Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Confession of the Sirens - Nyanyian Sang Siren

Rate this book
Separuh bagian atas makhluk itu adalah tubuh seorang perempuan, sementara separuh bagian bawahnya adalah ikan. Makhluk itu akan bernyany dan mengacaukan pikiran para awak kapal, mengundang mereka menuju kehancuran. Menurutku, kalian persis seperti siren itu. Dengan kata-kata manis, kalian mengundang para penonton ke dalam pusaran kecurigaan dan penghinaan.

Hati kecil Takami tak menerima ucapan menusuk dari Detektif Kudou mengenai pekerjaannya itu. Di sisi lain, pikiran Takami terus berkecamuk mempertanyakan kebenarannya.

Kasus penculikan yang berujung pada pembunuhan telah terjadi di sebuah pabrik bekas di wilayah Yotsugi. Takami Asakuran, seorang reporter muda yang bekerja di program berita Afternoon JAPAN bertekad untuk mendapatkan scoop terkait kasus tersebut. Bersama Satoya, partnernya, Takami berusaha keras menangkap pelakunya. Sebab bagi Takami berusaha keras menangkap pelakunya. Sebab bagi Takami, seorang reporter ada untuk menjadi pengingat sekaligus penunjuk jalan bagi masyarakat.

Namun, kasus tersebut justru menunjukkan kepadanya sisi kelas dunia jurnalisme. Takami yang naif pun dihadapkan pada keraguan mengenai apakah pekerjaan yang dijalannya selama ini adalah hal yang benar?

336 pages, Paperback

First published November 20, 2016

9 people are currently reading
208 people want to read

About the author

Shichiri Nakayama

92 books24 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
40 (32%)
4 stars
58 (47%)
3 stars
21 (17%)
2 stars
4 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 42 reviews
Profile Image for Ren Puspita.
1,491 reviews1,021 followers
February 19, 2024
4,5 bintang

Speechless gue habis baca buku ini. Bener - bener yang ga bisa berkata - kata, huhuhu. One of my Top Read of 2024 for sure!


TW/CW untuk buku ini karena issue2 yang dibahas cukup triggering:

The Confession of the Sirens, atau dalam bahasa Jepangnya, Sirens no Zange, adalah buku pertama karya Shichiri Nakayama. Ga seperti Rikako Akiyoshi atau Keigo Higashino yang lebih familier di kalangan pembaca Indo, keputusan Clover untuk menerbitkan buku ini emang gue rasa cukup unik. Gimana engga, awalnya gue mikir novel ini hanyalah novel memecahkan misteri kasus penculikan anak SMA bernama Ayaka Higashira yang malah berujung pembunuhan sang gadis. Dimana pemecahan misteri dilakukan oleh jurnalis yang tentunya dianggap sebagai pengganggu oleh detektif yang menangani kasus.

Yang gue ga menyangka, Confession of Sirens lebih dari itu. Buku ini adalah kritik KERAS terhadap sisi kelam dunia jurnalisme, utamanya praktek bisnis stasiun TV Jepang. Nakayama-sensei tanpa tedeng aling - aling menjabarkan proses pengejaran Scoop melalui sudut pandang duo Takami Asakura dan Taichi Satoya. Takami yang bisa dibilang anak bawang di stasiun TV Teito dengan pandangannya yang idealis namun juga sangat naif, dipasangkan dengan sang senior Satoya yang sudah banyak makan asam garam tapi juga sinis,sarkastik dan hobi menjelek-jelekkan profesi sendiri. Gue sampe mikir kalau apa yang diomongin Satoya itu sebenarnya adalah kritik dari authornya sendiri sementara Takami bagaikan mewakili pembaca yang awam akan dunia jurnalistik. Berkali - kali gue membaca perasaan Takami yang terpecah dan ga tahu arah, kadang gemas dengan Takami yang begitu naif tapi juga simpatik melihat Takami yang terguncang gegara kesalahan saat pengejaran scoop yang berujung fatal bagi stasiun TV mereka.

Kritik tentang dunia jurnalisme juga tak melulu dari kacamata Satoya maupun pandangan Takami, tapi juga dari sisi Kenji Kudou, detektif yang ditugasi mengusut kasus pembunuhan Ayaka. Walau menurut gue tetap spotlightnya ada di Takami dan Satoya, detektif Kudou juga melontarkan pandangannya terhadap wartawan yang dianggapnya seperti para siren, mengeluarkan nyanyian merdu untuk menyesatkan pelaut. Pokoknya ya siap - siap nyesek deh baca buku ini, karena begitu banyak hal - hal yang menohok dan bisa banget jadi diskusi yang mendalam.

Yang bikin gue juga terhenyak dan merasa hampa setelah baca buku ini salah satunya adalah kebenaran di balik misteri pembunuhan Ayaka. Nakayama-sensei seakan ingin menunjukkan betapa rapuhnya hubungan manusia. Betapa hal - hal yang seharusnya ga perlu kejadian akhirnya pun kejadian dan membuat hati gue berteriak "KENAPA???". Ditambah dengan kritikan tajam dunia jurnalisme, perundungan di sekolah, kecenderungan masyarakat untuk menginterpretasikan informasi dari stasiun TV yang kadang justru sudah dibumbui sendiri oleh presenternya, membuat buku ini memang tak mudah untuk dibaca. Endingnya sendiri cukup oke dan menegaskan kenapa buku ini diberi judul "Confession" yang walau diterjemahkan jadi "nyanyian", gue lebih mengacu pada arti confession itu yaitu "pengakuan". Pengakuan dari siapa? Hehe, baca aja bukunya buat tahu XD.

Untuk terjemahannya sendiri menurut gue cukup oke, ada beberapa footnotes untuk menjelaskan beberapa hal yang tidak umum atau idiom dalam bahasa Jepang. Tapi ada juga yang menurut gue lucu, kayak idiom "curiousity kill the cat" yang dijelasin. Gue be like, ya itu gue juga paham, tapi mungkin ga banyak yang tahu ya hehe. Sayangnya, cara Nakayama-sensei dalam mengutarakan pendapat via karakter-karakternya emang bisa terasa sangat menggurui dan judgmental. Tapi, ini tergantung dari mood pembaca dan preferensi ya. Secara preferensi, gue ga terlalu suka mode- mode menggurui yang "in your face" banget, tapi karena mood gue lagi oke ya gue kesampingkan aja cuma itu jadi salah satu faktor kenapa gue kurangi sedikit ratingnya. Untuk gaya berceritanya emang cenderung "telling" ketimbang "showing", tapi kata Dion, ini biasa di J-Lit jadi ya gue abaikan juga selama ga terlalu mengurangi kenikmatan membaca dan ga ngurangi esensi dari ceritanya.

Gue mayan kaget karena buku ini ga banyak dibaca sama temen - temen penggemar J-Lit yang gue kenal wkwkwk, dimana yang ngerate dan baca di Goodreads juga ga sampe 100. Gue rekomendasi banget the Confession of the Sirens ini kalau nyari misteri dan thriller yang juga mengulik sisi kelam jurnalisme.
Profile Image for Liliyana Halim.
311 reviews242 followers
January 6, 2025
Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩 meskipun novel ini sedikit membingungkan buatku tapi masih bisa aku nikmati dan karena aku jarang baca genre thriller, aku mendapatkan beberapa hal baru. Aku juga berharap semoga ada novel Shichiri Nakayama lainnya yang diterjemahkan lagi.
.
“Yang bisa kukatakan adalah, terlepas dari usia mereka yang sangat muda, mereka memiliki kesadar akan rasa bersalah yang sangat rendah.” (Hal 251).
.
‘Sebaliknya, tidak meminta maaf adalah sikap yang sombong dan congkak, sekaligus sikap yang membuat orang makin sadar akan kesalahannya sendiri. Tentu saja, di dunia ini ada orang yang mampu mengabaikan rasa bersalah mereka, katakanlah orang-orang yang telah menukarkan sesuatu yang sangat berharga demi otoritas dan wewenang’. (Hal 236).
.
“Kau boleh berusaha untuk mencapai hal-hal besar. Tapi, jangan terlalu melebih-lebihkan kemampuanmu sendiri,”— “Kau baru pertama kali melihat mayat. Ditambah lagi— wajar kalau kau gagal menekan tombol shutter. Kalau kau berpikir bahwa kau bisa mengambil gambar yang lebih bagus dari gambarku, itu artinya kau arogan. Yang pertama harus kau lakukan adalah mengenali kemampuanmu yang sebenarnya. Setelah itu, kau baru boleh berambisi. Seseorang yang melakukan lompat galah tanpa mengetahui dirinya bisa melompat atau tidak, hanya akan mendapatkan cedera. Alasan kenapa kau frustasi mendengat hujatan Kudou adalah karena kau sendiri tahu bahwa itu adalah kenyataan. Bener, kan?” (Hal 80).
.
“Ketika menyadari bahwa pekerjaan yang selama ini diidam-idamkan ternyata begitu barbar dan tidak seelegan yang dibayangkan, orang tentu akan kecewa. Hal ini juga terjadi dalam pekerjaan-pekerjaan bermartabat lainnya, tentu tidak hanya di dunia jurnalisme. Pekerjaan-pekerjaan itu hanya memperlihatkan apa yang diterangi oleh cahaya, sementara sisanya gelap sehingga tidak terlihat. Tapi, sesungguhnya di dalam kegelapan itu tergeletak berbagai hal yang tidak ingin diperlihatkan ke orang luar. Orang yang bisa bertahan hanyalah orang-orang yang sudah terlatih untuk tidak hancur walau telah menyaksikan segala macam kebobrokan yang tersembunyi di sana.” (Hal 183).
.
’Di dunia ini sepertinya memang ada orang yang bisa berubah menjadi pembunuh sadis karena alasan yang tidak masuk akal. Orang-orang seperti itu tega membunuh dan menyakiti orang lain karena didorong oleh struktur mental yang tidak bisa dipahami orang lain pada umumnya. Akan tetapi, orang seperti itu hanya ada segelintir, dan kalaupun ada, mereka biasa akan menutup diri dan bersembunyi disudut-sudut kehidupan masyarakat’. (Hal 255).
.
“Sama seperti di industri mana pun, kau bisa menelusuri apa motivasi atau dorongan yang membuatmu mengambil jalan yang kau pilih dan mencoba untuk berdiri di sana kembali. Karena kau baru memulai, otakmu belum tercuci oleh kebiasaan-kebiasaan di dalam dunia industri, kau juga tidak tahu apa moto perusahaan, yang memenuhi isi kepalamu hanya apa yang menjadi alasan kau masuk ke dunia pertelevisian dan apa yang ingin kau nyatakan di dalamnya. Ketika kau kembali ke titik itu, segala kabut di dunia ini akan menghilang dan segala sesuatunya akan tampak cerah kembali.” (Hal 195).
.
“Supaya tidak terjadi kekeliruan informasi lagi, kekeliruan itu harus segera diperbaiki dan siapa pun yang membuat kesalahan harus segera meminta maaf. Kita harus selalu meragukan diri kita dan afliasi kita sendiri, serta jangan pernah bersikap arogan. Walaupun terpancing emosi, jangan sampai kita terbawa arus emosi tersebut. Walaupun memiliki kewenangan, kita harus terus-menerus melatih diri agar tidak jatuh tenggelam di dalamnya. Satu hal yang perlu kita ingat, tidak peduli setinggi apa kita bermimpi, pasti ada saat ketika kita membuat kesalahan. Pada saat seperti itu, yang perlu kita lakukan adalah membungkukkan kepala dan memulai dari awal….” (Hal 323).
Profile Image for Brenda Waworga.
669 reviews692 followers
November 17, 2024
Seru!! 😎 typical Japan Lit murder mystery “who dun it” … plot slow but the tension built well and reader definetly hooked until the very last page

I love this book put so many ugly truth about Journalist from a journalist POV, the way they tried to get “scoop” and rating, even sometimes being ruthless as long as they can get “news”… the author was a journalist so no wonder

It was a satisfying read, so glad i gave this book a chance
Profile Image for Amaya.
759 reviews58 followers
August 17, 2023
"Institusi seperti apa pun pasti memiliki masalah, pasti dimusuhi oleh seseorang. Terutama institusi berita. Pekerjaan ini menuntut kita untuk berbicara menghadapi khalayak umum, jadi sudah pasti ada sebagian orang yang tidak puas. Kalau kau memiliki rasa hormat yang cukup tinggi terhadap diri sendiri untuk menganggap semua itu sebagai suara angin, maka tidak akan ada masalah."

Takami yang masih terhitung bau kencur akhirnya mengetahui institusi tempatnya bernaung, pekerjaan yang ia yakini akan menjadi jalan bagi ketidakadilan yang ia dapatkan di masa lalu, dan pekerjaan yang sudah menjadi impiannya ternyata tidak seindah kenyataan. Demi mendapatkan scoop, para wartawan bahkan rela mengabaikan simpati maupun empati terhadap keluarga korban. Bagi mereka, mengikuti berita-berita dari stasiun TV lain adalah hal yang mencoreng reputasi tempat kerja. Ketika terjadi kasus penculikan dan kepolisian meminta persetujuan pers, senior Takami, Satoya, mengajaknya menyusuri sendiri kasus ini meskipun dilarang. Sampai mereka berdua menemukan fakta yang akan mengubah nama kantor berita tempatnya bekerja, Saito TV.

Agak gatal nulis formal begini, jadi penjelasan lain pakai non-baku dulu. Intinya, di sini Takami yang diajak Satoya berusaha mencari kebenaran soal pelaku sampai mengejar dan akhirnya boom! Hal-hal yang dikejar itu nggak sesuai dengan kenyataan. Fenomena di buku ini hampir mirip kasus-kasus yang ada di negara ini. Demi rating, apa pun rela diembat, termasuk sesuatu yang belum jelas benar atau salah.

Ada satu hal yang bikin aku tercengang, antara marah, tapi nggak bisa juga membantah. Kantor berita nggak bisa mengatakan maaf pada khalayak karena menampilkan fakta yang tidak benar. Jika itu dilakukan, maka akan mencoreng nama institusi dan reputasi kantor beritanya sendiri. Ini cuplikan perkataan dari Satoya.

"... soal pemikiran yang mengatakan bahwa orang yang melakukan kekeliruan informasi tidak layak berada di dunia jurnalisme. Nyatanya, sampai sekarang belum pernah ada wartawan atau kantor media massa yang hancur atau disingkirkan karena hal itu. Setelah melakukan kekeliruan sekalipun, mereka akan tetap berburu insiden untuk disajikan di ruang tamu. Justru sebaliknya, kalau hanya karena satu kekeliruan ada orang yang merasa bahwa ia sudah tidak layak hidup, maka mungkin dirinya yang tidak bisa melakukan bisnis ini. Intinya, ini tentang seberapa tebal kulit badakmu."

Katanya pula, kesalahan informasi tetap bisa diperbaiki, justru kalau menyerah di awal malah jadinya lari dari tanggung jawab.

Habis baca ini energiku habis. Bukan karena ceritanya kayak dikejar-kejar vilain (walaupun emang ada villain-nya dan cerita ini kental unsur kriminalitas serta misteri), tapi lebih ke kenyataan yang terbuka satu per satu. Macam kulit bawang merah, berlapis. Karena aku cuma orang awam yang nggak begitu paham dunia jurnalisme, buku ini semacam hiburan juga "pengetahuan". Nggak salah kalau disebut buku daging. Banyak hal bikin aku marah dan kecewa, tapi kalau ditelaah lagi, aku cuma lihat dari kacamata orang awam, sebagai pembaca berita. Cover-nya pun cantik sekaligus misterius, cocok dengan isi bukunya sendiri. Terjemahannya agak susah dipahami, sih, tapi lebih ke karena bahasannya agak berat.

Nggak tau mau jelasin apa lagi, yang jelas kalau kamu pencinta dunia jurnalisme dicampur unsur-unsur crime, thriller, dan misteri, buku ini layak untuk dibaca.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
August 29, 2025
Takami Asakura adalah seorang reporter muda di Teito TV. Dia mendapatkan tugas untuk meliput berita tentang penculikan seorang anak SMA yang disertai permintaan tebusan. Bersama Satoya, partnernya yang lebih senior, mereka memburu berita untuk mengembalikan reputasi Teito TV yang sempat tercoreng karena misinformasi pemberitaan. Keduanya memburu pelaku penculikan yang kemudian berubah menjadi kasus pembunuhan.

Ayaka Higashira adalah nama korban, siswa SMA kelas 1. Kabarnya dia mengalami perundungan di sekolah oleh beberapa orang. Takami dan Satoya kemudian mengejar siapa saja anggota genk pelaku perundungan itu. Ketika mereka merasa mendapatkan informasi terbaru dan belum tercium oleh wartawan lain, keduanya segera melaporkan informasi itu dan mengemasnya menjadi berita aktual. Nyatanya, ada pelaku lain yang tertangkao oleh pihak kepolisian. Keadaan ini menjadi bumerang yang berbalik pada Teito TV.

Banyak yang menyebutkan novel ini sebagai misteri-thriller, karena kasus penculikan yang menjadi pembunuhan sadis pada seorang gadis. Ditambah unsur penyelidikan yang dilakukan oleh kedua jurnalis itu. Namun saya melihatnya sebagai sebuah gambaran dunia jurnalisme TV. Satoya banyak sekali mengajarkan ilmu dan pengalamannya kepada Takami. Takami sendiri meski sudah dua tahun menjadi jurnalis, karakternya masih terlihat naif dan penuh idealisme. Ketika dia sampai bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah karir yang dipilihnya ini hal yang benar, itu karena dia juga menyimpan luka di masa lalu yang hampir sama dengan kasus yang mereka selidiki.

Profile Image for Stella_bee.
496 reviews18 followers
February 26, 2024
Benar2 beyond expectation karena awal muka baca ini tanpa ekspektasi apa apa
Ternyata... Seru polll, kasusnya menarik, penulisannya lugas dan seru, bikin penasaran dan nagih banget
Bakal jadi salah satu bacaan fave aku tahun ini lah!
Profile Image for Enia.
310 reviews106 followers
January 22, 2025
"Apakah pekerjaan orang pers sehebat itu?"

"Separuh tubuh bagian atas makhluk itu adalah tubuh seorang perempuan, sementara separuh bagian bawahnya adalah burung atau ikan. Makhluk itu akan bernyanyi dengan suara merdunya dari puncak tebing dan mengacaukan pikiran para awak kapal, mengundang mereka menuju kehancuran. Menurutku kalian perseperti siren itu. Dengan menggunakan kata-kata yang manis, kalian mengundang para penonton ke dalam pusaran kecurigaan dan penghinaan."

Wuih, novel ini benar-benar seru dan bisa dibilang cukup edukatif. Bukan hanya menghidangkan kisah investigatif yang mendebarkan namun novel ini juga memberikaan banyak insight terkait media reportase di Jepang dan sedikit bumbu politik dalam dunia media, khususnya media massa, serta hubungan antara para reporter dengan kepolisian di sana.

"Berburu scoop dan mengungguli stasiun berita lain adalah hal yang terekam dalam DNA orang di bisnis ini."

Kasus yang diangkat di novel ini cukup pelik dan menyedihkan terutama karena usia korban yang masih belia. Reporter yang ditugaskan untuk menelusuri kasus ini adalah kombo senior dan junior, Satoya dan Takami. Selama investigasi penelusuran berita ini saya sangat menikmati penyelidikan yang dilakukan kedua reporter ini ditambah lagi karena ada beban yang harus mereka tanggung untuk menghidupkan kembali kepercayaan penonton pada stasiun televisi mereka sehingga menambah ketegangan dan keasyikan saya dalam membaca novel ini. Satoya dan Takami harus berlomba dengan media-media lain dalam mencari scoop yang dapat menyelamatkan muka stasiun berita mereka.

"Penyidik dan media itu bagaikan dua orang yang hidup bersama di dunia yang berbeda, walau hal yang dikejar sama, tetapi yang diincar berbeda. Itu yang ia katakan."

"Tapi bukankah kita sama-sama mengejar pelaku kejahatan? Baik polisi maupun media?"
.....
"Kami bergerak demi membalaskan dendam korban dan keluarga mereka. Namun kalian bergerak demi memuaskan khalayak umum."


Sepanjang novel ini Takami, yang merupakan reporter yang lebih junior dan lebih muda, banyak menghadapi dilema-dilema dan tantangan-tantangan khususnya tentang etika media terutama yang berhubungan dengan para korban dan penyiaran berita yang jujur untuk masyarakat serta tentunya rating dan keuntungan bagi perusahaan mereka. Apakah segala cara boleh dilakukan demi memberitakan hal yang dianggap penting untuk masyarakat secara jujur dan transparan? Bagaimana dengan tanggung jawab media saat ternyata informasi yang mereka sampaikan justru menyakiti pihak-pihak lain yang dapat berakibat fatal?

Yah, intinya saya sangat menyukai novel ini terutama juga karena terjemahan yang sangat bagus (sepertinya saya tidak menemukan typo apapun di sini) ditambah dengan footnote untuk menjelaskan beberapa kata yang asing sehingga membuat pengalaman membaca novel ini semakin mengasyikkan. Jadi saya berikan rating 4,5 bintang yang bulatkan menjadi 5 bintang untuk nvel ini.


NB: Saya jadi semakin penasaran dengan buku-buku lain dari Shichiri Nakayama sensei. Apakah ada buku lainnya yang sudah diterjemahkan?
Profile Image for aynsrtn.
521 reviews18 followers
December 22, 2024
"... polisi bekerja untuk membalaskan dendam keluarga korban. Tapi kita, orang media massa, bekerja untuk memuaskan orang banyak."- p. 80

Melihat investigasi kasus penculikan—yang berakhir dengan pembunuhan—pada siswi SMA berusia 16 tahun dari kacamata jurnalis.

Actual rating: 4.5⭐️

Dalam novel yang mengisahkan misteri kasus pembunuhan atau tindakan kriminal hampir sering dilihat dari sudut pandang detektif/kepolisian. Namun, novel ini berbeda. Premisnya segar buatku karena melihat dari sisi jurnalisme. Disertai dengan intrik jurnalis vs polisi.

Pembahasan dari sisi jurnalismenya begitu kental dan detail. Aku jadi banyak belajar tentang kultur profesi jurnalis. Di mana mereka harus cekatan mencari berita, terutama mencetak scoop agar "beda" dari platform media lainnya, mengejar rating, yang hal itu seperti mata pisau. Salah-salah malah jadi boomerang buat diri sendiri.

Pergolakan batin Takami selaku protagonis perempuan di novel ini, membuatku ikut merasakan perasaan resah, getir, gamang, ingin lepas dari titel anak bawang, tapi masih minim pengalaman. Beruntung, Takami punya senior yang baik—meskipun sering sinis—bernama Satoya. Dinamika hubungan mereka tuh kayak mentee-mentor yang hobi berdebat, tapi tetap dibimbing. Selain itu, bickering time antara Takami dan Kudou—detektif—tak kalah sengit. Ingin banyak screentime mereka, tapi sayang ini bukan genre romance [meskipun di akhir ngajak ngopi, kiw].

Akhir kata, novel padat  sarat makna tentang jurnalisme.

Trigger warning: bullying, rape, sexual child abuse, suicide.
Profile Image for Thea.
43 reviews
May 4, 2024
“Segala bentuk pencapaian akan diklaim oleh mereka, sementara konsekuensi dari segala bentuk kegagalan akan dilimpahkan ke bawahan maupun atasan.”

“Semua rumah tangga pasti memiliki masalah. Hanya bentuknya saja yang berbeda.”

“Kami bergerak demi membalaskan dendam korban dan keluarga mereka. Namun, kalian bergerak demi memuaskan khalayak umum.”

"Saya tidak mengatakan bahwa saya memahami kondisi psikologi anak perempuan seusia itu. Tapi, saya memahami bagaimana proses seseorang menuju keputusasaan....."


Bercerita tentang Satoya & Takami, reporter yang mencari kebenaran tentang kasus pembunuhan seorang gadis SMA bernama Ayaka. Ayaka yang awalnya diculik tiba-tiba ditemukan tak bernyawa lagi disebuah pabrik bekas. Satoya & Takami memakai segala cara demi mendapatkan scoop dari kasus ini supaya rating program berita mereka yaitu Afternoon Japan bisa tinggi dan daripada stasiun TV lain.

Dari buku ini aku jadi tau tentang sisi kelam dunia jurnalisme. Bagaimana para wartawan menghalalkan segala cara demi mendapatkan berita eksklusif, tidak peduli apa perasaan korban dan entah itu kebenarannya sudah terbukti atau belum, yang penting rating acaranya bisa jadi tinggi!

Kisah dibalik mengapa Ayaka tewas juga sangat menyedihkan. Seharusnya hal itu bisa dicegah :(
Profile Image for hllreka.
122 reviews7 followers
July 31, 2023
Petualangan tentang pahit manisnya dunia Jurnalistik. Menarik dan page turner sangat! Baca buku ini cuman sehari penuh. Selain dunia jurnalis, dan kasus pembunuhan yg menjadi plot utama, novel ini juga berusaha mengelupas fenomena bully, KDRT dan kenakalan remaja; walau hanya sepintas tapi isu yg dibahas cukup menyentil 👌🔥

Kereeennnn 👏
Profile Image for Seara Maheswari.
80 reviews1 follower
April 12, 2025
What a fcking plot twist!!

Awalnya gue kira, cuma nyelidikin kasus biasa. Dan semakin larut dalam membaca, semakin membongkar sisi gelap jurnalisme serta bobroknya sistem terhadap korban perundungan.
Profile Image for Autmn Reader.
890 reviews93 followers
January 9, 2025
Acttual rating 2,5

Menceritakan sebuah kasus penculikan serta pembunuhan gadis SMA bernama Ayaka. Di ambil dari sudut pandang reporter bernama Asakura yang berusaha untuk menangkap sang pelaku pembunuham dan penculikan Ayaka.
Sebetulnya, awal-awal aku rada bosen ama ceritanya. pacing-nya nggak lambat tapi entah kenapa ceritanya kurang menarik aja buatku.

-Pros:

1. Baca ini beneran berasa nelanjangin dunia media banget. Kayaknya, prinsip media di Jepang sama di Indo juga nggak beda-beda amat, wkwk.
2. Misterinya nggak kental tapi cukup bikin ngeri dan isu yang diangkat juga padat.
3. Layer misterinya terbaik, sih. Twist-nya rapi.

-Cons:

1. Yang bikin aku bertahan baca cerita ini sebetulnya Satoya, jadi pas seperempat akhir aku nggak begitu minat dan penasaran lagi.
2. Asakura ini nggak asyik banget buat jadi tokoh utama. Terlalu pasif dan karena aku rada frsurasi baca kenaifan dia, makin nggak mood juga bacanya, wkwk.
Profile Image for P.P. Rahayu.
Author 1 book37 followers
May 5, 2024
The Confession of the Sirens (Nyanyian Sang Siren)
oleh Shichiri Nakayama
4 dari 5 bintang

Aku membaca buku ini atas rekomendasi Mak Ren Puspita. Jujur, aku penasaran dengan pembahasan soal sisi gelap jurnalisme di Jepang. Buku ini bermula dari upaya program berita Afternoon Japan besutan Teito TV untuk mengembalikan nama baik mereka. Pasca teguran keras dari semacam badan etik penyiaran, program Afternoon Japan kehilangan penonton setianya. Hal ini disebabkan oleh sejumlah kontroversi yang dilakukan oleh kru—hingga produser dan sutradara—Afternoon Japan. Kekeliruan informasi hingga upaya provokasi yang sampai menghilangkan nyawa terjadi dalam kurun waktu sebentar di lingkungan Afternoon Japan. Akibatnya, rating Afternoon Japan terus merosot dan badan audit internal siap sedia untuk melakukan pembersihan bagi orang-orang yang harusnya bertanggung jawab.

Cerita kali ini berpusat dari upaya duo wartawan Afternoon Japan, Takami Asakura dan seniornya, Taichi Satoya, untuk mengungkap kebenaran dari kasus penculikan berujung pembunuhan seorang siswi SMA, Ayaka Higashira. Keduanya, mau tak mau, jadi memikul tanggung jawab untuk mengembalikan nama baik Afternoon Japan dan juga Teito TV. Maka dari itu, dengan sungguh bersemangat, Takami dan Satoya terjun langsung ke lapangan untuk bisa mendapatkan scoop berita yang ciamik dan juga sensasional.

Melalui perjalanan peliputan Takami dan Satoya, kita akan diajak untuk sedikit demi sedikit menyelami sisi gelap dan kelam dari dunia jurnalistik di Jepang—atau bahkan di mana pun. Meskipun, harus kuakui, apa yang dibahas oleh Nakayama sensei di sini bukanlah hal yang begitu baru buatku. Sejak aku menonton drama Korea Pinocchio (2016) yang dibintangi Lee Jong Suk dan Park Shin-hye, aku mendapatkan pemahaman kalau terkadang media massa tidaklah hadir untuk melayani kepentingan publik (public interest). Berita yang sensasional, padahal belum jelas kebenarannya, bisa menarik perhatian publik begitu besar. Selain itu, ada pula upaya maipulasi dari narasi yang disampaikan oleh media massa untuk menutupi sesuatu hal yang lebih besar lagi. Uhuk, intrik bisnis dan politik untuk kepentingan orang-orang tertentu tentunya menjadi biang kerok dari upaya manipulasi tersebut,

Jadi, ketika Takami begitu fokus pada pengejaran scoop berita yang bisa menjadi pencapaian dalam karirnya yang masih seumur jagung itu, aku bisa langsung memahami permasalahan apa yang ingin Nakayama sensei ungkap. Mau tak mau, kita juga diajak berefleksi terkait dampak dari adanya digitalisasi media. Hal ini sempat dibahas oleh Ross Tapsell, yakni bagaimana informasi yang terus berkejaran mengakibatkan media juga ikut berlomba untuk menyajikan berita secepat-cepatnya. Ketika berita dapat disampaikan secepat mungkin, maka mungkin sekali ada proses krusial yang dilompati, seperti verifikasi. Alhasil, kekeliruan informasi sangat mungkin terjadi—dan sayangnya hal inilah yang juga terjadi di peliputan yang dilakukan Takami dan Satoya.

Awalnya, aku pikir akan ada sesuatu hal yang lebih kompleks di balik kasus Ayaka ini. Apalagi, ternyata kebebasan pers di Jepang enggak sebaik itu berdasarkan indeks yang dikeluarkan oleh Reporters Without Borders dan salah satu penyebabnya adalah upaya represi dari pemerintah dan kalangan bisnis, juga praktik sensor diri dari media itu sendiri. Sayangnya, Nakayama sensi hanya berfokus pada nyanyian/pengakuan dari sang siren. Yaa, bukannya itu bukan suatu hal yang jelek, sih, tapi aku kan pengen tahu hal yang lebih kompleks dari itu.

Meskipun demikian, novel ini tetep sangat worth untuk dibaca, apalagi buat teman-teman yang masih awam soal bagaimana jurnalisme bekerja. Novel ini bisa membuka mata kita mengenai hal itu. Untuk kasus yang diangkat pun, akhirnya masih tetap ada twist yang muncul. Jadi, unsur misterinya masih akan bikin penasaran sampai akhir cerita.

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hirai.
208 reviews5 followers
May 13, 2025
“Bagaimana dampak kritik jurnalisme di mata detektif dan masyarakat terhadap pengungkapan kasus yang terjadi?”
Kalau hanya fokus dengan judulnya mungkin saya berpikir kalau buku ini berkaitan dengan sesuatu hal mistis atau mitos tertentu. Ternyata apa yang saya temukan lebih mengerikan dari semua itu. Tema utamanya jelas penyelidikan kasus yang simpang siur melibatkan korban seorang anak yang desas-desusnya akibat pembulian dan penyiksaan. Namun benarkah begitu? Bagaimana detektif dan para jurnalis menelaah kasus ini? Itulah kedua hal menarik yang tidak boleh ditinggalkan saat membaca bukunya.
Gaya menulis super deskriptif menjelaskan detail setiap hal yang terjadi dari berbagai segmen dan POV membuat pembaca harus berkonsentrasi tinggi agar tidak kehilangan petunjuk maupun celah yang mungkin terjadi. Terjemahan yang nyaman dibaca cukup mengalir apalagi ada footnotes menjelaskan beberapa hal maupun idiom yang sulit dipahami orang awam seperti saya.
Buku ini cocok untuk penyuka misteri dari sudut pandang berbeda. Kita tidak hanya bertemu dengan detektif maupun polisi yang menyelidiki masalah namun juga dari kacamata jurnalisme. Pemberitaan yang salah sasaran berujung fatal membuat Satoya dan Takami dianggap sebagai para siren yang menyesatkan para pelaut (ini merupakan representasi sesungguhnya dari judul bukan makna secara harfiah).
Saya mengalami guncangan dan kehampaan setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi serta kunci utama dari kematian anak tersebut. Memadukan perundungan di sekolah, orang tua yang acuh dan juga kritik kejam dalam dunia jurnalisme membuat hati cukup sesak. Dari buku ini saya juga mengerti dan mulai berpikir dengan apa yang terjadi dalam dunia nyata bagaimana masyarakat luas menganggap pemberitaan di TV yang sudah ditambah bumbu-bumbu tertentu sehingga sulit untuk dipercaya. So sorry to hear that, kata belasungkawa mungkin itu saja tidak cukup untuk memahami perasaan korban. Diabaikan, disiksa dan dihilangkan nyawanya begitu saja. Dunia ini sangat kejam untuk orang-orang yang memiliki keberanian.
The Confession of the Sirens mampu mencapai tujuannya untuk mendeskripsikan apa yang dimaksud suara siren dan siapa yang melakukan sebuah pengakuan “confession”. Cerita yang sangat wort it untuk dibaca sampai tuntas dan pelan-pelan saja.
Saya jelas sangat merekomendasikan buku ini untuk penyuka J-Lit misteri apalagi yang menginginkan pandangan berbeda mengenai pengungkapan misteri. Pengulikan sisi kelam, sesuatu yang mungkin sama sekali tak terpikirkan karena terlalu rapi namun pada akhirnya akan terbongkar juga.
Meskipun sedikit menyebalkan namun Takami adalah karakter menarik dengan rasa ingin tahu tinggi ditambah trauma yang terjadi pada adiknya di masa lalu. Dia sangat kalud dengan apa yang terjadi sehingga membuat bias. Karakter yang tak pantang menyerah dan mau berubah memperbaiki kesalahan yang ada.
Mungkin masih banyak anak-anak di sekitar kita yang tak mendapatkan keadaan maupun diabaikan oleh lingkungannya. Semoga tidak lebih banyak hati kecil yang merasakan patah. Tidak perlu jauh-jauh, mulai pedulikan buah hatimu atau adik kecilmu. Kenali mereka lebih baik tentang bagaimana pergaulan dan apa yang mereka alami di sekolah itu akan sangat membuat mereka mendapatkan ruang aman.


Profile Image for Clavis Horti.
125 reviews1 follower
January 19, 2024
Dia, sang siren, membius penonton dengan nyanyiannya yang penuh pesona, merayu mereka hingga ke tepi kehancuran. Bagaimana mungkin keindahan yang sedemikian rupa dapat menjadi sumber kebinasaan yang tak terelakkan? Tak jauh berbeda dengan makhluk misterius itu, suara Takami Asakura dan rekan-rekannya seolah menjadi jerat, menggelincirkan orang-orang ke dalam pusaran kecurigaan dan penghinaan. Dalam situasi yang melibatkan Takami Asakura, terjebaklah ia dalam labirin antara kebenaran yang tersembunyi dan keraguan yang merajalela.

Sejak awal, pandangan saya tertarik pada keelokan sampul buku セイレーンの懺悔 (Sirens no Zange) karya Shichiri Nakayama dalam adaptasi bahasa Indonesia, yang berjudul The Confession of the Sirens (Nyanyian Sang Siren). Kolaborasi gemilang antara Hastapena, ilustrator ulung, dan Ikmal Aldwinsyah, ahli artistik yang penuh kreasi, menjadikan sampul buku ini bukan hanya sekadar visual, melainkan suatu karya seni yang sungguh memikat.

Seakan-akan menjadi pintu gerbang menuju dunia yang tersembunyi, warna-warna yang dipilih tidak hanya mencuri perhatian, tetapi juga menciptakan aura misterius yang menggoda rasa ingin tahu pembaca. Setiap elemen pada sampul, dari ilustrasi hingga komposisi warna, terasa selaras dan menyatu, membentuk daya tarik visual yang tak bisa diabaikan. Dengan brilian, Hastapena dan Ikmal Aldwinsyah membawa pembaca ke dalam pandangan pertama yang meyakinkan bahwa di dalam buku ini tersimpan sesuatu yang istimewa.

Namun, buku ini tak hanya menggoda dengan keindahan visualnya; ia mengajak kita mengeksplorasi ke dalam lapisan-lapisan cerita yang begitu mendalam. Sejak bagian pertama, kita diajak menyusuri lorong-lorong gelap dunia media massa dan jurnalistik, setiap langkahnya membangkitkan ketegangan dan kegetiran. Melalui perjalanan karakter Takami Asakura, buku ini membuka tirai yang menyembunyikan rahasia di balik judul besar suatu berita, mengungkap sisi gelap yang tersembunyi.

Saya sangat terkesan dengan keberanian Shichiri Nakayama dalam memilih topik-topik yang kontroversial dan mendalam. Pemaparan isu-isu seperti etika jurnalistik, kehausan popularitas, dan sikap selektif media massa tidak hanya sekadar menyajikan pemandangan luas, melainkan membongkar setiap lapisan kompleksitasnya. Misalnya, ketika penulis membahas etika jurnalistik, bukan hanya diperlihatkan situasinya, tetapi juga dilema moral yang dihadapi oleh Takami Asakura, menyelami pertarungan batin yang dialaminya di tengah kekhawatiran akan kebenaran dan desakan kepopuleran.

Lebih jauh lagi, narasi dengan detail ini memberikan gambaran yang kuat mengenai bagaimana keputusan-keputusan di dunia media massa dapat berdampak pada kehidupan seseorang. Misalnya, bagaimana kecenderungan media massa untuk mengejar kepopuleran dapat mengorbankan substansi dan kebenaran dalam pemberitaan. Hal ini menciptakan kesadaran mendalam pada pembaca tentang kompleksitas moral dan etika yang menjadi latar belakang setiap pilihan yang dihadapi oleh tokoh-tokoh di dalam buku ini.

Dalam menyajikan dinamika kisahnya, alur cerita ini berhasil memikat perhatian saya dalam setiap nuansa yang dihadirkan. Pemutarbalikan alur tak hanya menambahkan elemen dramatis yang mengagetkan, tapi juga memperkaya pengalaman baca dengan kejutan-kejutan yang tak terduga. Dilema moral yang dihadapi oleh para karakter menciptakan panggung untuk merenung lebih dalam tentang tekanan dan keputusan sulit yang mewarnai dunia media massa dan jurnalistik. Meski begitu, sebagai pembaca, saya tak bisa mengabaikan nuansa di mana beberapa bagian narasi terasa sedikit dipaksakan, menciptakan secercah kesendatan yang mencolok di tengah-tengah cerita yang sejatinya mengalir begitu lancar.

Seperti karakter Taichi Satoya, adakalanya menjadi penyebab frustrasi bagi saya. Penggambarannya terkadang terasa dipaksakan untuk menciptakan kesan ‘berwatak keras’, namun justru merugikan aspek kealamian karakternya. Sama halnya dengan pengembangan karakter Takami Asakura, yang saya rasa masih memerlukan sentuhan lebih dalam dalam hal perkembangan. Meskipun saya sungguh menikmati alur cerita buku ini, namun sejumlah momen tertentu memberi kesan bahwa masih ada potensi peningkatan.

Selanjutnya, beralih ke aspek alih bahasa, menurut pandangan saya, Joyce Anastasia Setyawan memberikan kemudahan bagi pembaca dalam meresapi pesan yang ingin disampaikan oleh Shichiri Nakayama. Terutama, di tengah padatnya istilah-istilah seputar media massa dan jurnalistik, mungkin bagi pembaca yang belum merambah ranah ini, akan membutuhkan usaha lebih. Namun, terjemahan ini berhasil disampaikan dengan gaya penulisan yang apik, memberikan kemudahan bagi pembaca untuk terhubung dengan konten.

Seiringnya melangkah, catatan kaki dalam terjemahan ini bukan sekadar pendamping setia, melainkan pemandu jitu. Tak hanya memberikan bantuan yang luar biasa, tetapi juga memberikan penjelasan mendalam tentang setiap pilihan kata atau kalimat yang diambil oleh Joyce Anastasia Setyawan. Inilah detail-detail kecil yang bukan hanya memperkaya pengalaman membaca saya, tapi juga mencerminkan dedikasi penuh sang penerjemah untuk memastikan pemahaman yang mendalam dan tak terhingga.

Namun, seakan menyelinap di antara keindahan kata, ada beberapa titik yang mengundang perhatian, terutama soal penataan dan ruang teks. Tata letak yang digunakan terasa seperti kurang selaras, sementara ruang pinggir yang terlalu dekat memberi kesan seperti halaman yang ingin melompat keluar. Pada catatan kaki halaman 276, penempatannya terlalu rapat dengan teks utama, menciptakan potensi gangguan visual yang dapat mengurangi kenyamanan pembaca. Dengan harapan, aspek-aspek ini dapat diperbaiki guna meningkatkan kualitas pengalaman membaca secara keseluruhan, sesuai dengan standar kenyamanan dan estetika yang diinginkan.

Terbenam dalam halaman, The Confession of the Sirens (Nyanyian Sang Siren) melibatkan pembaca dalam sebuah perjalanan yang tak hanya sekadar cerita, melainkan pelayaran penuh angin segar menuju esensi yang tak terlupakan. Dari sampul yang menakjubkan hingga jalinan cerita yang memukau, buku ini membuka gerbang menuju dunia yang penuh misteri dan makna mendalam. Meski beberapa aspek teknis membutuhkan sentuhan tambahan, semoga kekurangan ini justru menjadi bumbu penambah untuk membuat pengalaman membaca ini tak hanya memuaskan dahaga literer, melainkan sebuah ekspedisi mendalam menuju ketinggian yang lebih baik. Seiring halaman terakhir tertutup, harapan saya adalah semoga suara orang-orang yang terpinggirkan akan terus bersuar dan didengarkan. The Confession of the Sirens (Nyanyian Sang Siren) tidak hanya menyudutkan kita dalam kisahnya; ia memperbolehkan kita menyaksikan bukti nyata dari suara mematikan sang siren.
Profile Image for Day Nella.
266 reviews5 followers
April 10, 2025
Bukankah penyidik dan media sama saja? Sebab mereka sama-sama mengejar pelaku kriminalitas . Penyidik dan media itu bagaikan dua orang yang hidup bersama di dunia yang berbeda, walau hal yang dikejar sama, tetapi yang diincar berbeda." Hal 55
-
The Confession Of The Siren
Shichiri Nakayama
Penerbit Clover
Alih Bahasa: Joyce Anastasia Setyawan
Cetakan Pertama, 2023
Tebal 336 Halaman
-
Woah, aku speechless selesai baca ini dan sejak awal nggak memiliki ekspektasi besar. Sejak baca blurbnya aku kepikiran apakah ini fantasi thriller atau hanya kalimat kiasan saja untuk menarik perhatian pembaca sepertiku.
-
Dibuka dengan berita penculikan dan Teito TV baru saja mendapatkan teguran keras untuk kedua kalinya terkait konten yang diberitakan dan harus melakukan pencegahan serta klarifikasi. Karena baru teguran, jadi tim lapangan harus bisa mencari berita terkait berita penculikan tersebut guna mengembalikan nama baik Teito TV. Ada Takami Asakura dan Taichi Satoya kedua reporter yang langsung curi start mencari informasi dan mendatangi keluarga korban penculikan.
-
Sampai mereka mengikuti Kenji Kudou, detektif dari kepolisian untuk bisa mengeruk informasi lebih jauh. Mereka merasa di atas angin meski informasi yang didapatkan tidak terlalu utuh karena pihak kepolisian tidak bisa mengungkap setiap identitas sebelum diumumkan di pers. Satoya merasa puas karena bisa menangkap siapa saja pelaku dan Takami yang menyaksikan secara langsung sang korban yang telah tewas dalam keadaan luar biasa mengenaskan.
Sayangnya semua hal yang mereka beritakan jadi bumerang paling parah. Menyebabkan banyak kesalahan informasi dan membuat orang-orang menjadi tersangka yang salah sasaran. Takami dan Satoya harus membayar mahal akan semua kesalahan yang menyebabkan hal fatal bagi orang-orang yang dirugikan.
-
Pada bagian ini sisi gelap jurnalisme terkuat satu per satu. Penulis menyajikan bagaimana media bisa membuat banyak kesalahan dan kata maaf sama sekali tidak boleh diucapkan karena hanya akan membuat lubang kubur sendiri bagi stasiun TV yang menaungi mereka.
-
Meski dibuka dengan banyak narasi dan informasi. Alurnya cukup kuat serta konflik yang bertumpuk hingga pada bagian penyelesaiannya pun banyak twist dan plot twist yang bermunculan. Sampai pada dunia peliknya jurnalis dan menguak sisi gelap yang bagiku cukup mengerikan tentang berita yang terlalu banyak digoreng.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Danis.
112 reviews2 followers
September 14, 2025
4/5⭐️
Bagus tapi.... ada sesuatu—beberapa hal—yang menurutku bikin gak jadi 5/5.

1. Percakapan di sini pada awalnya bikin aku pusing karena aku gak ngeh itu yang ngomong siapa. Jadi cuma dikasih tanda petik aja & itu bener-bener harus fokus.
2. Takami nih naif tapi idealis, kebanyakan marah-marah tapi definisi 0 besar. Udah dijelasin sih di sinopsis, tapi aku gak menyangka dia senaif itu. Merasa dirinya paling hebat, tapi di sisi lain dia kurang effort buat pekerjaan. Ditambah beban juga, untung seniornya Satoya. Dan dia ceroboh pol, 2x dia mengacaukan penyelidikan & pengintaian. Gampang tersulut emosi pas wawancara sama terduga korban, haduh. Gak banget deh orang ini. Sok jago di depan penyelidik, yah karena dia idealis bahwa jurnalis sepenting itu di masyarakat walaupun dia juga tahu sendiri kadang-kadang cara pendekatan yang dilakukan salah.
3. Satoya keren, contoh senior yang diidam-idamkan. Banyak ngajarin, mau ngajak liputan, mau jadi penanggung jawab.
4. Dari segi plot, aduh wkwkwkwk tertipu banyak pas baca. Di sini aku kasihan sama Satoya sih, padahal dia belum 100% yakin untuk siaran karena penyelidikan dia sendiri belum lengkap menurutnya. Eh, malah disiarkan sama Hyoudou. Dan si tolol Takami dengan bodohnya malah mendukung Hyoudou hanya demi dapat scoop. Dan JENGGGG, salah pemberitaan. Menyesal lagi deh si Takami tolol itu.
5. Karena di atas bahas plot, di sini aku bahas bagian menuju epilog. Ibu Akari, what are you doing?????? Akari, my poor baby. Gak mau angkat telpon anaknya sampai misscall 24x just because kamu merasa anakmu menjauh setelah kamu nikah padahal anakmu belum bisa move on dari ayahnya. Ritsuko deserves to die too. Ritsuko bener-bener egois banget jadi ibu. Gak mau tahu perasaan anaknya, dia cuma berpikir tentang kebahagiaannya sendiri.
6. Terjemahannya ok banget, nyaman & mengalir. Banyak footnote yang menjelaskan beberapa istilah.
7. Font-nya juga nyaman banget di mata!! Aku cocok sama bentuk font & ukurannya. Thank you editor. Bukunya juga floppy, jadi point plus. Tapi sayang gak ada bookmark, emang kebiasaannya Clover nih.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Benangi.
104 reviews
December 22, 2024
Gila si buku ini page turner banget, aku sampai enggak sadar tamatin buku ini cuma dalam waktu hitungan jam (tidak baik untuk ditiru). Kasusnya pelik banget anjerr, tapi yang bikin seru adalah karena sudut pandang pemecahan kasusnya ditilik bukan dari sisi penyidik kepolisian yang mengusut kasusnya, tapi malah dari prespektif reporter berita. Sepanjang baca kerasa banget emosionalnya, dilema yang dihadapin sama bagaimana rasanya perjuangan yang udah kita lakuin sampai pontang panting eh ternyata tidak sesuai harapan.
Buku ini frontal mengkritik sisi gelap jurnalisme dan dampaknya bagi korban maupun pembentukan stigma di masyarakat. Belum lagi isu kebebasan pers yang aku baru paham ternyata sangat bisa menjadi pisau bermata dua. Secara keseluruhan, aku rate 9/10 karena minusnya cuma penerbit clover ini agak pelit buat nyetak pembatas halaman, (aku sampe jadiin lembar stiker buat pembatas bukunya🤣🤣)
Oh iya untuk alurnya sendiri, selain aku greget sama isinya, sepanjang baca aku juga rada salfok sama salah satu karakter di buku ini. Selain tokoh utama dan si detektif, ada satu tokoh sampingan yang bikin aku respect banget, namanya Sutoya. Penggambaran karakternya beneran terasa sebagai rekan kerja sekaligus sosok senior. Penulisnya berhasil menggambarkan bagaimana sosok orang yang udah khatam sama profesinya di dunia jurnalisme dengan jam terbang tinggi.

Sedikit spoiler: Aku beneran nangis waktu Sutoya rela jadi kambing hitam buat tanggungjawab (padahal bukan salahnya dia juga). Beneran sedih selama baca klimaks itu, aku jadi ikutan merasa kehilangan sosok mentor sekaligus partner berharga 😭😭
Profile Image for rahyani.
192 reviews7 followers
August 31, 2024
Diawali dr program berita Afternoon Japan dari Teito TV mendapat teguran keras dr BPO (bertugas mengawasi dan menindak siaran TV) setelah melanggar kode etik penyiaran, akibatnya badan audit internat melakukan sanksi bagi orang-orang yg harusnya bertanggung jawab.

Takami & Satoya sebagai pembawa berita & kameramen yg berusaha mengembalikan nama baik Afternoon Japan menemukan kasus penculikan anak SMA yg berujung dengan pembunuhan. Kasus pembunuhan kali ini diselesaikan dr sudut pandang jurnalis, demi menguak kasus pembunuhan mereka rela terjun ke lapangan & melakukan pengintaian. Melalui perjalanan peliputan Takami & Satoya kita akan diajak menyelami pahit manisnya dunia jurnalistik. Emang ya berita ada bukan untuk kepentingan publik saja demi rating tinggi mereka membuat cerita yg lebih sensasional padahal belum jelas kebenarannya.


PS :
The Confession Of Sirens sama sekali tdk ada hubungannya dengan putri duyung yg jahat, ini analogi yg dibuat oleh detektif Kudou melihat perbuatan Takami, dimana Takami demi menaikkan rating Afternoon Japan membuat prasangka yg membawa para penonton berita curiga & membuat anak SMA yg dicuragainya berusaha bunuh diri tanpa menelusur lebih jauh kebenarannya.

Jujurly, ceritanya agak membosankan & bertele-tele
Profile Image for Hapudin.
290 reviews7 followers
September 11, 2023
Resensi lengkap di sini: https://www.bukuhapudin.com/2023/06/r...

Novel The Confession of The Sirens ini menggabungkan tema misteri dan dunia jurnalisme berita televisi. Kita akan diajak mengungkap kasus pembunuhan Ayaka melalui sudut pandang wartawan berita televisi. Setelah Ayaka ditemukan meninggal, kita diajak menebak siapa pelakunya. Penulis sukses mengecoh kita dengan temuan penyelidikan Satoya dan Takami yang meyakinkan. Bahkan temuan kepolisian pun ternyata belum mengungkap sebenarnya, masih ada layer yang belum terbuka untuk membuktikan pelaku pembunuh sebenarnya.

Dari novel The Confessions of The Sirens, kita bisa belajar dan meyakinkan kembali jika keluarga itu kesatuan. Sudah semestinya saling menarik satu sama lain agar tercipta situasi harmonis. Jangan biarkan salah satu anggota keluarga kita tersesat. Luangkan waktu dan buka telinga, sebab semua orang memiliki beban yang ingin ia ceritakan. karena jika kita tidak mendapatkan tempat yang pas untuk berkeluh kesah, pelariannya adalah lingkungan lain. Ini yang bahaya jika lingkungan itu bobrok. Kalau sudah terperosok, lantas siapa yang akan disalahkan?
Profile Image for Raditya Nandiasa.
137 reviews1 follower
August 2, 2025
⚠️ TW: murder, death, grief, bullying, suicide, mentioning rape, violence

Judul: The Confession of The Sirens
Penulis: Shichiri Nakayama
Rate: 4.0/5

Satoya dan Takami, reporter Afternoon Japan Teito TV ditugaskan untuk meliput dan memburu scoop/berita eksklusif kasus penculikan dan pembunuhan seorang siswi SMA yang menggegerkan. Dalam prosesnya, Takami dihadapkan oleh kenyataan bahwa profesinya tidak semulia yang dia percaya.

- • - • - • - • - • - • - • - • - • - • - • - • - • - • - •

Umumnya, tokoh utama buku misteri adalah detektif yang mencari penyelesaian kasus. Namun, tokoh utama buku ini berprofesi sebagai jurnalis yang meliput kasus yang sedang berjalan. Penulis memiliki maksud mengungkapkan sisi kelam dunia jurnalisme, tapi cara penyampaiannya terlalu idealis dan repetitif. Karena sering membaca tokoh detektif yang melakukan tugasnya dengan baik, tokoh utama buku ini yang naif dan tidak bisa apa-apa membuat saya kesal. Jalan cerita yang lebih banyak "tell" daripada "show" membuat alur terasa datar. Nilai tambah didapatkan dari plot twist yang ada di bagian akhir buku.
Profile Image for Seunghyunjee.
70 reviews2 followers
April 28, 2024
Penyelidikan kasus pembunuhan dalam sebuah novel memang hal yang cukup sering ditemukan oleh pembaca di novel bergenre kriminal, tetapi bagaimana hal itu diceritakan dari sudut pandang para pekerja di bidang jurnalisme? Hal itulah yang berusaha ditonjolkan dalam novel ini. Apalagi, tokoh Takami dan Satoya hendak berperan sebaik 'hero' yang akan menyelamatkan kantor mereka setelah mendapatkan teguran dari Komisi Penyiaran. Pembaca akan diperlihatkan bagaimana Satoya dan Takami melakukan investigasi mandiri demi mendapatkan scoop. Salah satu cara mereka adalah dengan terus menempel pada pergerakan Detektif Kodou. Selama sesi investigasi mandiri, penulis mengajak pembaca untuk menyelami lebih jauh bagaimana cara kerja para jurnalis dalam mengumpulkan material untuk kemudian ditayangkan di televisi atau dicetak di media masa.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nazira.
1 review
January 28, 2024
Sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi yang memiliki mimpi untuk bergabung dalam dunia media massa dan menjadi jurnalis, buku ini merupakan tamparan keras pada saya untuk memikirkan kembali keputusan yang ingin saya ambil atau tetap bertekad untuk mengambil langkah tersebut. Unsur-unsur jurnalistik dan fakta lapangan yang dipaparkan di dalam buku ini sedikit banyak membuka mata dan menambah wawasan saya terkait kenyataan dari profesi tersebut. Seru sekali mengikuti perjalanan Takami & Satoya dalam mencari kebenaran akan kasus ini, dari pergerakan & kesilapan mereka banyak hal yang bisa saya pelajari.
Profile Image for arvy.
9 reviews
October 31, 2024
BAGUS BANGET.
Buku ini bener-bener worth to read, apalagi bagi yang pernah baca second sister, ini termasuk satu kategori walau ga segreget second sister sih.
Segala detail cerita disini di kemas dengan rapih, terjemahan nya bagus sekalii jadi dapat di pahami dengan baik.
Isi buku ini bercerita mengenai cara kerja jurnalistik terutama wartawan, terselip sedikit romance bahkan bisa di bilang ngga ada.
Jujur karakter kudou disini buat ku terkagum-kagum, selain satoya tentunya. Intinya 3 pemeran utama ini saling melengkapi dalam satu kasus. Menunjukan sedikit plot twist, tapi kalau kalian cerdik dan bisa perhatiin hal detail kalian bisa tau siapa villain dibuku ini.
Profile Image for oatmeal77155.
368 reviews
August 9, 2023
🙃 amazingly boring
gw benci dengan narasi yang membosankan, repetitif dan terjemahan yang buruk
tapi diantara itu semua, ada yang menjadi mimpi buruk mayoritas pembaca: narasi menggurui yang dipaksakan-bingung?
baca aja buku ini, selain lu bakal digurui, lu akan menemukan banyak hal nonsense-dialog dialog absurd yg sebenarnya ga penting, tapi kok bisa muncul??
i finished the book btw, hanya untuk mengetahui siapa pelakunya, udah ketahuan, gw cuman fast reading aja ke bagian akhir, endingnya HAELAAAHHH-spoiler: motifnya ga menarik 🫠
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rahmadhini.
49 reviews
August 28, 2025
Jujur waktu tahu siapa pelaku sebenarnya aku gak kaget sih, alias aku dah menduga kalau dialah pembunuhnya,

Shichiri Nakayama berhasil membuat aku bimbang untuk berpihak kepada pihak kepolisian atau kepada media, karena baik dari pihak manapun mereka sama-sama memiliki visi dan misi yang berbeda saat terjadi suatu kasus kriminal. Bagaimana kedua pihak ini berusaha untuk menjaga integritas mereka.
Profile Image for Tyas.
Author 38 books89 followers
September 25, 2023
Ini memang cerita tentang sebuah kasus pembunuhan, namun fokus utamanya bukanlah pemecahan misteri itu sendiri, melainkan pergolakan batin, moral, dan etika seorang jurnalis TV yang berusaha mengejar scoop kasus tersebut. Berkali-kali buku ini tajam mengiris ketika sang jurnalis tersadar bahwa kegegabahannya dalam mengejar berita malah memperburuk keadaan.
1 review
September 30, 2023
Saat mulai membaca tidak berekspektasi banyak. Karena sudah terlanjur beli, hanya ingin menghabiskan isi bacaan.. tapi wow, setelah mulai membaca tidak bisa berhenti. Cerita misteri penculikan ,pembunuhan dilihat dari sudut pandang jurnalisme. Dan penggambaran isi berita yang missjudge bisa mengancurkan hidup orang. Recomended !
Profile Image for Maurina Pratiwi.
152 reviews1 follower
March 11, 2025
Seluk beluk jurnalisme; penulis dengan baik menuliskan cerita yang berlatar belakang jurnalisme yang selama ini jarang sekali kita tahu. Selalu saja di satu sisi hanya datang dari penyidik atau kepolisian, tanpa kita tahu bagaimana perjalanan pers mendapatkan berita dan susah senang mereka menjalaninya.
4,75🌟
Displaying 1 - 30 of 42 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.