Khazanah Persia sejak dulu begitu menggoda banyak pelancong dunia. Misteri kemegahan Persepolis, romantisme taman-taman penyair, keagungan kubah keemasan, eksotisme bundaran Imam sang cermin dunia, hingga keunikan rumah gua di pedalaman Iran, diantara daya pikat negeri Persia yang dapat Anda nikmati di lembar-lembar buku ini.
Berbeda dengan buku-buku lainnya, The Road to Persia tidak hanya menampilkan situs-situs wisata biasa, namun mengajak Anda berselancar lebih jauh mereguk kekayaan sejarah, alam, dan budaya Persia.
Aku pikir buku ini sejenis catatan perjalanan pada umumnya, tapi ternyata tidak, penceritaannya sangat aku suka. Gambar ilustrasi tentang keadaan Persia adalah hitam putih, walau begitu gambarnya tetap menarik dan setelahnya diceritakan dengan puitis.
Isi buku ini berkisar pada peninggalan sejarah yang ada di Persia seperti bundaran Isfahan, Rudkhan Castle, hingga Parsepolis dan tentang Mausoleum penyair dan ilmuwan yang ada di Persia. Selain itu penulis juga bercerita mengenai dongeng Persia dalam chapter Desa-desa dan Alam Persia. Aku suka sekali bagian ini. Dan part terakhirnya bercerita mengenai perjalanan religi. Isinya terasa sangat lengkap menggambarkan kekayaan Iran dan membuatnya terasa memesona sekaligus misterius. Aku juga jadi ingin ke Persia.
Khazanah Persia sejak dulu begitu menggoda banyak pelancong dunia. Misteri kemegahan Persepolis, romantisme taman-taman penyair, keagungan kubah keemasan, eksotisme bundaran Imam sang cermin dunia, hingga keunikan rumah gua di pedalaman Iran, diantara daya pikat negeri Persia yang dapat Anda nikmati di lembar-lembar buku ini. Berbeda dengan buku-buku lainnya, The Road to Persia tidak hanya menampilkan situs-situs wisata biasa, namun mengajak Anda berselancar lebih jauh mereguk kekayaan sejarah, alam, dan budaya Persia.
Jika media massa mewartakan Iran dengan politiknya yang panas, buku ini menawarkan sisi lain Persia yang berbeda. Alamnya yang eksotik, budayanya yang kaya dan keunikannya yang menawan. The Road to Persia menyodorkan sajian yang berbeda dari hidangan media yang setiap hari kita santap.
Ini pertama kali saya baca buku travelogue. Pertama kali juga saya baca sesuatu tentang Iran, sebelumnya saya cuma kenal Iran dari namanya aja. Gaya bahasa yang dipakai penulis sangat puitis, di beberapa bagian saya mengakui keindahannya, tapi di beberapa bagian yang lain saya justru agak kesel karena ada beberapa kata yang bagus ketika diucapkan tapi saya nggak mengerti maknanya. Saya menyayangkan nggak adanya catatan kaki dalam buku ini. Secara umum saya menikmati macam-macam pengetahuan baru yang buku ini berikan, walaupun saya butuh 2 mingguan buat menyelesaikan buku ini.
Pengalaman penulis yang tertuang dalam kisah perjalanannya meliputi berbagai tempat bersejarah, ke Mausoleum penyair dan para ilmuwan, berwisata alam ke desa-desa menyusuri alam Persia, hingga perjalanan religinya, membuat saya semakin penasaran dengan negara yang satu ini dan rasanya ingin segera berangkat menuju Persia. Selengkapnya: