Jump to ratings and reviews
Rate this book

CoupL(ov)e

Rate this book
Kau tahu, kenapa orang menikah selalu mendapat ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru”?
Karena mereka harus meninggalkan orang-orang yang pernah mereka cintai di masa lalu.

***

Perjanjian konyol itu merusak semua cita dan anganku.
Sungguh, tak pernah aku bermimpi akan bersanding denganmu di pelaminan.
Ditambah lagi menghabiskan hidup hingga tua bersamamu.

Bagiku, kau tidak lebih dari sekadar sahabat yang sangat baik,
yang setia menjadi pendengar kisah suka dukaku,
yang punya bahu kuat untuk kusandarkan kepalaku dengan mata sembab karena tangis,
dan yang selalu menjadi penyemangat untukku jalani hidup.

Haruskah aku seorang Halya menyerah pada fakta?
Seperti katamu, sahabatku Raka .... Komitmen itu seharusnya dipertahankan, bukan dilepaskan.
Tapi yakinkah juga dirimu, kita akan sanggup bertahan?

396 pages, Paperback

First published February 1, 2013

80 people are currently reading
1130 people want to read

About the author

Rhein Fathia

7 books173 followers
Unromantic Author who writes romance novels.

She was born in and grew up Indonesia, now living in Prague, Czech Republic. Rhein is a cat person, love traveling, sometimes jumped to stupid situations, and always seek for adventurous things.

Her first novel published when she was in senior high school. Once she stopped writing novel when she was studied in university majoring Physics (sure, she was busy writing lab reports). After graduated, she's back writing novel and traveling until now.

Follow her daily activities on instagram and twitter: @rheinfathia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
318 (42%)
4 stars
257 (34%)
3 stars
111 (14%)
2 stars
43 (5%)
1 star
17 (2%)
Displaying 1 - 30 of 127 reviews
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
March 14, 2013
Kau tahu, kenapa orang menikah selalu mendapat ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru”?
Karena mereka harus meninggalkan orang-orang yang pernah mereka cintai di masa lalu


Ini bukan hanya tentang sahabat yang akhirnya saling mencintai, kemudian menikah dan hidup berbahagia selamanya. Tidak sesimple itu. Ini tentang Halya dan Raka, 2 sahabat yang saling nyaman satu sama lain, saling berbagi apa saja, tapi apakah itu termasuk berbagi dalam suatu ikatan pernikahan? Ini tentang cinta yang terpendam, rasa sakit akan kehilangan, patah hati, cinta pertama yang hadir kembali, pernikahan dan persahabatan yang dipertaruhkan. Sanggupkah Halya dan Raka membangun rumah tangga mereka atas dasar persahabatan? Apakah cinta bisa terbangun diantara mereka? Sanggupkah mereka bertahan dikala cinta masa lalu menyapa? Baca sendiri kisah mereka ini ^^

Aku sebenarnya sudah pernah membaca beberapa bab awal dari penulis saat masih belum dicetak, dan aku suka dengan ceritanya. Hingga di akhir halaman aku membaca kisah Halya dan Raka, aku bisa cukup tersenyum puas dengan endingnya ^^ Penulis bisa menjalin cerita ini menjadi sebuah cerita yang mengalir perlahan demi perlahan, aku suka dengan chemistry diantara para tokoh, semua terasa pas. Membaca tahun demi tahun perjalanan hidup Halya, Raka, Gilang, Rina itu aku jadi bisa larut dengan kisah mereka dan bisa menyelami perasaan mereka. Namun, ada 1 tokoh yang begitu melekat "Gilang". Entah kenapa, sosoknya yang begitu penuh kejutan dan penyayang itu membuatku jatuh cinta.

Overall, I love this story. Ini bacaan ringan yang "tidak ringan". Covernya juga adem banget lihatnya ^^.
Profile Image for Yuni.
88 reviews49 followers
January 16, 2015
Kesan pertama setelah baca buku ini: err, speechless. banget.

Mungkin karena hilang fokus di tengah-tengah, ya... jadi aku namatin novel ini tanpa kesan sama sekali, baik itu kesan 'wow' ataupun 'meh'.

Dan, btw, kenapa bisa hilang fokus di tengah-tengah? Karena ceritanya took turn for the worse (read: boring) sewaktu masuk ke bagian kilas balik itu dan cerita itu made up hampir separuh isi buku.

Why is it boring for me? Imho, it was in the past, now is present dan di present time itu ada satu konflik mendesak dan lebih menarik untuk disimak, so buat apa balik-balik lagi ke masa lalu buat background story?

I admit, the background story is important, tapi di novel ini bakal lebih nampol lagi kalo background story-nya dikemas dalam adegan yang singkat, padet, dan penuh makna, bukannya bertele-tele panjang kali lebar kali tinggi.

PENOKOHAN: kebanyakan katanya
Personality para tokoh di sini (rasa-rasanya, sih, dunno, I lost track of it) sudah beda-beda, tapi ngambang alias nanggung.

HALYA: no comment, dunno, just that, nothing special I think, dan--oh!--she is pretty, of course.

RAKA
- katanya dia genius
reality: dia peringkat tiga besar di sekolah, dia nggak pernah dapat penghargaan apa pun di bidang akademik, lulus SMA juga sepertinya dengan normal, lulus kuliah juga dengan susah-payah, sidang juga pontang-panting seperti mahasiswa lainnya, habis kuliah juga kerja seperti lulusan lainnya, nggak pernah juga tuh dia dapat beasiswa atas kegeniusannya, dia nggak jadi akademisi layaknya kebanyakan orang genius, dia jatoh-jatohnya ya kerja di BANK.
comment: entah itu teman-teman SMA si Raka atau Ms. Writer, salah satu atau salah dua dari mereka punya standar cetek banget buat nilai orang genius.

- katanya dia serius
reality: baca progres reading, Ms. Writer sudah ngasih kontradiksi untuk sifat 'katanya' ini bahkan cuma pisah satu halaman.
comment: non sense tingkat dewa.

- katanya dia ganteng
reality: tampan luar biasa dengan senyuman yang bisa menyihir.
comment: oh, oke, Ms. Writer bilang gitu, so it must be true. dan ganteng itu bukan personality yah? hehehe...

Dan Raka ini... gimana, ya... I can't judge a man in general, tapi kebanyakan laki-laki di sekitarku, kalau cinta, mereka maju terus, against all odds. Sementara Raka, sikapnya ke Rina malah seperti nggak peduli dan masa bodoh aja, tuh.

GILANG
- nggak ada kesan yang dalam juga dari karakter ini, malah adanya kesan kontradiksi, lagi.

RINA
- no comment juga dan pastinya dia cantik.

Tambahan tentang karakter:
Semua karakter di sini pada hobi ketawa. Coba aja hitung berapa narasi tentang tawa (dan karena aku lagi kurang kerjaan, ini sebagian kecil list-nya):
- (Hal. 3) Mereka berdua sontak tertawa terbahak...
- (Hal. 15) Mereka semua tertawa.
- Balik satu lembar ke (Hal. 16) Mereka kembali riuh tertawa...
- (Hal. 49) Mereka tertawa...
- Setelah puluhan tawa dan gelak kemudian, loncat ke (Hal. 346) Dan mereka sama-sama tergelak.

ME: Poker face. I dont get what's funny.

Curcol dikit:
'Katanya' ganteng, cantik, cool, keren, bla-bla-bla, itu harus, ya, disebut? ini kasus writer terlalu cinta sama karakternya (sampai ogah banget itu karakter punya cacat meski dikit) atau ada keyakinan di dunia novel romance kalau orang tampang pas-pasan nggak bisa jadi pemeran utama?

Trully, I can love a character that is not pretty, handsome, cool, or perfect (in what sense someone is PERFECT, really?), so long that they have strong or, at least, distinguished personality.

Sebaliknya, aku benci banget sama karakter-karakter yang author's darling, meski cuma dalam hal penampilan fisiknya, dan di buku ini, semua karakter cantik dan tampan. Ya, termasuk pemeran sampingan.

GAYA PENULISAN: it didn't suit me
- First five pages yang sangat penting sekali banget itu diisi dengan... TADA! Scene anak-anak SMA lagi buat TTS. Me: Zzzzz....

- Penggunaan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari
Dari pengalaman pribadi kerja di perusahaan yang bos2 dan rekan2 kerjanya bule, yang bahasa resmi under office's roof is English, begitu keluar dari pintu kantor ya para pribumi balik lagi pakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan.

In this story, kebetulan banget orang-orang yang pada hobi pakai bahasa Inggris di percakapan sehari-hari, bahkan untuk membantin, mereka semua kumpul jadi satu. YA, SEMUA KARAKTER.

bukannya aku nggak suka kalimat bahasa Inggris dalam novel Indonesia, because Indonesians do talk in English sometimes, tapi akan lebih bagus kalau penggunaannya dengan tepat dan tidak berlebihan sesuai resep dokter.

di novel ini, imho, sepertinya penulis kehabisan akal gitu gimana supaya kalimat yang sama tetep kedengeran 'indah' dalam bahasa Indonesia dan akhirnya, lempar aja kalimat bahasa Inggris di sana-sini.

- The English itself
Raka propose her => Raka propose to her. No?

Thanks for being stay => Thanks for staying. No?

- Pengulangan, pengulangan, dan pengulangan
Berapa kali kata ganti 'sahabatnya' dipakai untuk Halya dan Raka, bahkan setelah mereka menikah? I got that they are best friend, in the first page--move on.

Berapa kali kata tertawa disebut? Belum lagi senyum tersungging.

Getir, pahit, pedih, perih... oh, their lives are a sad love song.

- Deskripsi yang nanggung dan bikin aku mbatin2 nggak jelas gitu :D

(Hal. 60) ...masih dengan senyum bidadari kahyangan tersungging di bibirnya.
Me: Err,.. okay...

(Hal. 146) Dari segi penampilan, Puput tampak cantik dengan make up lengkap, aksesori, dan pakaian yang selalu pantas dipakai.
Me: Blinked--HAH?

(Hal. 314) Hati Alya tercekat. Ada yang terasa makin sakit di sana .
Me: Apa? Jempol kaki, ya?

(Hal. 321) Dia menarik napas panjang dan mengerjapkan mata, ada yang tiba-tiba menggenang di sana .
Me: Apa? Air sungai?

(Hal. 324) But, I feel there's butterfly in my stomach.

(Hal. 325) Halya menelan ludah. Rina lagi. Ada yang terasa sakit di lubuk hatinya .
Me: Ooh... jempol kaki yang tadi lagi, ya?

(Hal. 334) Dia menangis dalam isak tertahan. Ada satu sudut hatinya yang terasa sangat sakit.
Me: Apa? Sudut siku-siku?

Really, ada apa antara Ms. Writer dengan kata 'ada'?

Overall, cara penulisan di sini runut, tapiiii bakal lebih engaging seandainya plot-nya nggak ketebak duluan dari awal sampai akhir.

PLOT CERITA: ketebak dari A sampai Z

Trivia:
- (Hal. 31) Raka: Ada apa dengan wanita dan sikap terburu-buru mereka pada pagi hari?
Padahal baru di halaman sebelahnya, Halya sudah bilang: Nanti telat, keburu macet. Selalu gara-gara kamu mandinya lama.
I don't live in Jakarta, but I heard: ada jalanan macet gila-gilaan.

- (Hal. 372) Gamma itu ceritanya belum nikah, tapi dia bisa nebak seorang wanita itu hamil hanya karena ngeliat wanita itu punya nafsu makan gede, satu kali. dia harus jadi dokter kandungan. atau peramal mungkin lebih cocok.

Curcol v. 2.0 : This is bad. I feel that I'm growing into more and more picky reader by days, especially in writing style department. Fiuh....

Drop your kritik n saran for me^^:
https://www.goodreads.com/story/list/...
Profile Image for Hidya Nuralfi Mentari.
149 reviews15 followers
September 2, 2014
|"Sometimes, people get married not just because they're in love. They're couple, who only have some future dreams and decide to get happy life."|


Halya dan Raka tidak pernah membayangkan bahwa mereka akan hidup bersama atas nama pernikahan. Selama ini, mereka hanya berpikir sudah terlalu mengenal satu sama lain. Limabelas tahun menjadi sepasang sahabat tak membuat mereka sedikitpun ingin mengubah status tersebut.

Namun, pengalaman pahit atas cinta mereka masing-masing membuat Raka memikirkan ulang perjanjian konyol yang pernah ia lontarkan bersama Halya dulu. Usianya yang sudah semakin dewasa serta kehidupan yang mapan membuatnya perlahan berpikir akan penyempurnaan ibadah yang seharusnya ia laksanakan; menikah. Dan Halya, bagi Raka tidak ada alasan lagi jika sosok itu menjadi satu-satunya perempuan yang paling cocok mendampingi rumah tangganya kelak.


|"Dalam persahabatan, kita bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan. Sedangkan dalam hubungan serius, kita nggak hanya akan tertawa. Karena, dalam hubungan serius akan ada saling menyakiti meski tanpa sengaja, juga air mata."|


Tapi, pernikahan tanpa cinta itu memang tidak sehat. Sekeras apapun mereka berusaha menjadi sepasang suami istri normal, selalu ada hal yang dirasa salah dalam hubungan itu. They're just best friend couple, not best love couple.

Dalam keruwetan rumah tangga mereka, masa lalu datang mengganggu. Awalnya, mereka seolah memaklumi bahwa masa lalu itu memang tidak dapat ditinggali. Terlebih lagi, jelas terlihat kalau masih ada cinta yang membuncah antara Halya dan Gilang--kekasih Halya yang meninggalkannya, juga Raka dan Rina--cinta pertama Raka.


|"Kamu nggak akan pernah bisa hidup berdampingan dengan masa lalu."|


Keduanya terperangkap oleh kelogisan serta perasaan yang sulit sekali disatukan. Dan saat masa lalu itu mulai mengganggu tujuan utama pernikahan mereka, keduanya terlambat menyadari.

Cinta dan kenyamanan pun menjadi hal yang absurd untuk diterjemahkan Halya dan Raka.


|"Something better left unsaid, right?" "Something better if written."|

|"Kamu tahu, kenapa orang menikah selalu mendapatkan ucapan "Selamat Menempuh Hidup Baru"? Karena mereka harus meninggalkan orang-orang yang pernah mereka cintai di masa lalu."|


-----CoupL(ov)e-----


I really love this novel.

Benar-benar cerita heart-warming yang menghanyutkan. Penuturan penulis yang sederhana, sopan, namun indah itu mampu membuatku masuk ke dalam ceritanya dari awal hingga akhir. Aku sampai ikut tersenyum, menangis, dan bahkan kesal saat scene-scene tertentu.

Ya, mungkin, salah satu faktornya juga karena this novel is my cup of tea. Friendzone. Sahabat jadi cinta. Tapi perlu diketahui, cerita ini dikemas berbeda. Atau bahkan, inti cerita ini bukanlah sahabat jadi cinta, melainkan sepasang sahabat yang belajar untuk saling mencintai.

Aku benar-benar suka sekali dengan cara penulisannya, seperti yang kukatakan tadi, sederhana dan sopan tetapi indah. Tokoh-tokohnya sangat santun, yang sangat jarang kutemukan di novel-novel bergenre sama lainnya. Hal-hal kecil yang dibahas seperti keagamisan malah membuatku merasakan kenyamanan tersendiri saat membacanya.

Aku juga sangat suka pilihan nama tokoh yang dipakai penulis; Halya, Raka, Gilang, Rina, Gamma, Puput, Husna--bukan jenis nama modern yang wow tapi memiliki kesederhanaan dan menimbulkan kesan tersendiri. Pokoknya, kesederhanaan dalam novel ini membuatku merasakan ceritanya begitu manusiawi.

Dalam beberapa adegan juga, aku benar-benar bisa merasakannya. Beberapa setting tempat yang sudah tidak asing untukku seolah menambah ke-real-an cerita. Ah, aku sukaaa. Rasanya sudah lama tidak membaca novel tebal yang membuatku larut dan ikut hanyut dengan para tokohnya. Kesal, bahagia, sedih, gemas, semuanya! Di bab-bab akhir aku sudah seperti putus asa mengikuti konflik yang sangat menguras emosi itu. Benar-benar kesaaaaaaal.

Ending tentang kedua tokoh pendampingnya itu pun manis. Ada yang bilang akan dibuatkan novel khusus kedua pemeran pendamping itu? Kalau iya, I really really can't wait to read that :)

Btw, keseluruhan isi novelnya rapi banget, lho. Aku hanya menemukan 1 typo saja. Kurang huruf. Apa memang karena aku yang kurang teliti? Tapi kalau memang buku ini benar-benar minim typo, salut sama editor dan para staff-nya yang sudah mengemas novel tebal ini dengan begitu rapi!^^
Profile Image for Jessica.
1,219 reviews40 followers
May 7, 2014
Raka dan Halya udah bersahaat semenjak mereka kelas 2 SMA. Ketemu ga sengaja, jadi partner di lab, dan akhirnya sampe dewasa pun masihhhhh bersahabat. Langgeng banget deh. Mereka tumbuh dewasa bersama-sama, saling berbagi kisah cinta masing2, tapi akhirnya berakhir bersama di satu pernikahan. Ga ada yang pernah menyangka, bahkan Raka pun ga nyangka dia bakal ngelamar Halya. Halya ga nyangka akhirnya dia jadi istri Raka. Dulu mereka banyak membuat mimpi dan janji, dan salah satu janji itu pun ditepati, kalo mereka masih jomblo sampe umur 30, maka Raka akan ngelamar Halya untuk jadi istrinya.

Pernikahan mereka ga berjalan begitu mulus. Masa lalu masih mengejar mereka, atau mereka yang masih menoleh ke belakang, ke romantisme masa lalu. Halya dengan Gilang, Raka dengan Rina. Masih ada rindu dan cinta (mungkin). Ketika masa lalu mulai hadir di hadapan mereka, mereka harus bisa menghadapinya. Dan memilih, menyerah pada pernikahan mereka sekarang dan mengejar romantisme masa lalu atau tetap bertahan dan belajar untuk saling mencintai.

Jujur, i expect too much from this book. I read the ending and i like it, but i can’t follow the feeling in this book during its process. It seems flat. Awalnya sih bagus (saya pernah baca draft awal dari penulisnya sih cuma sampe part 1), dan it’s so good, saya pengen tau lanjutnya gimana. Alur terbangun, lancar dan pake timeline. Tapi sampe part Gilang menghilang, semua terkesan.. datar. Sorry to say, but, selama proses ini ga ada perkembangan sama sekali bagi saya, Halya tetap bersikeras kalo dia cinta sama Gilang sementara Raka dibakar cemburu dan akhirnya Rina muncul baru deh Halya merasa ada ‘saingan’. Mulai bibit cinta tumbuh di antara mereka. Kalo komentar saya sih Rina ini agak bitchy juga. Hahaha. Secara, lelaki yang kamu sukai udah nikah, harus maksakah? Dan Raka juga bego, ga mikir kalo kamu udah nikah, seharusnya ga ngasih harapan palsu sama Rina. (kok saya jadi ngomel ya. Hahahaha). Halya juga, masih terperangkap sama masa lalu, bagi saya karakter Halya cuma berkembang sedikit. Yang ngegemesin justru Gamma dan Puput. Hahahahaha. Suka banget sama pasangan ini. Endingnya mereka ke KUA beneran ga sihhhh??? *penasaran berat**ups spoiler*

Ada masalah lagi, penggunaan bahasa Inggris. Beberapa grammarnya salah, dan ugh, it annoys me. Saya bukan guru bahasa inggris, so no offense, saya cuma merasa terganggu sedikit kok, jadi mau mengoreksi. Salah satunya di halaman 386, pas Gamma bilang love will find it’s way. Menurut saya harusnya its, bukan it’s karena bentuknya possessive (bener ga sihhhhh saya lupa teorinya) dan beberapa lainnya yang saya lupa dimana. Terus, mungkin karena sayanya yg ga tinggal di Jakarta, dalam percakapan orang Jakarta itu mereka suka pake bahasa inggris ya? Saya sendiri walopun kuliah di luar ngomong pake bahasa inggris, pas pulang saya malah ga suka kalo ngobrol pake bahasa inggris. Risih aja. Lol (maaf subjektif >.<) malah saya lebih nyaman kalo baca part ngomong gtu pake bahasa indonesia. Secara, bahasa ibu kita kan bahasa indonesia. Hehehehe *pletak*. Yah intinya, kalo penggunaan bahasa inggris dalam percakapan, itu hanya selera pribadi kok, seperti dalam ekonomi, supply dan demand ada faktor2 lain yg mempengaruhi (ceteris paribus) seperti selera pribadi (sok berteori saya).

Laluuuuu, ada lagi bagian yang janggal. Bagian Gilang yang ngilang gitu aja, bilang balik ke Jogja minta izin bapak ibunya buat ngelamar Halya, malah ga balik2 pas ortunya Halya juga udah ngasih restu. Kemana aja kamu selama ini? Bilang cinta, pacaran 3 tahun, mau ngelamar malah hilang tanpa sebab? Pas muncul malah meninggal. Dan kalo saya beranalisis, Gilang ngilang tanpa sebab. Ortunya baik2 aja sama Halya pas Halya datang ditelpon kakak Gilang yg mengabarkan Gilang kecelakaan. Ortunya Gilang ga marah2 sama Halya ataupun ngusir Halya. Ga ada yang ilfeel sama Halya. Dan anehnya, Gilang kecelakaan gara2 naik mobil sama teman2 sekantornya? Well, saya tambah bingung. Disini penulis ga ngasih penjelasan sama sekali, setidaknya ada penjelasan dari bagian ortunya Gilang kenapa Gilang ga jadi menikahi Halya.
Satu lagi, pas Halya pingsan masuk UGD, dan Raka bilang kejadian 2 ½ tahun yang lalu di rumah sakit, Halya histeris, dan siapa yang meninggal? Kalo dari timeline-nya, ga ada yang meninggal 2 ½ tahun yg lalu. Dan Gilang yang meninggal pun di tahun yang sama pas Halya pingsan masuk rumah sakit. Jadi siapa yang meninggal? Ga jelas lagi.


Oke sekarang positifnya. Hehehe. Suka sama alurnya, maju mundur, ceritain masa lalu dua sahabat ini. Saya menikmati masa lalu mereka yang sweet. Bahkan nasihat Raka menurut saya benar adanya. Di dunia ini semua melihat keindahan, jadi saya harus diet dan mempercantik diri. Hahaha. Saya tuh sama kayak Halya yg dulu, yg merasa orang bisa melihat dari inner beauty, jangan dari penampilan luar mulu. Ga peduli bener deh kalo saya gendut atau kurus, cantik atau jelek. Hahaha.

Konflik batin Halya juga dibangun dengan kompleks dan bikin saya ga merasa bosan. Dan yahh, ego lelaki, siapa sih yang suka liat pacarnya akrab banget sama sahabat cowonya. Malah berasumsi kalo hubungan mereka di luar persahabatan saking koneknya.

Ah saya baru inget, saya kurang ngerti sama sisi agama dari buku ini. Banyak istilah yang saya kurang mengerti karena saya bukan muslim. Setidaknya boleh donggg diberi footnote supaya pembaca yang bukan muslim bisa ngerti dan menambah pengetahuan? Hehehehe.

Hal yang ga aku sangka, buku ini tebel banget. Sukaaaaa banget sama endingnya (baca:bab-bab menjelang ending). Untungnya bisa selesai sehari. Dan covernya bagus, walopun saya sukanya yang hijau ada 2 orang bersepeda ituuu. >.<


EDIT: setelah dibaca 3 kali sama saya, akhirnya saya sadar bahwa ada flashbacknya dan itu cukup jelas. dijelaskan tentang kenapa Halya susah move on karena Gilang meninggal, padahal mereka udah janji bakal nikah. duhh, kalo diingat lagi jadi sedih di bagian sana. siapa sih yang bisa melupakan hal yang sangat emosional seperti kematian? saya saja masih sedih saat mengingat nenek saya, apalagi Halya, kekasihnya yang akan menikahinya meninggal. :'( untung ada Gilang yang senantiasa menemani Halya, sabar dalam menghadapi Halya, dan tetap mencintainya walau badai menghadang :)))

akhir kata, saya bakal nulis review ulang buat novel ini secara udah masuk rak favorit nih :3 kayaknya tahun depan baru bisa soalnya bukunya ga sama saya sekarang :(
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for bakanekonomama.
573 reviews84 followers
October 14, 2018
Sebenarnya udah lama pingin baca karena tertarik sama temanya. Sahabat jadi kekasih. Terus menikah. Tapi saya nggak nyangka kalau ternyata hubungan Raka dan Halya seplatonik itu. Persis kakak-adek. Sayangnya karena mereka bukan saudara kandung, tentu aja hubungan mereka sering disalahartikan oleh orang-orang sekitar, termasuk orang-orang yang mencintai dua orang tokoh utama ini. Dan itu menimbulkan kesalahpahaman sehingga sempat merusak kehidupan mereka...

Novel ini bikin emosi saya naik turun, kadang pengen ngasih bintang satu, terus bintang tiga, turun ke dua, naik ke empat, turun ke satu lagi, terus naik lagi dan akhirnya setelah menyelesaikan cerita saya memutuskan kasih bintang tiga dulu....

Membaca cerita ini di usia yang nggak jauh beda dengan Halya dan Raka sejujurnya membuat saya merasa iri dengan mereka berdua. Seandainya di dekat saya ada orang seperti itu... Karena buat saya yang introvert ini, apa lagi yang lebih baik selain menikah dengan orang yang sudah dikenal dekat dan merasa nyaman dengannya? Saya sama seperti Raka, berpendapat bahwa cinta itu akan tumbuh seiring dengan waktu dan pernikahan butuh lebih dari sekadar cinta. Saya juga suka kata-kata dia yang bilang kalau Tuhan gak mungkin nggak menumbuhkan cinta pada rumah tangga yang sudah diikat dengan sumpah di hadapan-Nya...

Baca ini di saat melow galaw begini juga ternyata pas. Meski saya tahu, saya telat bacanya, ketika banyak orang mungkin sudah melupakan novel ini... Saya emang cenderung nggak ngikutin tren dan bukannya sengaja biar dianggap anti-mainstream, tapi emang nggak sanggup. Kalau novel ini, bukannya nggak sanggup beli sih, tapi takut nggak suka aja. Banyak novel Indonesia yang di luar selera saya, jadi buat jaga-jaga, saya lebih seneng minjem aja... 😳 Beruntung ini novel ada di iPusnas. Meski aplikasinya lemot beut tapi ya udahlah, disabar-sabarin aja.

Satu hal lagi yang saya suka dari novel ini, penulis bisa membawa suasana romantis tanpa perlu menggunakan bahasa atau adegan yang dewasa dan vulgar. Nggak kayak novel-novel romens Indonesia yang lagi ngetren sekarang. Kayaknya kalau nggak digambarin detail seolah jadi nggak bisa berimajinasi gitu. Padahal di situlah daya tariknya novel. Ada ruang-ruang untuk berkhayal yang nggak bisa dimasuki orang lain....

Berasa jadi mirip Halya, dah.... 😅 Tapi ya, memang bagian imajinatif dan hopeless romantic-nya memang mirip sih, cuma saya orangnya nggak supel dan sanguinis macam dia....😀

...

Sudahlah. Masih baper sama Raka dan beberapa hal lainnya yang nggak ada hubungannya sama cerita ini....

Eh iya, endingnya juga bikin baper. Kalau ada cerita lanjutan soal dua orang itu, saya pasti mau baca... 😆
Profile Image for Yuli Pritania.
Author 24 books286 followers
September 10, 2014
Novel Indonesia terbaik yang saya baca sejauh ini, pada bulan ini. Ini yang memenuhi ekspektasi saya tentang cerita dengan ide mainstream, tapi disampaikan dengan tidak mainstream. Saya suka pernikahan mereka, saya suka cara mereka bergaul, saya bahkan tidak keberatan meskipun masalah agama dicampurkan di dalamnya.

Saya hanya kurang nyaman ketika ter-distract oleh flashback yang menghabiskan separuh novel di bagian tengah. Masa kini diceritakan pada awal, dan akhir. Banyak scene-scene pendek yang saya nggak terlalu ngerti apa fungsi dan maknanya. Adegannya kebanyakan terkesan tidak penting, hanya untuk nambah-nambahin fakta bahwa Halya dan Raka itu deket ket ket. Juga kecenderungan penulis untuk terus menerus memakai kata ganti yang sama, baik untuk Raka maupun Halya, di saat mereka sudah menikah, bahkan di saat mereka sudah saling cinta: 'sahabatnya'. Iya, dari awal udah tahu kok kalo mereka sahabat, nggak usah diulang-ulang juga setiap saat, malah ganggu jadinya. Juga penggunaan kata 'gemas' yang nyaris nemplok di tiap halaman, hingga saya juga ikutan jadi 'gemas' sendiri.

Mengenai tokoh, Halya yang udah berumur 30 tahun lebih kelihatan seperti anak SMA kelakuannya. Tapi karakter tokoh-tokohnya cukup kuat. Saya hanya kurang suka saat mulai masuk konflik tentang Raka-Rina. Ada narasi yang menyebutkan bahwa itu hanya salah satu cara raka untuk melihat apakah istrinya cemburu atau tidak. Yang saya tidak suka, jelas-jelas si Raka menikmati setiap detik waktunya dengan Rina. Mungkin, ya memang mungkin saja seseorang bisa mencintai dua orang di saat yang bersamaan, tapi kok setelah menelaah dari karakter Raka, ini terkesan bukan Raka banget ya? Just my opinion though.
Juga si Rina, grrrr... I hate this woman really. Pas Halya udah ikhlas ngasih Raka ke dia, dia langsung kehilangan minat, dan bermaksud kabur begitu saja, seperti yang dulu juga dia lakukan pada Raka.

Dan satu pendapat pribadi dari saya, ini hanya masalah selera, saya menikmati alur dan tata bahasa lembut yang penulis sajikan, tapi saya bener-bener nggak tahan baca adegan-adegan Gilang-Halya. It's too much for me. Kadang Gilang itu norak banget. Tapi saya beneran suka ama interaksi Raka-Halya.

Mengenai penggunaan dialog berbahasa Inggris, hmmm, banyak grammar yang salah, juga kalimat-kalimat yang masih begitu kaku untuk masuk ke dalam percakapan. Mengenai urusan teknis semacam EYD, typo, dll, saya selalu mengacungkan jempol buat Bentang dan Mizan. Mereka biasanya begitu teliti untuk hal ini.
Profile Image for Haya Najma.
Author 2 books10 followers
March 20, 2013
Di awal, aku menduga Gilang meninggal. Tapi dicitrakan dari awal sampai akhirnya cerita tentang Gilang yang kecelakaan muncul, Aya ditinggal pergi oleh Gilang. Jadi aku mengubah perkiraan menjadi Gilang pergi entah ke mana, yang menimbulkan kekesalah dan pertanyaan mengapa Gilang pergi meninggalkannya tapi Aya masih mencintai dan tidak berusaha mencari. Tapi akhirnya terjawab sudah.

Menulis novel memang sangat sulit dan butuh riset. Di sini aku menemukan sedikit kejanggalan di bagian akhir. Aku memang paling suka adegan di mana pemerannya sakit, hehehe. Waktu Aya sakit di awal dokter tidak sampai tahu kalau Aya hamil, seharusnya tahu (kalau benar seperti yang disebutkan di belakang, tentang bagaimana perubahan emosi Aya, sakit yang digambarkan sebagai indikasi Aya hamil).

Tentang operasi pengangkatan janin ini yang menurutku janggal. Usia kehamilan 8 minggu, sebelum menentukan betul keguguran atau tidak harus dilakukan serangkaian tes, untuk memastikan janin betul-betul sudah mati.Abortus juga bukan merupakan indikasi darurat operasi. Kita tentukan dulu jenis abortusnya. Pada usia 8 minggu, setahuku bukan dilakukan operasi, tapi kuretase. Kuret ini juga harus dilihat dulu dari jenis abortusnya, apa sudah keluar semua konsepsinya, atau sebagian. Tidak dilakukan serta merta, tidak harus terburu-buru seperti yang digambarkan di novel karena perlu pemberian obat dan stabilisasi juga.Sementara tanda-tanda keguguran pun harusnya ada dan disadari oleh Aya, biasanya sih begitu.

Tapi wajar sih, karena tidak semua orang tahu tentang ini. Nice work anyway, karena novelnya bisa sepanjang itu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Orinthia Lee.
Author 12 books123 followers
January 20, 2015
4.5☆

Jadi, semalam saya bela-belain nggak tidur demi nyelesain buku ini. Rhein tega banget bikin saya nggak bisa berhenti baca sampai akhir. Lebih tega lagi ketika dugaan saya tentang hilangnya Gilang mendadak itu terbukti menjelang akhir buku dan itu bikin saya nangis. Kalau boleh sedikit curhat, apa yang dialami sama Aya pernah juga saya alami. Kurang lebih sama, hingga saya ngerti kenapa Aya susah sekali untuk move on dari sosok seorang Gilang.

Cerita ini sebenarnya memiliki premis yang sederhana, bahkan mungkin klise. Tentang sahabat yang pada akhirnya saling mencintai. Tapi Rhein dengan piawai meramu cerita ini menjadi sebuah cerita yang enak sekali dinikmati. Saya bisa konek dengan karakter-karakternya, meski sesekali saya kesal dengan keputusan Raka menunda-nunda menyatakan cinta meski alasannya bisa dimaklumi. Hal itu membuat tokoh Rina jadi tidak bisa dibenci... meski saya sebal juga, sih ketika Rina ujug-ujug datang lagi menemui Raka. Tapi nggak bisa nyalahin... namanya juga berharap. Wkwkwk.

Good job banget buat Rhein. Ini pertama kalinya saya baca bukumu, dan saya suka sekali. Saya akan baca buku-bukumu yang lain setelah ini.

---

Review ini untuk entri:
#NewAuthorReadingChallenge2015
#Luckyno15ReadingChallenge
Profile Image for Eugenia.
209 reviews8 followers
April 24, 2014
"Dalam pernikahan, dibutuhkan cinta dan iman. Dua hal itu yang akan menjadi stimulus agar rumah tangga tidak retak. Jika cinta diantara kalian belum tumbuh, tak cukupkah iman menjadi penyangga?"

Beginilah jadinya ketika hubungan pernikahan dimulai dengan terlalu banyak logika, dan justru tanpa cinta. Meski Raka dan Halya telah bersahabat sejak duduk di SMA, merasa nyaman satu sama lain, sampai-sampai berjanji akan meraih satu per satu cita-cita mereka..semua bisa berubah ketika mereka memutuskan untuk menikah.

Raka, pribadi penuh logika. mencintai satu wanita tanpa pernah menyatakan cintanya.Rina.
Halya, pribadi penghayal yang selalu ceria dan optimis. dipaksa menghadapi kenyataan ketika pria yang paling dicintainya meninggal dalam kecelakaan. Gilang.

rasa canggung yang terjadi. kenangan tentang dia yang telah pergi. kehadiran cinta masa lalu yang belum selesai. semua itu mewarnai cerita CoupL(ov)e.


"Kamu tahu kenapa orang yang baru menikah selalu mendapat ucapan selamat menempuh hidup baru? Karena mereka harus meninggalkan sebagian orang-orang yang pernah mereka sayangi pada masa lalu."
Profile Image for Ruth Munthe.
203 reviews159 followers
August 2, 2013
CoupL(ov)e
By Rhein Fathia

This is an absolutely must have book!
Love this book so much and i want to read it again, later.


Bercerita tentang pernikahan yg dijalani sepasang sahabat, Raka dan Halya. Mereka menikah tanpa didasari rasa cinta. Karena mereka adalah partner in crime yg sudah bersahabat selama 15 tahun. Dan masing-masing memiliki romansa masa lalu yg tak terlupakan. Halya dengan Gilang, dan Raka dengan Rina.

Keduanya dibuat ragu atas pernikahan yg mereka jalani. Raka menjalani pernikahannya dengan logika, sedangkan Halya tidak. Halya masih terjebak dengan kenangan manis dg Gilang yg berujung pahit. Ia masih berharap Gilang kembali, meskipun ia telah merasakan nyaman bersuamikan Raka. Tp tahankah Halya bertahan hanya dengan 'kenyamanan'? Apakah ia yakin selama ini tidak terbersit rasa cinta diantara mereka? Baca bukunya.

Aku udah ga bisa nulis apa-apa lagi. Masih kebawa suasana haru yg tercipta di novel ini. Makasih kak Rhein udah bikin novel ini. <3
Profile Image for Rula.
58 reviews2 followers
November 27, 2014
Raka dan Halya, dua sahabat berbeda jenis kelamin, yang bersahabat sejak sekolah menengah dan berlanjut hingga dewasa. Mereka mempunyai banyak mimpi yang ingin mereka capai bersama. Raka dan Halya yang merasakan 'aneh' karena menikah dengan sahabatnya sendiri, namun sama-sama tidak ingin kehilangan.

Gue suka dengan alur cerita tentang Raka dan Halya. Meskipun agak menstereotypekan "tidak ada persahabatan yang murni antara pria dan wanita". Iya, begitulah kenyataannya.

Suka jalan ceritanya, suka cara Rhein menggambarkannya dalam kata-kata. Suka diksinya, dan gak sedikit gue nemu quotes kece di novel ini. And I can't stop reading from the very first.

Love and relationship are work!
Profile Image for Arlisa Yuliawati.
12 reviews1 follower
May 6, 2015
Ceritanya bagus. Cerita +- 15 tahun dalam satu buku, walau jadi agak ngebut, tapi cukup detil pada bagian-bagian penting. Panjang cerita tiap bagiannya juga pas, nggak terlalu panjang dan nggak terlalu singkat. Alur cerita yang dimulai dari cerita sekarang, flash back dari awal, balik sekarang lagi, sedikit flash back lagi, balik lagi, jadi membuat penasaran dan nggak bikin bosen. Hanya harus bisa penyesuaian saja karena tiba2 ganti cerita.

Cuma gara2 penasaran di awal, saya sempat ngintip bagian-bagian terakhir novel, alhasil selama membaca jadi nggak terlalu surprised lagi. -_-"

Bagian favorit: Ketika Puput nampar Raka :))

Profile Image for Riawani Elyta.
Author 33 books103 followers
August 30, 2013
Baca ini koq ingat mahogany hill ya? :-) tapi berhubung novel ini terbit lebih dulu.....nggak mau nebak2 ah, ide serupa kan wajar2 aja, ide epilog mirip pun cukup dimaklumi saja:-) yang jelas salut sama penulisnya yang bisa nulis setebal ini, meski beberapa bagian terasa absurd, tapi alur maju mundurnya yang tetap rapi, penuturan yang bagus dan tokoh2nya yang nggak hitam putih banget, udah jadi poin plus untuk novel ini:-)
Profile Image for Sita Evita.
112 reviews10 followers
September 11, 2016
A very lovable book.
:D
Tertarik sama taglinenya 'Bersamamu karena terbiasa atau mencinta?'
Juga covernya yang adem.
Ceritanya mengalir didukung deskripsi setting yang detail.

Sisi melankolisnya ngena banget.
Gambaran paradoks Raka dan Halya yang bisa bareng dikemas rapi menunjukkan mereka emang beneran pasangan yang sebenernya manis dan serasi karena perbedaan diantara keduanya bisa saling melengkapi dan mengisi.
Profile Image for Hairi.
Author 3 books19 followers
June 7, 2013
Selesaaaaiiiiiiiii......
ada lomba reviewnya ya? Ya sudah lah. Ntar aja bikin reviewnya.
Harusnya 5 bintang, tapi aku ga suka bagian kenapa sih Halya mesti keguguran :( *ih spoiler* :p

Review ada di sini : http://coretanyanti.wordpress.com/201...
Profile Image for Annie.
86 reviews7 followers
August 17, 2015
Kekurangannya cuma satu: terlalu banyak kata cinta yg terlontar. Kalau aku membaca novel ini waktu SMA, ini pasti masuk jajaran novel yg paling favorite.
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews297 followers
August 21, 2014
Ada banyak tema cerita cinta yang sudah dibukukan, seperti; sahabat jadi cinta, cinta segitiga, benci jadi cinta, perjodohan, dan sebagainya. Yang paling sering saya temukan adalah sahabat jadi cinta, biasanya ada dua ending; kalau tidak cinta bertepuk sebelah tangan berarti dua-duanya memendam cinta tapi enggan mengungkapkan karena takut merusak persahabatan. Awalnya saya kira buku ini bercerita tentang pilihan yang kedua, ternyata salah. Buku ini bercerita tentang dua sahabat yang tidak memiliki perasaan apa-apa dan berjanji kalau sampai umur 30 tahun belum mendapatkan pasangan masing-masing maka mereka akan memutuskan menikah. Mereka menikah tanpa rasa cinta, mereka menikah karena merasa seharusnya.

Sometimes, people get married not because they're in love. They're couple, who only have some future dreams and decide to get happy life.

"Penyesuaian yang sebenarnya terjadi pada saat pernikahan, Karena masa pacaran tidak menunjukkan seseorang yang sebenarnya, lantaran tidak tinggal dalam satu rumah." Kalimat tersebut saya temukan sewaktu membaca sebuah majalah. Ketika membaca buku ini, kalimat tersebut terbukti. Halya dan Raka pertamakali pertemu saat mereka masih memakai seragam putih abu-abu, mereka sangat bertolak belakang, Halya tipe orang yang cuek, centil, ceria, mudah dekat dengan orang lain sedangkan Raka tipe orang yang kaku, kuper, terlalu serius, pendiam dan cerdas. Mereka lebih mengenal satu sama lain setelah menikah, mereka menemukan perasaan lain setelah menikah. Diawali sebuah prolog pada masa SMA dan ada empat part di buku ini, Rhein Fathia menuliskan alurnya dengan sangat rapi.

Di part pertama kita akan disuguhkan sebuah pernikahan yang terbentuk tanpa adanya cinta, suasana canggung dan aneh, tentang Halya yang selalu menghindari malam pertamanya dengan Raka, harus bangun pagi, menyipkan sarapan dan pakaian untuk suami barunya, mengurus apartemen, pulang tepat waktu, dia belajar menjadi istri yang baik, belajar menyesuaikan, sekarang dia tidak hanya memikirkan diri sendiri. Berbeda dengan Raka, dia malah lebih terbuka dan agresif, dalam artian dia tidak malu-malu mengungkapkan isi hatinya, melakukan pendekatan-pendekatan secara halus, seperti "Biasanya, kalau lagi pasang dasi begini, si suami iseng mencium istrinya," celetuk Raka jahil. Raka tahu kalau Halya mencoba pelan-pelan, dia menerima kalau mereka harus tidur di kamar terpisah, tetapi, kelamaan Raka merasa cemburu ketika Halya masih menginggat orang di masa lalunya, orang yang tidak pernah lepas dari pikiran Halya, orang yang dicintainya. Halya hanya berharap Raka tidak pernah menyesal menikahinya.

"Bagi cewek, dilamar sama cowok itu romantis. Lebih daripada ditembak untuk jadi pacar. Itu tanda bahwa si cowok benar-benar serius dan mau bertanggung jawab."

Bagian kedua bercerita tentang masa lalu, pertama mereka bertemu, berpisah saat kuliah karena beda kota, menemukan pasangan masing-masing, terluka karena pasangan masing-masing. Walau dipisahkan oleh jarak, mereka selalu terhubung, selalu ada kalau membutuhkan, persahabatan yang dibina sejak SMA tidak pernah putus. Puncaknya adalah ketika Halya patah hati sangat dalam, ketika Gilang meninggalkannya setelah dia berujar akan melamarnya. Sejak saat itu Raka selalu berusaha untuk selalu dekat dengan Halya, selalu ada disampingnya. Bagian tiga bercerita ketika Raka melamar Halya, dan bagian terakhir kembali lagi ke awal, ke masa setelah mereka menikah.

Hal paling menyedihkan adalah ketika melihat sahabatmu masih berharap pada kekasih lamanya. Masih menunggu dan berharap kembali meski dia sudah berikrar akan setia kepadamu sehidup semati.

"Dalam pernikahan, dibutuhkan cinta dan iman. Dua hal itu yang akan menjadi stimulus agar rumah tangga tidak retak."

Saya suka sekali dengan Raka, dia begitu sabar, terlebih mengenai Halya. Dia tahu kalau istrinya itu sangat sulit melupakan masa lalu, dia tidak menuntut, dia melamar Halya dengan sadar kalau Gilang akan terus membayangi pernikahan mereka, dia hanya berharap agar terus bisa bersama Halya. Yang paling tidak saya sukai adalah ketika cinta pertamanya datang, Rina, dia seperti ingin menyerah terhadap Halya, dia merasakan perasaan yang dulu muncul kini tumbuh kembali, dia melupakan kalau sekarang dia memiliki gelar sebagai 'suami'. Mungkin bisa dimengerti, lama-lama Raka mulai merasakan perasaan lebih dari sahabat namun ada tembok, seorang Gilang yang selalu menghalanginya, dan ketika ada orang yang pernah mengambil hatinya datang kembali, dia mendapatkan godaan, mendapatkan cobaan dalam rumah tangganya yang baru seumur jagung dan tidak yakin bisa melaluinya.

Kelebihannya adalah alurnya yang rapi, seperti ketika sejak awal penulis sudah menggambarkan Gilang namun enggan menjelaskan lebih lengkap, dia menguji kesabaran saya karena saya sangat penasaran dengan tokoh yang satu ini, kenapa dia meninggalkan Halya? Penulis tidak menuliskan secara langsung, muncul sedikit di bagian awal, lebih banyak di bagian kedua dan dibagian akhir-akhir mulai terungkap. Dengan adanya part-part yang pas, membuat cerita di buku ini terasa mengalir, runtut dan tidak membingungkan, buku yang sempat menjadi cerita bersambung di sebuah situs online ini termasuk tebal untuk ukuran kisah cinta, tulisannya pun saya kategorikan lumayan kecil-kecil, tanpa alur yang rapi saya yakin buku ini akan terasa membosankan. Covernya manis, saya tidak begitu memperhatikan typo karena sangat menyukai ceritanya, judulnya juga menarik sekali membuat saya sering salah menuliskannya :p, saya lupa artinya, pernah baca di tweetnya penulis, kalau dilihat dari kata cinta yang dikurung dalam kata pasangan, mungkin artinya setiap pasangan memiliki rasa cinta *sok tau banget* *sana cari jodoh* XD. Kekurangan adalah waktu Halya sakit dan diperiksa dokter, kenapa kehamilannya tidak langsung diketahui? Biasanya, seorang dokter akan melakukan pengkajian secara detail sebelum menentukan diagnosa, terlebih kepada orang yang baru menikah. Saya tidak terlalu mempermasalahkan banyaknya bahasa inggris di buku ini, asal saya mengerti saja itu sudah cukup.

Konon, rasa cemburu dan pertengkaran kecil dapat menjadi stimulus dalam hubungan suami-istri. Menghadirkan rasa saling ingin memiliki dalam hati.

Bagian paling favorit tentu saja ketika Halya (akhirnya) merasa cemburu pada Raka karena sering menemui Rina, pertama kalinya mereka bertengkar hebat sehingga membawa mereka ke malam pertama yang sesungguhnya, hahahaha *ditendang*

Saya sangat suka buku ini, kebetulan tema yang diangkat salah satu favorit saya yaitu pernikahan, biasanya tentang dua orang yang tidak saling kenal yang menurut umur sudah waktunya menikah dijodohkan oleh kedua orangtuanya, kali ini berbeda, dua sahabat yang tidak punya rasa cinta mencoba membina keluarga bersama. Buku ini ingin menunjukkan kalau rasa cinta itu bisa dibangun setelah menikah, rasa cinta bisa muncul karena terbiasa, rasa cinta bisa muncul pelan-pelan dan rasa cinta bisa muncul karena datangnya orang ketiga.

"Kamu tahu kenapa orang yang menikah selalu mendapat ucapan selamat menempuh hidup baru?"
"Karena mereka harus meninggalkan sebagian orang-orang yang pernah mereka sayangi pada masa lalu."


4 sayap untuk pernikahan tanpa pacaran :)


read more: http://kubikelromance.blogspot.com/20...
Profile Image for Yovano N..
239 reviews14 followers
September 24, 2014

Review on my blog: http://kandangbaca.blogspot.com/2014/...

Cerita tentang sahabat jadi kekasih mungkin sudah tak asing bagi pembaca. Tapi bagaimana dengan sahabat yang saling menikah namun tanpa cinta? Hmm. Kayaknya yang ini belum banyak yang nulis ya? CoupL(ov)e berkisah tentang Raka dan Halya yang sudah bersahabat sejak kelas 2 SMA. Pertemanan mereka diawali ketika menjadi partner lab, dan sejak saat itu mereka tak terpisahkan. Hingga masuk ke bangku kuliah, mereka masih bersahabat. Untuk urusan asmara, Raka dan Halya pun menjalaninya dengan pasangan masing-masing.

Di usia 30, Raka dan Halya berada dalam kondisi di mana mereka sama-sama tak memiliki pasangan. Raka pernah mengusulkan untuk menikahi Halya apabila di usia tersebut mereka belum punya calon suami/istri. Halya setuju, dan pernikahan pun dilaksanakan meski keduanya tak saling mencintai seperti layaknya sepasang kekasih. Mereka sepakat untuk membiarkan segalanya mengalir sambil tetap menjaga privasi masing-masing. Raka tak akan memaksa Halya untuk melakukan hubungan suami-istri. Mereka juga tak tidur seranjang. Meski demikian, Raka tetaplah seorang lelaki. Ia pernah berusaha menggoda sahabatnya itu, tapi sepertinya Halya belum siap. :">

Kehidupan terus berjalan. Halya sebenarnya tak ingin selamanya menjaga jarak dengan Raka. Halya berusaha menjaga keutuhan rumah tangganya hingga kelak mereka saling jatuh cinta dan bisa melakukan aktivitas suami-istri pada umumnya. Tapi usaha Halya dan Raka harus menghadai cobaan ketika cinta masa lalu membayangi mereka. Rina, orang yang amat Raka cintai, hadir dalam rumah sepasang sahabat tersebut. Bagaimanapun, ada rasa tak suka dalam diri Halya. Hanya saja... bagaimana ia dapat menunjukkan ketidaksukaannya atas kehadiran Rina apabila ia sendiri masih memikirkan Gilang? Wait, siapa Gilang?

Sebagai pembaca, saya langsung mencap buruk Rina dan Gilang sebagai penghalang kebahagiaan rumah tangga Halya dan Raka. Tapi penulis punya ide jitu agar pembaca tak buru-buru men-judge mereka. Penulis membawa pembaca terbang ke masa lalu, dimulai sejak masa kuliah Raka dan Halya, hingga saat mereka bertemu dengan pujaan hati masing-masing. Oke, saya akan stop sampai di situ saja ya. Intinya, penulis mengajak pembaca untuk mengetahui kisah masa lalu yang kelak akan menghantui kehidupan pernikahan mereka di masa depan. Bagaimana akhir kisah Raka dan Halya? Dapatkah mereka menumbuhkan perasaan cinta terhadap satu sama lain? Atau mereka akan menyerah dan memilih cinta masa lalu? Baca sendiri novelnya ya. :)

Novel ini banyak direkomendasikan oleh teman-teman saya, khususnya si Kucing yang sukaaa banget sama novel ini. Sudah lama saya kepingin punya novel ini dan akhirnya kesampaian juga saat novel bercover cantik ini menjadi kado arisan ulang tahun dari anak-anak BBI Joglosemar. Thanks guys! (Dan maaf karena ujung-ujungnya novel ini ditimbun juga, hehe. *dicubit*)

Perasaan saya sewaktu membaca novel ini campur aduk. Secara umum saya menyukai gaya bercerita penulis yang rapi dan runut. Ide ceritanya tidak biasa. Saya juga dibuat penasaran oleh bagaimana cara penulis mengakhiri novel ini. Sayangnya, saya kurang menyukai beberapa tokoh di dalamnya. Raka dan Halya, misalnya. Padahal awalnya saya cukup menyukai keduanya terutama interaksi mereka di awal-awal pernikahan mereka. Tapi makin ke belakang saya jadi kurang bersimpati terhadap mereka. Sebagai suami, Raka terlalu mudah goyah—seolah memberi kesempatan kepada cinta masa lalunya. Sementara Halya, saya menyayangkan sikapnya yang menyerah begitu saja. Saya akan jauh lebih menyukai gadis itu bila ia bersikap tegas terhadap Rina. Tapi ternyata penulis ingin mengindari drama dan memilih nenampilkan Halya sebagai sosok wanita berhati mulia... Hanya saja, tokoh yang terlalu baik itu malah membosankan loh, setidaknya buat saya.

Setelah membaca cerita masa lalu Rina, terutama ketika penulis bercerita dari sudut pandang wanita itu, saya jadi jatuh kasihan kepadanya. Saya sempat menyesal karena terlalu membenci Rina di awal cerita. Tapi kemudian penulis kembali membuat Rina menjadi tokoh yang menjengkelkan (duh!). Tokoh Gilang... so sweet sebenernya. Tapi dari sudut pandang saya, tokoh Gilang agak sedikit berlebihan dalam menunjukkan perasaannya ke Halya. Jadinya terkesan gombal. Maaf lho buat #TeamGilang.

Untunglah ada tokoh yang saya sukai di novel ini, mereka adalah Gamma dan Puput. Saya sangat menyukai bagaimana mereka dapat berpikir logis (khususnya Puput) terhadap masalah yang dihadapi sahabat-sahabat mereka. Interaksi Puput dan Gamma juga menarik untuk disimak. Gamma yang terkadang lucu dan Puput yang agak jutek serta drama queen. Dua tokoh ini benar-benar mencuri perhatian saya sampai-sampai saya berhadap keduanya menjadi tokoh utama di novel Rhein Fathia berikutnya. ;)

Bagian awal novel ini sangat menarik. Alurnya cukup terjaga dengan baik. Akan tetapi, saat cerita mundur ke masa lalu, saya merasa alurnya jadi lambat banget. Dan entah mengapa saya merasa banyak adegan yang tak terlalu penting dalam buku ini. Saya sampai harus menahan keinginan untuk men-skip banyak halaman. Tapi saya tidak melakukannya. Saya memang tipe pembaca yang pantang men-skip halaman dalam setiap novel yang saya baca, meski itu bisa dibilang menyiksa diri sendiri (oh my... saya memang masokis! #PLAKS).

Sejujurnya, saya berusaha untuk dapat lebih menyukai novel ini karena sebagian besar teman-teman saya sangat menikmatinya dan bahkan memberi 4 hingga 5 bintang. Tapi entah mengapa saya tidak. Ada saja bagian-bagian dari buku ini yang menganjal. Saya jadi berpikir, jangan-jangan ada yang salah dengan saya? Jangan-jangan sewaktu membaca novel ini mood saya sedang tidak baik? (Nggak kok, saya nggak PMS kayak Halya. Haha. Soalnya kata PMS sering banget diulang di novel ini, terutama untuk menegaskan sikap Halya saat mood-nya sedang jelek.)

Secara keseluruhan, novel ini ditulis dengan rapi. Perpaduan alur maju dan mundur di novel ini membantu pembaca memahami apa sebenarnya yang menyebabkan Halya dan Raka memutuskan untuk menikah. Penulis juga menyisipkan twist keren dalam novel ini (meskipun saya sudah bisa menebaknya sejak awal sih, hehe). Melalui novel ini, pembaca dapat menemukan beberapa tips penting seputar pernikahan—lumayan buat memberikan gambaran bagi pembaca yang belum menikah atau akan segera menikah. Bila kalian mencari bacaan yang berbeda dengan yang lain, CoupL(ov)e bisa dijadikan pilihan.

Menikah dengan sahabat sendiri? Kenapa tidak? :)

***
Profile Image for Lila Danisa.
793 reviews10 followers
October 26, 2018
Wah wah wah waaaaaahhhhhh
4,5/5 tapi genepin aja jadi 5 bintang karena endingnya yang cakep banget. Tidak mau spoiler jadi baca sendiri aja yang penasaran.
Kalo ngerasa buku mahal, mending beli ebook aja di GooglePlayBooks, jauh lebih murah dan tetap mengapresiasi penulis. Lah kok malah promosi hmmm

Tertarik baca ini karena reviewnya bagus-bagus euy dan kebetulan murah juga, jadilah langsung beli dan baca.

Sebenernya agak bosen ditengah-tengah. Karena kok kayak bertele-tele gt. Tapi ternyata makin menuju ending makin greget makin gemes makin kesel makin bikin nangis.

Sudah kuduga Gilang nya *spoiler: deleted*
Sudah kuduga Halya pingsan-pingsan karena *spoiler: deleted*
Sudah kuduga endingnya si itu dan si itu *spoiler:deleted*
Hahahahaha

Super sebel sama Raka. Kalo Halya wajarlah ya gak bisa move on karena kan si Gilang *spoiler: deleted* Lah ini si Raka santai-santai aja sama *spoiler: deleted*

Tapi bener sih ya, gak ada sahabat cowok-cewek yang murni sahabatan. Kalo ada juga pasti 1/100juta haha
467 reviews
March 11, 2014
Hmmm.... gimana ya?

Bingung mau kasih berapa bintang.

Awalnya, aku excited saat tahu ini kisah tentang dua sahabat yang akhirnya menikah walau mungkin tanpa cinta.

Tapi.... ternyata nggak sesuai harapanku.

Hmm... sesuai sih, aku memang berharap ini mengisahkan tentang bagaimana mereka menjalani hari-hari pernikahan mereka itu, dan bagaimana cara mereka membangun jalinan hubungan sebagai suami istri.

Tapi.... menurutku, banyak juga hal-hal nggak penting yang diceritakan oleh penulis di sini. Membuat aku harus men skip banyak halaman, karena yeah... tidak penting sama sekali. Hanya seputar kisah masa lalu yang super basa-basi lah.

Maksudku, perlu kah setelah menceritakan mereka menikah, si penulis memulai lagi cerita mereka saat dulu bersahabat dari zaman SMA sampai kuliah??? Belum lagi ditambah cerita detail mereka dengan cinta masa lalu masing-masing.

Menurutku, nggak penting. Nggak ngaruh juga sama ceritanya. Yang ada ngerusak suasana dan moodku membaca.

Waktu di awal-awal udah sangat bagus, dan aku suka. Bahkan aku langsung tahu kejadian seperti apa yang sudah terlibat dalam masa lalu mereka (bersama cinta masing-masing), walau tanpa menyibak perjalanan masa lalu mereka. Jadi, aku rasa tak perlu lagi penulis harus cerita ulang dengan detail kisah masa lalu mereka sampai berpuluh-puluh halaman -,,-

Pengennya sih kasih 3 bintang. Karena yeah... ceritanya so far aku suka. Dan mengejutkannya, di pertengahan cerita menuju akhir, di mataku terasa ada selaput bening. Dan kemudian suaraku mulai serak. Yaaa... aku berkaca-kaca, dan nyaris menangis, walau masih sebatas serak, nggak sampai menitikkan air mata atau tersedu-sedu. Tapi itu sudah cukup bukti, di beberapa bagian cerita ini (lepas dari banyaknya hal tidak penting yang dijabarkan) bisa menggoyah emosiku. And, itu pertanda bagus.

Tapi, maaf... sepertinya hanya bisa kasih dua bintang. Buku ini tebal, ada 387 halaman. Dan kupikir awalnya, buku setebal itu isinya cerita semua. Ternyata nggak. Mungkin dalam hitungan persen, yang kubaca hanya sekitar 27%, sisanya nggak penting.

Aku akan lebih suka (dan ceritanya pasti akan lebih bagus lagi) kalau porsi ceritanya lebih berat dan lebih banyak dibagian after married nya, dibanding masa lalunya. Yang masa lalu itu lebih baik dipangkas, dan cukup yang penting-pentingnya aja.

Kalau begitu, pasti bakal lebih enak dibaca lagi.


Dan aku sebal sama semua tokohnya.

Raka dan Aya, sepertinya penulis sengaja menarik ulur perasaan mereka. Aku tahu, biar bisa jadi ada konflik kan, agar cerita bisa terus berjalan? Tapi yang ada, aku muak, karena mereka terlalu bertele-tele.

Mana kata 'sakit' diulang terus berkali-kali setiap halaman.

Aya: "hatiku terasa sakit."

Raka: "Sakit rasanya melihatnya."

dll...

Mengulang-ulang terus kata sakit itu membuat aku ngecap mereka jadi 'bodoh'. Mau banget sih berenang berlama-lama dalam sesuatu yang sebenarnya jelas itu? (Tapi yah aku tahu ini tak lepas dari peran penulisnya sendiri, jadi bukan salah mereka sepenuhnya).

Kalau pun memang mereka harus dibuat menderita sebegitu lamanya dulu, minimal penulis pandai memainkan kosakata. Jadi nggak harus terus-terusan nulis 'sakit hati' etc. Bisa diganti menjadi lain. Lagipula, perasaan cemburu, sakit hati atau perasaan emosi lainnya, nggak perlu selalu ditulis, bisa terlihat dari tindakan tokohnya saat itu, kok.

Dan lama kelamaan kedua tokoh ini juga jatuhnya jadi absurd, yang membuatku berpikir, apa iya ada pasangan suami-istri begini? Maksudku... jelas kalian saling sayang, saling cium, making love hampir tiap hari berturut-turut... ya ampunnn, nggak mungkin banget nggak timbul perasaan lebih dari sayang (entah disadari atau tidak).

Yang aku maksudkan di sini, adakah perempuan semenyebalkan Aya, yang jelas-jelas dia 'jatuh' dalam pelukan kasih sayang suaminya, dan dia sangat menyadari dan menikmati itu, tapi masih memikirkan cowok lain?? Pakai embel-embel 'sayang' mulu lagi (aku muak tiap baca diary nya).

Dan adakah cowok semenyebalkan Raka yang jelas-jelas dengan kesadarannya dia menyayangi, mencintai dan menikmati skinship yang selalu terjadi bersama istrinya, tapi masih sebegitu lemahnya cuma karena kehadiran seseorang di masa lalu? -_- Kalau memang ada, sini tak keplakin kepalanya pakai catokan panas!

Dan yeah, itu tadi... tambah lagi kehadiran cinta pertama Raka, si Rina. Semua yang baca juga tahu akan seperti apa jalan ceritanya saat gadis ini muncul -_-

Lalu, Puput. Sahabatnya ini aku rasa terlalu bawel. Sayangnya kebawelan dia itu, bukannya memecahkan masalah, justru menambah masalah. Sampai aku berpikir, sebenarnya dia mau nggak sih hubungan Raka dan Aya baik-baik saja?? Ocehan-ocehannya itu justru memperumit, seakan memaksa orang untuk terus berpikiran negatif. Kalau diiringi dengan solusi sih tadi nggak apa-apa, lha ini kagak.

Cerita yang dipaksa-paksa rumit. Bikin greget.

Tapi buku ini ada kelebihannya.

Aku suka skinship yang berlangsung antara Raka dan Aya. Dan ceritanya mempunyai kekuatan maut untuk memaksa orang penasaran mengetahui lanjutannya. Bersyukurlah. Sehingga, walau aku harus susah payang menyingkirkan puluhan halaman nggak penting, aku tetap terus membaca dan ingin banget tahu bagaimana akhir ceritanya. :)

Sebenarnya si penulis punya peluang untuk membuat jalan ceritanya menjadi lebih baik lagi dari ini.
Profile Image for Fitriii.
54 reviews3 followers
December 11, 2014
"Keju meleleh dimana-manaaa!", artinya saya suka novel ini. Memang ada beberapa yang membuat saya protes, 'lho, kok gitu???' Tapi, ya sudahlah..
Saya hampir dibuat kesal-kesal-gemas dengan sikap Raka dan Halya, si tokoh utama. 'Mau bintang ya bilang mau bintang, Ka! Al!' eh, itu kayaknya kutipan novel favorit sebelumnya. Heuheu.. Untuk hal yang serius seperti cinta atau bagaimana perasaan mereka sebenarnya, mereka nggak pernah membahas. Tapi giliran hal sepele seperti sarapan mie instan atau telur justru diperdebatkan.

Jadi novel ini berkisah tentang sepasang sahabat, Halya dan Raka, yang akhirnya berjodoh menjadi sepasang suami istri. Belasan tahun sahabatan, udah klop banget. Saat mereka menjalani pernikahan ternyata hubungan mereka nggak berubah, masih seperti sahabat. Apa itu hal baik? Ternyata nggak sepenuhnya baik juga, karena jadinya mereka lama menyadari kalau saling cinta. Padahal bagaimanapun cinta adalah fondasi dari sebuah pernikahan, kan?! Terus, kenapa mereka bisa menikah? Ya karena Raka melamar Halya, dan Halya menerima lamaran Raka. Heuheu.. Jawaban macam apa ini??!! ;)
Saya kira kenapa sepasang sahabat bisa berjodoh itu karena (paling nggak) ada salah satu yang emang sejak awal punya rasa itu. Tapi di novel ini kayaknya nggak dijelasin siapa yg jatuh cinta duluan. Karena pada dasarnya mereka udah saling sayang sebagai sahabat, jadi mengalir begitu saja, mungkin.

Penulis juga menceritakan cinta masa lalunya Raka dan Halya dengan cukup mendetail. Jadi, saya (dan mungkin yang lain) sebagai pembaca bisa mengerti kenapa meski sudah menikah Raka masih mau berhubungan dengan Rina, dan Halya dengan Gilang. Yeaah, 'meet cute' versi Halya-Gilang itu bikin iri deh. Aaah, tapi Gilang kenapa kamu pergi?? Miris lah di bagian itu. Padahal Raka sendiri pernah mengakui bahwa Gilang adalah pria yang baik untuk Halya. Iya Ka, semua pasti setuju Gilang tuh baiiik banget. Saking baiknya jadi Tuhan punya rencana yang lebih baik buat dia. Tissue mana tissue? hiks..

Pokoknya flashback di novel ini emang mendetail, dan saya suka. Ada unsur agama yang diselipkan, tapi sama sekali nggak bikin ceritanya jadi 'berat' kok. Tutur bahasa penulis mengingatkan saya kepada cheesecake, enak dinikmati perlahan sesuap demi sesuap.. Yummyyyy..

Kekurangan/blunder pasti ada, tapi nggak fokus kesitu kalau udah jatuh cinta sama keseluruhan ceritanya mah, atuh. Lima bintang untuk happy ending! Terima kasih Ka Rhein Fathia karena bikin saya jatuh hati sama Gilang, tapiii... :')

Oh ya, dari Raka saya belajar bahwa cinta nggak melulu tentang rindu atau cemburu. Akan tetapi juga tentang kekhawatiran kita terhadap dia yang kita cintai. Eh, gitu kan, Ka?!
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
May 22, 2013
Halya dan Raka sudah bersahabat sejak SMA. Ketika usia mereka tidak lagi muda, keduanya memutuskan untuk menikah. Bagi Raka, komitmen dan rasa nyaman satu sama lain cukup menjadi modal untuk membina rumah tangga. Dan tidak ada orang lain yang memahami dirinya selain Halya, sahabatnya. Dan bukankah mereka sudah pernah berjanji, jika umur mereka sudah 30 tahun dan belum menikah, maka mereka berdua akan menjadi sepasang suami-istri? Cinta bisa dipupuk, cinta bisa ditumbuhkan. Halya sendiri yang sudah dua kali ditinggalkan cintanya, mau menerima lamaran Raka. Dengan syarat tidak ada perubahan dalam persahabatan mereka, dan tidak ada paksaan dalam pernikahan mereka, Halya melangkah dalam mahligai rumah tangga bersama Raka.

Rasa terbiasa dan toleransi terlalu besar bagi Raka dan Halya. Hal itu juga yang membuat hubungan mereka tidak pernah naik kelas dari level persahabatan. Selain berbagi atap di bawah satu apartemen dan menjalankan kewajiban sebagai suami dan istri, tidak ada hal lain yang berubah. Halya masih merindukan Gilang, mantannya. Raka masih menjumpai Rina, yang pernah meninggalkannya dan kini datang lagi dalam kehidupannya.

Kisah sahabat yang menjadi pasangan seumur hidup memang bukan hal yang baru. Tetapi ide cerita yang diangkat dalam novel ini memang berbeda dan unik. Persahabatan antara Raka dan Halya memang seperti tidak bisa dipisahkan lagi. Keduanya seperti soulmate, saling memahami satu sama lain. Hanya saja, saya tidak setuju dengan ide memasuki rumah tangga atas dasar nyaman, namun sah-sah saja masih menyimpan cinta untuk orang lain. Masih mending kalau mereka berdua sama-sama menatap ke depan untuk rumah tangga mereka, ini malah selalu melihat ke belakang ke masa lalu. Saya jadi gemes dengan konsep rumah tangga mereka. Kemudian saya jadi berpikir kembali, bukankah setiap orang selalu ingin berada dalam zona nyaman mereka?

Pernikahan bukan hal yang mudah. Komitmen memang menjadi dasarnya, dan komunikasi adalah kunci usaha mempertahankannya. Tidak jarang orang tua dulu mengatakan, cinta bisa datang dengan sendirinya. Seperti kata Raka, Tuhan akan selalu membuat paket jodoh disertai dengan cinta. Tapi bukan berarti tidak dibutuhkan cinta untuk memulai rumah tangga. Kenyataannya ada yang butuh cinta sebagai titik awal perjalanan rumah tangga.

Selain idenya yang unik, judul novel ini membuat saya memutuskan bahwa saya harus membaca novel ini. Berasal dari kata couple dan love, dua hal yang berbeda tapi sulit dipisahkan. Sampulnya juga cantik, membuat saya memberikan nilai plus bagi novel ini.
Profile Image for Zuhrufi.
31 reviews23 followers
December 8, 2013
Ceritanya tentang Raka sama Aya. Sahabat yang bisa dibilang Best Friend Forever After, hehe. Ketidaksengajaan Aya yang harus satu kelompok dengan Raka ketika SMA membuat keduanya akrab, akrab banget. Kalo ada orang yang lihat, mungkin mereka bakal mengira Raka dan Aya adalah sepasang kekasih. Namun bagi mereka berdua, tak ada yang namanya cinta di antara mereka. Yah, ‘cinta’ sebagai sahabat mungkin.

Setelah lulus SMA, mereka berdua berpisah. Aya melanjutkan studi ke Jakarta sedangkan Raka ke Bandung. Meski terpisahkan oleh jarak dan waktu, dua sahabat ini masih berusaha meluangkan waktu untuk sekedar ngobrol, curhat, atau hal-hal lain. Ketika mereka berdua sedang jatuh cinta pun tak sungkan buat ngobrol dan curhat tentang pasangan mereka masing-masing.

Singkat cerita, karena sesuatu hal, yang nggak bakal aku ceritain di sini, mereka akhirnya berpisah dengan pasangannya masing-masing. Tak lama setelah itu, setelah sama-sama bekerja, akhirnya Raka dan Aya pun kembali bisa bertemu karena tempat bekerja mereka nggak terlalu jauh. Mengetahui bahwa masing-masing sedang single, dan mengingat umur mereka yang sudah layak buat merangkai bahtera rumah tangga, Raka pun akhirnya memberanikan diri buat melamar Aya. Setelah istikharah yang cukup panjang, Aya pun akhirnya menerima lamaran Raka. Mereka pun menikah.

Nah, cerita intinya baru dimulai ketika mereka berdua menikah. Perasaan Aya yang terlanjur hanya menganggap Raka menjadi sahabat sering membuat Aya tak percaya akan keputusan yang telah diambilnya. Masalah pun mulai menghampiri mereka berdua.

Ini ceritanya keren euy! Nggak bisa ngebayangin, sahabat dekat kemudian jadi suami. Cerita tentang perjalanan empat sahabat yang seringkali keluar bareng (aku benar-benar berharap bakalan punya sahabat kayak mereka). Rasanya kehidupan yang dialami Aya dan Raka itu asyik bener deh.

Aduh, kisahnya romantis banget deh, bener! Sayangnya, aku lupa di bagian mana romantisnya, nih (selain di bagian ending tentunya). Ini nih jadinya kalo ngereview buku ditunda-tunda mulu. Tapi salut deh buat Raka yang udah sabar banget ngehadepin Aya.
Profile Image for Ega.
63 reviews1 follower
July 23, 2013
Novel ini selesai saya baca dan menghantarkan perasaan yang membuncah. Mengusung tema cinta, persahabatan, dan pernikahan, novel ini disajikan dengan sangat manis dan cantik oleh Rhein Fathia.

Berkisah tentang Halya dan Raka, sepasang sahabat dengan segudang perbedaan. Halya yang ceria, ekspresif, meletup-letup dan gemar mengkhayal berteman baik dengan Raka, anak genius yang cenderung pendiam. Menjalani kehidupan semasa sekolah hingga dewasa bersama-sama. Halya dan Raka pun mengalami jatuh cinta dengan pilihan masing-masing. Halya jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Gilang. Raka jatuh cinta pada Rina, namun tak punya keberanian untuk mengatakan.

Namun kisah cinta mereka masing-masing tidak berakhir seperti yang diharapkan. Sehingga janji konyol yang dulu sempat terucap, ternyata terjadi. Bila saat usia 30 Halya dan Raka belum menikah, maka mereka berdua akan menikah.

Maka terjadilah pernikahan. Pernikahan yang hanya berlandaskan rasa nyaman sebagai sepasang sahabat. Setidaknya itulah yang mereka pikir di awal-awal pernikahan. Namun ternyata semua tidak semudah itu. Terlebih ketika perlahan-lahan rasa cinta dan rasa ingin memiliki muncul di antara keduanya, namun tak satupun yang rela mengalahkan ego untuk menyatakan.

Pertanyaan mereka perihal perasaan satu sama lain semakin diuji dengan sosok Gilang yang selalu mendominasi hari-hari Halya, dan sosok Rina yang kembali hadir membawa sejuta memori masa lalu, cinta lama yang belum kelar.

Sampai saat menuliskan review ini saja saya belum berhenti tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Terharu.

Kagumlah sama Rhein Fathia, dengan bahasa yang teratur, santun, dan renyah mampu menghadirkan sepiring kisah dengan rasa yang kaya. Sedih, senang, manis, pahit, hambar, getir, bahagia, semuanya ada di novel ini.

Cerita tentang persahabatan dituturkan begitu menyentuh. Puput, Gamma dan Husna secara tidak langsung mencontohkan pada kita bagaimana seorang sahabat seharusnya bersikap.

Kalau mencari kisah drama romantis, jangan pernah berpikir dua kali untuk membaca novel ini. Coupl(ov)e jenis novel yang menghangatkan hati :)
Profile Image for Dina Rifdalita.
7 reviews
November 5, 2013
Sahabat jadi cinta itu biasa di novel2 fiksi. Tapi kalo dibungkus dengan nuansa yang berbeda, jadi lain ceritanya. Tokoh utama pada novel ini, Alya dan Raka bersahabat dari SMA. Mereka berbeda karakter. Celetukan Raka yg kira2 gini bunyinya, "Al, kalo kita berusia 30 tapi diantara kita belom ada yg nikah. Kita nikah aja ya." Dan namanya juga jodoh, ngga ada yang tahu rahasia Illahi. Sampai pada akhirnya, mereka usia 30 tahun tapi belom menikah. Raka melamar Alya dengan alasan yang sangat2 logis. Suka kocak juga dengan kelogisannya Raka, tapi emang bener2 logis. Raka di sini emang ceritanya pinter bgt.

"Kamu ngajak aku nikah tanpa ada rasa cinta?" tanya Alya.
Dan Raka memberikan alasan logisnya, "Al, menikah ngga hanya alasan cinta. Emang kamu kira orang2 jaman dulu yang dijodohin tapi pernikahannya langgeng, hanya karena alasan cinta? Tapi karena ada tanggung jawab dan komitmen. Mereka punya satu tujuan yang sama."

Hanya butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikan novel ini. Biasanya kalo baca novel suka ada bosennya, yang ujung2nya terlantar (ngga diterusin) karena beberapa hal. Gaya tulisannya yg ringan dan mengalir dipenuhin quotes yang kece banget, membuat novel ini juara (di hati aku :D). Jujur, yah. Tokoh Alya dan Raka yang jadi pemeran utama di novel ini masih melekat di pikiran. Sebenernya ada ngga sih Alya dan Raka ini? Malah pas ke bookfair kemarin, ngebayangin Alya yang lagi di bookfair (pertemuan dgn Gilang).

Cuma sayangnya, agak2 annoying pas baca cerita masa lalu mereka berdua. Dan sayangnya, lumayan banyak halaman yang dipake buat cerita2 itu. Walaupun sebenernya aku sangat menikmatinya karena bahasa yg mengalir dan indah bgt untuk diimajinasikan (ngebayangin lamaran di kep. seribu :p). Tapi ngga usah trlalu banyak kali yah.. Toh, ujung2nya Alya sama Raka. Seharusnya perbanyak cerita tentang mereka. Soalnya pas halaman tengah2 itu, bikin aku kangen sama ceritanya Alya dan Raka.

Keseluruhan, aku suka banget novel ini. Bikin senyum2 sendiri, dan sedih yang entah kenapa bisa dirasain. Megalir banget bahasanya ka Rhein ini. Dan tentunya tokoh2 di novel ini yg tidak terlalu berlebihan karena sesuai porsinya
Profile Image for Asmira Fhea.
Author 7 books31 followers
July 10, 2014
Someday, when you grow old, you can tell to your children how beautiful when you're in love. -Coupl(ov)e: 85.

menurut saya, salah satu keberhasilan seorang penulis novel adalah bisa menghanyutkan pembaca dalam ceritanya, seakan tdk ingin berhenti sejak halaman pertama.
and i got it in this novel!! faktor utamanya adalah karena bahasa yang dipakai begitu mengalir dan quoteable, jadi... tau2 udah ganti scene aja, udah ganti bab aja. dan tau2 udah selesai aja. keren!!
secara penokohan udah dapet. Halya yg bagaimana, si Raka yg begitu, Puput n Gamma yg lucu, Rina yang begitu, lalu Gilang.... oh, takdirnya unpredictable bgt. bikin kaget sekaligus... patah hati. hiks :"(
konfliknya sederhana, lebih menyorot konflik batin tentang sepasang sahabat berlainan jenis yang mereka sendiri nggak tau kalau ujung2nya jadi berjodoh. bagaimana suka-dukanya, dkk. mengingatkan saya pada novel Rhein yg berjudul Seven Days. karena kurang lebih premisnya sama, dan saya mengira ini lanjutan ceritanya Nilam sama Shen. hihihi.
dan, oh. satu lagi. karya-karyanya iffa avianty yang suka bgt menyorot kehidupan sahabat lama yg ujung2nya bisa berumah tangga dan dengan berbagai konflik.

salah satu lainnya kelebihan novel ini adalah bisa bikin saya ikut-ikutan sakit hati pas Halya datengin Rina di kantornya. Rasanya itu nggak tegaaaaaa. :""

secara alur, novel ini pakai alur campuran. di awal bab, menyorot kehidupan pernikahan mereka yang baru-baru, lalu mulai flashback, sampai ketemu lagi alur yg sekarang. nah, IMHO, saya merasa tempo melambat pas mulai flashback. tentang masa lalu Halya yg kepanjangan menurut saya, soalnya saya nunggu-nunggu banget sih cerita mereka pasca menikah. jd, sempet ngerasa bosen juga di tengah-tengah.

eh? nih review udah panjang bgt ternyata. oke deh. ditunggu karya Rhein lainnya. dan mudah-mudahan, someday i could meet this author. suka bgt sih sama karyanya. hihihi.

salam,
-AF;)
Profile Image for Atiqoh Hasan.
Author 3 books8 followers
February 26, 2013
Well, pasti banyak yang tahu awal mulanya novel ini adalah novel online yang dipos di blog Rhein setiap jam 9 pagi--yang secara langsung mengganggu konsentrasiku terhadap bahan ajar kuliah yang tengah berlangsung :p. Yes, gegara novel online ini, beberapa kali aku ditunjuk buat jawab pertanyaan atau ngasih pertanyaan dan lempar senyum sok manis ke dosen. Alasannya simpel, selama baca updatean novel ini, aku nunduk sambil cengar-cengir. Jelas nggak sinkron sama mata kuliah macam Orchidology, kan, ya? :)). *malah curhat*

Tapi eniwei, gegara rutin baca novel versi onlinennya, akhirnya aku dapat kesempatan buat baca isi ceritanya full dengan syarat koreksi isinya. Wiiiih, keren, ya! Setelah 'ngeroyok' dan sok kenal sama Rhein, dapet juga kesempatan itu. *curhat lagi*

Baca versi pdf, aku nangis, penasaran sama sosok Raka yang ternyata sahabat Rhein sendiri dalam dunia nyata. Entah sifatnya, ya. Yang jelas, novel ini bikin aku stalking siapa itu Ramayadi. Dasar kepoooo!!!! =))

Dibandingkan dengan versi awal dan buku cetaknya, emang lebih rapi, ya. Kilasan masa lalu dijadiin satu. Sepintas, jadi kayak diary, sih. Tapi, nggak papa, lebih rapi dan nggak lompat-lompat--meski dulunya sempet sayang kalau bagian masa lalu yang diedit.

Baca kedua kalinya di tengah ngepet, aku pun masih nangis. Dasar Rhein, juara bikin nangis!! Untungnya aku baca bagian akhirnya di masjid, jadi nangis pun nggak begitu kentara. Coba pas duduk di fudkor mal, mau jadi apa ini mukaku, heh? *masih curhat*

Overall, teteuplah ya, aku suka gaya bahasa sama deskripsi cerita, keadaan, dan tokohnya. Beberapa jam setalah tamat baca, masih berasa kayak di lingkaran--setan-- drama khayalan Rhein. Errrr. Kurang asem, kan? :))

Kritiknya, kenapa bukuku nggak dikasih tulisan macem-macem dan kiss maaaaarrkk? Kan, waktu itu aku minta via wasap. Huh! (nottalking)

Btw, seven days kapan?
Profile Image for Jessica Ravenski.
360 reviews4 followers
June 25, 2013
Wow. Berasa jadi pahlawan bertopeng yang berhasil membela kebenaran pas selesai baca buku ini. Keren!

Cerita tentang sahabat yang jadi cinta itu emang udah sering banget ya, klise abis. Cuma, enggak tau kenapa aku suka pake banget sama buku ini. Bener-bener geregetan loh sama Halya & Raka, mereka udah 31 tahun tapi buat ngungkapin rasa cemburu & cinta aja susahnya minta ampun. Minta dikeplak banget kan ya, apalagi mereka udah nikah. Apalagi ditambah kehadiran Rina, oh rasanya kayak aku lagi nonton sinetron Indonesia dengan tokoh utama yang super-duper-lemot yang lagi menghadapi tokoh antagonis yang ide liciknya cetar-membahana. Oke, ini agak over-lebay ya hehehe ._.v

Dan Gilang, aku enggak menyangka kalo ternyata perpisahannya dengan Halya disebabkan oleh .......... *no spoiler*. Dan endingnya. Biasanya aku hanya punya 2 tebakan ending. Kali ini, ending dalam pikiran aku ada banyak banget. Kemungkinan kalo sad ending ataupun happy ending ditambah ada yang mati enggak ya, atau mereka nanti bahagia atau enggak, dan lain sebagainya.

Tapi aku suka endingnya sih. Walaupun terkesan FTV-FTV, tapi cukup menghibur. Sedikit kesel sih kenapa Halya itu harus ........... *no spoiler lagi*

Terus ada hal yang enggak aku sukain, yaitu kelambatan alurnya di tengah-tengah. Aku tau sih perlunya mengulas masa lalu mereka berdua dari masa SMA-kuliah-kerja, tapi terlalu panjang menurutku. Kenapa enggak diceritain sambil mengalir dengan cerita tahun 2012-nya aja biar enggak kelamaan. Tapi itu sih terserah penulisnya, wong yang punya ide bukan aku juga sih (berasa bawel banget gitu ya cuma jadi pembaca aja -_-).

Typo ada, tapi dikit kok, enggak mengganggu.

Happy bisa baca buku kayak gini. Tentang kehidupan pernikahan tapi enggak sampe melenceng ke arah-arah yang-you-knowlah. Bisa ngaduk-ngaduk emosi pula (ngingetin sama Mahogany Hills XD)

4.5 bintang!
Profile Image for Reza N Sanusi.
73 reviews19 followers
November 7, 2013
Bersamamu, karena terbiasa atau mencinta?


Kalimat yang mampu membuat saya memutuskan membeli buku ini di sebuah pameran buku dan menepikan antrian buku-buku lain untuk dibaca.

CoupL[ov]e menceritakan kisah cinta klise antara dua sahabat, Raka dan Aya, yang memutuskan menikah tanpa cinta.

Pada awal-awal bab, saya cukup excited membaca cerita kehidupan Raka dan Aya yang sebelumnya terbiasa bersama sebagai sepasang sahabat kemudian harus tinggal serumah sebagai pasangan suami istri. Konflik- konflik after married yang muncul, proses adaptasi, perasaan canggung mengenai nafkah batin yang harus ditunaikan demi kehidupan rumah tangga yang normal membuat saya tersenyum-senyum membayangkannya.

Tapi kemudian, excited saya lenyap, ketika pada bab berikutnya penulis menceritakan kilas balik pertemuan mereka yang menurut saya terlalu bertele-teke untuk diceritakan kembali. Topik klise percintaan sahabat lawan jenis sudah sering diangkat disebuah novel, seharusnya penulis lebih fokus mengangkat konflik after married. Toh, dari bab pertama pembaca sudah bisa membayangkan bagaimana persahabatan Raka dan Aya dahulu.

Saya tadinya ingin memberi 3 bintang, karena cerita seperti ini buat saya menarik.. Melihat usaha Raka dan Aya, seolah-olah memberi pesan tersirat bahwa pernikahan memang tak harus dengan cinta yang muluk-muluk.. Bahwa cinta selalu bisa diupayakan.. Cerita konflik cinta lama yg kembali juga cukup bikin gregetan..tapi mengingat banyaknya halaman yg saya bacanya screening karena beberapa bagian membosankan saya cuma bisa kasih dua bintang...

Suggest saya pribadi, novel ini akan jauh lebih menggigit apabila dibikin sedikit berat dengan konflik-konflik yang lebih kompleks lagi...
Displaying 1 - 30 of 127 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.