Dia seharusnya memberikan luka pada gadis itu. Bukan sebaliknya. Dia justru yang harus terluka karena tak mampu mengendalikan perasaannya. Konsekuensi yang harus ditanggung tidak main-main. Sayap malaikatnya harus dicabut. Tapi beruntung, dia masih diberi kesempatan untuk berbagi cerita tentang kisah tragis yang harus dialaminya sebagai Malaikat Pemberi Luka.
Kisah karya para pemenang Sayembara Fantastic. Fiction ini akan menenggelamkanmu ke dalam dunia yang penuh petualangan dan keindahan.
Sebenarnya menulis cerpen itu jauh lebih gampang dibanding menulis novel. Seengga-engganya buat gue dan orang-orang yang gue tahu. Cerpen itu ga harus berpanjang-panjang bikin otak keringetan mikirin kausalitas ekstensif, ga usah pake konflik banyak-banyak, tokohnya juga biasanya bisa diitung jari, belum lagi namanya cerita pendek jadi bikinnya ga lama.
Maka, pas buku ini nongol di Gramedia, tanpa ragu Shengar langsung nyamber buku ini karena kami berdua setuju dengan poin yang gue sebutin di atas sehingga reaksi kami jadi "Wah, kumcer nih! Keaknya bagus! Toh kumcer-kumcer fantasi lokal kan kualitasnya secara general masih relatif lebih baik dibanding novel-novelnya!"
Jadi, kenapa malah gue yang bikin review Arassi? Mari kita dengarkan transkrip suara Shengar bersama-sama :
"%^%$#%^#$%#$@@#@#$@#!!!!#$@%@$#! Ilustrasi apaan ini $%#$%@! Sotosop @#$@#!@$%%% Plagiat @#$@#!$@#%$!~~!#$!#!!!!"
Ya, bisa dibilang dia orang yang sangat... er, 'highbrow' soal ilustrasi. Dan ngomongin ilustrasi, bukan cuma dia, kesan pertama gue aja "Ini buku apa banget sih? Ga usah pake ilustrasi sekalian kalau jatuhnya begini." gitu. Maaf, tapi beneran momen-momen Narm selalu menyertai dimulainya cerita baru gara-gara ilustrasi yang... yah, yang bukan ilustrasi begitu. Bukan berarti gue ga menghargai penerbit tentu saja, tapi mohon dengan sangat karena ilustrasi bukanlah sebuah kewajiban, jadi jangan dipaksakan kalau jatuhnya... em, sedikit Dadaist wannabe.
Oke sekian buat ilustrasi, mari kita maju ke makanan utama.
Nora Antoine by Icha Azania
Originalitasnya... hmm, tak buruk. Meskipun tema umumnya sudah sering sekali dieksplorasi, tapi cukup orisinil juga soal kutukan itu. Soal jalan cerita, entah kenapa gue ngerasa kalau cerita ini seperti kena gunting. Dipotong-potong sama si penulis karena kurang memenuhi batasan kata (yang gue tebak paling di kisaran ~2000an)? #sotoy Kalau bener begitu, ini sebenarnya penyakit yang menghinggapi penulis-penulis di sekeliling gue, lol. Masalahnya adalah, pemotongan ini bikin ceritanya kurang 'greng'. Berasa ngeliat bapak-bapak yang numpang lewat mau ke kamar kecil di belakang rumah pas lagi tahlilan : Dapat perhatian tak terduga iya, membekas di ingatan engga.
Karakterisasi disini juga terasa datar. Ga ada simpati (apa karena kependekan?). Entah kenapa. Meskipun endingnya agak tak diduga dan lumayan pleasing. Gaya penulisan juga nothing special, not good not bad.
Rating : 2/5
Kembali by Sani Nurahayu
Originalitas? Hampir nil. Gue udah sering sering sering sekali liat cerita dengan premis ginian. Soal jalan ceritanya, secara keseluruhan gue cuma agak pleased dengan endingnya, dan itu cuma agak. Udah sedikit sering 'twist' yang seperti ini, dan sisanya biasa-biasa aja. Ga bener-bener menarik. Bukan karena badwriting, melainkan karena sepertinya pengarang tidak berani untuk lebih banyak melakukan sesuatu yang beda (ending seperti itu tidak 'beda' lagipula menurut gue). Sekedar saran, Quentin Crisp pernah berkata "Originalitas itu bukan melangkah diagonal ketika orang lain melangkah horizontal dan vertikal." Karakterisasi juga terlalu archetype. Gaya penulisan? Biasa aja.
Rating : 1/5
83845 by Angela Oscario
Lumayan orisinil. Premisnya tidak terlalu belibet tapi menarik. Jalan ceritanya benar-benar memanfaatkan batasan kata yang sedikit dengan tidak terlalu bertele-tele dalam hal-hal yang kurang penting (mengingat batasannya) namun mampu menggambarkan dunianya secara spot-on tanpa basa-basi. Gue suka sekali bagaimana pemberian sebuah nama jadi simbolisme kebebasan bagi manusia (also, dat pun. lol) begitu pula karakterisasi yang cukup baik. Gaya penulisan? Tak usah ditanya, keadaan manusia di cerpen ini tergurat dengan baik sekali.
Rating : 4/5
Biru by Nastiti Denny
Putri raja? Check. Cewe dunia lain cinta cowo Bumi? Check. Orangtua agak represif? Check. Penasihat raja yang jahat? Check. Jalan ceritanya kurang memuaskan buat gue. Subplot romance dengan cowo Bumi itu berasa bener-bener tempelan doang, sumpah. Unnecessary. Belum lagi pengarang sepertinya kurang beradaptasi dengan batasan kata sehingga banyak deskripsi bertele-tele terus tiba-tiba plot maju cepat di klimaks. Ini surprise, tapi bukan surprise yang bagus. Karakter? Archetype abiezz.
Rating : 1/5
Mutiara Mimosa by Chen Chen
Harus gue akui, gue selalu ngebayangin pengarangnya nulis ini dengan dua gunting di tangan kiri sama kanannya. Entah emang pemotongannya parah atau emang nulisnya seperti ini, tapi kesan yang gue dapet adalah :
Muter muter bertele tele -> Tiba tiba maju cepet banget -> Muter muter lagi -> Tiba-tiba maju cepet banget
And on and on and on. Berasa gak jelas. Adegan Nadezhda nangis misalnya, gue malah ngerasa dia emo gara-garanya ga ada build up sama sekali sebelumnya. It's all so sudden. Bener-bener sudden. Pesan moral : Jangan memaksakan plot novella 25000 kata ke dalam cerpen <2000 kata. Pokoknya jangan.
Rating : 1/5
Wina the Witch by Ria Tumimomor
LOLOLOLOLOL ILUSTRASINYA PLAGIAT DRAGON AGE
Lagi-lagi, originalitasnya nyaris nil. Cewe penyihir yang nyembunyiin kekuatannya? Cek. Orangtua sekaligus mentor? Cek. Cewe populer tapi sombong binti sinis? Cek. Eksekusi ceritanya juga kering. Romansa maksa di akhir, kemudian konflik yang ada juga kurang... yah, kurang bedanya lah baik dari inti maupun eksekusi. Gaya penulisannya juga sayangnya ga membantu mendongkrak rating cerita ini di mata gue.
Rating : 1/5
Apa Arti Kebebasan? by Susanty Tandra
Originalitas, not bad. Endingnya pantes dapet poin plus karena cukup twisting, cukup membuat gue wow. Jalan ceritanya sendiri ga buruk-buruk banget juga. Cuma ada satu plothole pas si Profesor membuka tabung air si tokoh utama. Hello? Itu dia udah keliatan ngamuk-ngamuk di tabung. Kacamatanya ga dipake atau gimana ini para so-called ilmuwan? Karakterisasi juga kurang enak di tokoh utamanya, yang menurut gue bisa diperdalam lagi. Gaya penulisan biasa saja. Punya potensi, tapi eksekusi belum maksimal.
Rating : 2,5/5
Gelang Lelyard by Alexia DeeChen
Sebenarnya ini kisah yang sedikit disturbing. Lumayan orisinil terutama kejadian-kejadian tak terduga dan endingnya. Gelang Lelyard (dan Lelyardnya) terasa benar-benar seperti artefak dunia nyata, tidak seperti alat : sinister. Jalan ceritanya dikemas cukup menarik, meskipun awal-awal melelahkan (apalagi karena bau-bau klisenya di awal agak kuat, untungnya tidak terbukti) tapi makin menanjak hingga eskalasi dan ending yang bagus. Karakterisasi juga bagus. Gaya penulisan, nothing special. Overall quite decent.
Rating : 3,5/5
Jack & Unicorn by Rickman Roedavan
Dangkal. Itu yang gue dapet habis baca cerita ini. Endingnya tipikal bittersweet. Ceritanya ga jelek-jelek banget tapi dibilang bagus juga ga enak. Intended effect dari pengarang ga kerasa sama sekali. Ga membekas. Yang ini mirip ngeliat bus yang ada iklan minuman penyegarnya : "Oh gitu ya" doang. Mencapai titik ini, gue mulai capek. Beneran capek.
Rating : 1,5/5
Jantung Naga by Feby Anggra
Sebenarnya disini pasangan Sigurd x Filly lumayan nyambung. Sayangnya, dari awal endingnya bener-bener bisa diprediksi dengan mudah. Malah sebenarnya gue mengharapkan ending yang berbeda (karena kebanyakan cerita disini kuat endingnya mungkin) sayang endingnya persis seperti prediksi gue. Twist soal si naga lumayan bagus, dan diksinya patut dipuji.
Rating : 3/5
Malaikat Pemberi Luka by Ginanjar Teguh Iman
Entah gue sensi apa gimana, tapi pas gue liat judulnya yang terpikir itu 'malaikat' yang EMO dan g4l4u r14. Eh ternyata bener. It's not that i hate angst (after all i write angsty stories) tapi eksekusinya itu ga memberi sesuatu yang beda. "Gue-cinta-dia-tapi-kita-beda" ga ditelusuri lebih dalam atau ditambahin elemen lain lagi. Ngantuk gue baca yang ini. POV yang ganti-gantinya keseringan itu juga agak melelahkan. Belum karakter cewenya cuma seperti MacGuffin alias plot driver.
Rating : 1,5/5
Ray of Light by Fay Shalamar
Tar. Itu beneran vokalisnya Tokio Hotel di ilustrasinya? Ciyus?
Eng... menurut hemat gue, ini cerita yang paling jeblok di kumcer ini. Penulisannya terasa terlalu juvenil untuk cerita yang semestinya 'serious business' gini. Penggunaan onomatopeia nya juga bikin sakit mata, sebel, dan ngakak sekaligus saking k3jU nya. Oh, sori. Memang serious business disini terasa sangat sangat sangat tidak penting. Gimana engga kalau si tokoh utamanya itu tiba-tiba aja disebut Chosen One di tengah cerita tapi kerjanya cuma jagain satu berkas doang. Dan jangan lupa dialognya PENUH CAPS. Endingnya? Tabrakan sama cewe terus kenalan, a la anime. SERIUSAN.
Rating : 1/5
Sang Pemanah Fajar by Alfian Daniear
Gue ngakak dulu bentar ya. "Puisi" yang ada di awal cerita itu Narm abis. Parah lah.
Penyakit yang ada di banyak cerpen lain di kumcer ini kembali. Pacing jelek, batasan kata ga diperhitungkan dengan baik, all so sudden. Padahal gue suka ritual jadi Pemanah Fajar itu. Banget. Sayang lah seriusan, ngapain juga ada subplot tasteless soal peri? Ngapain? Batas kata udah tinggal dikit lagi baru dimunculin plotnya. Sayang banget padahal.
Rating : 2/5
The Jin by Shine Cyrus & Aoi Shinji
Cerita favorit gue. Lumayan orisinil, gue suka konsep sihir yang harus 'dihabisin' sama pemilik bakatnya. Jalan cerita bagus. Bagus banget. Gimana Hyu dan kakaknya ngelawan si jin, hingga ending yang saking bagusnya ga akan gue kasih spoiler disini, rapi sekali. Bagian yang paling gue suka tapinya tentu di karakterisasi. Sosok Hyu yang kekuatan sihirnya sangat potent tapi mau merintah jin aja harus disuruh kakaknya dan dikit-dikit penakut unik sekali. Sosok jin yang... agak eksistensialis (?) dan sifat genie-nya kerasa juga jadi favorit. Cerita yang terbaik di kumcer ini.
Rating : 5/5
Arassi by Anggari Purnama Dewi
Hm, entah karena gue capek atau cerita ini emang kurang nendang, gue ga bisa sepenuhnya enjoy bacanya. Meskipun emang wajar kalau jadi title story (dan keaknya pemenang) karena cerita ini memang tak buruk. Lumayan dapat pesannya. Mungkin karena kisah angel-in-love udah ada tadi, jadi gue kurang enjoy. Mungkin karena gue emang ga suka premis malaikat bisa jatuh cinta, jadi gue kurang enjoy. Atau karena bagian awalnya melelahkan. Meskipun gue suka gimana si Julian dapet epiphany pas nyaksiin drama manusia.
Rating : 3/5
Total : 2/5
Mungkin semacam afterword dari gue, kok gue makin prihatin ya sama kualitas fiksi fantasi Indonesia. I mean, ini pemenang lomba atau semua pesertanya? Kok bisa ada disparasi yang agak parah? Apa karena kurang exposure jadi yang ikut kurang banyak? Preferensi juri yang agak... "komersil"? Apa karena ekspektasi gue aja yang ngarep kalau hasil lomba ini sebagus Fantasy Fiesta? Entahlah.
Dan soal penulisnya, memang penyakit kok dimana-mana sulitnya adaptasi dengan jumlah kata yang terbatas. Tapi jangan sampai berontak terus ngotot pakai konsep yang terlalu 'wah' dan kaya. Ga usah kebanyakan grandeur. Ga usah bikin cerita 'totally epic east-to-west heroic quest to save the world' kecuali sepotongnya aja (meskipun hero's journey yang ga panjang-panjang amir masih bisa banget). Belajarlah menahan diri.
Seharusnya akan ada penulis fantasi Indonesia yang sefantastis JK Rowling nantinya. Ada 15 cerpen dalam buku ini. Bergenre fantasi dan kebanyakan bercita rasa western. Mungkin nanti akan ada cerita fantasi bercita rasa nusantara yang lahir oleh penulis-penulis Indonesia. Overall.. ceritanya banyak yang bagus. walau ada yg cukup membosankan narasinya pada 2-3 cerpen kali ya.. Selebihnya.. keren! Hei..gak mudah kan menulis cerita fantasi. Cuma yaa..saya agak ragu dgn cerpen "apa arti kebebasan?" sepertinya lebih terasa scifi.
Well.. lewat review ini, saya mau ucapin selamat buat Ria Tumimomor dan Nastiti Denny yang cerpen mereka terpilih masuk ke dalam antologi Arassi ini. Good job! ;)
Saia bahkan udah lupa isi cerpen-cerpennya (karena ngebacanya tahun lalu ^^;) waktu naskahnya masih berupa .pdf Dan karena waktu itu pas repot2 nya, saia ingat ada sebagian cerpen yang saia baca via BB dan bacanya di pasar pula XD
uhm~ eniwei saia cukup menikmati isinya walau membacanya dengan metode kayak diatas XD
ini kumcer yang menarik dengan tema dan sub-genre cerita yang beragam ^_^
congrats dan lima bintang buat semua penulis yang berpartisipasi :)
Selayaknya kumpulan cerpen, ada yang cocok dengan saya dan ada juga yang tidak. Beberapa yang bagus menurut saya: 1. Gelang Lelyard Saya suka dengan adegan aksinya. Penulis berhasil menggambarkan dengan baik adegan terbang dan adegan aksi saat si jin dan si tokoh utama melarikan diri. Endingnya agak-agak ala film horor barat. Secara keseluruhan cukup bagus.
2. The Jin Kedua karakter kakak dan adiknya menarik. Saya juga suka dengan akhir ceritanya.
3. 83845 Very disturbing. Agak mengingatkan saya pada Delirium dan cerpen "Selamat Datang di Wonderland" di FF 2011.
Yang kurang saya sukai jumlahnya lebih banyak sih: 1. Kembali Cerpen ini terlalu mirip dengan "Menuju Akhir Masa" di FF 2011. Lucunya, si penulis "Menuju Akhir Masa", Shienny M. S. adalah salah satu ambasador buku yang namanya mejeng di kover depan.
2. Biru Er, strateginya Marta adalah makan kelopak mawar biru dan terjun ke bumi? Huh? Kenapa dia repot-repot untuk menerobos pertahanan si penyihir? Atau itu ide yang dia dapat dalam perjalanannya? Kenapa tidak turun ke bumi saja dan menggunakan kekuatan mawar biru itu? Toh sama saja kan kalau dipakai dari bumi. Tetap bisa meredam sihir jahat si penyihir.
3. Mutiara Mimosa Jujur saya gak ngeh ini sebenarnya cerita tentang apa. Di depan dibilang mau pergi menaklukkan Tuhan, tapi ceritanya lalu jadi berputar-putar dan akhirnya kurang jelas.
4. Wina the Witch Bad version of Sabrina the Teenage Witch.
5. Ray of Light Sorry to say, for me, this is the worst story of the book. Ceritanya tidak jelas dan adegan pertarungannya juga... Pfft... Konsepnya terlalu novel untuk cerpen, sehingga terlalu banyak hal yang tidak sempat diceritakan. Saya pikir cerita ini ditulis seorang remaja tanggung, tapi ternyata ditulis oleh seseorang yang sudah S1 di bidang Sastra Jepang. Hmm...
6. Sang Pemanah Fajar Ini juga ceritanya kurang jelas untuk saya. Saya kurang nangkap posisi Pemanah Fajar ini sebenarnya sepenting apa. Ujian untuk menjadi seorang Pemanah Fajar juga kurang greget buat saya dan menurutku kalau tidak dimasukkan juga tidak berpengaruh ke cerita. Mending kalau si tokoh utama memang sudah menjadi seorang Pemanah Fajar sejak awal dan konfliknya berfokus pada perasaan bimbangnya untuk menghancurkan bangsa peri atau tidak.
Sisanya biasa saja. Tidak jelek tapi tidak terlalu berkesan juga.
Secara keseluruhan saya hanya bisa kasih 2 bintang karena perbandingan antara cerpen yang saya suka-tidak suka-biasa saja terlalu timpang ke arah tidak suka dan biasa saja.
Biarpun ada 15 cerita dalam kumcer ini, tapi masing-masing cerita sendiri kira-kira ditulis dalam kuota 2000an kata, jadi saya bisa baca dengan lumayan cepat (selain bahwa saya sedang liburan sih :P).
Hmm. Karena ini kumcer, saya bahas singkat masing-masing cerita deh, rawr.
*lalu ketika menyalin judul masing-masing cerita, saya teriak: "KOK GAK ADA DAFTAR ISI THOOOOOOOOOO, RAWR!"*
- Nora Antoine
Cerita ini langsung bikin saya ngecek wikipedia utk melihat apakah ada sejarah betulan yang dilibatkan di sini atau tidak. (rasanya nggak, setelah kroscek)
Saya lumayan suka dengan perkembangan plotnya, rawr. Yang agak saya pertanyakan adalah ketika bagian cerita di Candoralium. Seolah-olah bingung harus menjadikan tempat persinggahan sementara itu seperti apa, penulis memutuskan untuk membuatnya sebagai sejenis sekolahan, lengkap dengan pelajaran yang saya bingung kenapa harus dianjarkan di Candoralium.
Oh, rite. Just asking, barangkali penulisnya baca review ini: kalo Nora berhasil mencegah kutukan dilancarkan pada leluhurnya, itu artinya dia nggak perlu mati akibat kutukan dan ada potensi bahwa nasib para keturunan Antoine berbeda jauh dan Nora tidak pernah dilahirkan dong? Kayaknya bakal kacau balau dan runyam deh kalo gitu caranya ...
- Kembali
Ih, ini cerita miris amat. :v
Biarpun ketebak arahnya ke mana, saya enjoy aja baca cerita ini. Agak gak jelas tapi di akhir cerita karena si aku sempat masih eksis bersama orang yg dia cintai, tapi setelahnya dia melihat segala sesuatunya sebagai pengamat belaka tanpa terlibat dengan orang yg dia cintai.
- 83845
Aah, ini konsepnya rada mirip ama film Daybreakers dan The Matrix. Tapi, buat saya tetap oke, rawr.
- Biru
Sempat bingung dengan settingnya. Saya kira ala Sailormoon yg ada Kerajaan Bulan dan Kerajaan Bumi, tapi ternyata yg satu lagi Kerajaan Langit. Nama karakter utamanya, Martha, terasa melenceng di antara nama-nama semacam Raja Langit, Ratu Langit. Mungkin karena kalo dikasih nama "Putri Langit" garing kali yah?
- Mutiara Mimosa
Motif pencarian Mutiara Mimosa-nya kurang ketangkep buat saya, rawr. Dan lagi, ada pohon mimosa, lalu kenapa ada juga Mutiara Mimosa?
Pembunuhan yang ada di tengah-tengah cerita janggal banget jatuhnya karena karakter-karakternya menanggapi dengan datar dan biasa-biasa saja. :v
- Wina the Witch
Saya nyaris nggak pernah baca teenlit dan nonton serial remaja, jadi kalau di review lain ada yang bilang ini tipikal ceritanya mirip serial remaja apa gitu, saya tidak bisa bilang mirip beneran ato nggak. :P
Tapi cerita ini sendiri oke kok, rawr.
- Apa Arti Kebebasan?
Owo, ini ceritanya asyik. Saya suka dengan nuansa sci-fi-nya. Endingnya mengejutkan tapi tidak dalam artian baik maupun jelek. Ketika tiba di ending, reaksi saya adalah "He? Ternyata dunia luarnya seganas itu? Gelo juga." Tak terduga, tapi saya cenderung datar aja menanggapinya.
- Gelang Lelyard
Kalo udah bawa2 King Solomon, memang nyerempetnya ke jin yak kebanyakan. :P Apakah ini terinspirasi dari The Ring of Solomon ato bukan, saya tidak begitu memikirkan.
- Jack & Unicorn
Kirain kalo urusannya sama Rickman Roedavan, bakalan nemu cerita kocak, tapi ternyata nggak. :P
Hmm, gak ada komentar dari saya untuk cerita ini, btw.
- Jantung Naga
Twist cerita di akhir--jika itu twist--ketebak sih dari awal. Bagian paling menarik dari cerita ini adalah di bagian si protagonis mendapatkan jantung naganya yang ternyataaaa ... .
- Malaikat Pemberi Luka
Saya akan mengajukan pertanyaan saja: tepatnya luka macam apa sih yang diberikan oleh Malaikat Pemberi Luka itu? :v Luka batin? Saya gak ngerti kenapa harus ada peran malaikat seperti itu, rawr.
- Ray of Light
Ini ceritanya terasa pabaliut (berbelit-belit, kusut, tapi buat yg lbh ngerti bhs Sunda dibanding saya, tolong dibenerin terjemahan benernya dari kata "pabaliut"). Awalnya Ray disuruh bawa benda penting ke suatu tempat, yang melewati ato malah diduduki musuh. Terus benda pentingnya buntutnya diteleport ke tempat yang aman. Kenapa pake acara dibawa2 ke sana kemari kalo akhirnya bisa diteleport ke suatu tempat yang aman? :v
Saya ngerti poin ceritanya gimana, tapi sepertinya ketika membuat cerita ini penulisnya buru-buru dan kurang matang merencanakan ceritanya.
- Sang Pemanah Fajar
Kenapa nama gelarnya Pemanah Fajar ketika mereka beraksinya di malam hari ...? Untuk cerita ini, saya cuma mau tanya itu aja deh. Karena ceritanya sendiri udah oke.
- The Jin
Kenapa judulnya The Jin bukan The Genie? Karena kebetulan saya lagi baca The Blue Djinn of Babylon (buku kedua serial Children of The Lamp), twist tentang jin-nya jadi kurang nonjok lagi buat saya. Tapi, kalo memposisikan diri saya belum baca Children of the Lamp, cerita ini punya plot yang menarik, rawr.
- Arassi
Hmm, tema tentang malaikat memang bisa dieksplorasi lebih mendalam, tapi jujur saja, di kumcer ini ada dua cerita tentang malaikat--termasuk Arassi ini--dan dua2nya bertemakan cinta. Rasanya ketika membaca cerita terakhir ini, saya jadi biasa-biasa saja.
Yang bikin saya ngasih 2 bintang doang (penting banget sampe kudu dibold pas ditulis di review)
ILUSTRASINYA!
Siapapun yang merancang layout dalam dari kumcer ini, pengen banget deh saya omelin. :v
Kenapa--ya ampun--kenapa ilustrasi dan gambar yang ada di dalam kumcer ini begitu apa adanya??? :v
Kenapa--ya ampun--kenapa kalo memang gak mampu dan gak perlu diberi ilustrasi dan gambar, masih dipaksakan dimasukin ilustrasi dan gambar, udah gitu dilakukannya dengan setengah hati??? :v
Sebagian besar ilustrasi di sini terlihat mengambil dari internet, entah dari deviantart atau dari mana. Salah satu yang berhasil saya temukan adalah ini:
Itu Morrigan dari game Dragon Age, silakan kroscek gambar di cerita Wina the Witch dalam kumcer ini.
Buat penerbit yang saya anggap sudah terkenal dan cukup besar, ilustrasi setengah hati ini bikin saya kesal. Mereka menganggap remeh kumcer ini? Dianggap produk sampingan nggak penting? GRAO. Yang bener aja! :| :| :|
Oh, anyway, saya sebenarnya ikutan juga, lomba menulis cerpen Fantastic Fiction yg diadakan Ufuk tahun 2012 ini, yang 15 cerita terpilihnya dikompilasi menjadi kumcer ini. Tapi saya cuma masuk ke 100 besar atau berapa itu. Karena seingat saya tidak ada larangan untuk mempublikasikan di blog, saya memposting cerita saya di sini. Promosi gak tahu malu Barangkali ada yang mau baca. :P
Jadi ini adalah kumcer fantasi lokal ke-3 yang saya baca di bulan Agustus. Namun tidak seperti 2 buku sebelumnya, kali ini saya merasa agak kecewa dengan bukunya. Lebih tepatnya beberapa cerpennya yang menurut saya eksekusinya sangat poor (IMO). Langsung saja saya mulai dan sekalian penjelasan mengenai rate yang saya pakai untuk menilainya : -Exceed Expectation (E) artinya cerita cukup baik, plotnya terstruktur, gaya bahasa mudah dimengerti dan yang terutama saya tetap bisa mengingat ceritanya sesudah saya selesai saya membacanya. Istilahnya cukup well written deh -Acceptable (A) artinya cerita dan plot sudah oke, penuturannya mudah dipahami hanya saja seharusnya cerita bisa lebih baik. -Poor (P) artinya cerita lemah, penuturannya ngejelimet (please CMIIW the spelling), plot ngga rapih karena terlalu banyak adegan kutu loncat. Dengan kata lain, cerpen perlu ditulis ulang.
Troll? yah saya tergelitik untuk memberikan nilai itu, tapi sudahlah, bagaimana pun sekiranya bagi yang sudah mencoba menulis, selesai, dan mengirimkannya ke penerbit, apa pun hasilnya, menurut saya tidak selayaknya diberi nilai T.
Pertama : Cover Sepertinya UFUK gemar sekali memakai kaver yang berbau malaikat. Mungkinkah ini karena seri terbitan UFUK yang mengandung unsur malaikat laris manis (Halo, Hush.Hush)? yah bisa jadi, karena biasanya pembaca (terutama cewek) selalu suka sama mahluk-mahluk fantasi yang berbau malaikat. Mungkin karena penggambaran malaikat itu cantik, tampan, bersayap, apalagi kalau malaikat cowoknya bertelanjang dada dan six pack pokoknya keren githu lah.
“Tipis kemungkinan untuk mendapatkan segala sesuatu yang kita harapkan.” (hal. 74)
“Jangan mudah terpesona akan segala sesuatu yang terlihat indah dari luar, Wina. Belajarlah melihat orang lain dari dalam hati mereka….” (hal. 75)
Nice. Imajinasinya luar biasa hebat. Ini nih imajinasi terliar mereka. Berulang kali saya dibuat takjub dan merinding. Penulis muda Indonesia memang TOP lah. Tapi sayangnya tidak semua cerpen yang ada mampu membuat saya berkesan. It’s okay…saya tidak mengatakan itu jelek lho ya ! Mana mungkin memang lomba kalau cerpennya jelek. Tidak. Bukan begitu. Cerpennya bagus, idenya bahkan unik. Tapi…setiap orang kan punya penilaian masing-masing. Jadi, dari semuanya saya lebih suka yang terakhir. Judulnya Arassi.
“Katakan, apakah itu benar ?” “Tidak.” “Apakah itu benar?” “Tidak.” “Kau mencintaiku?” “Tidak.” “Apa kau mencintaiku?” “Tidak sama sekali.” “Apa kau mencintaiku?” “Baiklah, itu benar.” (hal. 234)
Yup…sepenggal percakapan yang mampu membuat saya meleleh seketika. Okay…saya lebay. Tapi itu percakapan favorit saya di dalam cerpen Arassi. Penggambaran karakter para tokohnya juga sangat bervariasi. Menambah novel ini semakin menarik dan berbeda.
Sekarang saya mau komen kekurangannya. Yup…covernya. Saya tidak suka dengan covernya. Terlalu gelap dan nggak jelas. Iya saya tahu kalau gambarnya malaikat. Tapi wajahnya ya jangan gelap gitu dong ! Dulu awal-awal bimbang mau beli atau nggak. Soalnya covernya kurang menarik minat para pembaca. Tapi untungnya isi dalam cerpennya Amazing semua ! Nggak jadi kecewa deh. Overall, variasi kisah fantasy yang ada dalam novel ini buaguss banget ! I Like it.