"Tetapi Tuan..., kemustahilan itulah yang kerap kali memupuk cinta."
Itulah yang dikatakan oleh Hamid kepada sosok 'pengarang' ketika mereka berbincang di Mekah. Hamid, seorang yatim piatu miskin berusia 23 tahun, memutuskan untuk mendekatkan diri selamanya kepada yang sublim, Sang Ilahi. Dia pergi dari Padang untuk mengasingkan diri di Mekah, ketika dirinya merasa tidak kuat menahan perih melihat dambaan hatinya ingin dipersunting oleh orang lain.
Zainab, seorang putri hartawan dari Engku Haji Ja'far dan Mak Asiah yang menjadi dambaan hati Hamid, sebenarnya memendam perasaan yang sama. Hanya saja, ketika mereka masih sering bertemu, mereka berdua hanya mampu mengucapkan perasaan masing-masing didalam hati; dan dalam pandangan mata. Alas, dalam novel ini, kisah mereka tidak dapat didefinisikan 'berakhir bahagia': ajal menjemput mereka berdua ketika akhirnya mereka mengetahui perasaan satu sama lain.
Sulit untuk menjumpai ikhwan seperti Hamid yang menerima nasibnya dalam percintaan dengan sepenuhnya menyerahkan diri kepada Ilahi. Sama sulitnya untuk menjumpai akhwat seperti Zainab yang menjaga kesuciannya sampai akhir hayatnya untuk seorang pemuda yang tak ia jumpai selama bertahun-tahun.
Hamka memang bukan penulis yang kompleks, alur ceritanya sangat sederhana, dan penuturannya realis. Novel singkat ini pun tidak banyak berisi pemikiran kritis terhadap Islam ataupun adat tertentu; novel ini lebih terarah kepada arti cinta dalam konteks yang Islami. Berbeda dengan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang sarat dengan kritik Hamka terhadap adat Minang.
Dibalik ketenaran novel ini, bisa dibilang, yang menyebabkan novel ini monumental adalah latar belakangnya yang bersifat religi, Islam. Ketika pertama kali terbit pada tahun 1938, Hamka tidak membahas pergolakan dunia barat dengan adat timur, seperti dalam Layar Terkembang atau Salah Asuhan : dia justru memilih mengangkat masalah pergulatan Islam Modern dengan tradisonalisme adat.
Dan pilihan itu, membawa nafas baru dalam literatur kita: yaitu 'Roman Islami'.