Kawan, jika kita merasa ilfil atau bahkan membenci dan tidak percaya dengan isi buku ini, semoga ini bukan pertanda Allah sudah menutup hati kita untuk menerima kebenaran.
Buku ini sangat menampar saya.
Alhamdulillah, saya tidak pacaran. Semua bermula dari rasa malu yang berlebihan untuk mengungkapkan perasaan kepada anak-anak perempuan yang saya suka. Minder karena tidak pacaran? Jelas. Banyak yang bertanya pada saya, "Sudah punya pacar?" Dan saya selalu malu untuk bilang, "Belum." Dan, pertanyaan yang paling menusuk hati adalah, "Kamu sudah umur segini (21thn) masa nggak punya pacar?" Saya merasa tersudut dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi Alhamdulillah, seiring waktu saya menemukan bahwa pacaran memang tidak dibenarkan dalam islam. Pacaran itu proses mendekati zina. Dan, Allah melarang kita untuk mendekati zina, bukan? Saya harus bersyukur untuk ini.
Lalu apa yang membuat saya merasa tertampar sedangkan saya tidak pacaran?
Saya menulis novel yang berhubungan dengan percintaan. Apalagi novel kedua saya nanti bercerita tentang dua remaja yang saling mencintai, lalu memperjuangkan cinta mereka. Saya cemas luar biasa. Well, saya tahu semua pembaca novel adalah orang-orang cerdas yang tahu bahwa novel itu fiksi, bukan kenyataan, bukan pedoman hidup. Tapi bagaimana dengan pembaca-pembaca remaja yang masih polos, yang mengira perasaan cinta yang tumbuh di hati mereka adalah suatu perasaan yang harus diperjuangkan? Jika mereka banyak membaca novel-novel percintaan, tentunya mereka semakin terpacu untuk memperjuangkan perasaan mereka. Astaghfirullah. :'(
Saya cemas luar biasa. Ini adalah hal yang akhir-akhir ini bikin saya kepikiran. Tetapi, Alhamdulillah, meskipun saya sudah tidak dapat mengubah cerita novel saya nanti, saya menemukan solusi apa yang harus saya lakukan setelah membaca buku ini.
Buku ini sangat melegakan buat saya.
Buku ini membuat saya gelisah semalaman. Saya sempat berpikir, apakah saya berhenti menulis saja? Pikiran ini sudah datang sejak awal bulan, lalu semakin memuncak tadi malam. Saya ingin berhenti menulis, tapi saya suka sekali menulis. Susah. Tidak semudah itu.
"Misal, daripada galau, lebih baik nulis tentang galau dan solusinya. Menulis bisa jadi salah satu keahlian yang bisa dikembangkan." [page:136]
Alhamdulillah. Saya tidak harus berhenti menulis. Saya tidak perlu repot-repot mengubah jalur menulis yang saya ambil, saya hanya perlu menanamkan pesan moral di dalamnya, tanpa harus menggurui.
Dan, ketika buku ini saya selesaikan, banyak sekali ide-ide baru bertebaran, dan saya tidak sabar untuk menuliskannya!
***
Ngomong-ngomong, review ini lebih banyak curhat ya, ketimbang membahas isi. Hahaha.
Yang jelas, buku ini sangat bermanfaat untuk kita semua. Buku ini menjelaskan dampak negatif dari pacaran. Buku ini membeberkan segala hal tentang pacaran dan move on dari sudut pandang islam, tanpa kalimat-kalimat persuasif. Dijelaskan dengan sangat menghibur, ditambah lagi ilustrasi dan layout yang menarik membuat saya betah baca sampai pukul dua pagi!
Buat yang bertanya, "Kalau nggak pacaran, gimana nikahnya? Kita kan harus kenal karakter calon istri dulu sebelum menikahi supaya nggak menyesal nanti?" Buku ini sudah menjelaskan hal ini dengan sejelas-jelasnya. Islam sudah memfasilitasi kita dengan layanan yang lebih mulia dan suci.
Pada akhirnya, sampai kiamat pun, kita tidak akan pernah menemukan pacar yang saleh dan salehah. Karena orang yang saleh dan salehah tidak pernah pacaran.
Masukan untuk buku ini? Hmm, mungkin hanya dalam struktur kalimat. Beberapa paragraf sengaja dibuat berima, sehingga saya perlu baca beberapa kali supaya bisa memahami dan berkonsentrasi. Jika kita menulis seolah-olah sedang berbicara, sepertinya itu lebih mudah diserap pembaca. Tapi, overall, buku ini sangat bagus. Ingin sekali saya pinjamkan ke anak-anak SMP, dan teman-teman saya tentunya.
Buku ini adalah buku dengan rating 5 pertama di tahun 2013. Dan setelah membaca buku ini, saya ingin menulis yang lebih bermanfaat dan... ingin segera menikah, hahaha. :D