“Mengenal Sujiwo Tejo selama ini, baik secara langsung maupun sekadar menguntit celetukan 140 karakternya di twitter, saya berani menyimpulkan bahwa ‘dalang galau’ hanya sekelumit peran yang ia pilih dan sajikan untuk publik. Di mata saya, Sujiwo Tejo sesungguhnya adalah penelusur kalbu yang mampu berpikir merdeka, berkata merdeka, menghibur dan menyentil secara merdeka. Dan, untuk mencapai itu, yang dimilikinya tentu lebih dari sekadar kegalauan, melainkan pencerahan.” — Dewi ‘Dee’ Lestari, Penulis dan Penyanyi
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
Jannnnncuuuuukkkk...suarez keren banget. :D Tiada kejadian yang terlewati di dunia itu kecuali . Tiada sehelai daun yang jatuh kecuali itu memang sudah tercatat tetap di Lauhul Mahfuz. Masak Tuhan mengurusi hal-hal sampai segitunya. Ternyata itu hanya metafora dari Hukum gravitasi Newton.
Buku terbitan IMANIA ini sangat menarik untuk dibaca. Celetukan Sujiwo Tejo di akun twitter menarik untuk dikembangakan (dibahas) sehingga bisa dibukukan. Setelah membaca buku ini, kita akan mendapat perubahan persepsi atas keadaan yang sekarang ini. Hidup ini akan menjdi lebih pas atau sesuai dengan porsinya. Tidak berlebihan (lebay)
Bahasa yang nyeleneh serta kocak sudah menghiasi buku ini. Adanya plesetan-plesetan istilah cukup membuat kita terpingkal-pingkal. Buku ini mencakup aspek-aspek kehidupan sosial bersama. Juga memberikan solusi-solusi akan masalah yang sekarang kita hadapi.
Buku pertama dari Mbah Tejo yang saya baca. Saya mengira buku ini hanya berisi kumpulan twit. Saya juga mengira buku ini hanya berisi kisah-kisah seputar wayang dan budaya saja. Namun, di luar dugaan saya bahwa buku ini banyak menjelaskan tentang kehidupan, Tuhan, pendidikan, kebangsaan, bahkan cinta. Mbah Tejo mengemasnya dengan berbagai kisah wayang. Ini yang membuat saya tertarik. Tak hanya seputar wayang, dalam buku ini juga menjelaskan tentang matematika. Matematika sebagai bahasa tepatnya. Matematika sebagai bahasa, bukan hanya sebagai hitung hitungan. Bahkan Mbah Tejo, yang juga pernah menempuh pendidikan di ITB jurusan Matematika, menjelaskan bahwa matematika adalah ilmu yang tak pasti. Matematika bukan tentang kepastian, melainkan kesepakatan. Penjelasan di dalamnya sangatlah mudah dipahami. Bahasa yang tidak berbelit belit dengan memberikan contoh pada kehidupan sehari hari. Kisah-kisah wayang begitu relevan dengan kehidupan sekarang. Membaca buku ini kita dapat merenung dan tertawa. Terdapat quote pada awal bab dalam buku ini. Dari satu karya yang masih saya nikmati, saya dapat melihat bahwa Mbah Tejo mempunyai sudut pandang yang berbeda untuk melihat berbagai sudut kehidupan. Selamat membaca dan selamat merenung.
Ki dalang sujiwotedjo markincuk....banyak idiom2 serapan yang beliau gepok tularkan, dimana sebelumnya idiom2 itu seolah-olah tabu dan saru kini menjadi bahasa mengasyikkan dan bahkan santun dalam tanda (?)..joss gandos...inspirator..
Sujiwo Tejo adalah satu dari berbagai nama yang sudah sangat terkenal di Nusantara, dan walau sudah tenar ternyata saya baru ngeh beliau ini saat tampil di acara Indonesia Lawyer Club di TV One pada beberapa tahun yang lalu, telat yach hehehe :D. Saat saya melihat pertunjukkan wayangnya di acara tersebut ternyata edan! Asyik dan seru juga! Saya jadi penasaran dan mau tahu lebih banyak tentang mbah wong edan satu ini.
Kebetulan beliau sudah menulis beberapa buku, jadi saya putuskan untuk membaca satu bukunya untuk mengenal lebih banyak. Awalnya mau baca Lupa Endonesa, tapi berhubung saya tidak mendapatkannya di toko buku fisik maupun online, dan tidak ada teman yang memiliki buku itu, maka saya putuskan untuk beli buku yang berjudul Dalang Galau Ngetwit. Dan baru sempat baca bulan Desember ini (padahal belinya udah lama :D).
Gile deh, bahasanya edan banget, tapi asyik dan berisi. Banyak hal yang dapat digali dari pembahasannya mbah, seperti mengkritisi beberapa tingkah laku anak muda zaman sekarang yang keliru (baik dari penggunaan bahasa hingga perilaku), informasi menarik mengenai matematika, musik, dan seni yang banyak disalahpahami, berbagai macam kritik politik (pejabat yang tidak peduli dengan rakyat dan bangsa, tentang demokrasi, pemerintah, presiden, dll), korupsi, hingga berbagai macam pembabaran istilah wayang dan warisan budaya Nusantara.
Salut deh dengan mbah edan yang wawasannya luas dan dalam sekali, yang saking luasnya ada bagian yang membuat saya belum paham (seperti ketika membahas tentang ketuhanan yang abstrak) dan tetap membuat saya tidak merasa minder jika ada beberapa hal yang saya tidak setuju dengan pendapatnya (seperti beberapa pembahasan mengenai agama).
Dan hal yang tidak bisa saya jangkau terhadap mbah edan ini adalah tingkat gallant mbah yang sangat tinggi. Mungkin level gallant mbah jauh lebih tinggi daripada level Sanji dari karakter One Piece-nya Odachi Sensei. Pemujaan terhadap wanita level dewa, kalau kata bahasa anak muda zaman sekarang.
Pada intinya buku ini mantap, dan judul seharusnya yang cocok untuk buku ini adalah : Petuah bijak penuh romansa nan Edan Mbah Dalang. Hehehehehe :D Semoga bermanfaat dan dapat jadi bahan renungan untuk semuanya. Dan buat saya pribadi semoga sedikit banyak ada nyangkut dan bisa diterapkan dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, terutama tentang ikhlas yang paling saya ingat dari buku ini.
Semua sekadar menjalani takdir. Ada yang ditakdirkan pasrah. Ada yang ditakdirkan berusaha. Ada juga yang ditakdirkan untuk tidak percaya bahwa semua sekadar menjalani takdir.
Saya termasuk satu dari sekian orang yang kagum dengan kekuatan Twitter. Sebuah cuitan kecil berbatas 140 karakter mampu menjelma menjadi satu narasi tulisan. Pun, ketika tulisan-tulisan tersebut dikumpulkan dan menjelma menjadi sebuah buku yang utuh. Maka ketika sang Rahvayana menuliskan kembali segenap kumpulan twit lengkap dengan narasinya, pembaca wajib bersyukur karena sang dalang tidak hanya menceritakan segenap kegalauannya.
Buku ini memang layak dibaca siapapun. Baik pemilik akun twitter yang rajib ngetwit ataupun hanya untuk sekedar stalking mantan (ups.) Sujiwo berhasil memainkan kata-kata serupa wayang andalannya. Sujiwo menyampaikan pesan-pesan yang humanis dan beberapa diantaranya anti-mainstream.
Subjek yang dibahas Sujiwo pun luas, seluas pemahamannya terhadap kausalitas dalam perjalanan hidupnya. Dari soal matematika yang ternyata tidak selalu pasti hingga urusan seni yang pemahaman atasnya ditentukan isi kepala masing-masing. Soal Rama-Shinta hingga Habibie-Ainun. Saya menikmati proses dialektika yang dikemukakannya. Setidaknya, untuk dipakai sebagai bahan refleksi.
Lebih luas, pemikiran Sujiwo yang merdeka tidak hanya menghibur namun mempu menyentil sedikit bagian hidup kita sehingga tidaklah berlebihan bila kemudian pembaca mencapai pencerahan. Sujiwo juga tidak lantas kehilangan keedanannya karena kegalauannya sendiri sudah menunjukkan keedanan itu sendiri.
Oleh karena itu, pembaca pun harus menyediakan hati dan pikiran yang terbuka. Menerima curhatan soal kegalauan adalah persoalan tersendiri sebagaimana menerima segala keedanan. Oleh karena itu, dengan pikiran dan pemahaman yang terbuka pembaca tentu sudah lebih pintar untuk menemukan makna dibalik setiap twit Sang Dalang.
Perlu kesabaran tingkat Dewa ketika serius dibilang nyampah, romantis dibilang galau, berpendapat dibilang curhat. (Sujiwo Tejo)
Pemikiran Mbah Jiwo yang merdeka tidak hanya menghibur namun mempu menyentil sedikit bagian hidup kita sehingga tidaklah berlebihan bila kemudian pembaca mencapai pencerahan. Sujiwo juga tidak lantas kehilangan keedanannya karena kegalauannya sendiri sudah menunjukkan keedanan itu sendiri.
Waktu nulis ini beneran galau ya mbah? Heuheu. Saya nggak nyangka isinya penuh filosofi dan sindiran berkelas yang merujuk pada twit beliau. Keren banget.
Ketawa-ketawa geli sendiri baca tulisan Mbah Sujiwo Tejo kalo lagi ngenyek hehehe. Favorit saya tulisan yang membahas tentang Ketuhanan dan Demokrasi, isinya satir, asik nan menggelitik.
Ini buku pertama Sujiwo Tejo yang saya baca, isinya benar -benar tak terduga, dari twit pendeknya berkembang menjadi bahasan yang menarik. Menarik untuk dipelajari, menarik untuk diambil motivasi, menarik untuk dijadikan pemantik api dalam jiwa. Dan sepertinaya saya mulai tertarik untuk terus mengikuti buku-buku Mbah Tejo. Jancuk sekali