampainya di Dhaka, Juna dijemput oleh relawan lainnya. Namanya Emma, yang bagi Juna dia seperti seorang peri. Emma inilah yang akan menjadi fokus hubungan cerita dengan Juna dalam novel ini.

Awal-awal di Dhaka, Juna mengeluhkan berbagai hal yang tidak ia dapatkan di rumahnya yang mewah. Termasuk juga kebiasaan bangun siangnya yang harus berubah di asrama volunteer. Selama menjadi relawan pengajar di Dhaka, Juna bersahabat dengan lima orang. Ditambah Emma, yang lebih dari sahabat tanpa status.

Selama di Dhaka pula, Juna yang money oriented berubah. Dengan melihat kondisi sosial yang ada di sana, ia seperti mendapat hidayah. Ia jadi menghargai usaha/kerja, dan juga uang. Selama di sana pula, ia melihat keindahan-keindahan kota dan kepolosan murid-muridnya yang membuatnya belajar arti Ikhlas, Peduli, dan Mimpi.

***

Sebenarnya saya sudah lama mengincar novel ini karena latar tempatnya yang jarang atau bahkan belum pernah dipakai di dalam novel Indonesia, terlebih lagi teenlit. Akhirnya keinginan saya terkabul saat Jogja Book Fair. Mumpung ada diskon :D .

Novel ini merupakan novel karya Dy Lunaly kedua yang saya baca. Dan saya sudah berhasil dapat ciri khas dari novel-novelnya. Kalau ada uang berlebih, pasti saya akan membeli novel Dy yang lainnya.

Nah, komentar saya sepertinya hampir sama dengan komentar pembaca lainnya.

1. Penulis terlalu seenaknya mencampuradukkan bahasa Inggris dengan Indonesia. Gak masalah sebenarnya kalau saja grammar-nya benar. Bukannya saya ahli bahasa Inggris, tapi orang yang pasif inggris seperti saya pun bisa tahu kalau kalimat-kalimatnya banyak yang salah. Terlebih penulis "to" yang seharusnya diikuti verb one, malah di novel ini banyak yang verb ing.
Contoh: to writing. Seharusnya to write. Dsb.
Tapi saya salut sama Dy karena tetap bisa membuat saya nyaman membaca walau banyak typo grammar :D .

2. Setting Kota Dhaka benar-benar kuat. Bukan hanya tempelan. Melainkan inti dari cerita itu sendiri. Sayangnya, deskripsinya agak kurang nyambung dengan cerita. Maksudnya, cerita sedang menjelaskan Juna yang gak pingin ke Dhaka dan belum searching info tempat wisata, tapi dia sudah tahu kalau objek yang dileatinya itu Victorian Memorial Hall, Maidan, dsb, tanpa mencari tahu atau melihat papan nama sebelumnya! Padahal, objek tersebut kurang terkenal kan di Indonesia? Bahkan Juna sendiri gak tahu ada kota yang namanya Kolkata dan Dhaka.

3. Kak Agni tidak diceritakan kalau dia pernah ke Dhaka sebelumnya, tapi, tiba-tiba saja dia ngirim e-mail titip salam buat teman volunteer-nya dulu.

4. Karakterisasi Juna dan Emma udah dapet. Cuma untuk yang lain agak kurang digali. Terutama hubungan Juna dengan keluarganya. Terlalu kabur.

5. Heran deh sama sampulnya yang bergambar gajah tapi gak ada satupun kata gajah disebut di dalam novel ini. Tapi sampulnya emang bagus sih.

6. Oh ya, Dy kurang teliti nih sama POV 1 yang dipakainya. Pas Juna bercerita, dia memakai kata sebut "aku" dan saat nge-blog, dia pakai gue. Masalah terjadi saat tulisan blog-nya itu beberapa tempat bercampur dengan sebutan "ku".

7. Saya sama sekali gak mendapatkan deskripsi fisik dari para tokoh yang ada di dalam novel ini.

Overall, saya agak suka dengan novel ini. Tapi memang masih banyak kekurangan yang semoga tidak berulang di novel-novel Dy berikutnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ardelia Karisa.
Author 6 books21 followers
November 19, 2013
Sebelumnya, introducing myself dulu lah, biar kenal.
Hai, saya Lia yang nulis buku One Meaning Thousand Ways, salah satu first reader di Bentang yang pernah baca mentahan My Daddy ODHA dan terkesan karena ide yang not really out of the box but outstanding dibanding dengan naskah lainnya, lalu nama kita juga bersanding di novelet Move On besok dan yang jelas, saya baca ini karena ingin belajar nulis tentang setting yang matang. Dan rekomendasi Mbak Septi adalah novel dari Dy.

Dan saya tahu kenapa Mbak Septi merokemendasikan novel Remember Dhaka ini ke saya.

Sebagai penulis kroco saya minta maaf karena berani komentar tentang novel ini, ya.

(+)Settingnya mantap sekali. Intinya, Dhaka bukan semacam tempelan di novel ini dan saya benar-benar perlu belajar bagaimana bisa membuat setting sekuat ini. Walaupun tetap, saya nggak tertarik ke Dhaka kalau ngga karena punya tugas jadi volunteer gitu, misalnya.

(+)Sepanjang hidup saya, saya belum pernah baca novel tentang orang yang ikut volunteer gini. Sebelumnya saya tahu kalau ada organisasi non-profit yang ngadain kayak gini tapi pengetahuan saya tentang aktivitas mereka nol besar. Jadi, novel ini berhasil membuat saya yakin suatu hari nanti saya pengen jadi volunteer.

(+)Walaupun ide anak tajir songong jadi insyaf itu biasa, tapi aku suka bagian Ems marah-marah karena si Juna pengen bantu dengan uang. Karena honestly, sebelum ada penjelasan dari Thomas, saya juga ngga ngerti kenapa bule mungil itu marah-marah, padahal kalau saya jadi Juna, saya juga berpikiran demikian.

(-)Saya juga suka pake Bahasa Inggris di novel dan kadang memang masih menemukan grammar error sih, tapi sorry to say, Bahasa Inggris disini lumayan kacau. Kalau kalimat walaupun sebenarnya mengganggu juga tapi oke lah. Tapi di novel ini ada istilah Bahasa Inggris yang salah. Misalnya 'walking closet' waktu baca saya yang suka komen-komen langsung nyeletuk "lemari berjalan?" karena yang benar walk-in-closet. Terus lagi, ada National Geography, tapi kalau ini mungkin memang diplesetkan dari National Geographic atau gmn, saya ga tau. Kalau istilah-istilah kayak gini saya kira harusnya riset dulu atau apa gitu, soalnya bisa menyesatkan pembaca juga.

(-)Kurang tebel ini novelnya. Harusnya ada perbandingan antara Juna dulu dan sekarang. Saya jadi bingung waktu Ems intinya bilang dia masih Juna yang dulu padahal nggak ada penjelasan Juna dulu itu kayak apa. Di awal emang kita udah disuguhin kesongongannya tapi pembaca nggak cukup untuk bisa menyimpulkan sendiri bahwa 'oh, ternyata Juna jadi kayak gini sekarang'. Kesannya tiba-tiba.

(-)Awaaaaal banget saya baca, karena ngga tahu si tokoh utama cowok, saya kira ini cewek. Karena feminin banget narasinya dan sampai belakang Juna lebih cocok jadi cewek bukan cowok, hehe. Btw, komen ini saya ga bisa kasih solusi sih, karena saya pernah nulis dari sudut pandang laki-laki dan jatuhnya juga feminin -_-

Udah cukup itu aja.
Maaf ya udah sok komentar-komentar. Tapi semoga bermanfaat.

Oya, overall, saya suka. Remember Dhaka teenlit inspiratif yang ngga cuma ngomong tentang cinta.
Profile Image for Rany Dwi.
43 reviews2 followers
January 19, 2015
“Kita akan pergi, bisa pergi ke mana saja dan sejauh apa pun yang kita inginkan. Tapi, kenangan, kenangan dari setiap perjalanan, tempat, kejadian dan orang yang kita temui selama perjalanan itu akan tertinggal dan terbawa bersama kita selamanya, kenangan.” (hlm. 189)

Pertama baca judulnya ‘Remember Dhaka’ kukira Dhaka itu nama orang. Eh, ternyata itu salah satu nama kota yang ada di Bangladesh. Yahh…salah fokus ternyata. Dimaklumi aja ya.

Nggak selamanya baca novel romance itu ngebosesin. Trust me! No. Setiap novel romance itu punya ciri khas sendiri. Punya keunikan tersendiri, yang bakalan buat kamu takjub dan nggak henti-hentinya berdecak kagum. Buktinya? Remember Dhaka ini misalnya. Kalian bakal menemukan hal yang sama sekali tak terduga dalam novel ini.

Jika murid high school kebanyakan rajin, patuh sama peraturan sekolah, nggak bandel karena takut di hukum guru, menjadi anak yang terlihat baik di depan guru agar nilainya nggak C, tapi tidak untuk Juna. Arjuna Indra Alamsjah. Yang sangat benci sekolah. Kalaupun ada, yang ia rindukan hanyalah bagian berbuat kekacauan dan mengisengi siswa lainnya. Dan nggak ada yang berani melawannya.

Juna, digambarkan dengan karakter yang kacau, naughty, sombong dan membanggakan nama keluarganya. The Alamsjah. Yang memiliki power dalam bidang bisnis yang menggurita dan selalu masuk dalam daftar lima keluarga terkaya di Indonesia.

Puncak konflik-nya menurut saya saat Juna lulus dari high school. Dan membanggakan bahwa dirinya tidak harus bangun pagi-pagi lagi.

Continue Reading => http://mizukeume.blogspot.com/2015/01...
Profile Image for Ardi Rz.
48 reviews
June 27, 2014
Judul :Remember Dhaka
No. ISBN :9786029397642
Penulis :Dy Lunaly
Penerbit :Bentang Belia
Tanggal terbit :Januari - 2013
Jumlah Halaman :212

synopsis
Gue benar-benar terdampar di kota ini. Dhaka! Kebayang nggak sih lo, tempat apakah yang gue kunjungin sekarang? Mungkin lo semua kurang mengenal kota yang satu ini, salah satu kota di Bangladesh! Heran kan cowok kayak gue bisa nyasar demi misi kemanusiaan ke tempat ini?

Benar-benar mimpi buruk, sebelum gue bertemu dengan Emma, gadis Swedia yang saking cantiknya hampir mirip peri. Semua langsung berubah saat gue mengenalnya. Oke, gue lebay. Nggak cuma dia yang bikin gue "bangun" dari mimpi gue. Ada banyak kejadian ajaib yang membuka mata gue tentang dunia ini.

Gue Arjuna Indra Alamsjah, baru benar-benar mengenal cinta justru di sebuah kota yang bagi gue antah berantah. Tuhan memang Maha Mengejutkan!

ada yang lain dari buku ini yah buku ini menceritakan kehidupan arjuna yang bergelimpangan dengan harta yang akan dikirim ke dhaka dan selalu bersungut-sungut yah.. namanya juga orang kayaa..
buku ini lebih pekat ke arah pesan moral daripada romansa.. terlalu banyak hal yang dapat kita petik dari buku ini yah.. aku suka deh buku ini..
Profile Image for Yessyka Widy.
221 reviews19 followers
September 25, 2013
Awal aku membaca novel ini, beberapa halaman membuatku merasa "Ah, aku mulai bosan."
Tapi semakin masuk ke ceritanya, aku merasa "Oh Tuhan! Aku sangat SALAH! novel ini sangat bagus!"
Dari novel ini aku merasa dapat membayangkan apa yang ingin aku lakukan selama ini. Aku dan tokoh novel ini memiliki keinginan yang sama. Berbagi dengan anak-anak yang membutuhkan bantuan. AKu sangat ingin mengajar di daerah terpencil yang tak mudah semua orang ingin belajar. AKu ingin menjadi orang yang berguna dan membahagaikan mereka. Dengan membaca novel ini keinginanku akan hal itu semakin memuncak! Semoga aku dapat melakukan hal yang sama kelak.
Terima kasih untuk penulis, telah membuat novel yang sangat menginspirasi dan memotivasi.. :)
Profile Image for Alifiana Nufi.
Author 5 books16 followers
November 19, 2014
done! saya suka :) tp emang Arjuna berubahnya terlalu drastis sih..tp mungkin itu efek dr kegiatan volunteer dia kali ya..trs bahasa inggrisnya itu loh bertebaran dimana-mana..ok, kl sesama tmn juna di dhaka mungkin msk akal ya..tp ini Agni sm Juna keseringan pk bhs inggris deh..jd inget my daddy odha, tasia apa tasya gitu lupa suka bgt ngomong pk bjs inggris..tp saya suka sm ceritanya ♥♥♥
Profile Image for Putri Mei.
37 reviews5 followers
November 5, 2014
Nice novel. Walaupun ceritanya klise.. Tentang anak kaya yg disadarkan soal kehidupan melalui kegiatan volunteer. Aku malah penasaran cerita kehidupan masing2 tokoh di novel ini setelah selesei jd volunteer.
Profile Image for Asdani.
21 reviews
April 27, 2017
It is about money

Uang bukan segalanya. Dibanding dengan uang ada hal lain yang jauh lebih berarti dalam hidup ini, caring and ripples. Cara terbaik untuk menolong orang lain adalah kepedulian dan kebaikan. :)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.