Kami hidup di dunia yang tak sempurna. Saat pagi memaksa kami pergi sekolah untuk bekerja keras demi masa depan yang tak jelas. Guru-guru bagai diktator yang meneror kami agar menanam pohon masa depan yang seragam—disiram hapalan dan dipupuki serangkaian ujian yang membuat kami ketakutan.
Kamilah anak-anak sampah, seperti kata Tuan dan Puan pemerhati pendidikan, tak punya masa depan! Maka kami ledakkan amarah dan kesedihan kami di jalanan, jadi tawuran atau perkelahian. Kami pecahkan jerawat batu pubertas kami dengan adegan-adegan telanjang di depan kamera atau di tempat-tempat gelap yang rahasia. Kami rayakan kesedihan kami dengan narkoba.
Tapi di mana para orangtua saat kami rindu kasih sayang mereka? Kenapa mereka selalu sibuk? Di mana pemerintah, penegak hukum dan pemuka agama? Kenapa pelajaran moral tak pernah sungguh-sungguh kami dapatkan dari lingkungan kami yang nyata? Di bahu siapa kami bisa menangis? Di dada siapa kami bisa menemukan rasa bangga dan rasa percaya?
Demi kebahagiaan dan waktu bermain kami yang direnggut, direbut, diringkas dan diringkus, kami menyatakan perang pada segala bentuk perampokan dan pengkhianatan terhadap hak-hak kami—baik sebagai anak-anak maupun sebagai manusia.
SOS. Save Our Soul!
==========================
Sejak pertengahan 2012, saya dan Bondan Prakoso & Fade2Black (Bondan, Tito, Eza, dan Arie) berencana membuka awal tahun 2013 dengan karya baru: Sebuah novel kolaborasi fiksi-musikal berjudul Tak Sempurna. Kenyataannya, mengerjakan karya ini tak semudah yang dibayangkan. Kami gagal menyajikannya tepat di awal tahun. Sebab ternyata kami memerlukan waktu lebih untuk sejumlah riset, diskusi panjang, dan persiapan-persiapan penting lainnya. Di tengah kesibukan masing-masing, kami terus berkonsentrasi pada karya ini, kami ingin karya ini “maksimal”, meski kami juga tahu sulit menjadikannya “sempurna”. Syukurlah kini semuanya sudah selesai; Tinggal selangkah lagi, novel itu akan segera rilis pada Februari 2013.
Ada yang istimewa dalam perjalanan kami mengerjakan karya ini. Kami mengerjakannya dengan spirit yang lebih kuat, juga dengan visi yang lebih sejalan. Mungkin karena hubungan kami sudah menjadi lebih matang lagi, bukan sekadar saling kenal. Kami berjalan beriringan sebagai teman, atau sahabat, dalam pengertian yang sesungguhnya. Kami tidak hanya berhubungan dalam hal kreativitas, tapi hingga hal-hal lain yang lebih personal. Misalnya, di sela-sela diskusi, kami bisa bercerita tentang keluarga, anak-anak, repotnya mengurus rumah, atau curhat soal persoalan masing-masing. Yang lebih istimewa, kedekatan itu merambat ke aspek yang lebih kompleks dalam kehidupan masing-masing kami: Menyenangkan mengetahui bahwa istri kami juga jadi saling kenal, anak-anak kami bertemu dan bermain, dan lebih banyak lagi. Jangan tanya soal Eza, dia memang belum menikah, tapi tentu jadi Om paling keren bagi anak-anak kami.
Dua setengah tahun lalu ketika mulai mengerjakan Hidup Berawal Dari Mimpi (HBDM), kami baru saling mengenal. Sejujurnya, proses kreatif dilakukan dengan nuansa yang agak rikuh. Sebagai seniman yang berkarya di dua wilayah yang berbeda, kami masih saling membaca satu sama lain, scanning. Tapi syukurlah ternyata HBDM menjadi pembuka yang manis untuk proyek-proyek kreativitas kami berikutnya. Dengan berbagai kekurangannya, buku itu diterima dengan baik di tengah-tengah masyarakat, menjadi best-seller di toko-toko buku besar, membuat kami bangga dan tersenyum lebar. Ini rahasia: HBDM sebenarnya belum menggambarkan gagasan dan perasaan kami seutuhnya—ia hanya kepingan-kepingan cermin yang merefleksikan hal-hal yang berserakan di otak dan hati kami.
Tak Sempurna lebih mewakili kami sebagai individu. Ia memuat gagasan dan perasaan kami yang lebih utuh dan jujur tentang banyak hal. Juga harapan dan kegelisahan-kegelisahan. Untuk mengungkapkan semua itu, kami memilih dunia sekolah sebagai “medan bercerita”. Ya, boleh jadi kami meminjam sekolah sebagai sudut pandang untuk melihat dunia yang lebih luas. Bagi kami, sekolah adalah dunia yang sangat kompleks—miniatur kehidupan manusia. Kita bisa melihat banyak aspek penting kehidupan dari sana: Hubungan antar-manusia, anak-anak, keluarga, orangtua, birokrasi, politik, agama, masyarakat, harapan, kekecewaan, masa lalu, masa kini, masa depan, semuanya. Jadi, meskipun kami bercerita tentang “sekolah” atau “anak sekolah”, sesungguhnya kami sedang menceritakan sesuatu yang lebih luas lagi.
Novel kami bercerita tentang dunia pendidikan di suatu kota-yang-tak-disebutkan-namanya di Indonesia. Kami lebih senang menyebutnya Gotham-nya Indonesia. Suatu kota di mana anak-anak dibesarkan di tengah keluarga yang tak memberikan kasih sayang, kehidupan bermasyarakat yang tak memberi harapan, dan kehidupan bernegara yang tak menjanjikan apa-apa kecuali perang-perang politik kepentingan memuakkan. Di kota semacam itu, sulit sekali menemukan contoh dan teladan yang baik, sek...
FAHD PAHDEPIE, suami juga ayah penuh-waktu untuk Rizqa Abidin serta dua putra mereka Falsafa Kalky Pahdepie dan Alkemia Malaky Pahdepie. Menulis, bekerja, dan berkreativitas dirayakannya di waktu senggang. Orang rumahan yang menulis untuk diceritakan pada istri dan anak-anaknya.
Selain menulis, Fahd juga merupakan pembicara publik, penulis skenario dan sutradara film maupun teater. Saat ini menjadi co-founder dan CEO inspirasi.co. Ia bisa ditemui di www.fahdpahdepie.com atau facebook.com/fahdpahdepie atau twitter @fahdisme.
Minggu pagi , pukul 8 lebih 30 menit buku ini mendarat dengan selamat. "Tak Sempurna" - Kolaborasi Fahd Djibran bareng Bondan Prakoso & Fade2Black.
Buku ini kerenn! Kalimat kalimat dalam buku ini sangat sederhana : mudah dipahami , dan menarik. Dengan cover yang bloody juga isi yang super hebat dan mengguncang pikiran juga pemahaman.
Buku yang mengisahkan tentang seorang pelajar bernama Rama Aditya Putra bersekolah di SMA Lazuardi , yang menceritakan segala yang ada disekolah - sisi baik , juga (mungkin) segala sisi jahat yang ada disekolah.
Rama ingin kita semua mengetahui segala yang ada disekolahnya. Jika kita tak ingin mengetahui lebih dalam mengenai sekolah , lebih baik urunkan untuk membeli buku ini. Tetapi , jika (paling tidak) ingin mengetahui segala bentuk realita disekolah silahkan membeli.
Buku ini saangat menarik !
dimulai dari cerita Rama 2 tahun lalu , ketika pertama kali masuk di SMA. Kita semua - pembaca diajak untuk mengartikan sebuah tempat yang pernah kita singgah i , yang bernama Sekolah. Mungkin ada yang salah dari sebuah Sekolah - mungkin dari sistem pendidikannya ? Ya , ada yang salah dengan sekolah kita semua , tidak hanya sekolah Rama. Mungkin aku juga merasakan hal yang sama dengan sekolahku dulu. Dan mungkin ada sebagian kalian juga merasakan hal yang sama : seperti Rama.
Salah satu yang sangat melekat dalam dunia sekolah adalah Tawuran. Ia menjadi potret buram dunia pendidikan di indonesia. Salah satu teman Rama , meninggal karena Tawuran. Rama dan teman temannya tidak hanya melihat kesedihan yang dalam tentang ditinggalkan seseorang yang dikasihi , mereka melihat cinta dan kebahagiaan mereka direbut , direnggut , diringkas dan diringkus !
Banyak kisah didalamnya yang dikemas apik didalam buku ini.
Seorang guru agama yang sinis dan (agak) sadis ditinggal keluar oleh semua muridnya : rama dan teman temannya. kenapa ? Silahkan baca bukunya :)
Bagi Rama , sekolah mungkin hanya semacam penjara kebebasan yang punya jam istirahat dan waktu liburan. Baginya , itu mungkin sangat menyebalkan. Kenapa ? Silahkan baca bukunya :)
Dibalik sekolah , pasti menyimpan kisah asmara. Perempuan cerdas dan pendiam yang tokoh utama kagumi bernama Bunga. Rama menyukai semua hal tentang bunga : ikat rambutnya , senyumnya , rambut halus yang tak beraturan , dan semua tentangnya. Siapa bunga , dan seperti apa dia ? Silahkan baca bukunya :)
Ironis , pelajar yang semestinya santun dan ramah sebagai output pendidikan sekolah , justru berubah beringas menjadi berandal berandal jalan. angka peristiwa kematianpun melonjak tajam dari tahun ke tahun. menyebabkan puluhan korban jiwa melayang sia sia di jalanan.
Dalam sebuah tawuran , seperti apapun harus siap dengan konsekwensinya. Termasuk Rama : "Kehilangan satu kaki adalah kemalangan yang menimpaku dengan cara yang kejam." begitu ia utaraka. Disisi lain , ia menangisi ketololannya : Sebuah keputusan yang berakhir dengan keputusasaan.
RUMAH SAKIT. Kenapa harus disebut rumah sakit ? Bagi Rama itu hanya menunjukkan sebuah benda mati dengan fungsinya yang tak menghidupkan. Rama tak setuju dengan penyebutan tempat itu sebagai rumah sakit. Kita akan mengenal beberapa makna rumah sakit itu sesungguhnya seperti apa dalam buku ini tuliskan.
"Something has gone very wrong eith our school!" - Hiroshi Yoshimoto. Barangkali itu kata kunci dari buku ini.
Ada 9 Kebohongan yang dikatakan duru di sekolah dan kenyataannya.
1. Kami disini untuk memahami pelajaran. Kenyataannya : kami disini untuk memaksamu menghafal pelajaran. Jika kamu tidak bisa , kami akan menghukummu atau tidak meluluskanmu dalam ujian.
...
5. Merokok tidak baik untuk kesehatan dan tidak diperbolehkan disekolah. Kenyataannya : Guru olahraga merokok dikantin dan memesan kopi hitam pada penjaganya. Kepala sekolah merokok diruangannya sendiri. Kami merokok sembunyi sembunyi , termasuk ditoilet sekolah
...
8. Guru BK selalu ada untuk mendengarkan. Kenyataannya : mereka ingin didengarkan. Jika dipanggil keruangannya mereka akan memarahi kita dan berteriak. "Dengarkan saya!"
...
..dan masih banyak lagi yang lain selain dari kesembilan itu.
Hampir disetiap sekolah , pasti ada guru yang kita benci dan ada juga guru yang paling kita sukai. Bu Hilda. Salah satu guru terbaik dan terfavorit di sekolah Rama. Guru yang mereka cintai - diantara terlalu banyak yang mereka benci.
Bunga , dialah seorang perempuan yang memmbuat Rama menemukan kebahagiaan disekolah. yang selalu membuat dag-dig-dug melulu. Seorang perempuan yang istimewa bagi Rama. Kisah mereka begitu sederhana dan enak untuk dibaca. Seperti apa kisah mereka ? Silahkan baca bukunya :)
Akhir tahun 2012 adalah hari yang dinanti. 20 Desember 2012 , merupakan hari dimana akan menjadi hari bersejarah bagi SMA Lazuardi (SMA Rama juga teman temannya) dan SMK Citra Bangsa. Kedua sekolah akan mengadakan deklarasi perdamaian. Seperti apa kejadian didalamnya , silahkan baca bukunya :)
Dan , diakhir buku ini , seorang Rama membuka semuanya , tentang segala sesuatu mengenai sekolah. Rama hanya ingin mendefinisikan ulang makna paling dalam dari pendidikan dan mempersoalkan berbagai masalah yang membuat sekolah menjadi dipenuhi kebusukan - sampah sampah nyata , sampah sampah pikiran dan sampah sampah perasaan.
Demikianlah , Rama hanya ingin berbagi cerita dan membuka realitas apa adanya tentang sekolah. Semoga lebih banyak yang membaca dan kemudian kita akan menyelamatkan jiwa jiwa adik adik kita. Sebelum semuanya terlambat.
Selamat membaca buku ini. Semoga karya Fahd Djibran dan Bondan Prakoso & Fade2Black ini bisa menyelamatkan jiwa jiwa pelajar yang (mungkin) membutuhkan pertolongan :)
Novel Tak Sempurna karya Fahd Djibran ini menceritakan seorang anak laki-laki yang benci akan sekolah yang bobrok dan penuh kemunafikan. hmmm.... Awal saya membaca novel ini saja saya sudah bosan, tetapi setelah membaca hingga pertengahan, kebosanan saya terus semakin bertambah. Dimulai dengan prolog yang menyumpah serapahi sekolah dan dilanjutkan dengan kisah pribadi yang selalu saja berada di dalam kesuraman. Tidak ada cerita yang runtut dari novel ini. Bahkan sangat terkesan dibuat-buat dan didramatisir agar sesuai dengan lagu-lagu Bondan & Fade2Black yang disisipkan di setiap bab. Gak jelas, gak penting, dan gak menarik. Novel ini hanya butuh cerita yang jelas dan runtut, bukannya pendoktrinan nilai-nilai yang diceritakan. Sungguh membosankan rasanya.
Bintang 3 saja, karena ada kebingungan pada beberapa hal saat saya membaca buku ini.
Hal pertama - Keadaan sekolah "ideal" dan para siswanya yang diantarkan oleh Rama sang tokoh narator.. Kebingungan pertama: Iiih, sekolah apaan tuh? Adegan2nya sinetron banget! Mungkinkah FD, BP & F2B sudah lama tidak mendatangi sekolah "beneran" atau memang hanya sekolah seperti itu yang mereka lihat?
Hal kedua - Guru2 yang selalu jutek dan masih saja menulis catatan di papan tulis untuk disalin siswa di buku tugas sebagai syarat ikut ulangan. Kebingungan kedua: Aaaa... setting cerita ini kapan, sih? Belum tahun 2000an, kali ya? Padahal data2 pendukung tentang tawuran dan lagu2 yang "didengarkan" dalam buku ini dari BP & F2B... Tapi kok guru2nya kayak masih lulusan SPG gitu, yak?
Hal ketiga - Berbagai paradoks di sekolah: guru2 bergunjing gaji tak pernah cukup, kepala sekolah dicurigai korupsi, sementara siswa membayar mahal tanpa rela namun tetap pamer barang2 mahal hasil menadahkan tangan pada orang tua. Kebingungan ketiga: *sambil memejamkan mata untuk berpikir -maklum, saya orang visual- eh, ini sekolah negeri atau swasta, sih? Emang ga ada komisi sekolah? Emang guru2nya ga ada yang bisa ikut sertifikasi dan ikut PLPG? *usilsepertibiasa
Hal keempat - ... bingung sendiri
Ya sudahlah.
Kapan2 disambung lagi, kalo saya sudah tidak bingung. Mau bagaimana lagi? Melalui sekolah atau bukan sekolah, jelaslah pendidikan harus ditempuh seumur hidup. Mari yuk mari, terus berkarya dan tersadar. Sebanyak mungkin, senyata mungkin.
Satu lagi karya apik Fahd Djibran bekerjasama dengan Bondan F2B dalam sebuah novel. Setelah meraih kesuksesan melalui karya sebelumnya, yaitu Hidup Berawal dari Mimpi, kali ini Fahd kembali menyajikan novel yang tergolong fenomenal dengan mengangkat hal yang tak biasa.
Hampir sama dengan buku sebelumnya, novel #TakSempurna ini juga memuat beberapa lagu dari Bondan F2B yang tentunya membuat novel ini lebih hidup.
#TakSempurna menceritakan tentang masa remaja, masa sekolah putih abu-abu dengan berbagai permasalahannya. Tawuran, polemik tentang pendidikan di sekolah yang dirasa tidak becus, dan para guru yang dianggap tidak peduli. Sedikit banyak kisah yang di angkat di novel ini membuat saya dejavu dengan tawuran yang beberapa waktu lalu hangat panas diberitakan di media, tawuran antara dua sekolah bergengsi yang menelan korban jiwa, hingga diadakan (semacam) perdamaian yang dibantu pihak kepolisian.
Sekolah bukan satu-satunya aspek yang bersalah atas rusaknya akhlak (moral, etika, atau apapun itu) para generasi muda sekarang. Keluarga, lingkungan dan masyarakat juga menjadi aspek fundamental dalam hal ini. Jika orang tua sudah tidak bisa menjadi teladan, kemana lagi mereka harus mengemis kasih sayang.
Secara keseluruhan saya menyukai novel ini, karena sedikit banyaknya menyadarkan kita tentang betapa bobroknya sistem pendidikan sekarang. Tapi, entah kenapa saya kurang menikmatinya, sangat berbeda dengan karya Fahd sebelumnya, karya ini menurut saya biasa saja. Beberapa cerita yang diangkat terkesan dipaksa sesuai dengan lagunya.
Kita tidak bisa mengubah sistem pendidikan hanya dengan mengutuknya, tapi dengan apa itu yang harus dilakukan saya pun tidak tahu. Lagi-lagi merasa #entahlah.
This. Book. Is. Very. Freaking. Awesome! Keren banget baru awal bab aja gue udah nangis sambil -meringis ngeri bacanya. Gue nangis berkali-kali baca buku ini. Ngeliat gimana kehidupan mereka dibalik semua hal yang mereka lakuin. Itu semua ibarat cuma distraksi sesaat. Ini buku recommend banget buat lo baca! Tapi inget satu hal persiapin mental lo!
Novel ini dikemas bagus dengan sudut pandang objeknya, Rama, siswa dari sekian banyak sorotan. Novel ini mengingatkan saya pada salah satu teman saya yang membuat saya beranggapan bahwa pada dasarnya semua orang baik, hanya saja kondisi yang membuat ia terlihat berbeda...
Buku kedua dari Fahd yang saya beli, dan masih berkolaborasi dengan Bondan Prakoso. Saat itu masih SMA menjadikan buku ini sangat related dengan kami yang anak muda. Hampir separuh kelas bergantian untuk meminjam. Karena ya begitulah kami, muda, rapuh, dianggap bodoh jika diukur dalam variabel angka, pemberontak, bandel, nakal. Dan rumah tempat yang harusnya kita merasa nyaman untuk pulang malah menjadi persoalan yang meilukan.
Novel ini menggambarkan tentang masalah"sekolah masyarakat Indonesia" pada umumnya, Tawuran. Yang sejujurnya sejak SMP saya sering melihat beberapa teman saya melakukan itu, Tapi entah kenapa seakan itu menjadi tradisi. Pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan seakan menutup mata akan hal itu. Selain itu, novel ini juga menjadi pembelajaran untuk para pendidik (guru), sekolah, dan keluarga dalam bersikap menghadapi kenakan remaja.
Inilah masalah yang telah lama mencoreng-moreng muka dunia pendidikan Indonesia : tawuran. Masalah ini ibarat warisan keburukan antar generasi. Tak pernah putus, selalu ada tahun ke tahun. Sungguh ini bukan masalah sepele. Sudah banyak nyawa remaja melayang karenanya. Pada tahun 2011 saja, ada 82 korban jiwa dalam 330 kasus tawuran di Indonesia.
Bagi para orangtua, guru dan masyarakat tawuran ibarat teror tak berkesudahan. Wajah lugu para pelajar berganti wajah sangar preman berseragam sekolah yang membawa celurit, parang hingga pedang. Saat anak-anak beranjak keluar rumah menuju sekolah, para orangtua merasakan degup kekhawatiran sang anak akan 'hilang' direbut kekerasan dalam tawuran.
Fahd Jibran, penulis yang terkenal suka menyuguhkan buku-buku fiksi semi filosofis geram melihat warisan keburukan yang tak putus-putus ini. Ia menyajikan novel berjudul 'Tak Sempurna' sebagai kado. Kado pengingat agar para pelajar usahlah bergagah-gagahan lewat tawuran. Usah pula mengartikan solidaritas persahabatan dengan perkelahian. Kedua-duanya sungguh salah kaprah.
Novel ini ditulis Fahd bukan hanya berlandas imajinasi dan emosi. Tapi dengan riset dan penyelaman langsung ke para remaja. Sebuah karya yang akhirnya bukan berupa nasehat. Tapi sebuah curhat tentang pengalaman pahit yang bisa menyentuh para pelajar untuk berhenti meneruskan warisan ini. Agaknya memang curhatlah yang lebih efektif bisa diterima para remaja. Mereka bosan digurui. Bosan dinasehati. Apalagi kenyataannya kekerasan orang dewasalah yang menjadi pemandangan sehari-hari mereka.
Dalam buku berjudul 'Tak Sempurna' ini curhat bukanlah sekedar curhat. Ia menyajikan fakta dibalik tawuran. Adalah kesalahan orangtua, guru,lingkungan dan beban stres yang punya andil besar yang membuat tawuran susah untuk ditiadakan di dunia para pelajar.
Melalui tokoh bernama Rama, curhat itu diolah menjadi cerita sebab akibat. Fahd menjadikan Rama sebagai agen untuk membuat para pelajar bisa melihat langsung apa saja hal-hal terburuk yang mungkin akan mereka sesali jika masih juga doyan tawuran.
Selayaknya kebanyakan pelajar, terutama pelajar di sekolah-sekolah yang sudah langganan aksi tawuran Rama tak kuasa menolak tawuran. Pilihannya hanya dua : ikut serta atau dikucilkan di sekolah dan dianggap banci.
Remaja laki-laki mana yang mau dianggap banci? Maka Rama dan sebagian besar pelajar laki-laki membuktikan diri lewat tawuran. Jadilah sekolah Rama, SMK Citra Bangsa berulang kali tawuran dengan musuh bebuyutan mereka, SMA Lazuardi.
Satu ketika Rama dan teman-temannya menjalani tawuran yang keras, kejam, hingga seorang teman Rama, Andri meninggal dunia. Kematian Andri membekaskan luka mendalam. Tapi bukan menjadi alasan untuk jera, malah menjadi pompa untuk membalas dendam.
Jadilah tawuran kembali berulang, hingga Rama kemudian jadi korban. Ia kehilangan sebelah kakinya. Sejak saat itulah cerita yang dinarasikan oleh Rama berubah dari cerita yang awalnya penuh narasi dendam dan kebencian menjadi kritik terhadap diri, tawuran dan tentunya penyesalan.
Melalui Rama-lah para pembaca dibuat melihat tawuran bukan lagi sekedar kenakalan remaja akibat salah pergaulan saja. Penyebabnya lebih luas dari itu. Adalah ketidakmampuan ekonomi keluarga, perceraian orangtua, lingkungan yang keras, tontonan televisi dan juga beban pelajaran dan tingkah laku guru yang otoriter. Faktor-faktor ini hari demi hari menumpuk pada diri pelajar. Menyesakkan lalu dikeluarkan melalui emosi yang salah kaprah : tawuran.
Dengan begitu agaknya buku ini bukan hanya kado untuk para pelajar saja. Tapi juga kado untuk para orangtua, guru dan masyarakat keseluruhan untuk mengambil tempat menyelesaikan masalah tawuran. Fahd setidaknya ingin berkata, sungguh tak mudah menjadi orangtua dan guru. Apalagi jika hanya memikirkan ego pribadi.
Walaupun tema tawuran terkesan berat dan kelam, Fahd punya cara kreatif untuk membuat novel ini segar untuk dibaca. Fahd menggandeng serta rup band 'Bondan Prakoso & Fade2Black' untuk penulisan novel ini. Jadilah lagi-lagu band ini menjadi magnet dan penyegar yang saling melengkapi.
Laporan komisi nasional perlindungan anak menunjukan fakta mengejutkan. Sepanjang januari hingga september 2012, telah terjadi lebih dari 103 kasus tawuran pelajar. Korban yang ditimbulkan pun tidak sedikit; 48 orang pelajar luka berat, 39 luka ringan , dan 17 meninggal dunia. Itulah salah satu kutipan dari novel Fhad Djibran yang berduet dengan Bondan&Fade2Black. fenomena tawuran memang masih lekat bagi sebagian para pelajar. Novel ini cukup memberikan gambaran konfilk tawuran pelajar antara SMA Lazuardi dan SMK Citra Bangsa. Dimulai semenjak masuk ke SMA Lazuardi, Rama Aditya Putra beserta teman-temanya memang sudah dijejali kebencian untuk membenci SMK Citra Bangsa. “Menyerang atau diserang” begitulah prinsipnya “para senior” mengajari adik-adik kelas mereka. “Ajaran” tersebut pun masuk ke otak Rama. Walaupun ada sisi hati Rama menyadari bahwa perbuatan tersebut menimbulkan banyak kerugian, namun karena malu dianggap banci maka Rama pun mengikuti teman-temannya untuk tawuran. saat tawuran berlansung yang juga sempat menewaskan Andri Nugraha seorang anak SMA Lazuardi tiba-tiba suara sirine polisi berdengung. Posisi mereka riuh, tunggang langgang saling menyelamatkan diri. Beberapa pelajar dibekuk polisi dan sebagian berhasil lari. Saat Rama hendak melarikan diri dari polisi tiba-tiba sebuah mobil sedan menabrak dirinya hingga terluka. Akhirnya Rama dibawa ke rumah sakit. Rama dirawat beberapa minggu hingga sembuh dia menyadari semuanya termasuk kakinya yang hilang sebelah. Konflik dalam novel ini (sedikitnya) memang sarat dengan pendidikan. Pun bukan sekedar karya fiksi saja, kita akan diajak bagaimana seharusnya peran kita sebagai stake holder yang punya kontribusi penuh dalam nilai-nilai pendidikan. Banyak sekali yang bisa kita jadikan cerminan bahwa masih banyak hal yang melatar belakangi semua yang terjadinya tawuran antar pelajar. Novel ini semakin menambah turut menambah kekhasan dan nilai positif karena beberapa lagu Bondan&Fade2Black yang penuh nilai-nilai semangat disisipkan di setiap bab.
Tak Sempurna : buku ketiga Fahd DJibran yang saya baca. Buku yang bikin saya makin suka sama tulisan-tulisannya. Seperti "Hidup Berawal dari Mimpi", buku ini juga masih proyek kolaborasi dengan Bondan Prakoso dan Fade2Black-salah satu musisi kesukaan saya yang sering menginspirasi penikmatnya-jadi masih diselingi dengan lagu-lagu mereka. Plus,dengan interlude yang ngasih kesan berbeda dari buku sebelumnya. Dengan gaya khasnya, Fahd Djibran meracik kata dengan begitu epic. Buku ini, pada dasarnya bercerita tentang 'jelek'nya sekolah yang digambarkan oleh tokoh sentral, Rama. Rama dengan penuh semangat menyindir keras pendidikan-atau mungkin pengajaran- di sekolah yang salah. Something has gone very wrong with our school. Naif mungkin, jika mesti mengkambinghitamkan sekolah dengan unsur-unsur di dalamnya, sebagai dalang yang menyebabkan siswanya sendiri menjadi korban. Ya, sekolah sebagai 'tempat' yang punya banyak bagian buat meningkatkan tingkat kenakalan remaja. Realitanya? Tawuran pelajar, bullying, pornografi, penyalahgunaan narkoba, dan semua kenakalan-kenakalan remaja memang banyak bermula dari bangku sekolah. Atau.... sekolah saja yang sedang sial digunakan sebagai 'tempat belajar' di fase remaja yang masih sedang labil. Entah. Saya tak begitu yakin. Dibalik ke-tak sempurna-an sekolah, pun Fahd Djibran cukup lihai memainkan konflik-konflik lain, termasuk broken home, dan cinta diam-diam. Untuk cinta diam-diam, saya sangat suka potongan kalimat,"Aku senang kapanpun bisa merindukannya, meski dia tak mengetahuinya. Aku senang mengakrabi lengkung alis matanya, dari jauh... Aku cukup bahagia mencintai Bunga dengan cara seperti ini." Memang begitu, sang pemendam perasaan. Anti klimaks di beberapa bab kebanyakan, benar-benar hebat. Pada akhirnya, Fahd Djibran meneriakkan seruan buat mebantu jiwa-jiwa yang sedang terperosok jatuh dalam lembah nista sekolah-yang-salah.
Judul Buku : Tak Sempurna Penulis : Fahd Djibran, Bondan Prakoso & Fade 2 Black Penerbit : Kurniaesa Publishing Halaman : 250 halaman Tahun Terbit : 2013
Mendengar lagu “Kroncong Protol” tahun 2005, sejak itulah saya mulai menjadi penggemar Bondan Prakoso & Fade 2 Black, atau yang biasa dipanggil Rezpector. Dan pada album For All pada tahun 2010, Bondan Prakoso & Fade 2 Black mengkolaborasikan musik mereka dengan sastra. Mereka membuat buku pertama berjudul “Hidup Berawal Dari Mimpi” dengan menggandeng seorang penulis bernama Fahd Djibran. Setelah rampung dan dirilis tahun 2011, buku HBDM ini berhasil menyandang buku Best Seller. Baru pertama kali saya membaca buku yang setiap babnya diselingi lagu. Sukses di buku pertama Bondan Prakoso & Fade 2 Black serta Fahd Djibran, kembali menulis buku. Masih dengan buku fiksi musikal, kali ini terinspirasi dari kisah nyata. Mereka menamai judul buku kolaborasi fiksi musikal kedua ini dengan “Tak Sempurna”. Buku ini resmi diluncurkan di Gramedia Matraman Matraman, Jum’at 22-3-2013.
Dengan sampul bergambar baju seragam yang berlumur darah, semakin memperkental tema yang berada di buku “Tak Sempurna” ini. Diambil dari kisah pendidikan Indonesia yang masih semrawut. Mereka menceritakan buruknya perilaku remaja dan buruknya pengajaran yang saat ini sering kita temui. Target yang pembaca yang paling tepat untuk buku ini adalah pelajar-guru-atau orang yang berada di sekolah. Di dalam buku ini juga terdapat cerita tentang persahabatan, keluarga, dan cinta. Kalian juga akan menemui beberapa lirik-lirik lagu Bondan Prakoso & Fade 2 Black terbaru di akhir setiap babnya. Lewat sudut pandang remaja bernama Rama, kita bakal diajak mengarungi sisi gelap kehidupan anak SMA di kota besar. Dengan adanya buku ini, semoga pendidikan di Indonesia semakin mendapat perhatian. Dan para pelajar mendapat guru dan sistem pengajaran dengan kualitas yang lebih baik lagi. Amin
Saya sependapat dengan pesan yang disampaikan dalam buku ini, tentang bagaimana sekolah seharusnya berfungsi, bagaimana guru-guru seharusnya mengajar, bagaimana para siswa seharusnya bersikap. Sindiran di bagian awal lumayan mengena.
Alurnya bolak-balik, dan diselingi tulisan berita. Kreatif, sih, tapi saya merasa ini bisa lebih menarik lagi. Kesannya isi buku ini seperti buku nonfiksi yang ditambahkan cerita pendek di beberapa bagiannya. Penceritaannya menurut saya kurang halus. Antara kejadian satu dengan yang lainnya ada semacam kekosongan, mungkin perasaan saya saja sih.
Karakter tokoh utamanya juga kurang kuat dan kurang greget. Entahlah mungkin karena dia yang terkesan setengah nakal, tapi sebenarnya baik dan tidak sepenuhnya membangkang. Mungkin kalau dibuat sedikit lebih suram, ceritanya akan lebih menarik. Ikatan antara Rama dan teman-temannya juga kurang terasa. Rama memang solider dengan teman-temannya, tetapi saya menangkap tidak ada hubungan timbal balik yang sepadan antara mereka. Setidaknya satu orang saja yang dekat dengan Rama, itu sudah cukup.
Endingnya lumayan tidak terduga. Ya, cukup realistis lah, di dunia nyata memang tidak semudah itu untuk mengembalikan kenyataan menjadi lebih baik.
Maaf bila ulasannya subjektif sekali. Intinya, saya suka buku ini, tetapi belum sampai pada taraf memberikan pengaruh tersendiri bagi wawasan dan pikiran saya.
Sebenarnya membaca buku ini tidak dengan konsentrasi penuh dan 100% tamat, namun ini kesan sekilas yang kudapat ...
Tema yang diangkat sangat "up to date" dan merupakan kegalauan semua orang yang membenci tawuran. Khususnya orangtua. Formatnya unik, diselingi "interlude" yang berbentuk berita. Cara berceritanya lugas dan to-the-point, jadinya sangat "harfiah". Kesannya meledak-ledak dan mengecam para guru yang tak peduli serta sekolah yang abai.
Sesungguhnya aku menantikan tema serupa yang dibuat lebih smooth atau tidak terlalu "to the point", mungkin dengan gaya 5cm, ada unsur persahabatan, ada unsur narator dari dua kubu. ada narator dari siswa, guru, dan orangtua. semua dirangkum dalam novel yang menyentuh dan tidak menghakimi. yang meski tidak obvious tapi bisa membuat orang yang membacanya berpikir dan berubah. siapaa yaaa yang mau nulis? hehehe
Mengingatkan saya pada Dan Hujan Pun Berhenti-nya Farida Susanty dan Versus-nya Robin Wijaya.
Narasinya asyik. Sayang sekali minim deskripsi. Pesannya dapat walaupun bagi saya terlalu subjektif. Novel ini memang kayaknya cuma objek "menyampaikan pikiran penulis dan Bondan Fade2Black tentang bobroknya sekolah", ya, bukan untuk menghibur pembaca dengan cerita yang dibangun dengan struktur dan unsur menulis cerita yang baik. Penokohannya kurang diperhatikan, buktinya. Dan penulis tidak peduli bagaimana pembaca mau membayangkan apa-apa di dalam cerita ini.
Tapi saya menikmatinya. Saya juga suka lagu-lagu Bondan Fade2Black. Membaca cerita di novel ini juga menyadarkan saya akan beberapa hal. Sayangnya, ya, cuma itu tadi, sih. Pesannya sangat subjektif dan penceritaannya kurang baik.
Harusnya dari awal saya sudah tahu bahwa isi buku ini tentang sekolah. Tapi saya gak menyangka kalo ternyata ini bukan kumpulan cerita tentang sekolah, tapi cerita yang benar-benar tentang sekolah. SMA. SMA Lazuardi disebutkan.
Tentang kenakalan saat SMA. Ngebolos. Bohongin guru. Sampe tawuran antar sekolah.
Disini diceritakan tentang nakalnya anak laki-laki ya. Maksudnya Bondan & Fade2Black juga Fahd adalah bagaimana teman-teman SMA bisa menyadari kalo tawuran dan segala kenakalan remaja lainnya hanya akan merugikan diri sendiri.
Tapi saya harus bilang, ini bukan-cangkir-teh saya :D
Sebuah kalimat yang masih membekas dari buku ini adalah "Kenapa rumah sakit itu dikatakan sakit? padahal rumah itu membuat orang sehat". Sebuah buku yang membuka pandangan kita tentang bagaimana kita percaya pada sebuah harapan, sedalam apapun kita jatuh, selalu ada harapan untuk bangkit. Dengan latar belakang sekolah, buku ini sukses membuat kita merasakan "Ada yang salah terhadap sistem pendidikan kita"
Arti sekolah tapi dalam perspektif berbeda yang ditulis penulis. Kali ini tentang sekolah versi Pelajar yang menjalaninya. Sisi-sisi negatif sekolah yang dijelaskan memang hampir semua sesuai realita dan kenyataan yang ada.
Pantas saja ada nama Bondan dan Fade2Black muncul dibuku ini, ternyata isi cerita bukunya nyambung dengan lirik-lirik dari album-album mereka.
"banyak manusia yang mengaku dirinya hidup dengan merasa tidak ada siapapun yang mencampuri hidupnya, tetapi ketahuilah semua itu adalah "salah" karena hidupmu dan hidupku sesungguhnya sama. sama-sama di campurii oleh "Siapa" dan siapa itu is "our heart to our god". mungkin karena rasa ini jugalah yang membuat hidup kita merasa "TAK SEMPURNA". by:hani rofiqoh
Sudah lama selesai membaca karya ini hanya saja baru bisa memberikan komentarnya sekarang. Satu lagi karyanya bersama Bondan Prakoso and Fade2Black. Dan saya masih suka karyanya yang ini. Cerita anak sekolahan dengan banyak sekali pesan moral yang tersimpan di dalamnya. Suka lah karyanya dari Hidup Berawal Dari Mimpi hingga Tak Sempurna saya tetap menyukainya :)
Buku ini inspiratif, menyadari dan menyesali kesalahan yang telah kita lakukan dan bangkit dari keterpurukan itu gak mudah. Memaparkan kenyataan yang ada tentang pendidikan di indonesia. Nice story and i really lve it :))