Jelaga mencintai Maya, gadis yang menyimpan semua keindahan dunia di senyumnya. Begitu juga dengan Maya, mencintai Jelaga yang menjadi api di dadanya. Sulutnya selalu membakar asmara dan kerinduan akan lelaki itu.
Sementara, Maya mencintai Putra yang menjelma laut di hatinya. Putra kekasih yang sempurna bagi Maya. Namun, pertunangannya dengan Putra tak sanggup menghentikan Maya untuk mencintai dua pria sekaligus, Jelaga dan Putra. Kedua laki-laki yang membakar dan menghanyutkan hati seorang Maya.
Penantian, pengorbanan, dan perpisahan melebur bersama dalam proses pemilihan hati. Lalu, hati mana yang akan terpilih?
rasanya lebih menikmati tulisan bli Adit di twitter dan blognya.
jujur aja sejak awal saya rasanya ingin menyudahi saja baca buku ini. bagaimana tidak, di satu halaman saja (hal 7) saya menemuka 3 kesalahan cetak. yang parahnya salah satu typo itu adalah penulisan "di mana" menjadi "dimana". mulanya saya pikir, oh mungkin ini memang salah cetak. tapi ternyata...di halaman berikutnya saya menemukan kembali kesalahan yang sama, ditambah banyak juga typo "diantara" yang seharusnya "di antara". jujur, rasanya saya ingin melempar buku saat menemukan typo-typo itu. karena menurut saya ini fatal banget. anehnya, ini lolos proses penyuntingan! kalau misalnya penulis yang belum tau bedanya penulisan "di" untuk kata kerja dan kata depan, mbok ya editornya memberi tahu. tapi lah dalah, kok ya gini. meski memang ada juga penulisan yang benar, tapi lebih banyak salahnya. udah gitu masih banyak typo juga, salah satunya ketidakkonsistenan memanggil tokoh Maya ada yang menjadi May ada juga yang menjadi Mai. baru kali ini kecewa sama editor dari sebuab buku. proses penyuntingannya nggak maksimal banget! masa penggunaan kata depan "di" aja masih salah!
untuk ceritanya sendiri, buat saya ya it was ok. makanya saya kasih 2 bintang. meski karakter tokohnya kurang kuat dan budaya Bali yang disisipkan pun tidak membuat saya menjadi kagum. mungkin perlu dieksplor lagi. tapi satu yang saya suka adalah bagian Jelaga saat menjelaskan diagram waktu. brilian banget idenya!
Alasan pertama membeli buku ini karena setelah beberapa waktu mengikuti tweet-tweet Aditya dan menikmati sajak-sajak yang dibuatnya. Saya juga menyukai tulisan-tulisan yang ada di blognya.
Alasan kedua, karena latarnya tempatnya adalah Bali (entah kenapa saya memiliki ketertarikan tingkat tinggi dengan semua hal yang berbau Bali).
Buku ini ditulis dengan bahasa yang puitis tapi tanpa berlebihan. Ide ceritanya manusiawi sekali. Banyak kalimat-kalimat romantis ataupun sendu yang memikat. Aditya juara sekali memang dalam menggunakan bahasa puitis legit dalam membuat suatu tulisan. Senang rasanya bisa menemukan lagi penulis yang gaya penulisannya setipe dengan Dee.
Tapi, mungkin emosi dalam plot kurang begitu terbangun jadi kurang membuat emosi naik sekali ataupun turun sekali ketika membaca buku ini dari halaman awal sampai halaman akhir.
After all, buku ini merupakan salah satu bacaan manis dalam koleksi saya.
saya berekspektasi terlalu tinggi. cerita di pilihan hati terlalu pop, alurnya terkesan sangat cepat dan dipaksakan. budaya Bali yang seharusnya bisa menjadi daya tarik, hanya disempilkan sekenanya. well, Adit, tulisan di blogmu jauh lebih menarik.
Aku melihat aku di sini, pria yang menjadi luka fasih dalam hidupnya. Aku pula suka dengan campuran sajakmu di dalamnya. Sungguh indah. You know what? aku lebih suka diksi yang penulis titip di dalamnya dari pada isi cerita itu sendiri.