Pamusuk Eneste, lahir 19 September 1951 di Padang Matinggi, Sumatra Utara. Menyelesaikan studi pada jurusan Sastera Indonesia, FSUI (1977). Pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah kebudayaan umum FSUI Tifan Sastra (1972-1978), redaktur budaya sk Kampus UI Salemba (1976-1978), dosen Bahasa Indonesia pada Akademi Perawatan St. Carolus, Jakarta (1978), dan Lektor Bahasa Indonesia pada semiar fur Indonesische und Sudseesprachen, Universitas Hamburg, Jerman Barat (1978-1981).
Selain dokumentator, kritikus sastra, penerjemah yang baik, redaktur abadi, hingga dianggap sebagai paus sastra Indonesia—julukan dari Gayus Siagian yang saat itu kesal karena ia dianggap seperti pemimpin tinggi agama yang perkataannya selalu dinanti-nanti—H.B. Jassin juga dikenal sebagai pembela sastra Indonesia.
Mungkin ada yang pernah mendengar isu yang muncul pada tahun 50-an dalam pusaran sastra Indonesia, yaitu kasus plagiat yang dituduhkan kepada Chairil Anwar saat ia mengumumkan sajak-sajak saduran ("Rumahku", "Kepada Peminta-minta", "Orang Berdua", dan "Krawang-Bekasi") dan terjemahannya ("Datang Dara Hilang Dara" dan "Fragmen") atas namanya sendiri, tanpa mencantumkan nama pengarang aslinya.
Ketika itu, Jassin menjelaskan bahwa Chairil melakukan perbuatan memalukan itu karena dalam kondisi sakit yang membutuhkan biaya untuk berobat. Seperti menggugat, akhirnya Jassin mengajukan pertanyaan retoris. “Apakah karena plagiat beberapa sajak, semua sajaknya yang asli pun harus dianggap tidak lagi bernilai? Dan apakah karena itu harus dicopot predikat pelopor Angkatan 45?”
Isu plagiat muncul kembali dalam sastra Indonesia pada tahun 1962. Saat itu yang dituduh sebagai karya jiplakan adalah novel karangan Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939). Novel ini dituduh sebagai jiplakan dari novel Alphonse Karr, Sous les Tilleuls (1832), yang diterjemahkan Luthfi Al-Manfaluthi ke dalam bahasa Arab dengan judul Madjdulin—yang kemudian diterjemahkan A.S. Alatas ke bahasa Indonesia dengan judul Magdalena (1963).
Jassin tak membantah adanya "kemiripan plot" dan "pikiran-pikiran yang mengingatkan pada Magdalena", tetapi menurutnya cerita Hamka punya cara pengungkapan sendiri, pengalaman sendiri, permasalahan sendiri. Lalu, setelah memaparkan persamaan dan perbedaan yang ada pada Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Magdalena, Jassin berkata: “Pada Hamka ada pengaruh Al-Manfaluthi. Ada garis-garis persamaan tema, plot, dan buah pikiran, tapi jelas bahwa Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya sendiri. Anasir pengalaman sendiri dan pengungkapan sendiri demikian kuat, hingga tak dapat orang bicara tentang jiplakan, kecuali kalau tiap pengaruh mau dianggap jiplakan.”
Selain membela sastra Indonesia, Jassin juga tak pernah segan menyampaikan kritiknya kepada para penulis pada masa itu. Ia pun menyampaikan bagaimana cara-cara yang baik dalam menulis kritik sastra.
“Apabila mengkritik,” kata Jassin, “sebaiknya kita dasarkan kritikan kita atas bahan yang dikritik, jangan pada orangnya. Cara yang pertama memberi kita kemungkinan lebih besar untuk bersikap objektif, sedang cara yang kedua akan selalu subjektif. Objektivitas keuntungannya ialah bahwa kita mengemukakan fakta dan tidak hanya perasaan saja. Fakta merupakan kenyataan yang sama bagi semua orang, sedang perasaan terlalu terikat pada kesenangan atau selera seseorang. Tentu bisa juga kita bertolak dari simpati atau antipati yang subjektif terhadap seseorang, lalu mencari alasan-alasan yang objektif untuk menyerang atau memujinya. Dalam hal ini meskipun subjektif, kita juga mencoba mengemukakan argumentasi yang objektif dan inilah menurut pendapat saya kritik yang lengkap dalam dirinya.”