Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sudah, Biar Saja...

Rate this book
English (translation)
Original Dutch

128 pages, Paperback

First published January 1, 1975

4 people are currently reading
20 people want to read

About the author

Paulina Catharina "Paula" Gomes-van Achterberg (March 30, 1922 – July 9, 2013) was a Dutch writer and poet, who spent her youth in the Dutch East Indies.

Her childhood in the Dutch East Indies, the experiences during and immediately after the Japanese occupation and the forced repatriation to the Netherlands strongly influenced the themes in her later work.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (9%)
4 stars
5 (23%)
3 stars
10 (47%)
2 stars
1 (4%)
1 star
3 (14%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Marlies.
200 reviews18 followers
February 28, 2023
Eerste uitgelezen boek van m’n nieuwe studie ✌🏻
Profile Image for Izuan.
80 reviews7 followers
January 21, 2023
Membaca buku ini, memberi aku gambaran tentang kehidupan masyarakat di Indonesia semasa penjajahan Belanda, semasa perang Dunia kedua, di mana Jepun menduduki Indonesia dan zaman selepas perang di mana kebangkitan Indonesia terhadap Belanda. Buku ini juga menceritakan keadaan di Indonesia semasa pendudukan Jepun dari kaca Mata penulis. Keadaan yang aku rasakan tidak jauh bezanya dengan pendudukan Jepun di Tanah Melayu. Buku ini merupakan kisah kehidupan seorang gadis Indo-Dutch yang menetap di Indonesia pada perang Dunia yang kemudiannya dihantar pulang ke Belanda, yang selepas itu kembali semula ke Indonesia untuk menjejak kisah silamnya.
Profile Image for José Van Rosmalen.
1,442 reviews26 followers
December 30, 2021
In 1981 nam ik in Rotterdam deel aan een werkgroep van amateur-schrijvers die werd begeleid door Paula Gomes. De bijeenkomsten vonden plaats in de poëzie winkel ‘ Woutertje Pieterse’ in het centrum van Rotterdam. Het was een pijpenla vol met boeken met een zitgedeelte en een keukentje, een plek waar ik graag kwam. Woutertje Pieterse is naast de Max Havelaar een van de bekende boeken van Multatuli. Vlakbij die winkel die al lang is verdwenen, hangt nog altijd het portret van Multatuli met zijn citaat: ‘ van de maan af gezien, zijn we allemaal even groot’.
Paula Gomes was een slanke vrouw met een Indische achtergrond. Over haar leeftijd wilde ze zich niet uitlaten. Als het om schrijven ging, was haar lijfspreuk: ‘ schrijven is schrappen’. Ze ging overigens heel respectvol om met de teksten van de deelnemers, die uiteraard van wisselende kwaliteit waren. Zij groeide op in wat toen nog Indië heette, als dochter van een Nederlandse vader en een moeder die uit een ‘gemengd’ huwelijk was geboren, een Indonesische oma en een Nederlandse opa. In 1975 kwam het boek ‘Sudah, laat maar’ van Paula Gomes uit als Querido uitgave. Ik bezit daar een exemplaar van, met voorin handgeschreven een gedichtje van Paula Gomes.

Nog steeds zie ik de pisangbomen
het teergroen blad door de wind gescheurd
in al die jaren is zoveel gebeurd
ik heb ‘t allemaal maar laten komen.

Uit deze strofe en ook uit de titel spreekt een gevoel van berusting. Paula Gomes heeft als jonge vrouw vreselijke dingen meegemaakt. Vastgezet in een vrouwenkamp, marteling bij verhoren, het plotseling overlijden van haar moeder, het scheiden van de mannen en de vrouwen en het uit het oog verliezen van haar vader. Vervolgens werd ze na de oorlog het land uitgezet omdat ze met een Nederlandse vader bij de ‘blanke overheersers’ hoorde, hoewel ze feitelijk tussen de twee culturen instond. Later bezocht ze Indonesië als toerist en voelde ze ondanks alles haar verwantschap met de Indonesiërs. Die herkenning kwam van beide kanten. Het verhaal is opgebouwd met stukken die in het verleden spelen en stukken die in het heden spelen. Het boek eindigt met de tocht op een schip via Singapore en Egypte naar het koude Holland, waar ze in Rotterdam belandde.
Het boek is te vinden op de digitale bibliotheek Nederland, met een nawoord van Rob Nieuwenhuijs, een kenner van de Nederlands-Indische literatuur. Op goodreads staan er ook reacties in het Maleis, dus het boek moet ook in Indonesië gelezen worden. Pas nu weet ik dat Paula Gomes in 1922 is geboren en in 2013 is overleden. In 2012 zat ze achter me in de concertzaal in De Doelen, oud en breekbaar, maar ze zei toch ‘Ha, José ‘. Ze herkende me ook nog na dertig jaar en haar boek, dat aanvankelijk onopgemerkt bleef, verdient ook zeker erkenning. Het is een boek met berusting als ondertoon, maar er zit toch ook iets strijdbaars in. Ze wilde uiteindelijk een brug slaan naar het volk dat haar afwees maar waar ze ook uit was voortgekomen. Een Hollands Indisch meisje tussen moederland en vaderland.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews12 followers
February 17, 2024
Buku ini merupakan terjemahan dari versi bahasa Belanda.
Tertimbun di antara buku-buku Lima Sekawan, entah kenapa kok bisa berasa di sana.
Sang penulis merupakan anak Indo, alias anak dari pernikahan seorang pria Belanda dan wanita Indonesia. Ia sempat mengalami masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan. Buku ini mengisahkan tentang perjalanannya kembali ke Indonesia untuk beberapa waktu sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali tinggal di Belanda.
Profile Image for Ratna Ayu Budhiarti.
57 reviews3 followers
January 13, 2021
Sempat agak bingung sih awalnya, ternyata plotnya zigzag. Terjemahannya agak kurang “enakeun” tapi daripada saya gak bisa terjemahkan sendiri ya lumayan lah ya bisa dimengerti.

Jadi makin paham kehidupan para Indo. Termasuk “leluhur” saya.

Tanah air adalah tempat di mana kita merasa diterima dan rindu kembali kepada rasa nyaman tinggal di sana.
Profile Image for Azia.
243 reviews11 followers
July 27, 2013
Orang Indonesia dapat mengatakan pada orang Belanda bahwa mereka harus berangkat, lalu orang Belanda seharusnya musti pergi. Kemudian bisa diadakan pesta perpisahan di setiap kampung disertai alunan gamelan siang dan malam, penuh gairah dan murung sekaligus, diselingi sambutan-sambutan oleh orang Indonesia yang seyogianya menyebutkan apa yang baik yang telah dilakukan orang Belanda dan apa yang salah.

Kedatangan Jepang ke Indonesia membuat kehidupan tokoh ‘aku’ berubah drastis. Ayahnya yang Belanda totok ditangkap oleh Jepang. Kekejaman tentara Jepang sudah tersiar. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib Ayahnya kemudian. Masa tersebut adalah masa susah. Mereka sudah tidak punya apa-apa dan untuk makan saja susah. Cepat atau lambat Aku dan Ibunya akan dimasukkan ke kamp bersama wanita-wanita eropa lainnya. Status Belanda-Indo sedikit banyak membantu mereka dibandingkan yang Belanda totok. Aku berhasil bertahan hingga Jepang kalah sementara Ibunya meninggal dunia di kamp.


Setelah keluar dari kamp, Aku mencoba mencari pekerjaan di Palang Merah. Ia sempat bertemu Ayahnya yang semakin kurus keluar dari kamp. Namun tak lama setelah itu Ayahnya kembali ditangkap dan tak pernah lagi ia lihat. Aku yang sebatang kara mencoba mendatangi sahabat-sahabat orang tuanya dulu. Situasi masih bahaya bagi Aku yang Indo. Kelompok ekstrimis berkeliaran waktu malam hari, merusak rumah orang-orang eropa dan tidak segan-segan membunuh. Dalam keadaan ketakutan manusia mempunyai daya mempertahankan diri yang luar biasa. Aku selamat dari pengepungan kelompok ekstrimis. Orang-orang eropa mulai meninggalkan Indonesia dan kembali ke negara mereka yang dingin. Aku yang mau tak mau meninggalkan Indonesia menuju tanah leluhurnya yang asing baginya.

Aku datang kembali ke Indonesia setelah tanah kelahirannya ini merdeka. Hatinya masih terhubung dengan nostalgia masa kecilnya. Dengan kulit dan perawakan Eropa,ia membuat kaget orang-orang Indonesia karena ia bisa berbahasa Indonesia. Indonesia pernah menjadi bagian dirinya. Aku bagian dari Indonesia, bersama nenekku yang orang Indonesia dan ibuku dan semua yang berdarah campuran. Indonesia yang merdeka hampir-hampir tidak ia kenali. Orang-orang yang ia ajak berbicara sama sekali tidak tertarik membicarakan masa lalu.

Dengan membaca ‘Sudah, Biar Saja..’ pembaca bisa mengetahui situasi zaman bersiap dari sudut pandang orang Belanda. Ia seorang Indo yang tinggal dengan kenyamanan Eropa di tanah Hindia Belanda. Namun tidak melupakan darah Indonesia yang mengalir di nadinya. Satu hal yang menarik perhatian adalah ulah ekstrimis pada zaman bersiap. Yang saya temukan juga pada novel-novel Mochtar Lubis bagaimana sejumlah pemuda memanfaatkan situasi bertindak atas nama revolusi namun yang mereka lakukan tidak lebih dari tindakan kriminal. Disini penulis mempertanyakan kemana keramahtamahan orang Indonesia yang ia kenal dulu. Aku tidak mau percaya bahwa ada orang Indonesia yang membunuh orang Belanda, hanya karena mereka orang Indonesia dan orang Belanda adalah Belanda.

Buku ini terinspirasi dari pengalaman penulis sendiri,Paula Gomez. Ia lahir di Batavia tahun 1932 dari Ayah Belanda dan Ibu Indo. Ia masih gadis ketika masa pendudukan Jepang. Paula Gomez meninggalkan Indonesia pada tahun 1946. Karya-karya tulisnya yaitu Sudah, Laat Maar (1975), Het kind met de clownspop (1987), dan Wie in zijn land niet wonen kan (1988). Latar belakang karya-karyanya erat berkaitan dengan masa kolonial belanda.
Profile Image for Op.
375 reviews125 followers
December 2, 2015
Petugas di belakang meja melihat bahwa aku lahir di Jakarta. Ia mengangkat kepala. "Sentimental journey. Nona Betawi." (Hal. 11)

Buku ini menceritakan hal baru buat saya, kisah orang campuran Indonesia-Belanda. Eh, nenek dari ibunya adalah orang Indonesia, keluarga ayahnya adalah Belanda tulen. Tapi karena sepercik (haelah sepercik) darah Indonesia, besar di Indonesia, "Aku" (nama tokohnya baru terungkap di akhir-akhir cerita) menginvestasikan perasaannya (haelah) kepada Indonesia. Ya walaupun ketika Belanda berkuasa, "Aku" juga mendapatkan privilage-privilage layaknya kumpeni pada umumnya.

Namun semua berubah ketika negara api menyerang. Pada masa persiapan, wanita-wanita berkulit putih pun juga dikirim ke kamp-kamp. Tidak ada "penyiksaan" yang berarti tapi juga pastinya membawa kesengsaraan.

Buku ini ditulis dengan alur berubah per bab. Masa lalu dan masa sekarang. Melihat sedikit cerita tentang pengarangnya (yang juga ada sedikit keturunan Indonesia), Paula Gomes tampaknya mengerti benar kisah hidup di saat itu. Atau bahkan juga mendapat perlakuan seperti si "Aku"? Entahlah saya juga belum cari tahu lebih lanjut.

Masing-masing mengurus dirinya sendiri, sedangkan Tuhan melindungi kita semua (hal. 100)


-------------------------------------------------------

Kepada ibu sponsor, 2 buku sudah saya selesaikan. Satu novel cantik Mira W sudah siap di tangan :3 :3 :3
Profile Image for Mikael.
Author 8 books86 followers
April 10, 2021
im obsessed with orang indo lit. i think because they were people who lived in two worlds, the imaginary netherlands of their totok parents and the pribumi exotica which was all around them but never really theirs. (paula gomes used to listen to the sounds of wayang kulit performances emanating from the kampung but never actually went to one, until she returned to indonesia as a tourist many years after zaman bersiap.) then the orang indos were kicked out of tempo doeloe and forced to live in the real netherlands, carrying memories of indonesia like a rainsoaked 35l karrimor inside their collective chest. apparently according to paula the orang indos refused to discuss tempo doeloe amongst themselves, but kept gorging themselves on homemade ersatz soto, lontong and sate. i cant even begin to imagine the anguish of forced relocation of the mind.
Profile Image for Dyah Setyowati.
25 reviews4 followers
September 23, 2012
Alurnya bolak balik gak jelas. Diceritakan dengan gaya yang datar. Menambah wawasan kita akan orang Indo yang bingung. Mereka lahir dan dibesarkan dan merasa orang Indonesia, tapi mereka orang Belanda juga dan harus kembali ke negara moyangnya itu diakibatkan oleh kedatangan tentara Jepang… (bener gitu?).
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.