Siapa yang tidak kenal arisan? Siapa yang tidak pernah ikut arisan? Rasanya semua kalangan tahu arisan yang “Indonesia banget”, dari arisan keluarga, RT, kantor, hingga arisan ibu-ibu jetset.
Pasalnya, sekarang di kota-kota besar menjamur tren arisan baru yang tak sekadar narik undian. Para arisan ladies ini berdandan sesuai dress code, berpose “pol” di depan kamera fotografer profesional, dan mau melakukan apa saja demi tampil di majalah gaya hidup. Mengocok undian tinggal kegiatan sampingan.
Based on true stories, Joy Roesma dan Nadia Mulya mengulik habis demam arisan heboh, kaum sosialita, beserta seluk-beluknya. Dari sosialita sungguhan hingga wannabe. Dari arisan piauw hingga tarikan lelaki. Hmmm. Juicy.
2/5 Serasa baca buku pelajaran, isinya tentang arti arisan, peraturan arisan, cara arisan, mana yah untold stories nya, entahlah aku cuma baca sampe separo halaman, aku ngantuk.
Bukunya keren nih karena mengungkap kehidupan arisan kalangan sosialita. Dan ini nyata! Emang bener dulu waktu kecil kalo mamaku arisan itu bajunya biasa aja dan cuman berlangsung paling lama 2 jam. Gak pake acara nyalon segala, apalagi sampe pake dress code hihihi. Dan uang tarikannya pun nggak bisa dibilang gede. Tapi namanya juga beda status sosial dan beda zaman. Jadi apa mau dikata? Kebayang kalo ngelihat schedule para ibu-ibu sosialita ini yang disibukkan dengan berbagai event. Udah mirip kayak wanita karir juga sih. Jadi meski predikat ibu rumah tangga, hampir sebagian waktu mereka dihabisin diluar. Kan anak-anak dan keperluan rumah tangga udah ada yang ngurusin. Asiiik. Kalo dipikir-pikir, aku juga pengen punya kehidupan seperti ini. Nggak perlu mikirin gimana caranya cari duit. Cuman tinggal mikirin duit ini mau dibeliin apa? Mau dipake bisnis atau cuman buat shopping-shopping aja? Kalopun dipake buat ikut arisan, aku pengen ikut arisanya ibu Inti Soebagio. Kayaknya mereka lebih berkelas dan elegan. Lebih ke manfaat sih dibanding ke hura-huranya. Atau bolehlah ikut gabung di arisannya Yenny Simson yang suka travelling. Yang pasti sih aku gak begitu pengen yang pake dress code gila-gilan dan heboh sampe jatuhnya jadi bikin malu dan dicibirin sama pengunjung lain. Iiiih, ogah! Dan aku jadi kepikiran soal ibu-ibu arisan yang ngundang fotografer gitu. Mereka berfoto-foto ria dengan berbagai gaya, bahkan gaya ala stripper pun katanya mereka lakonin demi dibilang keren. Waaah, bener-bener ya. Udah gitu ada juga foto-foto ala paparazzi. Lucu juga sih kalo beneran aku ketemu ibu-ibu sosialita gini di suatu mal atau kafe atau apalah. Aku pasti langsung foto dia dan aku yakin ibu itu malahan seneng karena berhasil menjadi pusat perhatian dan dikira artis beneran hahaha. Gambar ilustrasi di buku ini pun bagus-bagus banget dan mampu mewakili maksud si penulis. Dan daku sebagai pembaca pun semakin tergelitik dengan disuguhinya gambar-gambar keren tersebut. Cuman yang kurang itu masalah pembagian bab sih menurutku. Ada beberapa topik yang muncul lagi di bab lain padahal udah pernah dibahas di bab sebelumnya dan gaya penulisan dan panjangnya penjelasan pun nyaris sama. Jadi rasanya kayak dicerewetin sama buku aja gitu. Gengges hehehe. Kalo gaya berceritanya sih udah okelah menurutku. AKu nggak bosan bacanya. Nah, karena sekarang lagi marak prostitusi kelas atas lewas jalur online, sebenernya di buku Kocok! ini sudah dibahas juga loh isu ini. Jadi karena merasa gaya hidup belum terpenuhi, dan jualan berlian juga tas bermerek dinilai udah biasa, maka lahirlah ibu-ibu sosialita yang menjadi madam supplier bagi mereka yang ingin kencan dengan para sosialita atau artis. Dan memang disebutkan pula kalo penghasilannya bisa menyamai gaji seorang wakil presiden! Jadi kalau seminggu dapat empat orderan aja, dalam waktu sebulan udah bisa beli Alphard! Jadi aku sih nggak kaget lagi waktu kasus prostitusi kelas atas ini mulai terekspos. Ciehhh. Oh iya, di buku ini juga diceritain soal grup arisan yang disebut Swingers. Ini menurutku adalah jenis arisan yang paling gila dan so western banget. Jadi inget ide film Swinging With the Finkels. Tukeran pasangan gitu. Dan parahnya lagi ada komunitas Orgy Night. Yang ini sih bukan jenis grup arisan, tapi tetep aja gila banget aktivitasnya karena ini beneran ada di Indonesia. Gak diceritain banyak sih, Cuman aku jadi teringat sama sebuah komunitas rahasia dan berkesan mistis dan gila di filmnya Tom Cruise berjudul Eyes WIde Shut. Dan setelah aku cek, emang di film itu pun melakukan ritual orgy. Haduuuuh. Tapi yang jelas para sosialita itu nggak semuanya sukanya berhura-hura aja sih. Ada juga yang berotak encer sehingga bisa memanfaatkan ajang arisan ini untuk memperluas jaringan bisnisnya, seperti Mbak Marissa Tumbuan dan Ovie Wu. So, semuanya tinggal kekuatan kepribadian kita masing-masing aja. Apakah kita mudah terbawa arus atau kita bisa menyaring apa yang baik atau buruk untuk kita.
This is one hilarious book about ladies who lunch.. walaupun banyak yang komen: not my cup of tea! tapi ketika saya tilik penulisannya ternyata bukunya lumayan menarik untuk dibeli. Saya jadi inget jaman Jakarta Undercover sedang jaya; buku ini mirip2 gayanya, tapi disertai ilustrasi yang ceria. Sebenernya sih yang bikin saya tertarik itu kartun2nya, karena lagi bosen dengan model Kartun Benny & Mice: Jakarta Luar Dalem, ha3..
"Kocok" merupakan judul yang menarik - mengingatkan orang bahwa kalau arisan itu pakai kocokan untuk mengundi. Sebelum menulis review ini saya iseng meng-google kata "kocok" dan, lo and behold! macem2 hasil pencariannya.. terutama kalau dilihat hasil dari google image, wew ngeri! Balik tentang judul, sepertinya yang harus di-bold di sini adalah kata Socialites, karena ujung2nya cerita tentang kehidupan "tralala" kaum non-dhuafa ini. Banyak cerita aneh dan bikin kesian - iya kesian, karena di saat pemerintah bingung mau menaikkan harga BBM atau tidak, para sosialita ini sibuk pamer tas Birkin versi Buaya Himalaya. (BTW, apa iya di Himalaya nan dingin ada crocs alias buaya?)
Sebagai selingan bacaan berat seperti Anna Karenina maka buku semacam ini berhasil meringankan beban otak, asal hati-hati jangan sampai minder dan buru-buru ingin mencari versi KW tas Birkin pake ngutang.. Sekedar sok name-dropping, di buku ini ada seorang sosialita yang ternyata juga orangtua murid SMP saya, dan ciri-cirinya sangat jelas karena kalau lagi ngambil rapot di sekolah beliau berdandan ala sosialita juga (lah, emang doi sosialita sejati lah yau..)
Saya membeli buku ini bukan karena ingin tahu bagaimana sih dunia arisan dan sosialita masa kini. Saya membeli karena saya ingin tahu, bagaimana dua penulis bukunya mengolah tema arisan itu tadi. Apa saja sih yang ditulis, siapa yang diwawancarai, dan apa lagi yang dilakukannya.
Saya mengira, ini hanyalah tulisan berdasarkan pengalaman pribadi dengan sedikit tambahan riset. Ternyata sebaliknya, riset dan wawancara yang mereka lakukan lebih banyak mendominasi isi buku. Saya suka buku seperti ini. Saya suka tulisan yang tidak hanya mengumbar pendapat pribadi dan mendikte agar pembacanya mengikuti pikiran penulis. Saya suka buku yang memiliki sumber lengkap, memaparkan pendapat yang diperkuat oleh pendapat pakar atau riset.
Itu yang biasa saya lakukan saat menulis artikel di majalah. Karena itu pula saya tahu kalau "rasa majalah" sangat kental dalam buku ini. Ada alokasi halaman dan paragraf untuk para "pendukung" penulisan buku: majalah, provider telepon seluler, cafe, butik, dll. Saya terbiasa memaklumi iklan terselubung semacam ini. Toh ini buku non fiksi. Entah bagaimana kalau penulis-penulis jaman sekarang mulai membisniskan "iklan terselubung" semacam itu dalam karya fiksi mereka. Kalau sampai itu terjadi, semoga saya tidak harus membaca bukunya.
Update seadanya dari hp dan mungkin akan diedit lagi ulasannya.
Buku yang menarik untuk dibaca, memberikan gambaran tentang dunia sosialita yang tentunya jadi bahan baru untuk saya ketahui.
Sebagai seseorang yang tinggalnya jauh dari ibukota, melihat kaum sosialita tentu hanya sebatas dari layar televisi saja dan dari layar instagram. Itu saja sudah membuat kembang-kempis hati ini. Dan di buku ini, kaum jetset itu diulas sedikit dalam sudut pandang "arisan". Menarik? Ya. Membosankan? Tentu saja tidak. Saya baca buku ini dalam dua kali duduk. Bahasanya mengalir, mudah dipahami, ilustrasinya bagus, dan yang menarik adalah dengan disisipkannya foto-foto gengges para pelaku arisan beserta dresscode-nya yang seru dan aneh-aneh. Ada juga yang nggak sih, cuma sekadar foto di kafe begitu saja.
Sebagai pelaku arisan "hakiki", mungkin seru kali ya kalau ikut arisan yang aneh-aneh pakai dresscode dan sebagainya. Buat seru-seruan. Tapi, apakah hakikat arisan memang untuk itu? Tampil kece, makan-makan, nongki cantik, jepret-jepret? Kalau saya sih, ya untuk silaturahmi dan nabung sih. Nggak tahu kalau Mas Anang.
Joy dan Nadia benar-benar mengupas seluk beluk arisan para sosialita (atau yang menganggap diri mereka sosialita) di kota metropolitan, Jakarta. Membaca buku ini membuatku menganga, terperangah hampir tak percaya ternyata masih banyak orang super kaya di negeri ini yang rela menghambur-hamburkan uang untuk dapat tampil mewah. Ini semua agar diliput lalu muncul pada rubrik 'society' di majalah lifestyle terkenal macam Bazaar dan Prestige. Esensi dari arisan yaitu kegiatan untuk sharing cerita telah bergeser menjadi ajang pamer. Salut untuk para penulis yang begitu teliti mencari narasumber untuk dapat berbagi mengenai dunia arisan mereka yang begitu gemerlapan, blng-bling, WAH. Dikemas dengan cover yang menarik serta halaman yang full colour, buku ini cocok untuk dijadikan bacaan ringan selagi menunggu teman-teman arisan datang mungkin :-)
alasan gw beli buku ini: - kebetulan diskon gede beda 20rb dari harga asli udah termasuk ongkir pula *lumayan* - gw perlu tau kehidupan sociallite dari perspektif psikologis dan sosiologis - gw kepo aja pengen tau dunia mereka yg kayaknya untouchable dari dunia gue ini.
buku ini emang agak mahal, ya maklum buku nya juga full colour, tebel dan cetakan nya bagus. awal nya cuma baca2 baca di gramedia, setelah baca 6 halaman jadi tertarik dan pengen beli. gw suka sama buku yg membahas hal2 untouchable dan ga banyak diketahui publik. dan kalau kalian pengen tau kehidupan glamour mereka beserta keanehan2 nya kayaknya buku ini pas banget. sangat membahas realitas sosial yg ada di masyarakat, dan blak2an. tapi kalo ada Kocok! 2 gw ga akan beli sih kayaknya :) udah cukup 'kenyang' dengan buku ini.
Kurang menikmati membaca buku ini. Why? 1. Kebanyakan istilah2 enggresnya. Bukannya ini buku berbahasa Indonesia ya?
2. Ujung2nya yg dibahas sosialita melulu.
3. Kok sepertinya manusia dikotak2an menurut status sosialnya ya?
4. Malah bikin jadi ga kepengen ikut arisan.
Tp ini cm pendapat gw yg awam soal arisan. Tp ada pengetahuan baru, pas baca bagian Arisan Directory, ternyata ada penjahit yg mereknya Tailored Swift. Kreatif juga, hehehe...
Saya berhenti baca ini karena: 1. jengah baca buku Indonesia yang banyak pake kalimat bahasa Inggris 2. bukan topik yang menarik untuk saya dan tidak tahu manfaat apa yang bisa saya ambil dari baca buku ini, mendingan waktu saya dipakai untuk baca buku yang lebih sesuai minat saya
Bukan buku yang jelek, kalau tertarik dengan topik ini, sebenarnya menarik dan bagus.
This book is a a totally my #guiltypleasure, giving readers some knowledge on things that are hidden and we frequently take it for granted. This is kind of a book you carry with you anytime since it suits any kind of activity. waiting for coffee, waiting for your nails get done, waiting in the salon, everything. Shortly, it is light, humorous, yet quite scientific.
Suka sih buku ini. bukan karena pengen jadi sosialité nya tapi karena keingin tahuan pendapat para sosialité terhadap para sosialité lainnya. dan baru tau makna di balik kenapa klo fotoan posenya bgini dan bgitu.hiihihi
awalnya baca sekilas di gramedia tentang buku ini.. gaya bahasanya sih enak dibaca, akhirnya beli via gramediana, mumpung lagi diskon 50% ;p.. membahas tentang berbagai macam gaya arisan mulai dari yang emang bener2 arisan sebagai ajang silaturahmi, untuk bisnis dan sebagai gaya hidup..
Topik yang menarik karena merupakan realita sosial ditulis dengan gaya yang ringan.. Sangat menghibur dari awal sampai akhir.. A good job for first timer writer!!
Belinya pas sekalian beli tugas-tugas ospek, tapi ujung-ujungnya malah ngebaca buku ini semaleman. :)) Anyway, buku yang cukup menarik. Bikin lebih ngeh sama dunia per-arisan-an hahaha.